Kamis, 2 Mei
- Serius. Kesetiaan. Konseling.
Mariko masih dalam suasana hati
yang bagus dari kemarin dan tersenyum lebih lebar dari biasanya.
Karena orang yang disuka adiknya,
Chitose-chan suka adalah penyanyi idola, kekhawatirannya sudah hilang ... apa
ini? Mariko akhirnya berkata “Aku mungkin
kakak yang overprotective”, tapi aku tidak tahu bagaimana harus membalas perkataannya
itu.
Pengalamanku menjadi 'Onii-chan' hanya satu bulan. Di sisi
lain, pengalaman Mariko sebagai kakak sudah lebih dari sepuluh tahun.
Waktu yang dihabiskan bersama-sama
dengan adiknya ... dengan keluarga ... tidak relevan! Aku belum mampu untuk
menegaskan diri. Kami masih menjadi orang asing sampai bulan lalu.
Namun, aku ingin memberi mereka
sesuatu.
Ketika aku samar-samar memikirkan
itu, Mariko mulai berbicara denganku mengenai PR.
Dan pada seluruh waktu ini
jawaban untuk pertanyaan apa yang aku ingin makan itu ditahan.
Melihat aku sedang termenung,
Mariko bilang "permintaan diterima" dan tersenyum. Entah bagaimana
aku merasa seperti aku melakukan sesuatu yang buruk padanya sepanjang waktu.
Pada akhirnya apa yang akan dia
masak, bahkan saat aku bertanya, dia tidak mau memberitahuku.
Sungguh... apa yang sebenarnya
terjadi padaku.
Hanya saja, Mariko tidak
menunjukkan tanda-tanda kemarahan, maupun kesedihan, dia terus tersenyum dan
tidak bertanya lebih jauh.
Dari awal, ini adalah salahku
karena tidak bisa memutuskan. Namun, rasanya aneh mendengar bahwa permintaan
itu diterima begitu saja.
uuuu
Aku pulang ke rumah saat masih
cemas mengenai Mariko.
Hari ini Yuuki sedang menungguku
di kamar apartemennya. Sementara dia senang, aku khawatir bahwa masalah tur
klub mungkin tidak bekerja.
“Selamat datang kembali Nii-san.
Ayo, masuk.”
“A-aku pulang.”
Ketika aku melewati ruang tamu
dan duduk di sofa, Yuuki segera membuatkanku kopi. Bahkan tanpa meminta, dia sudah
menyediakan susu dan banyak gula.
Yuuki duduk sambil menyesap
kopi hitam dan menatapku.
“Aku mau melaporkan sesuatu
pada Nii-san hari ini.”
Matanya berbinar.
Bagus. Tampaknya tur klubnya
berjalan sukses.
“Sepertinya ada sesuatu yang
baik terjadi?”
“Yep! Sebenarnya aku melakukan
tur klub upacara minum teh.”
Saat dia tersenyum, aku pun
ikutan tersenyum sendiri.
“Ohh. Itu bagus. Apa kau tidak
gugup karena dikelillingi gadis-gadis?”
“Ak-Aku melakukan yang terbaik.
Aku pikir itu juga berkat Nii-san dan semuanya.”
Yuuki menunduk sambil tersipu
malu.
Dia adalah gadis jujur, lembut
dan polos. Meski dia cenderung pendiam, Yuuki adalah seorang gadis yang benar-benar
baik. Secara tidak sengaja, kasih sayang terhadap adikku berubah menjadi
keinginan duniawi.
“Jadi, bagaimana dengan
turnya?”
“Aku disuguhi teh hijau dan
cemilan. Singkatnya sih, aku juga diajari tata cara upacara minum teh. Upacara
teh tampaknya formal, tradisional dan kaku tapi semua orang adalah orang yang
baik, mereka semua menyambutku dengan senang hati.”
Aku lega Yuuki mampu
melakukannya dengan baik.
“Begitu ya. Kau sudah berusaha
dengan baik, Yuuki.”
“Ini berkat dorongan Nii-san.
Dan begitu, Nii-san ... Aku berpikir untuk mengikuti klub setelah masuk SMA.”
Yuuki juga sedang mencoba untuk
mengambil langkah maju. Sebagai kakaknya, aku harus mendukungnya.
“Ada berbagai macam klub di
SMA, apa kau berniat masuk ke klub upacara minum teh?”
Dia mengangkat alisnya, tampak bermasalah.
“Demi memoles girl power milikku yang kurang, kurasa
masuk ke klub feminism akan lebih baik, ‘kan?”
“Aku ingin melihat penampilanmu
selama upacara minum teh. Kupikir Kimono pasti akan sangat cocok denganmu,
Yuuki.”
Tiba-tiba, wajah Yuuki memerah
sampai ke telinganya.
“I-I-I-I-Itu mustahil. Mana
mungkin kimono akan cocok untukku.”
“Tidak perlu panik sampai
segitunya.”
“Ta-Ta-Ta-Tapi ... itu beneran
mustahil, Nii-san.”
Yuuki berseru sambil
berlinangan air mata.
“Apa kau tidak menyukai
kimono?”
“Or-Orang bilang pakaian
J-Jepang tidak cocok dengan payudara besar ... bukan itu, se-sebenarnya ... aku
tidak bisa duduk bersimpuh. Kakiku akan keram dan mati rasa. Hari ini juga,
selama tur klub upacara minum the, mereka harus memijat kakiku ... dan itu
membuatku malu.”
Sungguh orang yang unik ...
bukan, aku pikir biasanya seseorang bisa terbiasa duduk bersimpuh ...
“Aku juga tidak bagus dalam
keduanya, jadi aku takkan mengatakan apa-apa. Ah! Lalu, bagaimana dengan tehnya
sendiri?”
“Aku masih lebih menyukai kopi,
sih.”
Mungkin Yuuki terlalu doyan
kopi ketimbang melakukan upacara minum teh.
“Ya-Yah masih ada itu. Aku sendiri
tidak terlalu tahu dan cuma memiliki gambarannya saja, tapi dalam upacara minum
the, ketimbang minum teh untuk diri sendiri, ini lebih tentang melayani pengunjung
dengan etiket yang indah. Semangat dalam pelayanan, sesuatu macam itu .”
“Be-Begitukah?. Yeah ...
pelayanan sangatlah feminin. Namun aku ... benar-benar tidak mampu untuk
menyambut ...”
Yuuki malah jadi depresi ?!
Sepertinya aku membuat kesalahan
dalam cara memandu topik pembicaraan.
Kegiatan klub tidak sebatas
hanya itu saja.
“Oh benar! Jika itu kau,
bukannya klub olahraga juga oke? Karena kau bertubuh tinggi, kau mungkin akan
disambut di klub basket atau bola voli.”
“Aku cuma pernah melakukanya
pas pelajaran olahraga saja, apa itu tak masalah untuk pemula baru ikut klub
begitu pas SMA? Aku khawatir kalau aku hanya merepotkan mereka saja.”
Dia rendah hati, tapi seperti
yang kuduga, dia terlalu merendahkan dirinya.
Aku ingin Yuuki memiliki rasa percaya
diri.
“Semua orang adalah pemula
ketika mereka baru pertama kali memulai sesuatu, aku tak berpikir itu terlalu
terlambat memulainya saat SMA. Sejujurnya, aku juga, aku cuma seorang Onii-chan
pemula yang punya pengalaman kurang dari satu bulan.”
Yuuki tiba-tiba tertawa.
“Fufufu! ... ah., Maaf Nii-san.
Aku terkejut karena kamu mengatakan sesuatu yang aneh.”
“Ini bukan hal yang aneh. Oh,
itu benar! Bagaimana dengan klub drama?”
“A-Aku bermain drama ?! aku
tidak bisa melakukannya!"
“Tidak, tidak, kupikir
seharusnya kau jangan bilang mustahil dari awal. Maksudku, kau bisa berperan
jadi laki-laki maupun perempuan.”
Kuncir kudanya bergoyang ke
kiri dan kanan seperti ekor anjing.
“Terlepas dari peran laki-laki
atau perempuan, itu masih hal yang mustahil bagiku untuk berakting di depan
publik!”
“Aku pikir memiliki keberanian
adalah hal yang bagus. Dan juga, dalam drama tidak hanya aktor, tapi ada juga
orang yang bekerja di balik layar, ‘kan? Seperti pengaturan pencahayaan, efek
suara dan kostum. Juga, alat peraga kecil dan besar. Ada banyak peran yang
tersedia, kau mungkin menemukan sesuatu yang bisa menarik minatmu, Yuuki.”
“Kamu tahu banyak, ya, Nii-san,
kamu memang sangat menakjubkan.”
Rasanya sangat mengganggu bila
kau melihatku dengan begitu banyak rasa hormat, Yuuki-san.
“Aku tidak terlalu banyak tahu,
kok.”
"Um ... klub drama
kelihatannya bagus, tapi apa ada kegiatan klub lain? Di SMA mungkin ada banyak
klub daripada di SMP, ‘kan?”
Itu benar, tapi klub apa yang
mampu membuat Yuuki menjalani kehidupan SMA dengan puas? Karena diriku, yang
sedari SMP tidak pernah mengikuti klub manapun. Jadi, aku tidak bisa memberinya
saran ...
Omong-omong, selama jadi
anggota OSIS SMP, aku berbicara dengan banyak orang yang memimpin dari berbagai
klub dan juga menghadiri pertemuan antar klub atas nama ketua OSIS.
Di sekolah SMP ada klub bisbol,
klub tenis, klub sepak bola serta klub lari dan sejenisnya. Dari seni, ada klub
musik ... hmm, klub macam mana yang bisa memanfaatkan bakat Yuuki?
Karena aku merasa Yuuki bisa melakukannya dengan baik di klub
mana saja, tidak ada sesuatu yang istimewa seperti "ini dia!" yang cocok dengan gambarannya.
“Ba-Bagaimana pun juga! Jika
itu kau, entah itu klub olahraga atau budaya, aku pikir kau bisa melakukannya
dengan baik, Yuuki. Aku jamin itu.”
Kau bisa melakukan apa saja! Saran
semacam itu sangat tidak baik. Tapi, Yuuki membalas dengan senyum.
“Terima kasih, Nii-san. Oh iya,
ceritakan tentang masa-masa SMP-mu, Nii-san.”
“Tentang aku?”
Yuuki mengangguk dalam-dalam.
“Aku ingin tahu sebagai
referensi.”
“Walau aku menganjurkanmu untuk
ikut kegiatan klub Yuuki, sebenarnya aku sendiri tidak ikut klub manapun.”
“Eh ?! Be-Benarkah?.”
Saat Yuuki masih dalam keadaan
terkejut, aku terus melanjutkan.
“Tapi aku jadi anggota OSIS.
Aku membantu dengan tugas-tugas kecil saat kelas satu dan akhirnya aku menjadi
wakil ketua OSIS.”
“Jadi bukan ketua melainkan
jadi wakil ketua. Aku terkejut ada orang yang lebih hebat dari Nii-san.”
Dia mendesah dengan ekspresi
kaget.
“Hey hey, kau pikir aku ini
orang macam apa.”
“Nii-san yang menakjubkan yang
memikirkan adik-adiknya, tentu saja!”
Yuuki terlalu jujur, dia adalah
gadis yang kebal terhadap sarkasme.
Dia benar-benar mengagumiku ...
ahh, sial. Hatiku terasa sakit.
Aku bukanlah orang yang pantas
dihormati Yuuki. Sebaliknya, aku hanyalah gumpalan sampah yang tidak kompeten.
Maaf.
Dan, ketika aku mulai depresi
karena kekacauan pikiranku, Yuuki terus menatap ke arahku.
Tolong hentikan! ketidakberhargaanku
sendiri akan membuatku mati!
Aku menurunkan bahuku dan mulai
membuat alasan.
“U-uhhh ... berkat memimpin
junior di OSIS, aku bisa berbicara normal dengan Yuuki, maksudku ... saat itu
aku bertanggung jawab atas junior yang mana aku dipuji oleh Ketua OSIS. Tapi ,
cuma tentang hal itu, bahkan setelah aku menjadi wakil ketua OOSIS tidak ada
yang berubah dari apa yang aku lakukan sejak kelas satu, aku bukanlah orang
yang pantas kau hormati. Orang yang layak dihormati adalah orang-orang yang
berdiri di atas dan membuat keputusan.”
Kalau dipikir-pikir lagi, ketua
OSIS saat itu mendorong semua pekerjaan dengan junior padaku.
Berkat itu, ketika aku mendadak
mendapat lima adik, aku entah bagaimana bisa bertindak seperti Onii-chan mereka...
pikirku. Walau ada banyak yang tidak bisa kulakukan, sih.
Aku
sudah yakin sekarang, itulah yang tertulis di wajah Yuuki.
“Jadi Nii-san sangat perhatian
karena kamu punya pengalaman, ya. Seperti yang kuduga, Nii-san memang
menakjubkan.”
“Jangan memujiku! Rasanya
memalukan!”
Yuuki menggelengkan kepalanya.
“Aku akan terus memuji Nii-san.
Karena Nii-san selalu memujiku, aku ingin membalas budi sedikit. Nii-san sangat
perhatian, pandai dalam membuat kari ... dan ... ke-keren.”
Wajahnya yang memerah itu
sangat feminim dan manis.
Saat kita berduaan, ekspresi
Yuuki dari waktu ke waktu membuat jantungku berdetak kencang.
Meski dia bilang kalau dia
kurang feminim, Yuuki adalah permata dengan girls
power yang tersembunyi. Usai dipoles di beberapa tempat, dia sudah mulai
bersinar.
Sembari wajahnya yang memerah
hingga telinga, dia mengulangi lagi dengan panik.
“It-Itu benar. Nii-san
benar-benar, sangat keren!”
“Te-Terima kasih! Ta-Tapi
mending kita hentikan ini! Lebih dari ini akan berbahaya!”
Ketika kita memuji satu sama
lain, suasananya berubah menjadi aneh. Juga, rintangannya berubah jadi terlalu
tinggi. Tidak bisa memenuhi harapan Yuuki akan membuatku mulai merasa semakin
tidak berguna.
Ucapanku “percaya dirilah” pada Yuuki telah kembali seperti bumerang dan
menusukku ....
“Hei, Yuuki. Apa kau tidak suka
dipuji olehku? Apa itu berubah menjadi tekanan?”
“Ra-Rasanya memang memalukan,
tapi aku tidak membencinya. Itu karena Nii-san adalah orang yang baik. Aku
benar-benar merasa senang.”
Yuuki membuat senyum riang dan
melanjutkan.
“Aku mengagumi Nii-san, aku
pikir itu sebabnya aku menghormatimu.”
“Rasa hormat, kau ini ...”
“Maksudku, Nii-san juga punya
kehidupan sekolah tersendiri, kehidupan tersebut mungkin akan berakhir besok
atau ada kemungkinan itu akan berlanjut sampai minggu depan, atau minggu
depannya lagi. Jadi, karena Nii-san punya teman, bila kamu ingin pergi ke suatu
tempat dengan mereka sepulang sekolah, nongkrong... aku ingin kamu tidak perlu
mencemaskan diriku dan tinggal lakukan saja.”
Sambil condong ke depan, Yuuki
menatap wajahku dengan serius.
“Tapi……lalu…...”
“Kita bisa bertemu lagi pada
hari Sabtu dan Minggu, ini adalah keputusanku. Aku ingin Nii-san menghabiskan
waktu penuh arti. Tentu saja, jika kamu tidak punya rencana lain, dengan senang
hati aku akan menyambutmu.”
“Y-ya, terima kasih.”
Wajah Mariko terlintas dalam
pikiranku. Sejak Yuuki mengusulkannya sendiri, jika kesempatan seperti itu datang
lagi, aku akan menerima tawarannya.
“Baiklah, hari ini aku akan
membuat kari dan Nii-san yang akan memakannya!”
Usai bilang begitu, Yuuki mulai
menyiapkan makan malam.
Bahan rahasia karinya, entah
bagaimana aku bisa membayangkannya ... kopi instan.