Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 98

#Sudut Pandang si Senpai#   

Sampai kapan kamu percaya pada Tuan Santa, Senpai?

Kouhai-chan memanggilku lagi hari ini di siang hari, dan segera setelah dia melihat wajahku, dia menanyakan itu padaku.

Besok adalah Malam Natal, dan sudah ada beberapa dekorasi di sana-sini di kota.

Santa, ya.

Sinterklas. Simbol dari Natal.

Mulai dari tengah malam pada tanggal 24 hingga pagi hari tanggal 25, Ia akan berulang kali melakukan pelanggaran di sejumlah rumah, terutama untuk keluarga yang punya anak kecil.

Ketika seseorang masih muda, mereka akan percaya bahwa Santa datang ke samping tempat tidur mereka setiap tahun, tapi segera mereka akan kehilangan kepercayaan dengan keberadaannya.

Dari sudut pandang seorang anak, itu adalah romansa.

Aku sangat merindukan saat-saat ketika aku menulis sesuatu seperti Surat untuk Santa.

Mungkin sekitaran aku masuk SD.

Karena Ini “pertanyaan hari ini”, jadi aku menjawabnya dengan jujur.

Apa yang membuatmu menyadarinya?

Ketika aku memikirkannya dengan tenang, itu terasa aneh.

Ketika aku masuk SD, aku dapat mengenali banyak anak selain diriku sendiri, misalnya saja teman sekelasku.

Aku pikir itu mustahil bisa membagikan hadiah untuk anak-anak sebanyak ini, apalagi termasuk anak-anak yang tidak aku kenal.

Apa kamu tidak berpikir bahwa Santa memiliki bentuk diri yang lain?

Nn ... aku pikir itu berbeda. Itu tidak terdengar seperti Santa.”

Aku tidak tahu apakah penanggung jawabnya berbeda dari satu negara ke negara lain.

Tapi, jika aku menyelidiki ide itu secara menyeluruh, maka aku pikir apa Santa benar-benar ada?

Yah, itu benar ...

Ada juga buktinya. Meski, aku tidak ingat detailnya.”

Kira-kira saat orang tuaku pergi untuk melakukan sesuatu dan aku sendirian di rumah.

Aku menemukan hadiah yang aku minta kepada Santa tepat pada waktu semacam ini di rumahku sendiri.

Ahh…

Itu adalah pukulan yang menyakitkan.

Jika aku pikir-pikir lagi, mungkin orangtuaku membiarkan aku menemukannya dengan sengaja?

Lagi pula, sejak saat itu, aku tidak percaya lsfi pada keberadaan yang disebut “Santa Claus”.

 

* Sudut Pandang si Kouhai *    

Lalu, inilah pertanyaan hari ini dariku.

“Iya.”

Kouhai-chan, sampai waktu kapan kau percaya pada Santa?

Ia benar-benar menyalin pertanyaanku, ya.

Karena kau masih memanggilnya sebagai Tuan Santa, jangan-jangan kau masih mempercayainya sampai saat ini?”

Ugh ...

Mengapa orang ini begitu peka hanya pada saat seperti ini? Ya ampun.

... Yah, aku sendiri yang mengungkit topik ini, jadi aku sudah menduga risiko ini.

Tapi aku tidak berpikir dia akan menusuk lukaku sejak awal.

“Bingo?”

Sampai SMP ...

Hoo ...               

Senpai menyeringai.

Ini bukan masalah besar, ‘kan!

Aku tidak bilang kalau itu buruk, kok.

Kamu menatapku seolah-olah seseorang yang menyedihkan.

“Kau salah.”

Wajahnya menjadi agak serius, lalu Ia melanjutkan.

Aku melihat seseorang yang lucu.

…Beneran, deh.

 

#Sudut Pandang si Senpai#   

Ngomong-ngomong, ada apa dengan hari ini?

Aku berencana malas-malasan, tetapi dia membawaku ke restoran keluarga.

Aku mengisi perutku dengan sesuatu dari menu dan bertanya sambil menyesap cappuccino dari bar minuman.

Bukannya kita tidak punya urusan di sini.

Oh?

Jadi ada yang harus kita lakukan di sini?

Nah, ini rahasia untuk Senpai.

Kouhai-chan menggigit pancake yang dia pesan untuk pencuci mulut dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Eh, kenapa?

Tidak akan ada artinya jika aku mengatakannya. Oke?”

Kemudian Kouhai-chan meletakkan salah satu jarinya di depan bibirnya dan bilang Ssst.

Bahkan jika kau mengatakannya dengan manis, aku takkan menyerah.

“Begitukah? Tapi aku masih tidak akan memberitahumu.”

“Begitu ya. Lalu..”

Aku hendak menyatakan pertanyaan hari ini, tetapi tiba-tiba aku sadar.

Aku sudah menggunakannya tadi, kan? Hei!

Aku bertanya sesuatu yang tidak terlalu penting. Tentang Santa, ‘kan? Mengenai sampai kapan dia percaya pada Sinterklas.

Jika dia memintaku untuk memojokkanku sehingga aku tidak bisa bertanya lagi, dia melakukan hal yang benar. Meski begitu, tidak memiliki kartu andalan untuk membuat dia harus menjawab pada saat seperti ini, rasanya masih menyakitkan.

Ah, kamu menyadarinya? Hehehe.”

Kau ini benar-benar ...

Dia segera menanyakan pertanyaan itu setelah kami bertemu untuk memastikan aku tidak bisa menggunakan pertanyaan hari ini untuk masalah ini.

Baru-baru ini, aku merasa frekuensi dia bermain denganku semakin meningkat.

Sudah, sudah. Senpai cuma harus bertindak normal.”

“Iya?”

Aku juga akan bertingkah normal.

Oh?

Karena aku harus bersikap normal, lalu apa tujuannya datang ke sini? Jadi bukan dia yang mengisyaratkan agar kita melakukan sesuatu, bukan?

Hmm…

Kami tidak menonton olahraga, jadi kami tidak perlu menonton orang lain. Belum lagi, kami berada di restoran keluarga. Mana mungkin kami harus mengawasi seseorang di sini.

Yah, semacam begitulah. Ayo habiskan waktu kita dengan santai, oke?”

Setelah mengatakan itu, Kouhai-chan pergi ke sudut bar minuman.

Hmm…

Apa-apaan itu tadi?

Mungkin kita yang diawasi? Tapi tidak ada yang menatap lekat-lekat pada kami.

Kenapa kamu melihat-lihat seperti itu?

Tidak, bukan apa-apa.

Tetapi aku tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa tidak ada yang mengawasi kami.

 

* Sudut Pandang si Kouhai *    

Itu pilihan yang tepat untuk membicarakan Santa.

Ditambah lagi, Senpai masih belum menyadarinya untuk saat ini. Jika Ia menyadarinya, Ia pasti akan kikuk. Rasnaya nanti tidak akan menarik lagi.

Nah, ayo lakukan sesuatu yang menarik sekarang.

Senpai.

Senpai masih mengkhawatirkan sekelilingnya, jadi aku memanggilnya.

Apa kamu mau saling tukar makanan penutup kita?

Aku memesan pancake dan Senpai memesan pangsit tepung beras dengan kacang azuki.

“Haa, tentu.”

Ia menjawabku dengan dua kata dan mendorong piring hitamnya ke arahku.

Bukan itu yang aku maksud.

Kau ... Mustahil ...

“Iya. Ahn ~”

Aku mendengar suara gebrakan dari meja di belakangku, tetapi aku mengabaikannya. Ia seharusnya tidak gelisah, kan? Kendalikan dirimu.

Aku mengambil pancake seukuran kecil di garpu dan menjulurkannya di depan mulut senpai.

“Hei.”

Ini bukan pertama kalinya buat kita. Kita pernah melakukan ini sebelumnya, ‘kan?”

Russian Takoyaki? Tapi itu kasus istimewa.”

Kami berdua sangat putus asa untuk saling menyuapi dengan 'zonk'.

Ahn ya ahn, oke. Ayo, ahnn~.”

Ini tidak akan berakhir kecuali aku makan ini?

Ini takkan berakhir bahkan jika kamu memakannya,

“Apa?”

Kamu harus menyuapiku makan juga setelah ini.

Kau benar-benar ...

Senpai menghela nafas dan menggelengkan kepalanya dengan pasrah.

Senpai, apa kamu sangat membencinya?

Perasaan sedikit ketidakpastian muncul di benakku. Aku memutuskan untuk bertanya kepadanya.

... Aku tidak membencinya.

“Terus kenapa?”

Ya ampun, kau serius bertanya kepadaku tentang itu? Kau tahu alasannya, ‘kan ...”

Ia menggumamkan sesuatu di mulutnya lalu mengaku dengan wajah merah.

Rasanya memalukan untuk melakukan hal itu di tempat seperti ini.

Haa, Ia benar.

Hey, senpai.

“Apa?”

Umm, bahkan aku juga merasa malu, tahu.

Aku menyesuaikan garpuku tepat di depan mulutnya sehingga dia bisa memakannya dengan benar. Saat itu, aku melihat wajahnya.

Aku merasa sangat malu selama percakapan kami. Belum lagi, aku merasa lingkungan sekitar sedikit memerhatikan kami.

Haa ...”

Senpai menghela nafas sekali lagi lalu dia memakan pancake-ku.

... Rasanya manis.

“Tentu saja. Aku menaruh sirup maple di atasnya.”

Aku tidak tahu apa itu cuma sirup maple.

Lalu, beri aku kue juga.

Dengan ini, kita sudah selesai, ‘kan? Sini.”

Dia mengalihkan pandangannya dan memberiku pangsit di ujung sendoknya.

Rasanya manis.

 

#Sudut Pandang si Senpai#      

Aku lupa ini karena aku terlalu malu, tetapi pada akhirnya, apa urusan Kouhai-chan hari ini?

Jawabannya sangat sederhana.

Maharun ♪ : Senpai

Maharun ♪ : Ada pesan dari kakakku

Maharun ♪ : Ayo bertemu di rumah kita lain kali

Maharun ♪ : Kamu pasti senang ‘kan ♪

Sepertinya, kakaknya mengamati kami dari suatu tempat di restoran keluarga itu.

Aku tidak menyadarinya sama sekali.

Ini membuat frustrasi, jadi aku memutuskan untuk membalas dendam padanya sedikit.

Iguchi Keita : Ya

Iguchi Keita : Aku senang

 

 


Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor (98)

Sepertinya Ia percaya pada Santa sampai kelas 1 SD.


close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama