Kimi no Hanashi Chapter 02 Bahasa Indonesia

Chapter 02 - Cahaya Kunang-Kunang


Jika seseorang sehampa diriku memiliki seorang teman, teman tersebut pastilah seseorang yang hampa juga; begitulah gambaran samarku saat masa remaja dulu. Bila aku bertemu seseorang yang memiliki gambaran "tidak punya" - tidak punya teman atau kekasih, tidak punya sisi yang bagus atau pengalaman yang membanggakan, bahkan tidak punya kenangan yang mengharukan - kupikir itu akan menjadi pertama kalinya bagiku untuk bisa memanggil seseorang sebagai teman. 
Emori adalah teman pertamaku - dan mungkin terakhir -, tetapi bertentangan dengan gambaranku, Ia adalah seseorang  yang "punya." Dia punya banyak teman, sering berganti pasangan, fasih dalam tiga bahasa, dan ditetapkan untuk bekerja di perusahaan terkemuka pada saat aku bertemu dengannya. Intinya, dia adalah lawan kebalikanku dari segala hal. 
Aku menjadi dekat dengan Emori  saat waktu musim panas ketika aku berumur 18 tahun. Pada saat itu, kami memasuki universitas yang sama, serta tinggal di kompleks apartemen yang sama pula. Aku tinggal di kamar 201 dan Ia di 203, dua pintu ke bawah, jadi aku sering melihat dia membawa seorang gadis ke kamarnya. Yang mana sebenarnya sering berganti setiap bulan, dan mereka semua sangat cantik. Aku juga kadang-kadang melihatnya di kampus, selalu dikelilingi oleh banyak teman dan tertawa. Ketika ada event kampus, Ia akan menjadi pusat perhatian. Hanya tinggal berdiri di atas panggung saja sudah banyak membuat orang bersorak sorai untuknya. 
Ah, jadi kehidupan seperti itu beneran ada ya, aku sering berkomentar. Dia hidup di dunia yang tak pernah bisa aku bayangkan. 
Bagaimana rasanya bisa disukai begitu banyak orang? 
Alasan kenapa lelaki sepopuler Emori bisa berteman dengan orang buangan sepertiku, aku sendiri masih tidak tahu. Mungkin ini mirip seperti semacam pertukaran budaya. Mungkin Ia juga menemukan pada diriku, sebuah dunia yang tidak bisa Ia bayangkan, dan memutuskan untuk mengamatiku dari dekat sebagai pembelajaran ilmu sosial. 
Jika bukan itu, mungkin Ia menganggapku sebagai seseorang yang bisa diajak bicara tanpa khawatir bermulut ember. Ia memang punya banyak teman, tapi bukan berarti semuanya adalah orang baik, mungkin ada juga yang membenci dirinya. Jadi, mungkin aku adalah mitra ideal untuk mencurahkan rahasianya tanpa khawatir tersebar. 
Apapun alasannya, kita sekarang sudah menjadi teman. Dan ini adalah hasil dari Emori yang mendekatiku. Ia terlibat denganku tanpa ada perasaan kalau Ia kemungkinan akan ditolak, dan dengan sikap seperti itu, aku juga merasa bersalah jika aku menolaknya. Dan seketika aku mendapat pencerahan, Aha betul juga ya dengan cara seperti ini, orang yang tumbuh dengan cinta akan menjadi lebih dicintai. 
Aku tidak memiliki topik pembicaraan yang bisa aku bagikan dengan orang lain, jadi saat kami bersama, hanya Emori saja yang terus berbicara. Aku hanya mendengarkannya, kadang-kadang juga membalasnya ketika aku merasa ingin membalasnya. Kupikir dia akan segera merasa kecewa karena begitu membosankannya diriku dan secara alami menjauh, tapi nyatanya, hubungan kami masih bertahan hingga hari ini, bahkan setelah ia lulus kuliah dan pergi menjauh. 
Kami bertemu lagi dalam enam bulan . Emori tidak menelepon dan menanyakan rencanaku atau semacamnya; Ia hanya tiba-tiba muncul di tempatku. Ketika aku membuka pintu, Ia bilang "Yo" dan mengangkat tas kresek yang dibawanya. Ada dua bungkus kaleng bir di dalamnya. Bagaimanapun, semuanya sama seperti dulu. Dalam sekejap, enam bulan kosong itu mulai terisi. 
Aku mengambil beberapa makanan ringan sebagai cemilan bersama minuman bir, mengenakan pakaian santaiku, dan pergi dengan sandal. Emori mengangguk dan mulai berjalan, lalu aku mengikutinya. 
Dia tidak perlu memberitahuku. Tujuan kami adalah taman terdekat. 
Taman yang kami tuju adalah taman yang sepi dan terbengkalai. Di sana-sini banyak rumput liar yang tumbuh, jadi dari kejauhan bisa terlihat kalau tempat ini sudah jarang dipakai anak-anak. Semua alat bermainnya sudah berkarat, jadi rasanya seperti hanya menyentuhnya saja bisa membuatmu tertular penyakit misterius. Ini adalah kebiasaan kami untuk mabuk di tempat di mana mimpi masa kecil telah lenyap. 
Bulan malam ini terlihat indah. Taman yang sempit dikelilingi oleh pepohonan ini hanya memiliki satu tiang lampu di depan ayunan, dan malah sudah mau rusak pula. Namun berkat cahaya bulan, kami masih bisa melihat tempat alat bermain meski hanya samar-samar. 
Kami menerobos semak-semak untuk bisa masuk ke dalam. Seolah-olah diinstruksikan, Emori duduk di panda, dan aku di koala. Bangku-bangku yang ada terlalu banyak semak-semak untuk digunakan, jadi kami menggunakan patung hewan sebagai kursi. Rasanya sangat tidak stabil dan tidak nyaman, tapi ini lebih baik daripada duduk di tanah. 
Setelah membuka penutup pada kaleng, kami mulai minum tanpa bersulang atau semacamnya. Mungkin dia membelinya agak lama, karena bir sudah mulai hangat. Tetap saja, rasanya enak diminum ketika berada di udara terbuka. 
Ada sedikit cerita di balik mengapa kami mulai minum-minum di taman. Setahun sebelum aku mendaftar, seseorang di sekolah kami meninggal karena alkoholisme akut. Karena almarhum masih di bawah umur, jadi toko lokal menjadi lebih ketat untuk memeriksa kartu ID. Jadi kami membagi tugas; Emori membeli bir, aku menyediakan makanan ringan, dan kami berdua minum-minum di taman. 
Karena kami tinggal di gedung apartemen yang sama, kami hanya bisa minum di salah satu kamar kami, tapi kepercayaan Emori adalah "bir baru terasa lebih enak ketika kau berada jauh dari rumah." Karena hal begitulah, kami berdua mencari tempat yang bisa di capai dengan berjalan kaki dan bisa minum-minum tanpa khawatir ada yang lihat. Lalu, begitulah cara kami  menemukan taman ini. 
“Bagaimana akhir-akhir ini? Apa ada hal yang menarik terjadi?”, Tanya Emori, jelas tidak berharap banyak. 
“Tidak ada. Seperti biasa, aku hidup seperti orang tua yang hidup kesepian,” jawabku. “Bagaimana denganmu, Emori? Apa ada sesuatu yang menarik terjadi?”
Dia mendongak ke langit malam, dan berpikir selama sekitar 40 detik. 
“Temanku menjadi korban penipuan.”
“Penipuan?”
Ia mengangguk. “Modus penipuan berpacaran dengan korban. Menggunakan perasaan romantis untuk menjual lukisan, membuatmu membeli apartemen, atau semacamnya. Itu adalah tipuan yang terlalu biasa dan membosankan, tapi kesaksian yang diberikan temanku lumayan menarik.” 
Korbannya adalah seorang pria bernama Okano, dan penipu itu adalah seorang wanita yang menyebut dirinya Ikeda. 
Beginilah ceritanya. Suatu hari, Okano menerima pesan di media sosial. Pengirimnya adalah seorang wanita bernama Ikeda, dan pesan itu tertulis: “Aku adalah teman sekelasmu saat SD dulu. Aku penasaran, apa kamu masih mengingatku?”
Okano mencoba mengingat-ingatnya, tapi tidak bisa mengingat seorang gadis yang bernama Ikeda. Ia berpikir kalau ini mungkin semacam penipuan, dan memutuskan untuk mengabaikannya, selang sehari kemudian, Ia mendapat pesan dari orang yang sama. "Maafkan aku karena mendadak mengirim pesan yang aneh begini. Belakangan ini aku sangat kesepian, dan hal itu membuatku menjadi sedikit gila. Aku senang sekali saat mengetahui ada teman lama yang tinggal di kota yang sama, jadi aku iseng menulis pesan dan mengirimnya. Kamu tidak perlu menjawab pesanku.”
Usai membaca pesan itu,  perasaan Okano tiba-tiba gelisah. Mungkin ia melupakannya, dan sebenarnya mengenal seorang gadis yang bernama Ikeda. Mungkin, bila Ia mengabaikan pesan tersebut, ia nanti akan menyakitinya. Mungkin Ia mendorong seorang gadis yang tengah putus asa karena kesepian yang tak tertahankan, bahkan menjerumuskannya lebih dalam lagi. 
Semua kekhawatiran ini menggiring dirinya untuk membalas pesan dari wanita yang menyebut dirinya Ikeda. Dari sanalah, mereka memulai hubungan. Ikeda adalah gadis yang sangat baik, jadi Okano jatuh cinta kepada sang gadis tanpa disadarinya. 
Dua bulan kemudian, Ia berhasil menjual lukisan mahal, dan keesokan harinya, gadis bernama Ikeda tersebut lenyap bak ditelan bumi. 
“Biar kuperingati dulu, temanku ini tidaklah bodoh,” tambah Emori. "Ia adalah lulusan dari sekolah yang cukup bagus, dan banyak membaca buku. Pikirannya bekerja cepat, dan Ia selalu waspada. Namun, Ia masih mudah ditipu dengan trik klasik. Menurutmu, kenapa bisa begitu?”
“Mungkin, karena Ia terlalu baik?”
Emori menggelengkan kepalanya. 
“Karena Ia kesepian.”
“Ah.” Setelah memikirkannya sejenak, aku pun mengangguk setuju. 
Emori lalu melanjutkan ceritanya. “Hal yang paling menarik ialah, meski Ikeda sudah menghapus akun media sosialnya, Okano masih percaya bahwa gadis tersebut benar-benar teman sekelasnya saat SD dulu. Di kepalanya, Ia memiliki kenangan tersebut. Ia mampu mengingat masa lalu yang Ia habiskan di ruang kelas dengan Ikeda kecil . Terlepas dari apakah teman sekelas tersebut benar-benar ada atau tidak.”
“Maksudmu ... Ia mungkin ditanami Mimori tanpa Ia ketahui?” 
“Tidak. Biayanya terlalu mahal, pelaku penipuan mana mungkin mau melakukan itu.”
“Terus kenapa?”
“Dia mungkin menulis ulang ingatannya sendiri tanpa sadar,” ucap Emori sambil tertawa. “Kenangan bisa dirubah begitu mudah tergantung apa yang kau rasakan. Kau tidak perlu nanobots untuk itu - orang mengubah ingatan mereka setiap hari. Amagai, apakah kau tahu kasus Fells Acres?”
Aku belum pernah mendengarnya. 
"Sederhananya, ini adalah contoh model tentang bagaimana kesaksian kriminal yang tidak dapat diandalkan. Jika kau ditanya berulang-ulang" Apa ini terjadi padamu? ", Kau mulai merasa kalau hal seperti itu memang benar-benar terjadi padamu. Jadi saat Ikeda bilang pada Okano berulang-ulang "kamu adalah teman sekelasku," Ia mulai mempercayainya. Mungkin Ia menginginkan apa yang dikatakan Ikeda adalah benar, dan itu memberikan dorongan yang mengubah ingatannya. Meski seharusnya Ia bisa memeriksa buku kelulusan dan melihat ada tidaknya teman sekelas yang bernama Ikeda tersebut, tapi Okano tidak melakukan itu. Dengan kata lain, Ia tertipu karena Ia ingin ditipu. " 
Emori mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan menyalakannya, lalu menghisapnya dengan santai. Itu adalah merek yang sama saat Ia merokok sejak kita berdua bertemu pertama kali, dan aroma manisnya mulai membuatku merasakan realita dari reuni ini. 
"Tampaknya penipuan klasik seperti itu sedang marak belakangan ini. Dan pemuda yang kesepian adalah target yang paling mudah. ​​Kau juga mungkin nanti akan menjadi target, Amagai." 
"Kurasa aku akan baik-baik saja." 
"Apa yang membuatmu begitu yakin?" 
"Aku tidak pernah memiliki seorang teman pun ketika aku masih kecil. Aku tidak memiliki satu memori yang baik. Jadi, jika aku dihubungi oleh beberapa teman lama, aku tidak punya alasan untuk berharap." 
Tapi Emori perlahan menggelengkan kepalanya. 
"Kau salah, Amagai. Cara mereka bukan masuk ke dalam memori, melainkan mereka masuk karena ketiadaan mereka."

uuu

Pada akhirnya, minuman dan makanan yang kami bawa ke taman masih tidak cukup. Jadi setelah itu, kami menuju stasiun dan pergi ke bar. Di sana, kami berdua hanya membicarakan omong kosong, dan berpisah saat jam 9 malam. 
Saat aku berjalan pulang melewati distrik belanja sendirian, salah satu dari episode Mimori pun dimulai. 
Pemicu kali ini adalah lagu yang menandai waktu penutupan, Auld Lang Syne. Atau lebih tepatnya, versi Jepang dari lagu yang sama: Hotaru no Hikari
………
"Kamu terlambat." 
Setelah kembali ke ruang kelas usai kegiatan klub, Touka berbicara padaku dengan tatapan cemberut. 
"Pertemuan tadi lama banget," ujarku. 
"Hmph." 
"Kau ‘kan bisa pulang sendiri." 
Dia menatapku dengan tidak puas. 
"Salah, Chihiro. Kamu seharusnya bilang begini," Maaf sudah membuatmu menunggu"." 
"... Maaf sudah membuatmu menunggu. Dan terima kasih sudah menunggu." 
"Bagus." Touka tersenyum puas dan mengambil tasnya. "Kalau begitu, ayo pulang." 
Hanya ada kami berdua yang tersisa di kelas. Kami memeriksa kunci jendela, mematikan lampu, dan keluar ke lorong. Bau tajam deodoran yang digunakan oleh klub olahraga menghantam hidungku. Touka menutupi mulutnya dan terbatuk ringan. Dia memiliki tenggorokan yang lemah, jadi bahkan rangsangan kecil seperti asap kecil dari rokok atau pendingin udara bisa membuatnya batuk. 
Saat mengganti sepatu di pintu masuk, lagu Hotaru no Hikari diputar untuk menandai akhir dari jam kegiatan sekolah, dan Touka bernyanyi dengan liriknya sendiri.

Kunang-kunang yang bersinar terang 
Menghilang dalam gelap
Begitu cepat berlalu dan tidak berarti,
Sama seperti kerinduan hatiku


Sungguh lirik yang sangat tragis. 
"Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah mendengar lirik aslinya." 
"Aku juga. Aku hanya tahu ada bagian tentang cahaya kunang-kunang." 
"Itu sebabnya aku mempertanyakan kenapa kau menggunakan lirik yang terdengar seperti lagu patah hati." 
“Tapi kamu mempelajarinya dengan lirik ini, kan, Chihiro?" 
"Ya. Bahkan jika aku tahu lirik yang sebenarnya nanti, kapanpun lagu ini diputar, aku mungkin akan mengingat lirikmu dulu, Touka." 
"Dan kamu juga akan mengingat wajahku bersamaan dengan itu, ‘kan?" 
"Ya, mungkin saja."

Aku mungkin akan mengingat percakapan kita hari ini juga, sebagai ingatan yang indah. Pikirku dalam hati.
"Aku pikir hal seperti ini adalah semacam kutukan." 
"...Apa maksudmu?” 
"Yasunari Kawabata mengatakannya seperti ini." Saat kamu hendak mengucapkan selamat tinggal pada seorang lelaki, ajari Ia nama bunga. Bunga-bunga akan selalu mekar setiap tahun. "" 
Touka berbicara dengan bangga, dengan jari telunjuknya yang terangkat. 
"Selama sisa hidupmu, saat kamu mendengar lagu Hotaru no Hikari, kamu akan mengingat lirik yang aku buat, serta diriku juga." 
"Yang ini pasti namanya kutukan," balasku dengan gelak tawa. 
"Yah, bukan berarti aku akan mengucapkan selamat tinggal padamu, Chihiro," dia tertawa kembali.

………

Aku menggelengkan kepala untuk menghentikan memori yang berkelebatan di dalam kelapaku. 
Selama beberapa hari terakhir ini, aku terus mengingat Touka Natsunagi. 
Penyebabnya jelas sekali. Itu adalah insiden saat di kuil. 
Apa yang sebenarnya terjadi? 
Yukata yang dikenakannya, hiasan bunganya, rambutnya, sikapnya, wajahnya, semuanya terlihat sama dengan apa yg ada di dalam Mimori-ku.
Satu-satunya yang berbeda adalah usianya. Mimori-ku hanya mendefinisikan penampilan Touka Natsunagi sampai di usia 15 tahun, tapi gadis yang aku lihat di kuil saat itu terlihat sedikit lebih dewasa. 
Rasanya seperti, teman masa kecil dari Mimori tersebut ikut tumbuh sama seperti diriku, dan kemudian, muncul di depan mataku. 
Ayo pikirkan hal ini lebih teliti. Prinsip dasar dari Mimori ialah melarang penggunaan model karakter dari orang asli. Hal tersebut diterapkan karena demi menghindari masalah yang mungkin timbul dari pencampuran kenyataan dan Mimori. Jadi, begitu keluar dari gerbang kuil, aku langsung menolak teori kalau Touka Natsunagi didasarkan pada wanita yang aku lihat. Dan omong kosong seperti dirinya menjadi Touka Natsunagi sendiri bahkan tidak layak dipertimbangkan. 
Kurasa, menganggapnya sebagai kemiripan yang tak disengaja bukanlah hal yang mustahil. Pada hari itu, ada banyak orang yang datang dari luar prefektur untuk mengunjungi festival. Kemungkinannya juga bukan 0% jikalau ada seorang wanita yang tampak seperti Touka Natsunagi. Bahkan yukata dan bunga-bunga tersebut, kalau dipikirkan dengan baik-baik, bukanlah desain yang tidak biasa. 
Tapi bagaimana aku menjelaskan reaksinya? Ketika kami melakukan kontak mata, dia terlihat sama terguncangnya dengan diriku. Penampilannya seolah mengatakan "ini tidak mungkin benar, pasti ada semacam kesalahan." Dan dia mencoba menerobos kerumunan menuju ke arahku. Apa aku bisa menganggap itu sebagai kasus kesalahan identitas? Aku hanya kebetulan mengenal seseorang yang sangat mirip dengannya, dan dia juga hanya kebetulan mengenal seseorang yang sangat mirip denganku. 
Ada lagi satu penjelasan yang lebih sederhana. Wanita yang aku lihat hanyalah ilusi dari musim panas, tercipta dari campuran alkohol, rasa kesepian, dan suasana festival yang meriah. Selain bagian di mana aku harus meragukan kewarasanku sendiri, ini adalah teori yang sempurna. 
Tidak, mungkin dari awal aku tidak perlu berpikir keras tentang hal ini. Baik itu kesalahan identitas atau halusinasi, pada akhirnya hanya ada satu tindakan yang harus aku ambil. 
Yaitu…. menghapus Mimori
Jika aku melakukan itu, aku takkan lagi salah sangka pada seseorang yang mirip dengannya atau berhalusinasi tentang dirinya. 
Dan pikiranku takkan lagi tersiksa dengan mengingat kembali ingatan yang dari awal memang tidak pernah ada. 
Aku tiba di kamarku. Aku mengambil salah satu dari dua paket Lethe yang aku simpan di lemari. Bukan untuk menghapus kenangan masa kecilku, tapi untuk menghapus kenangan Touka Natsunagi. Aku mengisi gelas dengan air, dan meletakkannya di atas meja tepat di sebelah Lethe
Aku sudah siap. Satu-satunya yang tersisa hanyalah membuka paket itu, menuangkan isinya ke dalam air, dan meminumnya. 
Aku mengulurkan tanganku untuk menggapai paket tersebut. 
Jari-jariku gemetaran. 
Bukan berarti ini disertai dengan rasa sakit. Dan juga ini tidaklah pahit. Kau tidak kehilangan kesadaran atau semacamnya. Apa yang perlu aku takutkan? Ini hanya menghapus ingatan yang disisipkan secara keliru, lalu membawaku kembali ke kehidupan normal. Lethe benar-benar sudah teruji dan aman. 
Dan yang terpenting, meski ada suatu kesalahan,  bukan berarti kau memiliki suatu kenangan tertentu yang harus dikhawatirkan karena hilang. 
Aku mengambil paket itu. 
Keringat dingin mengalir dari belakang leherku. 
Mungkin ini kesalahan karena mencoba dan mengatasi ketakutan fisiologis dengan rasionalitas. Aku harus mengubah pemikiranku. Aku harus mengosongkan pikiranku selama sepuluh detik. Pada saat nanti, semuanya akan berakhir. Aku tidak perlu membuat diriku menerimanya 100%. Lompati dengan ceroboh tanpa berpikir, dan biarkan sisanya pada dirimu di masa depan. Menjadi kosong. Bukannya itu adalah hal hebat yang paling bisa kau lakukan, iya ‘kan? 
Namun, semakin aku mencoba untuk mengosongkan kepalaku, pemikiran-penikiran aneh merangsek masuk untuk mengisi kekosongan itu. Misalnya seperti, mencoba membersihkan lensa dengan sidik jari di atasnya dan membuatnya lebih buram, situasinya semakin memburuk. Untuk waktu yang lama, aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. 
Lalu,tiba-tiba, aku punya sebuah ide. Ini tempat yang salah. 
Ruangan ini masih kental dengan rasa takut yang kurasakan di hari itu. Lantai, wallpaper, langit-langit, tempat tidur, tirai, semuanya ternodai oleh rasa takutku. Bagai bangunan tua yang berlapis nikotin. 
Ada tempat yang tepat untuk semuanya. Aku perlu mempersiapkan pengaturan yang cocok untuk meminum Lethe. Apa yang ideal untuk itu? 
Jawabannya langsung datang dengan cepat. 

uuuu

Keesokan harinya, usai pekerjaan part-time-ku berakhir, aku naik bus dari apartemenku. Di dalam saku kantongku ada paket Lethe demi menghapus ingatanku tentang Touka Natsunagi. Sementara pendingin udara di bus terlalu dingin, aku mengambil paket itu dan memeriksanya dari berbagai sudut. 
Tak lama, bus mencapai tujuan, jadi aku meletakkan Lethe di saku dan turun. Di belakang halte bus adalah kuil. 
Aku berjalan melalui torii, lalu memasuki halaman kuil. Sangat kontras dengan malam festival sebelumnya, hari ini aku tidak melihat satu orangpun di sini. Jangkrik-jangkrik di area kuil salah mengira langit yang mendung dengan langit senja dan mulai berdengungan di mana-mana. 
Aku membeli air mineral dari mesin penjual otomatis dan duduk di tangga batu. Setelah menyentuh saku kantongku untuk memeriksa Lethe, aku mulai dengan menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan diri. 
Ketika aku selesai dan menginjak rokok dengan sepatuku, aku mendengar ambulans di kejauhan. Pada saat aku menyadari kalau ini akan berubah menjadi buruk, tapi ini sudah terlambat. Dipicu oleh suara sirene, aku terhisap ke dalam pusaran ingatan. 
…………
Aku lama tidak melihat Touka dengan piyama. Kami biasa mengunjungi rumah masing-masing dan menginap di malam hari, jadi aku sering melihatnya dengan piyama dan dengan rambut berantakan yang cukup membuatku bosan melihatnya. Tapi mulai sekitar usia 11 tahun, kami mulai menahan diri dari gangguan berlebihan, jadi ada celah yang terbuka dalam pengetahuan kami tentang satu sama lain. 
Pada hari aku melihatnya memakai piyama untuk pertama kalinya di masa remajaku, dia tampak sangat lemah. Aku yakin kain putih tipis dari piyama polos tidak terlalu membantu, tapi leher dan lengannya yang tampak kurus, terlihat bisa dipatahkan dengan bila kau sedikit memakai kekuatanmu padanya. 
Aku melihat anggota badanku sendiri untuk mengkonfirmasi perbedaan tersebut. Sampai saat ini, tinggi kami hampir sama, tapi pada titik tertentu aku tumbuh sekitar 10 sentimeter lebih tinggi darinya. Dengan demikian, setiap kali kami berpegangan tangan atau bersandar satu sama lain, kami disadarkan akan perbedaan ketinggian, suka atau tidak suka. Kaki kurus dan punggungnya yang ramping membuatku sangat sadar bahwa tubuh kami menuju ke arah yang berbeda. 
Kesadaran itu, setidaknya, membuatku tidak nyaman. Meskipun isinya tidak berubah, jika kau mengubah bentuk wadahnya, itu juga ikut mengubah maksudnya. Kami masih bertukar percakapan seperti biasanya, tapi aku merasa ada beberapa hal yang terlalu banyak, dan ada juga hal lain yang terlalu sedikit. Jika kita mengubah perilaku kita agar sesuai dengan sensasi tersebut, maka akan menghasilkan suatu kecanggungan tersendiri. 
Melihat Touka memakai piyamanya di hari itu juga membuatku gelisah. Untuk beberapa saat setelah aku memasuki kamar rumah sakit untuk menjenguknya, aku tidak bisa bertatap langsung dengan matanya. Sampai surat arafku mengendur, aku berpura-pura tertarik pada interior ruangan dan hadiah yang dia dapat demi menghindari tatapannya. 
Tentu saja, aku tidak menemukan sesuatu yang menarik. Itu hanya kamar rumah sakit biasa. Dengan dinding berwarna putih, tirai yang pudar, lantai berwarna hijau muda, serta tempat tidur yang sederhana. Ruangan itu bisa menampung empat orang, tapi tidak ada pasien lain selain Touka. Dia diberi tempat tidur paling belakang di sebelah kanan, tempat dimana yang bisa mendapatkan paling banyak pancaran sinar matahari. 
"Dokter mendiagnosis mungkin karena perubahan tekanan udara." 
Dia melirik ke luar jendela seolah-olah untuk memeriksa cuaca. 
"Maksudku, topan itu sudah mendekat, ‘kan? Rupanya hal tersebut membuat tekanan udara menurun dengan cepat, jadi aku mendapat serangan itu." 
Aku ingat kejadian itu kemarin. 
Aku menemukan Touka tergeletak pingsan pada jam 4 sore. Biasanya sekitar waktu itu, dia akan membawa PR-nya ke kamarku, namun anehnya dia tidak muncul pada hari itu. Aku memiliki firasat buruk dan pergi memeriksa ke ruangannya, dan di sanalah aku menemukannya sedang berjongkok di lantai, tidak dapat bergerak. Dia memiliki gejala sianosis, dan kau bisa langsung tahu kalau itu adalah serangan asma. Ada sebuah inhaler di dekatnya, tapi sepertinya obat itu tidak memiliki efek sama sekali. Mendengar napasny terengah-engah lebih kasar dari yang pernah aku dengar sebelumnya, aku segera berlari ke ruang tamu untuk memanggil ambulans.  (TN: Obat pelega napas, biasanya di pake kalau lagi pilek, dan cara makainya dihirup)
Dokter bilang kalau itu adalah serangan besar yang menempatkannya di ambang kegagalan pernafasan. 
"Apa rasanya tidak sakit lagi untuk bernapas ?", Tanyaku. 
"Ya, aku baik-baik saja sekarang. Mereka hanya menempatkanku di rumah sakit untuk berjaga-jaga kalau aku punya serangan lain, jadi aku tidak merasa buruk atau semacamnya." 
Dia mencoba bertindak ceria, tapi suaranya begitu pelan dan lemah. Apa benar tidak apa-apa baginya untuk berbicara? Mungkin dia memaksakan dirinya untuk melakukannya karena ada aku di dekatnya. Namun, bila aku mencoba bertanya padanya tentang hal itu, dia akan mencoba menghindar namun penampilan tubuhnya jauh lebih dipercaya ketimbang sikapnya. 
Setidaknya dia tidak memaksakan suaranya, aku memindahkan kursi sedekat mungkin ke tempat tidur dan memastikan untuk bisa berbicara dengan suara yang tenang. 
"Aku pikir kalau kau mungkin akan mati kali ini." 
"Aku juga berpikiran begitu," Touka tertawa seolah-olah kita berdua tidak sedang membicarakan dirinya. "Tapi jika kau terlambat sedetik saja, Chihiro, mungkin semuanya akan jauh lebih buruk. Pak Dokter memujimu loh. Beliau bilang, penilaianmu untuk segera memanggil ambulans adalah keputusan yang tepat." 
Aku mengatakannya dengan jujur. "Itu karena aku sudah terbiasa denganmu yang punya serangan asma, Touka." 
"Kamu sudah menyelamatkanku. Terima kasih." 
"Jangan khawatirkan itu." 
Ada keheningan sejenak di antara kita. 
Lalu, Aku memutuskan untuk menanyakan sesuatu. 
"... Apa itu bisa disembuhkan?" 
Dia mengerutkan bibirnya, dan menyenderkan kepalanya ke samping. 
"Entahlah. Banyak orang yang tumbuh dari penyakit ini, rupanya, tapi beberapa orang masih mengidapnya meski sudah dewasa." 
"Hah." 
"Tapi harus kubilang ..." Dia dengan sengaja mengubah topik pembicaraan. "Chihiro, kau benar-benar tahu banyak tentang teknik bernapas. Kamu seperti dokter saja." 
"Aku hanya kebetulan tahu tentang hal itu." 
"Tidak, kamu mempelajarinya demi diriku, ‘kan?" 
Dia memiringkan kepalanya untuk menatapku dari bawah. 
Rambutnya yang panjang berayun mengikuti gerakannya. 
"Ya. Karena bisa gawat kalau kau mati di depanku." 
"Ahaha. Kurasa itu benar." 
Dia tertawa dengan tatapan cemas. 
Mungkin aku mengucapkannya dengan nada terlalu acuh, aku diam-diam menyesalinya. 
"Tapi bagaimanapun juga, sudah lama sekali sejak kamu menggendongku seperti bayi," kata Touka sambil bercanda. " Kamu langsung menggendongku begitu saja. Aku cukup terkejut."
"Aku tidak bisa memikirkan cara lain untuk melakukannya." 
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Jika kamu terus melakukan itu setiap kali, lalu mungkin serangan asma tidak terlalu buruk juga ." 
Aku sedikit menepak kepala Touka saat dia menggodaku. Dia mengerang "Aduh!" dan secara berlebihan memegangi kepalanya. 
"Jangan lakukan itu lagi. Aku sangat khawatir, kupikir aku akan berhenti bernapas juga." 
Ada jeda yang aneh. Touka menatapku dengan mulut terbuka, terkaget. Ekspresi itu, meski perlahan, berubah menjadi senyuman geli. 
"Maaf, maaf. Aku akan mengulanginya," dia mengoreksi diri. "Aku tidak suka serangan asma. Aku hanya senang bisa merasakan sentuhanmu, Chihiro." 
"Baiklah, cepat sembuh." 
"Um," dia mengangguk.

"Tidak apa-apa," jawabku singkat. Sekarang, aku merasa malu dengan apa yang aku katakana tadi, dan bisa merasakan kalau wajahku sedikit memanas. 
……………………..

Perasaan dingin di leher membawaku kembali ke alam sadar. Ketika aku menyentuhnya dengan jari-jariku, rasanya sedikit basah. Segera setelah itu, aku melihat noda hitam kecil menghiasi tangga batu. Angin kencang bertiup menembus daerah itu. 
Hujan mulai turun. 
Rasanya seperti aku telah diselamatkan. Mana mungkin aku menggunakan Lethe di tengah badai ini. 
Aku mendapat alasan untuk pulang tanpa melakukan apapun. 
Aku meletakkan tanganku di lututku dan berdiri, lalu menuruni tangga. Cara berjalanku ringan karena lega. 
Untuk saat ini, Aku akan kembali ke apartemenku dulu. Aku bisa memikirkan hal lain nanti. 
Hari ini bukanlah hari yang bagus untuk menghapus memori.
Hujan masih turun dengan deras saat aku menunggu bus datang. Aku terhindar dari hujan di bawah emperan toko di dekat halte bus, lalu naik ke bus saat tiba lima menit kemudian. Interiornya dipenuhi dengan udara lembab dari AC berkat jendela yang tertutup rapat, dan lantainya basah di sana-sini dari air hujan yang menetes dari payung penumpang. 
Aku duduk di sisi kanan bagian belakang, dan menarik napas lega. Lalu aku dengan santai melirik ke halte bus di sisi lain jalan. Sepertinya hari ini ada festival juga di suatu tempat. Seorang gadis yang mengenakan yukata tampak muram menatap awan. Mungkin dia memikirkan hal seperti, berapa lama hujan ini akan terus turun? Dan memakai yukata baruku ... Berbicara tentang sial ... Semoga mereka tidak membatalkan festivalnya. 
Roda bus mulai bergerak. 
"Sekarang kau berhasil," ucap seseorang. 
Kau mengabaikan satu hal yang penting, tahu
Aku mengelap kabut dari jendela kaca dan melihat gadis yukata itu lagi. 
Rambut hitamnya yang tergerai di bahu. 
Dia mengenakan yukata berwarna biru berpola kembang api. 
Dengan kulit pucat yang menarik perhatian. 
Serta bunga krisan merah di rambutnya. 
Jariku tanpa sadar menekan tombol berhenti. 
Waktu lima menit sampai perhentian berikutnya terasa seperti selamanya. 
Begitu aku turun dari bus, aku berlari secepat mungkin ke halte bus sebelumnya. Untuk sekarang, aku mengabaikan semua pertanyaan yang terus terngiang di dalam pikiranku, dan berlari melewati hujan deras. Para pejalan kaki menoleh untuk melihatku dan merasa penasaran apa yang terjadi, namun aku tidak punya waktu untuk mencemaskan hal itu. 
Aku berlari begitu cepat sampai-sampai paru-paruku terasa bisa meledak kapan saja, meski begitu, proses pemikiranku berjalan tenang. Kapan terakhir kali aku berlari kencang seperti ini? Setidaknya, sejak aku masuk kuliah, aku tidak pernah melakukannya. Mungkin aku pernah melakukannya demi kelasku saat SMA. Tidak, kurasa tidak ada lomba lari di SMA-ku, ‘kan? Bahkan saat pertandingan bisbol, atau saat lari maraton, atau bahkan saat ujian olahraga, aku tidak pernah berusaha sekuat tenaga agar tidak merasa lelah. Itu artinya saat aku masih SMP. Sebuah Ingatan di mana aku berusaha sekuat tenaga demi hidupku ...
Sudah cukup, kenangan yang pertama muncul dalam pikiranku hanyalah ingatan palsu. Sebuah Mimory dari lomba lari saat aku kelas 3 SMP. 
………………………………..
Aku terus tertekan selama seminggu sebelum acara. Bukannya karena aku tidak atletis. Tapi sebaliknya, fakta kalau aku kurang layak menyebabkan bencana. Karena beberapa kesalahan, aku dipilih dari beberapa murid yang jadi anggota klub lari, sebagai pelari terakhir pada lomba estafet 800 meter. Aku tak pernah menyangka kalau aku akan mengemban peran sangat penting dalam lomba terakhirku di sekolah SMP. Aku ingin melarikan diri, tapi aku tidak punya keberanian untuk menolak suara mayoritas. Dan, aku juga tidak bisa berusaha keras dan mempersiapkan diri, jadi hari lomba tiba saat aku masih ragu-ragu.

Biasanya, aku tak pernah berkeluh kesah di hadapan Touka, tapi jika aku akan melakukannya suatu hari, hari ini adalah salah satunya. Ini terjadi saat kami di kelas. Sejujurnya, aku ingin kembali ke rumah sekarang; Aku dihancurkan oleh tekanan yang berpotensial menghancurkan kenangan teman-teman sekelasku. Itulah yang aku katakan padanya.

Lalu kemudian, Touka dengan cerianya memukul pundakku, dan dengan polos mengatakan:

"Siapa yang peduli dengan teman sekelasmu? Jika kau ingin berlari demi seseorang, berlarilah untuk diriku."

Karena penyakit asma serius yang dideritanya sepanjang hidup, dia tidak pernah berlari secepat yang dia bisa. Dia selalu menonton dari pinggir saat jam olahraga, dan hampir tak pernah menghadiri kegiatan yang menuntut fisik seperti hiking atau pelajaran ski. Dan di lomba lari ini, sementara dia akan hadir, tapi bukan sebagai peserta. Dia sendiri menolak dipilih supayatidak ingin menimbulkan masalah. 
Seketika kalimat "Berlarilah demi diriku" keluar dari mulutnya, rasanya seolah-olah itu membawa arti yang sangat spesial. Tidak hanya itu, ucapannya tidak mengandung tekanan sama sekali.

Ya. Apa yang aku takutkan? Touka adalah seseorang yang sangat penting bagiku. Dan Touka takkan kecewa padaku terlepas dari  hasil dari lariku. Bahkan, dia pasti akan memujiku apa pun yang terjadi.

Beban yang terus memberati pundakku mulai menghilang.

Dalam lomba lari estafet hari itu, aku melewati dua lawanku dan finish di tempat pertama. Dan kemudian,  saat aku kembali ke tempat teman sekelasku, aku pingsan dan dibawa ke ruang UKS. Aku ingat tengah berbaring di tempat tidur sementara Touka duduk di sampingku seraya mengucapkan  "itu sangat keren sekali" berulang kali. Tapi kesadaranku memudar setelah kelelahan fisik dan terbebas dari tekanan, jadi aku langsung cepat tertidur. (Ini mungkin terjadi ketika "ciuman ketiga" terjadi.)

Pada saat aku bangun, upacara penutupan sudah selesai dari tadi. Di luar sudah gelap, dan Touka berdiri di samping tempat tidur, menatap wajahku.

"Waktunya pulang?", Ucapnya sambil tersenyum.


………………………………..
Aku kembali ke kenyataan.

Yeesh, kau benar-benar tidak memiliki kehidupan sendiri, pikirku, merasa kecewa dengan diriku sendiri.

Jika terus seperti ini, hidupku akan berakhir cepat sekejap mata tanpa memiliki apapun selain kenangan fiktif.

Aku melihat yukata biru tua. Pada saat yang sama, aku melihat bus mendekati halte bus. Aku menghabiskan energi terakhirku untuk berlari ke arahnya. Pada dasarnya aku tidak pernah berolahraga sejak mulai kuliah, dan aku merokok satu bungkus sehari, jadi paru-paru, jantung, dan kakiku didorong hingga batas. Sudut-sudut pandanganku mulai kabur karena kekurangan oksigen, dan tenggorokanku membuat suara kasar karena napas yang ngos-ngosan.

Biasanya, aku mungkin takkan pernah sampai. Tapi melihatku berlari dengan basah kuyup tanpa payung, sang sopir sepertinya menunggu sedikit sebelum menjalankan busnya.

Untungnya, aku berhasil naik bus, tetapi aku tidak langsung berbicara dengannya. Aku meraih pegangan, dan bersandar di atasnya sambil menarik napas. Air hujan menetes dari rambutku ke lantai. Jantungku terus berdegup kencang layaknya pekerja proyek bangunan. Meski tubuhku basah, tapi di dalamnya terasa panas, seolah-olah sel-sel darahku mendidih. Kakiku bergetar dan hampir tidak bisa menahanku, jadi aku hampir jatuh setiap kali bus tersentak.

Akhirnya, begitu aku menarik napas, aku mendongak.

Tentu saja, dia masih di sana.

Dia duduk di kursi bagian belakang, melihat keluar jendela dengan lesu.

Hatiku yang tenang kembali dilemparkan ke dalam kekacauan.

Aku langsung menuju ke arahnya.

Mungkin karena senyawa otak mengeluarkan cairan saat aku berlari, aku merasa seperti aku mampu berbicara dengannya sekarang.

Aku belum memutuskan apa yang harus dibicarakan. Tapi aku yakin semuanya akan berhasil. Begitu aku mulai berbicaranya, sisanya pasti akan mengalir secara alami.

Setidaknya, aku mempunyai iitu.

Usai berhenti tepat di sampingnya, aku meraih pegangan bus.

Aku mengambil nafas dalam-dalam.

"Um."

Hanya kata itu yang bisa kuucapkan.

Sihir musim panas hancur dalam sekejap.

Wanita yang melihat ke luar jendela menengok ke arakhu.

"...Maaf, ada apa?"

Dia menatapku dengan ragu.

Dan dia tidak terlihat seperti “dirinya”.

Dia hanya bisa dibilang mirip dalam fisik dan rambut, dan sisanya tidak, dengan kata lain dia tidak mirip seperti Touka Natsunagi. Hampir seperti seseorang tahu aku akan membuat kesimpulan dan dengan licik menempatkannya di sana sebagai jebakan.

Semakin aku menatapnya, dia terlihat sangat jauh berbeda dari Touka. Aku tidak merasakan sedikit pun kecantikan serta keanggunan wanita yang kulihat di kuil itu. 
Bagaimana mungkin aku salah menyangka wanita ini sebagai “dia”? 
"Umm, apa anda butuh sesuatu?" 
Wanita yang mirip Touka menanyaiku lagi dengan tatapan penuh penasaran. Aku menyadari kalau aku terlalu lama menatap wajahnya. 
Tenanglah, ucapku pada diriku sendiri. Wanita ini tidak salah apa-apa . Hanya kebetulan memakai kimono yang sama persis seperti teman masa kecil di Mimories-ku, tidak ada kesalahan sama sekali; hanya aku yang salah mengiranya.

Ya, aku sendiri yang salah. Aku tahu itu. Meski begitu, aku merasakan kemarahan yang intens. Aku bahkan tidak percaya betapa marahnya diriku. Aku merasa ada lendir hitam yang menyebar di dadaku. Mungkin saja aku tidak pernah marah pada siapa pun dalam hidupku.

Cengkeramanku pada pegangan bus menjadi kencang. Pikiranku memikirkan penghinaan satu demi satu. Beraninya kau memberiku harapan palsu; jangan berpakaian yang bikin salah paham; wanita sepertimu seharusnya tidak diperbolehkan berpakaian seperti itu; Kau bahkan tidak mirip sedikit pun dengan Touka Natsunagi; dan sebagainya.

Tentu saja, aku tidak mengungkapkannya sedikitpun. Aku dengan sopan meminta maaf karena salah mengira orang, lalu turun di pemberhentian berikutnya untuk melarikan diri. Dan aku tanpa berpikir berjalan menembus hujan.

Sambil berlindung dari badai di sebuah bar dan menenggelamkan diri dengan minuman bir murah, aku memikirkan sesuatu.

Aku akan mengakuinya.

Aku jatuh cinta dengan Touka Natsunagi.

Dan aku ingin bertemu dengannya, sampai pada level dimana aku melihat jejaknya pada orang lain yang hanya berpakaian sama.

Terus apa? Tanyaku pada diri sendiri. Seorang teknisi Mimory mendesain Touka Natsunagi sebagai orang yang sangat cocok dengan tipeku, aku tidak punya pilihan selain jatuh cinta padanya.Cuma itu saja. Ini tidak ada bedanya dengan memiliki baju yang cocok dengan tubuhmu. Rasanya akan menjadi aneh jika aku tidak mencintainya.

Mengakui akan hal itu membuatku merasa sedikit lebih baik.

Karena aku merasa lebih baik, aku bisa minum bir dengan lebih nyaman.

Dan benar saja, aku minum bir terlalu banyak.

Dalam proses memuntahkan semua yang aku makan ke toilet, terus memuntahkan, lalu kembali ke tempat dudukku, minum bir lagi, terbaring di atas meja, dan kembali ke kamar mandi untuk muntah lagi, waktu tutup pun datang, dan aku diusir dari bar. Aku berjongkok di luar untuk sementara waktu, tapi aku tahu rasa mual dan sakit kepalaku takkan kunjung membaik dalam waktu dekat, jadi aku memaksakan diri dan mulai berjalan. Jadwal kereta terakhir sudah terlewat, dan aku tidak punya uang untuk memkai taksi. Ini pasti malam yang panjang.

Aku mendengar lagu Hotaru no Hikari dari toko terdekat, dan tanpa sadar aku bersenandung dengan lirik khusus dari Touka.

Kunang-kunang yang bersinar terang
Menghilang ke dalam gelap
Begitu cepat berlalu dan begitu tidak berarti,
Sama seperti hatiku yang penuh rasa rindu.


Besok, aku pasti akan meminum Lethe, pikirku.

Karena, rasanya begitu hampa untuk jatuh cinta dengan seorang gadis yang tak pernah ada. 

uuuu

Tentu saja, jatuh cinta dengan seorang gadis yang asli pun terasa hampa dengan caranya tersendiri.

Dengan kata lain, aku adalah orang yang tidak ada juga. Hampir semua gadis yang pernah aku temui mungkin tak pernah melihatku sebagai calon pasangan romantis. Justru kebanyakan dari mereka mungkin tidak ingat namaku.

Ini adalah masalah yang lebih mendasar daripada disukai atau tidak disukai. Aku bahkan bukan bagian dari alam semesta mereka. Mungkin kita hidup di ruang dan waktu yang sama, tapi kita tidak pernah berpapasan. Aku tidak lebih dari bayangan yang melewati mereka, dan sebaliknya.

Rasanya sangat hampa bagi orang yang ada untuk mencintai orang yang tidak ada, tapi itu sama hampanya bagi orang yang tidak ada untuk mencintai orang yang ada. Dan orang yang tidak ada yang mencintai orang yang tidak ada, itu hanya ketiadaan mutlak.

Cinta adalah sesuatu yang hanya bisa terjadi antara orang yang ada.


uuuu

Matahari sudah naik dari ufuk timur saat aku tiba di apartemenku.

Aku bersumpah pada diriku sendiri kalau aku takkan pernah minum lagi, tapi pada saat yang sama aku menyadari kalau aku takkan pernah kapok dan akan minum lagi dalam waktu dekat. Pria yang suka minum-minum dan pria yang mabuk itu seperti orang yang berbeda, jadi pelajaran yang dipetik oleh seseorang takkan berlaku untuk yang lain. Satu aku hanya belajar kesenangan minum, sementara yang lain belajar pahitnya.

Tidak ada tanda-tanda orang di daerah pemukiman ini pagi-pagi. Seekor kucing liar yang tinggal di belakang kedai camilan dengan santainya berjalan melewatiku. Biasanya dia akan lari begitu melihatku, tapi mungkin mengetahui keadaanku yang lemah, itu tidak menunjukkan tanda-tanda peringatan hari ini. Seekor gagak di suatu tempat berteriak, dan seolah-olah sebagai tanggapan, seekor burung merpati di tempat lain juga ikut berkicau. 
Dengan susah payah aku menaiki tangga dan mencapai pintu. Aku merogoh-rogoh saku untuk mencari kunci, dan kutemukan di antara barang yang ada di  saku. Tugas sederhana ini membutuhkan konsentrasi yang besar. Dengan perjuangan yang cukup untuk membuatku berpikir kalau aku sedang merusak sebuah brankas, aku lalu membuka pintu. 
Saat aku meletakkan tanganku di gagang pintu, pintu di ruang 202 terbuka, dan penghuninya perlahan keluar. Aku melihat ke arah tetanggaku di tengah-tengah membuka pintu. Aku tidak tahu siapa yang tinggal di sebelah ruanganku, jadi kupikir aku akan melihat seperti apa mereka demi memuaskan hasrat penasaranku. 
Dia adalah seorang gadis. Dilihat dari penampilannya, dia berusia sekitar 17 sampai 20 tahunan. Dia berpakaian seperti dia akan pergi keluar untuk membeli minuman ringan. Anggota badannya, samar-samar menyala, seperti putih transparan, dan rambut hitamnya yang panjang nan lembut tertiup oleh angin. 
….dan seperti yang terjadi pada hari itu, waktu seakan-akan berhenti. 
Sebuah paku yang tak terlihat seolah-olah memaku kami di tempat, diriku dalam pose membuka pintu, dan dia menutup pintu dengan tangannya. 
Tidak ada yukata biru tua, atau bunga krisan merah di rambutnya. 
Namun, aku tahu itu. 
Seolah-olah kehilangan konsep kata-kata, kita saling memandang untuk waktu yang lama. 
Hal pertama untuk melanjutkan gerakan adalah mulutnya. 
“... Chihiro?” 
Dia menyebut namaku. 
“... Touka?”
Balasku tanpa sadar.

………………………………………………………
…………………………
Aku memiliki seorang teman masa kecil yang tidak pernah aku temui. Aku tak pernah melihat wajahnya, tak pernah mendengarnya berbicara. Bahkan, aku tak  pernah menyentuhnya. Meski begitu, aku tahu seberapa rupawan wajahnya, seberapa lembut suaranya. Serta, Aku tahu betul kehangatan telapak tangannya

Ternyata, Sihir musim panas masih berjalan.



close

2 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama