Chapter 1 — Keberadaan Pelaku Dan Pembalas Dendam Sehari Sebelum Tanggal Tersebut
──Sehari sebelumnya (6 September, Sabtu sore)・Sudut
pandang Miyuki──
“Aku benar-benar minta maaf atas
perilaku anakku yang bodoh ini. Izinkan
aku yang menanggung biaya perawatan kali ini.”
Ayah Senpai menundukkan kepalanya dengan sikap tulus. Namun, ibuku tidak mengindahkannya
sama sekali.
“Jangan meremehkanku. Aku bisa membayar uang
sebanyak ini sendiri. Kamu memang seorang
politisi sejati, ya. Walaupun kamu meremehkan kami, kamu menundukkan kepala seolah-olah
benar-benar menyesalinya. Aku
tidak ingin melihat wajah penipu sepertimu,
jadi cepatlah pergi dari hadapanku.”
Ibuku mengucapkan itu dengan dingin.
Rasanya seolah kata-kata itu juga ditujukan padaku, dan hatiku terasa nyeri. Aku
belum pernah melihat ibuku begitu
marah. Ini semua salahku. Akulah
yang membuatnya khawatir dan sampai membuatnya
pingsan
meski dia sedang dalam
keadaan sibuk.
“Baiklah,
aku akan meninggalkan kartu namaku di sini, jadi silakan hubungi aku jika ada sesuatu.”
Ayah Senpai
meninggalkan amplop berisi uang di dalamnya agar Ibu tidak melihatnya dan pergi.
Setelah
mereka pergi, ruangan rumah sakit menjadi tenang, dan ibu bertanya dengan suara
gemetar.
“Hey,
Miyuki. Aku tidak mengerti kamu. Orang yang bernama
Kondo itu tahu kalau kamu sudah punya pacar, ‘kan? Tapi kenapa ia
tetap mendekatimu?
Kenapa dengan pria seperti itu.....Apa
kamu benar-benar menyukai pria itu?”
“.....”
Aku tidak
bisa menjawab apa pun. Aku bahkan tidak mengerti diriku sendiri. Dan apa yang akan terjadi jika ibuku mengetahui bahwa Eiji menderita karena ulah kami? Aku takut jika dia mengetahuinya.
“Jadi,
kamu tidak mau menjawabnya, ya.
Apa yang kamu lakukan itu salah sebagai manusia. Sebagai orang tua, aku justru tidak bisa mengajarkan hal sepenting itu kepadaku putriku sendiri. Aku
benar-benar gagal sebagai orang
tua.”
Ibu yang
membesarkan aku seorang diri mengucapkan kata-kata yang begitu kejam. Keputusasaan membuatku
gemetar dan menangis.
“Maafkan aku.”
“Orang
yang harus kamu minta maaf bukanlah aku. Hari ini, pulanglah ke rumah. Tolong,
biarkan aku sendirian.”
Kata-kata
penolakan yang dingin itu terasa seperti
pisau yang menusuk dadaku.
※※※※
──Sore
yang sama・Sudut
pandang Pelapor──
Aku
memastikan bahwa pasangan selingkuhan
itu telah ditangkap, dan aku berhasil kembali ke stasiun terdekat dari sekolah
sebelum malam tiba. Bukan berarti balas dendamku
telah berakhir. Justru sebaliknya, ini
baru saja dimulai.
Aku
mengambil seragam yang kusimpan di loker koin stasiun, berganti pakaian di
toilet, dan menuju sekolah dengan wajah biasa-biasa
saja. Sebagian besar kegiatan ekstrakurikuler sudah selesai berlatih dan sedang
beres-beress. Sepertinya banyak siswa
yang mengakhiri kegiatan lebih cepat setelah ujian tryout.
Jika aku
bertemu seseorang yang kukenal di sini,
aku bisa memberi alasan seperti sedang
mengambil barang yang ketinggalan, jadi seharusnya tidak ada
masalah. Aku memang absen dari ujian hari ini, tapi aku sudah menghubungi pihak sekolah tentang kondisi kesehatanku
yang kurang baik. Sekarang aku sudah sedikit tenang, jadi jika aku bilang aku
datang untuk mengambil buku kosakata untuk belajar ujian, tidak ada yang akan
curiga.
Tidak
peduli kepada siapa aku berbohong, aku akan mengutamakan balas dendamku di atas
segalanya.
Aku
menuju ruang klub sepak bola tanpa diketahui siapa pun. Kegiatan klub sudah
selesai. Besok ada pertandingan latihan. Aku bisa menunjukkan foto ini pada
saat yang tepat. Meskipun aku bukan anggota klub olahraga, kurasa takkan ada yang mencurigaiku jika aku
terlihat berkeliaran di sekitar lapangan dengan seragam. Lagipula, di sekolah
kami, ruang klub jauh dari lapangan, dan klub olahraga terletak di tempat yang
padat. Jadi, orang-orang hanya akan berpikir bahwa aku baru saja selesai
berlatih dan mengganti seragam untuk pulang.
Selanjutnya,
aku tinggal menjatuhkan amplop berisi foto
yang sudah dicetak dari konbini ke ruang klub sepak bola dengan wajah biasa saja. Aku
melemparkannya masuk dari celah pintu agar bisa meluncur ke lantai.
Anggota
klub sepak bola merupakan para pemuja
Kondo. Mereka juga terlibat dalam pembullyan
Aono dengan membela keadilan versi mereka sendiri. Aku sudah memverifikasi
informasi ini. Oleh karena itu, aku tidak akan memberikan belas kasihan kepada para penjahat. Ini adalah bom waktu. Bakat sepak bola Kondo memang luar biasa, dan karisma yang
dihasilkan dari bakat itu juga merepotkan. Namun, ketergantungannya pada
karisma juga merupakan kelemahannya. Karena karisma yang rapuh itu gampang sekali hancur dengan
keraguan.
“Foto ini
pasti akan menyebabkan klub sepak bola hancur. Meskipun mereka berhasil
melewati ini, mereka tidak akan bisa melewati turnamen penting. Setelah itu,
anggota klub akan mengembangkan cerita ini dengan sendirinya.”
Mitsuda
dari klub sepak bola merupakan sosok yang mirip seperti
ikan remora yang memanfaatkan kekuatan Kondo. Aku sudah menyelidiki bahwa pembullyan terhadap Aono melibatkan anggota
klub sepak bola dari kelas 2.
Mereka bodoh. Jika mengikuti jejak media sosial, seharusnya mudah untuk
mengetahui seberapa jauh klub sepak bola terlibat dalam perundungan.
Pihak sekolah
pasti sudah memulai penyelidikan, jadi seharusnya sudah banyak
yang terungkap. Aku akan memberikan pukulan terakhir di sini, dan setelah itu membiarkan mereka menghancurkan diri
mereka sendiri dalam kekacauan.
Namun,
jika pihak sekolah sengaja membiarkan mereka, maka
berarti ada sesuatu yang lebih besar. Ada dua hipotesis yang bisa
dipertimbangkan.
Hipotesis
1: “Pihak sekolah sedang mencari bukti kuat untuk memastikan bahwa mereka dapat
menangkap Kondo, yang merupakan dalang keributan ini dan mungkin menggunakan
taktik curang untuk menyalahkan orang lain.”
Dengan
cara ini, aku juga merasa lebih mudah. Aku memiliki data foto yang merugikan
Kondo. Jika aku juga aktif bekerja sama dengan para guru, aku bisa menjebak
Kondo.
Namun,
jika hipotesis berikutnya adalah bahwa “pihak
sekolah juga berusaha aktif untuk menutupi masalah ini,” maka
situasinya akan menjadi rumit.
Hanya
dengan data foto saja, ada risiko bahwa itu hanya akan dianggap sebagai bukti
pergaulan yang bebas dan
berujung pada sanksi yang ringan.
Fakta
bahwa orang tua Kondo adalah presiden kontraktor besar lokal dan anggota dewan
kota membuat situasinya semakin rumit.
Jika
hipotesis pertama benar, kemungkinan besar mereka akan mengamankan bukti yang
meyakinkan sebelum orang tua yang berpengaruh itu bergerak, sehingga dapat
membungkam Kondo sepenuhnya dan menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan
sanksi.
Jika
hipotesis kedua yang benar, mungkin lebih
baik mencari dukungan dari anggota dewan kota lainnya atau komite pendidikan, dengan asumsi pihak sekolah mungkin
juga terlibat aktif dalam upaya menutup-nutupi
kasus ini karena takut dengan pengaruh orang tua Kondo.
Aku juga
mempertimbangkan untuk memberi informasi kepada streamer yang suka membongkar kasus-kasus, tapi aku tidak yakin
mereka akan menangani masalah ini dengan baik, dan ada risiko bahwa kasus Aono
akan diedit secara lucu, yang bisa menyebabkan kerugian lebih lanjut, jadi aku
membatalkan niat itu.
“Jika
klub sepak bola hancur dan mereka mengalami kekalahan telak di turnamen
penting, Kondo hanya akan mendapatkan sedikit noda dalam riwayatnya, dan ia
akan terus menjalani kehidupannya dengan tenang. Dan ia akan terus
menyakiti banyak orang, seperti yang terjadi pada Aono kali ini!”
Sejujurnya,
aku tidak bisa memaafkan diriku
sendiri. Seandainya aku bisa bertindak waktu
itu, Kondo tidak akan menjadi semena-mena seperti sekarang. Aku seharusnya bisa
menghentikan mereka.
Aku mengingat kembali wajah
teman masa kecilku yang
sekarang cuma
menyimpan kebencian. Kejadian ini pasti akan menghancurkan kondisi mentalnya
yang tidak stabil. Wajar saja jika aku
lebih mengutamakan sahabat yang menemaniku
di masa sulit daripada seseorang yang meninggalkanku.
Aku
merasa hancur dan menjadi hikikomori.
Aku mengulang tahun di sekolah SMA
dan akhirnya berhasil masuk ke sekolah ini, tapi pada akhirnya, aku juga
bertanggung jawab atas meluasnya dampak buruk dari tindakan Kondo.
“Loh, rupanya
Endo, toh. Ada apa, bukankah klub sains
sedang libur? Lagipula, kupikir kamu
sedang tidak enak badan sejak kemarin
dan tidak masuk. Kamu juga tidak ada di ujian tryout
hari ini.”
Tiba-tiba
aku dipanggil dari belakang dan tanpa sadar aku menoleh. Di sana ada teman
sekelasku, Imai, yang mengenakan pakaian panahan.
Aku
bersyukur atas pertemuan kebetulan ini. Imai adalah teman masa kecil dan
sahabat Aono. Ia adalah
teman kedua yang kudapatkan selama masa SMA melalui pertemanan Aono. Aku yakin ia pasti mengetahui sesuatu.
Dengan begini, balas dendamku akan selangkah lebih dekat. Dadu
telah dilempar. Tuhan berpihak padaku.
“Ah, aku
datang karena ada barang yang tertinggal. Kan ada ulangan kecil di awal minggu,
tentang kosakata bahasa Inggris. Aku meninggalkan buku kosakata di kelas, jadi aku datang untuk
mengambilnya.”
Aku
menggunakan alasan yang sudah disiapkan. Tak peduli
seberapa pintarnya Imai, mana
mungkin ia akan curiga.
“Begitu
ya. Tapi, kamu kan sedang tidak
enak badan. Sampai-sampai tidak masuk ujian simulasi. Jangan terlalu memaksakan
diri. Kalau mau, aku bisa membawakannya
ke rumahmu.”
“Aku merasa tidak enakan dengan itu,
ditambah lagi aku sudah
menguncinya di loker.”
Sepertinya
ia puas dengan penjelasan itu, jadi aku juga masuk ke pokok pembicaraan. Aku
sudah melewati satu rintangan yang tidak dicurigai. Dari sini, baru inti
pembicaraannya.
“Ngomong-ngomong,
bagaimana dengan Aono? Aku khawatir dan sudah menghubunginya, tapi ia tidak
membaca pesanku.”
Mungkin
ia sengaja tidak mau melihatnya. Jika aku berada di posisi yang sama, aku juga
akan melakukan hal yang sama.
Dalam
situasi di mana semua kebencian di sekolah terkumpul, pasti sangat menakutkan
untuk membuka akun media
sosial.
Dan aku
tidak bisa memaafkan orang-orang yang telah memaksa teman baikku ke dalam
situasi seperti itu. Mereka menjadikan orang yang sangat berjasa bagiku sebagai mainan untuk pelecehan, dan aku tidak bisa
membiarkannya.
“Ah, keadaannya baik-baik saja. Begitu ya, jadi Endo juga merasa khawatir padanya, ya. Aku senang mendengar bahwa bukan hanya
kita yang memedulikannya.”
“Sudah
pasti. Aono bukan tipe orang yang melakukan hal-hal seperti yang dirumorkan.”
“Kalau begitu,
ayo kita pergi dan menemuinya bersama setelah liburan. Sekarang ia sedang bersekolah di ruang UKS. Sepertinya dirinya sudah cukup pulih berkat
guru-guru seperti Takayanagi. Jika Endo juga
datang, aku yakin ia pasti akan
sangat senang.”
Terima
kasih, Imai. Aku mendapatkan informasi bahwa Aono mulai pulih berkat bantuan
para guru. Informasi ini sangat penting untuk balas dendamku. Setidaknya,
tampaknya pihak sekolah tidak berniat untuk menutupi masalah ini. Jika ada
tanda-tanda seperti itu, Imai pasti akan mengambil langkah tegas.
Aku
menyadari bahwa aku bisa bergantung pada pihak sekolah. Artinya, kemungkinan
hipotesis pertama yang kupikirkan semakin tinggi.
Kalau
begitu, mari kita serahkan data foto kepada pihak sekolah dan lihat bagaimana
perkembangannya.
Di situs
web sekolah, seharusnya ada nomor faks untuk dihubungi.
Meskipun faks terasa ketinggalan zaman di era ini, kali ini sangat
menguntungkan diriku.
Mengingat risiko terungkapnya
identitasku jika jejak emailku
dilacak, mengirim faks dari mesin cetak di minimarket
yang digunakan oleh banyak orang akan membuat sulit untuk mengetahui siapa yang
mengirimnya.
Namun,
itu saja mungkin dianggap sebagai tindakan iseng, jadi aku juga akan memasukkan
foto yang telah dicetak ke dalam amplop yang ditujukan kepada Takayanagi-sensei dan meletakkannya di kotak pos
sekolah.
Dengan begini, tahap kedua dari balas
dendamku sudah selesai.
“Baiklah,
aku pulang dulu. Sampai jumpa minggu depan.”
Aku
berpura-pura tenang dan mengakhiri percakapan dengan singkat. Aku tidak bisa
melibatkan Imai dalam upaya balas
dendamku. Aku tidak ingin dirinya
terjebak dan menjadi sasaran kebencian Kondo. Jika Imai mengalami hal yang sama
seperti Aono, aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri.
“Ah tentu, jaga kesehatanmu baik-baik ya. Oh iya, Endo. Mungkin aku terlalu mengurusi urusan orang
lain… tidak, mungkin ini hanya khayalanku saja…”
Imai biasanya orang yang sangat santai, tapi kali ini ia
terlihat kesulitan untuk mengatakannya.
“Hmm?”
“Jangan
terlalu memaksakan diri. Jika memang terlalu
sulit, kamu bisa memminta bantuan pada orang lain, entah itu padaku atau
guru.”
Sekejap,
waktu terasa terhenti.
Jangan-jangan
ia sudah menyadarinya.
Bagaimana ia bisa tahu? Aku hampir tidak memberikan informasi apa pun. Aku
segera menyadari bahwa wajahku menunjukkan ekspresi pahit dan buru-buru
tersenyum. Jangan biarkan ia curiga. Imai merupakan
cowok yang cerdas. Dengan sedikit informasi saja, ia bisa langsung sampai pada kebenaran. Jika ia
menyadarinya, Imai pasti akan berusaha membantuku dan berisiko terjebak dalam
masalah.
“Eh, ah,
itu tentang flu, kan? Terima kasih sudah khawatir.”
Dengan
susah payah aku mengeluarkan alasan itu, dan dia pun tersenyum.
Itu
adalah senyuman yang biasa ditunjukkannya.
“Ya, benar,
tentang flu. Pasti kamu merasa sangat kerepotan karena
harus susah payah berangkat ke sekolah hanya untuk mengambil
buku kosakata.”
Aku tidak
mengiyakan atau membantah, sengaja menyesuaikan diri dan tertawa bersama.
Kami
tertawa dan berpisah.
※※※※
──Sore
hari yang sama・Sudut
pandang Takayanagi──
Ujian tryout telah
selesai, dan sebenarnya aku bisa langsung pulang,
tetapi masih ada beberapa pekerjaan yang tersisa, jadi aku bekerja lembur di
ruang guru untuk menyelesaikannya. Akhirnya, minggu yang penuh gejolak ini
berakhir. Pertarungan baru saja dimulai, tapi setidaknya, bimbingan Aono sudah
bisa dimulai, dan aku telah membangun sistem komunikasi yang lancar dengan
orang tuanya. Dengan
adanya hubungan saling percaya antar staf pengajar, kurasa semuanya berjalan
lancar sampai saat ini. Sepertinya aku harus bekerja di hari libur besok juga, tapi aku masih perlu berjuang
sedikit lagi.
“Kurasa semuanya berjalan lancar. Sungguh, hanya
berpikir seperti itu saja sudah membuatku
merasa sombong. Aku telah menciptakan masalah yang seharusnya tidak ada.
Meskipun sekolah tidak sepenuhnya tidak bertanggung jawab.”
Aku
merasa sedikit membenci diri sendiri karena munculnya hati yang lemah. Ada satu
masalah lagi. Asisten guru, Ayase-sensei, merasa bertanggung jawab atas
masalah Aono dan sedang mengalami depresi, sehingga dia tidak masuk kerja
karena sakit. Aku ingin membantunya
sebisa mungkin, tetapi saat ini aku harus memprioritaskan Aono, jadi aku
menyerahkan semuanya kepada kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.
Kejadian
kali ini penuh dengan poin-poin yang perlu direnungkan. Aku tidak boleh terlalu
terpuruk. Jika aku merasa tertekan,
kemampuan penilaianku akan menurun, dan semakin lama masalah ini berlangsung, lama-kelamaan ini semakin
menjadi pertarungan stamina.
Aku
mungkin sedikit lelah. Aku sudah sampai sejauh ini dengan dukungan dari semua
orang.
Setelah
menyelesaikan penilaian kuis kecil yang tertunda karena berbagai hal, aku
berdiri untuk istirahat sejenak.
Kurasa aku
perlu minum kopi dulu dan
menyegarkan pikiran. Saat aku membawa cangkir dan kopi instan yang disimpan di
lemari, aku mendengar suara penerimaan
faks.
“Faks? Tumben sekali di zaman sekarang.”
Meskipun
kadang digunakan untuk komunikasi dari dewan pendidikan, ini adalah era di mana
email sudah sangat mendominasi. Aku mendengar banyak guru yang membuat grup
obrolan dengan siswa di aplikasi LINE. Aku terkejut bahwa bahkan email mulai
menjadi produk masa lalu.
Ketika
aku memeriksa apa yang diterima, aku melihat sesuatu yang mirip foto.
“Hah!?”
Resolusinya
sangat rendah. Kurasa itu wajar saja karena
ini adalah faks. Namun, itu adalah bukti yang selama ini kucari-cari.
Foto
hitam putih yang sulit dilihat, tapi aku yakin data faks ini juga disimpan
sebagai data di server sekolah. Jika aku melihatnya, aku akan segera tahu.
Aku
melupakan kopi dan segera mencari data gambar di server.
Dengan
menggunakan perangkat lunak gambar, aku mengedit warnanya. Hanya dengan itu, gambar
menjadi lebih jelas daripada faks.
“Kondo
dan Amada…”
Aku tidak
tahu kapan foto itu diambil. Namun, mereka berdua
jelas-jelas sedang berusaha masuk ke hotel
cinta. Foto kedua menunjukkan mereka sedang diamankan oleh polisi. Selain itu,
ada catatan tangan yang bertuliskan, “Aku telah memasukkan foto berwarna
asli ke dalam kotak pos sekolah. Silakan memeriksanya.” Aku kembali teringat kesaksian waktu itu.
“Memang benar aku dan Eiji terlibat
masalah saat membahas perpisahan… Saat itu, aku berjalan bersama Kondo-senpai yang membantuku, dan Eiji
salah paham.”
“Anak itu pasti melihat kami
kebetulan berjalan bersama dan mengira Miyuki berselingkuh.”
Kesaksian
kedua orang itu ternyata adalah kebohongan. Dengan ini, aku seharusnya bisa
mengguncang situasi lebih lanjut. Jika foto ini dan penyelidikan berjalan
dengan baik, kebenaran mungkin akan terungkap dalam waktu dekat.
Namun,
ada satu hal yang membuatku cemas.
Tentang
pelapor anonim ini. Kemungkinan besar, ia bukan staf pengajar, melainkan siswa
dari sekolah ini. Meskipun ada kemungkinan pihak orang
tua, tidak ada alasan untuk menggunakan cara yang berbelit-belit seperti
ini.
Siswa
anonim ini, bagaimana dirinya bisa
mengambil foto ini?
Ia
pasti telah melintasi jembatan yang sangat berbahaya.
Apa siswa itu
memiliki dendam yang cukup mendalam
terhadap Kondo dan yang lainnya, ataukah ia berutang budi kepada Aono? Mungkin
salah satu dari keduanya, tapi aku merasakan tekad yang kuat dari foto ini,
seolah-olah dia tidak keberatan mengorbankan dirinya.
Padahal masih
anak-anak di usia remaja…
Kesulitan
macam apa yang pernah ia lalui sampai bisa memiliki tekad seperti
itu?
Lagipula,
ia masih seorang remaja yang seharusnya dilindungi oleh orang dewasa.
Sejak aku
mulai bekerja sebagai guru, aku
telah melihat banyak situasi di mana aku tidak bisa melindungi anak-anak
sebagai orang dewasa. Siswa yang tidak bisa bersekolah karena utang orang tuanya yang tidak bertanggung jawab.
Siswa yang terjerumus ke dalam kenakalan karena tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Dan siswa yang——seperti Aono kali ini——mengalami pembullyan
yang penuh niat jahat, membuat
masa depan mereka terancam.
Aku ingin
menemukan siswa-siswa seperti itu dan memberikan bantuan. Mungkin ini terdengar
sombong, tapi aku merasa itu adalah tanggung jawabku sebagai seorang guru.
Sebelum
sesuatu terjadi, kali ini aku
tidak ingin terlambat.
Aku akan
menyelesaikan semuanya.
Aku
menghubungi kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, serta berbagi
informasi.
Setelah
beberapa saat kemudian, mereka
berdua datang ke sekolah.
“Maaf,
Takayanagi-sensei, kami terlambat.”
Kepala
sekolah benar-benar meminta maaf.
“Tidak
apa-apa, sebenarnya saya sudah
merencanakan untuk lembur…”
Selama
menunggu kedatangan mereka, aku bisa melanjutkan pekerjaan. Foto ini bisa
menjadi bukti yang cukup kuat untuk membalikkan semua kesaksian. Tentu saja,
bisa jadi ini hanyalah
lelucon atau tindakan mengganggu terhadap Kondo, tapi dari yang kulihat, foto tersebut tidak
terlihat seperti foto yang tidak wajar.
Setidaknya,
aku berpikir kita harus menunjukkan foto ini dan mendengarkan kembali penjelasan Kondo dan Amada. Kita perlu
memastikan apakah mereka benar-benar tidak berbohong.
“Aku senang
kamu segera menghubungi kami,” kata wakil kepala sekolah.
“Namun,
jika orang yang mengambil foto itu adalah siswa, ini akan menjadi masalah
besar. Kita harus segera menemukan dan melindungi si pengambil foto. Jika
tidak, siswa itu bisa berada dalam bahaya. Itu adalah tanggung jawab orang
dewasa. Siswa harus dilindungi.”
Kepala
sekolah tampak berpikir dengan cemas. Aku merasa lega mengetahui bahwa atasanku
memiliki pemikiran yang sama. Memang, guru ini layak dipercaya.
“Benar
sekali, kemungkinan besar ia telah melintasi jembatan
yang sangat berbahaya. Selain itu, jika gerakan ini diketahui oleh anggota klub sepak bola, mereka mungkin
akan mencari tahu identitas pengambil foto untuk melakukan pembalasan. Dan jika
terjadi keributan akibat penganiayaan...”
Wakil
kepala sekolah juga memegang kepalanya. Itu benar-benar situasi terburuk. Aku
tidak ingin siswa lain mengalami bahaya lebih lanjut. Kupikir itu adalah pemikiran yang
wajar sebagai seorang guru.
“Takayanagi-sensei,
apa kamu memiliki ide yang baik? Aku tidak
ingin melihat siswa terluka lebih lanjut.”
Kepala
sekolah bertanya dengan ekspresi yang sangat khawatir. Aku menjelaskan
pemikiran yang telah aku rangkum sebelum kedatangan mereka.
“Iya.
Sambil menunggu, aku sudah
melakukan beberapa penyelidikan. Kondo dan Amada absen dari ujian hari ini
dengan alasan sakit, dan foto itu kemungkinan diambil pada waktu ujian
berlangsung. Mengingat foto seperti ini, pengambil
foto mungkin memiliki dendam yang mendalam terhadap
Kondo atau temannya Aono. Kurasa salah satu dari dua
kemungkinan itu lebih kuat. Aku sedang menyaring siswa yang memenuhi kondisi
tersebut, baik yang absen dari ujian maupun yang tidak terlibat dalam kegiatan
klub.”
Aku
segera menunjukkan daftar siswa yang relevan kepada mereka. Pengambil foto
pasti ada dalam daftar ini. Kami akan memastikan
untuk melindungi siswa itu dengan baik. Kami tidak ingin
ada lagi anak muda yang terluka karena masalah
ini.
