Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 83



u Sudut Pandang si Senpai u   
Aku meregangkan tubuhku di peron pada hari Jumat pagi.
Minggu ini akhirnya akan berakhir juga, ya.
Orang-orang biasanya akan mengatakan itu untuk akhir semester, Senpai.
Masih ada pelajaran sampai Senin depan, tapi ujian akhir akan dimulai pada hari Selasa. Selama ujian, aku bisa berangkat lebih telat dan pulang lebih cepat, jadi aku tidak terlalu lelah secara fisik, selain secara mental. Yay.
Ketika akhir semester berakhir, ada semacam sesuatu seperti hilangnya waktu, atau mungkin perasaan palsu liburan musim dingin. Kami masih perlu mendapat hasil ujian, dan upacara penutupan. Aku juga punya tugas penting pada upacara penutupan. Aku harap itu berjalan dengan baik.
Aku mendengarkan pelajaran dengan benar, tidak seperti Kouhai-chan. Itu sebabnya aku merasa lelah.”
Tapi aku juga banyak mendengarkan pelajaran, kok.
Pandanganku tertuju pada Kouhai-chan yang mengeluh tentang bagaimana hal itu membosankan, sembari ada senyum di wajahnya.
Senpai? Apa yang terjadi?”
Kouhai-chan menatapku dengan curiga, mungkin karena aku tidak membalas kata-katanya.
Dia memiringkan kepalanya sedikit dan kemudian mengejekku.
Apa kamu terpesona olehku? Benarkan…”
“Uh huh.”
Dia berpikir kalau aku akan bersenandung dan bersuara, ‘kan?
Aku menahan emosi yang muncul di hatiku dan mengangguk dengan serius.
“Benarkah?”
Pada saat Kouhai-chan memalingkan pandangannya dariku, aku tanpa sadar menyeringai.
Sepertinya dia tidak melihatku melakukan itu, jadi itu pasti aman.
Ah, kau jadi malu-malu!
“Siapa yang malu-malu!”

u Sudut Pandang si Kouhai u   
Kami naik kereta dan menempati di posisi yang biasa.
Aku tidak merasa malu lagi. Aku sudah sadar.
Tapi bagaimanapun juga, semester kedua akan segera berakhir, ya.
Apa yang akan terjadi setelah semester kedua?
Kau tidak tahu? Semester ketiga akan dimulai.”
Senpai meletakkan tangannya di pinggul, menjawab tepat seperti itu.
Selama liburan musim dingin Senpai mau pergi ke mana?
Itu tidak memenuhi syarat sebagai liburan panjang, ‘kan? Aku pikir itu terlalu pendek.”
Aku heran mengapa liburan musim dingin begitu singkat? Bukannya mereka mendorong acara Natal pada Hari Tahun Baru?”
Acara, ya? Akan ada banyak permainan sosial, bagus untukmu.”
Sejak kapan Jepang menganggap musim dingin sebagai musim permainan sosial?
“Itu tidak bagus.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Karena liburan musim dingin tahun ini, aku ingin pergi ke berbagai tempat bersama Senpai.
Yah, aku akan membawanya berkeliling.
... Aku harap kita bisa melakukannya.
Bagaimana belajarmu untuk ujian, Senpai?
Nah, sebelum itu, ada ujian akhir minggu depan.
Aku bahkan mendengar beberapa suara panik di kelasku sekarang. Ini adalah kedua kalinya kami mengikuti ujian, jadi aku tidak tahu seberapa buruknya.
Aku tidak mengalami kemajuan sedikitpun.
Hee…
Ini salahmu.
“Astaga? Apa kamu mau menyalahkan orang lain, Senpai?”
Wajah Senpai berubah menjadi rumit.

u Sudut Pandang si Senpai u   
Aku tidak bisa bilang kalau belajarku tidak berjalan dengan baik karena aku selalu memikirkan dia.
Jika aku tetap diam, aku merasa bahwa dia akan mengatakan sesuatu yang buruk yang akan mengakibatkan bencana, jadi aku memaksakan diriku untuk bertanya pada Kouhai-chan.
Ahh, inilah pertanyaan hari ini dariku.
“Iya.”
Kouhai-chan, apa kau tipe orang yang gugup saat ujian?
Ini adalah pertanyaan yang muncul secara acak di pikiranku, namun aku juga sedikit penasaran.
Eh, memangya ada alasan untuk gugup?
Tentu saja ada.
“Tidak buatku. Aku sama sekali tidak gugup.”
Aku kagum, tapi aku penasaran apakah itu karena dia pandai bergaul. Kouhai-chan adalah seseorang yang menikmati "hidup" dan menghabiskannya dengan penuh bahagia.
Bukannya itu senpai yang terlalu gugup mengenai hal itu? Ah, tadi itu pertanyaan hari inidariku.”
Yah, aku tidak gugup tentang ujian akhir.
Apa itu berarti kamu gugup dengan ujian lain, Senpai?
Aku sangat gugup dengan tes kecakapan yang membutuhkan kemampuan nyata kita untuk menyelesaikannya.
“Iya?”
Kouhai-chan mengerutkan kening.
Aku benar-benar tidak mengerti apa bedanya dari kedua ujian tersebut.
Nah, ujian akhir memiliki ruang lingkup tertentu, jadi aku, sebagai murid teladan, cenderung mempelajarinya sampai aku dapat melafalkannya dengan sempurna.
“Uwaah ...”
Kau tidak perlu merasa jijik juga, oke?
Apa kamu melakukannya sampai segitunya?
Bahkan jika ada kecelakaan, aku masih bisa mendapatkan 80 poin.
Mana mungkin ada kecelakaan.
Aku juga bisa saja mendapatkan bilai yang melebihi 85 atau 90 poin, tapi itu akan membutuhkan keberuntungan. Aku dapat mengambil 80% dari nilaiku dengan kemampuanku sendiri, Itulah yang aku rasakan setelah mengikuti ujian akhir SMA empat kali.
Yah, terlepas dari ada kecelakaan atau tidak, jika aku belajar sebanyak itu, aku takkan khawatir tentang hasilnya, jadi aku tidak akan gugup.
Aku tidak bisa bersimpati, tapi aku mengerti.
“Oh terima kasih.”
Kouhai-chan menghela nafas.
Dengan kata lain, Senpai merasa tidak nyaman karena kamu tidak dapat mengukur secara memadai ujian kecakapan?
“Uh huh.”
Senpai memang khawatiran banget, ya.
Dia merasa kagum karena suatu alasan.

u Sudut Pandang si Kouhai u   
Senpai ini benar-benar mengkhawatirkan.
Dia terlalu banyak berpikir. Yah, itu juga akan merepotkan jika dia tidak memikirkan apa yang harus Ia pikirkan, jadi mungkin orang ini bisa diartikan bagus.
Tapi, aku merasa lebih senang jika Ia sedikit lebih proaktif.
Kouhai-chan adalah tipe yang seperti itu, ‘kan? Kau bisa lulus bahkan tanpa belajar, jadi kau tidak merasa gugup.”
“Kamu benar.”
Waspadalah terhadap pengalaman menyakitkan yang benar-benar tak terduga.
Aku pandai menangani banyak hal, jadi tidak apa-apa.
Tehe.
“…… Haa.”
Senpai merasa kagum.




Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor (83)
Sepertinya Ia juga merasa gugup saat ujian.


close

3 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama