Soudana, Tashika ni Kawaii Na Chapter 04 Bahasa Indonesia

Memori 4 : Karaoke dan Smartphone serta Diriku

Sesuai rencana, aku menerima surat persetujuan dari orang tuaku, dan menuju ke lokasi di mana aku seharusnya bertemu dengan Koori.
Ditanya tentang keluargaku, aku pikir aku tak pernah memberikan detail sebanyak itu. Aku punya kecenderungan untuk tidak terlalu terlibat dengan orang lain, dan tidak ada banyak orang yang ingin tahu tentang orang tuaku secara lebih formal, belum lagi aku mencoba menghindari itu sebisa mungkin.
Selain dari perilaku orang tuaku, kepribadian serta aspek-aspek lain tentang mereka tampaknya sangat kontras dengan apa yang kau sebut akal sehat. Penjelasan yang singkat akan menimbulkan kesalahpahaman, dan mencampurinya jujur saja sangat merepotkan. Karena itu, aku berusaha menghindari pembicaraan tentang keluargaku, tapi—
Untuk beberapa alasan, aku tidak membencinya sama sekali saat aku berbicara dengan Koori tentang hal itu. Sebaliknya, aku ingin dia memahami keadaan. Meski dia tidak ada hubungannya dengan itu, tapi Koori berbeda ...
“Yah, Koori bukanlah orang asing ...” Gumamku, lalu membuka mataku lebar-lebar karena kebodohanku sendiri.
Kata-kataku barusan membuatnya terdengar seperti Koori adalah keluarga bagiku. Sungguh arogan, keangkuhan yang konyol. Tapi, bahkan lebih dari itu….
“………”
Anehnya aku merasakan perasaan nyaman saat memanggil Koori sebagai keluargaku. Apa seseorang seperti diriku, yang dengan tidak tahu malunya, benar-benar diizinkan untuk memiliki model smartphone yang sama dengan Koori ... ? Ketimbang, sebelum pikiranku membayangkan lebih jauh dari itu, aku melihat sosoknya.
Pada saat yang sama ketika kebahagiaan memenuhi kepala dan hatiku, wajahku mengendur. Dia sedang menunggu di depan toko KQ. Mengistirahatkan tubuhnya, dibalut pakaian pribadi, bersandar di pagar, dan ... apa namanya ... memakai headphone di kepalanya, tampaknya sedang mendengarkan musik.
Itu benar-benar sangat cocok untuknya. Meski dia hanya mengenakan headphone — dia terlihat sangat manis. Pakaiannya juga. Aku tidak tahu apa sebutan mereka, tapi sepertinya mereka dibuat untuk Koori dan hanya untuknya ...
“Ah, Sen — Wah, apa-apaan dengan ekspresi sedih itu ?! Apa kamu terluka ?!”
Dia melepas headphone, dan dengan cepat bergegas ke arahku. Sosoknya terlalu menyilaukan, aku tidak bisa menatap langsung padanya.
“Koori ... aku ...”
“E-Eh, ada apa ini? Apa kamu tidak bisa mendapatkan persetujuan dari orang tuamu ?! ”
“Tidak, aku berhasil mendapatkannya dengan sempurna.”
“Eh? Ah, syukurlah, Fiuh ... ” Koori menghela nafas lega, hampir seolah-olah dia merasa bahagia untuk dirinya sendiri.
Melihat itu, aku merasakan sakit yang menyayat dadaku. Koori bersikap sangat baik terhadapku, namun aku ...
“Aku bisa mendapatkan kontrak, tapi ... Apa aku memiliki hak untuk menggunakan model yang sama denganmu, Koori ...?”
“…Hah?” Mata Koori berkedip kaget, dan membeku sesaat. “Pff ... Ha-Hak?! Hak untuk menggunakan model yang sama, katanya !! Ahahahahaha !! ”
Dia tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya saat dia membungkuk ke depan. Dia terus tersenyum, sambil melanjutkan, seolah-olah itu adalah hal yang normal untuk dikatakan.
“Tentu saja kamu punya hak untuk itu! Ayo pergi ~ ”
Senyuman itu. Aku bisa melihat ini sepanjang waktu — untuk selamanya.
“Ayo, Senpai! ”
Sampai Koori memberi isyarat untuk memasuki toko dengan tangannya yang melambai, aku bahkan tidak dapat bergerak satu inci pun dari tempat itu.

ghghghgh

Akhirnya, Senpai mengikutiku ke dalam toko, di mana Onee-san yang baik hati memandu kami ke dua kursi terbuka, dimulai dengan layanan pelanggan. Ketika dia bangkit dari kursinya untuk memeriksa beberapa hal, aku ingat kejadian tadi, dan mulai menyeringai lagi.
Ya ampun ~ Senpai benar-benar terlalu lucu ..... Ia terus membuatku tertawa karena hal-hal konyol. Jujur, aku bertindak seperti gadis pemalu yang sedang jatuh cinta karena aku terus berpikir kalau hari ini adalah kencan, tapi melihat Senpai bersedih seperti itu, dan mengetahui alasannya, aku terlalu sibuk tertawa untuk memikirkan tentang itu.
... Yah, adanya Senpai duduk di sampingku seperti ini saja sudah membuat jantungku berdebar lebih cepat. Saat aku mengintip ke arahnya, aku melihat Ia menatapku seperti orang gila.
“Ad-Ada apa?”
“... Apa ada musik yang diputar?”
“Musik? Apa maksudmu yang dari interior toko?”
“Tidak.” kata Senpai, sambil menunjuk headphone yang tergantung di leherku.
“Ah, sepertinya itu mulai diputar lagi.”
Kupikir aku sudah mematikannya, tapi aku pasti tidak sengaja menyalakannya lagi sebelumnya. Mengambil smartphone-ku untuk menghentikan musik, Senpai menatapku dengan ekspresi yang sangat menarik.
“Lagu apa yang kau suka, Koori?”
“Oh, kau juga suka mendengarkan musik, Senpai?”
Aku merasa seperti itu tidak pernah terjadi sama sekali saat dua tahun lalu, tapi mungkin ada beberapa pemicu yang terjadi pada salah satu dunia yang pernah Ia kunjungi? Jika demikian — aku sangat ingin mendengarnya sekali! Musik seperti apa yang sedang didengar Senpai?
Tanpa sadar aku mencondongkan tubuhku ke depan, dan menatap mata Senpai.
“Aku tidak terlalu sering mendengarkan musik ... Aku hanya ingin tahu apa yang kamu dengarkan.”
“Itu artinya…”
Kamu ingin tahu segalanya tentang diriku? ... Ah, sial ... Aku cengengesan lagi.
Ngomong-ngomong, aku hanya memberitahu semua jenis musik yang aku suka dengarkan.
“Mari kita lihat ~ Pop, rock, musik barat, lagu idol, lagu anime, vocaloid ... sebenarnya cukup banyak ... tapi sebagian besar musik yang aku dengarkan adalah rock, kurasa ~?”
“Jadi, kau suka musik rock ya.”
“Hm… aku pikir itu tergantung pada band-nya. Aku mencoba untuk menonton langsung konser  band yang aku suka.”
“Konser langsung ...”
“Ini gila keren ~! Aku pernah menonton konser langsung sebuah band yang baru saja melanjutkan aktivitas mereka setelah sepuluh tahun hiatus….. Ah, apa kamu mau mendengarnya? ”
Aku melepas headphone-ku, dan menyerahkannya kepada Senpai, yang baru saja membeku sepenuhnya.
“Ahh, aku harus menyesuaikan panjangnya.”
Aku menggerakkan tanganku pada slider headphone sehingga bisa mencapai telinga Senpai, saat aku menyadari—
Bukannya ini kesempatan yang sempurna ... untuk berbagi headphone?
Mulutku berbicara duluan sebelum aku bisa memikirkan hal ini dengan sempurna.
“Um, apa Senpai tak keberatan jika aku ikut mendengarkannya juga? Membicarakannya membuatku merasa seperti itu lagi. ”
“...? Tentu, silahkan.”
Melepaskan headphone lagi, Senpai menyerahkanku satu speaker, dan meletakkan yang lain di telinganya.
“Kalau begitu ... aku akan memakainya, oke ~”
Menekan tombol play di smartphone-ku dan meletakkan speaker lain di telingaku, tanganku dengan lembut menyentuh Senpai. Tidak, bahkan lebih dari itu — wajah Senpai tepat berada di sebelah wajahku.
….. Aku seharusnya sudah menduga hal ini ...! Berbagi headphone seperti ini berarti kita bisa sedekat ini! Memusatkan perhatian pada Senpai, samar-samar aku bisa mendengar napasnya, dan ketika aku menatap ke sebelahku — Ahh, terlalu dekat, terlalu dekat!
Bulu mata Senpai benar-benar panjang ... lehernya sangat ramping ... dan tubuhnya terlihat berotot meski Ia baru bangun dari koma ... Ya Tuhan ...! Tunggu, bukannya jantungku berdetak terlalu kencang ?! Jangan bilang ... Ia bisa mendengarnya ?!
Aku terus memberitahu diriku sendiri untuk tenang, tetapi seluruh situasi terlalu berat bagiku, yang mana bahkan tidak memungkinkanku untuk memperhatikan music yang sedang diputar.
“... Ba-Bagaimana?”
Karena tidak tahan, aku mengambil speaker, dan bertanya Senpai sambil berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan wajahku yang sedikit memerah.
“Aku sangat menyukai punk rock tipe emo ini ...”
“………”
“Senpai…?”
Senpai lalu melepas headphone, dan berbicara dengan lembut.
“Maaf ... aku tidak bisa mengatakannya.”
“Ah ... Ahh ~ Yah, semua orang punya selera masing-masing, jadi aku tidak bisa menyalahkanmu—”
“Tidak.”
Dengan tangan kanannya, Ia menyerahkan headphone, lalu mencoba menyembunyikan wajahnya dengan tangan kirinya. Dang, aku baru sadar, tapi ... wajah Senpai memerah seperti orang gila, ‘kan?
“.... Koori terlalu dekat ... jadi aku tidak bisa fokus sama sekali ...”
“——Itu.”
Itulah yang aku rasakan juga — aku hampir bilang begitu tanpa berpikir. Maksudku, bukankah Senpai terlalu manis? Dan bukannya itu berarti aku juga terlalu imut? Ugh ... persamaan matematika macam apa ini?
“... Um, boleh aku mengganggu sekarang?”
Karyawan Onee-san kembali tanpa kami berdua sadari, memanggil kami kembali ke kenyataan. Betul! Kami berada di tengah-tengah toko sekarang!
“A-Ah, ywah! Maafkan aku! Kami baik-baik saja!”
Wah, suaraku bergetar ...!
“Maaf sudah mengganggumu seperti itu ~”
... Jangan tunjukkan padaku senyum pahit itu, Onee-san ... aku minta maaf, oke?
Tapi, sebelum aku bisa meyakinkannya agar dia tidak merasa bersalah, Senpai menyelaku.
“Memang benar kau mengganggu kami, tapi aku tidak terlalu marah.”
“Senpaaaaai?!”

TTTTT

“Huff ... kupikir umurku semakin pendek setiap detik ...”
Sehabis keluar dari toko, aku menarik napas dalam-dalam. Onee-san itu benar-benar marah pada kita ...
Menengok ke arah Senpai yang terlalu jujur untuk kebaikannya sendiri, Ia sedang menatap smartphone yang baru didapat ditangannya ... Ah, Ia tersenyum ... ?! Apa-apaan dengan wajah super duper imut itu! Permisi?! Betapa polosnya dirimu! Terpolos dari yang terpolos! Imyutnyaaaaaaaaa!!!
“... Koori? Mengapa kau mengarahkan kamera semartphone-mu ke arahku?”
“—Eh? Ah, tidak apa-apa! ”
Tadi hampir saja…! Tanpa sadar, aku mengambil ponselku untuk mengambil fotonya ... Tapi, apa yang salah dengan memotretnya? Lakukan saja dengan dalih memori ...? Tidak, tapi ... —Aku berpikir masak-masak untuk membuat alasan, ketika Senpai dengan lembut menundukkan kepalanya padaku.
“Terima kasih banyak, Koori. Karena bantuanmu, aku berhasil mendapatkan smartphone baru.”
“……… Ti-Tidak masalah ...”
Ugh ... Senpai yang jujur menusuk ke dalam hatiku ...
Aku meletakkan tanganku di dada untuk mengambil napas dalam-dalam lagi, dan memasukkan sumber pikiran jahatku, headphone, ke dalam tasku.
“Dengan ini, aku akhirnya bisa menggunakan Link untuk mengirim pesan ke Koori ...”
“Ah, benar. Kita harus bertukar nomor lagi karena Senpai mendapat yang baru.”
“... Nomor ... milikku ... nomor teleponku sendiri ….”
“Apa mau aku bantu melakukannya untukmu?”
“Tidak, aku bisa melakukannya sendiri ...” Senpai mulai mengutak-atik smartphone, ekspresi rumit menghias wajahnya.
Ia menekan dengan kedua tangannya, jelas terlihat tidak berpengalaman. Dengan melihat itu saja ... Aku sudah merasa sangat puas. Mengawasinya beberapa saat, Senpai menggumamkan sesuatu mustahil, ya ... dan menjejalkan tangannya ke ruang hampa lagi. Menghentikannya di tengah jalan, aku memberi Senpai ide yang lebih baik.
“Senpai, ada tempat di mana kita bisa melakukan ini dengan lebih tenang, bagaimana dengan itu?”

TTTTT

Tempat (mungkin) terbaik untuk bermain-main dengan smartphone-mu. Itu adalah….
“Ohh, beruntung! Lihatlah ruangan yang indah ini! Senpai pergi ke belakang, ke belakang oke? ”
Mendorong Senpai yang berhenti di pintu masuk, aku meletakkan dua cangkir teh oolong yang aku beli dari bar minuman di atas meja, memeriksa sekeliling ruangan. A/C oke  , Wifi berfungsi dengan baik, remote control hadir, dan begitu pula mikrofon ~
“Jadi ini ... yang namanya ruang karaoke ...”
Duduk di atas sofa, Senpai mengamati sekelilingnya dengan penuh minat, kata-katanya membuatku tertawa lagi.
“Kenapa kamu membuatnya terdengar seperti 'Ini ... adalah dunia yang berbeda, ya ...?' Senpai?”
“Maksudku ... dunia yang berbeda takkan mengejutkanku seperti ini.”
“Pffft, jadi ruang karaoke lebih misterius ketimbang dunia yang berbeda ... ?!”
Itu memang seperti Senpai ~ Dan lagi, karena sudah 20 tahun, jadi daripada melihat dunia dan kota yang misterius, ruang karaoke yang normal pasti terlihat aneh, ya? Tapi, itu sebabnya aku memutuskan untuk datang ke sini sejak awal ~!
“Senpai, sudah lama tidak pergi ke karaoke, ‘kan? Ada wifi gratis pula, tidak ada yang mengganggu kita, dan kita bisa berteriak sekeras yang kita inginkan. Tempat sempurna untuk mengatur smartph— ”
Hm? Tidak ada yang mengganggu kita, dan kita bisa berteriak sekeras yang kita inginkan ...? Yah, bukan berarti Senpai akan menganggap perkataanku dengan artian lain, jadi terserahlah.
“Untuk sekarang, mari kita selesaikan pengaturan smartphone sebelum kita bernyanyi ~ Um, untuk melihat nomor teleponmu, kamu harus—”
“—!”
Tepat ketika aku ingin mengintip smartphone yang dipegang Senpai, Ia melompat.
“Eh?!”
“……… Maaf …… yah… karena kau begitu dekat jadi aku…”
“Ah ... Ma—”
—af, tapi tepat sebelum itu.
“Bu-Bukannya aku benci kalau kau dekat denganku! Sebaliknya, aku malah merasa senang ... Ah, tunggu, tidak! Yah, tidak juga, tapi ... ugh ...”
Aku tidak tahu karena ruangan ini masih agak gelap sebelumnya, tapi wajah Senpai pasti terlihat memerah sekarang.
“Dalam ruangan gelap ... dan tertutup ini ... hanya berdua dengan Koori ... aku merasa seperti tak bisa menahan diri ...”
“———”
…… Ummm… Hah? Tunggu ... apa ini salahku?
“Um ... ka-kalau begitu — kurasa aku akan pergi bernyanyi!”
... Apa yang aku bicarakan. Yah, aku sudah berada di batasku dalam artian banyak hal, jadi aku memutuskan untuk melarikan diri dengan menggunakan remote control, mencari lagu yang bisa aku nyanyikan. Beberapa lagu yang selalu aku nyanyikan saat bersama teman-temanku.
Intro pun dimulai — Tunggu, bukannya ini lagu tentang patah hati? —Ah, aku terlambat menyadarinya! Lagu sudah dimulai, jadi aku harus menyanyikannya dengan normal, berkat teman-temanku yang  sering menyeretku ke sini berkali-kali.
Aku mencoba yang terbaik untuk tidak melihat Senpai ketika aku bernyanyi, tapi kemudian selingan datang. Menegak minumanku, aku melirik ke arah Senpai — Ahh, Ia menatapku dengan penuh antusias !!!
Ia menyilangkan tangan, memelototiku dengan ekspresi serius — Ah, lagunya sudah mulai lagi.
Aku mengacaukan di bagaian selanjutnya, tapi aku tidak berhenti sampai akhir. Entah bagaimana, aku senang kalau aku tidak punya waktu untuk mempersiapkan mental untuk bernyanyi di depan Senpai ~
“Eh ... um ... bagaimana itu?”
“Koori.”
“Y-Yesh?”
“Suara nyanyianmu sangat bagus. Aku terkejut.”
“——”
Maaf, tapi yang kaget di sini adalah aku tau ?! Dan juga, kenapa Senpai sudah kembali normal ?! Kemana perginya rasa panikmu tadi?!
Atau begitulah protesku di dalam kepalaku, tapi karena suasana canggung dan memalukan dari sebelumnya benar-benar hilang, aku bisa bersikap normal lagi.
“Yah ~ karena aku sering melakukan karaoke dengan temanku ~”
“Ini bukan pada tingkat itu. Aku merasa seperti kau punya bakat di bidang ini.”
“Se-Senpai, ayolah ~ Kamu memang benar, tapi jangan mengatakannya dengan blak-blakan begitu~ ... Juga, itu cuma lelucon, jadi balaslah, tolong.”
“...? Apa maksudmu?”
“Peka sedikit ...”
Kurasa jawaban seperti 'Jangan katakan itu tentang dirimu' dari Senpai terlalu sulit ... Yah, aku benar-benar menyukai Senpai yang polos seperti itu ~
“Jadi ... tentang smartphonemu.”
“—A-Ah ... aku menemukan nomorku.”
“O-Ohhh! Good job, Senpai!”
“Juga, aku bisa memulai ini ... perangkat lunak ... unduh, kan?”
“Iya. Ah, pengaturan wifinya—”
“Aku pikir aku sudah melakukan itu. Meski aku tidak yakin ...”
“Eh, tidak mungkin.”
Walau bilang begitu, jangan mengintip teleponnya, atau hal yang sama akan terulang kembali!
“….. Boleh aku ... pinjam sebentar?”
Senpai sendiri mungkin menyadari bahwa hal buruk dapat terjadi jika aku mendekatinya sekarang, jadi Ia dengan tenang menyerahkannya.
... Ah, Ia benar. Wifinya sudah benar-benar terhubung. Aku mengira bakal ada masalah dengan itu ...kok bisa?
“Kalau begitu,  ayo kita tunggu sampai unduhannya selesai. Setelah selesai, kita bisa bertukar alamat Link kita.”
“Itu bagus sekali ...”
“………… Senpai, matamu ... menyuruhku untuk bernyanyi lagi?”
Senpai mengangguk, dan dengan lembut tersenyum padaku. Maksudku, aku harus bernyanyi jika kamu melihatku seperti itu.
“Yah apa boleh buat kalau begitu ~ Kurasa aku akan bernyanyi lagi ~!” Aku menyeringai, dan melanjutkan. “Tapi, kamu akan bernyanyi juga, Senpai. Di sini, Kau tahu cara menggunakan remote, ‘kan? ”
“…Ya. Tapi-“
“Tidak ada tapi-tapian!” Sambil membentuk X besar dengan tanganku, dan berkata dengan mic di tangan, aku menatap Senpai yang tersipu.
Lagu berikutnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya, lebih ceria. Karena ini bukan lagu tentang patah hati atau cinta yang tak terbalas, itu lebih menyenangkan untuk bernyanyi dalam situasi ini. Tapi, sudah cukup tentang nyanyianku.
“—Ohhh ?! Eh, kamu memilih lagu yang ini, Senpai ?! ”
Lagu yang Senpai pilih dari remote control adalah lagu yang memiliki tempo super cepat. Setidaknya satu orang akan selalu memilih lagu ini ketika aku pergi ke karaoke, dan biasanya akan mengacau di tengah-tengah lagu ...
Tunggu? Tunggu sebentar. Lagu ini dirilis tahun lalu, jadi mana mungkin Senpai tahu tentang lagu ini...
“Senpai ... apa kamu memilih lagu ini hanya karena berdasarkan peringkat?”
“Ya.” Senpai sedikit memiringkan kepalanya, jelas kebingungan mengenai apa yang ingin kutanya.
Maksudku, menyanyikan lagu yang tidak pernah kamu dengar sebelumnya adalah tantangan dengan tingkat tertinggi, iya ‘kan ?! Siapa juga yang mau mencobanya!
Tapi, kenyataan malah berkata lain.
“……Hah? Eh?”
Pertama, awalan pada lagunya berbeda. Begitu juga teksnya! Ia melihat layar, tapi timingnya benar-benar tidak pas! Meski begitu — ini bagus banget.
“…Apa-apaan…. ini?”
Volume, ritme, semuanya terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Aku tidak tahu mengapa Ia tidak bisa bernyanyi secara normal mengikuti lirik, tapi lagipula memang lagunya semacam ini. Lagu sebelumnya mungkin lebih baik ... Tapi, aku masih merinding.
Setelah menyelesaikan lagu itu, Senpai menyeka keringat di dahinya, dan menatapku.
—Ah, ini buruk. Aku tidak bisa …... Aku tidak tahu mengapa, tapi jika aku melihat Senpai sekarang, aku merasa hatiku akan meledak ... Jadi aku mengalihkan pandanganku.
... Tetap saja, aku harus mengatakan sesuatu ...
“Um ... bisakah kamu menyanyikan satu lagu lagi?”
Maksudku, aku akan berbohong kalau aku bilang aku tidak serius. Aku ingin mendengarnya lagi. Aku ingin mendengarnya lebih banyak lagi.
Setelah berpikir sejenak, Senpai mengangguk.
“Baiklah.”
Senpai mengambil remote control, dan lagu yang dia pilih adalah—
“Yang bener?!” Aku menjerit, saat aku tersentak.
Alasanku menjerit karena lagu yang dipilih Senpai. Ironisnya, Ia memilih salah satu lagu yang aku sukai, dari band favoritku ... Dan Senpai ... akan menyanyikan itu ...? Lagu tersebut memliki banyak nada tinggi, dan secara keseluruhan cukup sulit ... Apa Ia berencana akan mengubah liriknya?
Dilanda perasaan harap-harap cemas, aku menatap Senpai ketika intro dimulai. Setelah itu, suara Senpai meledak. Ia terus menunjukkan ekspresi tekun, dan tidak mengubah liriknya. Itu sempurna, namun juga sangat seperti Senpai.
…Ini buruk. Oh. Ya. Tuhan. Senpai ... sangat ... keren ...!
Meski itu adalah lagu yang penuh gairah, dengan seseorang yang kebanyakan melakukan anggukan, serta melakukan high-five dengan seseorang. Dan Senpai menyanyikan itu. Ini terlalu bagus. Aku gemetaran. Aku menjadi emosional — aku….… mulai menangis.
“—Koori ?! Maaf, aku memilihnya karena aku tahu kau menyukai lagu ini ... tapi kurasa itu jelek ya ...?”
Senpai menyerbu ke arahku setelah Ia selesai, jadi aku membantah kesalahpahamannya dengan kekuatan penuh. Itu terlalu bagus, aku terharu sampai menangis.
“Kamu terlalu keren, aku jadi jatuh cinta padamu lagi ...” Gumamku, memastikan bahwa Ia takkan bisa mendengarku.
Mengambil napas dalam-dalam, aku mencoba menenangkan diri, dan lalu mengangkat kepalaku.
“Maksudku — bukankah itu terlalu bagus ?! Bukannya sudah 20 tahun sejak kamu pergi ke karaoke, Senpai ?! ”
Hanya seseorang yang pergi ke karaoke setiap hari, seorang pecandu, yang bisa menyanyikannya dengan sempurna! Dan Ia seharusnya cuma mendengar lagu itu sekali saat kita berbagi headphone! Jadi kenapa begitu bagus ... ?!
“Tidak juga. Aku tidak pernah pergi ke karaoke sebelumnya.”
“……Hah? Jadi ini ... baru pertama kalinya?”
“Ya.”
“Apa kamu ini jenius?”
Seorang jenius yang tak tertandingi? Ini terasa seperti sih—
“Ah, sihir ?!”
Benar, aku lupa! Senpai sebenarnya bisa menggunakan sihir!
“Sihir ... aku memang menggunakan sihir, tapi aku tidak menggunakannya saat aku bernyanyi.”
“Sudah aku duga! ... Eh, yang mana? ”
Apa kamu menggunakan sihir? Atau tidak?
Setelah Ia memandang ke kejauhan, dan terlihat sedikit nostalgia, Senpai mengulurkan tangannya ke arahku.
“Akan lebih cepat jika aku menunjukkannya padamu.”
Ah, ini adalah pola di mana Ia menunjukkan ingatannya dari dunia yang lain ... Nah, karena ini yang ketiga kalinya, jadi aku cukup terbiasa.
Bagaimanapun juga, ruangan karaoke di depan mataku menjadi gelap, dan ketika aku bisa melihat cahaya lagi—
“…Hah? tidak jadi cerah? Senpai, apa ini — Kya! ”
Senpai di depanku tiba-tiba melangkah mundur …... —eh, tidak menabrakku?
“Ah, ini Senpai di masa lalu ...?”
Bila dilihat dari dekat, pakaiannya tampak usang, gaya berpakaian seperti seorang pengelana. Sementara aku mengawasinya dengan seksama, Ia sekali lagi bergerak dengan kecepatan gila, di mana aku berjongkok di tempat.
“Wah, apa yang sebenarnya terjadi ?!”
Rasanya seperti Senpai sedang bertarung ?! Aku benar-benar tidak tahu karena area sekitar yang gelap, tapi percikan cahaya yang kadang-kadang menyala membuatnya tampak seperti Senpai sedang bertarung melawan seseorang.
Refleksi ini ... atau hologram? Meski aku tahu ini sangat aman, tapi rasanya  masih menakutkan.
“Woah ... sesuatu keluar! Ada sesuatu yang luar biasa keluar!”
Aku menutup mataku, dan menyembunyikan wajahku ... Hm? Tidak ada suara?
Dengan hati-hati membuka mataku untuk memeriksa situasinya, Senpai saat ini tepat di sebelah aku. Posisi ini ... kabedon ...?
“…Kau baik-baik saja?”
“Ak-Aku ... baik-baik saja ...”
Tidak baik dalam arti yang berbeda.
Sementara itu, di punggung Senpai, lingkungan sekitar mulai menyala, jadi aku melihat ke sana, melihat ruang terbuka yang lebih luas. Seluruh tempat tersebut diaspal batu …... seukuran ruang kelas, dengan Senpai berdiri di sana.
Ia pasti bertarung mati-matian, tetapi Ia tidak memiliki luka sama sekali. Selain itu, daripada penampilan pengelana yang aku asumsikan …... rasanya lebih mirip seorang assassin dari sebuah game ...?
“Senpai, ini ...”
“Ini adalah ... Colosseum Alideja, yang terletak di [Stero'Un].”
“Colosseum ... ?!”
Seperti yang mereka punya di zaman Roma kuno? Secara teknis aku bisa mencarinya dengan smartphone-ku, tapi mana mungkin aku bisa mendapatkan koneksi di sini, ya ~
“Di [Stero'Un], mereka yang datang dari dunia berbeda diubah menjadi Darya ... budak dari kasta terendah, dan dilempar ke ruang bawah tanah yang disebut Alideja ini, mereka bertarung dengan Darya lain yang juga bertujuan untuk melarikan diri dari neraka itu. Manusia [Stero'Un] menonton mereka dengan gembira. ”
“Menonton ...?”
“Sebagai hiburan.”
“... Woah ... mengerikan sekali ...”
Pasti kepala mereka semua ada yang korslet.
“Tepat sekali. Ini adalah dunia yang cukup kejam. ”
“Cukup…?”
Yang begini dibilang cukup ?! Dunia macam apa yang pernah dikunjungi Senpai ... ?!
“Ketimbang sistem itu, ada hal lain yang memberiku lebih banyak masalah ...”
Di sana, wajah Senpai berubah dengan ekspresi jijik.
“Kamu baik-baik saja?”
Tiba-tiba, ada seorang gadis yang berjalan ke pandanganku, kakinya yang telanjang terlalu menyilaukan untuk mataku. Usianya ... harusnya seumuran denganku? Pakaiannya sama compang-campingnya dengan pakaian Senpai, dan — Oh, aku bisa melihat sekilas wajahnya. Dia lumayan imut!
Eh ... tidak, tunggu. Itu bukan lumayan! Dia sangat imut sekali! Karena ada poni yang menutupi wajahnya jadi aku tidak tahu! Dia memiliki mata yang besar, hampir berkilau, dan mulutnya terlihat sangat lembut ...! Meski sedikit ternoda karena kotoran, rambut abu-abunya yang pendek tampak super cocok untuknya ... Bukannya dia akan menjadi kecantikan gila jika dia merawatnya dengan benar?
... Tapi, yang lebih penting, dia hampir tidak mengenakan apa-apa ?! Jika dia bergerak sedikit saja, bukannya kamu bisa melihat banyak hal buruk?
“Senpai, gadis ini ...”
“Ya ... dia sedikit mirip denganmu, Koori.”
“Hah?!”
Bagaimana?! Dari mananya?!
Aku ingin bertanya, tapi Senpai tampak serius.
... Ehhh? Apa aku benar-benar mirip dengan kecantikan seperti itu ~? Oh hentikan ~
Sejauh ini, itu adalah reaksi yang berbeda dari semua gadis dunia lainnya. Senpai masa lalu juga tidak mengatakan apa-apa — atau begitulah pikirku, saat….
Jangan pedulikan aku.
Tidak bisa. Karena kamu adalah masterku
“Master?!” Tanpa sadar aku melihat ke arah Senpai.
“Celi adalah ras ... 'Rasha' rupanya mereka punya tradisi untuk memanggil orang-orang yang menyelamatkan mereka dengan sebutan “Master”, dan mengikuti orang tersebut selama sisa hidup mereka ...”
Ah, jadi gadis ini bernama Celi-chan. Namanya juga lucu ... Tapi, kesampingkan itu.
“Senpai ... apa kamu menerimanya?”
“... Aku menolaknya berkali-kali ... Tapi ...”
Melihat Senpai melirikku berulang kali, aku punya firasat tertentu.
“Kamu tidak bisa mengabaikannya ... karena dia mirip denganku ...?”
“………”
Menganggap keheningan itu sebagai pengganti Ya, sejujurnya aku tidak yakin bagaimana harus menanggapi hal ini. Maksudku, rasanya tidak enak dipanggil secara tidak langsung seimut Celi-chan, dan mendengar alasan Senpai tidak mengusirnya membuatku menggeliat dalam kebahagiaan lagi, bercampur dengan sedikit rasa malu malu, tapi melihat Ia menerima gadis lain masih membuatku merasa muram juga ... Tapi bukannya aku punya hak untuk mengatakan itu ... Ahhh, kepalaku sakit!
Kesampingkan semua hal yang membuat pikiranku kacau — Yah, aku benar-benar tidak boleh, tapi aku harus melakukannya. Aku lalu bertanya pada Senpai.
“Juga, sihir menyanyi itu ...?”
Itulah yang terpenting sekarang. Itu alasan utamaku menonton adegan ini.
“….. Itu ...”
Tepat ketika Senpai inign berbicara, Celi-chan yang cantik tiba-tiba melihat dari balik bahunya.
...! Kairi, kita harus - Kya!
Celi-chan berjongkok di tempat itu, dan Senpai mengikutinya ... sembari melindunginya ... Ugh ... Maksudku, aku tahu, tapi ... Ahhhh ...!
Sementara itu, Celi-chan memegangi kepalanya, terlihat seperti sedang kesakitan — Hm?
“Ada telinga yang tumbuh dari kepalanya ?!”
Bukan wajahnya, tapi kepalanya. Telinga seperti kucing. Dan bukan jenis yang biasa dipakai untuk bersenang-senang selama pesta cosplay, telinga yang asli.
“Tergantung dari situasinya, Rasha tidak hanya memiliki telinga seperti itu, tapi juga ... Tidak, itu tidak penting saat ini.”
Apa? Bukan hanya telinga? Ceritakan lebih banyak?
Tapi, situasi di depan kami sekarang lebih mendesak, dan Senpai tetap melanjutkan.
“Alideja memiliki bos monster yang mengintai di setiap lantai, dan yang ada di sini adalah—”
Sirene ...
Senpai dari masa lalu terus melanjutkan, tetapi Senpai saat ini memberikan penjelasan.
“Bos lantai ini, Sirene, menggunakan nyanyiannya sebagai senjata, menurunkan pertahananmu, dan, seperti yang sudah kau duga, itu sangat efektif terhadap orang-orang seperti Celi — yang spesialisasi dan mempercayai pendengaran mereka.”
Melarikan ...diri…….
Ah, Ia benar. Celi-chan terlihat ... tidak seperti dia kesakitan ...? Maksudku, dia jelas-jelas tidak terlihat nyaman, tapi matanya tampak mengantuk, dan sepertinya dia berusaha menahan diri untuk tidak jatuh tertidur ... Dan juga, aku tidak bisa mendengar suara milik makhluk Sirene itu? Apa itu terpotong?
Aku hendak bertanya pada Senpai, tapi sebelum itu—
... Kairi ...?
Aku pikir itu adalah suara Sirene, tetapi Celi-chan sepertinya merasakan hal yang sama seperti denganku. Senpai ... sedang bernyanyi. Ya, lebih tepatnya bersenandung, tapi itu gila bagusnya ...
Tak lama setelah itu, Senpai menutup mulutnya, dan Celi-chan bangun dengan hati-hati.
Kamu membatalkan lagunya dengan milikmu ...?
Aku tidak terlalu mengerti apa yang dia maksudkan dengan itu, tetapi jelas sekali bahwa Senpai melakukan sesuatu yang luar biasa di sana.
Lagu hanyalah kumpulan suara. Jika aku dapat menganalisis struktur suaranya, aku bisa melawannya
…………
Tidak tidak, tidak, itu bahkan masih terdengar sulit !? Maksudku, Celi-chan jelas-jelas setuju denganku, lihat saja ekspresinya!
Itu bukan ... hal yang mudah dilakukan
Ah, dia mengatakannya.
Seberapa banyak upaya yang kamu lakukan untuk bisa mencapai tingkat itu ...
Ini adalah hal yang diperlukan demi melewati lantai ini, jadi aku berlatih
….
... Kamu terlalu keren, Senpai. Celi-chan masih dengan wajah datar seperti sebelumnya, tapi aku bisa mengatakan bahwa dia sama terkejutnya denganku.
Kamu tidak perlu ... jika itu hanya kamu sendiri ...
“Eh?!”
Dalam keterkejutanku, aku melihat Senpai yang asli di sebelahku, tetapi yang ada di refleksi menjawabku terlebih dahulu.
... Aku tidak membuang waktuku untuk hal-hal yang tidak berguna, kau seharusnya tahu itu
Mengucapkan kata-kata tersebut, Senpai mulai bergerak maju. Di sisi lain Celi-chan—
“Seperti yang bisa kamu lihat, sihir yang aku gunakan hanya—”
“Ah, Senpai, jangan membuat kita kembali dulu!”
Sadar betul bahwa Ia akan membatalkan efek sihir ini, aku segera memohon padanya. Alasan untuk itu adalah ekspresi Celi-chan barusan. Dia tampak marah, merajuk, tapi yang paling penting — kerinduan.
“Aku tidak berpikir ada sesuatu yang terjadi setelah itu ...” Senpai memiringkan kepalanya dengan bingung, tapi aku yakin.
Celi-chan pasti akan mengatakan sesuatu sekarang. Dan, setelah menunggu sebentar.
Suatu hari ... Aku pasti akan membuatmu menerimaku ... dan kemudian, aku akan memberitahumu perasaan ini ...!
“Lihat!!!”
“…?!”
Senpai lebih terkejut dari teriakanku sendiri ketimbang kata-kata Celi-chan, tapi itu tidak penting.
... Celi-chan. Kau diselamatkan oleh Senpai, dan membuat dirinya menjadi mastermu. Namun, Senpai tidak pernah memberikanmu perhatian sebanyak itu, tapi tetap memperlakukanmu dengan ramah seperti itu ... Ingin menyampaikan kepada Senpai tentang perasaanmu, tapi mengetahui bahwa kamu tidak punya hak untuk ...
“... Ngomong-ngomong, aku menggunakan sihir analisis tertentu, tetapi nyanyian itu sendiri tidak dipengaruhi oleh apapun—”
“Senpai! Apa yang terjadi dengan Celi-chan setelah itu ?!”
“A-Apa yang kamu maksud?”
“Maksudku, Celi-chan benar-benar merasa—”
Baiklah, berhenti di sana, diriku !! Aku pasti tidak boleh mengatakan itu! Dalam keadaan apapun! Hati-hatilah ... Aku tidak bisa melakukan ini sebagai pengganti Celi-chan.
Jika aku berkata, “Celi-chan benar-benar jatuh cinta padamu, Senpai! Apa kamu akan menjawab perasaannya ?!” maka Senpai akan berkata "Ya, aku akan menjawabnya" atau "Tidak, aku tidak menjawabnya", dan bukan keduanya ... ughhhhh ...!
“Uuuuu ...!”
“Ko-Koori ...?”
“Senpai ... ayo kita bernyanyi sesuka hati kita hari ini! Seakan-akan ini adalah hari terakhir kita! Dengan kekuatan penuh!”
Kami sudah kembali ke ruang karaoke, di mana aku mengumumkan ini dengan mic di tangan. Untuk saat ini, aku ingin bernyanyi! Demi Celi-chan juga!
Juga, tenanglah diriku ... Kamu tidak boleh semakin tersipu sekarang ...
“Ngomong-ngomong, mengenai analisis ini? Tidak boleh lebih dari itu, oke? ”
“...! Tapi…?!”
“Tidak ada tapi-tapian. Sudah kubilang jangan gunakan sihir lagi, ‘kan? ”
Bagaimana jika seseorang melihat kita? Yah, aku mengerti bahwa menggunakan sihir sudah menjadi kebiasaan bagi Senpai ….... Terus, tolong jangan menatapku seperti itu ...
“... Um, lalu ... jika kamu melakukannya hanya saat ada aku saja, kurasa itu akan baik-baik saja ...?”
“Benarkah…?"
"Juga, itu benar-benar aku yang egois, kan ... kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau, Senpai.”
Aku tidak ingin mengekangnya hanya karena dia pacarku ...
“... Tidak, aku akan menahan diri. Aku tidak ingin kehilangan Koori karena sihirku. ”
“——”
Kata-katanya, ditambah dengan ekspresinya yang serius, menikamku tepat di hati, membuat wajahku memerah.
“Um ... ehm ... benar ... cuma aku yang bertindak egois, ingin memonopoli nyanyian Senpai yang menakjubkan, jadi kamu benar-benar tidak perlu ...”
Aku cukup yakin bahwa tidak ada yang akan merekrut Senpai menggunakan sihir untuk menganalisis lagunya. Ahh ... Pada akhirnya, aku masih membatasi Ia, ya?
“Begitu ya ... Baiklah. Aku takkan pernah lagi bernyanyi di depan orang lain selain kamu, Koori. ”
“- ?! Tidak, tapi…”
Itu cuma keegoisanku, jadi—
“Itu bukan karena kau yang menyuruhku. Aku ingin melakukannya sendiri — keegoisanku. ”
“~~~!!!”
……………Aku sangat mencintainya.
Pada akhirnya, meski aku adalah orang yang menyarankan tentang menyanyikan sisa hari itu, aku dipenuhi dengan banyak dan banyak emosi yang aku pikir hatiku akan meledak ...
—Ah, aku benar-benar lupa tentang smartphone Senpai!

[Extra]
— Malam itu.
“Haaaa ... Mandi benar-benar yang terbaik ~ ……… Hm?”
Ketika aku melihat smartphone-ku, pemberitahuan pesan tercermin di layar.
Apa itu berhasil?
“Eh, Senpai mengirim link padaku?!”
Meskipun aku lupa untuk membantunya mengaturnya ...
“Ia melakukannya sendiri ...! Luar biasa!”
Yah ... pengaturannya akan bekerja sendiri setelah instalasi, tapi ... karena itu Senpai, jadi masih menakjubkan!
Bekerja dengan sempurna ~!
Sungguh ... syukurlah.
“Pfft ... Ia menggunakan emoji yang salah ... ~”
Itu salah, Senpai!
Maaf
“Ahahaha, Senpai~”
Tersenyum sambil meminta maaf, LOL!
Aneh ... bagaimana aku harus melakukannya?
Kamu tinggal menekan emoji yang ingin kamu gunakan
    
“... Ia cuma mencobanya, kurasa.”
Juga, ini adalah obrolan Link pertama kita setelah kita mulai resmi berpacaran, ya ~
“Aku tidak tahu mengapa ... tapi ini benar-benar menyenangkan, saling bertukar Link dengan Senpai.”
Aku tidak bisa menahan senyum aku. Karena tidak ada pesan baru yang datang, aku bangkit dari kamar mandi, dan pergi untuk mandi terakhir—
“Hmmm? Ini berdering? ... Ini dia.”
Di satu sisi, gagang shower, di sisi lain smartphone-ku, aku melihat ke bawah ke layar, dan melihat wajah Senpai.
“…Hah?”
Apa aku menempatkan fotonya sebagai latar belakang smartphone-ku? Tunggu, Ia bergerak ...?
Ko-Koori ... ?!
Aku bahkan bisa mendengar suaranya—
“Tunggu, mengapa ini berubah menjadi video call?!”
Huuuuh ?! Huuuuuuuuuuuuuh ?! Eh ?! Ehhh ?! Apa aku menerima panggilan itu ?! Dan kenapa video call... Ah, apakah Senpai menekannya tanpa sengaja ... Tapi itu berarti bahwa ... Ia bisa melihat ... semuanya ...!
“T-Tunggu — Ah!”
Aku langsung panik. Karena lantai yang licin, aku pun terpleset jatuh.
“Aduh…”
Dan jika seseorang bertanya di mana smartphone-ku mendarat—
“Ahh!!”
Diposisinya tepat di bawah pantatku ... A-Ah, layarnya ... Tidak tunggu, apa Senpai bisa melihatku sekarang ?!
Koori ?! Apa semuanya baik-baik saja?! Layarnya tiba-tiba berubah jadi gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa ...!
A-Ah, Ia tidak bisa melihatnya ya ... Baguslah ... pantatku menutupi layarnya ...
“Tunggu, itu tidak bagus sama sekali!”
Aku tidak bergerak satu inci pun sampai Senpai mematikan video call ...




close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama