Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 66


u Sudut Pandang si Senpai u   
Aku naik kereta dan berdiri menghadap Kouhai-chan.
Walau ini adalah apa yang biasanya kita lakukan, aku merasa bersyukur kalau aku memiliki kesamaan ini di hatiku, tapi aku takkan menunjukkannya dalam wajahku.
Lagipula, yah. Aku merasa malu. Dan rasanya memalukan.
Uwaahh dingin banget ー
Tapi di dalam kereta hangat, tau.
Saat kami melewati pintu, suhu di dalam gerbong kereta cukup hangat sampai kacamataku berkabut.
Ketika mereka membuka pintu, rasanya dingin.
“Bagaimanapun juga, ada penumpang yang harus masuk. Apa boleh buat.”
Tolong buat melewati ring untuk itu.
 “Tapi angin akan tetap lewat, tau?
Ahhh…
Dia layu, mati lelah.
Kami berdua juga terasa sehat hari ini.

u Sudut Pandang si Kouhai u   
Senpai sepertinya tampak sedikit mengantuk hari ini. Ya, itu terjadi setiap hari, sih.
Senpai?
“Apa?”
Apa aku harus membangunkanmu dengan tanganku lagi jika kamu merasa mengantuk?”
Aku sensitif terhadap dingin, jadi aku bisa meletakkan tangan dinginku di leher Senpai dan membangunkannya.
Tentu saja aku sudah merenungkan tindakan ini setelah melakukannya secara mendadak kepadanya terakhir kali.
Tidak, tentu saja kamu tidak bisa. Aku nanti bisa masuk angin.”
Kalau begitu, tolong pinjami aku tanganmu.
“Tanganku juga dingin. Kau tahu sendiri, ‘kan?”
Lalu, kantongmu.
“Kantongku?”
Senpai memalingkan wajahnya ke arahku, tampak terkejut.
“Tidak mungkin, cukup taruh tanganmu di kantongmu sendiri. 
“Ayolah.”
Ketika aku memasukkan tangan kananku ke kantong kiri dan tangan kiriku ke kantong kanannya, Senpai memutar tubuhnya, berusaha melarikan diri dariku.
Kau terlalu dekat.
Kamu tidak keberatan ‘kan, Senpai?
Aku bertanya-tanya apa ini memalukan.
Setelah memasukkan tanganku ke dalam kantongnya selama sekitar satu stasiun, tanganku terasa lebih hangat dari sebelumnya.

u Sudut Pandang si Senpai u   
Kouhai-chan akhirnya melepas cengkeramannya dariku saat dia meraih pegangan kereta dan mengatakan ini.
Ngomong-ngomong kantong, inilah pertanyaan hari ini. dariku”
Aku tidak melihat ada kaitan antara keduanya, tapi yah tak masalah.
Senpai, apa yang biasanya kamu masukkan ke dalam kantongmu? 
Cuma sesuatu seperti earphone-ku.
Aku penasaran apa pertanyaan ini punya makna di dalamnya.
Bagaimana dengan kantong seragammu?
Cuma ada dompet, smartphone, dan saputanganku.
Aku selalu meletakkan saputanganku di kantong kanan depan, smartphone di kantong kiri depan, dan dompet di kantong kiri celana.
Ketibang normal, benda-benda itu sudah dalam dugaanku.
“Ya iyalah. Terus, itu juga akan menjadi pertanyaan hari inidariku.
Aku merasa matanya tampak geram saat aku akan menanyakan pertanyaan buruk sebelumnya, tapi hal tersebut tidak menghentikanku untuk menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya.
Kouhai-chan, apa yang kau masukkan ke dalam kantongmu?
Meski ini seharusnya menjadi pertanyaan yang tidak berarti, Kouhai-chan tersenyum.
Asal kau tahu, itu adalah pertanyaan hari ini juga, oke.
Jangan cuma tertawa dan cepat jawab, pintaku.
Ahaha. Baik. Uhm, aku tidak memasukkan apapun ke dalam kantongku.”
Serius?”
Kalau aku pikir-pikir lagi, sepertinya pria biasa mengeluarkan kartu pass kereta dari kantong celana mereka, tapi wanita sering mengeluarkannya dari dompet di dalam tas.
Pokoknya, Senpai benar-benar tidak tahu, ya.
“Apa maksudmu?”
Sebagian besar pakaian wanita biasanya tidak memiliki kantong.
Eh, begitu ya?
Apa? Aku baru pertama kali mendengarnya.
Kamu sepertinya tidak tahu, ya.”
Ya, aku sama sekali tidak tahu.
Dia memberikan serangan telak ke arahku yang sedang terkejut.
Lalu, apa kamu ingin melihatnya?
Tiba-tiba, Kouhai-chan mulai melepas mantel wol merah yang dia kenakan.
Uhm, apa yang kau ...?
Dia membuka sisi depan mantelnya, dan aku bisa melihat kardigan kremnya yang biasa.
Apa maksudmu ... Tentu saja aku membiarkan Senpai memeriksa kantongku.
Ah, begitu rupanya.
Ayo, bagian yang ini ada kantong di dalamnya.
Dia menarik kardigannya sedikit, menunjukkan kantong di sisi kanan roknya.
Senpai, apa kamu mau mencoba memasukkan tanganmu ke dalam?
Kau menggodaku, ‘kan?
Ampun, aku harus menjaga kewaspadaanku terhadapnya.
“Iya. Tapi, kurasa kamu ingin memeriksa kantongku, ‘kan?”
Terlepas itu benar atau tidak, aku menyerah dan akhirnya mengulurkan tanganku ke arah rok Kouhai-chan di pahanya. Daripada mengulurkan tangan, aku merasa seolah-olah seluruh tubuhku mengarah padanya.
Dia memberitahuku di mana tepatnya, jadi aku mencoba memasukkan tanganku ke dalam ... tapi….
Kantongnya terlalu kecil, dan aku hanya bisa memasukkan jari telunjuk dan tengahku ke dalam.
“Ini kecil. Kantong yang tidak bisa memasukkan apa pun di dalamnya.”
Kouhai-chan mengeluh sambil berbalik dengan masih mengangkat kardigannya.
Tapi mataku tidak fokus pada pakaiannya, tapi rambutnya yang mengalir lembut di depanku.
“Dan tidak ada kantong lain lagi. Senpai, apa kamu sudah mengerti sekarang?”
Yah, karena kita hanya mengkonfirmasi jika itu tidak ada, tidak jika itu ada, itu harusnya baik-baik saja, ‘kan?
“Ya, mungkin.”
Aku benar-benar bersyukur bahwa aku terlahir sebagai seorang pria dalam kebangkitan seperti ini. Hidup dalam kehidupan di mana aku tidak bisa menggunakan kantongku sangat tidak nyaman dan tak tertahankan. Jika itu aku, aku pasti takkan tahan.
Bagaimana dengan pria? Apa keberadaan kantong berguna?”
Aku pikir itu sangat berguna.
Pada akhirnya, kami membahas masalah kantong sampai kami tiba di stasiun terdekat ke sekolah.



Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor (66)
Tampaknya Ia tidak tahu kalau hanya ada beberapa jenis pakaian wanita yang memiliki kantong.

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama