Chapter 7 — Kembali ke Kehidupan Sehari-hari
Meskipun sekarang sudah memasuki liburan
musim semi, bukan berarti
pekerjaan paruh waktunya akan
hilang. Justru, karena sedang masa liburan,
kesempatan untuk bekerja paruh waktu justru meningkat.
Setelah memasuki kelas 3, Amane mulai serius
mempersiapkan ujian masuk, dan hari-hari di mana dirinya tidak bisa mengambil shift juga
semakin banyak. Oleh karena itu, ia mengambil shift sambil memperhatikan
kondisi tubuhnya.
Karena sedang memasuki masa liburan, jadi tidak masalah jika dirinya masuk pagi, dan dirinya sudah berada di shift sejak
pagi. Namun, seperti yang diharapkan, meskipun hari
kerja, jumlah pelanggan lebih banyak dari biasanya.
Kafe ini
lebih menyasar pada pelanggan dengan usia yang lebih tua, tetapi kini semakin
banyak orang muda yang mulai terlihat.
“Jumlah
pelanggan meningkat selama liburan musim semi, ya.”
“Benar juga.”
Miyamoto
yang kebetulan juga masuk di shift yang sama dan
selesai lebih awal menghela napas dalam-dalam di ruang ganti, mengingat suasana
di dalam kafe.
Banyaknya
pelanggan yang datang tentu saja sangat dihargai dan mungkin membuat pemilik
kafe merasa senang, tetapi sebagai karyawan, mereka merasa terlalu sibuk dan
berharap ada waktu yang lebih santai.
“Yah,
kurasa bertambahnya pelanggan adalah hal yang baik. Peningkatan penjualan
adalah hal yang terpenting.”
“Tapi
di sini tidak ada bonus pekerja paruh
waktu. Memang ada tambahan upah per jam sih.”
“Bukannya
itu sesuatu yang patut disyukuri? Aku ingin menghasilkan uang
sebanyak mungkin sekarang.”
Selama
liburan panjang seperti liburan musim semi, diperkirakan akan sangat sibuk,
jadi upah juga ditambah sebagai biaya saat ramai. Pemilik kafe cukup baik dalam
hal ini, sehingga semangat karyawan juga tinggi.
Karena imbalan dari kerja keras mereka biasanya
lebih besar, jadi Amane
berencana untuk mengambil shift sebanyak mungkin selama periode ini.
“Ah,
semuanya demi pacarmu itu, ya. ...Ngomong-ngomong, butuh berapa banyak lagi yang harus
kamu kumpulkan untuk mencapai target?”
“Kurasa aku
akan berhasil mencapainya sampai musim panas....”
Meskipun Amane tidak bisa menyebutkan angka
spesifik, bisa dibilang dirinya
hampir mencapai target tersebut. Sebenarnya, semuanya
tergantung pada gaji bulan ini yang akan ditransfer, tapi Amane merasa bisa mencapai jumlah yang
diperkirakan.
Karena mulai semester baru bakalan ada
ujian dan berbagai kegiatan lainnya yang akan mengisi jadwalnya, dia merasa
perlu mengumpulkan uang sebanyak mungkin.
“Hee~,
apa kamu sudah mendapatkan izin dari orang tua pacarmu?”
“…Kurasa itu sudah dianggap izin, ya.”
Karena Sayo baru-baru ini mengatakan bahwa
selama Amane mendapatkan persetujuan dari Mahiru, dirinya
praktis bebas melakukan apa pun yang
diinginkannya, jadi
bisa dibilang itu bukan masalah.
Mengenai
Asahi, dia meminta dengan sopan, “…Aku
tidak mempunyai hak untuk meminta hal ini, tetapi tolong jaga anak itu,” jadi bisa dikatakan itu juga
merupakan izin.
Jika
dipikir-pikir kembali, Amane sudah mendapatkan persetujuan
dari orang tua Mahiru dan juga orang tuanya sendiri.
Bahkan
orang tuanya tampak cukup mendukung, seolah-olah mendorongnya untuk melanjutkan
hubungan ini. Situasi seperti ini mungkin cukup aneh untuk seorang remaja
biasa.
Meskipun Amane
sudah siap dengan keputusan ini, dirinya
tertawa getir pada dirinya sendiri karena merasa berbeda
dari yang lain karena merasa bahwa tidak ada remaja
biasa yang akan mengharapkan hal seperti ini. Namun,
ini merupakan sesuatu yang ia inginkan dan
juga hak yang ia peroleh setelah
menghadapi masa lalu Mahiru.
“Semuanya
berjalan begitu lancar ya~~...”
“Jangan
meledekku.”
“Tidak, seriusan, aku benar-benar terkesan
bahwa kamu bisa menjalani semuanya dengan baik. Biasanya, seseorang seusiamu
yang mengatakan hal seperti itu hanya akan ditertawakan.”
“…Yah,
orang tuaku tahu bahwa jika aku sudah memutuskan, mereka tidak akan
mengubahnya, dan orang tua pacarku juga tidak ikut
campur.”
“Kalau
begitu, bukannya itu bagus? Setidaknya kamu tidak harus menghadapi ayah
yang keras kepala dan menangis saat harus melepaskan tanganmu—atau harus kawin lari seperti di drama-drama.”
Amane
tidak berniat memberi tahu Miyamoto bahwa ada teman dekatnya yang mirip dengan situasi itu,
tapi sambil mengingat seseorang di tempat lain,
Amane hanya mengangguk pelan dan berkata, “Benar juga”.
Dalam
kasus mereka, mereka berniat untuk tetap melanjutkan meskipun ditentang dan
berusaha keras untuk mendapatkan persetujuan,
jadi sebagai teman, Amane hanya bisa berharap agar suatu saat mereka mendapat hal yang baik.
“Jika
aku tidak mendapatkan restu, aku
akan melakukan apa yang aku inginkan setelah dewasa.”
“Kamu semangat
sekali, ya.”
“Bukannya
Miyamoto-san juga sebaiknya lebih bersemangat?”
Miyamoto
yang langsung menggoda itu selalu berperilaku santai dan terkesan sulit untuk
dipahami, sehingga orang yang dia sukai mungkin tidak menganggapnya serius.
Sebenarnya,
Amane tidak berpikir bahwa Miyamoto
tidak mempunyai peluang sama sekali, jadi jika
Miyamoto menyampaikan perasaannya dengan tulus, menurutnya
Ohashi tidak akan menolaknya. Namun, yang tidak menyadari hal ini hanyalah
Miyamoto sendiri.
Mungkin
dirinya tidak menyangka akan ditegur,
sehingga Miyamoto mengerutkan dahi dan menatap Amane dengan tajam, tetapi
karena pipinya sedikit memerah, tatapannya tidak terlihat menakutkan, dan Amane
tidak merasa terganggu sama sekali.
“…Kamu ini benar-benar tidak imut sama sekali.”
“Aku
tidak mau mendengar itu dari Miyamoto-san
yang sudah banyak menggodaku.”
Amane
hanya membalas apa yang dikatakan Miyamoto, dan
sepertinya Miyamoto menyadari bahwa karma telah kembali padanya, sehingga ia
menggaruk kepalanya dan berpaling.
Sepertinya
dirinya mulai mendinginkan diri, lalu
dengan gerakan yang agak ceroboh, ia melepas bajunya dan melemparkannya ke dalam
tas.
Amane
berpikir bahwa Miyamoto juga cukup mudah dibaca, meskipun jika ditanya
langsung, dirinya mungkin
akan mendapatkan tatapan tajam lagi. Namun, selama tidak diucapkan, itu sama
saja tidak ada.
Dengan
senyum kecil yang tidak terlihat oleh Miyamoto, Amane melipat celemek dan menyimpannya di loker.
“Aku
mengerti bahwa Fujimiya berusaha keras untuk pacarnya, tapi sekali lagi, kamu benar-benar sudah siap,
ya."
Miyamoto yang sepertinya sudah tenang, kembali memalingkan pandangannya ke arah Amane saat
dirinya mulai mengenakan bajunya.
“Aku
takkan melakukan hal seperti ini jika tidak
bertekad.”
“Itu memang
benar sih, tapi kamu sendiri juga rupanya cukup berat.”
“Mahiru
juga berat, dan aku juga berat, jadi keseimbangan kami setara.”
Meskipun
mereka berdua dianggap berat, baik Amane dan Mahiru menyadari bahwa mereka memiliki beban
masing-masing, dan mereka juga menyadari bahwa beban itu akan semakin berat ke
depannya.
Jika
salah satu dari mereka terlalu berat, itu mungkin menjadi masalah, tetapi
karena mereka hanya melihat satu sama lain, jadi
proporsi di antara mereka menjadi seimbang.
Jika
semuanya seimbang, apa pun yang dikatakan orang lain tidak ada hubungannya. Amane
dan Mahiru merasa nyaman dengan beban itu.
“Kamu
ini benar-benar…”
“Apa?”
“Sama sekali
enggak ada imut-imutnya.”
“Sayangnya,
aku tidak memiliki jenis keimutan yang bisa kutunjukkan pada
Miyamoto-san."
"Seriusan, pria ini sama sekali tidak
imut.”
Seperti
yang pernah kukatakan
sebelumnya, aku
tidak pernah tampak imut dari awal, jadi Amane tersenyum seolah-olah ingin menyampaikan hal
demikian, tapi Miyamoto justru mendengus. Karena Amane sama sekali tidak merasa takut, jadi ia mengabaikannya dan mulai melipat
baju yang telah dilepas
dengan hati-hati. Jika dirinya
memasukkannya ke dalam tas dalam keadaan kusut, itu akan memakan tempat di
dalam tas, dan jika Mahiru melihatnya, ia
tahu dia akan memarahinya.
“Seperti
yang kamu katakan sebelumnya, sampai kapan
kamu berencana untuk tetap bekerja di
sini, Fujimiya? Pasti sudah ada gambaran, ‘kan?”
Miyamoto
yang sudah selesai berganti pakaian lebih dulu, bertanya demikian, dan Amane teringat pada kesepakatan yang
dibuat dengan Fumika selama liburan musim semi.
"Aku
sudah berkonsultasi dengan Owner,
dan aku rasa sampai akhir Juni. Meskipun, mulai bulan Mei, ujian dan persiapan
ujian juga akan mulai masuk, jadi mungkin akan semakin sulit untuk mengambil
shift. Namun, aku sudah hampir mencapai target yang ditetapkan, jadi meskipun aku
merasa enggan untuk berhenti, kurasa aku harus berpisah pada
musim panas.”
Meskipun Amane sangat menyukai pekerjaan ini
dan ingin mengumpulkan uang, dirinya
akan menjadi siswa yang mempersiapkan ujian mulai musim semi.
Meskipun
nilai akademisnya cukup baik dan tidak mengalami
kesulitan berarti dalam menyelesaikan soal-soal ujian masa lalu yang sesuai
dengan materi yang sedang dipelajari, Amane
ingin tetap berusaha dan tidak lengah. Amane
berharap tidak akan mengalami hasil ujian yang buruk yang bisa membuatnya terancam harus mengulang tahun.
Tentu
saja, dirinya juga berniat untuk tidak
melewatkan belajar sesuai kemampuannya,
dan ia juga berencana untuk mengikuti
beberapa latihan ujian. Amane sudah memutuskan untuk mendaftar
kursus musim panas bersama Mahiru, dan dirinya
telah memberi tahu Fumika bahwa ia
akan meninggalkan pekerjaan ini sekitar musim panas saat persiapan ujian
semakin intensif.
Sejujurnya,
Amane merasa berat hati untuk
meninggalkan tempat ini, tetapi dirinya
tidak bisa terus berada di sini. Ini adalah tempat di mana dirinya mulai bekerja untuk tujuan
tertentu, dan meskipun merasa nyaman, hari di mana dirinya harus pergi pasti akan tiba.
“Hah,
menjadi siswa yang mempersiapkan ujian itu sulit ya.”
“Miyamoto-san
juga pernah menjadi siswa yang mempersiapkan ujian, ‘kan?”
“Ya,
tapi aku tidak serius dalam mempersiapkan ujian.”
“Ah…”
“Jangan
menunjukkan wajah seolah-olah kamu
tahu segalanya.”
Miyamoto
biasanya bersikap santai, tetapi sebenarnya ia adalah orang yang sangat serius dan
pandai menyesuaikan diri. Amane berpikir Miyamoto pasti tidak menghabiskan
seluruh waktunya untuk belajar dan berhasil masuk universitas, tetapi dia
bermain cukup dan belajar dengan seimbang untuk menikmati masa mudanya. Amane merasakan bahwa dia memiliki
kemampuan dan kecerdasan yang nyata dari
dirinya.
“Tidak,
aku percaya Miyamoto-san itu
pandai menyesuaikan diri, jadi kamu
pasti bermain dan belajar dengan seimbang hingga berhasil. Ohashi-san juga mengatakan hal yang sama seperti meskipun ia terlihat santai, ia cukup pandai dan terencana, meski menjengkelkan sih, katanya.”
“Kalimat
terakhir yang menyebalkan itu tidak perlu.”
“Itu
mungkin cara Ohashi-san untuk
menyembunyikan rasa malunya?”
“Tidak
ada siapapun yang diuntungkan dari rasa malu
Rino.”
“Bukannya
Miyamoto yang diuntungkan?”
Amane merasakan pukulan ringan di bahunya.
“Uwahh, ini
anak tiba-tiba menjadi kaku, menakutkan.”
“Aku
juga penasaran kapan dia menyadarinya, menakutkan.”
Ditepuk ringan di bahu dan kemudian
ditakuti tanpa alasan sungguh tak tertahankan. Atau lebih tepatnya, Amane penasaran kapan Miyamoto mengetahui kekakuan tubuhnya.
Amane khawatir bahwa dengan mengurangi
latihan fisik di tempat kerja, dirinya
akan menjadi lemah, tetapi ternyata banyak pekerjaan fisik yang dilakukan dan
otot-otot yang biasanya tidak digunakan dalam latihan tubuh sendiri juga
terlatih, sehingga sekarang dirinya
memiliki tubuh yang lebih seimbang dari yang diduga.
Namun, ia masih penasaran bagaimana Miyamoto bisa tahu tentang itu.
“Jangan
salah paham, aku hanya
melihatnya ketika kita bertabrakan atau ketika berganti pakaian, aku tentu tidak bermaksud seperti itu.”
“Yah, karena
Miyamoto-san sudah memiliki Ohashi-san, bukan?”
Kali ini,
Miyamoto menyikut bagian samping Amane.
“Hentikan,
aku akan melaporkan ini sebagai penyalahgunaan
kekuasaan.”
“Kekuasaan
(secara fisik).”
“Sepertinya
kamu masih punya waktu untuk bercanda, jadi aku akan pergi ke Owner.”
“Berhenti,
bisa-bisa gajiku bakal dikurangi.”
Fumika
bukan tipe orang yang menganggap semua pihak bersalah dalam pertikaian,
melainkan dia adalah orang yang menilai dengan cermat berdasarkan beratnya
kesalahan masing-masing. Jadi, sudah jelas bahwa Miyamoto yang menggoda dan
kemudian bertindak akan mendapatkan hukuman.
(Yah, dia
pasti mengerti bahwa itu hanya bermain-main, jadi mungkin ia hanya akan kehilangan jatah
camilan.)
Dia bukan
orang yang memberikan hukuman yang terlalu keras, dan Amane juga tidak berniat
mempermasalahkan hal itu, jadi sambil tertawa, ia mengenakan kemeja yang
dipakai saat berangkat kerja.
“Eh,
apa kalian berdua ingin pergi ke suatu tempat?”
Sebagai
ganti tidak melaporkan kepada Fumika, Amane dan Miyamoto memutuskan untuk
membeli minuman. Ketika mereka keluar dari ruang ganti pria, mereka kebetulan bertemu
dengan Ohashi yang juga baru selesai berganti pakaian.
“Aku
tidak ingin mengatakan bahwa kedua orang ini sering bekerja di shift yang sama,” pikir Amane, tetapi ia
mengangguk kepada Ohashi yang sudah sepenuhnya dalam mode pulang.
Biasanya,
setelah selesai kerja paruh waktu di hari biasa, mereka
baru bisa pulang pas malam hari,
dan di hari libur, waktu pulang sedikit berbeda, sehingga tidak banyak
interaksi di luar pekerjaan. Namun, hari ini waktu pulangnya benar-benar
bersamaan, jadi mereka merencanakan untuk melakukan sesuatu.
“Karena
ini shift pagi, kita bisa pergi sesekali.”
“Senpai, jangan lupa traktirannya, ya~.”
“Eh,
Miyamoto-senpai mau mentraktir? Senangnya!”
“Orang
ini…”
“Ahaha,
Fujimiya-chan sudah mulai terbiasa ya. Bagus, terus perlakukan Daichi seperti itu.”
Ohashi
yang tampaknya senang dengan perlakuan santai ini tertawa ceria, sementara
Miyamoto menatapnya dengan wajah cemberut.
“Kamu juga ikut mentraktir Fujimiya.”
“Hah?
Kenapa kamu mendadak menyeretku juga?” protes Ohashi.
“Kamu juga harus merasakan kesakitan
di dompetmu agar aku merasa puas.”
“Uwahh,
sampai menyeretku segala. Yah,
tidak masalah sih, karena
aku juga tidak ada rencana setelah ini.”
Miyamoto
yang tiba-tiba terlibat dalam hal ini memang aneh, tetapi Ohashi juga cukup
lincah. Mereka kadang-kadang terlihat minum dan bersenang-senang bersama, jadi
ini mungkin bagian dari komunikasi mereka.
“Kamu tidak
keberatan ‘kan, Fujimiya-chan?”
“Aku
tidak keberatan, aku tidak punya alasan untuk menolak. Aku hanya berencana
untuk berjalan-jalan dengan santai.”
Baik Amane
maupun Miyamoto tidak memiliki tujuan khusus untuk berkeliaran di kota, mereka
hanya ingin bersantai dan mengalihkan pikiran. Bahkan, dalam keadaan ini, Amane
merasa dirinya mungkin
lebih seperti menjadi pengganggu bagi mereka berdua.
“Kalau
begitu, aku juga akan ikutan.
Kira-kira enaknya makan apa
ya?"
“Dia
mengandalkan dompetku…”
“Aku
memang akan mentraktir Fujimiya-chan, tapi aku tidak mengatakan tidak
akan menggunakan dompet Daichi.”
“Tidak,
aku merasa tidak enak jika harus meminta kalian untuk membayar, tadi itu hanya bercanda.”
“Tidak
apa-apa, anak muda harus memanfaatkan kebaikan orang yang lebih tua.”
“Jangan
memanfaatkan kebaikan dari orang
yang seumuran.”
“Dasar pelit!”
Meskipun kedekatan mereka berdua masih tetap tidak berubah
dan mungkin akan menyangkal jika ditanya, tetapi mengingat percakapan mereka
sebelumnya, Amane
merasakan sedikit kesedihan karena
menyadari bahwa hanya ada sedikit waktu tersisa untuk melihat interaksi seperti
ini di antara mereka.
Melihat
Ohashi yang bersemangat untuk ditraktir dan wajah Miyamoto yang masam, Amane
tersenyum kecil agar tidak dicurigai. Dengan
bertambahnya jumlah mereka menjadi tiga, rencana tetap sama, yaitu berkeliaran
tanpa tujuan.
Karena sekarang memasuki liburan
musim semi anak sekolahan, suasana
kota lebih ramai dari biasanya, dan toko-toko juga lebih hidup.
Meskipun
mereka melakukan hal yang cukup langka, karena kedua orang ini cukup
memperhatikan Amane, mereka bisa bersenang-senang tanpa merasa kesulitan karena
perbedaan selera.
Saat
beristirahat dan mengawasi keadaan,
mereka pergi ke kafe seperti yang direncanakan. Amane dan Ohashi yang dengan
senang hati meminta Miyamoto untuk membuka dompetnya, berjalan-jalan tanpa
tujuan, melihat-lihat etalase toko, ketika tiba-tiba sebuah toko perhiasan
menarik perhatian Amane.
Sembari
mengintip melalui jendela toko, Amane
bisa melihat suasana toko yang tenang dan mewah,
dengan berbagai perhiasan yang cocok dengan citra toko tersebut yang dipajang
di etalase.
Seperti
yang diharapkan, tempat seperti ini lebih banyak
dikunjungi wanita, dan di dalamnya terlihat banyak pelanggan wanita dan
pasangan yang sedang berbincang sambil melihat-lihat barang yang
dipamerkan.
Ketika Amane
berhenti, Miyamoto dan Ohashi juga menghentikan langkah mereka, jadi Amane
melihat Ohashi yang sedang mengintip ke dalam.
“Aku
ingin bertanya sedikit pada Ohashi-san.”
“Iya?”
“Aku
ingin tahu tentang selera umum wanita. …Hal seperti apa
yang biasanya disukai wanita pada toko seperti ini?”
Tentu
saja, dirinya mengutamakan selera Mahiru,
dan berencana untuk memilih sesuatu yang sesuai dengan seleranya, tapi Amane juga ingin mendapatkan pendapat
dari Chitose dan Ayaka secara tidak langsung.
Meski
damikian, aAmane
juga ingin tahu secara umum apa yang membuat wanita senang. Tempat seperti ini mungkin terasa
canggung bagi Chitose dan yang lainnya yang masih di bawah umur, dan Ia berpikir mereka tidak memiliki barang-barang
mahal.
Amane ingin mendengar pendapat dari
wanita dewasa yang tidak terlalu terlibat dengan Mahiru dan Amane.
Sepertinya
Ohashi menangkap pertanyaan Amane dengan tepat tanpa salah paham, dan dia
menatap Amane dengan ekspresi puas sambil berkata, “Ahh…”.
“Aku
senang kamu bisa mengerti. …Tentu saja, selera Mahiru adalah yang utama, tetapi
aku juga ingin mendengar pendapat tentang preferensi umum wanita.”
“Hmm,
baiklah. Jadi, ini tentang cincin pertunangan, ya?”
“Ya.”
Fakta
bahwa Amane mulai bekerja untuk membeli cincin sudah diketahui oleh rekan sejawat dekatnya, jadi ia
mengangguk tanpa menyembunyikannya. Ohashi mengeluarkan suara “Hmm”
yang terdengar berpikir keras.
“Yah,
jika aku harus memberikan pendapat pribadiku sih,
kurasa cincin solitaire mungkin pilihan yang teraman.”
“Solitaire?”
“Yang
seperti satu batu besar itu. Itu jenis
cincin pertunangan yang umumnya dibayangkan semua
orang, ‘kan? Meskipun kurasa yang besar mungkin agak sulit
dari segi anggaran.”
“Begitu.”
Ketika
membayangkan cincin pertunangan, orang-orang
biasanya membayangkan batu tunggal yang mencolok. Ada juga bentuk yang dihiasi
dengan beberapa berlian kecil di sekitar batu utama, tapi tetap saja, Amane juga membayangkan cincin pertunangan
dengan satu batu yang menonjol.
Di masa lalu, cincin pertunangan dengan
berlian seberat satu karat adalah sesuatu yang diidam-idamkan, tapi jelas sekali itu bukan sesuatu yang bisa
dijangkau oleh seorang pelajar SMA. Dengan harga di atas ratusan ribu yen, cincin semacam itu
memerlukan persiapan lebih. Dari segi waktu, itu juga tidak akan cukup.
“Bagaimana
dengan selera pribadimu?”
“Aku
sebenarnya tidak terlalu suka berlian, aku
lebih menyukai batu berwarna. Meskipun berlian merupakan yang paling umum, sepertinya
banyak orang sekarang membuat cincin dengan batu berwarna, dan kurasa cincin
kecil dengan berlian di sekelilingnya juga terlihat imut.”
Amane
merasa bahwa Ohashi cukup pandai untuk menggali preferensinya, tetapi pada saat
yang sama, dengan sikapnya, sepertinya perasaan
Miyamoto masih belum terbalas.
“Yah,
pada akhirnya semuanya tergantung pada selera priibadinya,
jadi aku berharap bisa memilih
sesuatu yang disukai Shiina-san.
Kurasa kamu bisa memilih sesuatu yang sederhana.”
“Aku
juga berpikir begitu. Pacarmu
sepertinya tidak suka sesuatu yang
terlalu berlebihan.”
“Apa
Mahiru begitu mudah dipahami?”
Karena
Amane juga memiliki asumsi yang sama dan sedang mempertimbangkan desain yang
akan diberikan, ada banyak hal yang bisa disetujui, tapi dirinya juga merasa sedikit terkejut
bahwa Ohashi bisa memahami hal itu.
“Yah,
selama penampilan dan isinya tidak
berbeda, mungkinSaat dia sesekali datang ke kedai kopi kita sebagai pelanggan,
aksesori dan pakaiannya selalu elegan dan sederhana, kan? Dia tahu apa yang
paling cocok untuknya, itulah sebabnya dia bisa menciptakan pakaian seperti itu.
Aku selalu berpikir dia pandai dalam menyeimbangkan keseluruhan penampilannya.”
“Ah,
itu memang sudut pandang yang khas dari
seorang wanita…”
“Yah,
sejujurnya, kurasa dia akan senang dengan apa pun yang diberikan Fujimiya-chan.”
“Itu memang benar, tapi ini sesuatu yang
akan dikenang seumur hidup, dan aku ingin dia menyukainya.”
Amane
tahu bahwa Mahiru akan sangat senang dengan apa pun yang ia berikan, terlepas
dari seleranya, tapi Amane
tidak ingin memberikan sesuatu yang berkesan sembarangan. Dirinya ingin memberikan sesuatu yang
lebih berarti dengan pertimbangan yang matang, sehingga Mahiru bisa benar-benar
senang menerimanya.
Untuk
itu, Amane meminta berbagai hal kepada Chitose dan yang lainnya, serta
memikirkan sendiri tentang kecenderungan aksesori Mahiru untuk menentukan
pilihan yang tepat. Meskipun Ohashi tampak terkesan, dia juga menunjukkan wajah
yang tidak terlalu antusias.
“Sebenarnya,
ini adalah hal yang seharusnya dibicarakan langsung dengan orangnya. Ini bukan
hanya tentang Fujimiya-chan saja,
dan kadang-kadang kejutan bisa menjadi hal yang tidak menyenangkan. Ada yang
merasa terpaksa atau egois. Flash mob, misalnya, itu kejutan yang terburuk.”
“Ugh.
Ak-Aku
tidak berniat melakukan itu, tapi ya, benar juga, bisa dibilang ini egois…”
Apa yang
dikatakan Ohashi terasa menyakitkan bagi Amane, seolah-olah hatinya tertusuk,
dan ia merasakan sakit yang tajam, menyadari ketidakcukupannya. Memang, semua
keputusan yang diambil Amane adalah keputusan sepihak. Apa dia harus membuat
Mahiru merasa kesepian hanya untuk melakukan ini? Pertanyaan yang sudah lama ia
selesaikan kembali muncul, dan ia merasa seolah-olah dadanya sedang dilubangi
dengan bor.
Jika Amane benar-benar memikirkan
Mahiru, seharusnya jauh lebih
logis untuk berbicara langsung padanya dan memilih bersama. Karena dengan
begitu, Mahiru bisa mendapatkan sesuatu yang dia sukai.
Ini semua
adalah keputusan egois dari Amane.
“Rino,
jangan membully Fujimiya.”
Perkataan ‘egois’ berputar-putar di pikirannya,
menggerogoti emosinya, tetapi Miyamoto yang melihat ekspresi Amane yang cemas
menepuk ringan Ohashi.
“Ah,
tidak, tidak! Kurasa
Fujimiya-chan benar0benar sudah
mempertimbangkannya dengan
baik. Dan umm, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ya.”
“Itu
berdasarkan kesepakatan bersama,
‘kan?”
“…Aku
tidak berencana untuk mengatakan hal yang jelas sampai saat itu, dan aku belum
menanyakannya secara langsung, tapi kami telah membuat kesepakatan untuk
bersama mulai sekarang, dan kami tidak berniat untuk berpisah.”
Meskipun
Amane belum melamarnya secara resmi,
tapi dirinya
pernah mengatakan hal yang mendekati itu, dan Mahiru dengan senang hati
menyetujuinya. Diriinya juga
pernah mendengar bahwa Mahiru tidak ingin siapa pun selain Amane.
Dirinya tidak pernah membayangkan bahwa
Mahiru akan menolak untuk menjalin hubungan yang telah dijanjikan secara hukum.
Mahiru
mungkin memiliki kerinduan konsep
keluarga. Dan Amane ingin menjadi bagian dari keluarga yang diidamkan Mahiru,
serta berharap dia bisa menikmati kebahagiaan tersebut sebagai hal yang wajar.
Mereka
berjanji untuk bahagia bersama.
“Yah,
kalau begitu, tidak apa-apa, kan? Sejujurnya,
perasaan kalian begitu berat, tetapi jika keduanya sepakat, rasanya aneh sekali jika orang luar ikut campur. Aku
rasa jika Fujimiya-chan dan
Shiina-san saling menyukai, itu sudah
cukup. Ada orang yang akan senang jika keputusan itu dibuat demi mereka, dan
ada juga yang akan mengatakan 'jangan putuskan sendiri', jadi pada akhirnya semuanya tergantung pada
Shiina-san, bukan?”
“…Aku
akan berusaha keras supaya bisa membuat Mahiru senang.”
“Ngomong-ngomong,
bagaimana denganmu, Rino?”
“Aku
termasuk yang 'jangan seenaknya
memutuskannya
sendiri'.”
“Seperti
yang kuduga.”
Informasi
berharga sebelumnya seolah sirna dalam sekejap bagi Miyamoto, tetapi tampaknya
dia merasa lega melihat Amane sudah tenang
dan menghela napas pelan.
“Shiina-san mungkin berpikir bahwa selama
dia mendapat kasih sayang dari Fujimiya-chan, semuanya akan baik-baik saja,
jadi semangatlah!”
“Padahal
kamu yang membuatnya
merasa tertekan…"
“Maaf~”
Dengan
permohonan maaf yang tidak jelas, Amane merasakan tamparan ringan di
punggungnya, yang entah itu permohonan maaf atau dorongan semangat, dan ia
hanya bisa tersenyum canggung sambil membiarkan dirinya diperlakukan demikian.
•❅──────✧❅✦❅✧──────❅•
“…Kenapa
kamu kelihatan murung begitu? Apa ada orang aneh yang mengganggumu di tempat kerja?”
Apa raut wajahku kelihatan jelas?
Setelah
pulang, ketika Mahiru melihat wajah Amane, sorot
matanya tampak sedikit mengancam.
Tatapannya
lebih mengarah pada musuh
imajiner, seolah dia membayangkan seseorang yang mungkin telah mengucapkan hal
yang tidak menyenangkan kepada Amane. Sayangnya,
tidak ada orang seperti itu, dan jika ada, itu
justru dari diri Amane yang dulu, jadi da berharap Mahiru
bisa tenang.
“Bukan
begitu. Aku tidak tertekan, aku hanya sedikit berpikir tentang apa aku orang yang egois.”
“Siapa
yang mengatakan itu?”
Meskipun
Amane merasa salah memilih kata-kata, ia sudah terlanjur mengatakannya, jadi ia menggelengkan
kepala untuk menyangkal dengan tegas.
“Karena ada
alur pembicaraan begitu,
apalagi itu bukan ditujukan padaku. Aku merasa ucapan itu cukup mengenai hatiku
karena ada kesadaran dalam diriku.”
“Jika
Amane-kun orang yang egois, maka kupikirak ada
banyak orang egois di dunia ini. Apalagi kamu
yang selalu ragu-ragu.”
Mahiru
tampaknya benar-benar berpikir demikian, dan meskipun kemarahan di wajahnya
mereda, ada sedikit ketidakpuasan yang muncul. Bagi
Mahiru, Amane tampak pendiam. Pada kenyataannya, ia hanya egois dan bertindak
impulsif atas kemauannya sendiri.
Namun,
Amane merasa lega karena Mahiru menerima dirinya apa adanya.
“Mahiru…”
Dirinya hampir menurunkan
kewaspadaannya dan bertanya tentang janji yang telah mereka buat, janji yang
kemungkinan akan berlanjut selamanya.
“Ya?”
“…Itu…”
“Aku akan
marah jika kamu
bertanya apa kamu sudah sudah cukup baik untukku.
Kita baru saja membicarakan hal sebaliknya
beberapa hari yang lalu.”
“Aku
tidak akan mengatakannya. Aku menginginkan
Mahiru, dan aku rasa Mahiru juga menginginkanku,
‘kan?”
Amane
tidak pernah meragukan cinta Mahiru. Dirinya
tahu bahwa Mahiru hanya ingin bersamanya, dan sikapnya sudah jelas. Mahiru tidak menginginkan orang lain selain Amane.
Hal ini sangat disadari oleh Amane sendiri. Sebaliknya, Amane juga tidak menginginkan orang lain selain
Mahiru.
Dia
adalah sosok yang sudah seperti separuh dirinya, dan Amane mencintainya dengan
tulus hingga ingin mengorbankan dirinya demi kebahagiaannya.
Amane
tidak pernah meragukan ikatan, kepercayaan, dan kasih sayang yang terjalin di antara mereka
sejak mereka mulai berpacaran. Itu adalah sesuatu yang telah mereka bangun
bersama.
Ketika
Amane dengan tegas menyatakan hal ini, Mahiru menunjukkan wajah yang sedikit
terkejut.
“Jika
kamu memiliki kepercayaan diri seperti itu, kenapa kamu
bisa merasa murung di
tempat yang aneh?”
“Ada
alasan yang mendalam.”
“Sesuatu
yang bahkan tidak bisa kamu katakan padaku?”
“…Ya.”
Amane
hampir saja mengatakannya, tapi dia berhasil menahan diri dan mengangguk.
“Kalau
begitu, kurasa apa boleh buat. Silakan
memikirkannya dengan baik.”
Sepertinya
Mahiru mengerti bahwa Amane tidak akan menjelaskan lebih lanjut, sehingga dia
dengan sikap yang sangat santai melepaskan Amane.
“Aku
akan mendukung kesimpulan yang kamu buat setelah banyak berpikir. Ini adalah
keputusan dari Amane-kun sendiri.
Jika kamu tidak percaya diri, siapa yang akan melakukannya?”
Mahiru
selalu mendukung Amane, tapi dia tidak akan membantu dalam segala hal. Dia
ingin Amane berdiri dengan kakinya sendiri, hanya memberikan kehangatan dengan
menyentuh punggungnya.
Hal ini
merupakan bentuk dorongan dari Mahiru, dan karena dia
mempercayai Amane, terkadang dia mendorongnya dengan lembut.
Amane
merasa bahwa inilah bentuk penghormatan yang sebenarnya, sambil tersenyum
melihat Mahiru yang bersinar. Dia pun ikut tersenyum agar tidak tertekan oleh
cahaya itu.
“…Mungkin
aku sudah mulai membaik.”
“Bukannya
itu terlalu cepat?”
“Semuanya berkat Mahiru.”
“Aku heran kenapa
bisa begitu?”
“Entahlah.”
Jika
Mahiru tidak memiliki sikap seperti ini, Amane mungkin akan terjebak dalam
masalahnya untuk waktu yang lama. Meskipun dia tidak bisa mengatakan bahwa dia
telah sepenuhnya keluar dari masalah itu, kesimpulan yang didukung Mahiru tetap
sama seperti sebelumnya.
Kekerasan
hatinya dan sifat egoisnya tidak berubah, dan ia menerima semua celaan, tetapi
dirinya ingin tetap berjuang tanpa
mengubah sifat egoisnya, sambil tetap dekat dengan Mahiru.
Hal yang
bisa dilakukan Amane bukanlah membalikkan rencana, tetapi berusaha untuk
menjadikan hari itu sebagai hari yang menyenangkan bagi Mahiru.
“Yah,
baiklah. Ayo, kita siapkan makan malam, ya? Hari ini adalah hari untuk memasak
nabe.”
Mahiru
tampaknya merasa Amane sudah siap dan mendorongnya dengan senyuman.
“Masakan
yang hangat dan lezat, ya."
“Meskipun
sudah musim semi, di luar pasti masih dingin, jadi mari kita buat nabe miso
dengan banyak jahe. Kita nikmati dengan yuzu kosho dan ponzu.”
“Kedengarannya
enak.”
“Amane-kun,
kamu harus banyak memarut lobak untukku, jadi aku harap kamu
bisa berusaha sebaik mungkin, ya?”
“Latihan,
latihan,” kata
Mahiru dengan suara ceria sambil menyentuh pipi Amane, membuat Amane merasa
beban di dalam hatinya seolah terangkat.
“…Aku
akan berusaha keras, demi kita juga.”
“Silakan
lakukan.”
Sembari
berpikir bahwa dirinya
sepertinya tidak akan pernah bisa menang dalam hal
ini, tapi juga merasa bahwa ini merupakan
salah satu bentuk kebahagiaan, Amane tersenyum dan melangkah ringan menuju
dapur mengikuti Mahiru.
