true became fiction when fiction's true

Wednesday, 20 June 2018

[WN] The Results From When I Time Leaped Chapter 01 Bahasa Indonesia



Hai..hai....ini teaser project pertama saya, genre-nya ya seperti biasa, genre rom-com kesukaan saya. kalau memang banyak yang minat, nanti bisa saya lanjutin buat ngegantiin project most popular girl yang hampir selesai. kalau emang minat di komen ya~ 
Penerjemah : Kaito
Editor : -
=============================================================== 
Chapter 01  -  Di Hari Aku Terbangun sebagai Anak SMA Kelas Dua
Jika kamu memberi tahu seseorang bahwa kamu kembali menjadi siswa SMA kelas dua setelah terbangun di hari tertentu, aku ragu akan ada orang yang mempercayainya. Namun, pemandangan yang saat ini terjadi di depan mataku, ialah adegan yang sangat akrab dalam kelas SMA-ku. Kupikir aku  masih tertidur, tapi adegan ini terlihat sangat nyata.
... Aneh sekali. Aku seharusnya pergi bekerja besok, tapi aku tidak ingin pergi, atau begitulah yang aku pikirkan ketika aku hendak tidur.
"Sanada, apa kau bisa meminjamkanku sedikit isi pulpen milikmu?"
Seseorang menarik seragamku dari tempat duduk sebelah. Uwah, nostalgia sekali! Itu Fujimoto! Fujimoto yang belum pernah aku temui sejak kelulusan SMA.
"Yo, Fujimoto. Lama nggak ketemu. "
“Ya, lama nggak ketemu. Karena kamu udah mulai tidur sampai baru bangun sekarang, itu sudah sekitar 20 menit. ”
Jenis tanggapan seperti ini, itu benar-benar Fujimoto yang asli.
"Duduk di sebelahmu seperti ini di kelas ... sudah sekitar 2 tahun sekarang, ‘kan?"
Saat aku mengatakan itu, aku mengeluarkan ponselku dari saku dan memeriksa tanggalnya. Disitu tertulis 24 April , 10 tahun yang lalu.
Ini benar-benar nyata. Maksudku, lihat, ini ponsel lama yang aku gunakan sampai kelulusan. Aku bisa membolik-baliknya  ... Aku bisa merasakan waktunya. Kesadaranku, masih utuh saat kembali ke kelas duaku di SMA..... Sepertinya aku sudah melompati waktu.
“Hei, Sanada. Apa yang kamu lihat di ponselmu? Hiiragi-chan sedang melihat ke arah sini tau. Jangan mengeluarkan ponselmu sekarang, oke? ”
“Hiiragi-chan? Uwa, bikin kangen tuh. Itu adalah Hiiragi-chan yang mengajarkan pelajaran sejarah dunia. ”
Di depan papan tulis, ada seorang guru wanita muda menulis di papan tulis dengan kapur. Dia Hiiragi Haruka, Hiiragi Haruka-sensei. Atau disingkat Hiiragi-chan. Dia mengenakan kardigan abu-abu, blus, dengan jins di bawahnya, dan rambut pink cerahnya diikat menjadi kuncir ekor kuda.
Sebenarnya, aku menyukai Hiiragi-chan selama tiga tahunku di SMA. Aku tidak hanya mengaguminya, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang hal itu, dan aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku bahkan sampai lulus. Tapi, cinta seorang siswa SMA yang menyedihkan memanglah  seperti itu. Mungkin. Selain itu, pihak lain adalah seorang guru. Mana mungkin hal itu bisa diizinkan.
Dia melihat kembali ke arah kami melalui bahunya.
Aku cepat-cepat memasukkan ponselku ke saku seragam.
A-apa yang harus aku lakukan? Mata kami bertemu. Mengapa, mengapa aku serba salah begini? Apa aku ini seorang perjaka ... Ah, aku memang perjaka…....
Apa yang saat ini kusadari adalah diriku yang masih muda di masyarakat, tapi masih bisa dikatakan bahwa Sanada Seiji dari sebelum melompati waktu masihlah anak SMA yang menyukai Hiiragi-chan. Pikiran seorang pria dewasa. Tubuh seorang remaja di masa pubertas. Tampaknya reaksi dari tubuh jauh lebih kuat dari apa yang ada di dalam. Itu sebabnya hatiku saat ini berdebar kencang. Wajahku juga mungkin memerah. Karena itu, aku mengingat kembali perasaan cinta yang sudah aku lupakan.
“Baiklah, berikan isi pulpenmu”, Kata Fujimoto seperti preman yang sedang memalak, saat dia mengambil isi pulpenku.
Setelah itu, saat aku linglung tanpa mencatat apapun sampai bel berbunyi menandakan kelas sudah berakhir.
"Sanada-san, tolong datang ke ruang staf nanti." Hiiragi-chan berkata dengan suasana hati yang sedikit buruk dan meninggalkan kelas.
“Ah ~ ah ~, syukurin ponselmu akan disita tuh.” Fujimoto memberiku tepukan ringan di bahu saat dia mengatakan itu dengan senang hati.
Aku dengan cepat mengejar Hiiragi-chan dan memanggilnya. "Sensei, apa ada sesuatu yang anda butuhkan?"
“Tidak sama sekali, apakah kamu butuh sesuatu, kan? Sekarang. Bawa itu keluar."
"Bawa itu keluar? Apanya?"
"Telepon selular. Kamu menggunakannya, kan? Kamu boleh membawanya, tapi memakainya selama pelajaran itu melanggar peraturan. Itu akan disita hingga sepulang sekolah nanti. Temui aku nanti kalau kau ingin mengambilnya setelah sepulang sekolah. ”
Aku mengabaikan apa yang dia katakan dan menatapnya. Riasan ringan, seperti yang kuduga, dia imut.
"Apa? Mengapa kamu menatapku? ”
"Ah, tidak.. ..."
Ayolah, cepat, Hiiragi-chan sedang menunggu.
Karena tidak bisa mengungkapkannya, akhirnya aku menyesali itu. Itu sangat jelas setelah lulus, aku sendiri tidak tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang. Dia mungkin sudah menikah, dan dia bahkan mungkin sudah mempunyai anak.
Kedua kalinya menjalani kelas dua SMA.
—Saat ini, orang itu tepat ada di depanku.
Aku takkan menyesali lagi seperti terakhir kali. Jika aku bangun besok, aku mungkin kembali bekerja hari demi hari lagi. Jika memang begitu, ada kemungkinan juga kalau aku akan berada di tempat tidur pada saat berikutnya.
Sekarang juga. Aku hanya bisa melakukan ini sekarang. Aku sudah tidak peduli apa ini hanya mimpi atau bukan.
Aku meletakkan ponselku ke tangan Hiiragi-chan dan memegangnya.
“S-sensei! Umm! Aku menyukaimu---"



Aku akhirnya mengatakan iitttuuuu. Uuuaaaaahhhhhh! I-ini sangat memalukan, aku bisa mati! Wajahku benar-benar merah, bahkan aku tahu itu ...
"... Maaf, apa yang baru saja kamu katakan ...?"
Ini pola dimana dia tidak mendengarnya !? U-ulangi lagi. Kamu bisa melakukannya. Tidak ada jalan kembali. Jika aku mundur, aku tidak bisa memunculkan keberanianku lagi!
Hiiragi-chan menunggu kata-kataku sambil terus menatap lurus ke arahku.
Ah, sial. Dia sangat lucu.
"Aku bilang! Sensei ... Ummm ... tidak, itu ... bukan apa-apa ... ”
"Benarkah…?"
Aku ingin membungkuk, meminta maaf, dan hanya mencair di lorong ...
"Maaf, tanganku, apa kau bisa melepaskannya?"
"Ah. Aku minta maaf…"
Ini sudah berakhir. Masa muda keduaku sudah berakhir begitu cepat. Aku sudah tidak memiliki apapun lagi di sini, jadi tolong kembalikan aku ke diriku yang asli.
...
Sepertinya aku tidak bisa kembali dengan mudah. Aku merosotkan bahuku. Melihatku dengan aneh, Hiiragi-chan berkata, sampai jumpa sepulang sekolah nanti, dan berjalan menuruni tangga. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa kembali ke kelas.
“Sanada? Apa itu terlalu mengejutkan karena ponselmu diambil? ”
Aku hanya bisa melongo saat Fujimoto datang dan mengguncang bahu aku.  
Sepulang sekolah, aku harus pergi ke ruang staf untuk melihat Hiiragi-chan lagi. Wajah apa yang harus aku buat saat menghadapnya? Karena dia tidak mendengar, apa tak apa-apa kalau aku bertindak seperti kejadian itu tidak pernah terjadi ...? Aku terus melamun dan berpikir sampai jam pelajaran terkahir selesai. Semua itu berlalu dalam sekejap mata saat aku duduk di kelas tanpa mendengarkan pelajaran.
Sampai jumpa lagi, kata Fujimoto saat dia pergi ke klubnya. Tidak tahu sikap yang seperti apa yang harus aku miliki, aku memegang tasku di tangan dan menuju ke ruang staf.
Ada beberapa orang di dalam ruang staf, tetapi pada umumnya itu cukup tenang. Ketika aku mencari dan menemukan Hiiragi-chan, dia memberikan lambaian kecil dari tempat duduknya.
Manisnya.
Meskipun dia tidak mendengar pengakuanku setelah mengeluarkan semua keberanian yang pernah aku miliki.
Imut.
Aku membungkuk sedikit dan berjalan ke arahnya. Dia menarik keluar kursi di sampingnya.
"Duduklah."
"Iya."
Aku ingin tahu apakah aku akan dimarahi.
"Ini adalah beberapa kue manju yang Sakai-sensei bawa sebagai oleh-oleh, tapi karena ada tambahan ... kamu boleh memakannya."
Sakai-sensei adalah guru wali kelasku.
Hiiragi-chan menyerahkan manjuu padaku. Kenapa ya. Hanya hal kecil saja sudah membuatku sangat bahagia. Ini hanya satu manjuu. Aku benar-benar lelaki gampangan.
Sementara aku sangat terkesan dengan manju, Hiiragi-chan mengeluarkan ponselku dan mengembalikannya padaku.
“Kau tahu, aku tidak melakukan ini karena aku menyukainya ,kau tau? Aku tidak terlalu ketat. Walau kalau ada guru lain yang mendengar ini, mereka mungkin akan marah padaku. ... Tapi, aturan adalah aturan. Mulai sekarang, berhati-hatilah. Apa kamu dengar? "Dia memiringkan kepalanya sedikit saat dia melihatku. Ada bau samppo yang harum. Setelah itu, dia melihat ke sekitarnya dan kemudian berbisik ke telingaku. "Aku tidak memberi tahu Sakai-sensei, jadi tidak apa-apa."
“S-sensei. Apa tidak apa-apa kalau aku datang lagi sepulang sekolah? ”Membiarkannya memanas saat ini, ini adalah perjuangan terakhirku. Aku berharap dia akan memaafkanku untuk hal ini.
Hiiragi-chan membuat wajah kosong dan kemudian tertawa menggoda. "Aku pikir, ini mungkin akan baik-baik saja jika kamu tidak datang."
"Apa?"
“Sekarang, tidak ada lagi yang harus aku katakan. Pulanglah pulang. Aku sangat sibuk. ”
Hiiragi-chan tiba-tiba mulai bertindak seperti seorang guru. (Yah, bahkan jika aku bilang begitu, dia memang seorang guru.)
Tapi, aku tetap merasa senang.
Apa sesuatu yang baik akan terjadi? Tanpa memahami niat tulus Hiiragi-chan, aku meninggalkan ruang staf.
Setelah meninggalkan sekolah, aku pulang ke rumah. Seperti yang kuduga, itu masih jalan yang sama menuju ke rumah orang tuaku dan kamar yang sama aku tempati saat itu. Aku membuka ponselku dan melihat bahwa itu menampilkan pemberitahuan [1 pesan baru]. Segala sesuatu yang berhubungan dengan ponsel ini sangat nostalgia. Aku ingin tahu siapa itu ketika aku melihat layar pesan. Di bagian atas adalah email yang belum dibaca.
[Hiiragi Haruka]
Apa!? Mengapa!? Aku tidak tahu alamat emailnya atau nomor teleponnya. Tapi, ada [Hiiragi Haruka] di kontakku. Baik nomor telepon dan alamat email dicatat dengan benar juga.
... Apa dia melakukan ini saat ponselku disita?
Hiiragi-chan mencatat alamat email dan nomor teleponnya sendiri ke ponselku. Saat hatiku mulai berdebar, aku membuka email.
[Terima kasih atas pengakuanmu padaku!]
Jadi dia mendengarnya!
Saat dia bertanya "Apa yang baru saja kamu katakan ...?" , apa dia ingin mengkonfirmasikan sesuatu...? Dia tidak bermaksud seperti, aku tidak mendengarnya jadi tolong katakan sekali lagi? Benarkah? Apa itu berarti ... Saat aku mengatakan itu bukan apa-apa, dia sedikit kecewa?
Pesan Hiiragi-chan memiliki beberapa emoji di dalamnya dan itu sedikit lucu.
[Aku sempat memikirkannya sedikit, tapi kupikir aku akan mengirimnya melalui email. Ya, ini oke.]
Oh
Tak apa-apa melalui email?
Oke??
Okkkeeeeeee!?
... Untuk saat ini, aku merayakannya dengan membuat pose kemenangan.


TN: pose kemenangannya kayak gini, yoshhaaaa


8 comments:

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat