Chapter 2 — Peti Harta Karun Itu Dipenuhi Mimpi
“Hmph, hmph!”
“……”
“Kuze-kun~ semangat ya~!”
Sang Mahardika tanpa ragu mengayunkan buku sihirnya
terhadap monster yang muncul. Sang
pahlawan dan Saintess
mengikuti di belakangnya.
Jika
mengikuti logika Masachika, seharusnya Alisa yang merupakan petarung garis depan yang tangguh berdiri di
depan untuk mengantisipasi serangan mendadak. Lebih bagusnya lagi, mereka seharusnya menyewa seorang
pengintai untuk memastikan keamanan di depan… tapi, mereka tidak melakukan
hal-hal seperti itu. Atau lebih tepatnya, mereka menyadari bahwa mereka tidak perlu melakukannya.
Karena
entah mengapa, monster di dunia ini tidak pernah melakukan serangan mendadak. Baik itu
kelinci bertanduk, serigala bertanduk, atau goblin, semuanya pasti muncul di
depan terlebih dahulu. Mereka tidak menyerang dari samping atau melempar batu
dari semak-semak. Mereka selalu muncul di depan dan dengan sopan melakukan
suara dan pose yang tidak jelas apa itu untuk mengintimidasi atau sekadar
pertunjukan sebelum masuk ke mode pertempuran.
“Ah,
ada musuh lagi…”
Tiga
goblin yang tiba-tiba muncul berbaris sejajar sambil mengeluarkan suara ‘Gya gyaa!’ dan mengangkat tongkat mereka.
Gerakan mereka yang seragam membuat Masachika berpikir… monster di dunia ini,
bahkan yang lemah sekalipun, tampaknya sangat menjunjung tinggi semangat
kesatria dalam duel. Namun....
“Iya, iya, kerja bagus~.”
Karena
semangat semacam itu
tidak ada hubungannya dengan mereka yang bukan penduduk dunia ini, Masachika
dan yang lainnya dengan berani melakukan serangan mendadak, bahkan tidak ragu
untuk menyerang lebih dulu meskipun musuh sedang mengintimidasi.
Sambil mengabaikan
intimidasi goblin, Masachika menghantamkan buku sihirnya ke dahi goblin. Dengan
bantuan keterampilan unik “Pengalaman yang Didapat Sepuluh Kali Lipat
(kecuali olahraga bola),” serangan Masachika yang jauh di atas nilai yang
sesuai untuk area ini membuat goblin malang itu menghilang dalam bentuk
partikel cahaya.
‘Hyu~♪
Hebat sekali, Master! Kebengsan dan kekejaman itu membuatku terpesona!’
Mengabaikan
pujian Yuki yang berbentuk iblis kecil, Masachika mengangkat bukunya sekali
lagi. Namun, meskipun rekannya sudah menghancurkan musuh dengan serangan yang
tanpa ampun, serangan itu kini akan menimpanya. Sisa goblin yang lain tidak
marah dan melanjutkan intimidasi mereka dengan rapi sebelum akhirnya memasuki
posisi pertempuran—sebelum itu, buku sihir Masachika menghantam pelipis goblin
dengan keras.
“‘Gyaaa!’”
Dengan
teriakan yang terdengar seperti bacaan datar, goblin itu menghilang menjadi partikel cahaya. Tanpa melihat ke arah
itu, Masachika berpura-pura tidak memperhatikan tatapan di belakangnya yang seolah ingin mengatakan
sesuatu, dan secara mekanis memeriksa pengalaman dan uang yang muncul di sudut
pandangnya.
“Kalau
begitu, mari kita lanjutkan.”
Dan begitulah, sambil terus melakukan
penyerangan sepihak yang bisa disebut sebagai pertempuran oleh penyihir otot,
kelompok pahlawan melanjutkan perjalanan mereka.
“‘Gya
gyaa!’”
“Hoi hoi hoi~!”
“Gyaa!
Gyaa! Gyaa!”
“Rasanya
seperti sedang bermain game musik, ya?”
Saat
pertempuran membosankan yang berulang itu membuat Masachika merasa seperti
sedang bekerja—
“Ah~!”
Suara
keras Maria dari belakang membuat Masachika terkejut dan segera menoleh. Dia
melihat Maria masuk ke dalam semak-semak, dan bersama Alisa, mereka segera
berbalik.
“Hei, Masha!”
“Masha-san!?
Tindakan yang sembrono begitu—”
Ketika
mereka kembali ke tempat di mana Maria berada, mereka menyadari adanya jalan
kecil yang tampak seperti jalan setapak hewan, yang sulit dikenali pada
pandangan pertama.
““Jalan
tersembunyi…?””
Mereka
berdua
bergumam
bersamaan dan saling memandang. Melihat punggung Maria yang hampir menghilang di balik semak-semak, mereka mulai panik dan mengejarnya.
“Masha-san!
Tindakan sendirian semacam itu—”
Berbahaya.... Sebelum Masachika sempat selesai berbicara, untungnya Maria
berhenti. Pada saat yang sama, Alisa dan Masachika juga menyadari keberadaan
sesuatu yang tidak terlihat di belakang Maria.
“Lihat~
lihat~? Ada peti
harta karun~♪”
Dengan
ekspresi ceria, Maria menoleh ke arah mereka dan memberi isyarat ke arah belakang dengan kedua tangannya.
Di antara semak-semak yang tinggi, ada ruang berbentuk lingkaran yang dipotong,
di mana sebuah peti harta karun merah dengan pinggiran emas berdiri kokoh.
Tentu saja, itu adalah peti harta karun yang klasik, yang pasti pernah diimpikan setiap orang saat kecil. Masachika pun merasa
terhibur dan tidak bisa menahan rasa antusiasnya… tapi,
“Tapi,
kenapa ada peti harta karun yang mencolok seperti ini di pinggir jalan?”
Sebelum
berpikir lebih jauh, ketidaknyamanan tersebut
mengganggu pikirannya. Namun, ia segera berpikir, “Ah, mungkin ini hal yang
lumrah di awal game,” dan menutup matanya sambil menggelengkan kepala.
“Hmm…
yah, bagaimanapun juga, peti harta karun seperti ini biasanya jebakan atau monster mimik…”
“Horeee~! Ada tongkat baru~!”
“Eh,
dia sudah membukanya!?”
Sebelum
Masachika sempat mengatakan untuk membuka dengan hati-hati, suara ceria Maria
sudah terdengar, dan Masachika langsung terkejut. Maria mengeluarkan sebuah
tongkat panjang berwarna merah hitam yang tampak sangat berat dan mirip dengan gada dari dalam peti harta
karun.
“Hmm!
Berat sekali~”
Maria
mengeluarkan jeritan
gembira seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, meskipun dia sedikit
berjuang dengan beratnya tongkat itu. Tiba-tiba,
“Eh?”
Sesuatu
yang terlihat seperti kabut hitam tiba-tiba muncul dari tongkat itu dan menyelimuti tubuh Maria.
““Masha/San!?””
Dengan
suara terkejut, Alisa berlari menuju Maria. Namun, Masachika dengan cepat
meraih tangannya dan menghentikannya.
“Apa
yang kamu
lakukan—”
“Kamu mungkin akan ikut terjebak juga!”
Masachika
dengan
tegas menyatakan
bahwa mereka harus menghindari kerugian lanjutan yang berantai. Alisa menahan
kata-katanya dan mengamati keadaan Maria. Di hadapan mereka yang tegang, Maria
mengayunkan tongkatnya seolah-olah ingin
mengusir kabut, dan setelah tiba-tiba
menyadari sesuatu, dia
mengayunkan tongkatnya lagi dan mengeluarkan suara yang sangat
menyedihkan.
“Duhhh~! Kenapa tidak mau lepas
sihhhh~~!”
“Eh?”
“Hmm?
… Ah,
apa tongkat itu tidak bisa lepas dari tanganmu?”
“Ya…
lihatlah.”
“Ya,
meskipun kamu
bilang begitu…”
Maria
mengulurkan kedua tangannya yang masih erat memegang tongkat, dan Masachika
bingung merespons. Di dekat bahunya, Yuki yang melayang-layang membuka mulutnya
dengan kepala sedikit miring.
‘Kalau
dia tidak
bisa melepas tongkat tersebut, itu pasti item terkutuk, ‘kan?’
“Ah,
jadi begitu ya.”
Setelah
dipikir-pikir, kabut hitam sebelumnya juga terlihat seperti itu. Masachika
bertepuk tangan tanda setuju, lalu memberi tahu Mariya bahwa jika memang
begitu, semuanya akan lebih cepat.
“Masha-san, mari kita coba untuk
menghilangkan kutukannya dulu.
Ada mantra
sihir atribut cahaya yang seperti itu, ‘kan?”
“Eh,
kutukan?”
“A-Aku dikutuk? Enggak mau ihhh~~!”
“【Экзорцизм низшего уровня】”
Namun…
tidak terjadi apa-apa.
Bukan
hanya tongkat itu tidak mau lepas
dari tangannya, bahkan efek yang biasanya muncul saat sihir diaktifkan pun
tidak ada.
“……
Eh?”
“Masha… apa kamu sudah menggunakan sihirnnya dengan benar?”
“Ehh~? Aku sudah melakukannya kok~”
“……
Apa jangan-jangan itu efek dari itemnya sendiri?”
‘Untuk sekarang, coba periksa di menu.’
“Ah,
benar.”
Sambil
menyaksikan interaksi antara kakak beradik itu, Masachika mengikuti saran Yuki untuk membuka
menu. Ia mengetuk tab Maria dan memeriksa figur peralatan yang dipakai Maria,
dan rincian tongkat yang terpasang di tangannya pun terungkap.
Nama
item: [Tongkat
Penyiksaan Bid’ah] : ‘Dikutuk setiap kali dipakai. Mengubah semua kekuatan
serangan sihir pengguna menjadi kekuatan fisik.’
“Ini
benar-benar peralatan otot…”
‘Atau
lebih tepatnya, dari namanya saja,
bukannya ini alat penyiksaan yang digunakan oleh inkuisitor, ‘kan?’
Masachika
dan Yuki secara bersamaan mengernyitkan dahi saat memeriksa status Maria.
Ternyata, nilai kekuatan serangan sihir yang seharusnya kedua tertinggi setelah
ketahanan sihir menjadi nol, sementara nilai kekuatan fisiknya meningkat sangat
tinggi, tidak seperti peran belakang. Bahkan, saat ini, nilainya sudah
melampaui kekuatan Alisa.
Namun,
jika ditanya apa dia bisa beraksi dengan baik dalam pertempuran jarak dekat…
kecepatan dan daya tahannya masih setara dengan peran belakang, dan kurangnya
keterampilan pertarungan jarak dekat akan menjadi kendala besar.
“ni
adalah peralatan terkutuk dengan efek yang kuat, tetapi sulit untuk menemukan
kegunaannya.… rasanya seperti
jika ada susunan keterampilan khusus untuk ini, mungkin bisa jadi peralatan yang luar biasa.”
‘Mungkin
untuk pendeta sekte sesat atau ksatria kegelapan? Senjata yang bersinar jika
digunakan oleh pendeta atribut kegelapan.’
“Benar banget.”
“Kuze-kun,
jangan hanya setuju sendiri, jelaskan padaku dengan benar dong~!”
“Ah,
maaf, Masha-san.”
Karena
kedua tangannya terhalang, Maria tidak bisa membuka menu, dan Alisa di
sampingnya tampak kebingungan. Masachika menjelaskan apa yang
baru saja dibacanya.
“Jadi,
karena kekuatan serangan sihir menjadi nol, sihir yang diaktifkan jadi tidak
berfungsi… begitu maksudnya?”
“Mungkin.”
Masachika
mengangguk pada ringkasan Alisa, dan Maria membuat wajah menyedihkan sambil
berkata, “Eh~ jadi aku harus begini terus~?”
“Ah,
tidak, Alisa juga bisa menggunakan sihir atribut cahaya…”
“【Экзорцизм низшего уровня】”
Saat
Alisa
melafalkan mantranya,
kali ini cahaya lembut menyelimuti tubuh Maria… dan tiba-tiba meledak.
“……
Eh?”
“Hmm?”
‘Oh?’
Sementara
Alisa, Masachika, dan Yuki memiringkan
kepala mereka, Maria mengerutkan wajahnya dan mengerahkan tenaga pada
tangannya.
“Hmm,
hmm! Hmmmmm~~~!
Masih belum bisa lepas~!”
“Ah…
apa jangan-jangan, itu berarti kita
harus menggunakan sihir yang lebih tinggi untuk menghilangkan kutukan
ini?”
“Ehhh~~~?”
Maria
mengeluarkan suara yang sangat menyedihkan, dan Alisa sedikit cemas tetapi
mengangkat bahu.
“Yah,
lebih baik tidak sembarangan menyentuh peti harta karun.”
“Tidak
apa-apa, Masha-san. Jika dipikir secara game, ini tidak akan membuat kita
terjebak… pasti ada cara untuk menyelamatkan di kota berikutnya. Mungkin.”
“Benarkah?
Apa kamu
beneran
berpikir begitu?”
Senior
berwajah bayi itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, dan kekuatan tatapannya
membuat Masachika sedikit tersentak. Namun, Masachika mengangguk sembari sedikit
menghela napas.
“Mungkin
gereja atau tempat semacam itu? Mereka bisa membantu menghilangkan kutukan…
setidaknya di dalam game.”
“……
Begitu. Ya, jika Kuze-kun bilang begitu, aku akan mempercayainya!”
Dengan
senyuman ceria, Maria tampak lebih bersemangat dan segera berdiri. Namun,
“Uwawawa, ah,
aaah!?”
Saat
mengangkat kedua tangannya dengan semangat, berat tongkat itu membuatnya kehilangan
keseimbangan, dan Maria mulai terhuyung ke belakang—
“Kyah!”
Dia tersandung di tepi peti harta karun yang baru saja
dibukanya, jatuh terduduk dan terjebak di dalam peti kosong itu.
“Eh,
ehhh~~!?
Apa-apaan
ini~!?”
“Pfft”
“Alya-chan! Jangan cuma tertawa dan cepetan tolong bantu aku dong~~!”
“Kuuh,
ahah, hahahaha!”
Dengan
kedua tangannya terikat pada tongkat, Maria tidak bisa berbuat apa-apa dan
hanya menggerakkan kakinya di dalam peti. Melihat penampilannya, Yuki tertawa terbahak-bahak
sambil memegang perutnya.
‘Walah, aduhh, dia benar-benar terjebak… karena
bokongnya yang
besar, dia
pas sekali di dalamnya.’
“Apa sekarang saatnya untuk terkesan?”
‘Kalau
begitu, kenapa kamu tidak membantunya?’
“Eh,
itu…”
Masachika
merasa canggung dan menatap Maria.
Sebenarnya,
penampilan Maria memang agak seksi, terutama bagian paha yang memiliki belahan
besar. Dan sekarang, Maria menendang-nendangkan kakinya dalam pakaian itu, jadi maksud yang ingin disampaikan
Masachika ialah…
(Apa
aman? Bukannya
celana dalamnya bisa kelihatan jika melihatnya dari atas?)
Itulah
yang ada dalam pikirannya.
‘……
Ah, jadi begitu rupanya.
Tenang saja, jika terjadi sesuatu, aku akan melindunginya!’
Sepertinya
Yuki bisa merasakan apa yang ada dalam pikiran Masachika, dia mengambil papan bertuliskan “Aku
tidak bisa menunjukkan ini!” yang
entah dia dapatkan dari mana.
“Baillah, kalau begitu… aku akan menyerahkannya
padamu. Atau,
bisakah kamu
pergi dan lihat?”
‘Baiklah~’
Sambil
melihat Alisa yang sudah tertawa terbahak-bahak sampai berlutut, Yuki melayang menuju Maria dan
mengintip ke dalam peti dari atas.
‘Ah,
sepertinnya tidak masalah~. Kamu tidak bisa melihatnya dengan
jelas karena pahanya. Tapi, asli deh,
paha Masha-san kelihatan montok banget.’
Sambil
berpura-pura tidak mendengar bagian terakhir, Masachika mendekati Maria dengan
sedikit waspada. Dirinya
mempertimbangkan kemungkinan Yuki berbohong… tetapi, ternyata memang tidak
terlihat. Hanya saja, bagian bawah pakaian yang terangkat memperlihatkan
sedikit paha Maria, dan dadanya yang tertekan oleh kakinya terlihat cukup
menggoda.
“Masha-san, aku akan menarikmu keluar, oke?”
“To-Tolong ya~~!”
Tanpa
menunjukkan perasaannya, Masachika menggenggam kedua lengan Maria yang masih
erat memegang tongkat dan menariknya dengan sekuat tenaga. Namun,
“Nuuh,
kuuh—!”
Ternyata
tetap
tidak
bisa. Atau lebih tepatnya, tongkatnya menghalangi sehingga sulit untuk
menariknya.
“Aduh, hati-hati, tongkat itu hampir
mengenai wajahku, apa kamu bisa mengarahkannya
ke samping, Masha-san?
Bukan ke atas, tapi ke samping.”
“Eh,
be-begini?”
“Ah iya, begitu. Oke, siap—!?”
Setelah
memastikan Maria mengarahkan tongkatnya ke samping, Masachika kembali menarik
lengan Maria. Maria juga mencoba mengangkat pinggangnya agar sesusai, tetapi…
“Kuuh,
nuuh—”
“Hmmmm~~~!”
Tubuh Maria masih tetap susah keluar. Masalahnya, peti harta karun
itu cukup dalam dan terikat di tanah, jadi tidak bisa bergerak. Jika tidak
ditarik langsung ke atas, dirinya tidak
akan bisa keluar.
“~~~~! Hah, maaf, Masha-san. Ayo berhenti sebentar
dulu.”
“Ah,
ya…”
Setelah
melepaskan tangan dari lengan Maria, Masachika mulai memikirkan rencana.
“Oi~ Alya! Jangan cuma tertawa terus dan cepetan
bantu aku~”
“Y-Ya, benar. Maaf.”
Saat
Masachika
memanggil
dari belakang, Alisa mendekat sambil menutup mulutnya dan… setelah melihat Maria
lagi, dia
langsung memalingkan wajahnya.
“Pfft~~~~~!”
“Mau sampai kapan kamu tertawa terus…”
“Alya-chan jahat banget~~”
‘Aku
tidak mengerti apa yang ditertawakan Alya-san…’
Mendapatkan
tatapan Masachika yang penuh keheranan dan suara teguran dari kakaknya, Alisa
berdiri di samping Masachika sambil menahan tawa.
“Jadi,
apa yang bakalan kita lakukan?”
“Untuk
sementara, aku akan pergi ke belakang dan menarik lengannya, sedangkan kamu pegang kakinya… eh, tapi tutupnya
menghalangi ya.”
Tepat
ketika Masachika
mempertimbangkan untuk berdiri di tepi peti harta karun dan menariknya lurus ke
atas, Alisa berbicara dengan cemas.
“Ah,
sudahlah!
Ayo
Masha, angkat
tanganmu.”
“Eh?
Baiklah.”
Saat
Maria mengangkat kedua tangannya, Alisa memasukkan tubuhnya di antara kaki Maria,
lalu menyelipkan kedua tangannya dari kedua sisi untuk memegangnya dari bawah.
“Hmm,
angkat!”
“Kyahhh, Alya-chan, jangan pegang bokongku~!”
“Sekarang bukan saatnya untuk mengatakan
hal itu!”
Mengabaikan
suara malu Maria, Alisa menarik tubuhnya ke belakang,
dan dengan kuat menarik tubuh kakaknya keluar. Mereka berdua terjatuh ke
belakang, membuat Maria berakhir menimpa di atas Alisa.
‘Aku
tidak bisa menunjukkan ini!’
“Whoa!”
Pada saat
itu, pakaian
dalam kakak beradik itu secara tak sengaja terlihat, tetapi kehormatan mereka
terlindungi oleh peri yang bisa diandalkan (?). Di saat yang sama, Alisa
berdiri sambil mendorong Maria.
“Hah…
ngomong-ngomong, aku tiba-tiba berpikir… bukannya kita bisa mengatasinya dengan air suci?”
“Eh…?
Ah, entahlah,
aku tidak yakin. Jika sihir Alya
saja tidak berhasil, kurasa air suci
murahan tidak akan membantu… lagipula, aku tidak tahu apakah air suci punya
efek untuk menghilangkan kutukan.”
“Kalau begitu mari kita coba saja. Ayo, Masha, buka mulutmu.”
“Eh?”
Belum
sempat mengatakan apa-apa, Alisa sudah mendekati Maria dengan air suci (yang
sebenarnya adalah cairan putih misterius yang keruh) yang diambil dari menu. Melihat benda itu, Maria tersenyum canggung dan
mundur sedikit.
“Tu-Tunggu sebentar~ Alya-chan. Aku merasa sediki~t ragu untuk meminumnya…”
“Mana mungkin ini akan membuatmu sakit
perut. Ayo cepatlah.”
“Eh,
tunggu—!”
Dengan
kedua tangannya
terhalang tongkat,
Alisa menempelkan mulut botol kaca ke bibir kakaknya dan mencoba memberinya minum.
Namun, mungkin karena terlalu cepat mengangkatnya atau karena Maria menolak
untuk meminumnya, air suci (?) yang keluar dengan deras membuat Maria tersedak
dan tumpah dengan cara yang cukup dramatis.
“Iuh, menjijikkan—”
“Uhuk, uhuk… ueeh, jadi berceceran mengenai wajahku!”
“Ah,
m-maaf…”
“Ugh…
rasanya asin.”
“Asin!?
Padahal itu air suci!?”
Cairan putih
keruh itu mengalir di wajahnya dari mulut hingga matanya, Maria menunjukkan ekspresi yang seolah-olah berjuang menahan rasa tidak
nyaman.
‘Oh!
Screenshot! Di mana tombol screenshotnya sih?’
‘Apa
yang sedang kamu bayangkan oi!?’
‘Kuh,
seperti yang diharapkan dari gadis terseksi OSIS… tidak ada yang bisa
mengalahkan momen ini.’
‘Siapa
yang… eh? OSIS?’
‘Hmm?’
“……
Yah, tidak, lupakan saja…”
Karena
dia tidak bisa menyekanya dengan
tangan akibat tongkat sihir terkutuk itu, dan ragu untuk menyekanya dengan
pakaiannya, Maria memejamkan
matanya dan menengadah sambil mengatupkan bibirnya, pemandangan itu
tampaknya
Yuki bersemangat. Meskipun Masachika menatapnya dengan tatapan skeptis, karena ia tidak memiliki sapu tangan atau
tisu, jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Alisa juga tampak bingung dan tidak
tahu harus berbuat apa… tetapi untungnya, sistem memberikan penilaian bahwa “air
suci telah disemprotkan,” sehingga air suci yang menempel di wajah Maria
segera menghilang dengan suara desis.
“Ah,
hilang…”
“Sudah hilang, ya… jadi, bagaimana? Masha-san?”
“Eh…?
Hmm~
tetap saja tidak bisa lepas~”
“Ah,
jadi begitu…”
“Maaf…”
“Ah,
tidak apa-apa kok,
Alya-chan. Ini adalah usaha terbaikmu
untuk membantu.”
Saat
Alisa menyesali tindakan tersebut, Maria berusaha menyampaikan bahwa dia tidak
perlu khawatir. Masachika membersihkan tenggorokannya untuk mengubah
suasana.
“Kalau
begitu… sampai kita sampai ke kota berikutnya, aku akan berada di depan untuk
melindungi Masha-san,
dan Alya
akan berjaga
di bagian
belakang.”
“Sepertinya
itu ide yang baik.”
“Uuh,
maaf ya~?
Aku merasa bersalah.”
Maria
menundukkan bahunya dengan sedih, dan Masachika tersenyum kecil untuk
menghiburnya.
“Yah,
jika kita bisa menyadari potensi bahaya peti harta karun di awal, itu sudah
bagus… Ngomong-ngomong, di mana tongkat asli Masha-san?”
“Eh…?
Ah, ngomong-ngomong…”
“Tidak
ada, ya?”
Ketiganya
melihat sekeliling, dan saat mereka memiringkan kepala dengan kebingungan, Yuki bersuara dari bahu
Masachika.
‘Sepertinya,
tongkat itu menghilang ketika Masha-san mengenakannya, jadi mungkin
sudah otomatis kembali ke inventarisnya?’
“Eh,
serius?”
Setelah diberitahu
demikian,
Masachika memeriksa layar
menu, dirinya
melihat nama tongkat suci terdaftar di inventaris Maria.
“Hee, praktis banget. Aku tidak tahu bagaimana cara
kerjanya… tapi setidaknya, tidak ada kewajiban untuk meninggalkan peralatan aslinya akibat item
terkutuk.”
Sambil
merasa puas, Masachika mencoba kembali ke jalan semula menuju jalan setapak
hewan—
“!
Kuze-kun!”
Tiba-tiba,
Alisa terkejut dan berseru… tidak lama kemudian, goblin muncul dari semak-semak
di sekitar mereka.
“‘Gya
gyaa!’”
“Eh—”
Dalam
sekejap, mereka dikepung oleh musuh, dan pikiran Masachika langsung
menghubungkan fenomena ini dengan pengetahuannya sendiri.
“Monster House!?”
Ini
adalah salah satu jenis jebakan umum dalam game. Salah satu jebakan berbahaya yang dapat
membunuh seluruh kelompok
tergantung pada monster yang muncul, menjebak manusia yang tertarik pada peti
harta karun.
(Mengapa
di saat seperti ini… tidak, setelah menghilangkan peralatan terkutuk, mungkin
tingkat bahayanya meningkat!)
Sambil
menganalisis di dalam kepalanya, tubuh Masachika sudah memilih tindakan terbaik
untuk keluar dari situasi ini.
“Hmph!”
Setelah
melangkah kembali ke jalan setapak, Masachika mengayunkan buku sihirnya ke arah
goblin yang menghalangi di depannya.
“Gyaa!”
Tanpa
memperhatikan goblin yang mengeluarkan teriakan khasnya sebelum menghilang,
Masachika menoleh ke belakang dan memanggil Maria.
“Masha-san! Ayo pergi duluan—”
‘Master!’
Mendengar
suara Yuki yang bergema di kepalanya, Masachika secara refleks berbalik lagi ke
depan. Dan saat ia melihat goblin-goblin yang muncul dari jalanan kecil, rasa bahaya yang luar
biasa melanda dirinya.
(Gawat, aku tidak bisa membiarkan Masha-san melarikan diri!)
Dirinya dengan cepat menghantamkan buku sihirnya ke goblin yang
menyerang tanpa henti, dan pada saat gelombang serangan terputus, Masachika
melancarkan tendangan dengan sekuat tenaga.
“Fhhmp!”
“Gya!”
Goblin
yang terkena tendangan terbang ke belakang dan menabrak goblin di belakangnya,
membuatnya terjatuh. Sambil menangkap momen itu di sudut matanya, Masachika
segera berbalik.
“Masha-san—”
Namun,
apa yang dilihatnya saat berbalik justru pemandangan di mana
goblin-goblin menyerang dari segala arah menuju kakak beradik yang berdiri
bersisian.
(Aku takkan sempat—)
“Tidak~~~! Jangan mendekat~~~!”
Maria
mengayunkan tongkatnya dengan keras. Suara dentuman bertubi-tubi dari efek
kerusakan muncul. Tak
lama kemudian, teriakan goblin yang bersamaan dan efek hilangnya monster
terdengar.
“……”
“Tidak~~! Tidak~~~~!”
Maria
mengayunkan tongkatnya secara sembarangan sambil memejamkan
matanya.
Goblin-goblin yang tampak seperti lelucon terbang dan menghilang. Sebuah celah
besar terbuka di tengah kepungan mereka.
‘Hei,
hei… bukannya
kecepatan penghabisan Masha-san lebih cepat daripada Alya-san?’
Sambil
tertegun melihat pemandangan itu, Masachika merasakan bentakan di punggungnya
dan ketika ia berbalik, goblin-goblin lainnya muncul dari jalan setapak.
“……”
Tanpa
berkata-kata, Masachika melanjutkan untuk menghantamkan buku sihirnya ke dahi
goblin satu per satu. Jumlah
goblin semakin berkurang dalam sekejap.
‘Kenapa dua orang dari peran belakang malah menjadi petarung
garis depan juga?’
Di
dalam situasi Monster House yang tiba-tiba berubah menjadi
tempat eksekusi goblin, Yuki mengeluarkan suara terkejut.
◇◇◇◇
Dan begitulah, kelompok yang kini memiliki dua
pengguna
senjata tumpul
melanjutkan perjalanan mereka sambil mengusir musuh-musuh dan bergerak maju di
padang rumput… dan mereka dengan
cepat tiba di kota berikutnya.
“……
Bukannya
ini aneh?”
“Kita pasti tidak berjalan sejauh ini…”
Sambil
menoleh ke belakang ke padang rumput yang luas, Masachika dan Alisa dengan
tenang mengomentari situasi tersebut.
Dengan
merasakan waktu sekitar satu jam sejak keberangkatan dari ibu kota, tempat itu
kini sudah tersembunyi di balik cakrawala. Ya, termasuk waktu bertarung,
rasanya memang satu jam. Meskipun seharusnya mereka berjalan kaki melintasi
padang rumput yang luas, ketika menyadarinya, mereka sudah melewatinya. Rasanya
seperti mereka tiba-tiba melakukan teleportasi. Atau mungkin…
‘Kita
sudah berpindah wilayah.’
“Sudah kuduga begitu ya?”
“?
Apa maksudnya?”
“Tidak,
aku berpikir… mungkin kita telah mengalami area change. Mungkin setelah
dinyatakan berhasil melewati area padang rumput, kita langsung dipindahkan ke
area berikutnya… atau lebih tepatnya ke kota. Jika dipikir-pikir, kelompok
goblin dan serigala besar yang kita hadapi tadi, apa itu dianggap sebagai bos?”
Sembari menambahkan
penjelasan, Alisa yang tampaknya tidak memiliki banyak pengalaman bermain game
hanya mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala. Saat itu, Maria mengangkat
jari telunjuknya dan berkata,
“Itu loh, dalam pertunjukan teater, latar
belakang seringkali berubah secara tiba-tiba, bukan? Mungkin rasanya kurang lebih
seperti itu?”
“Tidak,
yang itu sepertinya berbeda…”
“Ah,
mungkin aku sedikit mengerti…”
“Kamu memahaminya?”
Dengan
perbandingan unik dari Maria, Alisa menunjukkan tanda-tanda persetujuan.
Sementara Masachika melihat dengan ekspresi yang sedikit bingung, Yuki
mengangguk sambil menyilangkan kedua lengan.
‘Permainan
yang lancar, luar biasa sekali.’
“Malahan terlalu lancar… meskipun di
dalam game, biasanya di awal kita bisa langsung pergi ke kota berikutnya,
tergantung pada permainan, bahkan bisa menyelesaikan cerita utama dalam waktu
sekitar sepuluh jam… tapi jika dipikirkan dengan tenang, yang begituan juga terdengar aneh.”
Meskipun
seharusnya mereka menjelajahi dunia yang luas, perjalanan yang cuma berakhir dalam beberapa jam
jelas-jelas aneh. Artinya, ada
banyak waktu perjalanan yang terpotong di berbagai tempat.
“Setelah
mengalaminnya
seperti ini… rasanya benar-benar
seperti kebetulan, atau semacam ketidakcocokan dalam dunia game ini.”
“Hmm~~ orang-orang di kastil mengatakan
bahwa untuk sampai ke kastil raja iblis, kita harus melewati tujuh kota, ‘kan? Dengan kecepatan seperti ini, kita mungkin bisa sampai ke
kastil raja iblis dalam sehari~.”
“Yah,
mungkin karena ini baru
area awal, jadi tingkat kesulitannya lebih rendah… dan tentu saja, ketika malam
tiba, kita harus menginap di kota, jadi tidak mungkin dalam sehari.”
Setelah
mengatakan itu, Masachika menambahkan, “Namun, aku juga meragukan apa kita bisa
tidur di tempat yang kita inapi.”
Ngomong-ngomong,
sebenarnya hanya ada empat
tempat yang bisa disebut sebagai kota, setelah itu akan menjadi benteng atau
pos. Kota keempat berbatasan dengan perbatasan, dan di luar sana merupakan wilayah monster di mana manusia
tidak memiliki kekuasaan. Dan itu akan menjadi medan perang melawan ras
iblis.
“Baiklah,
mari kita pergi sejauh mungkin sebelum matahari terbenam.”
“Setuju.”
“Oke~”
Saat
mereka berdiskusi dan hendak memasuki kota, seorang penjaga yang berdiri di
samping gerbang tiba-tiba memanggil mereka.
“Eh,
kalian…
jangan-jangan itu item terkutuk?”
“Eh—?”
Tepat
ketika mereka berencana mencari cara untuk menghilangkan kutukan di kota ini,
sebuah event (?) yang tampaknya bisa menjadi petunjuk muncul, dan Masachika
serta yang lainnya berhenti.
“Item
terkutuk tidak bisa digunakan untuk peralatan lain kecuali dihilangkan
kutukannya. Jika kamu
ingin menghilangkan kutukan di kota ini, sebaiknya kalian harus mengunjungi Kuil Penyucian.”
“Kuil
Penyucian… di mana tempatnya?”
“Oh,
terus jalan lurus di jalan itu, ketika kamu
melihat toko senjata di sebelah kanan, belok kanan di sudut sebelum itu. Tapi
ingat, Kuil Penyucian dilarang untuk wanita.”
“Dilarang
untuk wanita…? Baiklah, aku akan mencoba pergi. Terima kasih.”
“Terima
kasih.”
“Terima
kasih, pak Prajurit.”
Setelah
membungkuk kepada penjaga yang telah memberikan penjelasan dengan baik, ketiga
orang itu melangkah melewati gerbang.
“Hmm,
jadi, mari kita langsung pergi ke Kuil Penyucian itu?”
“Eh?
Tapi, tempat itu
dilarang untuk wanita, kan?”
“Jika
kita pergi, mereka mungkin tetap tidak bisa menghilangkan kutukan…”
Mendengar
pertanyaan dari kakak beradik itu, Masachika mengangkat jarinya dengan semangat
seolah ingin mengatakan, “Bagus sekali kalian bertanya.”
“Tidak,
kurasa
mungkin
ini hanya
quest pengantaran.”
““Quest pengantaran?””
“Seperti yang biasa
terjadi di
dalam game, di mana menyelesaikan masalah atau permintaan dari penduduk kota
akan memberikan item yang diperlukan untuk melanjutkan cerita…Kurasa ini juga salah
satunya,
meskipun awalnya dilarang untuk wanita, kita pasti bisa masuk setelah memenuhi
beberapa syarat.”
“Hmm?
Yah, memang aneh jika bantuan hanya tidak bisa
digunakan oleh wanita…”
“Kalau
begitu, mari kita coba pergi ke sana~”
Dengan
begitu, mereka bertiga melanjutkan perjalanan mengikuti petunjuk dari prajurit penjaga, dan di depan mereka
terlihat kuil megah dengan tiang-tiang besar.
“Uwahh, ini luar biasa…”
“Tempat
yang indah sekali~”
“Umm, apa kita beneran boleh masuk…?”
Alisa
memandang ke sekeliling, tetapi tidak ada tanda larangan bagi wanita untuk
masuk dan tidak ada pengawas yang terlihat.
“Hmm?
Mungkin, secara sistem, kita tidak bisa masuk… terhalang oleh dinding
transparan, atau hanya wanita yang tidak bisa masuk?”
‘Eh, lalu bagaimana denganku?’
“Ah,
benar juga.”
Karena
Yuki yang tidak terlihat oleh orang lain dan bukan manusia, tapi tetap berjenis
kelamin perempuan, Masachika mulai merasa bingung.
(Sebenarnya,
apa dia beneran
aman untuk masuk ke kuil ini?)
Sambil
melihat penampilan Yuki
yang tampak seperti iblis, Masachika memanggil kedua temannya di
belakangnya.
“Yah,
setidaknya
mari kita
coba masuk dulu.”
“……
Baiklah, ayo
kita coba saja.”
“Ya,
jika kita dimarahi, kita bisa meminta
maaf.”
Sambil
saling mengangguk, ketiganya melangkah masuk ke dalam kuil…
“……
Kita bisa masuk.”
“Kita
benar-benar bisa masuk.”
“Hmm,
iya~”
Tanpa
terhalang oleh dinding transparan atau dihentikan oleh tentara, mereka bertiga… dan juga Yuki, dengan mudah
memasuki kuil.
“Uwah~ indah sekali~”
Maria
mengagumi jendela kaca patri di atas kepala mereka. Masachika pun mengangkat
pandangannya dan mulai mengagumi jendela kaca patri satu per satu… dan di depan
altar yang tepat di depan mereka, ia bertemu tatapan dengan seorang pemuda
berpakaian pendeta, dan kakinya terhenti.
“……
Hikaru? Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
Seorang
pemuda tampan dengan penampilan androgini yang sangat dikenalnya. Mendapati keberadaan Kiyomiya Hikaru, pikiran
Masachika membeku sejenak...…
“Kiyomiya-kun…?”
Saat
mendengar suara Alisa di sampingnya, ia kembali tersadar dan berbagai hal mulai
terhubung di pikirannya.
“Eh?
Oh, jadi begitulah maksudnya dari Kuil Penyucian? Istana Suci? Kenapa bisa begini? Tunggu,
jangan bilang ini karena kamu
benci wanita!?”
“Eh,
bisa tolong jangan bawa wanita ke sini? Ini adalah tempat yang dilarang untuk
wanita.”
“Jadi alasannya beneran cuma itu saja!?!”
Melihat
sahabatnya (?)
yang tampak enggan dan memalingkan wajahnya,
Masachika memberikan komentar yang tajam.
Setelah
mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, ia kembali berbicara dengan
nada formal seolah-olah ini adalah pertemuan pertama mereka.
“Maaf, permisi, saya mendengar bahwa kami bisa menghilangkan kutukan di
sini?”
“Eh,
ah, sebenarnya aku sudah menghilangkan kutukan itu, jadi apa kalian bisa keluar sekarang?”
“Hah?”
Saat
mendengar perkataannya, Masahika pun berbalik, melihat tongkat yang dipegang Maria
diselimuti cahaya lembut, dan dalam sekejap menghilang.
“Wahh, itu menghilang~”
“……
Melihat cara menghilangnya, sepertinya itu masuk ke dalam inventaris Masha-san.”
“Eh?
…… Oh iya,
beneran~”
“Eh,
jangan sembarangan mengeluarkannya. Sepertinya setiap kali dipakai,
itu akan terkutuk.”
“Ah,
benar juga…”
“Jadi,
jika urusan kalian sudah
selesai, apa kalian bisa pergi sekarang…?”
Masachika
berbalik ke arah sahabatnya yang ragu-ragu memanggilnya dari belakang, sambil
menggaruk kepalanya.
“Umm, Hikaru… apa benar namamu begitu?”
“Eh?
Oh, ya, namaku memang Hikaru…”
Setelah
melihat teman lamanya, yang tampaknya sudah sepenuhnya beradaptasi dengan dunia
ini, Masachika dengan hati-hati bertanya.
“Yahh, maafkan aku kalau ini
permintaan tiba-tiba,
tapi… maukah kamu
bergabung dengan kami dan melakukan perjalanan bersama?”
Meskipun
tampaknya mustahil
untuk Chisaki, Masachika berpikir bahwa mungkin Hikaru bisa ikut menemani mereka… dan mencoba mengajaknya bergabung.
“Aku,
tidak begitu suka dengan perempuan.”
“Ah,
iya.”
Seperti
yang diperkirakan, penolakan itu membuat Masachika tidak bisa berkata lebih
banyak dan hanya bisa menyerah.
◇◇◇◇
Setelah
itu, dengan keputusan untuk bergerak secepat mungkin, mereka bertiga hanya melakukan penukaran drop item, membeli item konsumsi, dan
memperkuat peralatan, lalu segera meninggalkan kota untuk menuju kota
berikutnya. Kemudian… setelah sekitar tujuh jam terasa berlalu.
Tanpa menghadapi masalah besar, mereka melewati
kota kedua dan ketiga dengan lancar sambil menunjukkan kekuatan status melalui
buku sihir, dan ketika kota keempat mulai terlihat… kemajuan Masachika dan yang
lainnya terhenti.
“Uwooooaahhhhh!?”
Tanpa
waktu untuk melakukan gerakan samping, Masachika
menghindari dengan berlari kencang dari tongkat besar yang diayunkan dari
atas.
Tongkat
sepanjang tiga meter dan lebar lima puluh sentimeter, dengan duri-duri tajam di
permukaannya, mengguncang tanah dengan suara dentuman yang dalam. Dengan kekuatan
yang seolah bisa menghancurkan tubuh mereka menjadi serpihan, Masachika
merasakan ketakutan menyelimuti punggungnya.
“Tidak, tidak, ini terlalu menakutkan! Harus melawan raksasa dengan gada besi! Tiba-tiba tingkat kesulitannya
meningkat drastic banget oi!?”
Seraya terjepit
di antara tebing di kiri dan kanan, di pintu keluar lembah yang kering, mereka
dihadapkan pada monster
cyclops dengan kulit merah kehitaman dan tinggi sekitar lima meter. Masachika tak kuasa menadan diri
untuk berteriak.
Sepertinya cyclops itu bereaksi terhadap teriakannya, mengangkat tongkatnya
dengan perlahan dan menatap Masachika dengan mata besarnya.
“Geh.”
“GAAAHHH!”
“Uhiii!?!”
Masachika
menghindar dari serangan gada besi yang diayunkan dari atas dengan suara yang
menyedihkan, melemparkan tubuhnya ke tanah.
Suara
berat melintas di atas kepalanya, dan dengan angin kencang yang menghantam
punggungnya, Masachika berusaha menjauh dari cyclops dengan menggulingkan
tubuhnya.
Setelah
merasa sudah cukup jauh, dirinya
bangkit dan memeriksa cyclops—cyclops itu melepaskan satu tangan dari
tongkatnya dan mengarahkan telapak tangan terbuka ke arahnya, membuat Masachika
merasa tidak nyaman.
“Jangan
bilang…”
*Fireball!*
Suara
berat yang terdengar seolah berasal dari dasar jurang. Diikuti dengan suara ledakan
udara, Masachika sudah berlari menjauh.
“Dia bisa menggunakan sihir!? Dan kenapa dalam bahasa
Inggris!?”
‘Mungkin karena sihir ras iblis berbeda dari sihir
manusia? Entahlah, aku juga tidak tahu.’
“Kamu sih enak saja!”
Masachika
berteriak kepada Yuki yang tampak santai, sambil menarik tudung jubahnya untuk
melindungi kepalanya dan berlari sekuat tenaga. Di belakangnya, bola api
meledak, dan gelombang panas membakar punggung jubahnya.
“Whoaaaaaa!?”
Sambil merasakan panas perlahan di punggungnya, Masachika melihat bar HP di sudut kanan
pandang yang tidak menunjukkan perubahan. Mungkin, jubah ini dan perisai yang Maria
berikan melindunginya dari kerusakan panas.
“Eeei!”
Ketika
Masachika mengalihkan pandangannya ke arah suara teriakan yang terdengar, ia
melihat Alisa sedang menyerang cyclops yang telah melepaskan sihir ke
arahnya.
Namun,
saat Alisa mencoba memotong bagian betis cyclops, monster cyclops itu dengan cepat menarik
kakinya dan berhasil menghindar dengan mudah.
“Ah,
ups?”
“【Зацушит Наясучина】!”
Suara
tajam Maria terdengar dari belakang. Segera setelah itu, sebuah dinding cahaya
muncul di antara Alisa dan cyclops, memantulkan serangan cyclops dengan
sempurna. Karena reaksi tersebut, cyclops terhuyung beberapa langkah mundur. Hal tersebut jelas-jelas kesempatan untuk menyerang,
tetapi melihat kaki besar yang menghantam tanah dengan keras, baik Alisa maupun
Masachika tidak bisa melangkah maju. Jika mereka mendekat, mereka bisa saja
diinjak oleh kaki itu… Akibatnya, tercipta keadaan terjebak selama beberapa
detik.
“Tidak…
ini jelas mengasumsikan bahwa barisan belakang berfungsi dengan baik.”
Gumam Masachika
dan alasannya memang masuk akal. Cyclops ini berbeda dalam
segala hal dibandingkan dengan musuh yang mereka hadapi sebelumnya.
Pertama,
tubuhnya yang raksasa. Musuh terbesar yang pernah mereka lawan sebelumnya
adalah harimau raksasa dari area sebelumnya. Monster itu juga memiliki panjang lebih dari
empat meter, tetapi pada akhirnya, itu adalah hewan berkaki empat. Saat
menyerang dengan gigitan, kepala yang menjadi titik lemah berada di depan,
sehingga masih lebih mudah untuk dilawan.
Sementara
itu, monster cyclops
ini berjalan dengan dua kaki. Ukurannya membuat lutut cyclops berada pada
ketinggian kepala Masachika, jadi bukan hanya kepala, bahkan jantungnya pun
tidak bisa dijangkau oleh senjata. Belum lagi, monster itu membawa senjata dan menggunakan
sihir.
(Monster semacam ini
biasanya mempunyai titik lemah di bagian matanya… tapi itu tidak bisa dijangkau. Bagaimana aku
memikirkannya,
pola musuh begini biasanya harus menggunakan profesi tank dengan perisai berat
menahan serangan sementara serangan jarak jauh diarahkan ke mata… tunggu,
serangan jarak jauh?)
Masachika
tiba-tiba menyadari dan tanpa sengaja melihat ke arah Alisa. Pada saat itu,
cyclops yang sudah memperbaiki posisinya mengangkat kedua tangannya dan
mengaum. Melihat arah tatapannya menuju ke belakang… ke Maria yang telah
memantulkan serangannya dengan sihir, Masachika segera memutuskan untuk
bertindak.
“Alya! Sambil melindungi Masha-san, coba serang matanya dengan sihir! Aku
akan menarik perhatiannya!”
“Eh…”
“Cuma kamu satu-satunya yang memiliki
serangan jarak jauh! Tolong!”
Begitu
selesai mengatakannya, Masachika langsung melompat di hadapan Cyclops tanpa menunggu jawaban
Alisa.
“Datanglah…
aku yang akan melawanmu!”
Di hadapan monster cyclops
yang mengangkat gadanya dan menyerang
ke arahnya dengan dentuman keras, Masachika menggertakkan giginya, berusaha
keras menekan rasa takutnya.
(Tidak
apa-apa, aku harus tenang… aku memiliki pengalaman yang didapat sepuluh
kali lipat! Level dan statusku saat ini pasti jauh di atas nilai yang sesuai
untuk melawan monster ini! Selain itu, monster ini bukan tipe pejuang murni. Karena
menggunakan sihir, kekuatan tempurnya dalam pertarungan jarak dekat pasti lebih
rendah dibandingkan dengan pejuang murni! Artinya, tidak peduli seberapa besar
perbedaan ukuran atau seberapa menakutkannya penampilannya…)
Secara
angka, aku seharusnya bisa bertarung secara langsung!
Dengan
setengah menghipnotis dirinya sendiri, Masachika menurunkan pinggangnya dan
menggenggam buku sihirnya erat-erat. Kemudian,
“GAAAAAH!”
“Uoooooooooh!”
Masachika
menghantamkan buku sihirnya dengan sekuat tenaga ke arah tongkat yang diayunkan
oleh cyclops.
Tongkat
yang diayunkan dengan gerakan menyapu untuk menghilangkan rintangan. Dalam
gerakan seperti pelempar bola, ia menghantamkan buku sihirnya dengan kekuatan
penuh ke arah massa logam yang mengerikan yang mendekat.
Benturan
yang dihasilkan pada titik kontak akan dengan mudah menyebabkan patah tulang
kompleks pada lengan kanan Masachika jika ini adalah kenyataan. Namun,
perhitungan kerusakan di dunia ini dilakukan dengan rumus sederhana seperti
dalam permainan kartu. Artinya, ketika serangan saling bertabrakan, pihak yang
menghasilkan jumlah kerusakan lebih besar akan memberikan kerusakan tambahan
kepada lawan. Meskipun seberapa besar dampak kerusakan
akhirnya tergantung pada kekuatan pertahanan lawan dan titik yang terkena… yang
terpenting ialah, ketika serangan fisik murni
bertabrakan, hanya satu pihak yang akan menderita kerusakan. Dalam pengertian
ekstrem, meskipun dipukul dengan tongkat besar atau dihantam dengan meteor
raksasa, jika dirinya
bisa membalas dengan kekuatan yang lebih besar, dirinya tidak akan menerima
kerusakan.
“Terbanglahhhhhh!”
Saat
Masachika mengayunkan buku sihirnya, tongkat cyclops terlempar jauh, dan bar HP
yang muncul di atas kepalanya berkurang sedikit. Sementara itu, bar HP
Masachika tetap penuh.
“Ha!
Ha! Ha! Lihatlah kekuatan cheat pengalaman ini! Menyerang adalah pertahanan terbaik! Tidak
perlu tank! Mahardika pemukul
ini akan menunjukkannya padamu apa itu tank pemukul!”
Sembari
menyembunyikan rasa takut di dalam hatinya, Masachika berusaha menunjukkan
keberanian. Suaranya sedikit parau, tetapi itu dianggap sebagai pesona.
‘Suara serakmu terdengar aneh lol.’
“Berisik”
“【Баришер Ястрилер】!”
Bersamaan dengan
suara Alisa dalam bahasa Rusia, sebuah batu
berbentuk panah diluncurkan dari belakang Masachika.
‘Woahh~ hebat! Seperti proyektil.’
Sementara
Yuki melihat dengan kagum, batu yang terbang dengan kecepatan lambat itu segera
menarik perhatian cyclops. Cyclops itu hanya sedikit memiringkan kepalanya
untuk menghindar.
“Ah,
meleset—”
“Tidak,
teruskan saja! Meski
aku bilang untuk menargetkan matanya,
tapi lebih baik dengan area yang lebih luas! Setiap kali aku menyerang,
tembakkan ke arah kepalanya!”
“Baik,
aku mengerti!”
“Masha-san, apa kamu bisa menghalangi jalannya
dengan dinding pertahanan jika dia bergerak ke arahmu? Selain itu, hati-hati dengan
sihirnya!”
“Ah,
ya!”
Sambil
memberikan instruksi kepada kedua temannya, Masachika dengan hati-hati
mengamati sikap cyclops. Untungnya, mata tunggal cyclops beralih ke arah
Masachika. Mungkin karena sihir Alisa tidak mengenai sasaran, tapi tampaknya di
antara mereka, Masachika memiliki tingkat kebencian yang lebih tinggi dari
cyclops.
(Jika
dipikirkan dalam konteks permainan… tindakan untuk menarik kebencian monster bisa dengan memberikan kerusakan dan
melakukan penyembuhan, kan? Jika ada keterampilan provokasi, tentu saja bisa
dengan cepat menarik kebencian…)
Sayangnya,
Masachika tidak memiliki keterampilan seperti itu. Dalam situasi ini, mengelola
nilai kebencian menjadi jauh lebih sulit.
“Yah,
sambil menggunakan item penyembuhan… aku
tidak punya pilihan lain selain mengatasinya sendiri!”
Sembari
mengatakan
itu dengan lantang, Masachika menatap balik mata cyclops. Meskipun
merasa tertekan oleh aura menakutkan yang mendekat bersamaan dengan tongkat besarnya, dirinya berhasil memukul balik dengan buku
sihirnya.
Dari
sana, pola serangan dan pertahanan yang cukup teratur mulai berlangsung. Karena
masalah jangkauan, Masachika tidak dapat menyerang lebih dulu, jadi dirinya lebih fokus untuk menghadapi serangan
cyclops. Setiap kali mereka bertarung, Alisa menembakkan sihir ke arah kepala
cyclops, sementara Maria melindungi dengan sihir setiap kali cyclops
menggunakan serangan.
Karena kedua belah pihak
tidak mampu memberikan pukulan telak, Masachika mulai merasa bahwa
ini akan menjadi pertempuran yang panjang… tapi tiba-tiba sesuatu yang tak
terduga terjadi.
“Gyaaaaaaahhhhhhhhhh!!”
“Eh—”
Alisa
melepaskan mantra sihir berelemen air. Itu adalah mantra yang hanya melemparkan
sejumlah besar air ke arah cyclops; kekuatannya tidak terlalu tinggi. Mungkin
Alisa berusaha mengubah keadaan yang terjebak, jadi dia melepaskan sihir itu dalam
keadaan terdesak… Namun, begitu air menyentuh permukaan tubuh cyclops,
terdengar suara mendesis dan asap mulai muncul.
“Ap-Apa…?”
“Begitu ya, jadi itu
kelemahannya!
Monster
ini lemah
terhadap air!”
Jika
dipikir-pikir kembali,
dengan menggunakan sihir elemen api dan memiliki kulit merah kehitaman, hal itu seharusnya sudah menjadi
tanda. Merasa bodoh karena tidak menyadari hal ini sebelumnya, Masachika segera
berlari ke depan dan menghantamkan buku sihirnya dengan keras ke betis kanan
cyclops yang kesakitan. Setelah itu, ia mundur dengan cepat dan memanggil Alisa
di belakangnya.
“Bagus! Mulai sekarang, coba serang dengan sihir elemen air!
Jangan terlalu berlebihan, karena itu akan menarik perhatian kebencian ke
arahmu!”
“Baik,
aku mengerti!”
Inilah
titik balik yang benar-benar mengubah jalannya pertempuran. Ternyata kulit
cyclops tidak hanya menerima kerusakan saat terkena air, tapi ketahanannya juga
ikut menurun, sehingga serangan jarak
dekat Masachika mulai mengurangi HP cyclops dengan cepat. Selain itu, setiap
kali terkena air, cyclops akan terhenti sejenak, sehingga situasinya menjadi
sangat menguntungkan mereka.
Setiap kali Alisa menyerang dengan sihir
elemen air dan cyclops terkejut, Masachika memukulnya dengan buku sihir. Ketika
efek terkejut itu hilang, Alisa kembali menembakkan sihir. Pola tersebut terus terjadi berulang kali.
“Astaga, begitu kita mulai memahami
polanya, bukannya monster ini
cuma seperti
bos yang lemah, ya?”
Merasa
sedikit bersalah karena sepertinya mereka sedang menganiaya monster, Masachika
kembali menghantamkan pukulan ke betis cyclops yang terkejut.
Bangg!!
Namun,
ia merasakan sesuatu yang aneh dari dampak tersebut.
“Hmm?
Kenapa terasa keras—”
“Kuze-kun!”
“Cepat mundur! Ada sesuatu—”
Peringatan
dari kakak beradik di belakangnya segera dipahami Masachika. Di hadapannya, kaki merah kehitaman
cyclops tiba-tiba berubah menjadi biru, dan bulu-bulu tubuhnya berdiri
tegak.
(Gawat—)
Setelah menyadari perubahan itu,
Masachika menarik kembali buku sihirnya dan melompat mundur… tapi dirinya terlambat satu langkah.
“Guaaahhhhhhhhhhhhhh!!”
Suara
teriakan yang menggema di telinga. Ketika Masachika
mengalihkan pandangannya,
ia melihat efek berbahaya yang muncul di tanduk cyclops yang berwarna biru
kehitaman.
Tanpa
sempat berpikir, sambaran petir yang dilepaskan dari tanduk tersebut menjatuhi
seluruh area di sekitar cyclops. Dan Masachika, dalam jarak yang sangat dekat,
terjebak dalam serangan itu.
“Gahhhhhhhh!”
Efek kejut seketika langsung menjalar di sekujur
tubuhnya. Pada saat yang bersamaan, semua inderanya terasa menjauh dengan
cepat.
(Ba… haya… badanku…mati rasa....!)
Masachika
tidak bisa mendarat dengan sempurna sehingga badannya jatuh terlentang . Dalam proses itu, ia melihat
bar HP cyclops, yang bagian bawahnya lenyap sepenuhnya, sementara bagian
atasnya tinggal setengah.
(Sial, seharusnya aku tahu… ketika HP tersisa seperempat, elemen serangannya akan berubah!)
“【Ачитсусиэ────】”
Maria mulai melafalkan mantra setelah beberapa detik, menyadari bahwa anggota partynya terkena status abnormal. Namun, hampir bersamaan dengan itu, cyclops mengarahkan jari telunjuk kanannya ke arah Maria.
“【Зацетная──】”
Menyadari
serangan sihir yang akan datang, Maria secara refleks mengubah mantra yang
sedang dilafalkannya.
‘Mohon berhati-hatilah
saat melafalkan mantranya, karena jika tidak diucapkan dengan tepat, ada risiko
sihir akan meledak.’
Dia benar-benar melupakan nasihat yang disampaikan di kastil
kerajaan. Akibatnya,
“Ah!?”
*Blitz*
Dengan
suara yang menggelegar seperti udara meledak, sambaran petir yang menyembur
dari jari cyclops mendekati Maria. Demi
menghalanginya, Alisa berdiri di depan—tapi ini juga merupakan kesalahan
fatal.
“Uwahhhhhhh!”
Dengan
guncangan yang menghantam seluruh tubuhnya, Alisa yang seharusnya seorang
pahlawan, berhasil bertahan dan tidak jatuh. Namun,
“Ah!”
Sihir
petir itu
menembus Alisa dan menyambar
Maria di belakangnya. Dan entah karena masalah ketahanan terhadap status
abnormal atau karena keberuntungan yang buruk, Maria pun terjatuh karena
terjebak dalam keadaan lumpuh, sama seperti Masachika.
(Bahaya…!)
Masachika
menyaksikan pemandangan itu seraya terbaring
telentang di tanah, lalu
perasaan malapetaka yang akan datang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dua dari tiga anggota partynya terjebak dalam keadaan lumpuh. Satu-satunya yang tersisa juga dalam keadaan kaku. Jika Alisa selamat, dia bisa menggunakan item untuk menyembuhkan Maria, dan sihir Maria bisa menyembuhkan Masachika. Namun, karena Alisa tidak menyadari bahwa sihir elemen petir memiliki efek menembus, dia sendiri terjebak dalam serangan tersebut, dan kemungkinan itu hilang. Dalam keadaan ini, tidak ada cara untuk mencegah serangan cyclops berikutnya.
*Enchant: Thunder*
Pada
saat itu, mantra yang menakutkan semakin memicu rasa cemas Masachika lebih jauh. Ia melihat
tongkat yang dipegang cyclops bergetar hebat dengan energi listrik.
“!!!”
Mantra sihir
yang memberikan efek elemen
pada senjata, memberikan kerusakan tambahan saat menyerang. Jika ia mencoba
menghadapi dengan buku sihir seperti sebelumnya, ia pasti akan terkena
kerusakan petir dan lumpuh.
(Kumohon… setidaknya ke arah sini…!)
Permohonan
Masachika tampaknya sia-sia, karena monster
cyclops mengalihkan pandangannya ke Alisa dan Maria. Sembari meneriakkan
raungan yang
menggema, ia mulai menyerang dengan ganas.
‘Bangkitlah, master! Efek kelumpuhannya sudah
hilang sekarang!’
“!!”
Bersamaan
dengan teriakan Yuki yang terdengar di pikirannya, Masachika segera melompat
bangkit. Dengan
sedikit terlambat, ia mulai berlari untuk menyelinap antara Alisa dan cyclops…
“Keparat!
Aku
takkan sempat!”
Meskipun
secara statistik Masachika lebih cepat, tapi
langkahnya terlalu pendek. Ia tidak memiliki cukup ruang untuk berputar ke
depan. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencoba menyerang dari samping saat
melewati cyclops. Namun, ia tidak yakin seberapa efektif serangannya terhadap
tubuh cyclops yang keras.
(Apa
yang harus kulakukan?
Apa ada sesuatu yang bisa menghentikan langkahnya? Serangan efektif apa yang
bisa kulakukan untuk menghentikannya…!)
Saat
Masachika berpikir dengan putus asa, suara Yuki kembali bergema di benaknya.
‘Tenanglah,
Master. Kamu
sudah
melawan kelinci bertanduk dan goblin, bukan? Monster di dunia ini juga memiliki
titik lemah sebagai makhluk hidup. Jika kamu memukul tanduknya, itu akan
menyebabkan gegar otak, dan jika kamu memukul tenggorokannya, dia
akan tersedak. Jadi—’
“!”
Dalam
sekejap, Masachika mendapatkan ide. Ia berlari melewati sisi kiri cyclops,
memusatkan semua perhatian untuk mencari kesempatan.
Kaki
besar sebelah kiri cyclops mendarat di tanah dengan tumitnya. Monster itu menginjak tanah dengan kuat,
berdiri di atas jari kakinya, dan kemudian mengangkat kaki ke belakang.
(Sekarang…)
Kaki
yang terangkat melambat, berhenti, dan kemudian dengan semangat ditendangkan ke
depan—
“Waktunya!”
Saat
kaki kiri itu dihentakkan
ke depan, Masachika mengayunkan buku sihirnya dengan keras tepat ke arah ujung
jari kaki monster cyclops tersebut.
“Terima
ini! Serangan hati-hati pada tanduknya!!”
Suara
dentuman yang tumpul menggema di lembah, dan cyclops terhuyung beberapa langkah
sebelum terjatuh beberapa meter di depan Alisa. Pukulan yang tepat ke ujung jari
kakinya. Reaksi yang diambil manusia ketika mengalami hal ini tidak berbeda di
mana pun dan kapan pun. Segera setelah itu....
“Guaaaahhhhhhh!?”
Mereka akan memegang jari mereka yang memar dengan tangan. Dan benar saja, monster cyclops juga melakukan hal yang
sama, melangkah beberapa langkah dengan canggung sebelum berjongkok dan
membungkus kaki kirinya dengan tangan. Namun, itu sudah berada dalam jangkauan
Alisa.
“Haaaaaa!”
Alisa
mengangkat
pedang sucinya dan melakukan serangan menuju bola mata raksasa yang
turun di depannya. Dan sambil
menyebutkan nama tekniknya,
dia menusukkan pedangnya dengan
kuat.
“Tusukan Batu!”
Cahaya
lembut yang menunjukkan aktifnya teknik (dikenal sebagai aura pertempuran) menyelimuti
pedang suci, dan dengan kekuatan yang sama, pedang suci Alisa menembus bola mata cyclops dan
melanjutkan hingga menembus bagian belakang kepalanya. Bar HP yang mengambang
di atas kepala monster tersebut berubah merah dengan cepat dan lenyap.
“Gooaaaaahhhhhhh!!”
Dengan
teriakan kematian yang dramatis layaknya bos monster, monster cyclops itu terhuyung dan jatuh ke tanah
dengan lemas… sebelum akhirnya menghilang menjadi cahaya. Tak lama setelah itu,
di sudut pandang Masachika, muncul pesan yang menyatakan bahwa ia mendapatkan
pengalaman dan levelnya naik empat kali lipat.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
