Gimai Seikatsu Volume 17 Prolog

 


Anggota keluarga selalu kembali ke tempat yang sama, berubah tapi selalu di sisi cahaya yang tak pernah padam

 

Prolog Asamura Yuuta

 

29 November, pada malam hari menjelang akhir bulan. Saat aku sedang mempersiapkan materi perkuliahan untuk besok di kamar apartemen tempatku tinggal sendiri, ponselku bergetar yang menandakan bahwa ada panggilan masuk. Rupanya itu dari Ibu Tiriku, Akiko-san.

Yuuta-kun, apa kita bisa bicara sebentar?

Aku hampir menjawab, ‘Tidak apa-apa’ dengan bahasa sopan, tapi berhasil menjawab tepat pada waktunya dengan, Baiklah. Isi panggilannya adalah pertanyaan apa aku akan pulang ke rumah akhir pekan ini.

Setelah memeriksa jadwal, aku menyadari kalau ternyata aku tidak mempunyai jadwal pekerjaan paruh waktu di perusahaan editorial pada akhir pekan itu, dan tidak ada tugas laporan mendesak yang harus kukerjakan.

Aku berpikir untuk pulang.

Setelah aku menjawab demikian, ibu tiriku jelas menghela napas lega.

“Begini, umm....Sebenarnya ada hal penting yang ingin kubicarakan, jadi aku ingin kamu mendengarkannya bersama Saki.

Baiklah.

Mungkin, jauh di lubuk hatiku, aku sudah tahu isi dari pembicaraan penting itu. Kata-kata bersama Saki juga sudah memberikan petunjuk.

Tiga hari setelah panggilan telepon itu, pada tanggal 2 Desember. Sore hari Jumat. Dengan perasaan gelisah yang aneh, aku naik kereta untuk pulang ke Shibuya.

Sudah lebih dari dua bulan sejak stasiun Chuou Hino menjadi stasiun terdekat. Meskipun begitu, perjalanan menuju Shibuya tetap terasa istimewa bagiku. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hari di mana aku bisa merasakan arti kata pulang ke rumah akan tiba.

Stasiun Shibuya. Setelah melewati gerbang tiket, aku melihat area stasiun yang sudah familiar—tetapi, di sudut pandangku, aku menemukan papan iklan yang tidak familiar dan merasa bingung. Itu adalah iklan untuk permainan baru di ponsel. Dalam papan iklan besar itu, ada seorang gadis yang menghadap ke belakang dengan senjata yang tampak mengintimidasi. Sejak kapan papan iklan seperti itu berdiri di sini?

Kalau dilihat-lihat lagi, di pinggir jalan, pohon-pohon jalanan tampaknya telah dibungkus dengan jerami sebagai tindakan pencegahan terhadap cuaca dingin. Benda semacam itu tidak ada saat aku kembali minggu lalu.

Sembari merasakan hembusan angin yang bertiup melewati pohon-pohon jalanan yang layu, aku mulai berpikir bahwa sudah saatnya menggunakan sarung tangan dan penutup leher.

Aku bisa merasakan peralihan musim. Hal tersebut membuatku menyadari sekali lagi bahwa tidak ada yang tetap sama.

Sebenarnya, saat ini Shibuya sedang dalam proses pengembangan besar-besaran yang terjadi sekali dalam seratus tahun. Di dalam area konstruksi yang tertutup kain putih, bangunan yang akan menjadi tempat baru yang terkenal di Shibuya sedang dibangun dengan lancar, dan beberapa tahun ke depan, kota ini pasti akan berubah drastis.

Aku akhirnya tiba di gedung apartemen tempatku dulu tinggal. Setelah membuka pintu masuk dan mengucapkan “Aku pulang, suara langkah sandal terdengar, dan Saki muncul dari ujung lorong yang berbelok.

Selamat datang kembali, balasnya. Bersamaan dengan itu, aroma lezat mulai tercium. Aroma kuah dashi. Sepertinya ini adalah nabe.

“Kamu ingin segera makan? tanya Saki.

“Aku akan membantu.”

“Hampir tidak ada lagi yang perlu dilakukan kecuali menata cangkir teh dan mangkuk.

Meski begitu, aku merasa perlu melakukannya.

Ketika aku masuk ke dalam dapur, seperti yang kuduga, makan malam hari ini adalah nabe. Ini adalah nabe susu kedelai wijen, dan semua bahan sudah dimasukkan ke dalam kuah susu kedelai yang keruh dan sedang mendidih. Tentu saja, dalam keadaan seperti ini, tampaknya hanya ada sedikit yang perlu dilakukan, yaitu menata mangkuk dan sumpit.

Ayah belum pulang? tanyaku.

Aku mendapat kabar bahwa ia akan lembur.”

Jawaban Saki membuatku sedikit bingung. Hah? Apa ayah tidak perlu ada di sini? Itu berarti ibu tiri hanya ingin berbicara denganku dan Saki doang...

Setelah selesai menyiapkan makan malam, sisanya kami hanya perlu makan, dan masing-masing duduk di kursi biasa di meja makan. Aku dan Saki duduk berdampingan, sementara ibu tiri duduk di seberang kami.

Uap mulai mengepul dari nabe susu kedelai wijen yang diletakkan di atas tatakan, dan saat kami hendak menyatukan tangan dalam gerakan itadakimasu untuk mengisi perut kami yang kosong—saat itulah ibu tiri memulai pembicaraan.

“Umm, boleh aku berbicara sebentar sebelum kita makan?

Mendengar keseriusan suaranya, aku menurunkan tanganku dan segera memperbaiki posisiku. Aku dan Saki (yang mungkin juga telah diberitahu sebelumnya) sedikit terkejut.

Ya, ada apa? tanya Saki.

Sebenarnya....” katanya, berhenti sejenak.

“Aku hamil.”

Dia kemudian mengatakannya dengan begitu santai.

Aku pikir suaraku hilang lebih cepat daripada saat mendengar bahwa ayahku ingin menikah lagi. Meskipun aku memiliki firasat, tapi aku sama sekali tidak siap secara mental.

Sambil mencari kata-kata yang seharusnya diucapkan dalam situasi seperti ini, aku mencari di database otakku yang sangat buruk yang telah dibangun selama 18 tahun hidupku, dan Saki, yang seharusnya juga kehilangan kata-kata seperti aku, lebih cepat menemukan jawabannya.

Dengan kata lain, dia mengucapkan, Selamat! Aku terkejut. Tentu saja itu adalah jawaban yang benar. Itu adalah sesuatu yang diinginkan oleh ibu tiri dan ayahku.

“Se-Selamat!

Aku berhasil mengatakannya setelah berpikir keras dalam sepersekian detik. Mendengar ucapan selamat dari Saki dan diriku, ibu tiriku akhirnya tersenyum. Saat itu, aku menyadari bahwa ibu kami juga merasa tegang.

Terima kasih, jawabnya singkat sebagai balasan atas ucapan selamat kami, lalu ibu kami memberi tahu tentang keadaannya. Kandungannya sudah berusia 12 minggu. Perkembangannya berjalan lancar.

Ada alasan mengapa laporan ini baru sampai pada 12 minggu. Plasenta yang terbentuk di dalam tubuh selama kehamilan berkembang antara minggu ke-12 hingga ke-15, dan seiring dengan penyelesaiannya, risiko keguguran juga berkurang. Sebaliknya, periode tersebut adalah waktu paling rentan untuk keguguran.

Ibu tiri memberitahu bahwa alasan mengapa dirinya tetap diam sampai keadaan stabil supaya tidak membuat Saki atau Yuuta khawatir tanpa alasan.

Aku seharusnya diberi tahu lebih awal, kata Saki sambil cemberut.

Apa ayah sudah tahu?” ucapku.

Tentu saja, dia sudah mengetahuinya sejak lama. Aku segera memberitahunya.”

Ternyata itu terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Artinya, selama dua bulan sejak saat itu, aku dan Saki tidak menyadari informasi tersebut. Apa itu berarti Ayah bisa mempertahankan ekspresi datar wajahnya dengan baik? Padahal biasanya ia tipe orang yang emosinya bisa terlihat dari wajahnya.

Jadi, aku ingin membicarakan hal yang akan terjadi mulai sekarang, suara Ibu tiriku terdengar serius, dan aku langsung memperbaiki posisiku.

Aku sudah terbiasa sekarang karena ini anak keduaku, dan ada Taichi-san juga. Jadi, aku berharap kalian bisa melanjutkan hidup seperti sekarang.

Ah, aku akhirnya bisa memahami alasan mengapa ayah tidak ada di sini. Mungkin, agar tidak membuat aku dan Saki terlalu khawatir dengan hal-hal yang berlebihan.

Tapi, mungkin aku akan meminta bantuan kalian pada hari-hari ketika aku tidak enak badan.

Tentu saja."

Baik aku dan Saki langsung membalas demikian tanpa ragu. 

“Tapi, apa Ibu benar-benar baik-baik saja? Apa aku perlu melakukan pekerjaan rumah?

Saki secara spontan mengatakan itu, dan ibu tiri tersenyum pahit. 

“Memangnya kamu tidak mendengar perkataanku sebelumnya? Aku sudah bilang. Aku ingin kalian tetap seperti biasa. Hanya saja, ketika aku terserang flu atau cedera, aku mungkin akan sedikit bergantung pada kalian, sama seperti saat aku tidak enak badan. Itulah yang aku minta.

Jadi, itu berarti dalam batas-batas normal di mana keluarga bisa membantu. Tentu saja, tidak ada keberatan untuk itu. 

Saki menatap perut ibu tiri. Menyadari tatapannya, ibu tiri pun bertanya, “Mau coba menyentuhnya? Saki lalu dengan hati-hati, mengelus perut Akiko-san. Perutnya belum terlihat jelas membesar, tetapi ada sedikit bentuk bulat yang mungkin terlihat... atau mungkin karena aku berpikir begitu. 

Aku merasa canggung jika terus menatap, jadi aku mengalihkan pandanganku

Masih belum jelas, ya?Ibu tiri menjawab seolah ingin menyampaikan sesuatu kepada Saki.Sebentar lagi akan terlihat jelas kok. 

Saki sedikit miringkan kepalanya dan bertanya, Benarkah? 

Pada minggu ke-20, itu sudah akan terlihat dengan jelas. 

Dan rupanya, kehamilan akan mencapai minggu ke-37, yang disebut sebagai masa kelahiran. Akiko-san memberi tahu bahwa saat itu, bayi bisa lahir kapan saja. Mengenai kapan itu akan terjadi, ummm....

Ketika aku mulai menyusun angka-angka konkret dalam pikiranku, aku merasa gelisah. 

Tenanglah, Yuuta-kun.

Hah?

Sebelum aku menyadarinya, aku sudah setengah berjongkok di kursiku, mengalihkan pandangan ke sekeliling dengan perilaku yang aneh. 

Ibu tiri menghela napas seperti mengeluarkan beban. 

“Kalian berdua memang Ayah dan Anak. Reaksimu sangat mirip dengan Taichi-san. 

Begitu... ya?

“Padahal baginya juga ini anak keduanya...

Aku membayangkan wajahku ayah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun di depan kami, tapi saat mendengar kabar kehamilan Akiko-san, dirinya pasti panik dan bingung. 

Iya, aku ingin kalian tetap beraktivitas seperti biasa saja. Mungkin itu sulit, tetapi aku baik-baik saja, oke? 

Setelah mendengar itu, aku mengangguk dengan tulus dan berkata, Baiklah. 

Pada saat itu, Akiko-san menghadap ke arahku dan mengatakannya demikian, itulah sebabnya aku salah paham. 

Kira-kira, siapa sebenarnya yang dikhawatirkan Ibu tiri.

 

 

◇◇◇◇

 

Malam itu, saat aku bersantai di kamarku sendiri setelah sekian lama, aku mendengar ketukan lembut, dan Saki yang baru keluar dari mandi masuk setelah meminta izin. 

Aku menunggunya untuk membicarakan tentang sesuatu, tetapi Saki hanya mengalihkan pandangannya ke arahku dan ke dalam kamarku. Dia tampak tersenyum lega. 

“Mau duduk?

Ya.

Saki duduk di tempat tidurku. Sambil menggerakkan jarinya di tepi tempat tidur yang sudah siap untuk tidur, dia berkata pelan, 

Sudah lama ya.

Padahal kamu baru saja menginap beberapa hari sebelumnya, ‘kan?” 

“Tapi hanya sebentar saja kan? Kamu bertemu dengan Maru-kun, kan? Kamu bilang bertemu di Meguro, pulang larut malam, dan sudah pergi lagi di pagi hari.

“Yah, karena aku ada tugas laporan dan pekerjaan paruh waktu.

Sudah lama aku tidak melihat Yuuta-kun duduk seperti ini di kamar ini. Apa pekerjaanmu sebagai editor cukup sibuk? 

Yah, bisa dibilang lumayan sibuk. Tapi, ini hanya pekerjaan paruh waktu mahasiswa. Aku lebih banyak melakukan pekerjaan sepele daripada editing. Misalnya seperti mengambil salinan, membuat jadwal, mencetak dan menempelkan label alamat, mengumpulkan materi untuk penulis, dan sebagainya. 

Aku tidak melakukan pekerjaan editing langsung pada naskah penulis. Namun, ada kesempatan untuk melihat pekerjaan yang dilakukan oleh Torigoe-san dalam bentuk [konfirmasi]. Torigoe-san adalah nama editor yang mempekerjakanku sebagai pekerja paruh waktu. 

Konfirmasi itu, apa saja yang dilakukan?

Dalam kasusku, itu adalah pemeriksaan ganda terhadap pekerjaan Torigoe-san. Memeriksa apa ada kesalahan ketik, kesalahan penulisan, atau perbedaan penulisan, dan memastikan tidak ada yang terlewat dalam pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Torigoe-san. 

“Hee... Aku mengerti kesalahan ketik dan kesalahan penulisan, tapi perbedaan penulisan dan kesalahan penulisan itu maksudnya apaan? 

Kesalahan penulisan adalah saat ada karakter aneh yang muncul di tempat yang seharusnya tidak ada. Sementara untuk perbedaan penulisan adalah... misalnya, dalam sebuah buku, ada aturan yang menyatakan bahwa kata yang sama harus ditulis dengan cara yang sama di dalam satu buku. Misalnya, kata 'teman' bisa ditulis semua dengan hiragana atau semua dengan kanji, atau hanya menggunakan kanji untuk 'tomo' dan menulis '友だち'.

“Memangnya boleh mencampur kanji dan hiragana?

Aku balas mengangguk. 

Ini adalah contoh yang diajarkan oleh Torigoe-san. Kanji untuk 'teman' () diajarkan di kelas dua SD, tetapi kanji untuk '' baru diajarkan di kelas empat SD. 

“Apa...iya?” 

“Kita memang melupakannya ketika sudah beranjak dewasa, tetapi jika buku ditujukan untuk anak-anak di bawah kelas empat, maka hanya bisa ditulis dengan kanji yang telah dipelajari, jadi hanya bisa ditulis 'tomodachi' (友だち), kan?”

Saki mengangguk tanda mengerti. 

“Makanya, meskipun itu ungkapan yang bisa ditulis sepenuhnya dengan kanji, bukan berarti hiragana tidak bisa dicampur. Tentu saja, bahkan jika itu adalah tulisan untuk orang dewasa, ada penulis yang sengaja menulis 'tomo' dengan kanji dan '友だち' karena itu terasa lebih lembut. Bagaimana pun juga, yang terpenting adalah bisa dibaca, tetapi setelah menentukan gaya penulisan, seharusnya tetap konsisten dalam cara penulisannya. 

Saki bertanya dengan bingung, Kenapa? 

Ya, itu pasti menjadi pertanyaan. Dia sudah mengatakan bahwa yang penting adalah bisa dibaca. 

Misalnya, dengan melakukan, kita bisa memberikan makna pada pengecualian.

Memberikan makna pada pengecualian...

Jika 'teman' ditulis terus-menerus dengan kanji, tetapi tiba-tiba ditulis dengan katakana sebagai 'トモダチ', bagaimana kesannya? 

Saki membuka mulutnya lebar-lebar seolah mengerti. 

“Rasanya malah seperti berbicara dalam bahasa yang tidak fasih. Seperti berbicara dalam bahasa asing. Mungkin ada kesan menyimpan sesuatu atau mengelabui.

Benar sekali. Ketika penulisan diubah seperti itu, jika ingin memberikan makna, maka bagian lainnya harus disatukan dengan baik. Oleh karena itu, kata yang merujuk pada hal yang sama biasanya ditulis dengan cara yang sama. Jika tidak ditulis dengan cara yang sama, itu akan dianggap sebagai 'perbedaan penulisan' dan akan diperiksa. Kita harus memastikan kepada penulis apa itu dilakukan dengan sengaja atau tidak.

Apa semuanya perlu diperiksa satu per satu?

Pada dasarnya, iya. 

“Kedengarannya sulit.

Aku mengangguk. 

Novel biasanya sekitar 100.000 karakter untuk satu buku. Jadi, ketika kata yang sama muncul, kita perlu memeriksa apakah ditulis dengan cara yang sama... kita harus menatap kertas dan huruf dengan serius dan fokus. 

Pekerjaan ini bisa menjadi sangat melelahkan. Pola umum dari perbedaan penulisan yang sering terjadi dan istilah yang harus dihindari, serta kesalahan ketik yang umum, sudah dibagikan sebagai pengetahuan, dan ada prosedur tertentu untuk meminimalkan kesalahan saat memeriksa, tapi tetap saja, jika tidak hati-hati, kita bisa melewatkannya.

Karena aku seorang pembaca buku, aku sering secara sembarangan menduga maksud penulis, tapi dalam pekerjaan, aku harus menahan diri dan menyimpannya, lalu memastikan bahwa maksudnya benar, bukan salah. Secara pribadi, hal tersebut cukup berat

Namun, demi menjaga konsistensi gaya penulisan, pemeriksaan harus dilakukan dengan ketat. Jika penulisan disatukan, kita bisa mengambil makna dari pengecualian, tetapi jika penulisannya tidak konsisten, kita takkan tahu apakah ada makna di sana. 

Selain itu, jika kita memasukkan pengecualian ke dalam hal yang sama, itu akan mencolok dan meninggalkan kesan. Merasakan perubahan musim di antara pemandangan kota yang sudah dikenal juga mengikuti prinsip yang sama. 

Begitu ya—

Saki bergumam pelan. 

Belakangan ini, aku merasa ada yang aneh saat masuk ke dalam kamar ini.

Karena debu menumpuk, ibu tiri pernah bertanya padaku apa boleh membersihkan dengan vacuum cleaner sekali seminggu. Yah, karena tidak ada yang perlu disembunyikan, jadi aku memintanya untuk melakukannya. Kupikir aku sudah membersihkan dengan benar sejak Saki dan yang lainnya pindah, jadi seharusnya tidak terlalu kotor... atau begitulah pikirku. Meskipun sekarang, urusan bersih-bersih itu tidak penting. 

Maksudnya, mungkin Saki kadang-kadang membersihkan sebagai pengganti ibu tiri

Aku sudah terbiasa melihat Yuuta duduk di kursi itu, jadi pemandangan dengan hanya kursi itu dan tanpa Yuuta adalah pengecualian bagiku. Itulah sebabnya aku merasa aneh.

Aku merasakan hatiku menghangat saat mendengar kata-katanya. Itu berarti dia menganggap kehadiranku sebagai hal yang biasa dan familiar. Padahal, kami baru bertemu sekitar dua tahun dan setengah yang lalu. Pengecualian menciptakan makna. 

Tapi... jika dipikir-pikir, jika ruangan tanpa Yuuta terus berlanjut, itu berarti kehadiran Yuuta di sini akan menjadi pengecualian. Ini adalah kamar Yuuta, tetapi kehadiranmu menjadi sesuatu yang istimewa.

‘Aku tidak menyukainya,’ Dia mengatakannya dengan suara pelan seolah ingin menghilang. 

Fakta bahwa dia tidak mengatakannya dengan jelas karena itu mungkin cara Saki untuk menunjukkan harga dirinya, bahwa tidak adil jika dia menghentikanku untuk hidup sendiri.

Lagipula, Saki lah yang selalu mengatakan ingin mandiri setelah masuk universitas. Itulah sebabnya dia selalu mencari pekerjaan paruh waktu bergaji tinggi sejak SMA. Jika universitas yang diterimanya bukan Tsukinomiya yang jaraknya masih relatif dekat dengan Shibuya, mungkin Saki yang lebih dulu keluar rumah dan mulai tinggal sendiri. 

Sekarang, dia memilih untuk tetap tinggal di rumah dengan mempertimbangkan masa depan, tetapi wanita yang memiliki semangat mandiri ini mungkin akan mulai tinggal sendiri suatu saat nanti. Memikirkan hal itu, aku merasa sedikit bersalah.

Aku sebenarnya bisa saja pulang pergi ke kampus dari rumah jika aku mau

Hanya saja, waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan pulang pergi cukup lama. Dan pekerjaan paruh waktu yang baru kutemukan lebih dekat ke universitas daripada ke rumah. Karena alasan itu, aku memutuskan untuk pindah ke dekat universitas dan mulai tinggal sendiri, tetapi sebagian besar motivasiku sebenarnya bukan karena ingin memanfaatkan waktu dengan baik, melainkan karena ada dorongan untuk memulai sesuatu yang baru agar tidak kalah dari adik perempuan tiri yang ada di hadapanku. Aku mulai tinggal sendiri dengan tergesa-gesa, tetapi kesadaran apa pilihanku sudah benar selalu menghantuiku. 

Kita akan menjadi Onee-san, ya?

Saki mengatakannya dengan lembut, lalu tiba-tiba menyadari apa yang baru saja dikatakannya. 

Oh, Yuuta tidak akan menjadi Onee-san.

“Memang. 

Kamua akan menjadi Onii-san, ya. Kamu akan menjadi Onii-san, ya ‘kan? 

Benar.

Dan itu akan terjadi sekitar enam bulan lagi. 

“Sungguh... perasaan yang aneh. Antara aku dan Yuuta—Ah, maksudku, sesuatu yang kita miliki bersama. 

Tidak apa-apa. Aku mengerti.

Aku tidak bisa menahan senyum masam

Aku merasa aneh. Aku baru saja mengatakan itu, kan? Ya, memang aneh, tapi aku bahwa ibuku merasa senang, dan tapi aku benar-benar masih tidak mengerti. Aku akan memiliki adik laki-laki atau perempuan. 

Karena aku dan Saki adalah anak tunggal, jadi kami tidak begitu mengerti perasaan memiliki saudara. Meskipun aku dan Saki telah menjalani kehidupan sebagai kakak beradik tiri, kurasa rasanya lebih seperti kami tinggal bersama sebagai teman sebaya. 

Jika kita berbicara secara ketat, Saki sebenarnya memiliki adik perempuan tiri dari pernikahan kedua ayah kandungnya, Ito Fumiya, tetapi... sulit untuk merasakan hubungan darah dengan seseorang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya

“Mulai sekarang...

Saat aku mulai berbicara, Saki mengangkat wajahnya dan menatapku. 

“Keadaannya mungkin akan menjadi semakin sulit, tetapi tentu saja aku tidak berniat membebankan semuanya hanya kepada Saki. 

Aku telah meninggalkan rumah, dan Saki memilih untuk pergi ke universitas dari rumah setelah mempertimbangkan dengan matang. 

Ketika keputusan itu diambil, aku tidak tahu tentang kehamilan ibu tiri. Ya, aku tahu bahwa mereka sedang berusaha untuk hamil, tetapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup akan berubah setelah kehamilan—harus kuakui, aku sama sekali tidak membayangkannya. 

Setelah diberitahu oleh ibu, aku baru terburu-buru mencari informasi di internet. Sekarang aku merasa cemas tentang kemungkinan hal-hal sulit yang mungkin terjadi. 

Jadi, meskipun terlambat... 

Jika semuanya mulai terlalu sulit, aku berencana untuk segera pulang. 

Pulang?

Aku akan bolak-balik dari sini untuk sementara waktu. Tergantung situasinya, aku bahkan mungkin pindah dan bolak-balik dari rumah.”

Kesadaranku untuk tinggal sendiri muncul karena dorongan dari semangat mandiri Saki. Artinya, karena Saki terus-menerus memulai hal baru. Dengan alasan pribadi seperti itu, rasanya tidak adil jika cuma aku satu-satunya yang tidak melakukan apa-apa terhadap perubahan yang mungkin terjadi di rumah. 

“Ka-Kamu tidak boleh begitu. Ibu juga sudah bilang, dia ingin kita tetap menjalani kehidupan seperti biasa.” 

Itu benar... dia memang bilang begitu.

Jika kita tidak menunjukkan kepada ibu bahwa kita tetap biasa, dia akan merasa 'memaksa orang-orang di sekitarnya.' 

Ya, itu benar. 

Aku bisa memahami pendapat Saki. 

Aku tidak ingin memaksa seseorang untuk kepentinganku. Aku juga tidak ingin hanya aku yang berusaha keras.

Itu... aku juga setuju.

Jika ibu bilang ingin kita tetap biasa, maka aku ingin melakukan yang terbaik untuk itu. Ibu juga bilang bahwa ketika dia tidak enak badan, dia akan meminta bantuan. Jadi Yuuta, kamu tidak perlu mengatakan akan pulang segala. Jika itu benar-benar diperlukan, kurasa ibu juga akan memberitahumu. 

Apa menurutmu dia akan memberitahuku?

Ya. Jika itu ibu, dia pasti akan memberitahu.

Melihat Saki yang bersikeras seperti itu, aku teringat kembali pada Saki yang pertama kali aku temui. 

 

'Aku tidak berharap apa-apa darimu, jadi aku juga ingin kamu tidak berharap apa-apa dariku.' 

 

Ayase Saki adalah orang yang bisa mengatakan hal itu kepada orang yang baru dikenalnya

Ya, benar. Ketika aku menjadi orang tua, kurasa aku akan berpikir sama seperti ibu tiri. Ketika aku atau Saki memiliki anak, jika kita tidak ingin membebani mereka, maka kita juga tidak perlu terlalu khawatir segala. 

Saki mengangguk setuju dengan perkataanku

Ya, itulah sebabnya saat itu aku berpikir Saki adalah seseorang yang bisa mengenali kapan dia terlalu memaksakan diri. 

Sebaliknya, aku sendiri lebih sulit untuk mengungkapkan kesulitanku. Ketika aku mengikuti kamp belajar di musim panas tahun ketiga SMA, aku pernah merasa tertekan dan tidak menyadari bahwa aku terlalu memaksakan diri

Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika Saki tidak mengirimiku pesan di LINE saat itu...... 

Saki memiliki perspektif yang jauh lebih luas dan jauh lebih baik dalam menganalisis diri dibandingkan aku. 

Ngomong-ngomong, Saki berkata dengan ekspresi berpikir. 

“Hmm? 

“Bukannya kamu baru saja bilang aku atau Saki memiliki anak.” 

“Eh? Ah, iya. 

“Aku 'atau' Saki, ya.

Eh? 

Bukan 'dan', ya. 

Eh? ... Eh? 

“Fuuhmmm.

Padahal maksudku cuma kiasan kata-kata saja.



 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama