Prolog — Asamura Yuuta
29
November, pada malam
hari menjelang akhir bulan. Saat aku sedang mempersiapkan materi perkuliahan untuk besok di kamar apartemen
tempatku tinggal sendiri, ponselku
bergetar yang menandakan bahwa
ada panggilan masuk. Rupanya itu dari
Ibu Tiriku, Akiko-san.
“Yuuta-kun,
apa kita bisa
bicara sebentar?”
Aku
hampir menjawab, ‘Tidak apa-apa’
dengan bahasa sopan, tapi berhasil menjawab tepat
pada waktunya dengan, “Baiklah”. Isi panggilannya adalah pertanyaan apa aku
akan pulang ke rumah akhir pekan ini.
Setelah
memeriksa jadwal, aku menyadari kalau ternyata
aku tidak mempunyai jadwal
pekerjaan paruh waktu di perusahaan editorial pada akhir pekan itu, dan tidak ada tugas laporan mendesak yang harus
kukerjakan.
“Aku
berpikir untuk pulang.”
Setelah
aku menjawab demikian, ibu tiriku jelas menghela napas lega.
“Begini,
umm....Sebenarnya ada hal penting yang ingin
kubicarakan, jadi aku ingin kamu mendengarkannya bersama Saki.”
“Baiklah.”
Mungkin, jauh di lubuk hatiku, aku sudah tahu
isi dari pembicaraan penting itu. Kata-kata ‘bersama
Saki’ juga sudah memberikan petunjuk.
Tiga hari
setelah panggilan telepon itu, pada tanggal 2 Desember. Sore hari Jumat.
Dengan perasaan gelisah yang aneh, aku naik kereta untuk pulang ke Shibuya.
Sudah
lebih dari dua bulan sejak stasiun Chuou
Hino menjadi stasiun terdekat. Meskipun begitu, perjalanan menuju Shibuya tetap
terasa istimewa bagiku. Aku tidak pernah membayangkan
bahwa hari di mana aku bisa merasakan arti kata ‘pulang ke rumah’ akan tiba.
Stasiun
Shibuya. Setelah melewati gerbang tiket,
aku melihat area stasiun yang sudah familiar—tetapi, di sudut pandangku, aku
menemukan papan iklan yang tidak familiar dan merasa bingung. Itu adalah iklan
untuk permainan baru di ponsel. Dalam
papan iklan besar itu, ada seorang gadis yang menghadap ke belakang dengan
senjata yang tampak mengintimidasi. Sejak kapan papan iklan seperti itu berdiri
di sini?
Kalau
dilihat-lihat lagi, di pinggir jalan, pohon-pohon jalanan
tampaknya telah dibungkus dengan jerami sebagai tindakan pencegahan terhadap
cuaca dingin. Benda semacam itu tidak
ada saat aku kembali minggu lalu.
Sembari
merasakan hembusan angin yang bertiup melewati pohon-pohon
jalanan yang layu, aku mulai berpikir bahwa sudah saatnya menggunakan sarung
tangan dan penutup leher.
Aku bisa merasakan peralihan musim. Hal tersebut membuatku
menyadari sekali lagi bahwa
tidak ada yang tetap sama.
Sebenarnya,
saat ini Shibuya sedang dalam proses pengembangan besar-besaran yang terjadi
sekali dalam seratus tahun. Di dalam area konstruksi yang tertutup kain putih,
bangunan yang akan menjadi tempat baru yang terkenal di Shibuya sedang dibangun
dengan lancar, dan beberapa tahun ke depan, kota ini pasti akan berubah
drastis.
Aku akhirnya tiba di gedung apartemen tempatku dulu tinggal. Setelah membuka pintu
masuk dan mengucapkan “Aku pulang,” suara langkah sandal terdengar,
dan Saki muncul dari ujung lorong yang berbelok.
“Selamat
datang kembali,”
balasnya. Bersamaan dengan itu, aroma lezat mulai tercium. Aroma kuah dashi.
Sepertinya ini adalah nabe.
“Kamu ingin
segera makan?” tanya Saki.
“Aku akan
membantu.”
“Hampir
tidak ada lagi yang
perlu dilakukan kecuali menata cangkir teh dan mangkuk.”
Meski
begitu, aku merasa perlu melakukannya.
Ketika
aku masuk ke dalam dapur,
seperti yang kuduga, makan malam hari ini adalah
nabe. Ini adalah nabe susu kedelai wijen, dan semua bahan sudah dimasukkan ke
dalam kuah susu kedelai yang keruh dan sedang mendidih. Tentu saja, dalam
keadaan seperti ini, tampaknya hanya ada sedikit yang perlu dilakukan, yaitu
menata mangkuk dan sumpit.
“Ayah
belum pulang?” tanyaku.
“Aku
mendapat kabar bahwa ia akan lembur.”
Jawaban
Saki membuatku sedikit bingung. Hah? Apa ayah tidak perlu ada di sini? Itu
berarti ibu tiri hanya
ingin berbicara denganku dan Saki doang...
Setelah selesai menyiapkan makan malam, sisanya kami hanya perlu makan, dan
masing-masing duduk di kursi biasa di meja makan. Aku dan Saki duduk
berdampingan, sementara ibu tiri
duduk di seberang kami.
Uap mulai
mengepul dari nabe susu kedelai wijen yang diletakkan di
atas tatakan, dan saat kami hendak menyatukan tangan dalam gerakan “itadakimasu” untuk mengisi perut kami yang
kosong—saat itulah ibu tiri memulai
pembicaraan.
“Umm,
boleh aku berbicara
sebentar sebelum kita makan?”
Mendengar
keseriusan suaranya, aku menurunkan tanganku dan segera memperbaiki posisiku.
Aku dan Saki (yang mungkin juga telah diberitahu sebelumnya) sedikit terkejut.
“Ya,
ada apa?” tanya Saki.
“Sebenarnya....” katanya, berhenti sejenak.
“Aku hamil.”
Dia kemudian
mengatakannya dengan begitu santai.
Aku pikir
suaraku hilang lebih cepat daripada saat mendengar bahwa ayahku ingin menikah lagi. Meskipun aku memiliki firasat, tapi aku sama sekali tidak siap secara
mental.
Sambil
mencari kata-kata yang seharusnya diucapkan dalam situasi seperti ini, aku
mencari di database otakku yang sangat buruk yang telah dibangun selama 18 tahun
hidupku, dan Saki, yang seharusnya juga kehilangan kata-kata seperti aku, lebih
cepat menemukan jawabannya.
Dengan kata
lain, dia mengucapkan, “Selamat!” Aku terkejut. Tentu saja itu
adalah jawaban yang benar. Itu adalah sesuatu yang diinginkan oleh ibu tiri dan ayahku.
“Se-Selamat!”
Aku
berhasil mengatakannya setelah berpikir keras dalam sepersekian detik. Mendengar ucapan selamat dari
Saki dan diriku, ibu tiriku akhirnya tersenyum. Saat itu,
aku menyadari bahwa ibu kami juga
merasa tegang.
“Terima
kasih,” jawabnya singkat sebagai balasan
atas ucapan selamat kami, lalu ibu kami
memberi tahu tentang keadaannya. Kandungannya
sudah berusia 12 minggu. Perkembangannya berjalan lancar.
Ada
alasan mengapa laporan ini baru sampai pada 12 minggu. Plasenta yang terbentuk
di dalam tubuh selama kehamilan berkembang antara minggu ke-12 hingga ke-15,
dan seiring dengan penyelesaiannya, risiko keguguran juga berkurang.
Sebaliknya, periode tersebut adalah waktu paling rentan untuk keguguran.
Ibu tiri memberitahu
bahwa alasan mengapa dirinya tetap
diam sampai keadaan stabil supaya
tidak membuat Saki atau Yuuta khawatir tanpa alasan.
“Aku
seharusnya diberi tahu lebih awal,”
kata Saki sambil cemberut.
“Apa
ayah sudah tahu?” ucapku.
“Tentu
saja, dia sudah mengetahuinya sejak lama. Aku segera
memberitahunya.”
Ternyata
itu terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Artinya, selama dua bulan sejak saat
itu, aku dan Saki tidak menyadari informasi tersebut. Apa itu berarti Ayah bisa
mempertahankan ekspresi datar wajahnya
dengan baik? Padahal
biasanya ia tipe orang yang emosinya bisa terlihat dari wajahnya.
“Jadi,
aku ingin membicarakan hal yang akan terjadi mulai
sekarang,”
suara Ibu tiriku terdengar serius, dan aku
langsung memperbaiki posisiku.
“Aku
sudah terbiasa sekarang karena ini
anak keduaku, dan ada
Taichi-san
juga. Jadi, aku berharap
kalian bisa melanjutkan hidup seperti sekarang.”
Ah, aku
akhirnya bisa memahami alasan mengapa ayah tidak ada di sini. Mungkin, agar
tidak membuat aku dan Saki terlalu khawatir dengan hal-hal yang berlebihan.
“Tapi,
mungkin aku akan meminta
bantuan kalian pada hari-hari ketika aku tidak
enak badan.”
“Tentu
saja."
Baik aku
dan Saki langsung membalas demikian
tanpa ragu.
“Tapi,
apa Ibu benar-benar baik-baik saja? Apa
aku perlu melakukan pekerjaan rumah?”
Saki
secara spontan mengatakan itu, dan ibu tiri
tersenyum pahit.
“Memangnya
kamu tidak mendengar perkataanku sebelumnya? Aku
sudah bilang. Aku ingin kalian tetap seperti biasa. Hanya saja, ketika aku
terserang flu atau cedera, aku mungkin akan sedikit bergantung pada kalian, sama seperti saat aku tidak
enak badan. Itulah yang aku
minta.”
Jadi, itu
berarti dalam batas-batas normal di mana keluarga bisa membantu. Tentu saja, tidak ada keberatan
untuk itu.
Saki
menatap perut ibu tiri. Menyadari
tatapannya, ibu tiri pun bertanya, “Mau coba menyentuhnya?” Saki lalu dengan hati-hati, mengelus perut
Akiko-san. Perutnya belum terlihat jelas
membesar, tetapi ada sedikit bentuk bulat yang mungkin terlihat... atau mungkin karena aku berpikir begitu.
Aku
merasa canggung jika terus menatap, jadi aku mengalihkan pandanganku.
“Masih
belum jelas, ya?” Ibu tiri menjawab seolah ingin
menyampaikan sesuatu kepada Saki. “Sebentar
lagi akan terlihat jelas kok.”
Saki
sedikit miringkan kepalanya dan bertanya, “Benarkah?”
“Pada
minggu ke-20, itu sudah akan terlihat dengan jelas.”
Dan rupanya, kehamilan akan mencapai
minggu ke-37, yang disebut sebagai masa kelahiran. Akiko-san memberi tahu bahwa saat itu,
bayi bisa lahir kapan saja. Mengenai kapan itu akan
terjadi, ummm....
Ketika
aku mulai menyusun angka-angka konkret dalam pikiranku, aku merasa
gelisah.
“Tenanglah, Yuuta-kun.”
“Hah?”
Sebelum
aku menyadarinya, aku sudah setengah berjongkok di kursiku, mengalihkan pandangan ke
sekeliling dengan perilaku yang aneh.
Ibu tiri menghela napas seperti
mengeluarkan beban.
“Kalian
berdua memang Ayah dan Anak. Reaksimu sangat mirip dengan Taichi-san.”
“Begitu...
ya?”
“Padahal
baginya juga ini
anak keduanya...”
Aku
membayangkan wajahku ayah yang
tidak menunjukkan ekspresi apapun di depan kami, tapi saat mendengar kabar
kehamilan Akiko-san, dirinya pasti panik dan bingung.
“Iya,
aku ingin kalian tetap beraktivitas seperti biasa saja. Mungkin itu sulit,
tetapi aku baik-baik saja, oke?”
Setelah
mendengar itu, aku mengangguk dengan tulus dan berkata, “Baiklah.”
Pada saat
itu, Akiko-san
menghadap ke arahku dan mengatakannya demikian,
itulah sebabnya aku salah paham.
—Kira-kira, siapa
sebenarnya yang dikhawatirkan Ibu tiri.
◇◇◇◇
Malam
itu, saat aku bersantai di kamarku sendiri setelah
sekian lama, aku mendengar
ketukan lembut, dan Saki yang baru keluar dari mandi masuk setelah meminta
izin.
Aku
menunggunya untuk membicarakan tentang sesuatu, tetapi Saki
hanya mengalihkan pandangannya ke arahku dan ke dalam kamarku. Dia tampak
tersenyum lega.
“Mau
duduk?”
“Ya.”
Saki
duduk di tempat tidurku. Sambil menggerakkan jarinya di tepi tempat tidur yang
sudah siap untuk tidur, dia berkata pelan,
“Sudah
lama ya.”
“Padahal
kamu baru saja menginap beberapa hari sebelumnya, ‘kan?”
“Tapi
hanya sebentar saja ‘kan?
Kamu bertemu dengan Maru-kun, kan? Kamu bilang bertemu di Meguro, pulang larut
malam, dan sudah pergi lagi di pagi hari.”
“Yah, karena aku ada
tugas laporan dan pekerjaan paruh waktu.”
“Sudah
lama aku tidak melihat Yuuta-kun duduk seperti ini di kamar ini. Apa pekerjaanmu sebagai editor cukup
sibuk?”
“Yah, bisa
dibilang
lumayan sibuk. Tapi, ini hanya pekerjaan
paruh waktu mahasiswa. Aku lebih
banyak melakukan pekerjaan sepele
daripada editing. Misalnya seperti mengambil
salinan, membuat jadwal, mencetak dan menempelkan label alamat, mengumpulkan
materi untuk penulis, dan sebagainya.”
Aku tidak
melakukan pekerjaan editing langsung pada naskah penulis. Namun, ada kesempatan
untuk melihat pekerjaan yang dilakukan oleh Torigoe-san dalam bentuk [konfirmasi].
Torigoe-san adalah nama editor yang mempekerjakanku sebagai pekerja paruh
waktu.
“Konfirmasi
itu, apa saja yang dilakukan?”
“Dalam
kasusku, itu adalah pemeriksaan ganda terhadap pekerjaan Torigoe-san. Memeriksa
apa ada kesalahan ketik, kesalahan penulisan, atau perbedaan penulisan, dan
memastikan tidak ada yang terlewat dalam pekerjaan yang telah diselesaikan oleh
Torigoe-san.”
“Hee...
Aku mengerti kesalahan ketik dan kesalahan penulisan, tapi perbedaan penulisan
dan kesalahan penulisan itu maksudnya apaan?”
“Kesalahan
penulisan adalah saat ada karakter aneh yang muncul di tempat yang seharusnya
tidak ada. Sementara untuk perbedaan
penulisan adalah... misalnya, dalam sebuah buku, ada aturan yang menyatakan
bahwa kata yang sama harus ditulis dengan cara yang sama di dalam satu buku.
Misalnya, kata 'teman'
bisa ditulis semua dengan hiragana atau semua dengan kanji, atau hanya
menggunakan kanji untuk 'tomo' dan menulis '友だち'.”
“Memangnya
boleh mencampur kanji dan hiragana?”
Aku balas mengangguk.
“Ini
adalah contoh yang diajarkan oleh Torigoe-san. Kanji untuk 'teman' (友) diajarkan di kelas dua SD, tetapi
kanji untuk '達'
baru diajarkan di kelas empat SD.”
“Apa...iya?”
“Kita memang
melupakannya ketika sudah beranjak dewasa, tetapi jika buku
ditujukan untuk anak-anak di bawah kelas empat, maka hanya bisa ditulis dengan
kanji yang telah dipelajari,
jadi hanya bisa ditulis 'tomodachi' (友だち),
‘kan?”
Saki
mengangguk tanda mengerti.
“Makanya,
meskipun itu ungkapan yang bisa ditulis sepenuhnya dengan kanji, bukan berarti hiragana tidak bisa
dicampur. Tentu saja, bahkan jika itu adalah tulisan untuk orang dewasa, ada
penulis yang sengaja menulis 'tomo' dengan kanji dan '友だち' karena itu terasa lebih lembut. Bagaimana
pun juga, yang terpenting
adalah bisa dibaca, tetapi setelah menentukan
gaya penulisan, seharusnya tetap konsisten dalam cara
penulisannya.”
Saki
bertanya dengan bingung, “Kenapa?”
Ya, itu
pasti menjadi pertanyaan. Dia sudah mengatakan bahwa yang penting adalah bisa
dibaca.
“Misalnya,
dengan melakukan, kita bisa memberikan makna pada
pengecualian.”
“Memberikan
makna pada pengecualian...”
“Jika
'teman' ditulis terus-menerus dengan kanji, tetapi tiba-tiba ditulis
dengan katakana sebagai 'トモダチ',
bagaimana kesannya?”
Saki
membuka mulutnya lebar-lebar seolah mengerti.
“Rasanya
malah seperti berbicara dalam bahasa yang tidak fasih.
Seperti berbicara dalam bahasa asing. Mungkin ada kesan menyimpan sesuatu atau
mengelabui.”
“Benar sekali. Ketika penulisan diubah seperti
itu, jika ingin memberikan makna, maka bagian lainnya harus disatukan dengan
baik. Oleh karena itu, kata yang merujuk pada hal yang sama biasanya ditulis
dengan cara yang sama. Jika tidak ditulis dengan cara yang sama, itu akan
dianggap sebagai 'perbedaan penulisan' dan akan diperiksa. Kita harus
memastikan kepada penulis apa itu dilakukan dengan sengaja atau tidak.”
“Apa
semuanya perlu diperiksa satu per satu?”
“Pada
dasarnya, iya.”
“Kedengarannya
sulit.”
Aku
mengangguk.
“Novel
biasanya sekitar 100.000 karakter untuk satu buku. Jadi, ketika kata yang sama
muncul, kita perlu memeriksa apakah ditulis dengan cara yang sama... kita harus
menatap kertas dan huruf dengan serius dan fokus.”
Pekerjaan ini
bisa menjadi sangat melelahkan. Pola umum dari perbedaan penulisan yang sering
terjadi dan istilah yang harus dihindari, serta kesalahan ketik yang umum,
sudah dibagikan sebagai pengetahuan, dan ada prosedur tertentu untuk
meminimalkan kesalahan saat memeriksa, tapi tetap saja, jika tidak hati-hati,
kita bisa melewatkannya.
Karena
aku seorang pembaca buku, aku sering secara sembarangan menduga maksud penulis,
tapi dalam pekerjaan, aku harus menahan diri dan menyimpannya, lalu memastikan
bahwa maksudnya benar, bukan salah. Secara
pribadi, hal tersebut cukup berat.
Namun,
demi menjaga konsistensi gaya penulisan, pemeriksaan harus dilakukan
dengan ketat. Jika penulisan disatukan, kita bisa mengambil makna dari
pengecualian, tetapi jika penulisannya tidak konsisten, kita takkan tahu apakah
ada makna di sana.
Selain
itu, jika kita memasukkan pengecualian ke dalam hal yang sama, itu akan
mencolok dan meninggalkan kesan. Merasakan perubahan musim di antara
pemandangan kota yang sudah dikenal juga mengikuti prinsip yang sama.
“Begitu
ya—“
Saki bergumam pelan.
“Belakangan
ini, aku merasa ada yang aneh saat masuk ke dalam kamar
ini.”
Karena
debu menumpuk, ibu tiri pernah
bertanya padaku apa boleh
membersihkan dengan vacuum cleaner sekali seminggu. Yah, karena tidak ada yang perlu
disembunyikan, jadi aku memintanya
untuk melakukannya. Kupikir aku sudah membersihkan dengan benar sejak Saki dan
yang lainnya pindah, jadi seharusnya tidak terlalu kotor... atau begitulah pikirku.
Meskipun sekarang,
urusan bersih-bersih itu tidak penting.
Maksudnya,
mungkin Saki kadang-kadang membersihkan sebagai pengganti ibu tiri.
“Aku
sudah terbiasa melihat Yuuta duduk di kursi itu, jadi pemandangan dengan hanya
kursi itu dan tanpa Yuuta adalah pengecualian bagiku. Itulah sebabnya aku
merasa aneh.”
Aku
merasakan hatiku menghangat
saat mendengar kata-katanya. Itu berarti dia menganggap kehadiranku sebagai hal
yang biasa dan familiar. Padahal, kami baru bertemu sekitar dua tahun dan setengah
yang lalu. Pengecualian menciptakan makna.
“Tapi...
jika dipikir-pikir, jika ruangan tanpa Yuuta terus berlanjut, itu berarti
kehadiran Yuuta di sini akan menjadi pengecualian. Ini adalah kamar Yuuta,
tetapi kehadiranmu menjadi sesuatu yang istimewa.”
‘Aku tidak
menyukainya,’ Dia
mengatakannya dengan suara pelan seolah ingin menghilang.
Fakta bahwa
dia tidak mengatakannya dengan jelas karena itu mungkin cara Saki untuk
menunjukkan harga dirinya, bahwa tidak adil jika dia menghentikanku untuk hidup
sendiri.
Lagipula,
Saki lah yang selalu mengatakan ingin mandiri setelah masuk universitas. Itulah sebabnya dia selalu mencari pekerjaan paruh waktu bergaji tinggi sejak SMA. Jika
universitas yang diterimanya bukan
Tsukinomiya yang jaraknya masih relatif dekat dengan
Shibuya, mungkin Saki yang lebih dulu keluar rumah dan
mulai tinggal sendiri.
Sekarang,
dia memilih untuk tetap tinggal di rumah dengan mempertimbangkan masa depan,
tetapi wanita yang memiliki semangat mandiri ini mungkin akan mulai tinggal
sendiri suatu saat nanti. Memikirkan hal itu, aku merasa sedikit bersalah.
Aku
sebenarnya bisa saja pulang pergi ke kampus dari
rumah jika aku mau.
Hanya
saja, waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan pulang pergi cukup lama. Dan
pekerjaan paruh waktu yang baru kutemukan
lebih dekat ke universitas daripada ke rumah. Karena alasan itu, aku memutuskan
untuk pindah ke dekat universitas dan mulai tinggal sendiri, tetapi sebagian
besar motivasiku sebenarnya bukan karena ingin memanfaatkan waktu dengan baik,
melainkan karena ada dorongan untuk memulai sesuatu yang baru agar tidak kalah
dari adik perempuan tiri yang ada
di hadapanku. Aku mulai tinggal sendiri dengan tergesa-gesa, tetapi
kesadaran apa pilihanku sudah
benar selalu menghantuiku.
“Kita
akan menjadi Onee-san, ya?”
Saki
mengatakannya dengan lembut, lalu tiba-tiba menyadari apa yang baru saja
dikatakannya.
“Oh,
Yuuta tidak akan menjadi Onee-san.”
“Memang.”
“Kamua akan menjadi Onii-san, ya. Kamu akan menjadi Onii-san, ya ‘kan?
“Benar.”
Dan itu akan
terjadi sekitar enam bulan lagi.
“Sungguh...
perasaan yang aneh. Antara aku dan
Yuuta—Ah, maksudku, sesuatu yang kita miliki bersama.”
“Tidak
apa-apa. Aku mengerti.”
Aku tidak
bisa menahan senyum masam.
“Aku
merasa aneh. Aku baru saja mengatakan itu, kan? Ya, memang aneh, tapi aku bahwa ibuku merasa senang, dan tapi aku benar-benar
masih tidak mengerti. Aku akan memiliki adik laki-laki
atau perempuan.”
Karena
aku dan Saki adalah anak tunggal, jadi kami
tidak begitu mengerti perasaan memiliki saudara. Meskipun aku dan Saki telah
menjalani kehidupan sebagai kakak beradik tiri, kurasa
rasanya lebih seperti kami tinggal bersama sebagai teman
sebaya.
Jika kita
berbicara secara ketat, Saki sebenarnya memiliki
adik perempuan tiri dari pernikahan kedua ayah kandungnya, Ito Fumiya, tetapi... sulit untuk merasakan
hubungan darah dengan seseorang
yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya.
“Mulai
sekarang...”
Saat aku
mulai berbicara, Saki mengangkat wajahnya dan menatapku.
“Keadaannya
mungkin akan menjadi semakin sulit, tetapi tentu saja aku
tidak berniat membebankan semuanya hanya kepada Saki.”
Aku telah
meninggalkan rumah, dan Saki memilih untuk pergi ke universitas dari rumah
setelah mempertimbangkan dengan matang.
Ketika
keputusan itu diambil, aku tidak tahu tentang kehamilan ibu tiri. Ya, aku tahu bahwa mereka
sedang berusaha untuk hamil, tetapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup
akan berubah setelah kehamilan—harus kuakui,
aku sama sekali tidak membayangkannya.
Setelah
diberitahu oleh ibu, aku baru terburu-buru mencari informasi di internet.
Sekarang aku merasa cemas tentang kemungkinan ‘hal-hal
sulit yang mungkin
terjadi’.
Jadi,
meskipun terlambat...
“Jika
semuanya mulai terlalu sulit,
aku berencana untuk segera pulang.”
“Pulang?”
“Aku
akan bolak-balik dari sini untuk sementara waktu. Tergantung situasinya, aku
bahkan mungkin pindah dan bolak-balik dari rumah.”
Kesadaranku
untuk tinggal sendiri muncul karena dorongan dari semangat mandiri Saki.
Artinya, karena Saki terus-menerus memulai hal baru. Dengan alasan pribadi seperti
itu, rasanya tidak adil jika cuma
aku satu-satunya yang tidak melakukan apa-apa terhadap perubahan yang mungkin
terjadi di rumah.
“Ka-Kamu tidak
boleh begitu. Ibu juga sudah
bilang, dia ingin kita tetap menjalani kehidupan
seperti biasa.”
“Itu
benar... dia memang bilang
begitu.”
“Jika
kita tidak menunjukkan kepada ibu bahwa kita tetap biasa, dia akan merasa 'memaksa orang-orang di sekitarnya.'”
“Ya,
itu benar.”
Aku bisa
memahami pendapat Saki.
“Aku
tidak ingin memaksa seseorang untuk kepentinganku. Aku juga tidak ingin hanya
aku yang berusaha keras.”
“Itu...
aku juga setuju.”
“Jika
ibu bilang ingin kita tetap biasa, maka aku
ingin melakukan yang terbaik untuk itu. Ibu juga bilang bahwa ketika dia tidak
enak badan, dia akan meminta
bantuan. Jadi Yuuta, kamu
tidak perlu mengatakan akan pulang segala.
Jika itu benar-benar diperlukan, kurasa ibu juga akan memberitahumu.”
“Apa menurutmu dia akan memberitahuku?”
“Ya.
Jika itu ibu, dia pasti akan memberitahu.”
Melihat
Saki yang bersikeras seperti itu, aku teringat kembali pada Saki yang pertama
kali aku temui.
'Aku
tidak berharap apa-apa darimu, jadi aku juga ingin kamu tidak berharap apa-apa
dariku.'
Ayase
Saki adalah orang yang bisa mengatakan hal itu kepada orang yang baru dikenalnya.
“Ya,
benar. Ketika aku menjadi orang tua, kurasa aku akan berpikir sama seperti ibu tiri. Ketika aku atau Saki memiliki anak, jika kita tidak ingin membebani mereka, maka kita juga tidak
perlu terlalu khawatir segala.”
Saki
mengangguk setuju dengan perkataanku.
Ya, itulah
sebabnya saat itu aku berpikir Saki adalah seseorang yang bisa mengenali kapan
dia terlalu memaksakan diri.
Sebaliknya,
aku sendiri lebih sulit untuk mengungkapkan kesulitanku. Ketika aku mengikuti kamp
belajar di musim panas tahun ketiga SMA, aku pernah merasa tertekan dan tidak
menyadari bahwa aku terlalu memaksakan diri.
Aku
bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika Saki tidak mengirimiku pesan di LINE
saat itu......
Saki
memiliki perspektif yang jauh lebih luas dan jauh lebih baik dalam menganalisis
diri dibandingkan
aku.
“Ngomong-ngomong,” Saki berkata dengan ekspresi
berpikir.
“Hmm?”
“Bukannya
kamu baru saja bilang ‘aku
atau Saki memiliki anak’.”
“Eh?
Ah, iya.”
“Aku 'atau' Saki, ya.”
Eh?
“Bukan
'dan', ya.”
Eh? ...
Eh?
“Fuuhmmm.”
Padahal
maksudku cuma kiasan kata-kata saja.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

