Jinsei Gyakuten Jilid 3 Bab 2.5

 Selingan

 

──Beberapa Jam Yang Lalu, Sudut Pandang Ketua Klub Sastra── 

 

Pada akhirnya, aku tidak bisa tidur. Aku takut melihat reaksi terhadap novelku. Tapi, aku harus melakukannya. Dengan tangan yang gemetaran, aku mengoperasikan ponsel dan membuka halaman pribadiku. 

Novel Eiji-kun sudah mendapatkan jumlah tampilan puluhan ribu hanya untuk hari ini saja. Sementara novelku... hampir tidak ada reaksi sama sekali. 

Jumlah tampilan total hanya satu digit.

Tidak ada penilaian. 

Cuma ada satu komentar yang masuk. 

“Mustahil. Sebegitu besarnya...”

Aku tidak pernah menyangka kesenjangannya akan sebesar ini. Memang benar kalau novel online populer bukanlah keahlianku. Tapi hal yang sama berlaku untuk Eiji-kun. Perbedaan yang begitu jelas pasti menunjukkan bakat atau kurangnya bakat.

“Aku tidak mau mengakuinya, aku tidak mau mengakuinya. Mana mungkin aku bisa menerima ini. Tidak mungkin kesenjangan antara aku dan dirinya bisa sebesar ini!”

Mungkin komentar-komentar itu akan menyelamatkanku. Dengan pemikiran seperti itu, aku meraih utas tersebut, meskipun aku tahu itu akan membawaku ke dalam neraka.

“Lumayan menarik, tapi rasanya sedikit klise dan biasa-biasa saja. Rasanya seperti versi yang lebih buruk dari novel Eiji-san yang sekarang menduduki peringkat tinggi di genre yang sama.” 

“Bahkan di sini juga, Aono Eiji! Sampai kapan pria itu akan terus melampauiku?” 

Aku membanting bantal ke lantai dengan keras. 

Sekarang, harga diriku sudah hancur total. Aku merobek-robek sertifikat penghargaan dari lomba esai membaca yang aku menangkan musim panas lalu. Kenapa, kenapa aku tidak memiliki bakat? Padahal aku sangat mencintai menulis novel. Kenapa Eiji memiliki sesuatu yang paling kuinginkan? 

Hei, kenapa!? 

Meskipun aku ingin menghancurkannya, itu tidak bisa hancur. Perasaanku benar-benar sedang kacau balau. Rasa cemburu yang mengental di dalam diriku mulai membara. 

Ia awalnya hanyalah junior yang imut. Aku mulai menyukainya sedikit demi sedikit saat membaca novelnya. Tapi, dia sudah punya pacar. Dia juga memiliki bakat menulis yang melampauiku. Sekarang, emosiku menjadi sangat menyimpang. 

Aku melihat ke cermin. Aku melihat wajahku yang seperti zombie. 

Dengan terhuyung-huyung, aku mengganti pakaian seragam dan keluar. Aku tidak mempunyai nafsu makan untuk sarapan. Bahkan jika aku makan, kurasa aku tidak akan bisa merasakan rasanya. 

Tanpa sadar, aku sampai di dekat sekolah. 

Ketika aku berusaha berbelok di sudut, aku melihat Aono Eiji berjalan dengan seorang junior perempuan. Ichijou Ai. Jadi, rumor itu benar. Apa ia... menyukainya?

Mereka berdua sepertinya tidak menyadari keberadaanku. 

Dengan nada suara yang pelan, mereka berbicara dengan ceria. 

“Padahal sudah semalam berlalu, tapi aku masih tidak mempercayainya.” 

“Iya, aku juga benar-benar mengejutkan.” 

“Aku tidak menyangka kalau seseorang dari perusahaan penerbitan akan menghubungiku.” 

Perusahaan penerbit? 

Menghubunginya? 

Bukannya itu berarti... 

Aku langsung mengetahui jawabannya. Tidak, kurasa aku hanya berusaha untuk tidak memikirkannya. Sejak malam tadi, di sudut kepalaku, kemungkinan itu terus ada. Namun, jika itu beneran terjadi, aku tidak akan bisa menjaga harga diriku. Aku tahu itu, jadi aku berusaha untuk tidak memikirkannya. 

Kenapa harus menghadapkan kenyataan yang menyakitkan seperti ini? 

“Tidaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!” 

Di dalam hatiku, ada sebagian diriku yang lain yang menangis dan berteriak seperti anak kecil. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjaga posisiku agar tidak runtuh. 

Perusahaan penerbit menyadari bakat Aono Eiji dan menghubunginya. Jika terus begini, dirinya pasti akan segera debut sebagai profesional. Karena akulah yang sudah membaca karyanya daripada siapapun, jadi aku bisa yakin. Bakatnya belum berakhir. 

Rasanya seperti melihat roket yang diluncurkan jauh di atas diriku. Seperti hanya seorang penonton. Aku ingin menjadi karakter dalam cerita, tetapi kenyataan yang kejam bahkan tidak mengizinkanku untuk itu. 

Sekarang, dirinya benar-benar di luar jangkauanku. Aku yang tak berdaya hanya bisa melihat bakat yang pergi jauh dariku. 

Itu berarti aku harus mengakui ketidakmampuanku. Selama ini, aku telah meremehkan ketidakmampuan orang lain di dalam hatiku, tetapi kini aku malah melakukan hal yang sama pada diriku sendiri. Tanpa sadar. 

Menyadari hal itu membuatku merinding. 

Aku berlari. Menuju ruang klub sastra. Aku mengambil semua naskah masa laluku yang ada di laci kursi ketua. Ratusan lembar hasil jerih payahku. Aku merobeknya. 

Sisa-sisa halaman yang sudah kurobek melayang di udara dan berserakan di lantai. Semua yang telah kulakukan terasa sia-sia. Aku tidak butuh hal-hal yang sia-sia seperti ini. Jika dibandingkan dengan naskah Aono Eiji, aku merasa sangat malu hingga ingin mati. Aku tidak bisa menang dengan cara seperti in. Tidak mungkin aku bisa menang. Aku takut pada diriku sendiri karena menulis ini tanpa menyadarinya. 

Dan kemudian, meninggalkan semuanya berserakan di mana-mana, aku berlari keluar ruangan. 

Aku tidak perlu mengikuti pelajaran lagi. Aku akan pulang dan memikirkan cara untuk tidak menghadapi kenyataan ini. Tidak apa-apa. Aku pandai membuat rencana seperti ini. 

“Aku harus cepat-cepat pergi. Jika aku tetap di sini... aku tidak akan bisa menjadi diriku sendiri. Aku harus mengakuinya.” 

Aku tidak akan pernah memaafkan Aono Eiji. 

Aku meninggalkan sekolah. 

Tanpa tahu bahwa itulah pintu masuk menuju tangga menuju keputusasaan. Aku hanya terjatuh ke dalam jurang keputusasaan tanpa bisa mengakui diriku yang bodoh karena membuka kotak Pandora.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama