Roshidere Jilid 11 Prolog Bahasa Indonesia

 

Prolog Aliansi Bersama

 

……Kamu bilang apaan tadi?

Pada malam hari setelah pembicaraan di rapat OSIS tentang usulan dari klub piano untuk mengadakan majelis siswa, Masachika yang sedang bersantai di kamarnya merasa kebingungan dengan isi telepon yang tiba-tiba masuk dari Yuki.

“Sudah kubilang, pada majelis siswa antara klub piano dan klub musik ringan yang diagendakan nanti, sepertinya ada semacam rencana jahat yang mengincar Alya-san, jadi aku ingin memberikan beberapa informasi.

Masachika mengerti apa yang dikatakan adiknya. Namun, mengapa Yuki memiliki informasi tersebut dan sengaja memberitahukan hal itu padanya, yang merupakan saingannya?

……Mengapa kamu memberitahuku?

Setelah sedikit terdiam, Yuki menjawab pertanyaan Masachika dengan jujur.

……Sejujurnya, aku mungkin tidak bisa mengatasinya sendirian.

Pernyataan Yuki yang tidak biasa lemah ini semakin menambah rasa terkejut dan kebingungan dalam diri Masachika. Kemudian, Yuki melanjutkan dengan sedikit menaikkan nada suaranya.

Namun, ada syaratnya. Sebagai imbalan informasi, aku ingin kamu berjanji untuk tidak mengganggu Si penyedia informasi.

Apa maksudnya?

Sederhananya, informasi ini berasal dari Ayano, dan aku ingin kamu tidak mengganggu aktivitas mata-mata Ayano.

Ayano? Dia yang……

Dengan informasi yang diterima, Masachika teringat bahwa akhir-akhir ini gelagat Ayano memang terlihat aneh.

(Ah, mungkin ini yang dimaksud……?)

Hal ini merupakan sesuatu yang sudah lama mengganggu pikirannya, perilaku Ayano yang kelihatannya menyembunyikan sesuatu. Setelah menemukan jawaban yang tampaknya benar, pilihan untuk tidak mendengarkan situasi tersebut tidak ada lagi bagi Masachika.

……Baiklah. Jadi, informasi macam apa yang kamu terima?

Setelah jeda sejenak, Yuki menjawab pertanyaan Masachika.

“Kayaknya Nonoa-san telah mengkhianati Alya-san.”

…………Hah?

 

◇◇◇◇

 

……Apa maksudmu?

Keesokan paginya di ruang OSIS, Alisa yang menerima peringatan dari Yuki tampak tidak mengerti sama sekali. Namun, perasaan itu juga dirasakan Masachika.

“Yah, aku juga…… tidak mengerti mengapa dia mencoba mengkhianati kita. Setidaknya, yang kudengar dari Yuki adalah Nonoa berusaha memanfaatkan Ayano untuk memisahkanku dan Yuki dari majelis siswa kali ini. Dia berusaha menjadikanmu dan Ayano sebagai petugas pemungutan suara. Di majelis siswa itu, mungkin ada suatu konspirasi yang mengancam posisimu.

Meskipun Masachika yang mengatakannya sendiri, tapi ia sendiri masih merasa bingung. Mungkin Yuki merasakan hal yang sama, itulah sebabnya dia membocorkan informasi kepada Masachika untuk meminta bantuan.

……Apa informasi itu dapat dipercaya?

Dengan ekspresi serius, Alisa bertanya setelah berpikir sejenak. Namun, Masachika juga tidak dapat memberikan jawaban yang pasti.

Aku tidak bisa membayangkan Ayano akan berbohong... Meski aku masih terkejut dia melakukan tindakan seperti mata-mata, tapi kurasa dia mungkin melakukannya demi Yuki. Mungkin dia berpikir bahwa sulit untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari Nonoa, jadi dia meminta pendapat Yuki. Tapi, aku tidak memiliki bukti bahwa Yuki berbicara jujur semuanya...

Dalam situasi di mana dirinya harus meragukan sekutu karena informasi dari saingan, Masachika merasa bingung tentang siapa, apa, dan seberapa jauh informasi yang harus dipercayai. Namun...

“Tapi....instingku mengatakan... kalau Yuki tidak berbohong.

Ketika Masachika dengan hati-hati mengungkapkan pendapatnya, kerutan di kening Alisa semakin dalam. Tidak mengherankan dia bereaksi demikian, karena mempercayai Yuki berarti dirinya meragukan Nonoa. Beban mental bagi Alisa untuk meragukan salah satu dari sedikit temannya sangatlah berat.

…Bagaimana kalau kita langsung menyelidiki Nonoa-san?

Tidak, itu tidak baik.

“Kenapa?

Aku sudah berjanji untuk tidak mengganggu Ayano yang sedang menyelidiki Nonoa. Jika kita menunjukkan gerak-gerik yang aneh sekarang, Nonoa mungkin akan mencurigai kebocoran informasi.

…Jadi, kita harus berpura-pura tidak tahu apa-apa, ya.

Itulah yang harus kita lakukan.

Namun, berpura-pura tidak tahu dan menghadapi hari majelis siswa tanpa persiapan merupakan tindakan yang bodoh. Apa saja konspirasi yang menunggu, atau memangnya beneran ada konspirasi yang berjalan tanpa sepengetahuan mereka? Ada banyak hal yang tidak diketahui, tetapi dengan menganggap ada konspirasi, mereka harus mengambil beberapa langkah pencegahan. Namun... dalam keadaan di mana hanya diketahui bahwa Alisa menjadi target, langkah apa yang bisa diambil Masachika...

(Bagaimana kalau aku membuat Alya juga tidak hadir di majelis siswa...? Tidak, mengabaikan majelis itu sepenuhnya juga berbahaya. Bahkan jika kita menghindarinya, yang ada itu hanya akan menunda masalah. Lebih baik kita menghadapinya sekarang daripada terjebak dalam serangan mendadak di lain waktu...)

Saat dirinya berpikir sampai sejauh itu, ada seseorang yang terkait Nonoa terlintas di dalam benaknya.

Ngomong-ngomong...

Apa?

“Ah, enggak.

Usai bergumam tanpa sadar dan merasa ditegur, Masachika segera menggelengkan kepalanya.

“Katakan saja padaku. Sekarang, aku ingin informasi sekecil apa pun.

Umm... hmm...

Namun, setelah ditatap langsung oleh rekannya, Masachika ragu sejenak sebelum akhirnya membuka mulut dengan enggan.

Sebenarnya... Kiryuuin juga berkata bahwa Nonoa sedang merencanakan sesuatu di majelis siswa...

Kiryuuin... maksudnya yang sepupunya Sumire-senpai?

“Iya, Kiryuuin yang itu. Kiryuuin Yushou.

Masachika mengerutkan keningnya saat teringat teman sekelas menyebalkan yang akhir-akhir ini mengganggunya. Namun, Alisa dengan cepat mengambil keputusan.

Kalau begitu, mari kita dengar pendapat dari Kiryuuin-san juga.

Eh… seriusan?

“Kenapa kamu kelihatan enggan begitu?

“Habisnya, orang itu jelas-jelas menganggap Nonoa sebagai musuh, jadi aku merasa ragu ia bisa memberikan pendapat yang objektif...

Melihat Masachika yang tampak tidak setuju, Alisa mengerutkan dahi dan sedikit menundukkan kepalanya.

Aku tidak terlalu mengenalnya… tapi, fakta bahwa dia pernah mencalonkan diri sebagai ketua OSIS semasa SMP menunjukkan bahwa ia pasti orang yang cerdas, kan?

Ah, ya… meskipun dirinya agak terlalu narsis dan cenderung memuluskan segala cara.

Seingatku, dirinya pernah kalah berdebat dengan pasangan Sayaka-san dan Nonoa-san?

“Iya, benar.

“Kalau begitu, artinyaKiryuuin-san tahu lebih banyak tentang Nonoa-san sebagai musuh dibandingkan siapa pun, bukan?

!

Kalau begitu, bukannya kita bisa lebih mempercayai insting dan kemampuan penilaiannya?

……

Masachika terdiam karena dirinya tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Mata Masachika terbelalak mendengar ucapan Alisa yang tak terduga.

(Memang benar… karena dirinya orang jahat yang terbiasa menyakiti orang lain, jadi ia juga peka terhadap niat jahat yang ditujukan padanya… tapi, hmm...)

Ada penolakan dan keengganan dalam diri Masachika untuk bergantung pada Yushou. Dirinya tidak bisa menepis perasaan bahwa ia tidak ingin Alisa yang mulia bertemu dengan orang jahat seperti itu.

(Lagipulla, terlibat dengannya sekarang hanya akan membawa risiko jika kita memikirkan pemilihan… jika dirinya memutuskan untuk bekerja sama dengan pihak kami, reputasinya yang buruk pasti akan menarik dukungan kami berkurang… hmm~.)

Saat Masachika sedang merenungi dalam-dalam dan menunjukkan sikap yang ragu-ragu, Alisa mengangkat bahunya.

Baiklah. Untuk saat ini, aku akan pergi mendengarkan pendapatnya sendirian.

“Hah?

Karena sepertinya ada banyak masalah di antara kalian berdua, jika kamu ada di sana, mungkin Kiryuuin-san tidak bisa berbicara dengan tenang.

“Yah, itu sih

Meski demikian, gagasan Alisa untuk bertemu Yushou secara empat mata merupakan hal yang paling sulit diterima Masachika. Selain itu, jika dipikirkan secara rasional tanpa emosi, pendapat Alisa bahwa kita harus mendengarkan cerita Yushou” juga benar… sehingga kesimpulan Masachika sudah ditentukan.

“~~~~~~~! Baiklah! Tapi, aku juga ikut bersamamu.

Eh? Sudah kubilang, jika kamu ada di sana, pihak sananya juga…

Aku menyerahkan urusan berbicara kepadamu. Aku hanya akan mendengarkan dari belakang.

Apa, kamu saking tidak percayanya jika aku yang mengurusnya sendiri?

Melihat ekspresi Alisa yang sedikit tidak puas, Masachika menggelengkan kepala.

Tidak, bukan berarti aku tidak percaya padamu… aku hanya khawatir tentang apa yang akan ia lakukan.

“Ia tidak akan melakukan apa-apa, kan…?

Tidak, tidak… memangnya kamu sudah lupa kalau orang itulah yang menyebabkan keributan besar di Festival Budaya! Lebih baik kita tetap waspada.

……

Masachika menegaskan hal ini seolah-olah itu hal yang sangat jelas, tapi Alisa tampak tidak puas dan mengerutkan dahinya.

Aku mengerti apa yang ingin kamu katakan, tapi...

Apa?

Jika kita mempertimbangkan kejadian selama festival budaya tempo hari... Kiryuuin adalah tipe yang beroperasi di belakang layar tanpa mengotori tangannya, kan? Jika dipikirkan seperti itu, kemungkinan dirinya akan melakukan sesuatu langsung padaku sangat kecil, bukan...? Tidak ada alasan baginya untuk melakukan hal semacam itu.

……

Usai mendengar penjelasan Alisa yang tenang, Masachika akhirnya menyadari bahwa penilaian yang ia anggap rasional sebenarnya adalah penilaian yang emosional.

(Ah, begitu ya… aku…)

Sederhananya, Masachika hanya tidak ingin membiarkan Alisa dan Yushou berduaan saja. Hanya dengan membayangkan mereka berdua sendirian di suatu ruangan, perasaan tidak nyaman menyebar di dalam dirinya.

(Tidak, itu hanya... karena aku khawatir. Dan juga, aku hanya tidak suka si cowok narsisme itu. Tapi, kurasa aku tidak berhak mengatakan orang lain, huh…)

Walaupun dirinya pernah mengatakan banyak hal tentang Yushou seperti, Karena ia punya dendam kepada Nonoa sebagai musuh, pendapatnya tidak objektif, tapi Masachika menyadari bahwa dirinya melakukan hal yang serupa, dan merasa menyesal.

Namun, tetap saja... ada hal yang sangat sulit untuk diterima.

……Yah, ini hanya untuk berjaga-jaga saja.

“Kamu terlalu protektif, ya.

Masachika yang tetap bersikeras untuk ikut mendampingi membuat Alisa menghela napas dengan campuran rasa pasrah dan keheranan. Kemudian, dengan sedikit kesal, dia memanyunkan bibirnya dan mulai memainkan rambutnya. Melihat pemandangan itu, Masachika menundukkan kepala sejenak sebelum mengalihkan pandangannya dan berkata.

……Aku khawatir. Bukan tentang seberapa baik kamu bisa mengatasi situasi ini, tapi tentang dirimu sendiri.

Setelah mendengar sedikit ungkapan hati Masachika, Alisa terkejut dan menghentikan tangannya yang memainkan rambutnya, dia lalu menatap Masachika yang menunduk sambil menggerakkan mulutnya.

“Kamu memang terlalu protektif, ya~.

Dia mengulangi kata-kata yang sama dengan nuansa yang berbeda, lalu kembali memainkan rambutnya. Sambil menggerakkan pandangannya dengan gelisah, dia berbisik pelan.

Aku tidak membencinya, sih.

(Ugh.)

Masachika merasa sedikit tercekik karena rasanya sudah lama sekali sejak dirinya mendapatkan serangan langsung dari pernyataan yang terus terang. Sambil berpura-pura tidak menyadari Alisa yang malu-malu mencuri pandang ke arahnya, Masachika berusaha tampil tenang dan berkata.

Kalau begitu, apa itu berarti kita sudah sepakat? Aku bisa menghubungi Kiryuuin melalui koneksi dari masa lalu di OSIS, jadi aku yang akan mengatur pertemuannya. Tempat dan waktunya

……Bagaimana kalau di ruang OSIS saat istirahat makan siang?

Hmm… ya, itu bisa jadi pilihan.

 

◇◇◇◇

 

Maaf, maaf, tadi ada guru yang memanggilku sebentar.

““......””

Saat makan istirahat siang, Yushou muncul di ruang OSIS sekitar lima menit terlambat dari waktu yang dijanjikan. Masachika menatapnya dengan tatapan sinis, sementara Alisa memberikan tatapan bingung yang sebagian besar diwarnai dengan rasa kritik.

Meskipun Yushou meminta maaf dengan alasan, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan yang sesuai dengan kata-katanya. Melihat sikapnya seperti itu, Masachika mau tak mau jadi berpikir,Apa ia sengaja terlambat sebagai bentuk sindiran karena panggilan mendadak ini?

……Kebotakanmu jadi semakin parah, ya?

Sebagai pengganti kritik atas keterlambatannya, Masachika melontarkan pertanyaan menyindir, dan Yushou terlihat seperti menelan sesuatu yang pahit.

……Karena itu kebijakan dari Sumire-neesan. Setidaknya untuk tahun ini, aku harus mempertahankan kepala botak.

Ah, jadi kamu dicukur secara rutin. Pantas saja posisi pitakmu itu sedikit berubah-ubah.

Aku tidak tahu bagaimana kamu mencukurnya seperti apa, imbuh Masachika sambil mengangkat bahu. Setelah memberikan tatapan yang seolah ingin berbicara, Yushou tampak mengumpulkan kembali keberaniannya dan bertanya.

Jadi? Kalian ada keperluan apa denganku?

Saat Yushou meliriknya dengan agak kesal, Masachika mengarahkan pandangannya ke arah Alisa.

Aku hanya bertugas memanggil. Orang yang akan berbicara adalah rekanku.

Setelah mengatakan itu, Masachika menyilangkan tangan dan bersandar pada dinding, menunjukkan sikap menunggu. Melihatnya bertingkah begitu, Yushou mengangkat alisnya sedikit, dan Alisa melangkah maju.

Salam kenal… atau mungkin, ini pertama kalinya kita bertemu? Kiryuuin-san."

Ah, benar… Apa aku bisa memanggilmu Kujou-san?

“Iya, silakan saja.

Yusho menunjukkan sikap yang agak menyebalkan dan sedikit angkuh, tapi Alisa terus melanjutkan dengan ekspresi serius.

Aku ingin tahu secara langsung tentang apa yang direncanakan Miyamae-san di majelis siswa antara klub piano dan klub musik ringan yang akan datang."

Yusho sedikit memiringkan kepalanya dan melirik Masachika sejenak, lalu dengan sikap yang dibuat-buat, dia berkata.

Apa kamu mendengarnya langsung dari Kuze? Meskipun Kuze sendiri tidak mau mendengarkan…

Masachika memanyunkan bibirnya saat Yushou menyindirnya secara menusuk. Alisa juga mengernyitkan dahi… dan kemudian, dia berkata dengan tegas.

Jika kamu berbicara dengan nada seperti itu, wajar jika orang tidak mau mendengarkan, bukan?

Mata Yushou terbelalak kaget mendengar kata-kata Alisa yang blak-blakan dan terus terang, lalu ia mengacak-acak rambutnya dengan tangan kanannya seolah kelelahan... yang sayangnya rambutnya tak cukup panjang untuk dijambak, dan bahunya merosot sedih.

Memang benar, sikapku sedikit kurang sopan. Aku minta maaf.

Ketika Yushou dengan tulus menundukkan kepalanya untuk meminta maaf, kali ini giliran Masachika yang terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. Namun, Yushou tidak mengatakan apa-apa lagi tentang hal itu; setelah mengakhiri sikap berlebihan, Yushou menatap Alisa langsung dan berkata.

Jadi, kamu ingin menanyakan tentang Miyamae, ya? Ini sebenarnya sederhana. Ada seseorang yang jelas-jelas terlibat dalam kasus ini dengan niat jahat.

……Secara spesifiknya?

Menanggapi pertanyaan Alisa, Yushou mengangkat jari telunjuknya dan melanjutkan.

Pertama-tama, wakil ketua kami berusaha mengadakan majelis siswa yang sembrono. Mengingat sifatnya, jika dia ingin mengadakan majelis siswa, dia akan berusaha meyakinkan klub musik ringan. Kecuali jika ada yang membujuknya."

Begitu… ada lagi?

Didorong untuk melanjutkan, Yushou mengangkat jari telunjuknya diikuti dengan jari tengahnya.

Kedua, entah mengapa, saat ini ada rumor buruk yang semakin panas tentang klub piano. Mana mungkin rumor yang sudah mulai mereda tiba-tiba muncul kembali tanpa ada yang memprovokasinya.

Setelah mengatakan itu, Yushou membuka kedua tangannya dan mengangkat bahu.

Dan, penyebab ang memulai semua ini tak lain adalah klub musik ringan tempat Miyamae berada… dan yah, sisanya itu hanya firasatku.

Firasat…

Alisa mengulangi ucapannya dengan pelan dan kemudian berpikir dengan ekspresi serius sejenak…

…Jadi, kamu yakin bahwa berdasarkan pengalamanmu melawan Nonoa-san di masa SMP, majelis siswa kali ini merupakan rencana Nonoa-san?”

Ya, bisa dibilang begitu. Dari kelihatannya, mungkin kamu mendapat informasi berharga dari seseorang selain aku?

……Kurang lebih seperti itu.

Alisa menghindari pertanyaan santai Yushou dan masih berpikir dengan ekspresi serius. Kemudian, Yusho mengangkat bahunya dan berkata.

Jika kamu merasa penasaran mengapa Miyamae melakukan hal seperti itu, itu hanya akan membuang-buang waktu. Dia adalah orang yang bertindak ketika perlu. Menganalisis alasannya dengan ukuran atau perasaan orang biasa hanyalah tindakan yang sia-sia.

Usai mendengar kata-kata Yushou, Alisa memperlihatkan keraguan di matanya dan mengalihkan pandangan ke arah Masachika. Dia melihat ada warna di matanya yang seolah meminta penyangkalan… tetapi Masachika, dengan sedikit menundukkan pandangan, menunjukkan persetujuan pasif terhadap Yusho.

…!

Setelah mendapatkan pesan yang tepat dari Masachika, Alisa menggigit bibirnya dengan tegas dan menundukkan wajahnya.

Alya…

Melihat ekspresi Alisa yang tampak menderita, Masachika menjauh dari dinding dan mendekati rekannya. Namun, saat Masachika ragu-ragu ingin meletakkan tangan di bahu Alisa, Alisa tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap Yushou.

Jadi, jika kamu sudah menduga bahwa Nonoa-san sedang merencanakan sesuatu, apa yang akan kamu lakukan?

Tentu saja, aku akan menghentikannya. Kelangsungan klub piano dipertaruhkan, dan aku juga tidak suka jika wanita itu mendapatkan apa yang dia inginkan.

Secara spesifik, bagaimana kamu berencana untuk menghentikannya? Bukannya kamu juga tidak sepenuhnya memahami rencana Nonoa-san?

Walaupun aku sangat membencinya, tapi aku juga tidak berkewajiban untuk mengungkapkan semuanya dengan jujur.

Yushou berpaling dan menolak untuk menjawab, tetapi Alisa tampaknya sudah memperkirakan ini, jadi dia segera beralih ke saran pertanyaan.

Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan. Jika kamu mau membagikan rencanamu, aku juga akan memberikan informasi yang kumiliki. Selain itu, jika kamu berencana melakukan sesuatu selama majelis siswa, aku akan membantu sebagai anggota OSIS yang menyelenggarakan acara.

Mendengar ucapan Alisa yang lancar, Yusho sedikit terkejut dan menatap wajah Alisa sebelum tersenyum sinis.

Itu berarti, jika aku menolak tawaranmu, ada kemungkinan kalau aku akan dilarang memasuki majelis siswa, kan?"

Eh? Tidak, bukan begitu maksudku

Hmph… Kalau kau memang berencana jadi ketua OSIS, sebaiknya kau pandai-pandai saja menggunakan ancaman seperti itu.

Melihat ekspresi Alisa yang tampak kebingungan dan tidak tahu harus menanggapi bagaimana, Yusho mengubah senyumnya dan mengangkat bahunya, lalu memperhatikan Masachika yang tampak santai.

Baiklah. Kita akan membentuk aliansi khusus untuk majelis siswa kali ini saja.

 

◇◇◇◇

 

“Kalau begitu, jika keadaannya semakin mendesak, Kiryuuin-san akan membujuk mantan anggota klub piano untuk membatalkan majelis siswa itu, kan?

“Iya, tetapi mereka tidak akan tergerak tanpa alasan yang kuat… Semuanya tergantung pada wakil ketua kami.

Setidaknya untuk saat ini, mungkin sebaiknya aku perlu memberitahu ketua dan wakil ketua dulu secara internal. Terutama Sarashina-senpai, dia mungkin akan mencegah siapapun yang berusaha menaiki panggung jika tidak ada persiapan sebelumnya.

Ahaha, itu mudah dibayangkan…

Pada sepulang sekolah hari itu. Yushou menyarankan bahwa mereka tidak tahu ada di mana saja mata-mata Nonoa berada, mereka berlima—Masachika, Alisa, Yuki, Ayano, dan Yusho—berkumpul di tempat karaokean yang terletak dua stasiun dari sekolah, sambil berbagi informasi dan mengadakan rapat strategi.

Meskipun mereka berkumpul dengan terburu-buru karena waktu menuju majelis siswa semakin mendekat, begitu mereka berhadapan, pembicaraan pun berlangsung cepat.

Sebaiknya kita menunggu sampai detik-detik terakhir sebelum melakukan intervensi, agar bisa mengamati strategi apa saja yang perlu dijalankan.

Yah, aku juga ingin mengungkapkan kejahatannya Miyamae, jadi aku setuju. Tapi, tergantung situasinya, aku mungkin akan bergerak tanpa menunggu isyarat.

Itu tidak masalah.

Kalau begitu, aku berpura-pura pulang dulu, dan Masachika-kun akan pergi ke klub musik tiup, setelah itu kita akan berkumpul lagi.

Ah… mengerti.

Pertemuan itu sendiri hanya berlangsung sedikit lebih dari tiga puluh menit. Ketika Masachika dan yang lainnya menghela napas ringan dan meneguk jus, Yusho tiba-tiba memasukkan lagu.

Hah, kamu berniat menyanyikan lagu?

Bukannya tidak sopan kalau kita datang ke karaoke dan tidak menyanyikan satu lagu pun?

Tanpa memperhatikan tatapan sinis Masachika, Yushou menyesuaikan volume dan mulai bernyanyi.

Wow… So jealousyyyy~

(Apalagi ia menyanyikan lagu barat… cukup jago pula.)

Masachika menghela napas pelan usai melihat si Narsisis itu asyik dengan dirinya sendiri dan setelah memastikan bahwa perhatian Yushou tertuju pada layar, ia kemudian bertanya kepada Ayano.

Jadi… Ayano, kamu baik-baik saja, kan?

Gadis yang hari ini juga menghilang dan menjadi tak terlihat itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Masachika dan menoleh.

Saya tidak ada masalah kesehatan, kok.

Bukan itu maksudku… Aku hanya khawatir tentang mentalmu setelah melakukan hal yang tidak biasa seperti jadi mata-mata.

Segera setelah mengucapkannya, Masachika menyesali pertanyaannya yang bodoh.

Mana mungkin dia baik-baik saja. Meskipun mereka tidak begitu dekat, tidak mungkin dia tidak merasa sakit hati setelah menipu orang lain dan mencuri informasi. Namun,

Tidak ada masalah. Saya justru bersemangat untuk pekerjaan yang hanya bisa dilakukan saya.

……

Dari jawaban Ayano yang lancar dan tanpa ekspresi, Masachika tidak bisa mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Dirinya bertukar pandang dengan Yuki, dan mengerti bahwa adik perempuannya ingin menghindari pertanyaan lebih lanjut, jadi dirinya memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh.

(Baiklah, aku akan memastikan untuk berterima kasih padanya setelah semuanya selesai.)

(Ya, benar.)

Setelah berkomunikasi melalui tatapan, Yuki mengambil remote.

Kalau begitu, mumpung ada di sini, mari kita bernyanyi sedikit. Ngomong-ngomong, Kiryuin-san, nyanyianmu cukup bagus ya…

“Meski gaya bernyanyi yang sangat khas dan terkesan menikmati suaranya sendiri sih.

Eh, jangan bilang kalau alur pembicaraan ini juga melibatkanku buat menyanyi juga?

Tentu sajalah, mana mungkin acara karaokeannya bisa dimulai tanpa diva kita menyanyi.

Siapa sih yang kamu panggil diva… mou.

Sepertinya perutku juga mulai lapar, jadi bagaimana kalau kita sekalian makan malam di sini?

Ah, itu ide yang bagus. Mari kita lakukan ity.

Setelah itu, kelima orang tersebut menghabiskan waktu sekitar satu jam menikmati karaoke sambil makan malam sebelum akhirnya membubarkan diri.

 

◇◇◇◇

 

Kalau begitu, aku pulang naik taksi.

Baiklah, sampai jumpa besok.

Terima kasih atas hari ini. Hati-hati di jalan.

“Iya.

Sampai jumpa besok.

Yushou menuju jalan utama, sementara Yuki dan Ayano naik ke mobil keluarga Suou. Masachika kemudian memanggil Alisa.

Kalau begitu, gimana kalau kita juga pulang?

Ya.

Ketika mereka berdua mulai berjalan beriringan menuju stasiun, dan tiba-tiba Alisa tersenyum, membuat Masachika terkejut.

Alya? Ada apa?

Ah, tidak, bukan apa-apa.

Mungkin karena melakukannya setengah tidak sadar, dia sedikit merasa malu dan menggelengkan kepalanya. Setelah berpikir sejenak, Alisa melanjutkan.

Sebenarnya, aku merasa cemas mendengar bahwa Nonoa-san berusaha menjebakku… tapi sekarang bisa bekerja sama dengan Yuki dan Ayano, aku merasa lebih tenang.

Mungkin dia berhasil mengatur pikirannya saat berbicara, karena Alisa melanjutkan dengan senyuman lembut.

Aku memang ingin menjadi ketua OSIS dan tidak ingin kalah dari Yuki, tapi… aku juga tidak ingin bertarung jika bisa menghindarinya.

……Hmm.

Meski sementara, Alisa merasa senang bisa berjuang bersama dengan rival yang sekaligus temannya. Melihat ekspresi bahagianya itu, Masachika merasa tenang dan ingin mengangguk setuju… namun, ada hal lain yang ingin dia sampaikan.

……Aku tahu kalau perkataanku ini tidak enak didengar, tapi sebaiknya kamu tidak terlalu percaya diri, oke?

Eh? Ke-Kenapa?

Setelah mendapatkan nasihat yang tidak terduga, Alisa menatap Masachika dengan bingung. Sambil mengalihkan pandangannya, Masachika perlahan berkata.

“Kita memang sudah memutuskan untuk bekerja sama menghadapi konspirasi yang tampaknya direncanakan Nonoa… tapi kita tidak pernah menjadi teman. Sebenarnya, dalam hal ini, kita adalah musuh. Yuki juga paham tentang hal itu.

Apa maksudmu?

Itu—


Dan waktu kembali pada hari pelaksanaan majelis siswa.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama