Roshidere Jilid 11 Chapter 1 Bahasa Indonesia

Chapter 1 — Para Dalang pun Berkumpul

 

“Aduh, aduh, ya ampun, sungguh pemandangan yang menakjubkan sekali... tak kusangka orang-orang hebat akan berkumpul di sini.

Ketika Masachika, Alisa, Yuki, dan Yushou memasuki kelas di malam hari, suara Nonoa yang seolah-olah meledek, menyambut kedatangan mereka. Ekspresinya seakan-akan dirinya sedang bersenang-senang, sorot matanya berbinar gembira di depan lima orang yang tampak serius. Biasanya, melihat gadis cantik dengan mata seperti itu akan membuat siapa pun merasa tersenyum, tetapi... dalam kaitannya dengan Nonoa, ceritanya bakal berbeda.

“““““────!”””””

Kelima orang yang berhadapan dengannya merasakan kengerian yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Namun, jika mereka benar-benar melihat mata Nonoa saat ini, mereka pasti akan berempati. Mata cokelatnya memang bersinar hidup. Namun, di tengahnya, pupil yang seolah-olah dilukis dengan warna hitam monokrom itu menonjol, menambah kesan menyeramkan. Seolah-olah mereka berhadapan dengan makhluk tak dikenal yang hanya menyerupai manusia.

Hah... Apa kubilang, kan? Kuze, kamu seriusan berniat menjadikan makhluk macam ini sebagai sekutumu?

Mungkin karena ia berusaha bersikap tegar, atau mungkin karena ia cepat pulih, tetapi Yusho menggelengkan kepalanya berlebihan seperti biasa. Masachika tidak berkata apa-apa. Atau mungkin ia memang tidak bisa berkata apa-apa. Sebagai gantinya, orang yang bereaksi duluan justru Nonoa yang disebut “makhluk macam ini.

“Padahal aku yang seharusnya bilang begitu, tau~. Kenapa kamu bisa berada di situ dengan muka seolah-olah kalian sesama rekan, Junyushou-chan~?”

“Bukannya berarti aku berada di pihak mereka atau bahkan rekan mereka. Aku hanya melihatmu terlibat dengan klub piano dan melakukan sesuatu yang tidak baik. Jadi, aku hanya bekerja sama untuk menghentikan rencanamu.

…Akulah yang sudah melibatkan Kiryuuin-san.

Setelah Alisa mengatakan itu sembari melangkah maju satu langkah, Nonoa tampak terkejut sejenak sebelum tertawa dengan sangat senang.

Haha~? Oh, begitu rupanya ya~. Yah, lagian mana mungkin Kuzecchi mau bekerja sama dengan Yushou, kan~.

Melihat Masachika yang merengut karena ucapannya tepat sasaran, Nonoa melanjutkan pemikirannya. 

Jadi, setelah mengetahui bahwa ada sesuatu yang direncanakan, Alisa datang ke pertemuan sendirian karena ada jaminan dari Yushou yang bisa membalikkan keadaan. Dia sudah mempersiapkan cara untuk menghentikan pertemuan sebelum waktunya dan melompat ke dalam jebakan untuk melihat siapa yang merencanakan apa.

Nonoa melanjutkan pemikirannya seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alisa yang tampak serius. 

Jadi, ketika wakil ketua berteriak tentang kecurangan, Alisa sudah menduga apa yang terjadi... dan dengan sengaja mengajak pemungutan suara ulang untuk mengidentifikasi pelakunya. Rencanamu sangat berani sekali, ya.

Dengan senyuman gembira yang menghiasi wajahnya, Nonoa memberi tepuk tangan meriah untuk menghargai usaha Alisa.

 

*Prok**prok**prok**prok**prok**prok**prok──

 

Suara tepuk tangan yang terdengar nyaring di ruang kelas yang sepi itu terasa dingin dan muram

Tidak ada yang mengikuti tepukan itu, tepukan tangan yang hampa... Setelah itu, Nonoa menyatukan tangannya dan tiba-tiba menghilangkan senyumnya, mengangkat satu alis dan membuka kedua tangannya. 

Jadi, apa-apaan ini?

Dalam situasi di mana lima orang yang dipimpin Alisa mengepungnya, dia sama sekali tidak tahu apa penyebabnya. Kenapa dia diperlakukan seperti ini, dia tidak mengerti sama sekali. 

Sikapnya yang terlalu santai membuat Masachika dan yang lainnya mengangkat alis mereka secara refleks. Orang pertama yang berbicara adalah Yuki, yang tersenyum anggun. 

Nonoa-san, kamu sudah tahu bahwa sesuatu akan terjadi sebelum majelis siswa diadakan dan mengisyaratkannya kepada Ayano. Kenapa begitu? 

Itu sih karena, aku tuh punya banyak kenalan, kan? Aku mendengar rumor bahwa ada gerakan mencurigakan yang mengincar Alissa. Awalnya, aku berniat memperingatkan Kuzecchi dan Alissa~... Tapi aku sudah bilang kalau aku akan berpihak pada Ayanono, tau~? ... Jadi yah, aku tidak menyangka kalau Ayanono bakalan menyebarkan informasi itu kepada Yukki dan Alissa.

Nonoa masih terus berpura-pura sebagai penyedia informasi yang baik. Penjelasannya yang mengalir dengan senyum ceria membuat orang yang tidak mengetahui sifat aslinya berpikir, Oh, jadi begitu ya, dan seolah-olah bisa menerima penjelasan itu... 

“““““────”””””

Tentu saja, tidak ada satu pun orang yang mempercayai penjelasannya di sini. Tidak ada, tetapi... tidak ada bukti yang bisa membuktikan kebohongannya. 

Tadi, delapan pelaku yang memanipulasi hasil pemungutan suara ditangkap setelah pemeriksaan tubuh dan barang bawaan peserta pertemuan. Namun, dalam pemeriksaan itu, Nonoa terbukti bersih dan tidak bersalah. Tidak ada kesaksian dari pelaku yang mengaitkannya dengan Nonoa. Yang disebutkan oleh delapan pelaku dan Wakil Ketua Klub Piano, Aoi, adalah mereka dipengaruhi oleh seorang siswi yang tidak mereka kenal. Dan ciri-ciri siswi itu tidak sesuai dengan Nonoa... Selain itu, hingga saat ini, Ayano juga belum mendapatkan pernyataan tegas dari Nonoa. Meskipun Nonoa tidak menyadari bahwa Ayano berpura-pura patuh, dia sangat berhati-hati agar tidak memberikan pernyataan yang bisa digunakan melawannya. 

Ayanono ingin Kuzecchi dan Yukki menjadi akrab satu sama lain, kan? Supaya Kuzecchi dan Yukki tidak terlibat dalam konspirasi yang mengincar Alissa, dia sengaja menjauhkan kalian untuk ikut serta dalam majelis siswa.

“Lantas, kenapa kamu meminta Ayano dan Alya-san untuk menjadi panitia pemungutan suara?" 

Tidak ada makna mendalam di balik itu. Jika yang menjadi target adalah Alissa, maka Ayanono yang tahu tentang itu seharusnya lebih baik berada di dekatnya. Jika mereka bersama, mereka bisa lebih cepat menyadari jika terjadi sesuatu, kan? Dan jika Alissa benar-benar dalam bahaya, semuanya terserah Ayanono apa dirinya akan membantu atau tidak, iya ‘kan? 

Kalau ada bahaya begitu, mereka tidak perlu ditunjuk sebagai panitia pemungutan suara, bukan?

Ya, mungkin benar... tapi panitia pemungutan suara harus selalu berada di atas panggung selama tugas, jadi mereka bisa melihat seluruh aula, kan? Sebaliknya, dari kursi penonton juga terlihat jelas, jadi pelaku juga akan sulit untuk bertindak, menurutku itu penempatan yang bagus. Aku berusaha sebaik mungkin, loh?

……"

Dengan senyum yang tampak lemah, Yuki mendengarkan penjelasan Nonoa yang mengalir. Dia kemudian menutup mulutnya sejenak sambil mempertahankan senyum anggun. Mungkin dia merasa bahwa melanjutkan penyelidikan secara langsung tidak akan membuahkan hasil. Dari sudut pandang Masachika, alasan Nonoa memang sangat meyakinkan dan terlihat sangat mengesankan. Terlalu sempurna sehingga justru terasa mencurigakan.

Lalu, mungkin menyadari bahwa serangan Yuki telah berhenti, ekspresi Nonoa berubah menjadi kosong dan menatap Ayano. 

Ngomong-ngomong, Ayanono, sejak kapan kamu menyebarkan informasi? Padahal aku sudah berusaha membantumu karena kamu bilang ingin Kuzecchi dan Yukki menjadi akrab kembali... Apa itu semua bohong? 

Dengan menggerakkan tubuhnya ke kiri, Nonoa bertanya kepada Ayano. Menanggapi pertanyaan itu, Ayano perlahan berkedip sebelum membuka mulutnya. 

“Saya sebelumnya telah menerima peringatan dari Yuki-sama dan Masachika-sama untuk berhati-hati terhadap Nonoa-san." 

Ayano berbicara dengan tenang dan hati-hati, seolah-olah merapikan pikirannya. 

Nonoa-san memiliki kemampuan luar biasa dalam memanipulasi orang dan bisa dibilang jenius dalam hal itu... Dengan bakatnya, kamu telah melakukan banyak tindakan tersembunyi. Karena itulah... pada hari itu, ketika Nonoa-san mendekati saya di tangga.

Saat itu, di tangga darurat, Nonoa dengan cerdik memaksa Ayano untuk membuka diri meskipun mereka hampir tidak saling mengenal. 

“Saya menjadi waspada. Saya curiga ada rencana di balik kedekatan Nonoa-san... Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menunjukkan sedikit kelemahan dan mengamati reaksi Nonoa-san.”

Nonoa sedikit menyipitkan matanya usai mendengar perkataan Ayano. 

Dengan sengaja menunjukkan kelemahan dan memasuki ruang gerak lawan. Itulah sesuatu yang juga dilakukan Nonoa terhadap Masachika tepat sebelum mendekati Ayano. 

(Jadi, aku juga terjebak oleh taktik yang sama ya... Sepertinya aku ceroboh.) 

Dengan senyum pahit dan keinginan untuk bertepuk tangan, Nonoa merasa aneh dan tersenyum. Namun, dia kemudian menggelengkan kepala seolah merasa tidak terima. 

Aku merasa terluka... Kuzecchi dan Yukki jadi memandangku seperti itu. Dan juga, Ayanono. Padahal aku hanya ingin membantu dan memberi nasihat dengan tulus, tau.

Nonoa mengeluarkan kata-kata yang seolah-olah dirinya seorang korban, membuat suasana terasa menjengkelkan. 

Apa menurutmu alasan semacam itu bisa diterima?

“Kurasa tidak? Tapi, itulah kenyataannya, jadi mau bagaimana lagi, kan?

Meskipun pertanyaan Yuki semakin menguat, Nonoa tetap bersikap acuh tak acuh dan menjawab dengan tenang. 

──!

Dengan ekspresi yang kelihatan sudah tidak sabaran, Alisa membuka mulutnya── 

“!” 

Namun, Masachika melangkah maju lebih cepat darinya dan meraih tangan Alisa, menghentikan pernyataannya. Alisa dengan cepat menoleh ke arah rekannya, lalu Masachika memberi isyarat dengan mata dan gerakan tangan agar Alisa mempercayakan situasi ini padanya. 

Selain itu, ketika ia menunjukkan dengan tatapannya ke arah saku rok Ayano, Alisa terlihat terkejut dan langsung menutup mulutnya. 

(Baiklah, sepertinya dia sudah tenang.) 

Masachika merasa lega karena berhasil menghentikan pernyataan tidak bijak dari Alisa. 

Masachika juga tidak menyangka akan berhadapan dengan Nonoa di sini. Oleh karena itu, ia tidak memiliki waktu untuk membahas sebelumnya bagaimana cara menghadapi situasi ini dengan Alisa... Namun, mereka sudah membicarakan bagaimana bergerak dalam situasi seperti ini sebelumnya. 

(Ternyata penting untuk menyepakati rencana tindakan sebelumnya... Ya, sampai di sini masih sesuai rencana. Mulai sekarang, di sinilah titik penentu apakah aku bisa mengarahkan pembicaraan ke arah yang tepat atau tidak.) 

Itulah sebabnya, mulai sekarang, setiap perkataannya harus dipikirkan dengan hati-hati. 

(Mampu menghancurkan rencana Nonoa dan membawa situasi sampai sejauh ini semua berkat kekuatan Alya. Menggandeng Kiryuuin, menangkap pelaku, dan berkat itu kami bisa sampai di sini... Tapi mulai sekarang ialah permainan kata-kata. Nonoa adalah lawan yang berat bagi Alya yang hampir tidak memiliki pengalaman di bidang ini.) 

Oleh karena itu, Masachika ingin agar Alisa mempercayakan semuanya padanya. Dengan tekad seperti itu, dirinya menatap mata Alisa, dan Alisa mengangguk ringan sambil menundukkan sedikit pandangannya, mundur setengah langkah. 

Semangat!

Kata-kata penuh kepercayaan dari rekannya disampaikan melalui sentuhan tangan. Menerima dorongan itu, Masachika kembali mengalihkan fokusnya ke mode pertempuran. 

(Baiklah... di sinilah momen yang krusial.) 

Saat Masachika memfokuskan pandangannya pada Nonoa, sepertinya Nonoa juga merasakan sesuatu dan menatapnya dengan mata yang bersinar ceria. Kemudian, Nonoa mengajukan pertanyaan dengan nada menantang

Bagaimana denganmu, Kuzecchi? Apa kamu percaya padaku?

……

Masachika membalas tatapan Nonoa yang penuh pengamatan dengan tatapan tajam... sambil menggaruk area tengkuknya dengan tangan kiri. 

Ya, aku percaya padamu. Yah, jika memang itulah yang terjadi, kurasa tidak ada pilihan lain.”

Segera setelah itu, Ayano membuka matanya lebar-lebar dan menatap Masachika. Di sisi lain, Nonoa tersenyum puas. 

Pertanyaan sebelumnya ialah uluran tangan yang diajukan Nonoa kepada Masachika. Tangan itu kini digenggam erat oleh Masachika. 

(Yah, kurasa Kuzecchi mau tak mau harus melakukan itu~.) 

Jawaban Masachika tadi semakin membuat Nonoa merasa yakin. Percakapan ini sedang direkam... kemungkinan besar oleh Ayano. Dan Masachika tidak berniat untuk memutuskan hubungannya dengan Nonoa. 

(Yah wajar saja~, jika mereka menyingkirkanku, mereka tidak akan bisa menang dalam pemilihan.) 

Betul, Nonoa sangat menyadari posisinya. Di tempat ini, Masachika dan Alisa mau tak mau harus melindungi Nonoa. 

Popularitas Nonoa sangat tinggi di akademi ini. Jika pengkhianatan Nonoa terungkap, Masachika dan Alisa akan kehilangan semua pendukung Nonoa. Belum lagi, mereka telah menyatakan di depan seluruh siswa pada upacara penutupan semester pertama, Setelah terpilih, kami akan bekerja bersama sebagai anggota OSIS! Jika dalam waktu kurang dari enam bulan terjadi perselisihan internal, tidak mengherankan jika mereka dicurigai tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. 

(Jika semua bukti pengkhianatan terungkap dan terbukti sepenuhnya kesalahan ada padaku, hasilnya akan menjadi, 'Sepertinya ada perselisihan di antara mereka, mari kita pilih Suou-san yang lebih aman.' Jadi, bagi Kuzecchi, satu-satunya strategi terbaik yang bisa dipilih hanyalah menyembunyikan fakta adanya pengkhianatan.) 

Intinya, di sini Masachika dan Alisa bukanlah musuh Nonoa. Begitu dirinya merasa yakin, Nonoa merasakan suasana hatinya cepat mendingin. 

(Ah... membosankan sejali.)

Dari sini, semuanya hanya sekedar formalitas semata. Hanya ada Yuki dan Yushou yang berusaha mendapatkan pernyataan dari Nonoa, sementara Masachika mengawasi mereka. Nonoa hanya perlu berhati-hati agar tidak memberikan celah dan menghindar dengan santai. Ketika Nonoa menyadari hal ini, minatnya mulai pudar, dan dia menatap jam dinding di kelas. Namun, tiba-tiba,

Sebenarnya, tidak ada alasan bagimu yang biasanya malas untuk mengkhianati kami dengan susah payah. Jika memang ada, mungkin saja Sayaka sebenarnya masih mengincar kursi ketua OSIS dan menyuruhmu untuk menjebak kami." 

Setelah mendengar ucapan Masachika, Nonoa terdiam sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali. 

Senyum lebar di wajah Masachika seolah mengatakan Yah, itu tidak mungkin sih, tapi sorot matanya memancarkan cahaya dingin yang tajam. Nonoa dengan tepat memahami bahwa kata-kata tersebut adalah ancaman. 

(Haha~n, jadi begitu rupanya~.) 

Artinya, jika Nonoa terus melakukan pengkhianatan dan menyebabkan kerugian fatal bagi pasangan Masachika dan Alisa, maka Masachika mengatakan bahwa Sayaka lah yang harus menanggung tanggung jawab. Hal itu merupakan ancaman yang sangat memahami titik lemah Nonoa dengan sangat baik. 

(Ia melindungiku sambil memberi peringatan... Apa aku terlalu cepat merasa aman?) 

Setelah menyadari bahwa Masachika bukan lagi musuh, Nonoa kembali memasuki mode berpikir. 

(Tapi, itu bukan ancaman yang efektif, Kuzecchi. Kamu yang baik hati tidak akan tega menjatuhkan nama baik Sayaka yang tidak bersalah.) 

Nonoa dengan kepala dingin menganalisis situasi dengan tenang. Namun, seolah-olah merasakan pemikirannya, Masachika menoleh ke arah Yushou. 

Hei, Kiryuuin, kamu juga sependapat iya, ‘kan? 

…… Iya, benar. Meskipun Miyamae menyangkalnya, itu pasti untuk melindungi Taniyama. Lagipula, Miyamae juga sudah menanggung nama buruk untuk melindungi Taniyama dalam debat semester pertama. 

Nonoa menyipitkan matanya saat Yushou yang berperilaku dramatis sambil mengangkat bahunya. 

(Ah... yah, jika itu Yushou, dia akan senang menjatuhkan nama baik Sayaka. Meskipun Kuzecchi berusaha menghentikannya...) 

Memang, ini bisa dikatakan... sebagai ancaman yang efektif. 

(Aku tidak pernah menyangka kalau Yushou bisa menjadi kuda hitam sampai sejauh ini... Aku tidak pernah memprediksinya.) 

Posisi Yushou di akademi sudah jatuh ke titik terendah, dan dirinya diabaikan oleh semua anggota OSIS yang ada. Meskipun ia adalah ketua klub piano yang menjadi titik awal rencana, jujur saja, Nonoa tidak terlalu mewaspadainya

(Tapi, si pecundang ini sekarang bisa menghancurkan rencanaku dan bahkan menunjukkan taringnya, ya...)

Seolah membaca pikiran Nonoa, Yushou mengangkat dagunya dengan provokatif. Tindakan yang cukup menjengkelkan... namun entah kenapa terasa menyenangkan. Perasaan yang sempat hilang itu seolah kembali membara. 

(Ah... bagus juga. Baiklah, kalau begitu, sepertinya aku bisa ikut meladeninya?

Dengan senyum yang tampak ceria, Nonoa menunjukkan wajah yang hampir terdengar palsu. 

Tentu saja, aku tidak mungkin mengkhianati Kuzecchi dan Alisa! Mungkin jika Sayacchi menyuruhku, aku bisa melakukannya... tapi Sayacchi tidak akan mengatakan hal seperti itu, kan?

Yah, itu benar. Tentu saja, aku juga percaya padamu. 

Masachika tetap menggaruk tengkuknya dengan tangan kiri sambil tersenyum ceria, meskipun senyumnya juga tampak sedikit mencurigakan. Mereka berdua saling memahami bahwa mereka sedang berbicara tanpa serius. 

Tapi, benar juga~. Memang benar aku berpihak pada Ayanono dan tidak memberi nasihat yang seharusnya, jadi aku akan segera menebusnya. 

Benarkah? Syukurlah, itu sangat membantu. Tapi, kalau ada kejadian yang serupa, tolong beri laporan yang jelas padaku, ya?

Mereka berdua tampak ramah dan bersahabat di permukaan, tetapi di balik ucapan mereka, mereka terus melakukan permainan pikiran... tiba-tiba Yuki menyela. 

Nonoa-san, jika kamu menyerahkan wakil ketua klub piano dan para pelaku, aku berjanji tidak akan menuntut tanggung jawabmu. Bagaimana menurutmu? 

Usulan Yuki yang tiba-tiba mengejutkan Nonoa. Ini adalah pertanyaan yang berbentuk konfirmasi, di mana jika Nonoa menunjukkan tanda-tanda ragu, maka dia sudah kalah. Namun, jawaban Nonoa sangat tegas. 

“Hmm~? Aku tidak begitu mengerti apa yang Yukki katakan, maaf ya." 

……

Karena tidak bisa mendapatkan komitmen apa pun di sini, Yuki menyipitkan matanya sedikit, memancarkan aura mendecak lidah dalam hati. Tiba-tiba, suara yang tak terduga muncul, mengejutkan Yuki, Nonoa, dan Masachika. 

Ke...napa...?

?

Kenapa! Kamu masih bisa bersikap tenang seperti itu?!

Suara lembut yang tertekan itu berasal dari Ayano yang berdiri di belakang Yuki. Semua perhatian di ruangan itu tertuju padanya, sementara Ayano menggenggam ujung roknya dengan erat dan bibirnya bergetar saat dia terus berteriak. 

“Jika itu saya sendiri....itu tidak masalah. Tapi, Alisa-san dan Masachika-sama, bukanknya mereka teman Nonoa-san?! Ke-Kenapa Nonoa-san bisa te-tega mengkhianati mereka?!

Seolah-olah perkataan itu seakan meluap dari lubuk hatinya sebelum pikirannya sempat mencerna. Tenggorokan, dada, kepalan tangan, dan seluruh tubuh Ayano gemetar saat ia mati-matian berusaha berbicara. Ini adalah kemarahan yang belum pernah dilihat oleh Masachika atau Yuki. Dalam keadaan hampir mengalami sesak napas, Yuki yang berbalik langsung memeluknya erat. 

Terima kasih, Ayano. Sudah cukup. Sudah, semuanya sudah baik-baik saja. 

──Ugh, Yuki-sama...

Yuki dengan lembut mengelus kepala Ayano, dan secara bertahap, ketegangan di tubuh Ayano mulai menghilang, dan napasnya menjadi lebih stabil. Di hadapan Ayano, Masachika dan Alisa berdiri untuk menghalangi pandangannya terhadap Nonoa. 

Terima kasih, Ayano.

Terima kasih, Ayano-san. Terima kasih sudah marah untuk kami.

Masachika mengelus kepala Ayano seperti Yuki, sementara Alisa mengungkapkan senyum lembut saat mengucapkan kata-kata itu. Ayano perlahan-lahan menarik napas dalam-dalam dan menundukkan kepalanya. 

…Masachika-kun, Alya-san, kami akan pulang lebih dulu.

…Ya, tolong jaga Ayano. 

Ya. Jadi, sampai jumpa juga, Kiryuuin-san. 

Setelah mengatakan itu, Yuki menggiring Ayano dan keluar dari kelas. Setelah melihat mereka pergi, Masachika menatap Yushou dan berkata, 

Kiryuuin, terima kasih hari ini. Aku sangat terbantu.

Eh...? Ah, ya...

Masachika yang sedikit membungkuk membuat Yushou terkejut dan berkedip beberapa kali. 

Tapi maaf, bisakah kamu pulang lebih duluan untuk hari ini? Aku ingin berbicara dengan Nonoa hanya bersama Alya.

Ah, ya...

Dengan tampak sangat gelisah, Yushou mengangguk dengan jujur dan juga keluar dari kelas. Sekarang hanya tersisa tiga orang di kelas, Masachika dan Alisa kembali menghadapi Nonoa. 

Jadi, kenapa kamu mengkhianati kami?

Masachika langsung menyingkirkan senyuman palsunya dan bertanya dengan jujur. Namun, Nonoa tetap dengan senyum ceria dan memiringkan kepalanya. 

“Mendadak ada apaan ini? Kuzecchi, bukannya tadi kamu bilang percaya padaku?”

…Oh, jadi kamu tidak berniat untuk mengakuinya, ya?

Masachika diam-diam mendecakkan lidahnya melihat kelicikan Nonoa yang terus berpura-pura tidak mengerti dan tidak menurunkan kewaspadaan. 

(Cih, jadi dia tidak akan mudah memberikan celah, ya...) 

Masachika lalu menggaruk kepalanya dengan tangan kanan dan menatap ke arah bawah sebelum melanjutkan. 

Nah, Nonoa, siapa siswi yang mencoba menjebak Alya?

“Sudah kubilang dari tadi, aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.

Kamu tidak mengerti? Kamu seriusan bilang begitu?

Ya, sama sekali tidak.

Nonoa menjawab dengan nada riang sembari membuka kedua tangannya lebar-pebar... Masachika hanya bisa tersenyum kecil. 

Yah, memang begitu. Tadi Yuki juga bertanya hal yang sama, dan aku terus mengulangi tidak tahu.

Ya, ya, aku ingin kamu berhenti—

Tentu saja, kesalahan bisa terjadi. 

Senyum Nonoa seketika menghilang. 

Masachika menatap Nonoa yang tiba-tiba kehilangan ekspresi dengan serius. 

Kamu tidak tahu apa yang sedang dibicarakan? Itu aneh. Biasanya, ketika disebut 'siswi yang mencoba menjebak Alya', yang pertama kali terlintas di pikiran ialah siswi yang menyerang Alya dari kursi penonton selama majelis siswa, kan?

Salah satu pelaku yang mengubah warna bola yang digunakan untuk pemungutan suara ialah siswi yang pertama kali mengkritik Alisa. Mungkin mengingat keberadaan itu, Nonoa sedikit membuka matanya. 

Jika kamu benar-benar tidak tahu apa-apa, kamu seharusnya menjawab pertanyaanku dengan 'itu adalah teman sekelas Yuki' atau 'aku tidak tahu siapa itu'. Tapi, ketika disebut 'siswi yang mencoba menjebak Alya', kamu langsung memikirkan 'siswi yang menghasut delapan pelaku dan wakil ketua klub piano'. Kamu yang tidak tahu apa-apa, memikirkan tentang siswi yang seharusnya tidak kamu ketahui. Itulah sebabnya kenapa kamu bilang, 'aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan'.

Sambil mengatakan itu, Masachika menunjukkan rekaman suara yang sedang direkam dari saku, dan Nonoa semakin membuka matanya... lalu tertawa kecil. 

Ya itu sih, bukannya Yukki tadi bilang ada orang seperti itu?

“Memang. Tapi, Yuki hanya mengatakan 'orang yang menghasut'. Dia tidak pernah menyebutkan 'siswi'.

Meski begitu, tetap saja itu hanya permainan kata... bukannya itu masih terlalu lemah sebagai bukti pengkhianatan? 

Semoga saja alasan itu juga bisa diterima oleh Sayaka. 

Balasan tajam Masachika akhirnya membuat senyum palsu Nonoa merekah, memperlihatkan sedikit kegilaan dari lubuk hatinya.

...Menarik. Kuzecchi, kamu memang benar-benar menarik... Hanya Kuzecchi doang yang bisa memojokkanku sampai sejauh ini.

Dengan ekspresi yang seolah ingin menjilat bibirnya, Nonoa menatap dengan mata yang bersinar. Dalam situasi yang membuat orang biasa merasa terancam, Alisa akhirnya bersuara. 

Kamu ini... kamu ini sebenarnya siapa? Apa yang kamu inginkan?

Mendengar pertanyaan yang terlontar seolah tak sengaja, Nonoa menoleh ke arah Alisa dengan senyum menyeramkan menghiasi wajahnya. 

“Hmm~? Apa yang kuinginkan, ya~... Sejujutnya, aku sendiri tidak begitu mengerti... Ah, tapi, hari ini kurasa aku mungkin bisa sedikit mengerti. 

Sambil menyeringai lebar, Nonoa mengangkat kedua tangannya dan menengadah ke langit. 

Aku ingin melihat sesuatu yang tak terduga!

Nonoa menggenggam kedua tangannya seolah-olah ingin meraih sesuatu dan tertawa riang

Aku ingin melihat sesuatu yang melampaui prediksiku! Sesuatu yang membalikkan ekspektasi! Itulah yang ingin aku lihat! 

Ini adalah pertama kalinya Masachika melihat keinginan murni Nonoa. Dengan keinginan yang murni seperti binatang itu, Masachika mengernyit dan bertanya. 

“Jadi demi bisa mewujudkan itu, kamu tidak peduli jika harus mengkhianati temanmu sendiri dan menipu teman sekelas yang tidak bersalah? 

…Yah, aku tidak berharap kamu bisa memahaminya. Aku sendiri pun tidak mengerti mengapa aku merasa seperti itu. 

Semangat gilanya itu mereda dalam sekejap, dan Nonoa mengembalikan lehernya ke posisi semula. Jawaban atas pernyataan yang seolah menjauhkan dirinya dari diri sendiri itu datang dari Alisa. 

“Aku memang tidak bisa memahaminya... tapi, aku tidak berniat untuk menolak itu sebagai alasan. Sama seperti aku yang ingin mencapai tempat yang lebih tinggi, kamu ingin melihat hal yang tak terduga. Itu saja, kan?

Saat Masachika dan Nonoa membuka mata lebar dan mengarahkan pandangan mereka, Alisa terus menatap Nonoa dengan serius. 

Setelah menghadiri akademi ini, aku mengetahui bahwa banyak orang menjalani berbagai cara hidup. Dan aku juga menyadari bahwa tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk di antara cara-cara hidup itu. 

Kata-kata yang disampaikannya terasa memiliki bobot. Tidak ada keraguan dalam pikiran pendengarnya bahwa kata-kata itu diucapkan dengan tulus. 

Setiap cara hidup memiliki kelebihannya masing-masing... dan ada hal-hal yang hanya bisa dilihat oleh orang yang menjalani cara hidup itu. Oleh karena itu, aku tidak akan menjadikan hal-hal yang tidak bisa kupahami atau yang berbeda dariku sebagai alasan untuk menolaknya. Aku sudah memutuskan demikian. Jadi... aku tidak akan menolak dirimu. Jika itulah cara hidup yang membuatmu merasa hidup, maka aku akan menerimanya, Nonoa-san. 

Bukan persetujuan atau penolakan, tetapi penerimaan. Usai mendengar reaksi itu, Nonoa menatap Alisa dengan serius... lalu tersenyum lebar. 

Bagus... Sepertinya aku mulai suka padamu, Alissa.

“H-Hah?

Ya, ya, itu bagus. Seperti saat majelis siswa tadi, rasanya sangat menyenangkan. Aku jadi ingin menciummu.

Ugh!? Tidak, itu...

Alisa secara refleks melangkah mundur satu langkah, sementara Masachika bergerak satu langkah ke samping untuk melindunginya. Melihat kedua orang itu, Nonoa dengan ceria berbalik menghadap pintu belakang kelas. 

“Yah, jadi begitulah.... selama kamu bisa menunjukkan sesuatu yang melampaui prediksiku, aku akan dengan senang hati membantu kalian berdua, oke? Jika aku merasa bosan, mungkin aku akan mengacaukan segalanya. 

Jika itu terjadi, kami juga akan memberikan respons yang sesuai.

Silakan lakukan saja sesukamu~. Oh, jika kamu ingin merekam percakapan ini dan memperdengarkannya kepada Sayacchi, silakan saja~. 

Sembari mempertahankan sikap yang masih ceria, Nonoa keluar dari ruang kelas. Setelah ditinggal, Masachika menghela napas panjang dan menatap Alisa. 

“Gimana ya bilangnya, tapi intinya... terima kasih atas kerja kerasmu. Kau baik-baik saja?

Ya, terima kasih juga... apa maksudmu baik-baik saja?

Tidak, maksudku... ini baru pertama kalinya kamu melihat sifat aslinya. Apa kamu tidak terkejut?

Ketika Masachika bertanya dengan nada khawatir, Alisa tampak berpikir dengan serius. Setelah beberapa saat, dia membuka mulutnya. 

Aku memang terkejut... tetapi, seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak berniat untuk menolak Nonoa-san. Justru, aku merasa senang dia menunjukkan sifat aslinya... atau bisa dibilang, jati dirinya? Menurutku itu adalah hal yang baik. 

Bukan sekadar berpura-pura kuat atau bersikap manis kepada teman, Alisa sampai pada kesimpulan itu setelah berpikir matang. Masachika dengan tulus menghormatinya. 

Aku merasa terkesan karena kamu bisa sampai berpikiran seperti itu.

Yah, mungkin sebagian alasannya karena aku tidak merasakan pengkhianatan yang terlalu mendalam.

Ah, begitu ya...”

Memang benar rencananya sendiri digagalkan di tengah jalan, dan Nonoa tidak melakukan apa pun secara langsung padanya. Mungkin itulah sebabnya, Alisa bisa melihat Nonoa dengan lebih objektif. 

Yah, dibandingkan dengan sifat asli Yuki-san, itu masih tidak seberapa. 

Yah, ada benarnya juga sih.

Masachika hanya bisa menatap kosong ke arah kejauhan setelah mendengar itu. Ia teringat pada adik perempuannya yang lebih dekat dengan Alisa dan memiliki perbedaan yang sangat mencolok antara penampilan dan sifat aslinya, lalu Masachika membersihkan tenggorokannya dan berkata kepada Alisa. 

Yah, syukurlah jika kamu tidak terkejut... Waktu sudah cukup malam, jadi mari kita pulang.

Ya... benar.

Tanpa ada yang mengarahkan, Masachika dan Alisa mulai berjalan keluar dari gedung sekolah, berjalan berdampingan di jalan malam yang gelap. 

Jadi, apa rencanamu? Tentang rekaman tadi.

Hmm... untuk saat ini, aku akan menundanya. Jika Sayaka mengetahui pengkhianatan Nonoa dan mencoba menghentikannya... aku tidak bisa memprediksi bagaimana Nonoa akan bereaksi. Kemungkinan paling buruk, dia mungkin akan bersikap terbuka dan secara terang-terangan menjadi musuh. Mengandalkan Sayaka adalah langkah terakhir. Untuk sekarang, aku akan menyimpannya sebagai alat pencegah terhadap Nonoa. 

Begitu... jika itu yang kamu katakan, kurasa itu bukan ide yang buruk.

…Hmm.

Usai memberi anggukan kecil, Masachika menghembuskan napas dan melepaskan ketegangan yang mengikatnya. Tiba-tiba, ia merasa sangat lelah. 

(Ah, aku memang banyak berpikir tadi... ah, itu sebagian alasannya, tapi ini...) 

Kelelahan yang dialaminya bukan satu-satunya masalah. Ada perasaan berat di dalam dadanya yang membuatnya merasa tidak nyaman... ini adalah kelelahan emosional. 

(Ah... begitu.) 

Masachika masih kepikiran tentang ledakan emosi yang ditunjukkan Ayano sebelumnya. Ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis kecil yang biasanya tidak menunjukkan ekspresi itu kini membebani hati Masachika. 

(Kalau dipikir-pikir secara objektif, aku juga ikut bertanggung jawab atas ledakan amarah Ayano tadi, kan?)

Setidaknya, jika Masachika tidak melindungi Nonoa dan bergabung bersama Yuki untuk mengkritik Nonoa dengan serius, hal itu mungkin bisa dihindari. Jika itu terjadi, Ayano akan tetap berada di belakang Masachika dan Yuki seperti biasanya... 

(Tidak, cepat atau lambat... mungkin hal itu bakalan tetap terjadi? Sejak awal, dia pasti sudah menumpuk beban ini saat mengawasi Nonoa...) 

Namun, meskipun dia memikul beban di hatinya saat menjadi mata-mata dan memberitahu Masachika dan Alisa tentang adanya bahaya, Masachika juga telah melakukan hal yang tidak pantas dengan membalas budi dengan cara yang buruk. 

(Dari informasi yang kudapatkan dari Ayano, aku berhasil menghindari rencana Nonoa, tetapi ketika saatnya tiba untuk mengkritik Nonoa, aku malah berpihak pada pihak yang menghalangi... Dari sudut pandang Ayano, tindakanku itu justru terlihat seperti pengkhianatan.) 

Masachika tidak menyesali tindakannya saat itu. Ia percaya bahwa dirinya telah melakukan respons yang optimal pada saat itu dengan mempertimbangkan pemilihan mendatang. Namun... tindakan rasional dan penuh perhitungan itu juga membuat Ayano merasa seperti itu. 

(Ah, entah kenapa... aku merasa tidak suka pada diriku sendiri.) 

Karena posisinya sebagai lawan, itu adalah hal yang tidak bisa dihindari. Secara logika, ia memahaminya. Masachika memang menyadarinya, tetapi... saat ini, ia merasa jijik pada dirinya sendiri yang mencoba membela diri. 

Terima kasih. Sudah banyak berpikir untukku.

Eh?

Masachika terkejut saat mendengar ucapan terima kasih yang tiba-tiba dari arah sampingnya dan pikirannya terhenti. Ketika dirinya menoleh, Alisa yang berjalan di sampingnya mulai berbicara perlahan tanpa menatapnya. 

Jika aku sendirian... aku mungkin akan menghadapi Nonoa-san tanpa memikirkan konsekuensinya dan hanya akan menyisakan ketidakpercayaan dan perselisihan.

Ah... yah, ketulusanmu adalah hal baik tentang Alya.

Sifatnya yang lurus itu selalu bersinar... dan sekarang, terasa sedikit menyakitkan. 

Namun, aku yakin bahwa hanya itu saja tidak cukup untuk membuat Nonoa-san berbagi isi hatinya. Nonoa menunjukkan perasaannya karena kamu berhasil mengeluarkannya dalam percakapan... jadi, terima kasih. 

Alisa berjalan maju beberapa langkah, lalu berbalik untuk mengucapkan terima kasih, dan Masachika terkejut dengan ekspresi itu. Alisa, yang menatap langsung ke mata Masachika, juga terkejut. 

…Ada apa? 

Eh...

Kamu terlihat seperti sedang kesulitan...

…Oh.

Menanggapi pertanyaan Alisa, Masachika mengangkat sudut bibirnya dengan nada sinis. 

“Tentang Ayano... aku cuma sedikit cemas padanya.

Ah...

Sepertinya... dia tidak cocok untuk pemilihan. Meskipun penyebabnya adalah aku yang membuat Ayano terlibat dalam pemilihan. 

Dan salah satu alasan mengapa Ayano terlihat seperti itu kali ini... 

Masachika-kun...

Tidak, maaf. Sejak kita sudah menjadi lawan dari mereka, sekarang sudah terlalu terlambat. Aku seharusnya sudah siap... tetapi melihat hal seperti itu, ya... 

Setelah mengatakan itu, Masachika menggelengkan kepalanya seolah ingin mengalihkan perasaannya. 

Tapi... ya. Aku merasa diakui oleh Alya... aku jadi merasa tidak salah. Tentang Ayano... aku akan meminta maaf dan menghargainya dengan baik lain kali.

...

Jangan buat wajah seperti itu. Apa pun yang terjadi, kita akan menang dalam pemilihan. Niat itu tidak akan berubah. Benar, kan?

…Ya, benar.

Meskipun dirinya mengangguk, Alisa menunjukkan ekspresi berpikir keras. Melihat itu, Masachika berdiri di sampingnya dan berusaha berbicara dengan nada ceria. 

Tapi, aktingnya sangat bagus, ya... aku sangat terkesan dia bisa berbicara sebaik itu.

Eh? Oh maksudnya... Nonoa-san?

Ya, aku tertawa karena dia terlalu blak-blakan sekali.

Tapi, kau juga bisa berhadapan dengan Nonoa-san dan akhirnya menang.

Ah... yah, itu memang kemenangan yang cukup sulit. 

Meski begitu, kau berhasil mengalahkan Nonoa-san... aku benar-benar menghormatimu.

Ah, ya... terima kasih.

Dan juga, kemu kelihatan sangat keren... 

Ugh!

Masachika hampir tersedak setelah mendengar bisikan dalam bahasa Rusia dan merasakan tatapan panas di pipinya. Sebenarnya, suara aneh keluar dari tenggorokannya. Untuk mengalihkan perhatian, Masachika cepat-cepat mengganti topik pembicaraan. 

Ngomong-ngomong, aku terkejut. Aku tidak menyangka kamu akan menyerukan pemungutan suara ulang untuk mengungkap konspirasi. 

Eh? Ah... tapi, pada akhirnya, dalangnya tidak tertangkap, dan karena aku melakukannya, Nonoa-san jadi mengetahui kalau Ayano-san menjadi mata-mata...

Itu juga, pada akhirnya, menguntungkan bagi kita. Jika Ayano terus menjadi mata-mata, dia mungkin akan tertangkap oleh Nonoa dan memberikan bukti pengkhianatannya kepada pihak Yuki.

Ah, jadi ada sudut pandang seperti itu...

Pada awalnya, Masachika dan yang lainnya menunggu di dekat ruang kelas kosong karena setelah majelis siswa, Masachika dan Yuki mendengarkan cerita dari Alisa dan Yushou, dan ketika berpikir, Eh? Bukannya tindakan Alya terlihat tidak wajar dari sudut pandang Nonoa?, mereka mengikuti Ayano yang dipanggil oleh Nonoa. Mungkin bagi Alisa, ada perasaan aku telah melakukan hal yang tidak perlu, tetapi bagi Masachika, itu adalah pekerjaan yang bagus. 

Selain itu, ada bagusnya juga jika seandainya saja kita bisa menangkap pelakunya. Jika bisa, aku juga ingin menangkap siswi yang menghasut mereka...

"Ah... aku penasaran, siapa orangnya, ya?

Entahlah. Namun, jika kita bisa mengidentifikasinya, kita bisa menutup salah satu pion penting bagi Nonoa. Tapi di sisi lain, bagi Yuki dan Ayano, siswi itu juga merupakan saksi penting yang kemungkinan besar terhubung dengan Nonoa. Menangkap siswi itu akan menjadi tantangan berikutnya... 

Benar sekali.”

Alisa mengubah ekspresinya setelah menatap tujuan berikutnya. Masachika mengangguk dan juga menatap kosong ke depan. 

(Siswi itu hampir dipastikan mengetahui sifat asli Nonoa dan masih bekerja sama dengannya... Kira-kira siapa dia sebenarnya?)

 

◇◇◇◇

 

Pada saat yang sama, siswi yang dimaksud, Shikumagawa Miyabi, sedang duduk berhadapan dengan Nonoa di sebuah ruangan di gedung sekolah yang sepenuhnya sepi. 

Jadi, pada akhirnya rencana itu gagal, dan delapan pelaku tertangkap, ya... sayang banget. 

Meskipun itu rencananya sendiri, Miyabi tampak benar-benar kasihan sambil mengerutkan alisnya, lalu bertanya kepada Nonoa. 

Jadi? Mengapa kamu kelihatan seneng banget meski rencananya gagal, Ratuku?”

Berbeda dengan ekspresi lesu biasanya, Nonoa yang tampak anehnya ceria tidak menatap Miyabi dan mulai berbicara. 

Hmm? Kenapa ya? Mungkin karena aku bisa melihat sisi tak terduga dari Alissa dan Ayanono?

Haah...

Dan juga, Kuzecchi dan Yushou benar-benar melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Sejauh ini, aku belum pernah mengalami rencana yang dihancurkan sedemikian rupa, jadi mungkin itu membuatku merasa senang. 

Begitu, ya?

Dengan nada terkejut dan sedikit kesepian, Miyabi melanjutkan bertanya. 

Lalu, apa rencanamu selanjutnya?

Hmm~ untuk sementara aku akan menjilat Kuzecchi dan Alissa, mungkin? Aku perlu memulihkan kepercayaan yang hilang akibat kejadian ini.

Ah, begitu... 

Dan kamu juga harus diam-diam berperilaku baik ya, Miyabi~? Yukki dan Kuzecchi pasti akan berusaha menghentikanmu.

Ah, itu sih... aku melakukannya dalam keadaan menyamar, jadi kurasa tidak masalah.

Aku juga berpikir begitu, tapi... jangan lengah. Oke, kerja bagus! Urusan ini sudah selesai! 

Tunggu! 

Miyabi menghentikan Nonoa yang bertepuk tangan dan siap untuk pulang dengan tatapan tajam. 

Aku belum mendapatkan ucapan terima kasih, lho?

Ah...

Kamu bilang aku boleh meminta apa saja tanpa ada batasan, ‘kan?

Dengan ekspresi serius meminta imbalan, Nonoa tersenyum sinis, seolah menertawakan ketekunan Miyabi, dan meletakkan tangan di ikatan pita di lehernya. 

Baiklah, apa boleh buat deh... boleh-boleh saja kok? 

Kemudian, dasi pita merah terlepas dan jatuh di antara mereka berdua. (TN: Buset malah Yuri njirrrr)

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama