Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 91

* Sudut Pandang si Kouhai *    

Maharun♪ : Senpai~

Maharun ♪ : Selamat pagi

Maharun ♪ : Dan juga, terima kasih untuk kemarin

Setelah aku bangun, aku langsung mengirim pesan LINE ke Senpai.

Ia tidak membacanya.

Maharun♪ : Eh, Senpai?

Maharun ♪ : Kamu masih tidur? Serius ...

Menurutmu sudah jam berapa sekarang? Hmph.

Ini sudah siang, oke? Jam satu.

Maharun ♪ : Jika kamu tidak segera bangun

Maharun ♪ : Aku akan memberikan pertanyaan hari ini, tahu?

Yah, aku tidak punya rencana untuk mengajukan pertanyaan kepada Senpai sampai Ia bangun.

 

#Sudut Pandang si Senpai#   

Sabtu pagi. Pagi hari tanpa ujian atau sekolah. Pagi yang penuh kebebasan.

... Tapi sekarang sudah tengah hari. Aku merasa lapar.

Ketika aku terbangun dengan linglung di dalam selimut hangatku, aku mendengar smartphone-ku berdering di sudut kasur.

Bukannya aku sudah benar-benar bangun. Mengapa seseorang harus dengan kasar membangunkanku meski akhirnya mendapat hari libur?

Sementara aku terus menggerutu, smartphone-ku berdering lagi.

Ini pasti yang itu. pemberitahuan LINE dari Kouhai-chan.

... Aku tidak bisa tidur lagi, eh?

Smartphone berdering lagi seolah-olah menertawakan keinginanku.

Aku tidak ingin membacanya karena aku sadar kalau aku sudah mengatakan sesuatu yang sangat memalukan kemarin. Aku jadi tidak ingin melihatnya.

Nada dering unik LINE saat pesan tiba terus berdering. Hanya Kouhai-chan yang bisa mengirimiku pesan LINE dengan kecepatan ini meski tidak ada yang ingin dia katakan. Tidak mungkin. Aku ingin tidur lagi. Aku ingin mengurung diri ke dalam selimutku.

 

vvvv

 

Enam, atau tujuh kali.

Itulah jumlah di mana aku mencoba untuk tidur lagi sampai aku menyerah dan mengambil smartphone-ku dari samping tempat tidur. Tadi malam, setelah mengantar Kouhai-chan pulang, aku langsung tertidur tepat setelah sampai ke rumah, jadi aku juga takut kalau aku terlalu banyak tidur.

Waktu di layar menunjukkan sekitar pukul 13:00.

Dan di kolom notifikasi, ada banyak pesan LINE dari Kouhai-chan, seperti yang sudah aku duga.

Maharun ♪ : Boleh aku melakukannya?

Pesan terbarunya adalah itu. Apa yang ingin dia coba lakukan?

Ketika aku memencet log obrolannya, aku menerima pesan tambahan.

Maharun♪ : Ah, Senpai. Selamat pagi

Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sudah bangun? ... Ah, ada pemberitahuan sudah dibaca, ya. Tapi kemudian, dia sangat cepat merespon. Aku jadi terkejut.

Iguchi Keita : Ya ampun. Setidaknya biarkan aku tidur setelah ujian akhir selesai.

Maharun ♪ : Kamu sudah tidur lama, ‘kan?

Ya benar. Aku merasa seperti tidur selama beberapa hari.

Maharun ♪ : Baiklah.

Maharun ♪ : Inilah pertanyaan hari inidariku.

Dia sudah menulisnya ketika aku membaca apa yang dia katakan di atas, jadi aku mengharapkan ini.

Iguchi Keita : Oke

Maharun ♪ : Ini dia.

Maharun ♪ : Senpai, apa kamu mau menelpon denganku?

Pertanyaan Kouhai-chan sangat tidak terduga, jadi kepalaku membeku, masih dipenuhi sedikit rasa kantuk.

Smartphone yang aku pegang di atasku langsung jatuh menimpa wajahku. Itu sangat menyakitkan.

Umm.

Aku harus menjawab dengan jujur ​​selama itu pertanyaan hari ini. Pertama, aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan, jadi bagaimana aku bisa menjawab ini.

Iguchi Keita : Mungkin, aku tidak menginginkannya?

Maharun ♪ : Hee

Maharun ♪ : Senpai ingin menelponku?

Maharun ♪ : Hoo

Telpon ... Menelpon, ya.

Iguchi Keita : Aku tidak bilang kalau aku mau

Iguchi Keita : Tapi bukan berarti aku tidak mau

Maharun ♪ : Hmm

 

* Sudut Pandang si Kouhai *    

Kemarin, setelah Senpai mengantarku pulang ke rumah, aku melihat kembali ke log obrolan LINE kami. Kemudian aku menyadari bahwa Senpai tidak pernah menelponku duluan.

Akulah yang selalu menelponnya.

Itu sebabnya, aku ingin Senpai menelponku dulu kadang-kadang ... bahkan jika aku harus membuatnya melakukannya seperti ini.

Iguchi Keita : Ngomong-ngomong, aku ingat ini ketika kami berbicara tentang "Telpon"

Meski aku dengan penuh semangat berusaha keras untuk membuatnya menelponku, apa yang datang bukanlah panggilan masuk darinya, melainkan pesan lain dari senpai.

Iguchi Keita : Ahh, tidak. Aku akan menjadikan ini pertanyaan hari ini

Maharun ♪ : Tentu

Aku ingin tahu apa yang akan Ia tanyakan kepadaku.

Iguchi Keita : Kouhai-chan, berapa nomor teleponmu?

Pertanyaan Senpai benar-benar tidak terduga.

Maharun ♪ : Ya ampun, apa kamu mencoba merayuku?

Iguchi Keita : Bukan itu ...

Aku sedikit terkejut, tapi aku senang kami berkomunikasi melalui telepon. Dengan itu, aku bisa membalasnya dengan baik.

Maharun ♪ : Ya, karena ini pertanyaan hari ini, aku akan menjawabnya

Maharun ♪ : Nomorku 070-xxxx-xxxx

Iguchi Keita : Oke, terima kasih

Saat aku mengirimkannya ke senpai, layar smartphone di tanganku menjadi gelap dan nada deringku mulai berdering.

“Ya, halo.”

Halo, Kouhai-chan?

Aku mendengar suara yang sedikit berbeda darinya di kereta dan panggilan LINE.

“Iya. Ngomong-ngomong, kenapa kamu menelponku lewat ini, Senpai?”

Padahal Ia bisa meneleponku melalui LINE, tapi kenapa Ia repot-repot menghabiskan tagihan telepon untuk menggunakan metode ini?

Kaulah yang menggangguku untuk melakukannya.

Tidak, kok.”

Lalu, kau yang mengarahkanku.

Siapa yang mengikuti arahan itu?

Itu aku ... salah!

Tidak ada banyak suara, dan koneksinya tidak berombak, tapi suara Senpai terdengar berbeda dari biasanya. Itu membuatku tidak nyaman.

Apa aku harus beralih ke LINE? Hmm, mending lakukan itu. Itu pasti akan menenangkanku.

 

#Sudut Pandang si Senpai#   

Ketika aku mencoba menjelaskan mengapa aku meminta nomor teleponnya, dia langsung membalas.

Umm. Senpai, Aku akan menutupnya.

Dia menutup panggilan, dan pii, suara pii mencapai telingaku dengan keras.

Hah? Kenapa dia menutup telepon? Apa ada orangtuanya datang atau semacamnya?

Ketika aku memiringkan kepala dengan bingung, nada dering LINE berdering. Itu panggilan dari Kouhai-chan.

“Permisi. Aku hanya beralih ke LINE.”

Baiklah, tidak apa-apa. Karena ini tidak masuk tagihan telepon.”

“Betul. Karena kita punya metode panggilan gratis, kenapa kamu malah memanggilku dengan normal?”

Hmmm.

Umm, bagaimana caraku mengatakannya? Cara kita untuk saling menghubungi hanya lewat LINE, ‘kan?”

“Iya.”

Singkatnya, bukannya nanti kita tidak bisa saling menghubungi lagi jika LINE meledak?

Apa itu pernah meledak sebelumnya?

Aku hanya berumpama “Misalnya saja”. Ngomong-ngomong, aku hanya ingin memiliki sarana komunikasi lain denganmu.”

Hmm. Apa maksud Senpai, kamu ingin meningkatkan cara kontak denganku?”

Jika kita harus menyimpulkannya dengan sangat sederhana, yah, itu benar.

Pada akhirnya, kamu ingin merayuku, ‘kan? Senpai.”

Guhh.

Yah, memang apa yang kukatakan menyiratkan, “Aku tidak ingin terpisah denganmu bahkan jika situasi yang tidak terduga terjadi.” Aku tidak bisa membantahnya, karena dia tidak salah.

Tapi tidak ada alasan bagiku untuk tetap diam. Aku memilih untuk melakukan serangan balik. Bahkan jika aku menyebutnya serangan balik, itu lebih mendekati bunuh diri.

Kau enak bilang begitu, tapi pada akhirnya kau senang mendengar alasanku, kan?

“Apa?”

Kau terdengar lebih gembira. Bahkan lebih dari biasanya.”

Kouhai-chan yang berada di sisi lain dari panggilan telepon pasti sedang tersipu sekarang. Jawabannya terdengar malu-malu.

“…Tidak…kok.”

 

 


Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor (91)

Ia memberitahuku nomor ponselnya.


close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama