Omae wo Onii-chan Vol.3 Chapter 09 Bahasa Indonesia

Selasa, 14 Mei - Dampak. Menyerang. Saling memukul tanpa pertahanan.

Aku memikirkan sesuatu selagi kami makan bekal makan siang bersama saat istirahat makan siang.
Mariko tampak bahagia. Bahkan jika dia tidak mengatakan apa-apa, aku tahu dari suasana yang dipancarkannya.
Seharusnya aku merasa senang bersama dia juga, tapi seolah-olah aku mencoba berenang dengan pemberat, suasana hatiku tenggelam. Itu sebabnya, seolah-olah berjuang, aku mencoba bergembira.
Mariko mengatakan "Kamu terlihat aneh?", merasa curiga.
Berusaha untuk tidak menunjukkan kalau aku sedang depresi, aku memaksa tersenyum ... tapi malah ketahuan olehnya. Dalam hal ini, aku harus bertindak depresi dari awal, ada bagian diriku yang berpikir begitu.
Sekali lagi, aku akhirnya merasa sungkan orang lain. Sementara aku bisa jujur dengan adikku, Selene, aku tidak bisa melakukannya dengan Mariko. Aku sangat menyedihkan karena tidak mampu.
Kupikir aku tidak ingin membuatnya khawatir, tapi akhirnya aku malah membuatnya khawatir pula, berpikir aku adalah seorang cowok merepotkan yang butuh orang lain untuk memperhatikanku, aku tidak ingin dianggap sebagai menyebalkan dan dibenci.
Bukan untuk orang lain, melainkan demi diriku sendiri.
Aku mencoba bertanya Mariko.
“Apa kau punya seseorang yang mana kau bisa mengatakan apapun, seperti, apa yang kau benar-benar pikirkan atau rasakan?”
Mariko membuat ekspresi bermasalah, tapi dia masih bersedia menjawab. “Yup. Kurasa keluarga ...”
Itu pasti bukan sesuatu yang ada di sana dari awal, melainkan sesuatu yang berkembang  dari waktu ke waktu selama dia tinggal bersama keluarganya, pikirku.
Sementara aku pikir ada juga membutuhkan menahan diri dan pertimbangan dengan keluarga, aku merasa iri pada keluarga Mariko, yang mana dia bisa mengatakan segalanya.

uuuu

Sepulang sekolah, aku mengeaskan kehendakku dan menuju kamar apartemen Tomomi .
Bertemu dengannya lagi setelah pertengkaran tempo hari sangatlah sulit.
2 hari kemarin  juga, tampaknya Tomomi menginginkanku untuk berbicara jujur.
Meski setelah itu, kita bersilang pendapat dengan satu sama lain dan berpisah.
Aku menekan bel interphone dan meletakkan tanganku di gagang pintu.
Karena aku pernah mengalami kena prank oleh kunci rantai, aku jadi ekstra hati-hati.
Ketika aku menarik pada gagang pintu, pintu terbuka tanpa adanya rantai yang menghalangi.
Aku menghela napas lega.
Pintu terbuka, tapi Tomomi tidak menyambutku di pintu masuk.
Kakiku melangkah dari pintu depan menuju ke ruang tamu.
Tomomi menungguku untuk datang. Tatapannya terfokus padaku. Amarahnya bisa terlihat di tatapannya.
Sekarang, menghadapi dirinya yang seperti ini, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bingung, aku berbicara seakan melarikan diri.
“Um, ma-maaf. Tempo hari, aku tidak bertindak seperti kakak. Itu sebabnya, um ... aku minta maaf.”
“Aku takkan menerima permintaan maaf murahan seperti itu. Dan, aku berniat takkan memaafkanmu.”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”
Dia berdiri tegak sambil melipat tangannya, lalu mulutnya menyeringai. Tomomi menyatakan.
“Nii-chan. Jika kamu ingin mengadakan pesta ulang tahun lovelove dengan Mariko-chan, Kamu harus mengalahkanku dulu!”
Jika kau ingin terus lanjut, kau harus mengalahkanku dulu ...
“Memangnya kau ini karakter game atau apa?”
“Pokoknya, ayo kita bertanding, Nii-chan!”
Dia menunjukkan jarinya dengan penuh semangat di wajahku.
“Tidak, kau takkan bilang kita memutuskan lewat game, ‘kan?”
“Bila lewat game, Nii-chan pasti tidak memiliki kesempatan! Itu sebabnya, kita memutuskannya lewat berdebat. Berani membujukku atau tidak.”
“Meski kau memberitahu ku untuk ...”
Dengan ekspresi jengkel, Tomomi memelototiku.
“Pertarungannya sudah dimulai. Jika kamu tidak menyerang, biar aku dulu! Jangan jadi pengecut, Nii-chan! Mendekam di kamarmu hanya karena pertengkaran, kamu terlalu banci!”
“Aku berpikir bahwa bila aku terus ada di sana, suasananya akan semakin berat ... itu pertimbanganku sebagai kakak!”
“Pertimbangan? Jangan membuat aku tertawa. Kamu tidak mengakui kalau kamu lari dari masalah dan masih mengatakan itu sebagai pertimbangan?”
“Ya, aku lari, aku melarikan diri! Saat itu aku tidak ingin menyakiti atau disakiti lagi!”
“Berpikir bahwa hubungan keluarga akan rusak hanya dengan segitu saja, dasar bocah. Tidak dapat berdiri setelah tersandung  sekali, apa Nii-chan selemah itu?”
“Pada waktu itu cukup fatal. Namun hari ini, kamu menambahkan penghinaan atas lukaku?”
“Jika kamu berdiam diri dan menunggu seseorang untuk menyelamatkanmu, aku akan menendangmu seperti ini!”
Tomomi menunjukkan praktek beberapa ayunan tendangan rendah di tempat. Dia pasti sudah terbiasa dengan seni bela diri, karena gerakannya tiba-tiba menjadi tajam.
“Menendang seseorang yang sedang terjatuh, memangnya kau ini orang barbar.”
“Ini salah Nii-chan!”
“Ya, itu salahku. Itu salahku!”
Tiba-tiba,ekspresi marah Tomomi menghilang dalam sekejap.
“Sudah kubilang kalau itu buruk.”
“Se-Sekarang apa...”
Sembari menatapku dengan tatapan kesepian, dia melanjutkan.
“Bila kamu membutuhkan bantuan, katakan 'bantu aku' dengan benar ...”
Dia ingin mendengar perasaanku yang sebenarnya, karena dia sengaja mengatakan hal yang memprovokasiku, aku merasa seperti aku mendengar perasaan dia yang sebenarnya.
“Maaf ... tidak. Terima kasih Tomomi. Karena sudah mengkhawatirkan aku.”
“Bo-Bodoh!Siapa yang mencemaskanmu!”
Suaranya terdengar aneh dengan wajah yang memerah.
Lalu dia menunjukku dan berteriak.
“Jika kamu akan menyalahkanku karena malu, aku akan menggunakan kartu andalanku! Jadi, pada akhirnya, teman masa kecil Mariko-chan adalah ... apanya Nii-chan?”
Apa yang "menyalahkan karena malu”. Juga, kenapa dia bertanya tentang Mariko sekarang.
Aku tahu wajahku tiba-tiba menjadi panas.
“Ap-Apa yang kau tanya, aku bertemu dengannya lagi setelah sekian lama ... hanya teman masa kecil.”
Melanjutkan dengan langkah maju, Tomomi mengintip ke wajahku. Dia mendekat pada jarak di mana aku bisa merasakan napasnya.
“Beneran hanya itu? Untuk alasan seperti itu, dia membuatkanmu bekal makan siang setiap hari? Apakah teman masa kecil yang tidak pernah kau temui selama bertahun-tahun, ingat ulang tahunmu dan ingin merayakannya?”
Aku akhirnya memalingkan wajahkuu. Tomomi meraih wajahku dengan kedua tangannya dan berbalik ke arah dia, dia berbicara dengan butiran air mata di sudut matanya.
“Itu pasti, karena dia ... menyukai Nii-chan.”
Aku sudah membuatnya begitu supaya aku tidak memikirkan itu. Jarak diantara kita yang sekarang sudah nyaman, aku takut mendekatinya lebih dekat. Menjauh dari dia ... bahkan lebih menakutkan.
“Be-Bekal makan siang itu karena Mariko bilang dia ingin berlatih memasak, um ... daripada disebut pacaran …... aku ini meirip kelinci percobaan! Aku ini unit pembuangan masakan kreatif nya!”
“Houhou ... ayolah? Omong-omong Nii-chan, apa masakan favorit Mariko-chan?”
Masakannya kebanyakan enak, tapi jika aku harus memilih satu maka itu pasti  ayam goreng dan telur goreng.
Heck, jika begini terus, aku akan sepenuhnya terseret ke tempo Tomomi.
“Kenapa kau bertanya padaku mengenai hal seperti itu!”
“Jelas, karena aku ingin tahu gadis seperti apa Mariko-chan!”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Tomomi, kan?”
“Ada. Nii-chan bilang kalau kamu berhenti menjadi nii-chan, tapi bagiku, terlepas apa kamu berhenti atau tidak ... Nii-chan masih menjadi Nii-chan.”
Dia mengangkat alis bermasalah dan membuat senyum malu-malu.
“Aku tak menyangka aku akan jatuh cinta bertepuk sebelah tangan dengan Nii-chan. Bagi saudara yang normal, hal tersebut takkan pernah terjadi.”
Ugh ... entah bagaimana ... itu imut. Sebaliknya, diberitahu begitu aku merasa sangat malu sampai-sampai terasa sekarat.
“Cinta bertepuk sebelah tangan ….... apa itu berarti kau ingin aku untuk melanjutkan peran sebagai kakakmu?”
“It-It-It--Itu benar! Bahkan tanpa mengatakan kamu dalam peran kakak, kamu akan selalu jadi kakakku.”
“Bukannya kau sendiri yang memberitahuku untuk berhenti?”
“Memang! Jika Nii-chan tidak mau, aku tidak akan memaksamu. Tapi bagiku, Nii-chan akan selalu, selalu, menjadi Nii-chan. Itu sebabnya ... ini cinta bertepuk sebelah tangan. Dan perasaanku mengatakan, aku ingin Nii-chan menjadi Nii-chan! Jadilah Nii-chan! aku takkan mengatakan itu, tapi aku bisa merasakan seperti itu terhadap Nii-chan, ‘kan?”
Saat wajahnya memerah sampai telinganya, suara Tomomi bergetar. Diberitahu seperti itu, jujur saja membuatku bermasalah.
“La-Lakukan apa pun yang kau suka ya.”
“Memiliki cinta bertepuk sebelah tangan adalah kebebasan setiap orang. It-Itu sebabnya, aku ingin tahu tentang gadis seperti apa pacar Nii-chan itu! Sebagai adik, tentu saja!”
Wajahku berubah panas seperti pemanas infra-merah.
“Sudah kubilang dia bukan pacarku!”
“Jika kalian tidak pacaran, itu berarti cinta yang tak terbalasnya Mariko-chan. Artinya, pada hari ulang Nii-chan mungkin ada pola di mana Mariko-chan akan menembakmu, tahu?”
“Apa-apaan dengan perkembangan fiktif itu.”
“Seolah-olah kamu bisa mengatakan itu! Mendapatkan warisan besar, lima adik, ditembak oleh teman masa kecil, dan di atas semua hadiah ulang tahunmu adalah di-ri-ku ... bukannya itu mirip seperti eroge ?!”
Sial. Aku tidak bisa membantahnya.
“Ketika aku menjadi Taishido, berpikir ada warisan besar dalam genggamanku, Mariko menggunakan fakta bahwa dia adalah teman masa kecil dan bertujuan untuk itu, dan mendekatiku. Kau bisa mempertimbangkan kemungkinan seperti itu juga, ‘kan.”
Mengatakan itu dengan mulutku sendiri, aku merasa jadi orang yang paling jahat.
“Jadi, Mariko-chan adalah gadis yang buruk?”
“Tadi itu hanya satu kemungkinan. Kemungkinan yang mendekati  nol ... heck, meski aku yang bilang sendiri, tapi itu hampir mustahil.”
Terbatas untuk Mariko, itu memang mustahil.
“Jadi, Mariko-chan adalah gadis cantik dan menyukai Nii-chan?”
“Kenapa malah berubah seperti itu!”
“Nii-chan jadi memerah.”
“Ini ... ka-karena aku marah. Kau memprovokasiku, bukan?”
“Tidak. Aku hanya melakukan apa yang disebut mengkonfirmasikan hubunganmu. Jadi, Nii-chan, apa pendapatmu tentang Mariko-chan?”
“Kau bertanya kepadaku ... dia itu teman baik masa kecil ...”
“Jika Mariko-chan mengatakan 'jadikan aku pacarmu', apa yang akan Nii-chan lakukan?”
“Ap-Ap-Apa yang kulakukan terserah aku, ‘kan?”
“Tentu tidak. Jika dia menjadi pacar Nii-chan, dengan kata lain, aku akan jadi adik iparnya, ‘kan?”
“Haa?”
“Nii-chan berhenti menjadi nii-chan, tapi perasaanku takkan berubah!”
“Jangan bertingkah tidak masuk akal.”
“Menjadi tidak masuk akal adalah tak apa.”
Tomomi menanggapi dengan suara monoton. Jangan seenaknya saja!
“Woah ... cara berbicaramu membuatku kesal.”
“Aku memang berniat membuatmu kesal. Ayolah, bagaimana jika Mariko-chan membungkus tubuhnya dengan pita dan memelukmu, lalu mengatakan 'selamat ulang tahun Yoichi-kun!', Apa yang terjadi pada Nii-chan? Menjadi riajuu? Mau meledak? Kamu akan mati?”
Ugh ... untuk sesaat, aku membayangkan penampilan tidak senonoh Mariko.
“Tomomi ... dari mana kau menemukan informasi berbahaya yang seperti itu.”
“Dari Yafoo answer. Ada seorang gadis yang membuat bekal makan siang untuk Nii-chan setiap hari, apa itu cinta? Dan topik itu berakhir dengan 1000 tanggapan.”
“HENTIKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNN!”
“Ini pakai akun anonim jadi tidak usah khawati. Ngomong-ngomong, aku merangkum semua opini public tersebut, tanpa diragukan lagi itu adalah cinta sejati, terima kasih ... dan sebagainya. Seorang selebriti internet 'Undying Cicada' menuliskan '200% yakin'.”
Bahkan Selene juga ... itu kemungkinan seseorang yang menyamar jadi dirinya, tapi kemungkinan itu adalah dia masih tinggi. Serangan Tomomi padaku tidak mengendur sama sekali.
“Jadi, jadi, apa yang terjadi sebelum kamu bertemu lagi? Ceritakan tentang saat-saat Nii-chan masih anak-anak.”
“Ke-Kenapa?”
“Bertanya tentang masa lalu Nii-chan adalah dua kali lebih lezat. Atau mungkin kau melakuka sesuatu yang buruk yang tidak bisa dikatakan? Misalnya saja tak sengaja menghancurkan jendela sekolah dengan pemukul kasti atau menghancurkan keranjang basket dengan dunk!”
“Apa-apaan dengan anak pembuat onar itu! Mana mungkin aku melakukan itu!”
“Nah, pasti kamu punya satu atau dua, tiga atau empat hal yang tidak bisa kamu katakan. Mungkin kamu mengompol sampai kelas tiga SD.”
“Tidak!”
Itu sampai kelas 2 ... heck, itu bukan waktu untuk menggali masa kelamku.
“Jika kamu ingin membungkamku, kamu harus mengaku dengan patuh!”
Tomomi menatapku dengan serius.
Diam, Ruangan ini sangat tenang.
Setelah sesaat kemudian, aku berdehem dan menjawab.
“Baik. Ini mungkin memakan waktu lama jadi ayo kita duduk.”
Saat aku duduk di sofa, Tomomi membawa dua botol cola dari kulkas di dapur.
Aku menerima satu dan mulai berbicara tentang kenanganku bersama Mariko.
Meski, tidak ada hal yang istimewa untuk diceritakan.
Pada saat itu Mariko jauh lebih tinggi dariku, seperti Onee-chan ... cerita semacam itu.
Dari awal, Mariko punya adik perempuan yang bernama Chitose-chan, jadi aku pikir dia terbiasa bertingkah seperti Onee-chan. Setelah itu ... ketika kami memilih kelompok untuk perjalanan wisata dan aku gagal mendapatkan, dia mengundangku. Juga ... uhh, umm ...

uuuu

Sebelum pembicaraan tentang dasar-dasar usai, waktunya sudah melewati jam tujuh malam.
Ternyata aku punya banyak kenangan bersama Mariko daripada yang aku kira.
Ketika Tomomi selesai mendengarkan, dia perlahan-lahan menghela nafas.
“Jadi Mariko-chan, sejak dulu adalah seseorang seperti Onee-chan.”
“It-Itu benar. Dia pandai merawat orang lain. Bahkan sekarang, dia menjagaku sebagai perpanjangan dari iru. Itu sebabnya ini bukan benar-benar cinta ...”
“Benarkah? Mungkin dia takkan memberitahumu secara langsung karena dia khawatir tentang Nii-chan? Yah, aku tidak tahu apa itu benar atau tidak, sih.”
 Dia mengangkat lengannya dan bergumam saat peregangan.
“Jadi dia seseorang yang Nii-chan bisa berbicara begitu leluasanya ...gadis Mariko-chan itu.”
Tomomi melemparkan botol PET kosong ke tempat sampah .. Seperti lemparan bebas bola basket, botol tersebut masuk dengan sempurna.
“Ini bukan sesuatu yang terjadi baru-baru ini. Bagaimana kalau kamu menghilang, bakaaaaa.”
Dia menunjukkan sebuah akanbe.
Setelah itu dia tertawa mengolok-olokku. Namun, entah bagaimana, sorot matanya terasa kesepian.
Tapi dia terus tersenyum.
Tidak membuatku khawatir. Berani. Tegas.
Pada saat yang sama aku merasa Tomomi menyayangiku, anehnya aku memaafkannya.
Mempercayakan perasaanku pada Tomomi seperti ini, aku merasa beban hatiku jadi sedikit lebih ringan.
Tentunya, jika bukan karena Tomomi, aku tidak bisa membiarkan perasaanku yang sebenarnya berbenturan dengan seseorang.
Aku merasa seperti dia membagikan keberaniannya padaku untuk tidak takut disakiti.



close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. Oppainya gede bener bjir

    Mariko gk ada illustrasinya yak??

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama