Omae wo Onii-chan Vol.2 Chapter 09 Bahasa Indonesia



Selasa, 30 April - Menggertak. Kelemahan. Murung.

Sebelum jam pelajaran dimulai, Mariko menghampiri tempat dudukku.
Sepertinya dia sedang dalam suasana hati yang bagus, dia senyum-senyum sendiri seolah-olah dia mendapat sesuatu. Aku mencoba bertanya apa ada sesuatu yang baik terjadi padanya dan mendengar kalau dia sudah menyelesaikan salah satu kekhawatirannya.
Itu adalah masalah dengan adiknya, pacar Chitose-chan.
Omong-omong, secara kebetulan Mariko punya masalah yang sama denganku.
Tidak, mengatakan kalau itu masalah akan menyiratkan hal yang buruk. Aku merasa terganggu mengenai aku harus bersikap bagaimana terhadap adikku yang baru punya pacar.
Mariko tidak menyelesaikan apa-apa, melainkan dia berbicara tentang hal itu dengan adiknya, Chitose-chan.
Untuk meringkasnya ... pacarnya adalah seorang selebriti. Dan tentu saja, itu adalah cinta yang tak terbalas Chitose-chan.
Ketika Mariko menguatkan dirinya dan memintanya untuk menunjukkan foto, adiknya menunjukkan foto anggota dari grup idola populer.
Adapun ajakan belanja kemarin, Mariko pasti ingin berkonsultasi masalah Chitose-chan denganku.
Tapi, dia dengan mudah menyelesaikan masalahnya sendiri dan memberitahuku untuk tidak perlu khawatir tentang hal itu.
Sekarang, rasanya seperti aku bisa berkonsultasi masalah Tomomi dengan Mariko.
Namun, seperti yang aku pikirkan, masalah antar saudara harus diselesaikan sendiri, aku harus mengatasinya dan melangkah ke depan. Juga, aku masih belum berbicara dengan Mariko tentang keberadaan adik-adikku.
Mengenai pacar teman adikku ... semacam kebohongan bertele-tele seperti itu tidak terlalu baik.
foto pacar ... ya.
Jika aku bilang kalau aku ingin melihat foto, Tomomi mungkin akan menolak. Entah bagimana, aku merasakan hal tersebut.

uuuu

Sepulang sekolah, usai berusaha menguatkan diri dengan kembali ke apartemen dan interkom ruang berdering 601.
Dia mungkin tidak ingin melihat wajahku dan memakai kunci rantai ...…perasaan cemas semacam itu membebani hatiku.
“Selamat datang kembali Nii-chan!”
“Y-ya. Aku pulang, Tomomi.”
“Ayo masuk, ayo masuk.”
Diajak oleh Tomomi, aku memasuki apartemennya.
Aku melewati ruang tamu dan duduk di sofa. Tomomi membawa lebih dari dua botol cola dari kulkas di dapur.
“Apa kabarmu hari ini Nii-chan?”
Aku menerima botol cola dingin, membukanya dan menegaknya langsung.
“Ohh! Kamu pasti sangat kehausan ya.”
“Puhaa! Segarnya.”
Kata-katanya terhenti. Tomomi tampak agak gelisah.
“Hei, Tomomi!”
“Nii-chan!”
Tak tahan dengan suasana hening, kami berdua dengan waktu yang hampir bersamaan saling memanggil satu sama lain.
“Ap-Apa? Silahkan kau duluan, Tomomi.”
“Tidak, tidak, Nii-chan aja yang duluan.”
“Kau tidak perlu menahan diri.”
“Mana ada.”
Karena kami memaksa satu sama lain, aku berdehem ringan.
“Um, kalau begitu aku akan menerima tawaranmu. ... Tomomi, apa hubunganmu berjalan lancar dengan pacarmu?”
Sesaat, ekspresi Tomomi membeku, wajahnya masih tersenyum.
“Te-Te-Te-Tentu saja. Nii-chan tidak perlu mengkhawatirkan itu.”
“Begitu ya. Jadi, kapan kau akan memperkenalkan dia?”
“Me-Memperkenalkan?”
“Yah, mungkin rasanya akan sedikit canggung baginya. Situasi keluarga kita memang sedikit rumit.”
Tomomi mengangguk berkali-kali.
“Memang, menjelaskannya akan sedikit sulit, aku merasa tidak enakan pada Nii-chan tapi memperkenalkan dirinya akan sulit ...”
“Lalu, bagaimana kalau menunjukkan fotonya?”
Wajahnya langsung pucat.
“Ga-gambar dan seperti yang NG.”
“Jadi kau tidak punya foto bersama dia?”
“Yup. Dia agak pemalu, sih.”
“Begitu rupanya. Dia itu orangnya macam apa?”
“Umm ... perawakannya agak mirip seperti Nii-chan, kepribadiannya sedikit serius tapi kadang-kadang bisa sedikit aneh. Dia juga orangnya perhatian. Dia tidak menceritakan lelucon dari dirinya sendiri dan lebih seperti membalas lelucon orang lain. Sedikit kikuk dan cukup bersinar ketika aku main-main dengannya, aku kira. Juga, dia punya bagian baik tentang dirinya ...”
Ekspresi Tomomi langsung berubah feminim sepenuhnya. Hanya dengan berpikir tentang orang itu saja sudah bisa membuat wajah Tomomi berubah seperti ini …... Tapi, dari cara Tomomi menggambarkannya, dia kelihatannya bukan anak nakal.
“Namanya? Umur? Ah ... maaf. Karena terlalu penasaran pasti tidak baik walau kita bersaudara.”
“I-Itu benar Nii-chan, Kamu juga tidak menceritakan apa-apa tentang teman masa kecil pacarmu itu. Hal tersebut bukan sesuatu yang ingin kamu ceritakan pada adikmu, ‘kan?”
“Mariko adalah teman masa kecilku, tapi kami tidak punya hubungan seperti apa yang kau bayangkan!”
Kedua bahunya gemetaran saat dia menatapku.
“La-Lagian, apa niat Nii-chan setelah mengetahui tentang pacar adikmu?”
“Tidak ada.”
“Lalu, kamu tidak perlu bertanya.”
“Aku takkan melakukan apa-apa, tapi aku merasa khawatir.”
“Kamu khawatir?”
“Ya. Aku khawatir. Aku akan berbohong jika aku bilang tidak khawatir.”
“Tentang itu ... seberapa banyak yang kamu khawatirkan?”
“Walau kau bertanya seberapa banyak ...”
“Apa sampai kita berjalan bergandengan tangan? Atau, apa sampai kita be-berciuman? Ka-Kamu khawatir tentang hal semacam itu?”
“Ka-Ka-Kau sudah pernah ?!”
“Ti-Ti-Tidak!”
“Begitu ya...”
Aku merasa lega dalam hati.
“Ah! Baru saja, kamu merasa lega? Kamu merasa lega, iya ‘kan ?!”
“Ti-Tidak juga kok ….”
Tomomi tersipu dan segera mengubah topik.
“Oke! Sudah cukup. Ayo lupakan masalah pacar dulu, mending kita bermain game, Nii-chan! Enaknya main apa ya, hmm. Daripada game pertandingan, sesuatu yang bisa bermain bareng jauh lebih baik. Oh benar, permainan di mana kamu mengamuk di kota pasti bagus. Ayo kita serang kantor polisi bersama-sama! Kita akan memborbardir mereka dengan roket peluncur Tomomi-chan!”
“Game anti-sosial banget!”
“Ehh. Kalau begitu, game yang ini tidak bisa bekerja sama, tapi kamu bisa menjadi diktator sebuah negara kecil dan memeras uang pembayar pajak untuk mengisi rekening bankmu di Swiss,  mau coba? Kamu bisa menyingkirkan orang-orang yang ingin ikut campur dalam urusan politik dan menghabisi demonstran dengan menggunakan tentara, atau bahkan pembunuh bayaran. Ketika ada kudeta kamu bisa memberikan beberapa orang untuk promosi jabatan di tentara untuk menghentikan itu. itu Cuma hal sepele tentang hal itu.”
“Aku tidak bisa membayangkan itu, tapi aku akan menahan diri. Namun, Kau benar-benar sesuatu bisa menemukan permainan seperti itu.”
“Sudah kubilang kalau aku makan dari permainan. Aku tidak sekedar main-main belaka!”
Mengatakan itu dengan ekspresi puas, tampaknya dia bersenang-senang.
“Selama kencan tempo hari, apa lebih baik kita pergi ke pusat permainan?”
“Ni-Nii-chan! Lupakan! Lupakan semua itu!”
“Meski kau  menyuruhku begitu ...”
“Lupakan itu! Ini semua baik-baik saja. Bisa bermain game bersama Nii-chan saja sudah membuatku cukup senang. Kita tidak perlu pergi ke mana-mana. Sebagai adikmu saja sudah membuatku cukup senang.”
Ujar Tomomi sembari tertawa . Tapi, tatapan matanya terlihat sedih.
Dia memaksa dirinya untuk tertawa.
Sebuah ekspresi yang tidak seperti dirinya.
Tomomi percaya bahwa kencan yang sebelumnya adalah kegagalan. Jika dia menjadi trauma dengan kencan, itu akan menjadi tanggung jawabku.
Berkencan dengannya sangatlah menarik.
Aku tidak bisa bilang kalau tidak ada kegagalan saat itu, kupikir aku juga gagal. Bagaimana itu bisa terjadi, aku sendiri belum terlalu mengenal diriku sendiri. Itu sebabnya aku pikir mengatakan itu saja tidak cukup.
Tapi, semuanya terasa menarik. Aku cukup bersenang-senang.
Kami hanya perlu merenungkannya dan memanfaatkannya.
Balas dendam itu mungkin. Ini harus dilakukan.
“Itu benar. Hei, Tomomi ... ayo kita pergi kencan.”
Tomomi membuka mulutnya terbuka setengah, namun tidak ada suara yang keluar.
“Sekali lagi, tolong berkencanlah denganku.”
Saat aku menekankan bagian itu, Tomomi akhirnya sadar kembali.
“Ke-kenapa, Nii-chan? Meski kamu berkencan denganku ... eh ... um ... lihat ... saat itu Nii-chan ... tidak bersenang-senang ... Aku tidak memiliki bakat untuk kencan ...”
Tomomi merasa takut, mirip seperti rusa yang terluka.
“Aku merasa senang. Bisa mengunjungi ke tempat yang biasanya takkan aku kunjungi rasanya seperti melakukan petualangan besar! Itu sebabnya, sebagai ucapan terima kasih, aku ingin kau membiarkanku memandu kencan saat ini.”
“Nii-chan akan ... memutuskan rencana kencannya?”
“Ya. Kita akan pergi kemana dan apa yang akan kita lakukan. Aku akan mempertimbangkannya sendiri.”
“Jadi Nii-chan ingin berlatih kencan juga? Lalu, mungkin dengan Sayuri atau Yuuki ...”
“Itu harus kau, Tomomi. Menyelesaikan praktek kencan denganku dan menaklukkan ketakutanmu!”
“Ka-Kamu tidak perlu melakukan itu.”
“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi berkencan dengan pacarmu sambil masih kepikiran dengan kegagalan dalam kencan. Jadi, ayo kita lakukan kencan yang menyenangkan bersama-sama.”
Aku memegang tangannya dengan kedua tanganku. Tomomi mengangguk dengan kata "Yup".
Sepertinya dia mengakui itu.
Baiklah. Ayo kita melakukan yang terbaik! Ayo kita atur rencana kencan supaya Tomomi bisa menikmatinya!



close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. Jadi penasaran nanti endingnya kek gimana nanti ini novel

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama