Prolog — Aliansi Bersama
“……Kamu bilang apaan tadi?”
Pada
malam hari setelah pembicaraan di rapat OSIS tentang usulan dari klub piano
untuk mengadakan majelis
siswa, Masachika yang sedang bersantai di kamarnya merasa kebingungan dengan isi telepon yang
tiba-tiba masuk dari Yuki.
“Sudah
kubilang, pada
majelis siswa antara klub piano dan klub
musik ringan yang diagendakan nanti, sepertinya ada semacam rencana jahat yang
mengincar Alya-san,
jadi aku ingin memberikan beberapa
informasi.”
Masachika mengerti apa yang dikatakan
adiknya. Namun, mengapa Yuki memiliki informasi tersebut
dan sengaja memberitahukan hal itu padanya,
yang merupakan saingannya?
“……Mengapa
kamu memberitahuku?”
Setelah
sedikit terdiam, Yuki menjawab pertanyaan Masachika dengan jujur.
“……Sejujurnya,
aku mungkin tidak bisa mengatasinya sendirian.”
Pernyataan
Yuki yang tidak biasa lemah ini semakin menambah rasa terkejut dan kebingungan dalam diri Masachika. Kemudian,
Yuki melanjutkan dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
“Namun,
ada syaratnya. Sebagai imbalan informasi, aku ingin kamu berjanji untuk tidak
mengganggu Si penyedia
informasi.”
“Apa
maksudnya?”
“Sederhananya,
informasi ini berasal dari Ayano, dan aku ingin kamu tidak mengganggu aktivitas
mata-mata Ayano.”
“Ayano?
Dia yang……”
Dengan
informasi yang diterima, Masachika teringat bahwa akhir-akhir ini gelagat Ayano memang terlihat aneh.
(Ah,
mungkin ini yang dimaksud……?)
Hal ini
merupakan sesuatu yang sudah lama mengganggu pikirannya, perilaku Ayano yang kelihatannya menyembunyikan sesuatu. Setelah menemukan jawaban yang tampaknya
benar, pilihan untuk tidak mendengarkan situasi tersebut tidak ada lagi bagi
Masachika.
“……Baiklah.
Jadi, informasi macam apa yang kamu terima?”
Setelah
jeda sejenak, Yuki menjawab pertanyaan Masachika.
“Kayaknya Nonoa-san telah mengkhianati Alya-san.”
“…………Hah?”
◇◇◇◇
“……Apa
maksudmu?”
Keesokan
paginya di ruang OSIS, Alisa yang menerima peringatan dari
Yuki tampak tidak mengerti sama sekali. Namun, perasaan itu juga
dirasakan Masachika.
“Yah,
aku juga…… tidak mengerti mengapa dia mencoba
mengkhianati kita.
Setidaknya, yang kudengar dari Yuki adalah Nonoa
berusaha memanfaatkan Ayano untuk memisahkanku
dan Yuki dari majelis siswa kali ini. Dia berusaha menjadikanmu dan Ayano sebagai petugas pemungutan
suara. Di majelis siswa itu, mungkin ada suatu konspirasi yang mengancam posisimu.”
Meskipun Masachika yang mengatakannya sendiri, tapi ia sendiri masih merasa bingung.
Mungkin Yuki merasakan hal yang sama, itulah sebabnya dia membocorkan informasi kepada Masachika untuk
meminta bantuan.
“……Apa informasi itu dapat dipercaya?”
Dengan
ekspresi serius, Alisa bertanya setelah berpikir sejenak. Namun, Masachika juga
tidak dapat memberikan jawaban yang pasti.
“Aku
tidak bisa membayangkan Ayano
akan berbohong... Meski aku masih
terkejut dia
melakukan tindakan seperti mata-mata, tapi kurasa dia mungkin melakukannya demi Yuki. Mungkin dia berpikir bahwa
sulit untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari Nonoa, jadi dia meminta pendapat
Yuki. Tapi, aku tidak memiliki bukti bahwa Yuki berbicara jujur semuanya...”
Dalam
situasi di mana dirinya harus
meragukan sekutu karena informasi dari saingan, Masachika merasa bingung
tentang siapa, apa, dan seberapa jauh informasi
yang harus dipercayai. Namun...
“Tapi....instingku
mengatakan... kalau Yuki
tidak berbohong.”
Ketika
Masachika dengan hati-hati mengungkapkan pendapatnya, kerutan di kening
Alisa semakin dalam. Tidak mengherankan dia bereaksi demikian, karena mempercayai Yuki berarti dirinya meragukan Nonoa. Beban mental bagi Alisa untuk
meragukan salah satu dari sedikit temannya sangatlah berat.
“…Bagaimana
kalau kita langsung menyelidiki Nonoa-san?”
“Tidak,
itu tidak baik.”
“Kenapa?”
“Aku
sudah berjanji untuk tidak mengganggu Ayano yang sedang menyelidiki Nonoa. Jika kita menunjukkan gerak-gerik yang aneh
sekarang, Nonoa mungkin
akan mencurigai kebocoran informasi.”
“…Jadi,
kita harus berpura-pura tidak tahu apa-apa, ya.”
“Itulah yang harus kita lakukan.”
Namun,
berpura-pura tidak tahu dan menghadapi hari majelis siswa tanpa persiapan merupakan tindakan yang bodoh. Apa saja
konspirasi yang menunggu, atau memangnya beneran ada konspirasi yang berjalan tanpa sepengetahuan mereka?
Ada banyak hal yang tidak diketahui,
tetapi dengan menganggap ada konspirasi, mereka harus mengambil beberapa
langkah pencegahan. Namun... dalam keadaan di mana hanya diketahui bahwa Alisa
menjadi target, langkah apa yang bisa diambil
Masachika...
(Bagaimana
kalau aku membuat
Alya juga tidak hadir di majelis
siswa...? Tidak, mengabaikan majelis itu sepenuhnya juga berbahaya. Bahkan jika
kita menghindarinya, yang ada itu
hanya akan menunda masalah. Lebih baik kita menghadapinya sekarang daripada
terjebak dalam serangan mendadak di lain waktu...)
Saat dirinya berpikir sampai sejauh itu, ada
seseorang yang terkait Nonoa
terlintas di dalam benaknya.
“Ngomong-ngomong...”
“Apa?”
“Ah, enggak.”
Usai
bergumam tanpa sadar dan merasa ditegur, Masachika segera
menggelengkan kepalanya.
“Katakan saja
padaku. Sekarang, aku ingin informasi sekecil apa pun.”
“Umm...
hmm...”
Namun,
setelah ditatap langsung oleh rekannya,
Masachika ragu sejenak sebelum akhirnya membuka mulut dengan enggan.
“Sebenarnya...
Kiryuuin juga berkata bahwa Nonoa sedang merencanakan sesuatu di
majelis siswa...”
“Kiryuuin... maksudnya yang sepupunya Sumire-senpai?”
“Iya,
Kiryuuin yang
itu. Kiryuuin Yushou.”
Masachika
mengerutkan keningnya saat
teringat teman sekelas menyebalkan yang akhir-akhir ini mengganggunya. Namun,
Alisa dengan cepat mengambil keputusan.
“Kalau
begitu, mari kita dengar pendapat dari Kiryuuin-san juga.”
“Eh…
seriusan?”
“Kenapa kamu
kelihatan enggan begitu?”
“Habisnya, orang itu jelas-jelas menganggap Nonoa sebagai musuh, jadi aku merasa ragu ia bisa memberikan pendapat
yang objektif...”
Melihat
Masachika yang tampak tidak setuju, Alisa mengerutkan dahi dan sedikit
menundukkan kepalanya.
“Aku
tidak terlalu mengenalnya… tapi, fakta bahwa dia pernah mencalonkan diri
sebagai ketua OSIS semasa SMP
menunjukkan bahwa ia pasti
orang yang cerdas, ‘kan?”
“Ah,
ya… meskipun dirinya agak
terlalu narsis dan cenderung memuluskan segala cara.”
“Seingatku,
dirinya pernah kalah berdebat dengan pasangan Sayaka-san dan Nonoa-san?”
“Iya,
benar.”
“Kalau
begitu, artinya… Kiryuuin-san
tahu lebih banyak tentang Nonoa-san sebagai musuh dibandingkan siapa
pun, bukan?”
“!”
“Kalau
begitu, bukannya kita bisa lebih mempercayai insting
dan kemampuan penilaiannya?”
“……”
Masachika
terdiam karena dirinya tidak pernah memikirkan
hal itu sebelumnya. Mata Masachika terbelalak mendengar ucapan Alisa yang tak terduga.
(Memang
benar… karena dirinya orang
jahat yang terbiasa menyakiti orang lain, jadi ia juga peka terhadap niat
jahat yang ditujukan padanya… tapi, hmm...)
Ada penolakan
dan keengganan dalam diri Masachika untuk
bergantung pada Yushou. Dirinya tidak bisa menepis perasaan
bahwa ia tidak ingin Alisa yang mulia bertemu dengan orang jahat seperti itu.
(Lagipulla,
terlibat dengannya sekarang hanya akan membawa
risiko jika kita memikirkan pemilihan… jika dirinya memutuskan untuk bekerja
sama dengan pihak kami, reputasinya yang buruk pasti akan menarik dukungan kami
berkurang… hmm~.)
Saat Masachika sedang merenungi dalam-dalam dan menunjukkan
sikap yang ragu-ragu, Alisa mengangkat bahunya.
“Baiklah.
Untuk saat ini, aku akan pergi mendengarkan pendapatnya sendirian.”
“Hah?”
“Karena
sepertinya ada banyak masalah di antara kalian
berdua, jika kamu ada di sana, mungkin Kiryuuin-san tidak bisa berbicara
dengan tenang.”
“Yah,
itu sih…”
Meski
demikian, gagasan Alisa untuk bertemu Yushou secara empat mata merupakan hal yang
paling sulit diterima Masachika.
Selain itu, jika dipikirkan secara rasional tanpa emosi, pendapat Alisa bahwa “kita harus mendengarkan cerita
Yushou” juga benar… sehingga kesimpulan
Masachika sudah ditentukan.
“~~~~~~~! Baiklah!
Tapi, aku juga ikut bersamamu.”
“Eh?
Sudah kubilang, jika kamu ada di sana, pihak sananya juga…”
“Aku
menyerahkan urusan berbicara kepadamu.
Aku hanya akan mendengarkan dari belakang.”
“Apa,
kamu saking tidak percayanya jika aku yang mengurusnya sendiri?”
Melihat ekspresi Alisa yang sedikit tidak puas,
Masachika menggelengkan kepala.
“Tidak,
bukan berarti aku tidak percaya padamu… aku hanya khawatir tentang apa yang
akan ia lakukan.”
“Ia
tidak akan melakukan apa-apa, kan…?”
“Tidak,
tidak… memangnya kamu sudah lupa kalau orang itulah yang menyebabkan keributan besar
di Festival Budaya! Lebih
baik kita tetap waspada.”
“……”
Masachika
menegaskan hal ini seolah-olah itu hal yang sangat jelas, tapi Alisa tampak
tidak puas dan mengerutkan dahinya.
“Aku
mengerti apa yang ingin kamu katakan, tapi...”
“Apa?”
“Jika
kita mempertimbangkan kejadian selama festival
budaya tempo hari... Kiryuuin
adalah tipe yang beroperasi di belakang layar tanpa mengotori tangannya, ‘kan? Jika dipikirkan seperti itu,
kemungkinan dirinya akan
melakukan sesuatu langsung padaku sangat kecil, bukan...? Tidak ada alasan
baginya untuk melakukan hal semacam itu.”
“……”
Usai mendengar
penjelasan Alisa yang tenang, Masachika akhirnya menyadari bahwa penilaian yang
ia anggap rasional sebenarnya adalah penilaian yang emosional.
(Ah,
begitu ya… aku…)
Sederhananya,
Masachika hanya tidak ingin membiarkan Alisa dan Yushou berduaan saja. Hanya dengan membayangkan
mereka berdua sendirian di suatu ruangan, perasaan tidak nyaman menyebar di
dalam dirinya.
(Tidak,
itu hanya... karena aku khawatir. Dan juga, aku hanya tidak suka si cowok narsisme itu. Tapi, kurasa aku tidak berhak mengatakan orang lain, huh…)
Walaupun
dirinya pernah mengatakan banyak hal tentang
Yushou seperti, “Karena
ia punya dendam kepada Nonoa sebagai musuh, pendapatnya
tidak objektif,” tapi Masachika menyadari bahwa dirinya melakukan hal yang serupa, dan
merasa menyesal.
Namun,
tetap saja... ada hal yang sangat sulit untuk diterima.
“……Yah,
ini hanya untuk berjaga-jaga saja.”
“Kamu
terlalu protektif, ya.”
Masachika
yang tetap bersikeras untuk ikut mendampingi membuat Alisa menghela napas
dengan campuran rasa pasrah
dan keheranan. Kemudian, dengan sedikit kesal, dia memanyunkan bibirnya dan mulai memainkan
rambutnya. Melihat pemandangan itu, Masachika menundukkan kepala sejenak
sebelum mengalihkan pandangannya dan berkata.
“……Aku
khawatir. Bukan tentang seberapa baik kamu bisa mengatasi situasi ini, tapi
tentang dirimu sendiri.”
Setelah mendengar
sedikit ungkapan hati Masachika, Alisa
terkejut dan menghentikan tangannya yang
memainkan rambutnya, dia lalu
menatap Masachika yang menunduk sambil menggerakkan mulutnya.
“Kamu memang
terlalu protektif, ya~.”
Dia
mengulangi kata-kata yang sama dengan nuansa yang berbeda, lalu kembali
memainkan rambutnya. Sambil menggerakkan pandangannya dengan gelisah, dia
berbisik pelan.
【Aku tidak membencinya, sih.】
(Ugh.)
Masachika
merasa sedikit tercekik karena rasanya sudah lama
sekali sejak dirinya mendapatkan serangan langsung dari
pernyataan yang terus terang. Sambil berpura-pura tidak menyadari Alisa yang
malu-malu mencuri pandang ke arahnya, Masachika
berusaha tampil tenang dan berkata.
“Kalau
begitu, apa itu berarti kita sudah sepakat?
Aku bisa menghubungi Kiryuuin
melalui koneksi dari masa lalu di OSIS, jadi aku yang akan mengatur
pertemuannya. Tempat dan waktunya…”
“……Bagaimana
kalau di ruang OSIS saat istirahat makan siang?”
“Hmm…
ya, itu bisa jadi pilihan.”
◇◇◇◇
“Maaf, maaf, tadi ada
guru yang memanggilku sebentar.”
““......””
Saat makan istirahat siang, Yushou muncul di ruang OSIS sekitar
lima menit terlambat dari waktu yang dijanjikan. Masachika menatapnya dengan
tatapan sinis, sementara Alisa memberikan tatapan bingung yang sebagian besar
diwarnai dengan rasa kritik.
Meskipun
Yushou meminta maaf dengan alasan,
wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan yang sesuai dengan
kata-katanya. Melihat sikapnya
seperti itu, Masachika mau tak mau jadi berpikir, “Apa
ia sengaja terlambat sebagai bentuk sindiran karena panggilan mendadak ini?”
“……Kebotakanmu jadi semakin parah, ya?”
Sebagai
pengganti kritik atas keterlambatannya,
Masachika melontarkan pertanyaan menyindir,
dan Yushou terlihat
seperti menelan sesuatu yang pahit.
“……Karena itu kebijakan dari Sumire-neesan. Setidaknya untuk tahun ini, aku
harus mempertahankan kepala botak.”
“Ah,
jadi kamu dicukur secara rutin. Pantas saja
posisi pitakmu itu sedikit berubah-ubah.”
“Aku
tidak tahu bagaimana kamu
mencukurnya seperti apa,” imbuh Masachika sambil mengangkat
bahu. Setelah memberikan tatapan yang seolah ingin berbicara, Yushou tampak mengumpulkan kembali
keberaniannya dan bertanya.
“Jadi?
Kalian ada keperluan apa denganku?”
Saat
Yushou meliriknya dengan agak kesal,
Masachika mengarahkan pandangannya ke arah Alisa.
“Aku
hanya bertugas memanggil. Orang yang
akan berbicara adalah rekanku.”
Setelah
mengatakan itu, Masachika menyilangkan tangan dan bersandar pada dinding,
menunjukkan sikap menunggu. Melihatnya bertingkah
begitu, Yushou
mengangkat alisnya sedikit, dan Alisa melangkah maju.
“Salam
kenal… atau mungkin, ini pertama kalinya kita bertemu? Kiryuuin-san."
“Ah,
benar… Apa aku bisa memanggilmu Kujou-san?”
“Iya, silakan saja.”
Yusho menunjukkan
sikap yang agak menyebalkan dan
sedikit angkuh, tapi Alisa terus melanjutkan dengan ekspresi
serius.
“Aku
ingin tahu secara langsung tentang apa yang direncanakan Miyamae-san di majelis
siswa antara klub piano dan klub musik ringan yang akan datang."
Yusho
sedikit memiringkan kepalanya dan melirik Masachika sejenak,
lalu dengan sikap yang dibuat-buat, dia berkata.
“Apa
kamu mendengarnya langsung dari
Kuze? Meskipun Kuze sendiri tidak mau mendengarkan…”
Masachika
memanyunkan bibirnya saat Yushou menyindirnya secara menusuk. Alisa
juga mengernyitkan dahi… dan kemudian, dia berkata dengan tegas.
“Jika
kamu berbicara dengan nada seperti itu, wajar jika orang tidak mau
mendengarkan, bukan?”
Mata
Yushou terbelalak kaget mendengar
kata-kata Alisa yang
blak-blakan dan terus terang, lalu ia mengacak-acak rambutnya dengan tangan
kanannya seolah kelelahan... yang sayangnya rambutnya
tak cukup panjang untuk dijambak, dan bahunya merosot sedih.
“Memang
benar, sikapku sedikit kurang sopan. Aku minta maaf.”
Ketika
Yushou dengan tulus menundukkan kepalanya untuk meminta maaf, kali
ini giliran Masachika yang terkejut dan membuka matanya
lebar-lebar. Namun, Yushou tidak
mengatakan apa-apa lagi tentang hal itu; setelah mengakhiri sikap berlebihan,
Yushou menatap Alisa langsung dan
berkata.
“Jadi, kamu ingin menanyakan tentang
Miyamae, ya? Ini sebenarnya sederhana. Ada
seseorang yang jelas-jelas terlibat dalam kasus ini dengan
niat jahat.”
“……Secara
spesifiknya?”
Menanggapi
pertanyaan Alisa, Yushou
mengangkat jari telunjuknya dan melanjutkan.
“Pertama-tama, wakil ketua kami berusaha
mengadakan majelis siswa yang sembrono. Mengingat
sifatnya, jika dia ingin mengadakan majelis siswa, dia akan berusaha meyakinkan
klub musik ringan. Kecuali jika ada yang membujuknya."
“Begitu…
ada lagi?”
Didorong
untuk melanjutkan, Yushou
mengangkat jari telunjuknya diikuti dengan jari tengahnya.
“Kedua,
entah mengapa, saat ini ada rumor buruk yang semakin panas tentang klub piano. Mana mungkin rumor yang sudah mulai
mereda tiba-tiba muncul kembali tanpa ada yang memprovokasinya.”
Setelah
mengatakan itu, Yushou membuka
kedua tangannya dan mengangkat bahu.
“Dan,
penyebab ang memulai semua ini tak lain adalah klub musik ringan tempat Miyamae
berada… dan yah, sisanya
itu hanya firasatku.”
“Firasat…”
Alisa
mengulangi ucapannya dengan pelan dan kemudian berpikir dengan ekspresi
serius sejenak…
“…Jadi,
kamu yakin bahwa berdasarkan pengalamanmu melawan Nonoa-san
di masa SMP, majelis siswa kali ini merupakan
rencana Nonoa-san?”
“Ya,
bisa dibilang begitu. Dari kelihatannya,
mungkin kamu mendapat informasi berharga dari
seseorang selain aku?”
“……Kurang
lebih seperti itu.”
Alisa menghindari
pertanyaan santai Yushou dan masih
berpikir dengan ekspresi serius.
Kemudian, Yusho mengangkat bahunya dan berkata.
“Jika
kamu merasa penasaran mengapa Miyamae melakukan
hal seperti itu, itu hanya akan membuang-buang waktu. Dia adalah orang yang
bertindak ketika perlu. Menganalisis alasannya dengan ukuran atau perasaan
orang biasa hanyalah tindakan yang
sia-sia.”
Usai mendengar
kata-kata Yushou, Alisa
memperlihatkan keraguan di matanya dan mengalihkan pandangan ke arah Masachika. Dia melihat ada warna
di matanya yang seolah meminta penyangkalan… tetapi Masachika, dengan sedikit
menundukkan pandangan, menunjukkan persetujuan pasif terhadap Yusho.
“…!”
Setelah mendapatkan
pesan yang tepat dari Masachika, Alisa menggigit
bibirnya dengan tegas dan menundukkan wajahnya.
“Alya…”
Melihat ekspresi Alisa yang tampak menderita,
Masachika menjauh dari dinding dan mendekati rekannya. Namun, saat Masachika
ragu-ragu ingin meletakkan tangan di bahu Alisa, Alisa tiba-tiba mengangkat
wajahnya dan menatap Yushou.
“Jadi,
jika kamu sudah menduga
bahwa Nonoa-san
sedang merencanakan sesuatu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Tentu
saja, aku akan menghentikannya. Kelangsungan klub piano dipertaruhkan, dan aku
juga tidak suka jika wanita itu mendapatkan apa yang dia inginkan.”
“Secara
spesifik, bagaimana kamu berencana untuk menghentikannya? Bukannya kamu juga tidak sepenuhnya
memahami rencana Nonoa-san?”
“Walaupun
aku sangat membencinya, tapi aku juga tidak
berkewajiban untuk mengungkapkan semuanya dengan jujur.”
Yushou berpaling dan menolak untuk
menjawab, tetapi Alisa tampaknya sudah memperkirakan ini, jadi dia segera
beralih ke saran pertanyaan.
“Kalau
begitu, mari kita buat kesepakatan.
Jika kamu mau membagikan rencanamu, aku juga akan memberikan informasi yang
kumiliki. Selain itu, jika kamu berencana melakukan sesuatu selama majelis
siswa, aku akan membantu sebagai anggota OSIS yang menyelenggarakan acara.”
Mendengar
ucapan Alisa yang lancar, Yusho sedikit terkejut dan menatap wajah Alisa
sebelum tersenyum sinis.
“Itu
berarti, jika aku menolak
tawaranmu, ada kemungkinan kalau aku akan dilarang memasuki majelis siswa, ‘kan?"
“Eh?
Tidak, bukan begitu maksudku—”
“Hmph…
Kalau kau memang berencana jadi ketua OSIS, sebaiknya kau pandai-pandai saja
menggunakan ancaman seperti itu.”
Melihat ekspresi Alisa yang tampak kebingungan dan tidak tahu harus menanggapi bagaimana,
Yusho mengubah senyumnya dan mengangkat bahunya, lalu memperhatikan Masachika
yang tampak santai.
“Baiklah.
Kita akan membentuk aliansi khusus untuk
majelis siswa kali ini saja.”
◇◇◇◇
“Kalau
begitu, jika keadaannya semakin
mendesak, Kiryuuin-san
akan membujuk mantan anggota klub piano untuk membatalkan majelis siswa itu, ‘kan?”
“Iya,
tetapi mereka tidak akan tergerak tanpa alasan yang kuat… Semuanya tergantung pada wakil ketua
kami.”
“Setidaknya untuk saat ini, mungkin sebaiknya aku perlu memberitahu ketua dan wakil
ketua dulu secara
internal. Terutama Sarashina-senpai,
dia mungkin akan mencegah siapapun yang berusaha
menaiki panggung jika tidak ada persiapan sebelumnya.”
“Ahaha,
itu mudah dibayangkan…”
Pada sepulang sekolah hari itu. Yushou menyarankan bahwa mereka tidak tahu ada di mana saja mata-mata Nonoa berada, mereka berlima—Masachika, Alisa, Yuki,
Ayano, dan Yusho—berkumpul di tempat karaokean
yang terletak dua stasiun dari sekolah, sambil berbagi informasi dan mengadakan
rapat strategi.
Meskipun
mereka berkumpul dengan terburu-buru karena waktu menuju majelis siswa semakin
mendekat, begitu mereka berhadapan, pembicaraan pun berlangsung cepat.
“Sebaiknya
kita menunggu sampai detik-detik
terakhir sebelum melakukan intervensi, agar bisa mengamati strategi apa saja
yang perlu dijalankan.”
“Yah, aku juga ingin mengungkapkan
kejahatannya Miyamae,
jadi aku setuju. Tapi, tergantung situasinya, aku mungkin akan bergerak tanpa
menunggu isyarat.”
“Itu
tidak masalah.”
“Kalau
begitu, aku berpura-pura pulang dulu,
dan Masachika-kun akan
pergi ke klub musik tiup, setelah itu
kita akan berkumpul lagi.”
“Ah…
mengerti.”
Pertemuan
itu sendiri hanya
berlangsung sedikit lebih dari tiga puluh menit. Ketika Masachika dan yang
lainnya menghela napas ringan dan meneguk jus, Yusho tiba-tiba memasukkan lagu.
“…Hah, kamu berniat menyanyikan lagu?”
“Bukannya tidak sopan kalau kita datang ke karaoke dan tidak
menyanyikan satu lagu pun?”
Tanpa
memperhatikan tatapan sinis Masachika, Yushou
menyesuaikan volume dan mulai bernyanyi.
“Wow…
So jealousyyyy~♪”
(Apalagi ia menyanyikan lagu
barat… cukup jago pula.)
Masachika
menghela napas pelan usai melihat
si Narsisis itu asyik dengan dirinya
sendiri dan setelah memastikan bahwa
perhatian Yushou tertuju
pada layar, ia kemudian bertanya
kepada Ayano.
“Jadi…
Ayano, kamu baik-baik saja, kan?”
Gadis
yang hari ini juga menghilang dan menjadi tak terlihat itu sedikit terkejut
mendengar pertanyaan Masachika dan menoleh.
“…Saya tidak ada masalah kesehatan, kok.”
“Bukan
itu maksudku… Aku hanya khawatir tentang mentalmu setelah melakukan hal yang
tidak biasa seperti jadi mata-mata.”
Segera
setelah mengucapkannya, Masachika menyesali pertanyaannya yang bodoh.
Mana
mungkin dia baik-baik saja. Meskipun mereka tidak begitu dekat, tidak mungkin
dia tidak merasa sakit hati setelah menipu orang lain dan mencuri informasi.
Namun,
“Tidak
ada masalah. Saya justru
bersemangat untuk pekerjaan yang hanya bisa dilakukan saya.”
“……”
Dari
jawaban Ayano yang lancar dan tanpa ekspresi, Masachika tidak bisa mengetahui
perasaannya yang sebenarnya. Dirinya
bertukar pandang dengan Yuki, dan mengerti bahwa adik perempuannya ingin menghindari pertanyaan
lebih lanjut, jadi dirinya
memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh.
(Baiklah,
aku akan memastikan untuk berterima
kasih padanya setelah semuanya selesai.)
(Ya,
benar.)
Setelah
berkomunikasi melalui tatapan,
Yuki mengambil remote.
“Kalau
begitu, mumpung ada di sini, mari
kita bernyanyi sedikit. Ngomong-ngomong,
Kiryuin-san, nyanyianmu cukup bagus
ya…”
“Meski
gaya bernyanyi yang sangat khas dan terkesan menikmati suaranya sendiri sih.”
“Eh,
jangan bilang kalau alur pembicaraan ini juga
melibatkanku buat menyanyi juga?”
“Tentu
sajalah, mana mungkin acara karaokeannya bisa
dimulai tanpa diva kita menyanyi.”
“Siapa
sih yang kamu panggil diva… mou.”
“Sepertinya
perutku juga mulai lapar, jadi bagaimana kalau kita sekalian makan malam di sini?”
“Ah,
itu ide yang bagus. Mari kita lakukan ity.”
Setelah
itu, kelima orang tersebut menghabiskan waktu sekitar satu jam menikmati
karaoke sambil makan malam sebelum akhirnya membubarkan
diri.
◇◇◇◇
“Kalau
begitu, aku pulang naik taksi.”
“Baiklah,
sampai jumpa besok.”
“Terima
kasih atas hari ini. Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
“Sampai
jumpa besok.”
Yushou menuju jalan utama, sementara
Yuki dan Ayano naik ke mobil keluarga Suou. Masachika kemudian memanggil Alisa.
“Kalau
begitu, gimana kalau kita
juga pulang?”
“Ya.”
Ketika
mereka berdua mulai berjalan beriringan menuju stasiun, dan
tiba-tiba Alisa tersenyum, membuat Masachika terkejut.
“Alya? Ada apa?”
“Ah,
tidak, bukan apa-apa.”
Mungkin
karena melakukannya setengah tidak sadar, dia
sedikit merasa malu dan menggelengkan kepalanya.
Setelah berpikir sejenak, Alisa melanjutkan.
“Sebenarnya,
aku merasa cemas mendengar bahwa Nonoa-san berusaha menjebakku… tapi
sekarang bisa bekerja sama dengan Yuki dan Ayano, aku merasa lebih tenang.”
Mungkin dia berhasil mengatur pikirannya
saat berbicara, karena Alisa
melanjutkan dengan senyuman lembut.
“Aku
memang ingin menjadi ketua OSIS dan tidak ingin kalah dari Yuki, tapi… aku juga
tidak ingin bertarung jika bisa menghindarinya.”
“……Hmm.”
Meski
sementara, Alisa merasa senang bisa berjuang bersama dengan
rival yang sekaligus temannya. Melihat ekspresi bahagianya itu, Masachika merasa tenang dan
ingin mengangguk setuju… namun, ada hal lain yang ingin dia sampaikan.
“……Aku tahu kalau perkataanku ini tidak enak didengar,
tapi sebaiknya kamu tidak terlalu percaya diri, oke?”
“Eh?
Ke-Kenapa?”
Setelah mendapatkan
nasihat yang tidak terduga, Alisa menatap Masachika dengan bingung. Sambil mengalihkan pandangannya,
Masachika perlahan berkata.
“Kita memang
sudah memutuskan untuk bekerja sama menghadapi konspirasi
yang tampaknya direncanakan Nonoa… tapi kita tidak pernah menjadi
teman. Sebenarnya, dalam hal ini, kita adalah musuh. Yuki juga paham tentang
hal itu.”
“Apa
maksudmu?”
“Itu—”
Dan waktu
kembali pada hari pelaksanaan majelis siswa.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
