Jinsei Gyakuten Volume 2 Chapter 1 Bahasa Indonesia


Chapter 1 — Keberadaan Pelaku Dan Pembalas Dendam Sehari Sebelum Tanggal Tersebut

 

──Sehari sebelumnya (6 September, Sabtu sore)Sudut pandang Miyuki──

 

Aku benar-benar minta maaf atas perilaku anakku yang bodoh ini. Izinkan aku yang menanggung biaya perawatan kali ini.” 

Ayah Senpai menundukkan kepalanya dengan sikap tulus. Namun, ibuku tidak mengindahkannya sama sekali. 

“Jangan meremehkanku. Aku bisa membayar uang sebanyak ini sendiri. Kamu memang seorang politisi sejati, ya. Walaupun kamu meremehkan kami, kamu menundukkan kepala seolah-olah benar-benar menyesalinya. Aku tidak ingin melihat wajah penipu sepertimu, jadi cepatlah pergi dari hadapanku.” 

Ibuku mengucapkan itu dengan dingin. Rasanya seolah kata-kata itu juga ditujukan padaku, dan hatiku terasa nyeri. Aku belum pernah melihat ibuku begitu marah. Ini semua salahku. Akulah yang membuatnya khawatir dan sampai membuatnya pingsan meski dia sedang dalam keadaan sibuk. 

“Baiklah, aku akan meninggalkan kartu namaku di sini, jadi silakan hubungi aku jika ada sesuatu.” 

Ayah Senpai meninggalkan amplop berisi uang di dalamnya agar Ibu tidak melihatnya dan pergi

Setelah mereka pergi, ruangan rumah sakit menjadi tenang, dan ibu bertanya dengan suara gemetar

“Hey, Miyuki. Aku tidak mengerti kamu. Orang yang bernama Kondo itu tahu kalau kamu sudah punya pacar, kan? Tapi kenapa ia tetap mendekatimu? Kenapa dengan pria seperti itu.....Apa kamu benar-benar menyukai pria itu?”

“.....” 

Aku tidak bisa menjawab apa pun. Aku bahkan tidak mengerti diriku sendiri. Dan apa yang akan terjadi jika ibuku mengetahui bahwa Eiji menderita karena ulah kami? Aku takut jika dia mengetahuinya

“Jadi, kamu tidak mau menjawabnya, ya. Apa yang kamu lakukan itu salah sebagai manusia. Sebagai orang tua, aku justru tidak bisa mengajarkan hal sepenting itu kepadaku putriku sendiri. Aku benar-benar gagal sebagai orang tua.” 

Ibu yang membesarkan aku seorang diri mengucapkan kata-kata yang begitu kejam. Keputusasaan membuatku gemetar dan menangis. 

“Maafkan aku.” 

“Orang yang harus kamu minta maaf bukanlah aku. Hari ini, pulanglah ke rumah. Tolong, biarkan aku sendirian.” 

Kata-kata penolakan yang dingin itu terasa seperti pisau yang menusuk dadaku.

 

※※※※

──Sore yang samaSudut pandang Pelapor──

 

Aku memastikan bahwa pasangan selingkuhan itu telah ditangkap, dan aku berhasil kembali ke stasiun terdekat dari sekolah sebelum malam tiba. Bukan berarti balas dendamku telah berakhir. Justru sebaliknya, ini baru saja dimulai.

Aku mengambil seragam yang kusimpan di loker koin stasiun, berganti pakaian di toilet, dan menuju sekolah dengan wajah biasa-biasa saja. Sebagian besar kegiatan ekstrakurikuler sudah selesai berlatih dan sedang beres-beress. Sepertinya banyak siswa yang mengakhiri kegiatan lebih cepat setelah ujian tryout. 

Jika aku bertemu seseorang yang kukenal di sini, aku bisa memberi alasan seperti sedang mengambil barang yang ketinggalan, jadi seharusnya tidak ada masalah. Aku memang absen dari ujian hari ini, tapi aku sudah menghubungi pihak sekolah tentang kondisi kesehatanku yang kurang baik. Sekarang aku sudah sedikit tenang, jadi jika aku bilang aku datang untuk mengambil buku kosakata untuk belajar ujian, tidak ada yang akan curiga. 

Tidak peduli kepada siapa aku berbohong, aku akan mengutamakan balas dendamku di atas segalanya. 

Aku menuju ruang klub sepak bola tanpa diketahui siapa pun. Kegiatan klub sudah selesai. Besok ada pertandingan latihan. Aku bisa menunjukkan foto ini pada saat yang tepat. Meskipun aku bukan anggota klub olahraga, kurasa takkan ada yang mencurigaiku jika aku terlihat berkeliaran di sekitar lapangan dengan seragam. Lagipula, di sekolah kami, ruang klub jauh dari lapangan, dan klub olahraga terletak di tempat yang padat. Jadi, orang-orang hanya akan berpikir bahwa aku baru saja selesai berlatih dan mengganti seragam untuk pulang. 

Selanjutnya, aku tinggal menjatuhkan amplop berisi foto yang sudah dicetak dari konbini ke ruang klub sepak bola dengan wajah biasa saja. Aku melemparkannya masuk dari celah pintu agar bisa meluncur ke lantai. 

Anggota klub sepak bola merupakan para pemuja Kondo. Mereka juga terlibat dalam pembullyan Aono dengan membela keadilan versi mereka sendiri. Aku sudah memverifikasi informasi ini. Oleh karena itu, aku tidak akan memberikan belas kasihan kepada para penjahat. Ini adalah bom waktu. Bakat sepak bola Kondo memang luar biasa, dan karisma yang dihasilkan dari bakat itu juga merepotkan. Namun, ketergantungannya pada karisma juga merupakan kelemahannya. Karena karisma yang rapuh itu gampang sekali hancur dengan keraguan. 

“Foto ini pasti akan menyebabkan klub sepak bola hancur. Meskipun mereka berhasil melewati ini, mereka tidak akan bisa melewati turnamen penting. Setelah itu, anggota klub akan mengembangkan cerita ini dengan sendirinya.” 

Mitsuda dari klub sepak bola merupakan sosok yang mirip seperti ikan remora yang memanfaatkan kekuatan Kondo. Aku sudah menyelidiki bahwa pembullyan terhadap Aono melibatkan anggota klub sepak bola dari kelas 2. Mereka bodoh. Jika mengikuti jejak media sosial, seharusnya mudah untuk mengetahui seberapa jauh klub sepak bola terlibat dalam perundungan. 

Pihak sekolah pasti sudah memulai penyelidikan, jadi seharusnya sudah banyak yang terungkap. Aku akan memberikan pukulan terakhir di sini, dan setelah itu membiarkan mereka menghancurkan diri mereka sendiri dalam kekacauan. 

Namun, jika pihak sekolah sengaja membiarkan mereka, maka berarti ada sesuatu yang lebih besar. Ada dua hipotesis yang bisa dipertimbangkan. 

Hipotesis 1: “Pihak sekolah sedang mencari bukti kuat untuk memastikan bahwa mereka dapat menangkap Kondo, yang merupakan dalang keributan ini dan mungkin menggunakan taktik curang untuk menyalahkan orang lain.”

Dengan cara ini, aku juga merasa lebih mudah. Aku memiliki data foto yang merugikan Kondo. Jika aku juga aktif bekerja sama dengan para guru, aku bisa menjebak Kondo. 

Namun, jika hipotesis berikutnya adalah bahwa pihak sekolah juga berusaha aktif untuk menutupi masalah ini, maka situasinya akan menjadi rumit. 

Hanya dengan data foto saja, ada risiko bahwa itu hanya akan dianggap sebagai bukti pergaulan yang bebas dan berujung pada sanksi yang ringan

Fakta bahwa orang tua Kondo adalah presiden kontraktor besar lokal dan anggota dewan kota membuat situasinya semakin rumit. 

Jika hipotesis pertama benar, kemungkinan besar mereka akan mengamankan bukti yang meyakinkan sebelum orang tua yang berpengaruh itu bergerak, sehingga dapat membungkam Kondo sepenuhnya dan menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan sanksi. 

Jika hipotesis kedua yang benar, mungkin lebih baik mencari dukungan dari anggota dewan kota lainnya atau komite pendidikan, dengan asumsi pihak sekolah mungkin juga terlibat aktif dalam upaya menutup-nutupi kasus ini karena takut dengan pengaruh orang tua Kondo.

Aku juga mempertimbangkan untuk memberi informasi kepada streamer yang suka membongkar kasus-kasus, tapi aku tidak yakin mereka akan menangani masalah ini dengan baik, dan ada risiko bahwa kasus Aono akan diedit secara lucu, yang bisa menyebabkan kerugian lebih lanjut, jadi aku membatalkan niat itu. 

“Jika klub sepak bola hancur dan mereka mengalami kekalahan telak di turnamen penting, Kondo hanya akan mendapatkan sedikit noda dalam riwayatnya, dan ia akan terus menjalani kehidupannya dengan tenang. Dan ia akan terus menyakiti banyak orang, seperti yang terjadi pada Aono kali ini!” 

Sejujurnya, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Seandainya aku bisa bertindak waktu itu, Kondo tidak akan menjadi semena-mena seperti sekarang. Aku seharusnya bisa menghentikan mereka. 

Aku mengingat kembali wajah teman masa kecilku yang sekarang cuma menyimpan kebencian. Kejadian ini pasti akan menghancurkan kondisi mentalnya yang tidak stabil. Wajar saja jika aku lebih mengutamakan sahabat yang menemaniku di masa sulit daripada seseorang yang meninggalkanku

Aku merasa hancur dan menjadi hikikomori. Aku mengulang tahun di sekolah SMA dan akhirnya berhasil masuk ke sekolah ini, tapi pada akhirnya, aku juga bertanggung jawab atas meluasnya dampak buruk dari tindakan Kondo. 

Loh, rupanya Endo, toh. Ada apa, bukankah klub sains sedang libur? Lagipula, kupikir kamu sedang tidak enak badan sejak kemarin dan tidak masuk. Kamu juga tidak ada di ujian tryout hari ini.” 

Tiba-tiba aku dipanggil dari belakang dan tanpa sadar aku menoleh. Di sana ada teman sekelasku, Imai, yang mengenakan pakaian panahan.

Aku bersyukur atas pertemuan kebetulan ini. Imai adalah teman masa kecil dan sahabat Aono. Ia adalah teman kedua yang kudapatkan selama masa SMA melalui pertemanan Aono. Aku yakin ia pasti mengetahui sesuatu. 

Dengan begini, balas dendamku akan selangkah lebih dekat. Dadu telah dilempar. Tuhan berpihak padaku. 

“Ah, aku datang karena ada barang yang tertinggal. Kan ada ulangan kecil di awal minggu, tentang kosakata bahasa Inggris. Aku meninggalkan buku kosakata di kelas, jadi aku datang untuk mengambilnya.” 

Aku menggunakan alasan yang sudah disiapkan. Tak peduli seberapa pintarnya Imai, mana mungkin ia akan curiga. 

“Begitu ya. Tapi, kamu kan sedang tidak enak badan. Sampai-sampai tidak masuk ujian simulasi. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau mau, aku bisa membawakannya ke rumahmu.” 

Aku merasa tidak enakan dengan itu, ditambah lagi aku sudah menguncinya di loker.” 

Sepertinya ia puas dengan penjelasan itu, jadi aku juga masuk ke pokok pembicaraan. Aku sudah melewati satu rintangan yang tidak dicurigai. Dari sini, baru inti pembicaraannya. 

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Aono? Aku khawatir dan sudah menghubunginya, tapi ia tidak membaca pesanku.” 

Mungkin ia sengaja tidak mau melihatnya. Jika aku berada di posisi yang sama, aku juga akan melakukan hal yang sama. 

Dalam situasi di mana semua kebencian di sekolah terkumpul, pasti sangat menakutkan untuk membuka akun media sosial. 

Dan aku tidak bisa memaafkan orang-orang yang telah memaksa teman baikku ke dalam situasi seperti itu. Mereka menjadikan orang yang sangat berjasa bagiku sebagai mainan untuk pelecehan, dan aku tidak bisa membiarkannya. 

“Ah, keadaannya baik-baik saja. Begitu ya, jadi Endo juga merasa khawatir padanya, ya. Aku senang mendengar bahwa bukan hanya kita yang memedulikannya.” 

“Sudah pasti. Aono bukan tipe orang yang melakukan hal-hal seperti yang dirumorkan.” 

“Kalau begitu, ayo kita pergi dan menemuinya bersama setelah liburan. Sekarang ia sedang bersekolah di ruang UKS. Sepertinya dirinya sudah cukup pulih berkat guru-guru seperti Takayanagi. Jika Endo juga datang, aku yakin ia pasti akan sangat senang.” 

Terima kasih, Imai. Aku mendapatkan informasi bahwa Aono mulai pulih berkat bantuan para guru. Informasi ini sangat penting untuk balas dendamku. Setidaknya, tampaknya pihak sekolah tidak berniat untuk menutupi masalah ini. Jika ada tanda-tanda seperti itu, Imai pasti akan mengambil langkah tegas. 

Aku menyadari bahwa aku bisa bergantung pada pihak sekolah. Artinya, kemungkinan hipotesis pertama yang kupikirkan semakin tinggi. 

Kalau begitu, mari kita serahkan data foto kepada pihak sekolah dan lihat bagaimana perkembangannya.

Di situs web sekolah, seharusnya ada nomor faks untuk dihubungi. Meskipun faks terasa ketinggalan zaman di era ini, kali ini sangat menguntungkan diriku. Mengingat risiko terungkapnya identitasku jika jejak emailku dilacak, mengirim faks dari mesin cetak di minimarket yang digunakan oleh banyak orang akan membuat sulit untuk mengetahui siapa yang mengirimnya. 

Namun, itu saja mungkin dianggap sebagai tindakan iseng, jadi aku juga akan memasukkan foto yang telah dicetak ke dalam amplop yang ditujukan kepada Takayanagi-sensei dan meletakkannya di kotak pos sekolah. 

Dengan begini, tahap kedua dari balas dendamku sudah selesai. 

“Baiklah, aku pulang dulu. Sampai jumpa minggu depan.” 

Aku berpura-pura tenang dan mengakhiri percakapan dengan singkat. Aku tidak bisa melibatkan Imai dalam upaya balas dendamku. Aku tidak ingin dirinya terjebak dan menjadi sasaran kebencian Kondo. Jika Imai mengalami hal yang sama seperti Aono, aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri. 

“Ah tentu, jaga kesehatanmu baik-baik ya. Oh iya, Endo. Mungkin aku terlalu mengurusi urusan orang lain… tidak, mungkin ini hanya khayalanku saja…” 

Imai biasanya orang yang sangat santai, tapi kali ini ia terlihat kesulitan untuk mengatakannya. 

“Hmm?” 

“Jangan terlalu memaksakan diri. Jika memang terlalu sulit, kamu bisa memminta bantuan pada orang lain, entah itu padaku atau guru.” 

Sekejap, waktu terasa terhenti. 

Jangan-jangan ia sudah menyadarinya. Bagaimana ia bisa tahu? Aku hampir tidak memberikan informasi apa pun. Aku segera menyadari bahwa wajahku menunjukkan ekspresi pahit dan buru-buru tersenyum. Jangan biarkan ia curiga. Imai merupakan cowok yang cerdas. Dengan sedikit informasi saja, ia bisa langsung sampai pada kebenaran. Jika ia menyadarinya, Imai pasti akan berusaha membantuku dan berisiko terjebak dalam masalah. 

“Eh, ah, itu tentang flu, kan? Terima kasih sudah khawatir.” 

Dengan susah payah aku mengeluarkan alasan itu, dan dia pun tersenyum. 

Itu adalah senyuman yang biasa ditunjukkannya

“Ya, benar, tentang flu. Pasti kamu merasa sangat kerepotan karena harus susah payah berangkat ke sekolah hanya untuk mengambil buku kosakata.” 

Aku tidak mengiyakan atau membantah, sengaja menyesuaikan diri dan tertawa bersama. 

Kami tertawa dan berpisah.

 

※※※※

 

──Sore hari yang samaSudut pandang Takayanagi──

 

Ujian tryout telah selesai, dan sebenarnya aku bisa langsung pulang, tetapi masih ada beberapa pekerjaan yang tersisa, jadi aku bekerja lembur di ruang guru untuk menyelesaikannya. Akhirnya, minggu yang penuh gejolak ini berakhir. Pertarungan baru saja dimulai, tapi setidaknya, bimbingan Aono sudah bisa dimulai, dan aku telah membangun sistem komunikasi yang lancar dengan orang tuanya. Dengan adanya hubungan saling percaya antar staf pengajar, kurasa semuanya berjalan lancar sampai saat ini. Sepertinya aku harus bekerja di hari libur besok juga, tapi aku masih perlu berjuang sedikit lagi. 

Kurasa semuanya berjalan lancar. Sungguh, hanya berpikir seperti itu saja sudah membuatku merasa sombong. Aku telah menciptakan masalah yang seharusnya tidak ada. Meskipun sekolah tidak sepenuhnya tidak bertanggung jawab.”

Aku merasa sedikit membenci diri sendiri karena munculnya hati yang lemah. Ada satu masalah lagi. Asisten guru, Ayase-sensei, merasa bertanggung jawab atas masalah Aono dan sedang mengalami depresi, sehingga dia tidak masuk kerja karena sakit. Aku ingin membantunya sebisa mungkin, tetapi saat ini aku harus memprioritaskan Aono, jadi aku menyerahkan semuanya kepada kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. 

Kejadian kali ini penuh dengan poin-poin yang perlu direnungkan. Aku tidak boleh terlalu terpuruk. Jika aku merasa tertekan, kemampuan penilaianku akan menurun, dan semakin lama masalah ini berlangsung, lama-kelamaan ini semakin menjadi pertarungan stamina

Aku mungkin sedikit lelah. Aku sudah sampai sejauh ini dengan dukungan dari semua orang. 

Setelah menyelesaikan penilaian kuis kecil yang tertunda karena berbagai hal, aku berdiri untuk istirahat sejenak. 

Kurasa aku perlu minum kopi dulu dan menyegarkan pikiran. Saat aku membawa cangkir dan kopi instan yang disimpan di lemari, aku mendengar suara penerimaan faks. 

“Faks? Tumben sekali di zaman sekarang.” 

Meskipun kadang digunakan untuk komunikasi dari dewan pendidikan, ini adalah era di mana email sudah sangat mendominasi. Aku mendengar banyak guru yang membuat grup obrolan dengan siswa di aplikasi LINE. Aku terkejut bahwa bahkan email mulai menjadi produk masa lalu. 

Ketika aku memeriksa apa yang diterima, aku melihat sesuatu yang mirip foto. 

Hah!?” 

Resolusinya sangat rendah. Kurasa itu wajar saja karena ini adalah faks. Namun, itu adalah bukti yang selama ini kucari-cari

Foto hitam putih yang sulit dilihat, tapi aku yakin data faks ini juga disimpan sebagai data di server sekolah. Jika aku melihatnya, aku akan segera tahu. 

Aku melupakan kopi dan segera mencari data gambar di server. 

Dengan menggunakan perangkat lunak gambar, aku mengedit warnanya. Hanya dengan itu, gambar menjadi lebih jelas daripada faks. 

“Kondo dan Amada…” 

Aku tidak tahu kapan foto itu diambil. Namun, mereka berdua jelas-jelas sedang berusaha masuk ke hotel cinta. Foto kedua menunjukkan mereka sedang diamankan oleh polisi. Selain itu, ada catatan tangan yang bertuliskan, “Aku telah memasukkan foto berwarna asli ke dalam kotak pos sekolah. Silakan memeriksanya.” Aku kembali teringat kesaksian waktu itu. 

“Memang benar aku dan Eiji terlibat masalah saat membahas perpisahan… Saat itu, aku berjalan bersama Kondo-senpai yang membantuku, dan Eiji salah paham.” 

Anak itu pasti melihat kami kebetulan berjalan bersama dan mengira Miyuki berselingkuh.”

Kesaksian kedua orang itu ternyata adalah kebohongan. Dengan ini, aku seharusnya bisa mengguncang situasi lebih lanjut. Jika foto ini dan penyelidikan berjalan dengan baik, kebenaran mungkin akan terungkap dalam waktu dekat. 

Namun, ada satu hal yang membuatku cemas. 

Tentang pelapor anonim ini. Kemungkinan besar, ia bukan staf pengajar, melainkan siswa dari sekolah ini. Meskipun ada kemungkinan pihak orang tua, tidak ada alasan untuk menggunakan cara yang berbelit-belit seperti ini. 

Siswa anonim ini, bagaimana dirinya bisa mengambil foto ini? 

Ia pasti telah melintasi jembatan yang sangat berbahaya. 

Apa siswa itu memiliki dendam yang cukup mendalam terhadap Kondo dan yang lainnya, ataukah ia berutang budi kepada Aono? Mungkin salah satu dari keduanya, tapi aku merasakan tekad yang kuat dari foto ini, seolah-olah dia tidak keberatan mengorbankan dirinya. 

Padahal masih anak-anak di usia remaja… 

Kesulitan macam apa yang pernah ia lalui sampai bisa memiliki tekad seperti itu? 

Lagipula, ia masih seorang remaja yang seharusnya dilindungi oleh orang dewasa. 

Sejak aku mulai bekerja sebagai guru, aku telah melihat banyak situasi di mana aku tidak bisa melindungi anak-anak sebagai orang dewasa. Siswa yang tidak bisa bersekolah karena utang orang tuanya yang tidak bertanggung jawab. Siswa yang terjerumus ke dalam kenakalan karena tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Dan siswa yang——seperti Aono kali ini——mengalami pembullyan yang penuh niat jahat, membuat masa depan mereka terancam. 

Aku ingin menemukan siswa-siswa seperti itu dan memberikan bantuan. Mungkin ini terdengar sombong, tapi aku merasa itu adalah tanggung jawabku sebagai seorang guru. 

Sebelum sesuatu terjadi, kali ini aku tidak ingin terlambat. 

Aku akan menyelesaikan semuanya. 

Aku menghubungi kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, serta berbagi informasi. 

Setelah beberapa saat kemudian, mereka berdua datang ke sekolah. 

“Maaf, Takayanagi-sensei, kami terlambat.” 

Kepala sekolah benar-benar meminta maaf. 

“Tidak apa-apa, sebenarnya saya sudah merencanakan untuk lembur…” 

Selama menunggu kedatangan mereka, aku bisa melanjutkan pekerjaan. Foto ini bisa menjadi bukti yang cukup kuat untuk membalikkan semua kesaksian. Tentu saja, bisa jadi ini hanyalah lelucon atau tindakan mengganggu terhadap Kondo, tapi dari yang kulihat, foto tersebut tidak terlihat seperti foto yang tidak wajar.

Setidaknya, aku berpikir kita harus menunjukkan foto ini dan mendengarkan kembali penjelasan Kondo dan Amada. Kita perlu memastikan apakah mereka benar-benar tidak berbohong. 

“Aku senang kamu segera menghubungi kami, kata wakil kepala sekolah. 

Namun, jika orang yang mengambil foto itu adalah siswa, ini akan menjadi masalah besar. Kita harus segera menemukan dan melindungi si pengambil foto. Jika tidak, siswa itu bisa berada dalam bahaya. Itu adalah tanggung jawab orang dewasa. Siswa harus dilindungi. 

Kepala sekolah tampak berpikir dengan cemas. Aku merasa lega mengetahui bahwa atasanku memiliki pemikiran yang sama. Memang, guru ini layak dipercaya. 

“Benar sekali, kemungkinan besar ia telah melintasi jembatan yang sangat berbahaya. Selain itu, jika gerakan ini diketahui oleh anggota klub sepak bola, mereka mungkin akan mencari tahu identitas pengambil foto untuk melakukan pembalasan. Dan jika terjadi keributan akibat penganiayaan... 

Wakil kepala sekolah juga memegang kepalanya. Itu benar-benar situasi terburuk. Aku tidak ingin siswa lain mengalami bahaya lebih lanjut. Kupikir itu adalah pemikiran yang wajar sebagai seorang guru. 

Takayanagi-sensei, apa kamu memiliki ide yang baik? Aku tidak ingin melihat siswa terluka lebih lanjut. 

Kepala sekolah bertanya dengan ekspresi yang sangat khawatir. Aku menjelaskan pemikiran yang telah aku rangkum sebelum kedatangan mereka. 

“Iya. Sambil menunggu, aku sudah melakukan beberapa penyelidikan. Kondo dan Amada absen dari ujian hari ini dengan alasan sakit, dan foto itu kemungkinan diambil pada waktu ujian berlangsung. Mengingat foto seperti ini, pengambil foto mungkin memiliki dendam yang mendalam terhadap Kondo atau temannya Aono. Kurasa salah satu dari dua kemungkinan itu lebih kuat. Aku sedang menyaring siswa yang memenuhi kondisi tersebut, baik yang absen dari ujian maupun yang tidak terlibat dalam kegiatan klub. 

Aku segera menunjukkan daftar siswa yang relevan kepada mereka. Pengambil foto pasti ada dalam daftar ini. Kami akan memastikan untuk melindungi siswa itu dengan baik. Kami tidak ingin ada lagi anak muda yang terluka karena masalah ini.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama