Chapter 1 — Tahun Pertama Perkuliahan, Desember, Asamura Yuuta
Setelah
waktu istirahat siang berakhir, jam
perkuliahan ketiga akan segera dimulai. Tepatnya, jam 13:15.
Saat memeriksa jam di ponselku, aku yakin bahwa saat seperti ini, tempat seharusnya
sudah mulai sepi, jadi aku masuk ke kafetaria yang terletak di sisi barat
kampus.
Ruangan
yang bisa menampung lebih dari 200 orang ini memang ramai saat waktu makan,
tetapi saat jam perkuliahan seperti sekarang, tempat ini
cukup sepi, dan kursi bisa diduduki di mana saja. Karena aku tidak memilih perkuliahan ketiga pada hari ini, aku
memiliki waktu kosong sekitar 105 menit, dan biasanya aku menghabiskan waktu di
kafe saat seperti itu.
Aku hanya membeli kopi saja dan duduk di kursi yang kosong. Di
dalam kafetaria,
tampaknya hanya ada sekitar
10% pengunjung. AC di dalam ruangan diatur sedikit lebih dingin dan terasa
hangat. Nah, aku mengeluarkan buku yang diterbitkan dalam bentuk buku baru oleh
Profesor Mori, yang ditujukan untuk umum (meskipun sebenarnya ditujukan
untuk pembaca tingkat pendidikan universitas). Mari kita gunakan waktu ini
untuk membaca.
Sambil
menikmati kopi secara perlahan,
aku membalik halaman. Setelah sekitar 40 menit, aku telah mencapai titik yang tepat untuk berhenti, jadi
aku meregangkan tubuh dan berpikir tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Sebagai manusia modern, saat seperti itu membuat jariku secara otomatis meraih
ponsel. Tanpa sadar, aku mencari berita.
“Banyak
sekali cuitan terkait AI…”
Aku tak bisa
menahan diri untuk bergumam. Mungkin hanya di timeline-ku saja, tetapi tampaknya cukup ramai.
Ada yang mengatakan bahwa 30 November akan menjadi hari bersejarah. AI dengan
antarmuka percakapan yang bisa digunakan siapa saja secara gratis telah
dirilis. Secara kronologis, ini adalah peristiwa yang terjadi sebelum aku
menerima telepon dari ibu tiriku yang
memberitahukan tentang kehamilannya.
Sementara
aku sibuk dengan berita keluarga baruku, dunia luar sedang heboh membicarakan “Kelahiran Kecerdasan Digital?”.
Aku akhirnya terjebak membaca berbagai berita
dan komentar. Ketika melihat tulisan yang menarik, aku tidak bisa menahan diri
untuk mengikuti.
Tentu
saja, bukan hanya aku saja. Saat ini kita hidup di zaman smartphone. Tentu
saja, waktu yang dihabiskan untuk menonton video dan musik mungkin lebih
banyak, tetapi kurasa kesempatan untuk menjelajahi tulisan di media sosial juga
cukup tinggi. Jumlah orang yang melihat tulisan pendek mungkin lebih banyak
dibandingkan sebelumnya.
Situs
novel gratis juga semakin berkembang, dan setidaknya kita tidak lagi hidup di
zaman di mana tidak bisa membaca novel karena tidak punya uang. Hanya itu saja,
aku merasa kesempatan untuk membaca tulisan semakin meningkat.
Jika kita
juga memasukkan tulisan-tulisan kecil yang muncul dalam iklan, maka jumlahnya
akan semakin banyak. Sambil memikirkan hal itu, aku menekan tombol × untuk
menutup iklan yang muncul di layar ponsel. Setelah menutupnya, dalam sekejap,
iklan baru muncul, dan aku menutupnya dengan menekan ‘Tutup’ yang kecil di sudut jendela.
Cara menutup iklan ini sangat bervariasi dan kadang-kadang terlalu kecil untuk
ditekan dengan jari. Bukannya
seharusnya ada standar yang disatukan di suatu tempat?
Tapi,
jika begitu, iklannya bisa
ditutup secara refleks, jadi mungkin itu tidak baik. Pihak penyedia iklan juga
ingin mendapatkan waktu agar setidaknya judulnya bisa dibaca. Dari pengalaman
bekerja paruh waktu di toko buku, aku bisa merasakan logika di balik itu. Toko
buku sering mengubah posisi buku di rak untuk menarik perhatian pengunjung
karena barang yang biasanya ada di tempatnya tidak ada. Namun, stres yang
ditimbulkan seperti ini…
Aku
merenungkan hal ini sambil menonton beberapa video pendek. Ketika melihat
beberapa iklan di antara video, aku menyadari bahwa banyak iklan terkait barang
bayi, mainan, dan produk kesehatan, serta iklan yang berkaitan dengan
pengasuhan dan kesehatan. Sambil menutup iklan popok dengan lembut, aku
berpikir, apa aku pernah menonton video tentang hal-hal itu?
Ada
alasan mengapa aku berpikir seperti itu. Iklan yang muncul di media sosial saat
ini banyak yang disebut ‘iklan
bertarget’. Iklan
yang aku lihat sekarang adalah hasil analisis perilakuku dan disesuaikan khusus
untukku. Artinya, berdasarkan video dan situs yang pernah kulihat sebelumnya,
program ini menyimpulkan bahwa jika seseorang memiliki minat dalam hal ini,
mereka mungkin juga tertarik dengan produk tersebut.
Dengan kata
lain, jika iklan barang bayi muncul, itu berarti aku
sebelumnya mungkin telah melihat atau mencari video yang berkaitan dengan
kehamilan atau pengasuhan. Ah, memang, setelah menerima laporan kehamilan dari
ibuku, aku mencari tahu tentang jumlah hari dari kehamilan hingga kelahiran.
Namun, aku tidak ingat melihat iklan yang begitu banyak terkait dengan hal itu.
Mungkin…
Selain saat mencari, akhir-akhir ini aku mungkin secara tidak sadar menonton
video-video semacam itu lebih lama dibandingkan video lainnya. Mungkin
perilakuku sedang terdeteksi.
“Ugh,
dingin sekali.”
──Hhm?
Aku
mengangkat wajahku ketika
mendengar suara dari samping. Ia
pasti baru saja masuk dari luar, karena ia menggosok tubuhnya yang menggigil
dengan kedua tangannya.
“Nakamura.”
Rupanya itu
teman universitasku, Nakamura Hironobu.
Dia adalah salah satu dari dua orang yang pertama kali menjadi temanku saat aku
masuk ke dalam Universitas Ichinose.
“Oi.
Hari ini dingin banget
ya. Tempat ini hangat dan nyaman.
… Jadi, Yuuta, kenapa kamu hanya menatap kosong layar
ponselmu dan bergumam sendirian?”
“Hah?
Tidak, aku hanya berpikir betapa hebatnya perkembangan teknologi.”
Aku tidak
pernah menyangka bahwa hanya dengan
sedikit mencari tentang kehamilan dan pengasuhan, iklan terkait hal itu akan
muncul begitu banyak di ponselku. Sambil berbicara tentang itu, aku menunjukkan
iklan kereta bayi di ponselku, dan Nakamura tiba-tiba meluruskan tubuhnya dan
berusaha menjauh dariku tanpa duduk.
“Yuuta…
Jangan-jangan, kamu sudah punya anak? Dengan gadis yang itu?”
Eh? Apa?
Sudah punya anak… apa maksudnya…?
Seketika aku tidak mengerti apa yang ia katakan, tetapi aku segera menyadari kesalahpahaman
yang terjadi.
“Bukan,
bukan.”
“Yah, mengenal
sifatmu, aku tahu kamu pasti sudah siap untuk itu…”
“Sudah kubilang, dengarkan
aku dulu.”
Karena penampilannya yang
mencolok, aku memaksanya untuk
duduk di sebelah dan berusaha keras untuk menjelaskan. Aku bukannya menentang atau tidak menyukai pernikahan mahasiswa,
tapi aku tidak ingin rumor beredar tentang sesuatu yang belum
terjadi.
“Kamu
sudah melakukannya.... ‘kan?”
“Yah, itu sih… tapi bukan itu. Ini
tentang orang tuaku, ibuku!”
Jangan
mengubah pembicaraan akademis tentang kekuatan iklan melalui data sains
pemasaran menjadi lelucon cabul.
“Wah,
ibumu masih muda ya. Tapi, selamat!”
“Terima
kasih.”
Yah, sebenarnya
dia masih muda. Namun, secara umum, kelahiran di atas usia 35 tahun disebut
sebagai kelahiran di usia lanjut, jadi dia
termasuk kategori tersebut.
Usai mendengar
itu, aku jadi khawatir dengan kata ‘usia
lanjut’.
Mungkin seharusnya lebih tepat jika kukatakan “menjadi
khawatir”.
Setelah mencari tahu lebih lanjut, ternyata berbeda dengan zaman Showa,
kelahiran di usia seperti ibuku sekarang ini bukanlah kejadian yang sangat
langka. Meskipun ini adalah risiko yang tidak ada pada pria, sulit untuk
mengatakan bahwa risikonya tidak sebesar di masa lalu. Namun, aku merasa
sedikit lega.
“Eh,
jadi, apa sebaiknya aku tidak boleh mengucapkan selamat sampai bayi
lahir?”
“Hmm, kurasa itu tergantung situasi dan
kondisinya.”
Karena
ada kehamilan dan kelahiran yang tidak diinginkan, jadi topik ini memang cukup sensitif.
“Karena
kamu terlihat bahagia, jadi itu muncul secara alami.”
“Hmm, santai saja… Tapi, ya, baiklah.”
Saat aku
menyela, Nakamura tersenyum lebar dan tertawa.
Tapi, apa
aku terlihat begitu bahagia? Mungkin karena aku bisa merasakan kebahagiaan
orang tuaku, baik ibuku maupun ayahku, saat aku kembali ke rumah selama satu
atau dua hari. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa aku juga merasa senang.
“Oh
ya, Yuuta, aku lupa memberitahumu sesuatu.”
“Hah? Apa
itu?”
“Terima
kasih sudah mengundangku ke dalam kegiatan UKM inter-kampus sebelumnya.”
Nakamura
berkata sambil duduk di sebelahku.
Itu
terjadi pada akhir pekan terakhir bulan lalu. Aku diundang oleh Saki untuk
bergabung dengan pertemuan UKM inter-kampus bersama Nakamura dan satu temanku yang lainnya, Kikuchi Yuuma.
Saki juga
telah mendapatkan dua teman baru sejak masuk universitas. Terkadang aku
mendengar cerita tentang teman-temannya dari Saki. Jika tidak salah, nama mereka adalah Mizukami Kyouka dan Kaneko Mayu. Dari kedua orang itu, Mizukami-san baru-baru ini bergabung
dengan [UKM
pemecahan teka-teki].
Apa itu UKM pemecahan teka-teki? Jika aku
menjelaskannya, rasanya akan terlalu panjang, jadi aku
akan persingkat saja. UKM ini mirip dengan permainan
pelarian atau misteri pembunuhan. Aku berpartisipasi
dalam salah satu permainan pelarian tersebut, dan
setelah selesai, ada acara perayaan.
Di acara perayaan tersebut, Mizukami Kyouka-san dan Nakamura mulai menjadi teman. Mizukami-san adalah teman Saki, dengan
rambut cerah berwarna oranye keabu-abuan.
Jika dibandingkan dengan Kaneko-san
yang lebih tenang, Mizukami-san
adalah orang yang sangat ramah dan berbicara dengan cukup jelas.
Rasanya
Nakamura dan Mizukami-san kelihatan cocok
satu sama lain. Sepertinya mereka juga banyak berbicara saat acara perayaan tempo hari. Menurut Nakamura, mereka
bertukar kontak dan kadang-kadang berkomunikasi.
“Hee.”
“Asal kamu tahu saja, kami cuma berteman.
Kami langsung akrab dan cocok
dalam obrolan, tapi tidak ada hubungan lebih dari itu.”
“Oh, ya.”
Aku
mengangguk sebagai tanda mengerti, tetapi Nakamura menatapku dengan curiga.
“Apa
maksud dari reaksi itu?”
“Eh.
Jadi, karena kalian langsung akrab dan klop dalam
obrolan, kalian berdua
bertukar kontak dan kadang-kadang berkomunikasi, ‘kan?”
“Memang sih… tapi, eh, apa kamu beneran berpikir seperti itu saja?”
“Memangnya bukan begitu?”
“Bukan,
bukan, tapi dalam situasi seperti ini, biasanya ada orang yang menyembunyikan
bahwa mereka sedang berpacaran dan mengatakan ‘teman’ untuk sementara
waktu.”
Oh, jadi
begitu rupnya.
“Tapi
sekarang, rasanya terdengar
lebih seperti [teman] daripada ‘teman’.”
“Hah?”
Oh iya, benar juga. Nakamura tidak tahu bagaimana
aku mendengar itu di dalam kepalaku.
“Jadai maksudku, aku merasa bahwa kalian berdua benar-benar
teman. Aku senang kamu punya teman—lah?”
Eh?
Nakamura tiba-tiba terkulai
di atas meja dan terlihat bergetar. Sepertinya dia tertawa. Reaksi ini tidak
pernah kulihat dari teman-teman SMA-ku.
“Wah, ini
sangat Yuuta banget!
Ketidakpedulianmu terhadap orang lain sangat mencerminkan dirimu!”
“Aku merasa kalau itu bukan pujian sama sekali.”
“Meskipun
kamu tipe yang memperhatikan orang-orang
di sekitarmu, tapi kamu
tidak mau ikut campur dalam urusan orang lain. Yah, aku sih tidak keberatan, karena aku lebih
nyaman dengan kepribadianmu yang
seperti itu.”
Usai mendengar
penjelasannya, aku tetap merasa tidak ada pujian di dalamnya. Meskipun
sepertinya dia tidak benar-benar membencinya.
“Mumpung sedang membahas ini, aku
akan menambahkan sedikit. Sebenarnya, saat ini kami hanya teman. Kami baru
sekali menonton film bersama. Meski sebenarnya aku
tidak ingin mengatakannya sih.”
“Kamu tidak ingin mengatakannya?”
“Karena
aku lelah orang-orang curiga dan menggodaku karena mengira itu kencan.”
“Aku bahkan tidak pernah berpikiran meledekmu atau semacamnya.”
Setelah aku mengatakan itu, kali ini dia
tersenyum masam. Kurasa jika hubungan mereka cukup akrab
dan waktunya tepat, mereka bisa menonton film bersama.
Aku ingat
pernah pergi menonton film larut malam bersama Yomiuri-senpai
waktu dulu.
“Jadi begitulah dirimu, Yuuta. Tapi, orang-orang di luar
sana berbeda. Yah,
berbicara denganmu membuatku merasa bodoh karena mencoba mengantisipasi sesuatu
tiga langkah ke depan dan membangun pertahanan.”
Maafkan aku.
“Yah, aku sudah tahu sejal awal. Kamu
memang sengaja bersikap tidak peka.”
“Apa aku
sengaja…?”
“Kamu tidak menyadarinya? Oi, oi.”
“Aku
hanya tidak pandai membaca perasaan orang lain.”
“Mana mungkin. Kamu membaca novel dan
itu sangat baik. Dulu di SMA, kamu bagus dalam pelajaran bahasa, ‘kan? Dalam pemahaman bacaan?”
“Ah, ya.
Mungkin begitu.”
“Kalau
begitu, kamu pasti bisa membaca psikologi manusia. Hanya saja, jika kamu bisa
membacanya dengan baik, kamu akan memikul beban orang lain lebih dari yang
diperlukan, dan itu membuatmu lelah, jadi kamu menghindarinya. Begitulah kelihatannya bagiku.”
Baru
pertama kalinya aku mendengar hal itu, jadi aku mulai memikirkannya.
Kupikir
rasanya jauh lebih baik tidak mengetahui isi hati orang lain…
Meskipun aku bisa memahami apa yang ia katakan, itu bukan sesuatu yang bisa
kuterima dengan mudah.
“Ah,
maaf. Jangan terlalu dipikirkan segala.
Itu hanya pikiranku yang tiba-tiba muncul.”
Nakamura
sedikit mendekat dan berbicara dengan suara pelan.
“Gadis
itu cukup imut, dan sejujurnya, aku memang mengincarnya.”
Eh?
Mengincarnya… Mizukami-san?
“Habisnya, ini bulan Desember ‘kan!”
Dirinya tiba-tiba mengangkat suaranya,
membuatku terkejut.
“Memangnya ada yang spesial di bulan
Desember?”
“Tentu saja ada Natal! Sebelum itu, aku
harus punya pacar, kalau tidak, merayakan malam natal
sendirian itu tidak lucu!”
“Begitu
ya?”
“Hey! Itu
hanya terdengar seperti omong kosong dari orang yang sudah punya pacar…”
Wjahnya
menunjukkan ekspresi terkejut, tetapi pada kenyataannya, semua
orang tidak ingin merayakan Natal sendirian. Ngomong-ngomong, sepertinya teman
SMA-ku, Yoshida, juga pernah mengatakan hal yang sama.
Tapi, yah, ia tidak sendirian saat musim
dingin kelas 3 SMA sih. ... Maru dan Shinjou juga. Tunggu, mungin orang-orang di sekitarku…?
“Hmm? Ada
apa? Kenapa kamu
mendadaj jadi diam?”
“Tidak,
aku tidak pernah membahas hal seperti itu saat SMA.”
“Serius?”
“Ketika
aku berpikir tentang itu, ternyata orang-orang yang biasanya aku ajak bicara
sudah punya pacar.”
“Hm.
Yuuta, makan siang besok, kamu yang traktir.”
“Hah,
kenapa?”
“Jangan tanya kenapa, dasar kampret.
Sekolah SMA-mu itu bagaimana sih? Untuk
apa kamu bersekolah?
Sungguh menyedihkan. Apa kamu pergi ke
sekolah untuk mencari pacar? Sekolah bukan tempat untuk itu!”
Aku tidak
tahu dari mana harus mulai menjawab.
“Kalau
mengikuti logika itu, universitas juga bukan tempat untuk hal seperti itu…”
“Ah,
sudahlah! Aku tidak ingin mendengarnya!
Lagipula, kamu sudah punya Saki-chan,
‘kan? Guhhh, bikin iri banget. Traktir aku, traktir aku!”
Dia
berbicara dengan semangat, tetapi bagiku…
“Aku
tidak mengerti hal itu.”
Aku
merasa serius ketika mengatakannya, tetapi Nakamura menatapku, “Hah?”, dengan wajah bingung.
“Sudah kubilang, aku tidak begitu mengerti perasaan iri itu.”
“Serius?”
“Ya,
setidaknya.”
“Ketika
orang lain tampak bahagia dan kamu merasa kesepian, itu membuatmu merasa kalah.
Perasaan itulah yang
disebut ‘iri’.”
“Kenapa
itu membuatku merasa kalah?”
“Jika
kamu tidak mendapatkan sesuatu yang seharusnya kamu dapatkan, tentu saja kamu
akan merasa kecewa.”
Tidak, pemikiran begitu justru sangat konyol. Lagipula, pacar bukanlah sesuatu
yang bisa didapatkan.
“Selain
itu, aku tidak yakin dengan alasan bahwa seharusnya aku mendapatkannya.”
“Coba
pikirkan baik-baik. Jika anak di sebelah rumahmu
mendapatkan uang saku 10 ribu yen, dan kamu hanya mendapatkan 1 ribu yen, apa
kamu tidak merasa iri?”
“Jika ada
hubungan fisik antara jumlah uang saku anak sebelah dan uang saku yang
kuterima, mungkin aku akan berpikir begitu. Tapi tidak ada dasar untuk
menganggap semua keluarga seharusnya memberikan jumlah uang saku yang sama.
Selain itu, bukan hanya aku dan anak sebelah, ada juga anak-anak di sebelah
kiri dan kanan… Selama aku tidak tahu jumlah uang saku semua orang di
sekitarku, aku tidak bisa tahu apakah aku berada di sisi yang lebih banyak atau
lebih sedikit, jadi tidak ada kondisi untuk merasa iri…”
Tatapan
Nakamura berubah dari “Ada apa dengan orang
ini?” menjadi “Apa-apaan sih yang dikatakan
pria ini?”.
“Kalau
begitu, bagaimana jika begini? Misalkan pemerintah
memberikan 10 ribu yen kepada semua mahasiswa di seluruh negeri, tapi kamu
tidak menerima. Apa kamu
tidak akan merasa iri pada mereka yang mendapatkannya?”
“Aku
takkan merasa iri. Jika aku tidak setuju dengan keputusan itu, mungkin aku akan
mengajukan protes. Tapi ketimbang
merasa iri, aku akan berpikir ‘kenapa?’”
“Bagaimana
jika kamu mengajukan protes tapi tidak ada yang mendengarkan, dan hanya kamu
yang tidak mendapatkan? Bagaimana?”
“Rasanya
tidak adil, tetapi aku takkan merasa buruk pada orang yang bisa menerimanya.
Karena itu bukan salah mereka. Lagi pula, kenapa aku bisa yakin bahwa semua
orang seharusnya mendapatkan jumlah yang sama?”
“Ya,
tentu saja. Kamu berada di posisi yang berbeda dari orang lain. Apa yang
membedakan kamu dari mereka? Tentu saja kamu akan merasa diasingkan.”
“Diasingkan…
Ah, aku mengerti. Jadi, Itu sebabnya kamu berpikir seperti itu.”
Namun,
aku sudah menyadari sejak SD bahwa tidak semua orang di sekitarku mendapatkan
hal yang sama.
Pada saat
itu, aku tidak mendapatkan apa yang seharusnya diberikan ibuku kepada
anak-anak.
Saat aku
berada di kelas 6 SD,
hubungan orang tuaku sudah memburuk, dan ketika aku gagal ujian masuk SMP,
ibuku berselingkuh dengan pria dan
pergi meninggalkan rumah.
Seandainya
saja saat itu aku memiliki sifat yang cemburuan terhadap keluarga yang memiliki
ibu, mungkin aku bisa memahami perasaan yang dikatakan Nakamura. Namun, aku
tidak pernah merasa iri pada keluarga lain.
Salah satu alasannya adalah aku menyadari bahwa mengungkapkan hal itu takkan
membuat ibuku kembali. Selain itu, aku merasa jika aku meratapi ketidakhadiran
ibuku, ayahku akan merasa sedih.
Oleh karena
itu, aku memutuskan bahwa ibuku tidak diperlukan dalam hidupku. Dunia ini tidak
adil dan tidak masuk akal. Meskipun teman sebayaku lahir di tahun yang sama dan
bersekolah di tempat yang sama, bukan berarti mereka menerima hal yang sama
dengan cara yang sama.
Sejak SMP
hingga SMA, aku mulai membaca buku, dan dari situ aku mendapatkan pemahaman
tentang ketidakadilan dunia dan memperluas pandanganku.
Dunia
ini mungkin memang tidak adil, tapi berpikir
bahwa hanya diriku yang dirugikan bisa menjadi tidak sehat dalam beberapa
kasus. Tergantung pada orang yang dibandingkan, kita bisa merasa beruntung atau
dirugikan. Meskipun penting untuk mengeluh jika kita
diperlakukan tidak adil, tapi terus-menerus
melihat diri kita sebagai
orang yang patut dikasihani juga bukanlah cara berpikir yang sehat.
Begitulah
cara berpikirku. Dan, tanpa sadar, aku tidak lagi
membandingkan diriku dengan orang lain.
“Lagipula,
tidak ada bukti bahwa menyendiri
itu tidak bahagia.”
“Hah?
Punya pacar membuatmu bahagia,
‘kan?”
“Kurasa
fakta bahwa punya pacar membuatmu bahagia bukanlah alasan untuk mengatakan
bahwa kesendirian adalah
ketidakbahagiaan. Karena punya pacar bukanlah satu-satunya syarat untuk bahagia,
kan? Meskipun keduanya tidak bisa bersamaan, keduanya bisa menjadi syarat
kebahagiaan.”
“Bukannya kesendirian itu
tidak bahagia?”
“Seorang
petualang tua pernah
menulis bahwa kesepian dan pengasingan itu berbeda. Dia adalah orang yang
menyeberangi Samudera Pasifik sendirian, tetapi meskipun sendirian, dia bisa
bertahan karena dia percaya bahwa dia terhubung dengan orang lain. Jika kamu memikirkannya seperti
itu, kurasa sendirian di hari Natal bukanlah satu-satunya ketidakbahagiaan.
Selain itu, aku bilang bahwa orang-orang di sekitarku punya pacar, tapi itu
bukan hasil yang kuteliti, ‘kan?
Mungkin banyak orang yang merayakan Natal sendirian.”
“Diam!
Setidaknya kamu tidak akan
sendirian di hari natal!”
“... Itu
sih, ya.”
Setidaknya
aku tidak sendirian tahun.
“Kamu punya pacar yang secantik itu yang akan bilang, ‘Hadiahmu adalah.... aku!’”
“Saki
pasti tidak akan mengatakan hal seperti itu.”
“Kamu tidak pernah tahu, memangnya kamu benar-benar tahu segalanya
tentang pacarmu?”
“Uh… itu
benar.”
Aku tidak
bisa membantah kalimat itu, jadi diskusi pun berakhir di situ. Waktu untuk
kuliah berikutnya juga sudah dekat, jadi aku menghentikan percakapan dengan
Nakamura dan kami berdua keluar dari kafetaria. Saat berjalan menuju gedung
kuliah, aku teringat kata-kata yang pernah diucapkan Maru. Dulu, Maru pernah
bilang, “Kamu memiliki daya tahan kesepian yang terlalu tinggi.”
Memang benar bahwa aku tidak terlalu merasa
keberatan untuk sendirian. Aku tidak pernah merasakan sangat kesepian, atau seperti yang dia katakan,
pengasingan. Aku merasakan jarak emosional dengan ibuku, tapi tidak pernah
memiliki masalah dengan ayahku atau keluarga dari pihak ayah. Dalam arti
tertentu, aku merasa itu adalah keberuntungan. Meskipun aku pernah merasa
kesepian, ingatan tentang pengasingan terasa samar.
Tiba-tiba,
aku jadi teringat pada kalimat yang
diucapkan Nakamura sebelumnya. Jika aku bisa membaca psikologi orang lain
dengan baik, aku akan mengambil beban yang
tidak perlu dari mereka. Mungkin aku tidak ingin menerima perasaan “iri” yang
berhasil kusingkirkan dari hatiku sendiri?
Itulah
sebabnya, aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkan
psikologi orang lain—atau semacamnya?
Namun,
jika memang begitu, itu berarti aku
sebenarnya tidak menyadari lukaku sendiri. Untuk tidak mengelupas kerak lembut yang terbentuk di atas
luka yang terukir di hatiku, aku mungkin secara sengaja menonaktifkan kemampuan
untuk membaca psikologi orang lain.
Setelah
memikirkan semua itu, aku tidak bisa memperluas pemikiranku lebih jauh.
Mematikan pemikiran yang sudah menjadi hal biasa bagiku dan beralih ke cara
berpikir yang berbeda sangatlah sulit. Mungkin tidak ada gunanya terlalu
memikirkan hal ini, jadi aku menutup pemikiranku untuk sementara waktu.
Sejauh
ini, tidak ada masalah yang muncul.
“Kalau
tidak cepat, perkuliahan keempat akan segera dimulai.”
Mendengar
kata-kata Nakamura, aku mempercepat langkahku dan masuk ke gedung kuliah.
◇◇◇◇
Hari itu
adalah hari di mana aku tidak memiliki perkuliahan hingga jam lima, jadi aku bisa
tiba di tempat kerja sebelum jam 6 sore. Setelah duduk di kursi yang
disediakan, aku menyalakan komputer dan memeriksa jadwal.
Perusahaan
tempat Torigoe-san bekerja, Veil Factory, dikenal sebagai 'Perusahaan penyuntingan
produksi'. Maksudnya, itu
adalah perusahaan yang menangani bagian praktis dari proses pembuatan buku,
termasuk pengeditan dan produksi.
Kantornya
menyewa satu lantai dari sebuah bangunan kecil, dengan jumlah meja sekitar 20.
Salah satu meja itu adalah milikku. Meskipun tidak terlalu sibuk, pekerjaan
paruh waktu ini sebagian besar adalah tugas yang sederhana. Lagipula, aku baru
bekerja di sini selama sekitar dua bulan. Jadi, apa yang harus kulakukan hari
ini…?
Melalui
perangkat lunak grup yang digunakan di dalam perusahaan (perangkat lunak yang
digunakan untuk berbagi informasi dalam organisasi dan mengelola tugas), aku
menerima pemberitahuan dari Torigoe-san.
“Mengatur pengiriman
salinan buku gratis,
ya.”
Bulan
ini, ada satu buku baru yang ditangani oleh Torigoe-san, dan untuk buku baru, sejumlah salinan tertentu akan
diberikan kepada penulis dan desainer yang membuat sampulnya (dan kepada
ilustrator jika buku tersebut memiliki ilustrasi). Selain itu, jika penulis
ingin mengirimkan bukunya kepada seseorang secara khusus, mereka juga dapat
mengatur pengirimannya. Meskipun penulis sering mengirimkannya sendiri, Torigoe-san biasanya bertanya kepada
penulisnya sebelumnya, “Apa ada orang yang ingin Anda beri salinan gratis?”
Dan dia pernah berkata, “Yah, entah bisa sampai segitunya juga tergantung pada editor,
sih.”
Setelah
memeriksa alamat pengiriman, aku mengambil
data alamat dan menyalinnya ke label nama. Sementara data untuk dicetak dikirim
ke printer, aku membawa buku baru ke meja dan mulai mengemasnya. Aku menghitung
jumlah buku, memeriksa teks pesan yang akan disertakan di dalamnya di PC, dan
mengirimkannya ke printer untuk dicetak. Setelah mencetak label nama dan semua
itu, aku membungkus buku baru dengan plastik, memasukkan dokumen ke dalam
amplop, dan mengemasnya dengan hati-hati sebelum menempelkan label nama.
Pada awalnya,
aku harus memeriksa satu per satu, jadi cukup merepotkan, tetapi setelah
terbiasa, aku bisa bergerak dengan lancar.
Ngomong-ngomong,
karena sudah bulan Desember, sepertinya aku juga perlu mempersiapkan pengiriman
kartu ucapan tahun baru.
Seperti
yang diharapkan, departemen editorial mulai sibuk. Ini adalah waktu yang
dikenal sebagai “proses akhir tahun”. Dari pertengahan Desember hingga
awal Januari, distribusi dan percetakan berhenti, jadi semua pekerjaan harus
diselesaikan lebih cepat dari biasanya.
Desember…
ya. Nakamura mengatakan bahwa ini adalah musim Natal, tetapi aku dan Saki
memiliki acara ulang tahun sebelum itu.
Meskipun
begitu, sepertinya baik aku maupun Saki tidak memiliki waktu untuk merayakan
ulang tahun kami masing-masing tahun ini, sama seperti tahun lalu. Kami berdua
sibuk dengan perkuliahan dan pekerjaan paruh waktu. Jadi,
kami berencana untuk merayakan ulang tahun bersama lagi. Kami sudah memutuskan
untuk menghabiskan Natal bersama seluruh keluarga, dan merayakan ulang tahun
hanya kami berdua secara diam-diam.
Rencanaku adalah kami berkencan di luar, lalu
bersantai di apartemenku, dan kemudian dia menginap semalam. Masalahnya adalah
bagaimana cara memberitahu orang tua kami tentang
alasan dia menginap… Yah, mengingat perjalanan kami ke
Atami berdua, aku merasa ayahku dan ibu tirikuku
mungkin akan lebih mengerti jika dia
mengatakan “Aku
menginap di tempat kakakku”
daripada dia hanya
menginap tanpa mengatakan apa pun kepada
mereka. Namun, mengatakannya tetap membutuhkan
keberanian.
Aku merasa bingung, dan itu adalah hal yang
kami bicarakan semalam. Kami juga membahas tentang hadiah ulang tahun yang
sebaiknya menjadi kejutan. Tapi, jika kami sudah merencanakannya, apa itu masih
bisa disebut kejutan?
Meskipun
aku menantikannya, tapi ada satu
hal yang sedikit menggangguku.
Itu adalah Sikap
Saki. Sejak pengumuman kehamilan ibu tiri,
dia tampak sedikit berbeda dari biasanya. Aku tidak bisa mengatakan di mana
letak perbedaannya.
“Oi,
Asamura-kun!”
Suara itu
membuatku terkejut.
“Mau sampai berapa banyak yang ingin kamu tempelkan?”
“Hah?”
Ketika
aku melihat ke bawah, aku melihat kalau
tanganku menempelkan tiga label pengirim di amplop.
Sepertinya aku sangat
ingin menekankan siapa pengirimnya.
“Ah…”
Sialan. Aku sedang melamun saat
bekerja. Sepertinya ini tidak bisa dilepas
dan dikembalikan seperti semula.
“Maaf,
aku sedang… memikirkan sesuatu.”
Aku
meminta maaf kepada Torigoe-san
yang memanggilku.
“Yah,
biasanya kamu serius, jadi aku tidak terlalu keberatan.
Tapi, jika kamu menganggap ini pekerjaan yang mudah dan meremehkannya, bisa
jadi ada kecelakaan yang tidak terduga.”
“Y-Ya!”
“Jika
kamu merasa khawatir tentnag sesuatu,
jangan ragu untuk berkonsultasi kapan saja.”
“Baik.”
Sambil
berkata demikian, Torigoe-san kembali
ke mejanya.
Begitu dirinya duduk, suara dering ponselnya berbunyi. Sambil memegang
telepon di antara telinga dan bahu, Torigoe-san
menyalakan PC dan mulai mengetik dengan cepat. Begitu teleponnya terputus, dia
mengambil tiga amplop besar dan memanggil namaku.
“Tolong bawakan ini.”
“Baik, saya
mengerti.”
Aku
segera berdiri dan pergi untuk mengambilnya. Karena pengiriman hari ini sudah
selesai, aku hanya perlu memeriksa apakah label nama tertempel dengan benar
sebelum memasukkannya ke dalam kotak “pengiriman” bersamaan dengan buku yang akan dikirim,
jadi itu bukan pekerjaan yang sulit. Begitu aku menerima amplop tersebut,
ponsel Torigoe-san berbunyi
lagi.
── Ini
bukan situasi di mana aku bisa meminta saran darinya.
Meskipun
sudah jelas, Torigoe-san tampak
jauh lebih sibuk daripada aku yang hanya seorang pekerja paruh waktu. Selain
itu, apa aku bisa menceritakan bahwa adik tiriku
berubah sikap setelah mendengar tentang kehamilan ibu tiriku…? Tapi, aku juga
khawatir tentang sikap Saki.
Tidak, pertama-tama aku harus
menyelesaikan pekerjaan yang ada di
depanku terlebih dahulu.
Sembari
mengabaikan kecemasan yang samar-samar muncul, aku menutupnya di dalam hati dan
mengunci perasaan yang mengganggu itu untuk sementara waktu.
