Isekai Alya-san Chapter 3 Bahasa Indonesia

Chapter 3 Kostum Pelayan dan Tunggangan

 

Kita berhasilll~~~~~... tadi itu hampir saja~~~” 

Setelah mengetahui pesan yang muncul di sudut pandangnya, Masachika merasa lega dan langsung ambruk di tempat itu. 

Jika melihat hasilnya, mereka bertiga hampir tidak mengalami kerusakan dalam pertarungan ini. HP mereka selalu terjaga di atas delapan puluh persen, jadi bisa dibilang ini adalah kemenangan mutlak. Akan tetapi, itu sangat berbahaya. Pada detik-detik terakhir, bisa dikatakan bahwa garis pertahanan mereka sudah runtuh. Jika pertempuran berlanjut lebih lama, bukan tidak mungkin salah satu dari mereka akan gugur sebelum mereka dapat berkumpul kembali. 

“Ahhh~ tadi itu menakutkan banget ~~ maaf ya? Aku melakukan kesalahan dengan sihirku.” 

“Tidak, aku juga salah karena terlalu lengah...” 

“Aku juga sama, tiba-tiba melompat di depan petir... seharusnya aku mendorong Masha untuk menghindar.” 

“Dalam situasi seperti itu, wajar saja jika kita tidak bisa membuat keputusan dengan cepat. Malahan dari situasi itu, kamu berhasil memberikan serangan terakhir.” 

Bener banget, bener banget, meski aku melihat dari belakang, tapi Alya-chan keren banget!” 

“Terima kasih... kamu juga berhasil menahan musuh dengan baik. ...Tapi kupikir nama teknik itu agak aneh.” 

Oi, jangan katakan itu.” 

Sambil merenungkan kesalahan masing-masing, mereka bertiga saling memuji keberanian satu sama lain. 

“Ngomong-ngomong tentang nama teknik, kamu juga tidak bisa mengkritik orang lain, kan?” 

“Jangan bilang begitu... mau bagaimana lagi, kan? Itu adalah keterampilan.” 

“Yah, sepertinya jika terbiasa, kita bisa mengaktifkannya tanpa suara perintah nama teknik... atau lebih tepatnya, jika nama tekniknya dalam bahasa Jepang, aku juga bisa menggunakannya. Kenapa aku tidak memiliki keterampilan untuk pertarungan jarak dekat...” 

“Aku juga tidak memiliki hal seperti itu~. Mungkin keterampilan yang bisa dipelajari tergantung pada profesinya~?” 

“Kemungkinan besarnya memang begitu... Oh, tunggu! Kenapa sihir ras iblis dalam bahasa Inggris? Jika dalam bahasa Inggris, seharusnya aku juga bisa menggunakannya!” 

Memangnya kamu bisa mengucapkannya dengan pengucapan setara penutur asli?” 

“...Jika dipikir-pikir, aku sedikit kurang percaya diri.” 

Sambil membucarakan hal seperti itu, mereka berjalan melewati lembah kering dan menuju kota baru yang terlihat jauh di depan. 

Dan kita sudah langsung sampai saja.” 

“Sepertinya kita sudah melakukan teleportasi dengan cepat...” 

“Ahaha... memang terasa aneh ya~” 

Sebelum mereka menyadarinya, ada gerbang besar di depan mereka, dan mereka bertiga cuma bisa tersenyum canggung. Namun, mereka merasa tidak ada gunanya memikirkan itu, dan ketika mereka mencoba melewati gerbang, tiba-tiba penjaga gerbang memanggil mereka. 

“Kalian bertiga, mau melintasi perbatasan? Kalau begitu, lebih baik beli tunggangan di toko binatang.” 

“Senapan mesin?” 

‘Kalau beneran ada senapan mesin di dunia ini, rasanya pasti sangat lucu. 

“Alya... sepertinya kamu salah paham mengenai sesuatu, jadi biar kukatakan, binatang berkuda itu adalah hewan yang dikendarai, kan? Karena ini dunia fantasi, seharusnya ada kendaraan lain selain kuda.” 

“Ah, jadi begitu...”  (TN: Alya salah paham karena pengucapan ‘騎獣/Kijuu’ (Binatang Tunggangan) hampir sama dengan ‘機銃/Kijuu’ (Senapan mesin))

Sambil melihat Alisa yang tampak malu-malu, Masachika mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari penjaga gerbang. 

“Kami mau menuju benteng di depan sana, tapi... lokasinya masih jauh?” 

“Hmm? Tidak terlalu jauh juga, tapi... jalan pegunungan itu sulit untuk kaki manusia, kan? Selain itu, memiliki tunggangan membuat perjalanan jauh lebih mudah!” 

“Begitu ya.” 

Di dunia ini, monster berbentuk hewan seperti kelinci bertanduk dan serigala bertanduk disebut monster iblis, sedangkan monster berbentuk manusia seperti goblin dan orc disebut ras iblis. Yang terakhir tidak bisa dijinakkan, sedangkan yang pertama bisa, jadi toko binatang iblis kemungkinan besar merupakan tempat menjual monster iblis yang telah dijinakkan. 

“Ngomong-ngomong, di mana toko binatang iblis itu...?” 

“Ah, kalau itu sih...” 

Kemudian mereka mendengarkan petunjuk dari penjaga gerbang yang baik hati, dan mulai berjalan menuju sana. 

“Jadi kita mendapatkan sarana transportasi di sini... yah, sepertinya kita akan masuk ke babak kedua, jadi kurasa meningkatkan mobilitas dengan kendaraan adalah hal yang biasa.” 

Ketika Masachika berpikir seperti itu, Maria, yang sepertinya memiliki pengetahuan lebih tentang fantasi dibanding Alisa, tersenyum lebar. 

“Aku tahu~. Kita akan melanjutkan perjalanan sambil menunggangi burung besar atau semacam dinosaurus kecil, kan?” 

“Dinosaurus kecil? Apa itu... aman? Mereka tidak akan menggigit kita, kan?” 

“Tidak, sepertinya tidak... tapi dalam kenyataan, ada kemungkinan kalau monster yang dijinakkan akan menyerang kita...”

Masachika terkesan dengan pertanyaan sederhana Alisa yang lahir dari kurangnya pengalamannya, dan berpikir, Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti itu

“Tapi pastinya ada semacam perangkat pengaman yang dipasang, kan? Mungkin diperintahkan oleh sihir agar tidak melukai tuannya...” 

“Rasanya itu rumit juga...” 

“Hmm... yah, rasanya seakan-akan mereka sedang dicuci otak, jadi... jika begitu, kita pilih yang terlihat aman, ya? Lagipula, aku tidak mengharapkan kekuatan tempur dari binatang tunggangan.” 

“Benar, kalau kita mau memberlinya, aku mau yang lucu. Seperti kucing besar!” 

“Yang itu kedengarannya sangat sulit untuk ditunggangi... dan lagipula, aku bahkan tidak yakin apakah aku bisa menunggang kuda. 

“Kalau dipikir-pikir... aku dan Alya-chan juga tidak bisa menungganginya, ‘kan?” 

“Hmm, dan bahkan jika kita bisa menungganginya, aku tidak yakin bisa melewati jalan pegunungan dalam keadaan itu.” 

Usai menyadari masalah mendasar, Masachika dan yang lainnya berhenti dan saling memandang. Namun, setelah diperkenalkan dengan jelas, pilihan untuk tidak pergi ke toko binatang iblis tidak mungkin ada dalam konteks permainan. 

“...Yah, kita bisa memutuskan setelah melihatnya secara langsung. Mungkin ada item seperti pelana ajaib yang pasti tidak akan membuat pemula jatuh.” 

“Benar.” 

“Aku penasaran apa di sana ada kucing besar enggak ya~?” 

“...Jika dipikir secara rasional, bukannya binatang tunggangan yang dicari Masha-san itu biasanya disebut singa?” 

Sambil bercakap-cakap seperti itu, mereka berjalan di tengah kota dan melihat toko binatang iblis yang mereka cari. Mereka hanya mendengarkan petunjuk kasar dari penjaga gerbang, tapi tidak mungkin terlewatkan. Itu karena bangunan ini memiliki garis tepi yang jelas dan terlihat menonjol di antara bangunan lain yang tampak samar. 

Aku sempat memikirkannya ketika mengunjungi toko senjata atau kuil penyucian... tapi rasanya aneh sekali jika hanya bangunan penting dalam cerita yang memiliki kualitas grafis yang berbeda.” 

“...Mari kita coba untuk tidak memikirkan itu.” 

Dengan wajah canggung, mereka masuk ke dalam bangunan dan menyapa pemilik toko yang jelas-jelas digambarkan berbeda dari penduduk lain dengan janggutnya. Mereka diarahkan ke pintu belakang bangunan. Setelah melangkah keluar, mereka melihat kandang besar yang terbuat dari kayu. 

“Binatang tunggangannya ada di dalam sana. Ada yang memiliki sifat liar, jadi jangan sembarangan mendekat, ya?” 

“Ah, baiklah.” 

Sambil menjawab demikian, Masachika melihat sekeliling dengan penasaran dan mengerutkan keningnya

“(...Jika dipikirkan lagi dengan tenang, kenapa lokasinya berada di tengah kota? Tidak ada ruang untuk membiarkan monster berlari-lari, dan bagaimana jika monster itu melarikan diri?)” 

“(Ah, memang benar~. Seharusnya tempat yang lebih cocok adalah di pinggiran kota, seperti peternakan yang luas, kan?)” 

“(...Mari kita coba untuk tidak memikirkan itu juga.)” 

Sambil membagikan ketidaknyamanan mereka dengan suara pelan, mereka bertiga masuk ke dalam kandang. Namun, semua pertanyaan kecil itu segera terlupakan. 

“Woah, menakjubkan!” 

“Di-Dinosaurus!? Benar-benar ada tunggangan yang terlihat mirip seperti dinosaurus!” 

“Wah, apa kita benar-benar bisa mengunggangi mereka~? Luar biasa!”

Di dalam kandang, terdapat berbagai jenis monster, mulai dari monster berbentuk kuda, burung seperti burung unta, hingga monster kecil yang mirip dengan dinosaurus pemakan daging. 

“...Memangnya aman ya memelihara semuanya bersama-sama?” 

Sembari menutupi keraguan yang baru muncul, Masachika dan yang lainnya melangkah maju sambil melihat sekeliling seperti turis. 

“Jika bicara tentang daya tahan, tipe kuda jelas-jelas yang terbaik. Dari segi kemampuan melewati medan yang sulit, burung atau kambing gunung lebih direkomendasikan. Jenis naga berjalan juga berguna dalam pertempuran, tapi sulit memberi mereka makan dan mereka juga berisik.” 

Sambil mendengarkan penjelasan pemilik toko, Masachika tanpa sadar mengulurkan tangan ke monster berbentuk kuda yang sedang minum di dekatnya. 

“...Jika melihatnya seperti ini, memang ada rasa aman nyata karena berbentuk kuda... meskipun ada tanduknya.” 

Ketika uluran tangannya dihindari dengan gelengan kepala, Yuki yang memperhatikan berkata, 

Lah, bukannya ini unicorn? Warnanya juga putih.

“Eh? Oh, kalau dipikir-pikir iya juga...” 

Mungkin karena sudah melihat kelinci dan serigala bertanduk, dirinya jadi sedikit kebas. Akan tetapi, kuda putih bertanduk itu memang unicorn. Tentu saja, ini berdasarkan standar dunia asal mereka. 

“Wah~ cantik sekali~!” 

“Aku belum pernah melihat kuda seputih ini sebelumnya......” 

Maria dan Alisa berseru kagum ketika melihat monster yang sama. Kemudian, berbeda dengan saat berurusan dengan Masachika, kuda putih itu dengan ramah mendekat dan menggesekkan wajahnya ke arah kakak beradik Kujou

“...” 

Perbedaan perlakuan ini... apa makhluk ini benar-benar unicorn? ...Hmm? Jadi, ap kedua orang itu... eh, bukannya Masha-san sudah punya pacar?

“Jangan berprasangka buruk seperti itu! Itu hanya kuda bertanduk! Itu saja!” 

Tanpa sengaja berteriak dengan tajam, Masachika berusaha menjitak kepala Yuki meskipun tahu itu sia-sia. Kemudian, Alisa melihat Masachika dengan ekspresi curiga dan menjauh dari kuda bertanduk. 

“Hmm~~ tapi tetap saja, dengan ukuran sebesar ini, rasanya agak menakutkan ya... Aku lebih merasa aman dengan ukuran yang seperti kambing ini.” 

Aku juga sependapat~. Hmm~, apa tidak ada kucing besar ya~?” 

Di tengah situasi itu, Masachika tersenyum kecut saat Maria dengan tenang mencari kucing besar dengan kecepatannya sendiri. 

Dari kelihatannya, sepertinya tidak ada kucing...” 

“Hmm, kalau begitu anjing besar juga tidak masalah sih~” 

Sudah kubilang, binatang seperti itu biasa disebut serigala di dunia ini...” 

Sambil memberikan komentar, Masachika tanpa sengaja mengintip salah satu kandang (?). Di dalamnya, ada seekor anjing. 

Namun, dia adalah manusia dengan telinga dan ekor anjing. 

Di atas karpet jerami yang tersebar di tanah, ada kotak kardus yang tampaknya merusak suasana dunia, dan seorang gadis beastman (?) duduk di dalamnya. Dari lehernya, ada papan putih kecil yang juga mengabaikan suasana dunia, dan dipegang dengan kedua tangan yang bertuliskan dalam bahasa Jepang “Pungut aku.” Sebenarnya... dari mana pun dilihat, 

Bukannya itu Ayano? 

Ya, seperti yang dikatakan Yuki, gadis itu adalah Ayano. Karena dia mengenakan kostum pelayan. Meskipun terlihat agak terlalu terbuka dengan perutnya yang terlihat. 

“...Kamu lagi ngapain sih?”

Adegan yang terlalu santai untuk disebut sebagai perdagangan manusia... lebih tepatnya, hanya terlihat sangat santai, membuat Masachika berjongkok dan bertanya. Kemudian, Ayano (?) dengan ekspresi datar dan tanpa suara menggerakkan papan putih yang dipegangnya ke atas dan ke bawah, meminta untuk diambil. 

“Tidak, jika kamu mau mengatakan sesuatu, bukankah seharusnya ‘Tolong beli aku...” 

“Eh? Oh, tidak, dia bukan untuk dijual, loh.” 

“Hah?”

Ketika Masachika menoleh, pemilik toko yang tiba-tiba muncul di dekatnya dengan wajah sedikit bingung sambil mengusap janggutnya dan mulai berbicara. 

“Semalam, ketika aku berniat membersihkan kamar kosong, aku menemukan dia sudah tinggal di sana tanpa izin. Yah, sepertinya dia juga tidak berbahaya, jadi aku biarkan saja...” 

Kamu seharusnya jangan membiarkannya begitu saja! Apa mungkin itu? Di negara ini, ras beastman diperlakukan sama seperti binatang?” 

“Tidak? Mereka diperlakukan sama seperti manusia...” 

“Kalau begitu, jangan dibiarkan begitu saja dong!” 

“Tapi, lihat? Ketika aku menemukannya kemarin, ada papan yang bertuliskan [tolong jangan ganggu]...” 

Memangnya ini hotel, ya?” 

Masachika berbalik ke arah Ayano dan mengomentari hal itu, tapi Ayano hanya menggerakkan papan putihnya tanpa berkata-kata. Bukan hanya itu saja, ekornya juga bergerak-gerak. Ekor anjing yang melompat keluar dari kotak kardus tampak bergerak ke kiri dan kanan seolah mengharapkan sesuatu

“Ah, Nii-chan~. Jika kamu tertarik dengan yang ini, maukah kamu mengadopsinya? Sepertinya dia juga menginginkannya...” 

“Yah, itu sih... tidak, aku akan berkonsultasi dengan teman-temanku dulu...” 

Setelah memanggil Alisa dan Maria, kedua gadis itu terkejut melihat Ayano yang dengan gaya anjing terlantar meminta pemilik baru, tapi mereka setuju untuk menambahkan Ayano ke dalam kelompok mereka. Akhirnya, dampak dari situasi tersebut terlalu kuat sehingga mereka kehilangan minat untuk mencari binatang tunggangan yang sebenarnya, dan mereka bertiga keluar dari toko bersama Ayano. 

(Lah, kok bisa begitu...?) 

Saat Masachika memperhatikan kotak kardus yang terus mengikuti Ayano saat berjalan, ia bertanya-tanya bagaimana cara kerjanya. Sementara itu, Alisa yang selesai mengoperasikan menu sambil memegangi tangan Ayano, mengeluarkan suara bingung. 

“Untuk saat ini, aku sudah menambahkannya ke dalam kelompok... tapi sepertinya dia memang Kimishima-san. Namanya juga tertera dengan jelas... hanya saja, spesiesnya terdaftar sebagai ras manusia anjing.” 

“...Yah, Yuki juga terdaftar sebagai... peri? Jadi, sepertinya tidak perlu terlalu dipikirkan.” 

“Profesinya sebagai pelayan... ini sesuai dengan penampilannya~. Tapi, apa pelayan bisa bertarung?” 

“Entahlah? Sepertinya dia memiliki banyak keterampilan yang berkaitan dengan penyamaran, jadi sepertinya dia bisa bergerak seperti seorang pembunuh...” 

Sekadar informasi, dia juga memiliki keterampilan unik. Namanya adalah Seorang pelayan harus bisa menjadi udara. Efeknya adalah “Dengan berkonsentrasi, kamu bisa menjadi udara,” yang terdengar sangat samar. 

“...”

Masachika terdiam dengan nama keterampilan yang sangat mencolok dan efek yang samar, sementara Alisa mengangkat suaranya. 

“Meskipun begitu, kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa senjata, kan? Bukankah sebaiknya kita membeli beberapa senjata?” 

Saat Masachika hampir mengangguk setuju dengan saran yang masuk akal itu, lengan jubahnya ditarik. Ketika menoleh, ia mendapati Ayano yang diam-diam menatapnya mengangkat rok kostum pelayannya. Pada saat itu, terlihat pena mekanik yang terikat dengan sabuk di bagian paha yang terekspos. 

Ayano tidak mendengus bangga, tapi ada suasana yang seolah-olah dia ingin menunjukkannya. Dengan mata tertutup dan bibir yang rapat, Ayano terlihat seperti itu. Melihat raut wajahnya yang demikian, kakak beradik Kujou yang terkejut dengan tindakan Ayano yang tiba-tiba mengangkat rok juga memiringkan mereka. 

Umm, jadi ini senjatanya...?” 

“Ehmm, yah, kelihatannya ity terdaftar sebagai senjata di bagian perlengkapan, kok? ‘Sesuatu seperti pensil mekanik’... eh, bukannya itu pensil mekanik?” 

“Ngomong-ngomong, kenapa dia tidak bicara sama sekali sejak tadi?” 

Masachika melihat Ayano dengan pertanyaan, tapi Ayano hanya menggelengkan kepala. Mungkin jangan-jangan dia tidak bisa berbicara karena semacam kondisi abnormal...? Masachika mencoba memeriksa layar menu, tetapi tidak menemukan penyebab yang jelas. 

“Hmm~~... yah, aku tidak begitu paham, tapi setidaknya dia perlu baju pelindung.” 

Masachika bergumam demikian sambil melihat kostum pelayan Ayano yang terlalu terbuka (?)

Kemungkinan besar karena dia ingin mengeluarkan ekor anjingnya, tetapi kostum pelayan Ayano dirancang terpisah antara atas dan bawah, sehingga dari pinggang hingga bawah dada terlihat sepenuhnya. Selain itu, bagian atasnya bermodel tanpa lengan, jadi pakaiannya lebih mirip dengan bikini daripada kostum pelayan. Dan bagian punggungnya juga dikepang, sehingga punggungnya hampir telanjang. Dia sama sekali tidak terlindungi dari serangan dari belakang. 

Oh, dia berani sekali menunjukkan punggungnya sampai sejauh ini... dia benar-benar tahu apa kelebihannya.’ 

Cuma kamu yang memuji punggung Ayano.’ 

Sambil mengerutkan kening pada kritik bodoh Yuki di dalam hati, Masachika berkata kepada Alisa dan Maria. 

“Sebagai permulaan, sebaiknya kita harus memberinya perlengkapan yang lebih kuat.” 

“Benar.” 

“Ya, meskipun pakaian ini juga lucu sih~” 

“!” 

Pada saat itu, ekor Ayano berdiri tegak, dan dia menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan dengan semangat. 

Ap-Apa?” 

Melihat reaksinya yang begitu menggebu, Masachika menurunkan pandangannya, dan Ayano maju sedikit untuk membalik papan putihnya. Di sana tertulis kata-kata [Aku tidak membutuhkannya].

“...Meskipun kamu bilang tidak membutuhkannya, dengan perlindungan yang sama sekali tidak ada seperti itu, aku tidak bisa membawamu bertarung, kan?” 

Sambil sedikit mundur, Masachika menjawab dengan tenang, tapi Ayano kembali menggoyangkan tubuhnya dengan keras sebagai penolakan dan membalik papan putihnya. 

[Ini adalah pakaian tempurku!]

Tidak, tunggu, itu bagaimana cara kerjanya sih?” 

Masachika tak kuasa menahan diri untuk mengomentari papan tulis aneh yang dikenakan di lehernya, yang tulisannya berubah setiap kali Ayanno membaliknya.

Namun, melihat Ayano yang diam-diam memiringkan kepala, Masachika membuka menu dan mengetuk papan putih model perlengkapan Ayano. 

Sesuatu seperti papan putih. 

Ngaco banget.” 

Masachika memberikan komentar pada nama yang tidak menjelaskan apa-apa dan kolom detail yang tidak memiliki penjelasan sama sekali, lalu dirinya juga mengetuk kotak kardus yang entah kenapa terus mengikuti Ayano. 

Sesuatu seperti kotak kardus. 

“...” 

Masachika diam-diam menggerakkan tangan kanannya untuk menutup layar menu. 

“Ya, meskipun dia tidak menyukainya, sepertinya kita harus memakaikannya pelindung. Ini berbahaya.” 

“Benar.” 

Aku setuju~” 

“!!” 

Dan begitulah, mengesampingkan apa yang belum mereka pahami untuk sementara waktu, Masachika dan yang lainnya menuju toko senjata dan pelindung.

 

◇◇◇◇

 

Empat puluh menit kemudian. 

“...” 

Di depan toko senjata dan baju pelindung, terlihat Ayano yang mengenakan jubah di atas kostum pelayan terpisahnya, dengan aura yang tampak tidak puas. 

Ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi Ayano, yang dengan tegas menolak untuk mengganti pakaian pelayannya dan sangat tidak menyukai baju pelindung logam... tapi Ayano masih tampak gelisah dan terus-menerus bergerak-gerak. 

(Entah kenapa, dia terlihat seperti anjing yang dipaksa mengenakan pakaian yang tidak pas......) 

Meskipun mereka memilih jubah yang memiliki belahan agar ekornya bisa keluar, ekor yang muncul dari belahan itu tetap bergerak-gerak tidak tenang ke kiri dan kanan. Sementara itu, Maria menatap ekor itu dengan senyum lebar. 

Duhhhhh~~~, Ayano-chan, kamu imut banget~~ 

“Ya, ya, jangan terlalu terpesona, kita harus segera bergerak, kan? Ayo, Kimishima-san juga... eh, di dunia ini tidak ada nama keluarga, ya? Hmm, Ayano-san juga.” 

Saat Alisa mengajaknya, Ayano terus bergerak gelisah dengan wajah sedikit tertunduk. 

“Ayano-san?” 

“? Apa yang kamu lakukan?” 

Ketika diperhatikan lebih dekat, Ayano tampaknya terus menggerakkan tangannya di dalam jubahnya. Lalu, Ayano tiba-tiba membuka jubahnya lebar-lebar... dan apa yang dia lakukan bisa terlihat jelas

Di dalam jubah tersebut terdapat banyak kantong berbentuk tabung yang dijahit. Di sana tersimpan banyak pensil mekanik... atau semacamnya. 

“‘‘‘...’’’” 

Ayano tampak mengeluarkan suara puas... atau setidaknya suasana itu terpancar darinya, sementara mereka bertiga menatapnya dengan ekspresi tidak bisa diungkapkan. 

(Tunggu, bagaimana dia menjahitnya... atau lebih tepatnya, kenapa pensil mekanik itu bisa bertambah?) 

Namun, karena merasa dirinya tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan jika mereka berkomentar, Masachika menggelengkan kepala ringan dan beralih fokus. 

“Baiklah, kalau begitu mari kita pergi ke toko peralatan! Mungkin ada barang baru... atau lebih tepatnya, mungkin ada item yang tidak dijual di kota sebelumnya.” 

Aku setuju sih, tapi... jangan boros lagi, ya.” 

Sembarangan saja bilang itu boros.” 

“Membeli item yang sama sekali tidak tahu kegunaannya, kalau bukan boros, apalagi namanya?” 

“Sekarang mungkin kita tidak tahu kegunaannya, tapi suatu saat pasti akan ada. Jika saat itu datang dan kita menyesal, semuanya sudah terlambat.” 

“Ya, ya, sepertinya tidak ada salahnya membeli satu set barang untuk berjaga-jaga iya ‘kan~

Dengan kapasitas item yang hampir tak terbatas, Masachika berpikir untuk membeli setidaknya satu item dengan cara berpikir ala permainan, sementara Maria memang cuma suka berbelanja. Di hadapan kedua orang tersebut, Alisa yang ingin menggunakan uangnya hanya untuk hal-hal yang diperlukan menghela napas, entah yang keberapa kali hari ini. Namun, karena selain ramuan dan barang-barang penting lainnya yang digunakan oleh semua orang, mereka masing-masing membeli dengan uang pribadi, Alisa tidak bisa berkata banyak. 

Setelah Alisa menyerah di depan pemungutan suara, Masachika berusaha menuju toko peralatan... dan saat itu, ia merasakan ada yang menarik lengan jubahnya. 

[Apa kita tidak pergi ke toko sihir?]

Pertanyaan Ayano yang tertulis di papan putih membuat Masachika menatap Alisa dan Maria, lalu menggelengkan kepala. 

“Toko sihir? Ahh... aku belum pernah pergi ke sana, dan yang terpenting, aku tidak bisa menggunakan sihir...” 

[???] 

“Tidak, karena aku tidak bisa mengucapkan mantranya, aku jadi tidak bisa menggunakan sihir.” 

Saat Masachika mengatakan ini dengan bercanda, Ayano memiringkan kepalanya ke arah yang berlawanan dan membalik papan tulis. 

[Jika menggunakan scroll, kamu tidak perlu mengucapkan mantranya lho?] 

“...Apa?” 

[Cukup buka scroll-nya untuk mengaktifkannya.] 

“Seriusan!?” 

Informasi mengejutkan yang disampaikan oleh Ayano membuat Masachika dan kakak beradik Kujou terkejut dan menunjukkan ekspresi bahagia. 

“Apa itu benar~? Jadi akhirnya, Kuze-kun juga bisa menggunakan sihir~?” 

“Ya! Akhirnya kemampuan seorang mahardika menunjukkan potensi yang sebenarnya~!” 

“Terima kasih atas informasinya yang bagus... umm, Ayano-san.” 

“Baiklah! Jika memang begitu, ayo kita segera pergi ke toko sihir! Ayo tunjukkan jalannya, Ayano!” 

Masachika dan yang lainnya dengan bersemangat menuju toko sihir. Namun, sepuluh menit kemudian, suasana hati Masachika setelah mendengar penjelasan dari pemilik toko sihir benar-benar merosot. Alasannya sederhana. 

“...Rasanya, ini tidak seperti yang kubayangkan.” 

‘Yah, scroll memang biasanya seperti itu.’ 

“Kalau sudah menduganya, seharusnya kamu memberitahuku dong...” 

Masachika melirik Yuki dengan tatapan penuh kebencian, hampir melampiaskan kekesalahannya. 

Sebenarnya, Masachika sudah mengerti dari penjelasan Ayano bahwa scroll adalah item untuk mempelajari sihir, dan jika digunakan, dia bisa menggunakan sihir tersebut dengan bebas... tapi bukan berarti seperti itu. Jika hanya dengan membukanya sudah aktif, berarti sembilan dari sepuluh kemungkinan tidak akan menghabiskan MP, tetapi item yang mengaktifkan sihir sekali pakai. Masachika sudah siap dengan itu. Namun... scroll di dunia ini ternyata jauh lebih merepotkan daripada yang dibayangkannya.

Pertama-tama, pengguna hanya bisa menggunakan sihir yang sudah mereka kuasai. Ini tidak terlalu menjadi masalah bagi Masachika yang berprofesi sebagai mahardika. Namun, masalah—atau lebih tepatnya kendala—bagi Masachika ialah sihir dari scroll tidak bergantung pada kekuatan serangan sihir pengguna dan memiliki kekuatan tetap. Dengan begitu, sebenarnya tidak ada perbedaan apa Alisa atau Masachika yang menggunakannya. Selain itu, scroll yang dijual di toko hanya memiliki sihir tingkat menengah, dan harganya sangat mahal untuk performa yang ditawarkan. Secara keseluruhan, scroll tersebut merupakan alat pamungkas yang harus digunakan oleh penyihir yang kehabisan MP, dengan risiko besar yang harus ditanggung. 

[Maafkan aku karena tidak bisa memenuhi harapan Anda.] 

“Tidak, Ayano tidak perlu minta maaf… itu salahku sendiri karena kurang berpengetahuan.” 

Saat Masachika mencoba menghibur Ayano yang telinga anjingnya terkulai, pemilik toko yang tampak seperti penyihir dengan pipa rokok di mulutnya menatap Masachika dengan tajam di depan tumpukan scroll yang terletak di meja. 

“Jadi, apa yang Anda inginkan?” 

“Ahh~~~... jadi, aku ingin sihir serangan tingkat menengah dari lima elemen... eh, ini dan ini... terus, apa lebih baik jika ada sihir pertahanan?” 

“Benar, untuk keadaan darurat.” 

“Hmm~ tapi jika sihir pertahanan, aku juga bisa menggunakannya, jadi mungkin bisa sedikit diturunkan prioritasnya?” 

“Ya, lebih baik kita menambahkan lebih banyak sihir serangan yang tidak bisa digunakan oleh Masha-san.” 

Mengingat harganya yang cukup tinggi, kali ini Masachika juga berhati-hati dan memilih dengan cermat sambil berdiskusi dengan teman-temannya. Akhirnya, dirinya memutuskan untuk membeli dua scroll sihir pertahanan untuk masing-masing dari tiga orang yang bisa menggunakan sihir, kecuali Ayano, dan tujuh scroll sihir serangan untuk digunakan Masachika. 

“Wah, hanya sembilan scroll ini saja sudah menghabiskan setengah dari uang yang kumiliki...” 

“...Apa kami perlu menyumbang sedikit juga? Meningkatkan kekuatanmu adalah tanggung jawab semua orang.” 

“Tidak, tidak apa-apa. Ketidakmampuanku menggunakan sihir adalah masalahku.”

"Jangan berkata begitu, oke? Kita harus saling membantu sebagai rekan seperjuangan.” 

“Tidak, aku beneran baik-baik saja.” 

Setelah berdebat selama 3 menitan, Masachika merasa tidak berdaya di hadapan kakak beradik Kujou yang terus meyakinkannya. Pada akhirnya, Alisa dan Maria masing-masing setuju untuk menanggung biaya untuk dua scroll serangan yang akan digunakan oleh Masachika. 

“Aku jadi merasa tidak enakan...” 

“Jangan khawatir, oke? Yang lebih penting, dalam situasi seperti ini, kita harus saling mengucapkan terima kasih.” 

“Ah... terima kasih banyak. Masha-san, Alua.” 

“Iya~ iya~.” 

“Sama-sama.”

Melihat Maria yang mengangguk puas dan Alisa yang mengangguk dengan wajah serius, Masachika tersenyum lebar. 

“Berkat kalian, sepertinya kita bisa membeli banyak barang lainnya!” 

“Benar~ ada banyak sekali barang yang belum pernah kulihat sebelumnya~♪” 

“Kembalikan uangku!” 

Masachika dan Maria dengan santai mengabaikan teriakan Alisa, dan mulai menjelajahi berbagai item mencurigakan yang ada di toko sihir. 

“Oi, oi, ada minuman yang direndam dengan mandragora utuh!” 

“Menjijikkan banget! Lagipula, minuman alkohol itu tidak boleh!” 

“Lihat, lihat~ di sini ada boneka... eh? Kenapa ada suara berisik dari dalamnya...?” 

“Cepat letakkan kembali! Cepat kembalikan ke rak sekarang juga!” 

“Hei, ‘boneka gantung’ ini sepertinya cukup berguna, bukan? Katanya bisa menahan sihir atribut kegelapan yang digunakan oleh ras iblis sekali saja?” 

“Penampilannya terlalu menyeramkan, jadi ditolak!” 

“Tidak, tidak, ini benar-benar berguna. Meski Alya mungkin memiliki ketahanan terhadap sihir atribut kegelapan berkat perlengkapan pahlawannya, tapi tetap saja” 

“Jangan bilang itu sambil memegang bagian talinya!! Hanya melihatnya saja sudah membuatku mual!!” 

Pertukaran kata-kata antara Alisa yang terus mengkritik dan Masachika serta Maria (dan Yuki juga) yang bersemangat dengan berbagai item mencurigakan. Alisa bertindak sebagai suara hati kelompok dan memberikan penilaian. Sementara itu, Ayano hanya menjadi penonton. 

‘Oh, bukankah ini sepertinya berguna? Serius.’ 

“Hmm?” 

Saat Yuki menunjuk ke arah gelang ungu, Masachika mengambilnya lalu memanggil Alisa. 

“Hei, Alya. Sepertinya benar-benar item ini bisa digunakan, loh?” 

“Jadi kamu mengakui bahwa yang sebelumnya tidak berguna...?” 

Sembari menghembuskan napas yang berat dan tatapan tajam, Alisa menatap Masachika, yang dengan sedikit rasa bersalah mengangkat gelang itu. 

“Gelang ‘switch’ ini, jika dimiliki oleh dua orang dan diaktifkan secara bersamaan, bisa langsung menukar posisi satu sama lain. Meskipun ini sekali pakai dan ada batas jarak sih.” 

“Untuk barang sekali pakai, harganya cukup mahal... dalam situasi seperti apa ini akan digunakan? Jika posisi dua petarung ditukar, sepertinya tidak ada artinya, dan jika posisi petarung dan penyembuh ditukar, malah bisa jadi masalah.” 

Wajah Alisa dipenuhi kecurigaan seolah-olah dirinya hampir bisa mendengar suara hatinya yang berkata, 'Apa kamu berencana menghambur-hamburkan uang lagi?' Masachika dengan santai menjelaskan kegunaan yang terlintas di benaknya. 

“Enggak kok, menurutku item ini bisa sangat berguna bahkan untuk petarung. Misalnya, jika aku terluka, aku bisa menyerahkan posisiku kepada Alya dan meminta Masha-san untuk menyembuhkanku dari belakang, ‘kan? Ketika aku kembali ke garis depan, aku bisa menggunakan ini untuk membuat Alya mundur sementara aku langsung maju ke depan musuh. Taktik ini juga bisa menjadi serangan mendadak.” 

Setelah penjelasan seperti itu, Alisa terdiam sejenak. Dia kemudian berkedip perlahan sebelum mengalihkan pandangannya dan bermain dengan rambutnya. 

“...Hmm, begitu? Yah, kurasa itu ide yang bagus?” 

“Eh, ah, beneran boleh nih?” 

“Yah, jika itu yang terjadi... maka aku juga akan membelinya...” 

“Ohhh, baiklah... aku senang kamu mengerti?” 

Sambil merasa sedikit bingung dengan perubahan sikap Alisa yang tiba-tiba, Masachika memanggil Maria dan Ayano. 

“Masha-san, Ayano~ item ini sangat berguna, jadi mari masing-masing dari kita membelinya!” 

Seketika itu juga, jari-jemari Alisa yang sedang  memilin-milin rambutnya tiba-tiba berhenti, dan matanya yang biru menatap Masachika dengan tajam. 

“U-Uwahhh, ap-apa sih?” 

Aura dingin dan mematikan yang tiba-tiba muncul dari jarak dekat membuat Masachika tersentak. Tapi saat ia menoleh kembali ke arahnya, Alisa sudah berbalik sambil mendengus kesal. 

Dasar bodoh...

Sembari membisikkan hal itu dalam bahasa Rusia, Masachika merasa beban mental berat di bahunya. 

(Apa aku baru saja dihina...? Eh, apa? Apa dia mengharapkan item pasangan yang serasi? Apa dia beneran mengharapkan hal itu? ...Tidak mungkin, kan?) 

Masachika segera menepis pikiran yang baru saja terlintas di benaknya, dan berkata pada dirinya sendiri bahwa Alisa tidak akan mengubah sikapnya secara drastis karena hal seperti itu. Melihat Masachika yang bingung sendiri.... 

‘Yare~yare~, dasar Master yang tidak mengerti hati wanita.’ 

Yuki mengambang di udara sambil menatapnya dengan ekspresi keheranan.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama