Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 63


u Sudut Pandang si Senpai u 
Kouhai-chan ditembak cowok lain pada hari Rabu.
Dan kemudian, dia bertanya kepadaku mengenai masalah itu pada hari Kamis.
Dan hari ini, Jumat pagi. Aku bilang kepadanya untuk menungguku sedikit lagi.
Apa ini pilihan yang terbaik?
Aku penasaran apakah besok kita bisa kembali ke hubungan kita yang biasa lagi.
Aku tidak ingin serakah, dan aku tidak ingin kehilangan dia. Apa yang aku katakan padanya pada dasarnya adalah itu. Setelah memikirkannya dengan tenang, jawabanku terasa terlalu egois.
Dengan pemikiran semacam itu di dalam kepalaku, aku menjelajahi Twitter-ku dan situs web novel di tablet. Tiba-tiba, aku melihat pemberitahuan di bagian atas layar.
Maharun ♪ : Selamat malam
Itu dari Kouhai-chan.
Melihat jam di tablet, waktunya sekitar jam 11 malam. Jadi sudah semalam ini? Tempo hari adalah hari libur, ditambah pula cuma hanya ada sedikit PR minggu ini, jadi itu membuatku terlalu bebas. Aku harus tidur. Walau aku tidak harus bangun pagi-pagi, sih.
Iguchi Keita : Hei
Maharun ♪ : Senpai masih bangun?
Maharun ♪ : Kamu masih harus melakukan sesuatu, ‘kan?
Iguchi Keita : Kalau begitu, aku akan tidur sekarang
Aku memutuskan demikian.
Karena aku sudah mandi sebelumnya, aku membersihkan mejaku, dan mengambil sikat gigiku.
Maharun ♪ : Ya?
Maharun ♪ : Uhm
Iguchi Keita : Yosh , aku akan tidur nyenyak sekarang
Kemarin di jam segini aku sudah tertidur, tidak ada pesan LINE dari Kouhai-chan karena orang lain memberi tahu Kouhai-chan sesuatu yang aneh. Sebenarnya, aku agak pahit dengan pria itu.
Iguchi Keita : Baiklah. Aku sudah masuk ke tempat tidur.
Butuh waktu sekitar lima menit setelah pesan pertama tiba. Anak cowok memang gampangan bila mengenai hal semacam ini.

u Sudut Pandang si Kouhai u 
Ketika aku mengirim pesan LINE ke Senpai sebelum tidur, sepertinya Senpai juga sudah menempati kasurnya.
Ia bilang kalau Ia biasanya tidur setelah tanggalnya berubah ‘kan, apa ini baik-baik saja?
Maharun ♪ : Senpai, apa kamu mau tidur sekarang?
Maharun ♪ : Sebelumnya, Kamu bilang kalau kamu biasanya tidur ketika tanggalnya berubah
Iguchi Keita : Tidak apa-apa
Iguchi Keita : Aku mau tidur lebih cepat hari ini
Maharun ♪ : Benarkah?
Sepertinya itu baik untuknya.
Uhn. Apa yang harus kita bicarakan?
Konsep pertama kami adalah menghabiskan waktu sampai tangan dan kaki kami cukup hangat karena kami berdua peka terhadap dingin. Uhnn ...
Aku membayangkan Senpai yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Apa Ia berbaring? Atau menyamping?
Maharun ♪ : Senpai, apa kamu masih mengenakan kacamatamu?
Iguchi Keita : Kenapa kau mendadak menanyakan itu?
Iguchi Keita : Tapi ya, aku masih memakainya.
Bagi penderita miopia, mereka harus melepas kacamata saat tidur. Jika tidur dengan memakainya, bisa-bisa secara tidak sengaja menghancurkannya setelah tergencet oleh tubuhmu, dan itu akan sangat berbahaya.
Tak perlu dikatakan lagi, aku memakai lensa kontak di siang hari. Sepertinya tidak baik tidur sambil memakainya, karena itu akan buruk bagi kesehatan mata.
Apa yang menggangguku adalah apakah aku harus mengenakan kacamataku saat bermain di smartphone -ku sebelum tidur seperti ini. Jika aku memakainya, membuatnya lebih mudah untuk melihat layar, tapi aku takut kalau aku akan tertidur. Jika aku tidak memakainya, rasanya sulit untuk melihat smartphone-ku, yang mana membuatku harus melihatnya dari jarak dekat. Akibatnya, penyakit mataku akan bertambah parah.
Senpai adalah tipe orang yang memakainya, apa pun yang terjadi, ya.
Iguchi Keita : Ah.
Iguchi Keita : Begitu rupanya ya
Maharun ♪ : ….?
Iguchi Keita : Kouhai-chan memakai kontak, ‘kan?
Iguchi Keita : Itu artinya, Kau harus melepasnya sebelum tidur
Untuk beberapa alasan, aku merasakan intensitas aneh yang ditransmisikan dari karakter di layar smartphone-ku.
Iguchi Keita : Apa kau masih memakainya sekarang? Atau kau memakai kacamata?

u Sudut Pandang si Senpai u 
Aku penasaran kenapa dia mendadak bertanya tentang kacamataku.
Lalu aku ingat kalau Kouhai-chan juga rabun, jadi aku bertanya padanya.
Maharun ♪ : Saat ini aku memakai kacamata.
Aku memejamkan mataku (tentu saja tidak tidur) dan membayangkan Kouhai-chan yang berkacamata. Aku sudah mencoba membayangkannya sebelumnya. Mungkin sebulan yang lalu, pas sekitar hari ulang tahunku.
Sejak itu, seberapa dekat hubunganku dengannya? Aku sendiri tidak yakin.
Iguchi Keita : Begitu ya
Iguchi Keita : Kacamata jenis apa?
Apa yang dia katakan tentang itu terakhir kali? Aku ingat dia pernah bilang kalau aku ingin melihatnya dalam berkacamata, aku harus datang ke rumahnya.
Maharun ♪ : Apa kamu penasaran?
Maharun ♪ : Apa kamu ingin tahu, Senpai?
Iguchi Keita : U, uh huh
Dasar setan kecil yang licik !!!
Maharun ♪ : Apa boleh buat ー
Maharun ♪ : Ini karena Senpai spesial, oke?
Ketika aku ingin mengirim, 'Apa maksudmu dengan spesial?', Log obrolan bergeser.
Maharun ♪ [Maharun ♪ mengirimimu gambar.]
Itu foto selfie Kouhai-chan, dengan dirinya membuat tanda peace menempel di pipinya yang tersenyum, bersama dengan bantal lembut sebagai latar belakangnya.

Matanya tampak agak mengantuk, dengan bingkai logam mengelilingi matanya. Hal tersebut membuat kesan Kouhai-chan tampak agak berbeda dari kesan biasanya, tapi bingkai perak tipis tampak cocok untuknya. Seperti biasa, dia terlihat imut.
Maharun ♪ : Bagaimana?
Iguchi Keita : Kau terlihat mengantuk
Maharun ♪ : Aku tidak mengantuk, kok
Maharun ♪ : Masih belum
Maharun ♪ : Eh, ini sudah jam 12 malam, ya
Tanggal berubah di tengah log obrolan kami. Sabtu, 18 November.
Itu berarti, hak istimewa mengajukan pertanyaan sudah dipulihkan.
Seharusnya tidak masalah untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal pikiranku sejak beberapa waktu yang lalu, bukan?
Iguchi Keita : Ngomong-ngomong, ini waktu pertanyaan hari ini dariku.
Maharun♪ : Eh
Aku memulai pertanyaan dengan nada bercanda, tapi apa yang akan aku tanyakan adalah topik serius.
Iguchi Keita : Apa balasanmu padanya?
Iguchi Keita : Cowok yang menembakmu itu
Mungkin rasanya tidak adil untuk bertanya padanya dengan cara seperti ini, tapi seperti yang kuduga, aku ingin tahu. Lagi pula aku punya hak untuk bertanya.
Maharun ♪ : [Maharun ♪ memulai panggilan.]

u Sudut Pandang si Kouhai u  
Senpai?
Rasa ngantukku langsung hilang dalam sekejap.
Kenapa kau tiba-tiba menelponku?
Karena waktunya sudah dini hari. Kami berdua mencoba menekan suara kami di dalam selimut. Ah, aku pernah mendengar suara Senpai semacam ini sebelumnya juga.
 “Ini salah Senpai karena mendadak menanyakan hal itu.
“Lagipula aku penasaran. Kalau begitu, tadi pertanyaan hari inidariku.”
Apa aku tidak bisa berbohong?
 “Tidak, aku bilang kepadanya kalau aku tidak bisa berpacaran dengannya. Hanya itu saja.”
Dia pasti menanyakan alasanmu, ‘kan?
Senpai benar-benar tegas hanya pada saat seperti ini saja. Serius.
Aku memejamkan mataku, mengambil napas untuk memastikan suaraku tidak terdengar gemetar, dan mulai berbicara.
Aku bilang padanya, ada seseorang yang aku sukai.
Aku bisa mendengar Senpai menelan ludahnya di telepon.
Tidak, maksudku, eh. Umm, hanya seperti itu saja, Senpai. Bukan berarti apa yang aku jelaskan kepadanya adalah benar, dan dia mungkin berpikir itu aneh jika aku menceritakan semuanya. Ya itu saja. Ini tidak seperti ...”
Kehangatan pipi dan telingaku semakin meningkat. Ini pasti karena aku terbungkus selimut. Begitulah caraku meyakinkan diri sendiri.
“Begitu ya. Terima kasih.”
Dan kemudian, kami menutup telepon.

u Sudut Pandang si Senpai u 
Maharun ♪ : Ngantukku benar-benar hilang sekarang
Maharun ♪ : Ini salah Senpai
Iguchi Keita : Begitu ya, maaf
Maharun ♪ : Sebagai permintaan maaf, tolong temani aku sedikit lama lagi
Maharun ♪ : Sampai aku merasa cukup lelah untuk tidur
Setelah ini, dia juga memintaku untuk mengirimkan selfie-ku padanya.




Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor (63)
Selfie-nya terlihat sangat canggung.


close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama