Shibo End Vol 2 Chapter 5 Bahasa Indonesia

 Chapter 5 'Korban Kekuatan Pengoreksian Dunia'

 

──Aku mengetahui pada acara rapat sekolah beberapa hari kemudian bahwa Senpai selamat. 

Di atap sekolah SMA kami, hanya klub geografi yang diizinkan menggunakan observatorium.  Seperti yang diharapkan dari sekolah yang menekankan pendidikan sains, fasilitasnya sangat mengesankan. Sayangnya, hari ini terkunci, jadi aku tidak bisa mengintip ke dalam. 

Sambil bersandar pada pagar, dan Hibise diam-diam menatap langit. Matahari yang hampir terbenam membakar tepi langit dengan warna merah, perlahan-lahan larut ke dalam kegelapan. Partikel cahaya yang menyebar seperti suara raung terakhir memantul di rambut panjangnya yang berwarna emas, bergetar. 

──Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wajah sampingnya. 

Tanpa menoleh, Hibise melanjutkan. 

Awalnya…… aku ingin menjengukmu. 

Dia bergumam pelan. 

Tapi, ketika aku mendengar bahwa Senpai dalam keadaan kritis dan tidak sadarkan diri, aku menjadi takut. Di saat-saat terakhir, aku tidak bisa sepenuhnya percaya bahwa Satoshi-senpai masih hidup, dan aku berhenti melangkah. Apa aku berhak melakukan itu?" 

──

Itu tidak benar. Hibise telah mendukungku. 

──Hibise adalah 'korban kekuatan pengoreksian dunia'. 

Aku menelan kembali kata-kata yang hampir keluar dari tenggorokanku. 

Aku tidak berhak mengucapkan hal itu kepada Hibise sekarang

Kata-kata yang tanpa memiliki ingatan hanya berisi kehampaan

Tidak ada perasaan, tidak ada bobot. 

Hanya sekadar deretan suara, benar-benar penghiburan yang dangkal. 

Untungnya, aku bisa bertemu lagi denganmu seperti ini.

Begitu ya……

Yang bisa kukatakan hanyalah anggukan setuju yang aman. 

Jika aku mengucapkan lebih dari itu, aku merasa kata-kataku seolah akan membentuk sesuatu, sehingga membuatku ragu. 

──Bodoh sekali. Itu bukan cara yang benar. 

Demi mengusir pikiran yang mulai ragu, aku memejamkan mataku dan menghembuskan napas pendek. Pandanganku secara alami jatuh ke tanganku. 

Di tanganku, ada Buku Harian Hibise. 

Jejak air mata. Tulisan yang tampak terburu-buru. 

Halaman yang ditulis ulang berkali-kali, buku catatan yang sudah usang dan penuh bekas luka. Aku sudah tahu betul tentang perasaan yang tertulis di sana. 

Dan sekarang──dosa diriku yang telah melupakan semuanya kini terasa berat. 

Aku ingin menunda jawabannya, dan kika memungkinkan, aku ingin melarikan diri dari waktu ini juga

Aku ingin berpura-pura menjadi orang yang tidak tahu apa-apa, ingin terus melanjutkan hubungan yang samar ini, hari ini, besok, dan lusa. 

Pilihan yang pengecut semacam itu terlintas di benakku. 

Dan aku meyakini kalau Hibise juga menginginkannya. 

Meski begitu. 

Meskipun itu akan menyakiti Hibise yang merupakan 'korban kekuatan pengoreksian dunia'. 

Aku harus mengatakannya.

 

──Hibise

Aku menarik napasku dalam-dalam hingga ke paru-paru. 

Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu.

──Tidak mau.

Eh?

Aku tidak mengira akan ditolak. 

Suara yang terputus-putus itu keluar dengan lemah. 

Hibise tetap tersenyum padaku. 

Senyumannya tampak dipaksakan di wajahnya, sangat rapuh. 

Aku tidak berniat mendengarkan apapun yang dikatakan oleh pembohong.

Hibise……

“Bukannya Senpai sendiri yang bilang. 

Bahasa sopan Hibise hancur berkeping-keping

Ketika LoD berakhir dan skenario menghilang, ingatanmu akan kembali. Dan kemudian kamu akan bersamaku lagi……!

Apa yang terpendam dalam dirinya akhirnya meluap. 

Air mata besar mengalir dari mata Hibise. 

Tapi…… kenapa kamu tidak ingat apa-apa!?

Dia meraih kerah bajuku dan menarik tubuhku lebih dekat

Senpai sih beruntung! Kamu bisa mendapatkan semua gadis yang kamu inginkan, dan hidup Bahagia selamanya! 

Tatapan tajamnya menusuk langsung ke arahku. 

Aku yang paling malang! Hatiku dipermainkan, terukir dalam ingatakanku, kenangan yang takkan pernah hilang dan kamu selalu ada di setiap halaman masa mudaku……! 

Suara yang bergetar bercampur isak tangis.

 

Kenapa, kenapa, kamu tidak ingat apa-apa!?

 

Kata-kata itu paling berpengaruh. Itulah kata-kata yang selama ini kutujukan kepada Satsuki dan yang lainnya. 

“Cuma aku satu-satunya yang terjebak dalam kenangan yang takkan pernah terbuang……, ku tak bisa melarikan diri dari masa lalu, namun Senpai benar-benar melupakanku dan hidup bahagia selamanya……

Itu tidak adil, imbuhnya. 

Suaranya hampir menghilang. 

……Akulah yang lebih banyak berkorban untuk Senpai, kan……? Waktu yang kita habiskan bersama bahkan lebih lama daripada mereka…… Aku selalu menjadi wanita yang paling gampang dimanfaatkan untukmu…… 

Suaranya tercekat. 

Ketika aku menatap ke bawah, aku melihat jejak air matanya merembes di lantai atap. 

Kenapa, hanya aku…… yang mengingat semuanya?

Dia berbisik pelan, berusaha memaksakan semua kata-kata itu keluar.  

“Aku sudah berkali-kali berusaha untuk membencimu…… Tapi kamu benar-benar orang yang jahat, Senpai. 

Bahkan di hadapan ekspresi menyedihkannya, aku harus mengatakannya. 

──Moratorium sudah berakhir. 

Tenggorokanku kering dan jantungku berdegup kencang. 

Bibirku tidak mau mendengarkan, tetapi sekali lagi, aku menggigit bibirku dengan kuat. 

……Maaf.

Aku memejamkan mataku sejenak. 

“Meski begitu──aku hanya menyukai mereka. 

Malam musim panas benar-benar tiba. 

Garis merah yang tersisa di cakrawala mulai memudar

Angin bertiup semilir, rambut panjang Hibise yang berwarna pirang tampak berkilau di malam hari, dan kemudian, semuanya berhenti seolah tidak terjadi apa-apa. 

──Bohong pun tidak masalah.”

Hibise menunduk lemah. 

Dia kemudian menyundul dadaku dengan lembut. 

Aku ingin kamu bilang bahwa kamu mencintaiku……


 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama