Sachiusukei Bishoujo Chapter 09

Chapter 09 – Film dan Teman.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke bioskop, yang tampak lebih ramai dari biasanya. 
Mungkin itu karena film Men Over Flours sedang populer. 
Menurut jadwal yang ada, tinggal 10 menit lagi sebelum pemutaran film dimulai.
“Sepertinya kita datang tepat waktu.” 
“Oh, bagus. Aku benar-benar menantikannya. Ini pertama kalinya aku pergi ke bioskop.”
“Kau pasti akan kaget. Suasana di sini sangat berbeda dibandingkan dengan menonoton sendiri di rumah. Aku yakin kau akan menikmatinya. " 
“Aku tidak pernah tahu ...”
Melihat matanya yang berbinar-binar membuat Tooru merasa hangat dan senang.
Tooru jauh lebih suka senyum cerahnya daripada ekspresi suramnya.
Setelah pemeriksaan tiket dari karyawan bioskop, mereka lalu menuju ke dalam.
Kau bisa mengetahui seberapa populernya Men Over Flour hanya dengan melihat gerombolan orang di mesin penjual otomatis.
Mereka berdua juga terjepit karena keramaian. Menjadi begitu dekat dengan Satsuki dan mencium aroma wanginya membuat jantung Tooru berdetak kencang.
Untungnya, Tooru benar-benar menonjol karena tingginya, sehingga mereka mungkin takkan terlepas satu sama lain di tengah orang banyak. Tapi jika mereka beneran terlepas, rasanya mereka akan dipisahkan selamanya. Jadi, Tooru dengan lembut meletakkan tangannya di pundak Satsuki, yang mana hal itu membuat wajah Satsuki memerah.
“Umm ...” 
“Maaf. Bersabarlah sebentar, oke? Aku tidak ingin kita terpisah di tengah-tengah kerumunan orang ini.”
“ ... Baiklah.”
Satsuki terlihat lega setelah mendengarnya. Tooru takut dia akan membencinya karena itu, tapi Ia senang bukan itu masalahnya. Bahkan, sepertinya itu mungkin menenangkannya. 
Dan dengan posisi berdekapan begitu, mereka tiba di depan mesin penjual yang menjual minuman dan popcorn dalam berbagai ukuran.
“Apa ini?”
“Yah, kalau di bioskop biasanya menonton dengan popcorn dan cola, ‘kan? Karena kita baru saja makan, bagaimana kalau beli yang kecil saja?”
“Aku akan membiarkanmu memilih ... maaf.”
“Oh, iya, kau baru pertama kali ke sini ya. Ayo beli yang kecil saja. ”
Tooru memasukkan uang ke dalam mesin untuk membeli cola dan teh. 
Kemudian, mereka menunggu film dimulai sambil memegang camilan dan minuman di tangan.
“Aku sangat menantikan film ini.” 
“Sama bagiku. Dan film romantis juga. Meski sedikit memalukan karena beberapa alasan.” 
“Hahaha. Aku tahu apa yang kamu maksud. Tapi aku bisa menontonnya bersamamu, jadi aku yakin itu akan bagus. ”
Satsuki menatap Tooru lalu tersenyum dan berkata, "Aku juga," dengan suara yang sangat-samar, hampir tidak terdengar. 
Bel berbunyi, menandakan kalau sudah waktunya untuk masuk ruang bioskop.
“Sepertinya mau dimulai, ayo masuk?” 
“Ayo!”
Tiket yang didapatkan menempati posisi yang lumayan bagus — barisan tengah dan tepat di tengah layar. 
Setelah mereka duduk bersama, Tooru menaruh minumannya di cupholder-nya, memegang popcorn di pangkuannya. 
Melihat hal tersebut, Satsuki melakukan hal yang sama dan memakan popcornnya. 
Saat penonton lainnya memenuhi ruang bioskop, bel lainnya berbunyi menandakan kalau filmnya akan dimulai.
Ini film yang cukup klise. Dimana ceritanya mengenai seorang gadis cantik berpakaian sebagai cowok (Crossdress), masuk ke sekolah khusus cowok, dan jatuh cinta dengan teman sekelasnya. Dan walau secara teknis itu adalah reverse harem, si heroine bisa bersama seorang cowok setelah melewati beberapa lika-liku.
Tooru bisa menebak hal tersebut hanya dengan melihat poster nya.
Tapi, saat film mencapai klimaksnya, Tooru melirik Satsuki ...
Air mata. Sama seperti yang pernah Ia lihat sebelumnya. Satsuki memegang saputangan ke pipinya saat dia diam-diam menangis. 
Tooru menatap wajah Satsuki — sebuah adegan yang lebih memukau dari yang ada di layar lebar.
Bagaimana jika Ia membuatnya menangis? 
Tidak peduli apa, itu akan menyakitinya juga. Melukai seorang gadis yang sangat mengaguminya akan sangat memalukan.
Tooru berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuatnya menangis seperti ini. Dan kemudian, Ia melihat kembali ke layar.
Adegan terakhir dari film tersebut memperlihatkan dua insan yang saling berciuman.

vvvv

“Itu tadi film yang hebat.” 
“Ya, itu bagus.”
Satsuki masih terisak-isak tak terkendali, duduk di bangku dan Tooru duduk di sampingnya. 
Dia membasahi saputangannya dan mengelap pada matanya yang merah dan bengkak. Air matanya terus bergulir, tumpah ke roknya.
“Aku tak pernah tahu film percintaan bisa begitu indah.” 
“Kau sangat menyukainya?” 
“Yeah. Dua orang yang saling jatuh cinta dan bisa bersama — rasanya seperti fantasi, tapi masih memungkinkan. Ini seperti mimpi.”
Kaulah yang seperti mimpi , Tooru hampir mengucapkan itu. Tapi, bukan hanya itu akan menghina perasaannya, mengatakan kalimat itu juga sama saja dengan menembaknya.
Satsuki terus menenun kata-katanya.
“Terkadang, aku berharap kalau aku adalah heroine dalam dongeng seperti itu. Itu akan jadi ... bukan apa-apa. Maaf karena sudah mengatakan sesuatu yang aneh.” 
“Tidak,itu  tidak aneh. Sejak aku masih kecil, aku selalu ingin menjadi karakter dari manga.”
“Kamu juga?”
“Ya.”
Nada suara Tooru yang lembut dan menenangkan memberikan kepastian padanya.
“Syukurlah. Kupikir cuma aku akan terdengar seperti orang aneh . Kita ini rasanya seperti dua kacang polong saja.”
“Memang benar.”
Mereka tertawa bersama. Sepertinya Satsuki akhirnya berhenti menangis juga.
“Aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih.” 
“Hmm, lebih baik kita duduk sedikit lebih lama; matamu masih sangat merah. ”
Satsuki mengoleskan sapu tangan basah ke matanya lagi. Dia terlihat lebih santai sekarang, seolah-olah air dingin sangat menenangkan.
“Tooru ...”
“Hmm?” 
“Apa kamu juga bersikap baik pada teman sekelasmu?”
Sungguh pertanyaan yang mengejutkan.
Ia tidak berencana memperlakukan gadis-gadis di kelasnya dalam kategori baik atau jahat. Bukan berarti Ia juga bisa mendapatkan pacar yang baik dengan adanya Satsuki di sisinya.
Belum lagi, Tooru tidak mengerti motif di balik pertanyaan itu. Bagaimana seharusnya Ia menjawab? Apa jawaban yang Satsuki cari? Terus terang, pertanyaan itu saja udah membuat Tooru merasa sedikit canggung.
“Aku ... tidak tahu. Yah, aku tidak bersikap jahat pada mereka, tapi aku juga takkan bilang kalau aku bersikap baik ...”
“Begitukah? Aku membayangkan kalau kamu selalu sangat baik. Teman sekelasmu benar-benar beruntung ... ”
Kau terlalu berlebihan, pikir Tooru.
“Bagaimana dengan kelasmu? Apa kau sudah punya teman?”
Tooru merasa penasaran mengenai hal ini sebelumnya juga. Sudah seminggu sejak semester baru dimulai, jadi dia pasti sudah punya satu atau dua teman, ‘kan? begitu pikir Tooru pada saat ini. 
Satsuki memasang wajah sedih sebagai tanggapan dari pertanyaan Tooru. Semuanya sudah terlambat pada saat Tooru menyadari kalau Ia menginjak ranjau darat.
“Ayah dan kakakku sangat ketat tentang orang-orang yang aku temui. Anak-anak cowok di kelas datang berbicara kepadaku sesekali, tapi aku tidak terlalu tertarik.”
Ia benar-benar lupa tentang keberadaan Amane. 
Tapi, bila dilihat dari kepribadian Amane, Tooru tidak terlalu terkejut mendengar hal tersebut. Bahkan bisa dibilang kalau Amane secara tidak langsung menyerang adik perempuannya lagi. 
Adapun anak cowok yang berbicara dengannya, mereka pasti memiliki motif tersembunyi.
“... Hei, Satsuki?”
Satsuki mendongak, merasa tersipu karena Tooru tiba-tiba memanggil dengan nama depannya.
“Umm, ya?” 
“Satsuki, apa aku boleh jadi temanmu?” 
“Hah? Tapi ... “
“Jangan ragu untuk mengatakan tidak. Hanya saja ... tidak memiliki teman satu pun rasanya terlalu kesepian.”
Dia memegang saputangannya dengan sekuat tenaga.  Hanya itu saja yang bisa dilakukan Tooru untuknya. 
Satsuki sedikit tenang, lalu berbicara.
“… dengan senang hati.”
Air mata mengalir di pipinya lagi. Namun kali ini sedikit berbeda - itu adalah air mata sukacita. Buktinya ialah ada senyum manis di bibirnya. 
Tooru merasa Ia akhirnya bisa membalas sesuatu padanya, walau itu benar-benar sepele. Asalkan itu bisa membuatnya bahagia. 
Masih sangat sulit untuk mengalihkan pikirannya dari Amane. Tapi tak disangka ada seseorang di luar sana sedang menyakiti gadis semanis dan sepemberani ini ... 
Itu tidak bisa dimaafkan.
“Aku takkan bisa datang mengunjungi kelasmu  atau apa ... jika kau baik-baik saja dengan itu.” 
“Ya. Aku juga tidak ingin menjadi beban bagimu.”
Satsuki mengangguk. Tooru balas mengangguk. Ia merasa seolah-olah sudah punya ikatan dengan Satsuki, meski hanya sedikit.
“Gimana kalau kita pulang? Perutku sudah keroncongan hanya dengan memikirkan masakanmu saja.”
“Ya ampun, kamu benar-benar tidak ada harapan. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku malam ini. ”
Gadis itu bangkit dari tempat duduknya dengan wajah yang penuh rasa lega.


close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama