Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 62


u Sudut Pandang si Senpai u
Keesokan harinya setelah Kouhai-chan memberitahuku hal semacam itu.
Aku tidak tahu apa itu hanya aku yang terlalu ironis, tapi langit terlihat sangat indah dan cerah. Sambil mengayuh sepedaku, di bawah sinar matahari musim gugur yang lemah dan  hembusan angin dingin, aku memikirkan masalah hari ini. 
Senpai, apa yang akan kamu lakukan saat aku ditembak cowok lain?
Kata-kata Kouhai-chan kemarin terus terngiang-ngiang di benakku.
Apa aku untuknya?
Apa yang bisa aku lakukan untuknya?
Apa yang harus aku lakukan dengannya?
Dan juga, aku bahkan belum melakukan “permintaan” -nya.
Aku sudah memikirkan itu sejak kemarin, dan aku masih memikirkannya sampai sekarang.
Sambil berpikir begitu, aku tiba di tempat parkir sepeda dekat stasiun seperti biasa. Aku menyapa paman di pintu masuk, memarkir sepedaku dan menguncinya. Setiap kali aku menyelesaikan suatu tindakan, waktu untuk bertemu dengan Kouhai-chan semakin dekat, terlepas aku suka atau tidak.
Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Bahkan setelah aku turun dari sepeda, nafasku masih ngos-ngosan. Di sudut pikiranku, aku tak menyangka kalau aku juga bisa menjadi gugup begini.
Selamat pagi, Senpai.
Sesaat setelah aku melewati gerbang tiket, aku segera bertemu dengannya. Mungkin akan lebih tepat kalau dia yang menemukanku.
Ini tempat biasa, dengan penampilan biasa, tapi suasana di sekitarnya berbeda dari biasanya. Dia berdiri tegak, kedua matanya menatapku dengan tegas.
Ah, pagi juga
Apa yang ingin kamu lakukan dengan hubungan kita? Bagaimana kamu ingin mengubahnya? Apa kau ingin mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih, atau apa kita harus menghentikan persahabatan semacam ini?
Aku merasa dia mengatakan itu padaku, membuatku harus memutuskan.

vvvv

Kereta pun tiba.
Kami menempati posisi yang biasa, tapi tidak seperti sebagaimana biasanya dia bersandar di pintu kereta, dia berdiri tegap, menghadap ke arahku.
“Yup. Kalau begitu, tolong katakan padaku jawaban’ Senpai.”
Aku sudah memutuskan jawabanku.
Aku masih belum menemukannya.
Aku belum memutuskan apa jawabanku.
Ha?”
Kouhai-chan membuka dan menutup mulutnya, tidak mengerti apa yang aku katakan.
Uh huh. Aku sedang menunggu reaksi semacam ini.
Er, Senpai. Apa kamu memahami situasinya? Aku—”
“Uh huh, itu sebabnya aku akan memutuskan mulai sekarang. Tolong beri aku informasinya.”
Aku tidak ingin menanyakan hal semacam ini lewat LINE. Aku pikir kita harus membicarakan masalah ini dengan tatap muka.
Pertanyaan hari ini . Apa yang akan Kouhai-chan lakukan jika aku tidak mengatakan apa-apa?”
Aku pikir kamu menyelaku ketika kamu bertanya itu, Senpai.
Ahh. Tidak heran kalau Kouhai-chan mengetahui kalau aku tertarik padanya? Tidak tidak. Sudah terlambat untuk memikirkan itu sekarang.
Aku tidak bermaksud begitu.
Senpai, Kamu takkan melakukan apa-apa?
Ahhh, sungguh, maksudku adalah ...
Apa cara bertanyaku salah?
Lalu, ayo kita ubah pertanyaannya. Jika aku tidak mengatakan apa-apa, dan Kouhai-chan menerima pernyataan cinta teman sekelasmu.”
“Iya.”
Apa yang akan terjadi padamu?
“Entahlah. Tentu saja aku akan berpacaran dengan orang itu, ‘kan?”
Tentu saja begitu.
Lalu, bagaimana dengan kita?
Jika memang seperti itu, apa hubunganku dengan Kouhai-chan yang saling bertemu di pagi dan akhir pekan , atau lebih tepatnya selalu bersama dalam banyak kesempatan akan berubah?
Hmm…
Kouhai-chan meletakkan jarinya di dagu, membuat pose berpikir.
Orang itu tidak benar-benar posesif, jadi mungkin tidak ada banyak yang berubah?
Yah, cuma Kouhai-chan dan aku yang menggunakan rute kereta ini. Mungkin aku tidak perlu khawatir tentang pergi ke sekolah?
Apa maksudmu dengan 'orang itu' dan 'posesif'?
Ini dari jaringan informasi perempuan.
“Uwahhh ngeri.”
Aku penasaran bagaimana jaringan informasi tersebut mengevaluasi diriku.
Yah, itu tidak masalah. Yang harus aku fokuskan adalah tentang Kouhai-chan di depanku.
Walau kebiasaan berangkat bareng kami tidak berubah, dia takkan mendadak mengajakku  keluar pada hari libur lagi, dan dia juga akan mengubah arah pesan LINE yang dia kirim sebelum tidur (meski hanya sekali, sih)
Hmm.
Aku merasa akan kesepian ketika hal-hal yang telah ada hilang begitu saja.
Uh huh, aku mengerti. Lalu, aku akan menjawab pertanyaan Kouhai-chan kemarin.”
Aku ingin melanjutkan hubungan yang tidak jelas ini sedikit lagi. Aku yakin memiliki hubungan yang hangat nan lembut di mana kami tidak bisa dianggap sebagai teman, atau sahabat, atau bahkan kekasih, atau hanya Senpai-Kouhai adalah yang paling nyaman bagiku.
Aku sudah memutuskan tujuanku, atau titik akhirku, atau lebih tepatnya sesuatu dengan keyakinanku sendiri. Ayo kita lakukan iyu karena kita sudah mencapai situasi begini dan hari ini. Aku sudah memikirkan waktu di mana aku harus memenuhi permintaan” Kouhai-chan sebelum itu.
Aku tidak ingin penyusup kasar tersebut merusak hubunganku dengan Kouhai-chan.
Tapi aku juga tidak mau mendadak melaju cepat tanpa peringatan.
Sedikit demi sedikit, secara perlahan-lahan. Aku pikir itu bagus bagi kita untuk berjalan maju, hanya dengan satu pertanyaan sehari.
Itu sebabnya ―― di kereta yang bergoyang ini, aku mencengkeram pegangan dan menghadap Kouhai-chan dan berusaha mengutarakan semua perasaanku ke dalam kalimat yang mana takkan aneh bila orang-orang memanggilku sampah.
Apa kau mau menungguku? Aku belum mengubah aturan sekolah juga.”
Kouhai-chan menunduk ke bawah, lalu menghela nafas panjang.
Serius. Mau berapa lama kamu ingin membuatku menunggu, Senpai?”
Dari wajah Kouhai-chan yang dia angkat setelah menghela nafas, aku bisa melihat senyum tipisnya.
Beneran deh, aku melakukan ini karena ini Senpai, oke?
Setidaknya, dia tidak tampak kecewa.
Karena sudah menjadi seperti ini, aku harus menyatakannya pada Kouhai-chan.
Ummm. Upacara penutupan akan diadakan pada 22 Desember, dan liburan musim dingin dimulai setelah Hari Ulang Tahun Kaisar pada tanggal 23. Setelah itu, akan ada lebih sedikit kesempatan bagi kita untuk bertemu.
Ngomong-ngomong, itu dekat dengan ulang tahun Kouhai-chan, ‘kan? Kalau tidka salah tanggal 12? Sebenarnya, aku merasa jika kita bisa tetap seperti ini, itu akan menjadi yang terbaik. Tapi mungkin aku terlalu tidak peka.
Itu sebabnya, ayo kita selesaikan semua ini di upacara penutupan.
Pada akhir tahun. Aku akan memberlakukan semua aturan sekolah, jadi tunggu aku.”
“Aku mengerti. Aku akan menunggu Senpai.”




Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor (62)
Aku akan menunggu jawabannya hingga akhir tahun ini.

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama