Shibo End Vol 2 Chapter 6 Bahasa Indonesia

Chapter 6 [Gadis Elok Empat Arah] VS Harusora Hibise

 

Tidak ada penumpang lain selain kami di dalam kereta. Memilih gerbong paling ujung untuk menjaga Hibise, ternyata menjadi keputusan yang tepat. Hibise sedang mendengarkan musik dengan headphone. Ekspresinya tidak terlihat dari posisiku. 

──Rasanya canggung. 

Aku yang telah menolak perasaan Hibise dan Hibise yang ditolak, sekarang kami berada di kereta yang sama. 

Seharusnya, pilihan untuk pulang bersama adalah kesalahan. Namun, aku tidak bisa membiarkan Hibise sendirian dalam keadaan seperti itu di sekolah yang gelap. 

Jika aku bisa membawanya sampai stasiun, itu sudah cukup. 

Setelah itu, Hibise bisa pulang sendiri. 

Karena naik kereta yang sama dengan orang yang ditolak pasti sangat melelahkan, aku berniat untuk pulang dengan jadwal kereta yang agak larut

─Namun

Hibise terus menggenggam ujung bajuku. Genggamannya lemah, tidak cukup untuk menahan. Namun, itu menyampaikan bahwa dia tidak berniat untuk melepaskanku. 

Meskipun begitu, tidak ada kata-kata. Kami berdua tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya waktu hening yang terus berlalu. 

Di luar jendela, lampu-lampu kota yang familiar mengalir ke belakang. 

Aku mencoba menghabiskan waktu dengan menatap pemandangan itu. Akan tetapi, waktu tersebut sudah hampir berakhir. Pengumuman stasiun terdekat terdengar di dalam kereta. 

──Hibise, maafkan aku, tapi

Aku mulai berbicara tapi terhenti di tengah kalimat

Stasiun terdekat Hibise masih jauh. Aku berniat untuk turun di sini dan mengucapkan selamat tinggal. Kemudian, Hibise perlahan bersiap untuk berdiri. 

……Aku juga akan pergi bersamamu sampai depan gerbang tiket. 

Suara kecil itu tidak menunjukkan keraguan. 

……Begitu ya.

Tidak ada kata-kata lain yang muncul di pikiranku. 

Kereta berhenti, dan pintu terbuka. Kami yang berada di ujung gerbong secara otomatis turun dari bagian belakang ke peron. 

Para pegawai kantoran yang pulang kerja, siswa yang berkeringat setelah latihan, bayangan orang-orang yang berjalan sambil melihat smartphone. Semua itu seharusnya terlihat jelas, tetapi entah kenapa, terasa kurang nyata. 

Pengumuman kedatangan di papan elektronik. Tekanan angin dari kereta yang meluncur masuk ke peron yang berlawanan. 

Aku berjalan sambil merasakan semuanya dengan samar. Hibise mengikuti sedikit di belakangku, tetapi aku tidak menoleh. 

Kami berdua menaiki eskalator. Kakiku bergerak ke atas tanpa disadari, dan aku hanya perlu berdiri di situ. Suara mesin yang berdetak dengan ritme tetap mengosongkan pikiranku. 

──Di sini adalah akhir. 

Ketika aku turun dari eskalator, pandanganku terbuka lebar. Pintu masuk sudah sangat dekat, tidak memberiku waktu untuk berpikir. 

Kakiku seketika terhenti. Akhirnya, aku menoleh ke arah Hibise. Namun, Hibise menunduk dengan headphone tergantung di lehernya.  Namun, ada keheningan seolah-olah dia tidak mendengar apa pun. 

──Baiklah, kalau begitu, aku pergi sekarang.

Setelah mengucapkannya dengan lantang, akhirnya aku merasakan sensasi realitas.  Seharusnya aku sudah mengatakan semua yang perlu kukatakan. Tidak perlu lagi menambah kata-kata. 

Saat aku sedang memikirkan itu dan hendak menyelesaikan ucapan perpisahan, tiba-tiba. 

──Lima kali.

“Hah?

Kata-kata pendek itu muncul tiba-tiba di tengah keramaian. 

“Itulah jumlah Satoshi-senpai menolakku.

Meskipun diucapkan dengan nada bercanda, tidak ada nada menyalahkan. Hanya kata-kata yang menyatakan fakta. 

……Oh. 

Apa lagi yang bisa kukatakan? 

Kalau dipikir-pikir, Senpai benar-benar pria yang brengsek. Pengakuan cintaku yang tulus, langsung dilupakan keesokan harinya. 

Hibise menatapku dengan tatapan tajam. 

“Menurutku itu karena 'kekuatan pengoreksian dunia'. 

Di situ! Jangan membantah!

Dia menyela tanpa ragu sedikit pun, dan aku tanpa sadar mengangkat bahu. Meskipun cara bicaranya sangat tidak masuk akal, suara Hibiki perlahan kembali menguat. 

……Tapi, mungkin aku juga memanfaatkan itu.

Hibise tersenyum lembut seolah menghela napas. 

Senpai akan melupakan perasaanku, jadi sebenarnya tidak masalah. Hanya aku yang tersisa untuk bergulat dengan kenangan pahit ditolak…… Hiks.

Kenapa kamu malah mengorek lukamu sendiri…… 

Saat aku mengucapkan itu, ekspresi Hibise menjadi muram, dan suasana di sekitarnya terasa gelap. Jika itu membuatnya ingin menangis, seharusnya dia tidak perlu mengatakannya. 

Namun, anehnya, suasana tidak menjadi berat. 

Sebaliknya, ketegangan yang ada sedikit melonggar. 

Po~kok~nya!

Hibise tiba-tiba bersuara keras. Karena kami berada di depan pintu masuk, semua perhatian di sekitar langsung tertuju pada kami. 

Senpai tinggal mengingatku!

Dia berkata sambil tersenyum lebar. 

Jika kamu mengingatku, kita bisa membangun kembali hubungan kita! 

Di wajahnya tidak ada lagi jejak air mata yang terlihat. 

Satu langkah. Aku akan memperpendek jarak satu langkah lagi, dan berdiri di sisimu lagi, sama seperti waktu di SMA! 

Dia mengatakannya dengan tegas dengan senyuman cerah seperti matahari. 

Jadi, Senpai. Aku tidak berniat menyerah.

Di detik berikutnya, Hibise melompat ke pelukanku.  Sebelum aku sempat berpikir, aku merasakan benturan dan kehangatan menyebar ke seluruh tubuhku. 

Aku hanya berdiri di situ, tertegun dalam pelukannya. 

Muuh. 

Dia menempelkan wajahnya di dadaku, menghembuskan napas manja. 

Aku tahu dia ingin aku membalas pelukannya. Namun, aku tidak bisa melakukan itu. Aku mengangkat kedua tangan, menunjukkan tanda menyerah. 

“Tolong lepaskan……

Suara yang keluar dari mulutku terdengar sangat pelan

“Enggak mau~! 

Dia semakin erat memelukku. Kekuatan di lengannya semakin kuat, dan kedekatan kami semakin dalam. 

──Aku benar-benar dibuat kerepotan

Aku pikir membiarkannya melakukan apa yang dia mau adalah bentuk ketulusan dari diriku. Meski aku berpikir begitu, tetapi situasinya sangat tidak nyaman. 

Hibise, sepertinya sudah saatnya……

Sebentar lagi saja.”

Meskipun suaranya terdengar manja, kekuatan di lengannya semakin meningkat. Tubuhku kehilangan tempat untuk melarikan diri, sepenuhnya terjebak. Aku merasakan tatapan orang-orang di sekitar mulai berkumpul. 

──Gawat. Situasi ini benar-benar tidak baik…… 

Dari sudut pandang orang lain, kami mungkin terlihat seperti pasangan mesra yang enggan berpisah. Namun, bagiku yang terlibat, ini adalah situasi yang tidak bisa ditertawakan. 

Terlalu memaksakan diri untuk melepaskannya membuat hati nuraniku terasa sakit──.

 

──Selingkuh.

 

Sebuah kata dingin seperti es berbisik, menyentuh telingaku. 

Jantungku terasa mau copot

Sesuatu yang dingin menjalar di punggungku, dan wajahku terasa langsung berubah menjadi pucat pasi

Aku secara refleks mengangkat wajahku, dan di hadapanku── ada Satsuki. 

Dia memiliki senyum lebar yang berseri-seri. Dia sedikit memiringkan kepalanya, menatap lurus ke arahku. 

Suasana di depan pintu masuk tiba-tiba menjadi ceria. Tatapan orang-orang yang lewat seolah tertarik dan berkumpul di sekitar Satsuki. 

Namun, hanya sorot mata Satsuki yang tidak tersenyum. 

Pandangan matanya tampak gelap dan dingin, menyimpan cahaya yang membeku. Tak perlu dikatakan lagi ke mana pandangannya tertuju.

Tatapan matanya diarahkan pada── Hibise yang masih memelukku. 

Aku berusaha menggoyangkan tubuh Hibise, berusaha keras memberi isyarat dengan putus asa. 

Instingku mengatakan bahwa mengucapkannya dengan kata-kata hanya akan menambah masalah. 

Sebentar lagi! Cuma tinggal sebentar lagi saja!” 

Namun, sebaliknya, dia justru semakin erat memelukku. Seolah-olah dia ingin mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah melepaskanku. 

──Tolong, dengarkan apa yang kukatakan! 

Saat aku berharap seperti itu, 

──Ini sih selingkuh, ya~” 

──Ini memang selingkuh.

Ketika aku menoleh dengan hati-hati, di sana sudah ada Shuna dan Shino. Senyuman Shuna yang seharusnya bisa menyembuhkan siapa pun. Namun, pupil matanya terbuka lebar dan tetap terfokus, hanya ekspresinya yang lembut. 

Shino benar-benar terlihat menakutkan. Dia melihatku sekilas, lalu mengarahkan senyum sempurnanya padaku. Seketika berikutnya, tatapannya tertuju pada Hibise. 

Dia sedang serius menilai bagaimana cara menghadapinya. 

──

Pada saat itu, dari samping Satsuki, hawa dingin terasa menyebar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Reine berjalan ke arah kami. Langkah kakinya kelihatan tenang, tetapi keberadaannya terasa sangat berat. 

Dia berhenti dan menatap Hibise dari atas. Tatapan es yang tidak menunjukkan emosi. Di detik berikutnya, tangan Reine terulur dan meraih pita di rambut Hibise. 

──Kamu mengganggu.

Sebuah kata pendek dan dingin. 

Eh? Kya!

Hibise langsung ditarik dengan paksa dari pelukanku. Tubuhnya melayang di udara, dan sesaat kemudian, dia terjatuh ke lantai. 

Aduh……! Apa yang kamu lakukan……?”

Masih duduk dengan pose kekanak-kanakan, suara Hibise perlahan-lahan mengecil. 

Pada saat yang sama, keringat mengucur deras dari dahinya. 

Keempat orang itu perlahan-lahan mendekatinya. Seakan ingin membentuk lingkaran, mereka mengelilingi Hibise dan menatapnya dari atas. 

Senyum. 

Keheningan. 

Hawa dingin. 

Tidak ada jalan untuk melarikan diri. 

──Senang bertemu denganmu, Harusora Hibise.

Suara Satsuki terdengar sangat lembut. Kemudian, Satsuki membungkuk agar setinggi matanya sejajar dengan Hibise. 

Sepertinya pacarku sangat berhutang budi padamu, ya?

Eh, um, itu…

Tertekan oleh senyuman Satsuki, bibir Hibise bergetar dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya. 

Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. 

Setelah jeda sejenak, Satsuki melanjutkan dengan senyuman. 

“Bagaimana kalau kamu mampir ke rumah kami?” 

Tidak, um…

Jangan sungkan-sungkan begitu. Shino sudah menyiapkan kue teh terbaik untukmu. Iya ‘kan? 

Tatapan Satsuki beralih, dan Shino melangkah maju. 

Ya. Dasar kucing garong... Maaf. 

Sekilas, Shino menatap Hibise dengan tatapan merendahkan. Namun, sesaat berikutnya, dia beralih ke senyuman sempurna yang mengenakan topeng sosial. 

Hibise-san adalah kouhai yang sangat berharga bagi Satoshi-san. Jika ia berhutang budi padamu, mau tak mau kita harus menyambutmu. Jika tidak, nama keluarga Shinonome akan tercemar.

Bahasa yang digunakan sangat sopan. 

Namun, tidak ada pilihan untuk menolak. 

“Ka-Karena sudah larut, mungkin kita bisa melanjutkannya lain kali…!

Hibise langsung berdiri seakan-akan terkejut, dia berusaha berlari ke tangga menuju peron. 

──Namun. 

“Oke~ berhenti~” 

Bersamaan dengan suara ringannya, Shuna mengulurkan tangannya. Dia menggenggam lengan Hibise dengan kuat, seolah-olah bisa mengeluarkan suara berdentang. Sambil menatap Hibise, dia tersenyum seperti biasanya, senyum yang seharusnya bisa menyembuhkan siapa pun. 

“Jangan segan-segan begitu dong, Hibise-chan~. Tidak perlu ada rasa sungkan antara kita, kan~? 

Ti-Tidak, kita belum ada hubungan apa pun…

Hm~?

U-Um… 

Suara Hibise semakin pelan

“Kamu tidak berhak untuk menolak, iya ‘kan? 

Reine berkata dengan suara yang kehilangan emosi. 

Kamu sudah berani menyentuh sesuatu yang berharga bagi kita──kan?

Y-ya…

Hibise tidak bisa berkata apa-apa lagi lebih jauh dan hanya menunduk. 

──Entah kenapa, dia terlihat sangat menyedihkan…… 

Dia sedang patah hati setelah ditolak olehku. Dan sekarang, dia terjebak dalam kepungan ini. Aku juga tidak bisa tinggal diam melihatnya

Nah.

Apa~?

Meski aku berusaha berbicara, tidak ada seorang pun dari mereka yang mengalihkan pandangannya dari Hibise. 

Hibise dan aku sama-sama sudah lelah, bagaimana kalau kita membicarakan ini nanti? Waktunya juga sudah larut.

Senpai……

Hibise menatapku seolah-olah dia tellah menemukan harapan. Sejenak, secercah cahaya kembali bersinar di matanya. 

Namun──. 

Oh, Satoshi-kun sendiri akan mendapat penyelidikan mendalam sepanjang malam nanti. 

Satsuki mengatakannya dengan senyum ceria. 

Eh?

“Memangnya kamu pikir setelah membuat kami khawatir begini, kamu benar-benar bisa tidur nyenyak?

Eh, um…

Kata 'selingkuh' yang tadi terngiang di kepalaku. Keringat dingin mengalir di punggungku. 

Jadi,

Satsuki berdiri, melihat bergantian antara aku dan Hibise, lalu berkata dengan ceria, 

“Bagaimana kalau kita pulang ke rumah! ──Oke? 

Nada suaranya terdengar seperti mengundang ke pesta teh yang menyenangkan. Namun, di balik itu, kami berdua merasakan emosi yang bergejolak layaknya magma gunung berapi

Kami berdua saling bertukar pandang. 

Tidak perlu kata-kata. 

““……Ya””

Aku dan Hibise tidak punya pilihan selain menurutinya.

 

◇◇◇◇

 

Aku dan Hibise dibawa dikelilingi oleh mereka berempat. Jarak dari stasiun menuju apartemenku tidak sampai lima menit. Jarak yang biasanya cepat ditempuh, kini terasa sangat jauh. 

Tidak ada seorang pun yang membuka percakapan. Hanya suara langkah kaki yang meninggalkan suara kering di jalan malam. Cahaya lampu jalan memperpanjang bayangan keempat orang itu dengan sudut yang tidak wajar, dan di tengahnya, aku dan Hibise terjebak. 

Kami melewati jalanan malam dalam keheningan, hingga akhirnya sampai di apartemen. Setelah menaiki tangga, Satsuki berhenti di depan pintu kamarku.  Tidak ada keraguan dalam gerakannya saat mengeluarkan kunci.

Terdengar bunyi klik ringan. 

Silakan masuk,” katanya. 

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan setelah dia memberi isyarat

Bahkan aku yang seharusnya pemilik rumah merasa tidak nyaman seperti memasuki rumah orang lain. Saat aku menyalakan lampu, aku menyadari ada sesuatu yang aneh. 

──Ruangan ini sedikit berbeda. 

Ada dua bantal duduk di depan meja. 

Meskipun jaraknya dekat, penataannya tidak memberikan ruang untuk melarikan diri. Seolah-olah seperti bangku terdakwa. 

Satsuki duduk di sofa di sisi lain meja. Dia bersandar ke belakang dengan sikap santai, menatapku dari atas.

Dan di bawahnya, Reine, Shuna, dan Shino duduk di lantai di kedua sisi meja. Dengan Satsuki sebagai posisi puncak, tatapan secara alami terfokus pada satu titik. 

“Ayo, duduklah. 

Satsuki mengubah posisi duduknya dan menyilangkan kakinya. 

Sejenak, aku melihat kakinya yang telanjang, yang tanpa malu-malu dipamerkan, tetapi perasaan terintimidasi lebih besar daripada daya tarik apa pun. Sembari memangku dagunya pada tangannya, dia menatap kami tajam, memberi isyarat agar kami duduk. 

Aku dan Hibise tidak menemukan alasan untuk menolak, lalu duduk di bantal. 

──Jadi?

Hanya satu kata. 

──Tidak perlu alasan. 

──Tidak perlu berpura-pura

──Bicarakan semua yang kamu sembunyikan. 

Seolah-olah dia ingin menyampaikan itu padaku

Hibise adalah junior di universitasku dan…… kami cukup akrab." 

Ah, kalau yang begitu sih tidak perlu. 

Satsuki menjentikkan jarinya. Seakan-akan sudah menunggu isyarat itu, Shino melemparkan setumpuk dokumen ke atas meja. Suara kering terdengar saat kertas jatuh. 

Foto kami yang berjalan berdampingan. Beberapa potongan dengan sudut dan jarak yang berbeda ditumpuk. Masing-masing dengan tanggal dan lokasi yang tertata rapi. 

“Karena kami sudah menyelidiki semuanya.”

Ah, ya.

Aku mengangguk secara refleks.

Senyum Shino memiliki daya tarik yang cukup untuk membuat orang lain tunduk. Apa dia menyelidikinya sendiri, atau menggunakan kekuatan keluarga Shinonome? 

Bagaimanapun juga, fakta bahwa kami akan dituduh tidak berubah. 

──Namun, masih ada satu hal yang tidak kumengerti~” 

Shuna melihatku dengan nada santai yang tidak sesuai dengan situasi ini. Suaranya seolah-olah sengaja ingin meredakan ketegangan yang menyelimuti kami

Memang benar bahwa Satoshi-kun telah berubah menjadi pria nakal yang sudah membuat kami gelisah dengan tindakan selingkuh~” 

Maaf, aku benar-benar berpikir itu adalah kesalahpahaman kalian!

Aku segera membantah. Aku takkan pernah melakukan sesuatu yang mencoba menguji cinta pacarku. 

“Hmm~?

Shuna memiringkan kepalanya sambil menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu. Seolah menanyakan apakah aku benar-benar berpikir demikian. 

……Apa pun motifnya, jika kalian merasa seperti itu, kurasa aku memang pantas menerima hukuman…

Bagus sekali~”

Tepuk tangan menggema bersamaan dengan suara Shuna. Bukan hanya Shuna, tetapi Shino dan Satsuki juga ikut bertepuk tangan pada waktu yang sama. 

Suara tepuk tangan yang kering. 

Aku tidak tahu bahwa tepuk tangan yang begitu tidak nyaman bisa ada. 

──Sungguh bertele-tele. 

Suara Reine memotong suasana itu dengan tajam. Suara yang tidak memiliki kelembutan atau jalan keluar. 

“Cuma ada dua hal yang ingin kami ketahui.

Dengan itu, Reine mengangkat dua jarinya

Pertama. Tujuan Hibise mendekati Satoshi.

Satu jarinya dilipat. 

“Yang kedua, Satoshi. 

Tatapan Reine menembusku dengan tajam. 

Kenapa kamu diam-diam bersama Hibise tanpa memberitahu kami? Kamu pasti tahu hal semacam ini akan terjadi, kan?

──Yah, kurasa semuanya bermuara pada itu...…… 

Saat itu, suasana menjadi lebih berat. 

Keempat tatapan bergantian mengarah kepadaku dan Hibise. 

“Ah, kalau itu sih gampang saja. 

Hibise membuka mulutnya seolah memotong suasana. 

“Karena aku menyukai Satoshi-senpai. 

“O-Oiii!?

Pengakuan yang terlalu sederhana membuat suaraku terdengar aneh. 

“Dengan kata lain, ini adalah NTR (Netorare - mencuri pacar orang lain). Karena kalian tidak pantas untuk Satoshi-senpai, jadi aku yang akan mengambilnya. Senang bisa bertemu dengan kalian~” 

Tunggu, tunggu, Hibise!? 

Hibise tidak mendengarkan nasihatku seolah-olah rem dalam dirinya sudah blong

Aku sudah memikirkannya secara matang-matang~ lagian aku tidak perlu takut, kan? 

Gerakan bahunya yang mengangkat seolah menantang. 

Di dalam cinta pasti ada yang namanya rintangan. Rintangan? Tidak, jika kita menganggapnya sebagai empat pijakan, itu bukan menjadi masalah.  

……Bukankah sudah waktunya mulutmu untuk diam? 

Kalau begitu, diamkan aku dengan ciuman! 

“Bagaimana kalau aku menutupmu dengan lakban!? 

Kyaaaa, menakutkan! Aku akan diserang!

“Sudah kubilang, jangan bicara seperti itu……! ──Hah!!!”

Aku langsung tersentak sebelum aku menyelesaikan kalimatku. 

Aku dengan hati-hati melihat wajah mereka berempat

──Tidak ada yang mengubah ekspresi mereka

Tidak ada kemarahan, tidak ada keheranan. 

Mereka hanya menatapku dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah semua emosi telah hilang dalam diri mereka

.......Sejujurnya, rasanya jauh lebih baik jika mereka berteriak padaku

Aku secara alami duduk dengan posisi duduk bersimpuh

Namun, Hibise tidak mundur. Sebaliknya, dia tampaknya bersedia menghadapi mereka berempat secara langsung. Bahkan seorang pahlawan yang melampaui batasnya hanya akan menjadi orang bodoh, loh……? 

Beberapa detik. 

Keheningan yang berat menyelimuti kami, hingga akhirnya Hibise menghembuskan napas kecil. 

Yah, sebenarnya itu tidak terlalu penting, sih.

Pada saat itu, suasana menjadi dingin.

 

──Di mana Sano Yuuto?

 

Ringannya suasana sebelumnya seketika menghilang. Suaranya terdengar tenang. Tidak ada pelarian maupun lelucon. Dengan satu kalimat itu, suasana menjadi semakin berat. 

Aku secara naluriah menekan tanganku ke dahi.

Apa dia akan membahasnya sekarang..……? 

──Apa maksudmu?”

Reine balik bertanya dengan tekanan yang tinggi. Tatapannya tajam, suaranya rendah dan tertekan. Meski begitu, Hibise sama sekali tidak terpengaruh. 

Alasan mengapa aku mendekati Satoshi-senpai karena aku ingin merebutnya dari kalian. Dan satu alasan lagi. 

Dia berhenti sejenak. 

──Untuk meminta bantuannya dalam mencari Sano Yuuto.

Tiba-tiba, tatapan mataku bertemu dengan Satsuki. 

……Apa itu benar?

……Benar.

Aku menjawab dengan menghela napas. Sebenarnya, aku ingin mempertimbangkan cara bertanya yang lebih baik. Namun, karena Hibise sudah melangkah sejauh ini, sekarang sudah tidak ada jalan kembali. 

Hibise meletakkan ponselnya di meja tanpa sepatah kata pun. Dia menghidupkan layar dan mengarahkannya ke arah Satsuki dan yang lainnya. 

“Hah? 

Terdengar suara terkejut. 

Gambar terbagi menjadi tiga bagian. 

Ruang tamu. 

Kamar mandi. 

Loteng

Sebuah desahan kecil keluar dari tenggorokanku. 

Sano telah memasang kamera pengawas di kamarku.

““““──””””

Keempatnya seketika terdiam. Mereka hanya menatap layar. 

Hibise menekan tombol kecepatan maksimum dengan ujung jarinya. Hari-hari di layar terkompresi dan berlalu dengan cepat. 

──Di sana, ada hal-hal yang seharusnya tidak boleh bocor, ditampilkan tanpa ampun. 

“Hanya itu sendiri masih bisa ditangani. Aku bisa saja meninjunya sekali dan menyerahkannya ke polisi, masalahnya akan selesai. 

Video berhenti di situ. 

Reine, Shuna, Shino.

Aku memanggil nama mereka dengan tenang. Di layar ponsel, mereka menatap dengan tatapan yang penuh kebencian. 

……Sejak kapan kalian menyadarinya?

Tidak ada jawaban. 

Aku mengangkat pandanganku dan melihat Satsuki di hadapanku

Dan, Satsuki. Pada hari itu, kamu membawaku pergi.

Tanggal 14 Maret. 

Hari peringatan satu tahun setelah kecelakaan. Bagiku, itu bukan hari yang membawa keberuntungan. Meski demikian, bagi mereka berempat, itu adalah hari di mana aku menyelamatkan mereka. 

Hari yang tersimpan dalam ingatan mereka sebagai hari yang berharga. 

Dan sekarang ingatan itu. Mulai terguncang akibat satu rekaman pengawasan ini. 

……Karena mungkin sulit bagi Senpai untuk mengatakannya, biar aku yang mengatakannya. Aku meyakini bahwa kalian berempat terlibat dalam hilangnya Sano Yuuto. 

Satu kalimat yang sepenuhnya menutup jalan pelarian mereka

Sejak hari itu, aku tidak bisa menghubungi Sano Yuuto. 

Ada keheningan sejenak

Kemudian, aku menatap lurus ke arah mereka berempat

──Apa yang sudah kalian lakukan? 

Pertanyaanku singkat. 

Namun, pertanyaan itu sendiri mirip sebuah vonis. 

Aku memandang wajah mereka berempat

Tidak ada yang mengangkat kepala. 

──Kenapa kalian tidak membantah……!? 

Keringat dingin mulai mengalir di dahiku. Keheningan itu membuatku merasa seolah-olah mereka sedang berpikir untuk menutupi sesuatu, dan detak jantungku semakin cepat. 

──Jadi begitu ya.

Satu kalimat keluar dari Satsuki bersamaan dengan hembusan napas. 

Bisakah kamu memberitahuku?

Satsuki menatap Hibise dengan suara yang kehilangan emosi. 

Bagaimana kau mendapatkan video rekaman itu?

Walaupun sangat tidak menyenangkan, tapi Sano Yuuto menganggapku sebagai komplotannya. 

“Komplotan? 

Ya. 'Jika kamu komplotanku, maka kamu perlu mengetahui apa yang kulakukan,' jadi aku terus menerima video rekaman. Tentu saja, aku tidak memberitahu siapa pun kecuali Satoshi-senpai.

Begitu……

Satsuki menghela napas pelan

──Jadi, kamu sudah mengetahuinya, ya. 

Dia berbisik sebelum menatapku. 

Seperti yang dikatakan Hibise. Kami memang bertemu dengannya.

“La-Lalu, di mana dirinya sekarang!?

Suaraku tiba-tiba meninggi. 

Entahlah?

Jawaban yang kudapatkan justru terlalu datar. 

Kenapa kalian bertemu dengannya!? 

Detak jantungku tiba-tiba melonjak. 

Namun, ekspresi mereka berempat terlihat sangat tenang. Perbedaan itu membuatku tidak bisa menahan diri. 

──Karena itu semua demi Satoshi-kun.

Satsuki berkata dengan tenang. 

Eh? Demi diriku?

Aku tidak mengerti dengan maksud perkataannya dan pikiranku tidak bisa mengikuti. 

Satoshi-kun, apa belakangan ini kamu merasa bahagia? 

……Apa maksudmu dengan mendadak bertanya begitu?

Sudahlah, jawab saja.”

Sebelum aku menyadarinya, Reine, Shuna, dan Shino juga menatapku. Mana mungkin aku bisa diam dalam suasana ini. 

──Aku sangat bahagia. 

Aku menjawabnya dengan tegas

Pada saat itu, aku mendengar suara terkejut Hibise. 

Begitu. Syukurlah kalau begitu……

Satsuki menghela napas lega, dan tampak seolah-olah beban di bahunya menghilang. 

Ketika kami memulai kehidupan ini, kami memutuskan untuk membuat Satoshi-kun lebih bahagia daripada siapa pun. 

Kemudian, ekspresi Satsuki berubah menegang. 

“Dan demi mendapatkan kebahagiaan itu──LoD adalah penghalang.”

Aku bisa mendengar suara lembut keluar dari Hibise. 

“Bagi Satoshi-kun, LoD adalah kenangan yang ingin dilupakan, bukan?

……Ya.

Neraka kenyataan di mana semuanya dihapus, dan aku harus menerima nasib kematian yang mengerikan. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. 

──Itulah pemicu yang mengingatkan Satoshi pada neraka.Reine melanjutkan.Meskipun kamu berusaha untuk bahagia, melihat orang itu akan mengingatkanmu pada masa lalu. Itu terlalu menyakitkan……

Reine……

Suara Reine bergetar lembut. 

Satoshi-san.

Shino melanjutkan dengan tenang. 

“Mungkin memang benar bahwa kamilah penyebab hilangnya si orang itu.

Dia mengatakannya dengan jelas. 

“Ironisnya, kamera pengawas yang ditemukan Hibise-san itulah yang menjadi pemicunya. 

Katanya sambil mengarahkan tatapan matanya pada smartphone di atas meja. 

'Jika kamu tidak ingin polisi mengetahuinya, silakan menghilang dari hadapan kami.'──begitulah kami mengatakannya. 

Kemudian, dia menghela napas. 

Aku merasa lega bahwa bajingan busuk itu tampaknya telah menepati janjinya. 

“Jadi begitu rupanya……

Semua alasan dan motifnya mulai terhubung. Akan tetapi, ketidaknyamanan yang tersisa di dalam hatiku tidak kunjung menghilang. 

Maafin kami ya~~”

Shuna mendekatiku dan menggenggam tanganku. 

Jika kami memberitahu Satoshi-kun tentang hal berbahaya ini, kamu pasti akan merasa keberatan.

……Ya.

Faktanya, meskipun aku sudah mengetahui kebenarannya, kemarahan itu belum mereda. 

Tapi asal kamu tahu saja~, kami sudah mengetahui kalau Satoshi-kun bukan manusia dari LoD, melainkan reinkarnator iya ‘kan~. Jadi, itulah sebabnya kami memutuskan untuk menyelesaikan masalah LoD ini. 

Sudahlah, aku mengerti. 

Masih ada banyak hal yang tidak kuketahui. 

Cederaku sudah sembuh, dan kupikir semuanya sudah beres. 

Tapi rupanya, bara api masalah masih tetap menyala. 

......Sejujurnya, aku ingin mengatakan ‘yang benar saja’, tetapi aku tidak tega untuk mengatakannya

──Terima kasih karena sudah melakukan semuanya demi diriku.

Kata-kataku lebih lembut dari yang kubayangkan. 

……Apa kamu tidak marah?

“Tentu saja aku merasa marah. 

Tanpa sadar, nada suaraku meninggi, membuat bahu mereka berempat bergetar. Aku menggaruk kepalaku dan menatap langit-langit. 

……Aku merasa senang bahwa kalian mengutamakan kebahagiaanku, tapi....” 

Aku menatap keempatnya dengan serius. 

Namun, aku tidak ingin menjalani kehidupan yang hanya dipikul oleh kalian──aku tidak sudi. 

Satoshi-kun……

Perasaan terasing yang samar masih terasa, seolah aku telah ditinggalkan. Aku sudah menjadi penduduk LoD dan manusia di dunia ini. Aku tidak peduli dengan kehidupanku yang sebelumnya. 

Maaf, Hibise. Jadi begitulah adanya──

Aku berhenti berbicara di situ

Ketika aku melihat ke samping, aku melihat badan Hibise sedikit bergetar. Bahunya sedikit gemetar, dan napasnya pendek. 

Kenapa……

Suara seraknya bisa terdengar. 

Bagaimana kalian bisa tahu tentang LoD……?

Hibise menatap mereka berempat dan bertanya. 

Kalian seharusnya tidak bisa mengingat Satoshi-senpai, jadi kenapa……?

Mereka berempat saling bertukar pandang tanpa sadar. Satsuki dengan tenang berdiri dan membuka lemari, dia kemudian tanpa ragu mengulurkan tangannya. 

Yang diambilnya adalah sebuah buku catatan. 

Jangan bilang……

Begitu buku tersebut diletakkan di atas meja, mata Hibise terbuka lebar. 

“Jadi begitulah. Kami semua sudah membaca Buku Harian itu. Entah itu masa lalu dan perasaan Satoshi-kun, semuanya.

──

Kami juga menyadari betapa parahnya perbuatan yang telah kami lakukan. 

Itu semua karena 'kekuatan pengoreksian dunia'. Jadi mau bagaimana lagi. 

Meskipun begitu, kurasa kami harus terus menyesalinya selamanya.” 

Kami sudah membahas topik ini berkali-kali.  Tapi tak peduli berapa pun waktu berlalu, kita selalu menemui jalan buntu. Daripada itu──. 

Hibise?

──

Hibise tetap menunduk dan tidak bergerak sedikit pun. Rambut depannya menutupi wajahnya, sehingga ekspresinya tidak terlihat. 

──Harusora Hibise-san.

Shino dengan tenang menyela. 

Aku juga ingin bertanya satu hal.

Dengan kata-kata yang ditujukan pada Hibise yang tidak mengangkat kepala. 

Kami menyadari bahwa kamu adalah── karakter 'mob' dalam LoD. 

Eh!?

Kata-kata tersebut keceplosan dari mulutku. Itu benar-benar di luar dugaan. 

Kami juga memainkan LoD~” 

Eh? Hah? 

Ini buktinya.

Samil terus mengabaikan kebingunganku, Reine mengambil laptop dari belakang sofa dan meletakkannya di meja. Kemasan yang sangat familiar. Di layar itu terdapat karakter yang sama dengan keempat orang di depanku. Aku membandingkan kenyataan dengan layar berulang kali, dan tanpa sadar menggebrak meja. 

“Kalian benar-benar memainkannya!? Kalian yang merupakan heroine di LoD!? 

Tentu saja! ──Meskipun rasanya sangat buruk.

Ekspresi Satsuki tampak jelas muram. 

Melihat diri kami yang sedang dijadikan target itu adalah pengalaman yang tidak biasa~” 

Meski Shuna berbicara dengan nada santai, tetapi emosinya terdengar hilang. 

“Memang…… yang namanya kehidupan tuh memang menarik, ya~. 

Kata-kata itu hanya menyisakan ketidaknyamanan. 

Benar sekali.

Reine menyilangkan lengan, mengatakannya dengan nada sinis. 

Rasanya seperti menonton sejarah hitam secara langsung. 

Tanda penolakan jelas-jelas terlihat jelas dalam raut wajah mereka

“Fufu.

Shino menghela napas pelan. Sembari menundukkan pandangannya, dia memilih kata-kata dengan hati-hati. 

“Rasanya sangat menjengkelkan saat memikirkan begitu banyak orang menonton ini. Sebuah permainan di mana kita dan makhluk itu bersatu. 

Setelah jeda sejenak, dia perlahan mengangkat wajahnya. Senyumannya tetap kelihatan lembut. 

Apa kita harus menghancurkan perusahaan itu?

Meski itu diucapkan dengan nada bercanda, tetapi suasana menjadi jauh lebih dingin. 

──

Aku tidak bisa membalasnya…… 

Kata-kata penghibur, lelucon yang dibuat-buat, semuanya terasa terlalu ringan. Jika aku membuka mulut sembarangan, aku bisa menginjak ranjau. Karakter game mencoba memenangkan hati karakter yang dimodelkan berdasarkan diri mereka sendiri?? 

Ketidakpahaman terhadap penyimpangan itu membuatku bingung. 

Shino kemudian tersenyum padaku. 

Dari penyelidikan keluarga Shinonome, kami menemukan bahwa Hibise adalah adik kelas kami. Jika sudah begitu, kami tinggal mencarinya dari CG saat upacara penerimaan siswa baru. 

Selanjutnya, satu-satunya kemungkinan yang tersisa bahwa Hibiki-chan pernah bersama Satoshi-kun selama SMA~. Kami tidak begitu lunak dalam pembelaan kami sehingga kami akan memberinya kesempatan untuk jatuh cinta pada Satoshi-kun di perguruan tinggi~. 

Begitu ya……

Kemampuan investigasi mereka yang luar biasa membuatku merinding. 

Jika aku benar-benar berselingkuh──aku bisa saja dibunuh. 

──Itulah sebabnya, aku tidak mengerti tentang dirimu. Harusora Hibise.

Reine menatap Hibise dengan sinis. 

Kenapa seorang 'mob' bisa menyadari LoD? Dan maksudnya 'curang'──eh? 

Suara serak Hibise membuat Reine terdiam. 

Curang, curang, curang, curang, curang, curang, curang, curang……

Kata yang sama meluncur keluar dan memantul kembali. 

Kedengarannya seperti mantra, secara mekanis. 

Logika runtuh tanpa suara. 

Hi-Hibise?

Jangan sentuh aku!

Ketika Reine berusaha untuk menyentuhnya, Hibise dengan cepat menepis tangannya. 

Suara kering terdengar. 

Dengan wajah menunduk, Hibise berkata dengan nada rendah. 

──Jadi, begitulah adanya. 

Akhiran kalimatnya yang lembut justru terasa menyeramkan. 

Orang-orang yang sangat posesif seperti 'Timur, Barat, Utara, Selatan' itu…… selama ini~ aku sama sekali tidak bisa mengerti kenapa kalian berpacaran dengan Satoshi-senpai.” 

Dia perlahan-lahan mengangkat wajahnya. 

Pertama, dia menatapku, lalu mengalihkan pandangannya ke empat orang lainnya. 

Meski kalian tidak ingat apa-apa, tapi kalian berpikir kalian sudah tahu kebenaran hanya dengan membacaBuku Barian?” 

Dia tertawa. 

Senyum tipis dan kering. 

Hanya suara tanpa emosi yang muncul dari mulutnya

──Kalian benar-benar wanita yang parah dan terburuk. 

Suasana menjadi tegang. 

“Bukannya kalian semua cuma memproyeksikan perasaan kalian kepada Satoshi-senpai sebagai pengganti Sano Yuuto?” 

──Jika kamu terus berbicara omong kosong, aku akan membunuhmu, tau.

Reine menjawab dengan suara rendah. Shuna, Shino, dan Satsuki──tidak bergerak sama sekali. 

Namun, Hibise tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan. 

Ohh~ ohh~, menakutkan sekali. 

Dia menjawab sambil mengangkat bahunya dan melanjutkan dengan nada menantang. 

──Kalau begitu, aku akan bertanya pada kalian, ──Jika kalian tidak tahu kebenarannya, kalian semua pasti masih bersama Sano Yuuto, kan? 

Ada keheningan singkat yang menyelimuti Satsuki dan yang lainnya. Namun, Hibise tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja

Aku tidak akan membiarkan kalian mengatakan bahwa kalian tidak memikirkannya. Itulah mengapa kalian memilih universitas yang sama dengannya.──Aku sudah mengetahuinya. 

““““──””””

Keempatnya terdiam. 

Keheningan itu menjadi sebuah persetujuan. 

Kalian berempat tidak ingat apa-apa──kalian hanyalah budak LoD yang tidak bisa mengingat apa-apa, jadi tidak mungkin kalian bisa berpikiran bahwa kalian akan mati pada hari itu.

Tempat ini yang disiapkan untuk mengadiliku dan Hibise tiba-tiba terbalik. 

Pihak yang mengadili sekarang sepenuhnya berubah. 

Hibise tersenyum lebar. 

“Apa yang kalian pikirkan setelah menerima pengakuan terburuk dari itu?

Dia mendekat. 

Awalnya, pasti kalian marah. Tapi── 

Hibise melontarkan pertanyaan itu langsung kepada mereka dan menatap tajam. 

Cuma aku satu-satunya yang tahu sisi baiknya....Cinta bisa dimulai dari hubungan fisik.....Ia cuma tidak punya waktu untuk berpikir jernih karena stres ujian......Menunjukkan kekurangan adalah tanda kepercayaan......Orang ini tidak bisa tanpa diriku......──Kalian semua pasti berpikir seperti itu, kan? 

Sambil mengatakan semua itu tanpa jeda, Hibise kembali tertawa sinis. 

Kalian benar-benar beruntung. Kalian menyadari kesalahan kalian sebelum terlambat. 

──Apa yang ingin kamu katakan?

Satsuki yang sebelumnya mendengarkan dengan tenang kini menantang balik Hibise. 

Pada akhirnya,

Nada suara Hibise meningkat tajam. 

Kalian semua tidak mencintai Senpai──!

Suara Hibise semakin keras. 

Kalian hanya ingin berpura-pura bahwa masa lalu di mana kalian ditipu tidak pernah terjadi. Kalian tidak ingin mengakui kenyataan bahwa kalian mencintai pria yang salah, itu hanya bentuk perlindungan diri……! 

Kata-kata Hibise mengalir deras seperti air terjun

Perasaan Satoshi-senpai untuk kalian tertulis jelas di Buku Harian, dan Satoshi-senpai sedang patah hati. Cinta yang sudah dijamin menang sejak awal. Kalian memang hebat sekali ya, para heroine utama! 

Dia melontarkan nada sarkasme. 

Objek cinta kalian pun berpindah dari Sano Yuuto menjadi Iriya Satoshi, iya kan? Mirip seperti mengganti baterai!!!” 

Hibise──!

Saat aku melangkah maju, 

“Itu tidak adil……

Dia bergumam pelan

Suara tajam dan lantangnya tadi kini digantikan dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar

Ini tidak adil……! 

Air mata menggenang di sudut matanya dan mengalir deras. 

Ini terlalu tidak adil…… Mana mungkin aku bisa menang seperti itu……!

Suara Hibise bergetar dan pecah. 

“Padahal kalian tidak ingat apa-apa……! 

Hibise menatap mereka berempat dengan tajam, dan terakhir, dia melihatku dengan tatapan lemah seolah memohon. 

“Cuma aku satu-satunya yang dilupakan, sendirian……! Dan kesempatan terakhir untuk menang pun hilang …… Ini tidak adil……!

Hibise dengan kasar meraih barang-barangnya dan berlari tanpa menoleh ke belakang. 

Hibise!

Ketika aku berteriak padanya, hanya suara pintu yang tertutup yang tersisa di ruangan. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara langkah kaki berlari menuruni tangga di luar. 

Di tengah jalan, aku bisa mendengar suara tumpul sesuatu yang menggesek dinding. Dan kemudian, semuanya semakin menjauh.

Keheningan menyelimuti ruangan. 

Seolah tidak ada yang bernapas, hanya suara detak jarum jam yang terdengar di telinga. 

Aku──!

Aku tanpa sadar mengeluarkan suara, tapi kata-kata itu terhenti di sana. 

Aku akan mengejarnya. 

Seharusnya aku tinggal mengatakannya saja. Namun, ada sesuatu yang terjebak di tenggorokanku, membuatku tidak bisa berbicara. Lidahku tidak bergerak, hanya tatapanku yang jatuh ke lantai. 

Aku menundukkan kepadaku. Aku memilih mereka berempat yang ada di sini, bukan Hibise. Aku yang memilih untuk mengejar Hibise adalah sebuah pengkhianatan. 

Perasaan yang tidak bisa kutentukan, antara penyesalan dan kebencian pada diriku sendiri, menyebar luas di dalam dadaku

──Hibise memang telah menusuk bagian yang menyakitkan, ya.

Perkataan Satsuki tidak mengandung kemarahan atau tuduhan. Hanya ada kelelahan yang dimiliki oleh orang-orang yang telah menerima keadaan. 

Kita tidak tahu apa-apa…… itu memang benar. Kami hanya mengetahui dari Buku Harian. 

Reine bergumam pelan. 

Itu tidak benar. Aku…… bahagia.

Rasanya sangat menyakitkan jika mati tanpa meninggalkan apa-apa untuk siapa pun. 

──Namun,

Shino mengungkapkan. 

Apa yang dikatakan Hibise-san memang benar adanya.” 

Dia menyampaikan dengan tenang dengan tatapan yang tetap tertunduk. 

Jika kami tidak melihat Buku Harian itu, mungkin aku akan melakukan apa yang dikatakan Hibise-san. 

Itu…… mungkin aku tidak ingin mengetahuinya. 

Senyum masam muncul tanpa sadar di bibirku. Bagiku, LoD berakhir pada hari itu. 

Di dunia di mana diriku yang sekarang tidak pernah ada, mereka berempat menjalani kehidupan mereka bersama orang itu. Hanya memikirkan hal itu saja membuat jantungku berdebar. 

──Aku merasa sedikit iri pada Hibise-chan~. 

Ucap Shuna dengan lembut. 

Itu berarti dia lebih mengenal Satoshi-kun daripada kami, iya ‘kan? Dilihat dari cara bicaranya tadi.

Ya, dia adalah 'korban kekuatan pengoreksian dunia'.

Dengan satu kalimat itu, semuanya terungkap. 

Sepertinya, Satoshi-kun juga……

──Melupakan Hibise.

Sekali lagi, keheningan menyelimuti ruangan

Keheningan kali ini lebih sunyi dan berat daripada sebelumnya. 

──Kamu boleh pergi.

……Eh?

Satsuki menatap langsung ke arahku

Aku hanya akan memaafkan perselingkuhanmu kali ini saja. Ingat itu baik-baik── oke? 

Ucapnya dengan nada sediki nakal dan main-main. Namun, jauh di dalam tatapannya, ada kecemasan yang jelas dan──lebih dari itu, ada kepercayaan. Dadaku terasa hangat. 

Aku berdiri dan meletakkan tangan di pintu ruangan. Tanpa menoleh, aku hanya mengucapkan satu kalimat. 

……Terima kasih.

Dan kemudian, aku melangkah keluar dari pintu.

 

◇◇◇◇

 

Malam musim panas. 

Besok masih ada jadwal perkuliahan

Mungkin karena aku berharap malam ini tidak akan berakhir, panas yang tersisa dari siang hari tidak pergi dan terus menempel di kulit. Setiap kali aku bernapas, rasanya seperti ada udara hangat masuk ke dalam dadaku. 

Jika Hibise sudah naik kereta pulang, aku tidak akan bisa mengejarnya lagi. 

Kakiku secara alami mengarah ke arah yang berlawanan dari stasiun. Saat berjalan di sepanjang rel kereta, aku melihat taman yang muncul di ujung deretan lampu jalan yang sudah familiar. 

Tempat di mana hubungan kami berkembang secara definitif. Mungkin karena sudah beberapa kali datang ke sini, tidak ada perasaan nostalgia yang mendalam. 

Tempat ini hanyalah tempat di mana fakta-fakta menumpuk

──Itu dia.

Aku menemukan Hibise duduk di bangku taman. Sambil mengenakan headphone di telinganya, dia mengangkat jari kakinya sedikit, mengayunkan kakinya seolah mengikuti irama musik. Tubuhnya juga sedikit bergetar. 

Ketika dia menyadari tatapanku, Hibise mengangkat wajahnya, melepas headphone, dan memandangku dengan lemah. 

Apa aku boleh duduk di sampingmu?" 

……Ya.

Aku duduk di bangku. 

──Panas. 

Malam di musim ini seharusnya sedikit lebih lembut. Sambil memikirkan hal-hal yang tidak penting, aku terdiam sejenak. 

──Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?

Hibise bertanya pelan. 

Entah kenapa, aku merasa kamu ada di sini.

Itu bukan jawaban.

Dia tersenyum kecut, seolah merasa jengkel dan sedikit bermasalah

Jika kamu pulang dengan kereta, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Setelah jeda sejenak, aku melanjutkan. 

Jika kamu ingin berbicara denganku, kupikir kamu akan menunggu di sini. 

──

Selama hari-hari mengerikan, aku sering datang ke tempat ini sendirian. Demi menghindari akhir yang buruk. Saat itu, jika Hibise benar-benar bersamaku, dia pasti tahu arti tempat ini. 

──Kamu benar-benar seorang senpai yang buruk." 

Hibise tersenyum padaku. 

Apa kamu tidak masalah untuk mengejarku? 

Tentu saja tidak…… aku memilih mereka. 

Setelah jeda sejenak. 

──Aku hanya akan memaafkan perselingkuhan sekali Begitu katanya. 

Hibise tampak tersentak

Benar-benar wanita yang menyebalkan……

Kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak lagi memiliki ketajaman dan menjengkelkan seperti sebelumnya. 

Hibise perlahan-lahan berbalik menghadapku. 

……Maafkan aku atas kejadian tadi. 

Dia berkata sambil menundukkan kepala dalam-dalam. 

Aku melampiaskan kemarahanku pada kalian. Padahal kalian tidak bersalah…… 

Dia melanjutkan tanpa mengangkat wajahnya. 

“Kupikir karena cuma aku satu-satunya yang tahu masa lalu senpai…… aku bisa mendapat keuntungan. Tapi── 

Dia mengeluarkan napas kecil, seolah mengejek dirinya sendiri

Bahkan hal itu pun sudah tidak ada lagi untukku. 

Kemudian, dia mengangkat wajahnya dan tersenyum. 

Tapi, jika dipikir-pikir, kurasa sudah sewajarnya itu terjadi…… 

Dia melanjutkan. 

“Karena senpai telah melakukan banyak hal untuk mereka. 

Dan Hibise mengangkat wajahnya. 

Aku sangat memahami perasaan mereka. 

Dia kemudian menghela napas untuk kesekian kalinya

Dan kemudian, dia berkata pelan. 

……Apa yang harus kulakukan?

Senyuman yang penuh harapan seakan-akan sedang memohon

Dia ingin aku meninggalkan keempat orang itu sekarang juga. Jika itu tidak mungkin, setidaknya dia ingin berhubungan badan denganku sekali saja

Saat melihat ekspresinya, aku merasakan harapannya dengan sangat menyakitkan. Meskipun jika Satsuki dan yang lainnya mengetahuinya. 

[Perselingkuhan hanya akan dimaafkan sekali]

Aku bisa menggunakan kata-kata itu sebagai pembenaran untuk mendekap ‘Harusora Hibise, korban kekuatan pengoreksian dunia’. 

Aku bisa membuat banyak alasan. Jika aku mau, aku bisa dengan mudah memilih pilihan terburuk. 

Tapi──. 

Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk Hibise……

Kamu memang jahat. Padahal mendekapku sesekali saja tidak masalah, kan?

Hibise mengembungkan pipinya dan berkata dengan nada bercanda. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman samar. 

Sebenarnya…… menurutku hal yang benar untuk dilakukan adalah menjauhkan diriku dari Hibise. 

Perbuatan tersebut mungkin bisa membuat Hibise membenciku. 

Tapi aku tidak keberatan jika dibencinya

Seorang pria bajingan yang sudah melupakan Hibise, yang telah berkorban begitu banyak, dan malah bersenang-senang dengan banyak wanita. 

Dirinya adalah sosok yang sama bagi wanita yang pernah terjebak dalam dunia host, yang menguras uang dan hati mereka. 

Jika ingin menyalahkanku, silakan saja salahkan aku sesukanya

Salahkan aku sebanyak yang kau mau. 

Jika itu membuatnya bisa melangkah maju. 

Menurutku itulah cara yang tepat untuk mengakhiri semuanya. 

Tidak mungkin Hibise bisa melakukan hal seperti itu……" 

Aku menghembuskan napas kecil. 

Alasan mengapa Satsuki dan yang lainnya begitu akrab sudah jelas. Karena mereka adalah rekan yang merasakan penderitaan yang sama. 

Mereka dipaksa untuk jatuh cinta pada Sano Yuuto, dan dibebani dengan takdir kematian jika mereka tidak bersama. Itulah sebabnya mereka saling menghargai lebih dari segalanya. 

Dalam arti itu, Hibise dan aku memiliki kesamaan sebagai korban kekuatan pengoreksian dunia. 

Kami tahu rasa sakit karena dilupakan dan diabaikan. Namun, ada satu hal yang secara mendasar berbeda. 

Aku telah memberitahu semua orang yang ingin kuberi tahu. Dan mereka menerimaku. 

Tapi Hibise berbeda. 

Hibise adalah orang yang harapannya tidak terwujud──keinginan untuk bersamaku. 

Aku, yang menjadi penyebab terlupakan ini, tidak mungkin menjauhkan Hibise yang merasakan penderitaan yang sama…… 

Senpai……

Namun, bukannya berarti aku bisa memenuhi harapan Hibise. 

Aku──telah memilih mereka. 

Meskipun aku berusaha mengejar Hibise dengan semangat, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuku

Sungguh, tidak ada sama sekali

Oleh karena itu. 

──Lakukan apa pun yang kamu mau.

Eh?

“Meski demikian, akujuga takkan menolak Hibise. Jika kamu ingin berada di dekatku, silakan saja. Kamu bisa mengajakku bermain dengan biasa juga…… ya, tidak masalah.

Jadi maksudnya──

Tapi, yang aku cintai hanyalah mereka. 

Aku menghela napas dalam-dalam. 

Sampai kamu bisa menemukan sesuatu yang bisa membuatmu melupakanku──kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau.

Memberikan masa tenggang sampai dia bisa menemukan kebahagiaan yang lain. tulah kompromi maksimal yang bisa kuberikan. 

……Apa kamu sedang mengujiku? 

Jika itu yang kamu pikirkan, ya tidak masalah……

Memberikan kebebasan kepada Hibise berarti dia bisa mendekat padaku kapan saja dan dalam bentuk apa pun. 

Tergantung bagaimana kau melihatnya... bukannya sepertinya kamu hanya menyimpanku sebagai gadis cadangan, Satoshi-senpai?

Ya, memang sih…… 

Mungkin Satsuki dan yang lainnya takkan merasa senang. 

Tapi, aku tidak berencana untuk mencintaimu,Hibise.

Bukan hanya satu orang yang kusukai—melainkan empat wanita.

Sejak awal, tidak ada sedikit pun ketulusan dalam diriku. 

Dasar pria bajingan……

Hibise mengeluarkan kata-kata itu dengan nada terkejut. 

“....… kamu kecewa?

Jika itu membuatnya menyerah, maka itu sudah cukup. Meskipun tidak baik, tapi setidaknya dia tidak akan terikat denganku. 

Tidak──sebaliknya, aku jadi semakin bersemangat.

Hibise berkata demikian sambil tersenyum riang. Api yang terpantul di mata birunya bukanlah lelucon atau sikap sok kuat. Itu adalah tekad yang nyata, membara dengan jelas. 

Angin hangat berhembus melalui taman. Angin yang sejenak menghapus kelembapan khas malam musim panas yang menempel di kulit. Di bawah lampu jalan, rambut panjang berwarna emas Hibise berayun pelan, memantulkan cahaya dan menyebarkan partikel kecil yang berkilau. 

Begitu ya……

Bulan Agustus sudah di depan mata. Jika bisa melewati ujian, liburan musim panas yang panjang akan menanti. Waktu terus berjalan seolah tidak ada yang terjadi. 

Baiklah, kurasa sudah saatnya kita pulang. 

Ya, benar…....”

Hibise berdiri dengan ceria dari bangku. 

Aku akan mengantarmu sampai stasiun. 

Rasanya tidak enak jika kamu melakukan itu. Aku tidak ingin berhutang lebih banyak kepada mereka.

……Baiklah. Hati-hati ya.

Ya!

Melihat Hibise yang kembali ceria, wajahku secara alami membentuk senyuman simpul

Ngomong-ngomong, Senpai. tadi ada sesuatu yang menempel di kepalamu karena angin. 

Eh? Serius?

Ya, aku akan mengambilnya, jadi tetap diam saja.

Baiklah……

Aku duduk kembali di bangku. 

Hibise berputar dan berdiri di depanku.

 

──Aku merasakan ada sentuhan lembut di dahiku.

──Eh? 

Kamu memberikan celah, ya~.

Begitu dia cepat-cepat menjauh, pipinya memerah, dan dia tersenyum seperti anak kecil yang berhasil melakukan keusilan. 

“Kamu ini!? 

Panas di pipiku langsung meningkat. Ketika aku menyentuh area dahi, aku bisa merasakan sensasi itu masih ada. 

“Loh~ Senpai. Jangan-jangan~ kamu merasa malu? 

Senyum nakal menghiasi wajahnya. 

Setelah bilang bahwa kamu tidak melihatku sebagai wanita, sekarang kamu jadi terpengaruh hanya dengan ciuman di dahi dariku~? Ayo, ayo, katakan padaku! 

Hibise terus menggodaku seperti gadis kecil yang nakal. 

Saat aku memperhatikannya, rasa panas di pipiku benar-benar mereda, dan pikiranku kembali tenang. 

──Itulah sisi dirimu yang mengecewakan.

Jadi, apa maksud dari 'mengecewakan' itu!?

Seandainya saja dia tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu. 

──Tapi, aku tidak akan mengatakannya. 

Aku berdiri dan membersihkan debu dari celanaku. 

Kalau begitu, aku pergi dulu.

“Ah, tunggu sebentar.

“Hmm?

Aku menoleh. 

“Ada sesuatu yang....lupa aku sampaikan kepada Senpai.” 

Setelah membersihkan tenggorokannya, Hibise menatapku dengan serius. 

“Aku sangat bersyukur kamu masih hidup! 

Ekspresi tampak lembut dan penuh kasih. 

Aku juga secara alami tersenyum. 

──Terima kasih.

Ya!

Setelah mengatakannya, Hibise berlari dengan semangat, dan saat melewati taman, dia berbalik. 

Kalau begitu, Senpai. Sampai jumpa!

Ya, sampai jumpa.

Dengan senyuman yang cerah seperti matahari, Hibise berlari menerobos keheningan malam. Aku mulai berjalan di jalan yang berlawanan dengan Hibise. 

Baiklah……

Bahuku terasa berat. 

“Bagaimana caraku menjelaskan hal ini kepada Satsuki dan yang lainnya?

Apa yang harus kukatakan kepada mereka ketika aku kembali ke kamarku? 

Tanpa menemukan jawaban, napas kecilku menghilang dalam kegelapan malam.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama