Selingan
──Beberapa Jam Yang
Lalu, Sudut Pandang Ketua Klub Sastra──
Pada akhirnya,
aku tidak bisa tidur. Aku takut melihat reaksi terhadap novelku. Tapi, aku
harus melakukannya. Dengan tangan yang gemetaran, aku mengoperasikan ponsel dan
membuka halaman pribadiku.
Novel Eiji-kun
sudah mendapatkan jumlah tampilan puluhan ribu hanya untuk hari ini saja. Sementara
novelku... hampir tidak ada reaksi sama sekali.
Jumlah
tampilan total hanya satu digit.
Tidak ada
penilaian.
Cuma ada satu
komentar yang masuk.
“Mustahil.
Sebegitu besarnya...”
Aku tidak
pernah menyangka kesenjangannya akan sebesar ini. Memang benar kalau novel
online populer bukanlah keahlianku. Tapi hal yang sama berlaku untuk Eiji-kun.
Perbedaan yang begitu jelas pasti menunjukkan bakat atau kurangnya bakat.
“Aku tidak
mau mengakuinya, aku tidak mau mengakuinya. Mana mungkin aku bisa menerima ini.
Tidak mungkin kesenjangan antara aku dan dirinya bisa sebesar ini!”
Mungkin
komentar-komentar itu akan menyelamatkanku. Dengan pemikiran seperti itu, aku
meraih utas tersebut, meskipun aku tahu itu akan membawaku ke dalam neraka.
“Lumayan
menarik, tapi rasanya sedikit klise dan biasa-biasa saja. Rasanya seperti versi
yang lebih buruk dari novel Eiji-san yang sekarang menduduki peringkat tinggi
di genre yang sama.”
“Bahkan di
sini juga, Aono Eiji! Sampai kapan pria itu akan terus melampauiku?”
Aku
membanting bantal ke lantai dengan keras.
Sekarang,
harga diriku sudah hancur total. Aku merobek-robek sertifikat penghargaan dari
lomba esai membaca yang aku menangkan musim panas lalu. Kenapa, kenapa aku
tidak memiliki bakat? Padahal aku sangat mencintai menulis novel. Kenapa Eiji
memiliki sesuatu yang paling kuinginkan?
Hei,
kenapa!?
Meskipun aku
ingin menghancurkannya, itu tidak bisa hancur. Perasaanku benar-benar sedang
kacau balau. Rasa cemburu yang mengental di dalam diriku mulai membara.
Ia awalnya hanyalah
junior yang imut. Aku mulai menyukainya sedikit demi sedikit saat membaca
novelnya. Tapi, dia sudah punya pacar. Dia juga memiliki bakat menulis yang
melampauiku. Sekarang, emosiku menjadi sangat menyimpang.
Aku melihat
ke cermin. Aku melihat wajahku yang seperti zombie.
Dengan terhuyung-huyung,
aku mengganti pakaian seragam dan keluar. Aku tidak mempunyai nafsu makan untuk
sarapan. Bahkan jika aku makan, kurasa aku tidak akan bisa merasakan
rasanya.
Tanpa sadar,
aku sampai di dekat sekolah.
Ketika aku
berusaha berbelok di sudut, aku melihat Aono Eiji berjalan dengan seorang
junior perempuan. Ichijou Ai. Jadi, rumor itu benar. Apa ia... menyukainya?
Mereka
berdua sepertinya tidak menyadari keberadaanku.
Dengan nada
suara yang pelan, mereka berbicara dengan ceria.
“Padahal sudah
semalam berlalu, tapi aku masih tidak mempercayainya.”
“Iya, aku
juga benar-benar mengejutkan.”
“Aku tidak menyangka
kalau seseorang dari perusahaan penerbitan akan menghubungiku.”
Perusahaan penerbit?
Menghubunginya?
Bukannya itu
berarti...
Aku langsung
mengetahui jawabannya. Tidak, kurasa aku hanya berusaha untuk tidak
memikirkannya. Sejak malam tadi, di sudut kepalaku, kemungkinan itu terus ada.
Namun, jika itu beneran terjadi, aku tidak akan bisa menjaga harga diriku. Aku
tahu itu, jadi aku berusaha untuk tidak memikirkannya.
Kenapa harus
menghadapkan kenyataan yang menyakitkan seperti ini?
“Tidaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!”
Di dalam
hatiku, ada sebagian diriku yang lain yang menangis dan berteriak seperti anak
kecil. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjaga posisiku agar tidak
runtuh.
Perusahaan
penerbit menyadari bakat Aono Eiji dan menghubunginya. Jika terus begini, dirinya
pasti akan segera debut sebagai profesional. Karena akulah yang sudah membaca karyanya
daripada siapapun, jadi aku bisa yakin. Bakatnya belum berakhir.
Rasanya
seperti melihat roket yang diluncurkan jauh di atas diriku. Seperti hanya
seorang penonton. Aku ingin menjadi karakter dalam cerita, tetapi kenyataan
yang kejam bahkan tidak mengizinkanku untuk itu.
Sekarang, dirinya
benar-benar di luar jangkauanku. Aku yang tak berdaya hanya bisa melihat bakat
yang pergi jauh dariku.
Itu berarti
aku harus mengakui ketidakmampuanku. Selama ini, aku telah meremehkan
ketidakmampuan orang lain di dalam hatiku, tetapi kini aku malah melakukan hal
yang sama pada diriku sendiri. Tanpa sadar.
Menyadari
hal itu membuatku merinding.
Aku berlari.
Menuju ruang klub sastra. Aku mengambil semua naskah masa laluku yang ada di
laci kursi ketua. Ratusan lembar hasil jerih payahku. Aku merobeknya.
Sisa-sisa
halaman yang sudah kurobek melayang di udara dan berserakan di lantai. Semua
yang telah kulakukan terasa sia-sia. Aku tidak butuh hal-hal yang sia-sia
seperti ini. Jika dibandingkan dengan naskah Aono Eiji, aku merasa sangat malu
hingga ingin mati. Aku tidak bisa menang dengan cara seperti in. Tidak mungkin
aku bisa menang. Aku takut pada diriku sendiri karena menulis ini tanpa menyadarinya.
Dan
kemudian, meninggalkan semuanya berserakan di mana-mana, aku berlari keluar
ruangan.
Aku tidak
perlu mengikuti pelajaran lagi. Aku akan pulang dan memikirkan cara untuk tidak
menghadapi kenyataan ini. Tidak apa-apa. Aku pandai membuat rencana seperti
ini.
“Aku harus
cepat-cepat pergi. Jika aku tetap di sini... aku tidak akan bisa menjadi diriku
sendiri. Aku harus mengakuinya.”
Aku tidak
akan pernah memaafkan Aono Eiji.
Aku
meninggalkan sekolah.
Tanpa tahu
bahwa itulah pintu masuk menuju tangga menuju keputusasaan. Aku hanya terjatuh
ke dalam jurang keputusasaan tanpa bisa mengakui diriku yang bodoh karena
membuka kotak Pandora.
