Soudana, Tashika ni Kawaii Na Vol.2 Chapter 03 Bahasa Indonesia

 

Memori 3 - Senpai dan Iku-chan serta Diriku

 

Sudut Pandang Ikunohara Mamika

Pertama kalinya aku — Ikunohara Mimika — bertemu dengan Nano ialah saat pertunjukkan konser di dalam sebuah gedung publik. Dan di sana ada aku yang semakin bersemangat tentang konser live band indie yang sedang naik daun, serta setengah senang, setengah sedih bahwa aku berubah menjadi penggemar mereka. Tapi, alasan terbesarnya mungkin aku sedang kesal melihat beberapa bajingan yang mencoba merayu seorang gadis.

“—Hei, hentikan itu.”

Sebelum aku menyadarinya, aku memanggil mereka. Pihak lain beranggotakan dua pria, jelas lebih tua dariku. Meski bohong rasanya jika aku bilang tidak takut, gadis yang tengah dirayu itu lebih muda dariku, jadi perasaan marah dan jengkel jauh lebih besar daripada rasa takut.

“Jika kamu tidak dengar, cepat pergi dari sini, dasar sampah.”

Mendengar kata-kataku, salah satu dari mereka bingung, dan pria yang lainnya menjadi sangat marah.

“Kau bilang apa?!”

Tepat ketika pria itu ingin meraihku, gadis yang dirayu sesaat yang lalu tiba-tiba menempel padaku.

“... ?! Huh….apa??”

Benar-benar tertegun karena pergantian peristiwa yang tiba-tiba ini, aku dan kedua pria itu memandangi gadis itu dengan kebingungan, ketika lagu band berikutnya mulai diputar. Meskip kami berhasil melepaskan diri dari keduanya dengan menari bersama orang lain, gadis ramping dan rapuh itu masih menempel padaku seperti sebelumnya.

“Hei ... Hei!”

Tepat ketika aku ingin menarik diri, merasa jengkel, gadis itu tertawa terbahak-bahak.

“Ahahahaha! tadi bagus sekali! Aduh perutku, itu sakit!”

“……Hah?”

“Reaksimu sangat lucu tadi, bengong kayak gitu.”

“…Lucu…?”

“Ah maaf. Sebagai permulaan, terima kasih karena sudah membantuku!” Dia sekali lagi datang menempel padaku.

Setelah konser berakhir, dia dirayu oleh coeok sekali lagi, dan akhirnya menempel padaku lagi. Kedua kalinya, aku terbiasa, dan reaksi bingung para lelaki itu sebenarnya cukup menyenangkan untuk ditonton, jadi ketika aku mengatakan “Itu benar-benar lucu”, gadis itu membalas dengan energik 'Iya,’kan ?!' saat dia tersenyum. Melihatnya tertawa terbahak-bahak tanpa alasan yang jelas membuatku mulai tertawa sendiri.

Setelah itu, kami berdua memutuskan untuk pergi ke karaoke sebagai semacam pesta untuk diri kami sendiri, dan setelah berbicara sedikit tentang kesukaan kami pada band, kami menemukan bahwa kami berdua cukup mirip.

Aku cukup yakin aku berbicara banyak yang setara  dengan sepanjang hidupku sejauh ini dalam satu malam itu. Kalau dipikir-pikir lagi, aku pasti sudah membicarakan banyak hal, dan membuat kekacauan besar. Mungkin rasanya terdengar aneh, tapi aku benar-benar payah dalam berbicara. Aku jarang berbicara dengan teman-temanku ... yang mana dari awal memang tidak punya, haha.

Namun, dia selalu tersenyum, selalu menunjukkan minat pada apa pun yang aku bicarakan. Dan itu membuatku suka padanya — Nano, atau nama lengkapnya, Koori Nano. Dia adalah teman pertamaku.

Sebagai monster komunikatif yang gila sekaligus lucu ... dan sebenarnya orang yang cukup aneh, dia kadang-kadang sulit untuk dipahami. Meski dia murid dari SMA prefektur lain, jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga kami sering kali bertemu sepulang sekolah.

Karena cowok-cering sering merayu kami, atau lebih tepatnya dia, setiap kali kami berjalan-jalan di kota, kami terpaksa menyewa ruangan di tempat karaoke terdekat, pergi ke konser bersama, makan di restoran keluarga terdekat, atau tidur bersama di rumah ... dan setiap kali bersama dia, aku selalu bersenang-senang. Tentu saja, aku pikir Nano juga merasakan hal yang sama.

Itu sebabnya, ketika kami bertemu lagi setelah sebulan tidak bertemu, dan aku mendengar informasi yang dia berikan kepadaku, aku meragukan telingaku.

“…Hah?”

“Sekarang, ay pergi ke karaoke ~ aku merasa Echo Kecil lebih dari KaraYashiki hari ini ~”

“Tidak, tunggu sebentar, Nano.”

“Ehhh? Enggak mau ~ JK di masa muda tidak bisa membuang-buang waktu yang berharga ~” (TN: Jika ada yg lupa apa itu JK, itu singkatan jari Joshikousei yang artinya cewek SMA)

“Aku bilang tunggu!” Aku meraih bahunya, terkejut dan mengingatkan betapa langsingnya mereka.

“Iku-chan ...”

“Ah…”

Apa aku memegangnya terlalu kuat? Tapi, sebelum aku bisa mengatakan sesuatu, Nano mulai tertawa.

“Suaramu kencang sekali. Apa ini, pertengkaran sepasang kekasih?”

Terima kasih Tuhan, ini masih Nano yang sama seperti bia — Tunggu, intinya bukan itu!

“Jangan bercanda seperti itu! kamu tadi bilang apa?!”

“Eh? Kalau suaramu kencang? ”

“Tidak! Maksudku, aku tahu kalau suaraku kencang ... ”

“Iya, ‘kan? Lihat, mereka semua sedang menonton.”

“Eh, ngga mungkin ...”

“Pfft! Iku-chan yang ketakutan sangat meggemaskan! Kamu selalu terlihat keren saat mengusir cowok yang mencoba merayuku, tapi kamu akan segera ditaklukan jika seseorang serius denganmu ... Perbedaan sikapmu itu memang moe banget! ”

“... B-Berhenti menggodaku!”

Ini ... seperti yang aku pikirkan, kan? Dia berusaha menyembunyikannya, ‘kan ...? Jika begitu, aku tahu cara menanganinya.

Aku berdiri di depan Nano, mengambil napas dalam-dalam.

“Aku sedang serius, Nano. Apa alasanmu menjadi sangat sibuk selama sebulan terakhir?”

Dengan ini, dia tidak akan bisa menghindarinya, kan? Nano pasti telah menangkap niatku juga, ketika dia berhenti tertawa, memikirkan sesuatu ... lalu berbicara dengan malu-malu.

“Karena ... aku sudah punya pacar?”

“………”

“Hei, Iku-chan! Jangan abaikan aku!”

Meskipun dia menertawakannya sebagai lelucon, wajahnya jelas-jelas terlihat merah. Dia jelas sangat tersipu. Aku tidak mempercayainya, Nano yang itu ...

“Punya pacar…?”

“Ahh, ya ... aku punya pacar ... ..hehe ~”

“……”

“Pffft, ahahahaha, wajah macam apa itu? Iku-chan, kamu terlihat sangat lucu! ”

Melihat Nano bereaksi seperti biasanya, aku terpaksa menerima kenyataan ini di depanku. Nano menjadi pacar seseorang ...

“......... Begitu ya... jadi kamu sedang jatuh cinta ya...”

“Cinta?! Ahh, yah ... kurasa itulah intinya ...”

“.....? Reaksi macam apa itu?”

“Yah, aku memang jatuh cinta, tapi rasanya agak rumit ... Fiuh, membicarakan ini dengan Iku-chan pasti terasa lega ~”

Karena Nano terlihat imut bahkan untukku, anggota dari jenis kelamin yang sama, tidak diragukan lagi dia bisa dengan mudah memenangkan hati cowok. Tidak dirayu saat kami berjalan-jalan di kota adalah kejadian langka, dan selalu ada banyak cowok yang mengawasinya. Bahkan sebenarnya, lebih membingungkan karena dia belum punya pacar sampai sekarang ... Hah, membingungkan?

“Oh iya. Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu tidak membutuhkan pacar, Nano? Itu sebabnya kamu ingin melakukan hal-hal lain sebagai gantinya.”

“... Aku mungkin pernah mengatakan itu, ya.”

“Apa kamu berubah pikiran?:

“Yah ... kupikir itu takkan pernah terjadi ... sesuatu seperti itu?”

“Aku tidak mengerti sama sekali ...”

“Yah, masalahnya ... menjelaskannya mungkin agak sulit, Mimika-senpai.”

“Hei, jangan panggil aku dengan namaku seperti itu.”

Itu mutlak tidak boleh, jadi aku langsung mengatakan kepadanya.

“Ehehehe, maaf maaf.” Nano terkikik, tapi itu pasti disengaja.

Lebih dari itu — dia berusaha menutupi sesuatu?

“Nano, apa kamu benar baik-baik saja?”

“Hm? Apa maksudmu?”

“Pacarmu itu. Kamu tiba-tiba mulai berpacaran dengan cowok ini ... sudah berapa lama kamu mengenalnya?”

“Sudah dua tahun ~ Yah, meski Ia koma selama dua tahun, sih.”

“Koma selama dua tahun ?!”

“Ya. Dan, Ia baru saja bangun, dan langsung menembakku begitu membuka matanya. Karena terlalu lucu, jadi aku memutuskan untuk menerima menjadi pacarnya.”

“Hah?!?!?!”

“Ahahaha, reaksimu terlalu hebat, Iku-chan! Perutku jadi sakit!”

“Kita sedang berbicara tentang kamu, ‘kan ?!”

“Tidak apa-apa kok, jangan khawatir ~ Aku sudah memikirkannya matang-matang ... Yah, mungkin tidak sebanyak itu, tapi itu bagus. Meski teman-teman di sekolah mengatakan hal yang sama seperti yang baru saja kamu lakukan, ehe ~ ”

Mau tak mau aku merasa cemas sekarang, tahu ?!

“………”

Nano mungkin sering bercanda tentang banyak hal, tapi dia bukan idiot. Dia takkan bertindak gegabah atau melakukan sesuatu yang bodoh. Aku menyadari hal tersebut selama habiskan banyak waktu bersamanya. Aku benar-benar memahami itu, tapi ... Cinta itu buta, seperti kata pepatah.

“Sejujurnya, menjelaskan semua ini, dan tentang Senpai, cukup sulit. Ada banyak hal yang juga tidak bisa kukatakan padamu. Aku yakin kamu akan bisa melihat sendiri Senpai itu cowok seperti apa begitu kamu bertemu dengannya, tapi ... ”

“-Itu dia. Biarkan aku bertemu pacarmu.”

“Hah?! Serius ?! Tapi, Iku-chan, kamu—”

“Tidak masalah.”

Ya, tidak masalah sama sekali. Yang penting sekarang, aku harus melihat cowok macam apa pacar Nano.

“Aku akan melihat apakah cowok itu layak untukmu!”

 

TTTTT

*Sudut Pandang Nano Koori*

“—Dan karena itu, temanku bilang dia ingin bertemu denganmu, Senpai ...”

Ketika membicarakan Iku-chan dalam perjalanan ke sekolah, Senpai menjadi diam, sepertinya Ia memikirkan sesuatu. Melihatnya seperti itu, aku sudah menerima kenyataan bahwa Ia tidak mau, tetapi aku terkejut—

“Dia ... satu tahun lebih tua darimu, kan?”

“Yup yup. Satu tahun lebih muda dari Senpai ... Tapi kurasa dia kakak kelas darimu?”

“Sungguh situasi rumit dan runyam ... Bagaimana aku harus mengatasinya ...”

“………… Um ... Senpai, kamu berpikir lama-lama karena kamu kebingungan bagaimana cara memanggil Iku-chan?”

“Ya.”

Menyaksikan Senpai mengangguk dengan serius membuatku mencapai batasku.

“Pfft ... it-itu ... itu sebabnya kamu begitu tenggelam dalam pemikiranmu ...?”

Senpai memiringkan kepalanya dengan bingung karena aku mendadak tertawa.

“Biasanya aku takkan terlalu memikirkannya, tapi Ikunohara Mimika ini sedikit berbeda dari teman sekelas kita ... dan, bukannya dia seseorang yang spesial untukmu, Koori?”

“Eh ...yah, kurasa?”

Apa aku pernah memberitahu Senpai bahwa aku dan Iku-chan sudah cukup dekat? Kurasa belum...? Tapi, Senpai terus melanjutkan.

“Kalau begitu, aku harus memberikan penghormatan yang pantas padanya. Aku tidak bisa mempermalukanmu dengan cara apapun.”

“—!”

... Senpai benar-benar ... ahh, menangis dengan keras ...

“Atau begitulah yang ingin kukatakan, tapi aku tidak punya banyak kepercayaan diri. Maaf.”

Tepat ketika aku mulai emosional, pemandangan Senpai yang sedih terlalu imut, membuatku hampir menyeringai.

“Kamu bisa bertingkah seperti biasanya, Senpai. Memanggilnya 'Ikunohara-senpai' sementara aku memanggilnya Iku-chan akan terlalu lucu, tapi aneh. ”

“Kau …. pikir begitu?”

“Iya. Jadilah dirimu sendiri. Itu baik untukku. Begitulah caraku menyukainya.”

Meskipun aku tidak tahu mengapa aku mengatakan bagian terakhir itu, aku ragu Senpai mendengarnya, melihat bahwa aku mulai berbisik menjelang bagian akhir.

“—Namun, aku akan memberitahu Iku-chan oke kalau begitu! Bahwa kita bisa segera bertemu ~ ” Saat aku mengatakannya dengan suara keras, Senpai mengangguk.

“Ya, mari kita bertemu dengannya hari ini sepulang sekolah.”

“Secepat itut?!”

Aku membalas sambil tertawa, tapi masih memutuskan untuk mengirimi pesan pada Iku-chan dengan isi 'Hari ini sepulang sekolah, kita akan bertemu ~,' lalu dibalas ‘Baiklah’ darinya. Aku balas, 'Cepat sekali ?!' sekali lagi.

... Mungkin Senpai dan Iku-chan sebenarnya cocok?

 

uuuu

Sudut Pandang Ikunohara Mamika

“Hari ini sepulang sekolah, kita akan bertemu ~”

'Baiklah'

Segalanya berjalan lancar. Tapi, setelah sampai di tempat stasiun kereta api sedikit lebih cepat daripada yang kita sepakati, aku mendapati diriku menyesali banyak hal, ketika aku menunggu Nano.

—Aku akan melihat apakah cowok itu layak untukmu!

“Pasti itu keterlaluan ya ...”

Ini kebiasaan burukku. Setiap kali aku terlalu gelisah dengan sesuatu, aku cenderung mengatakan sesuatu yang keterlaluan. Contoh terbaik untuk itu adalah kembali ketika aku bertemu Nano untuk pertama kalinya, saat dia dirayu. Aku yang normal tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu, aku juga tidak akan bisa melakukannya.

Sebagian besar cowok yang mencoba merayu Nano di kota bisa mengabaikannya, dan dengan sedikit saja, mereka akan meninggalkan kami sendirian. Jika tidak, aku takkan bisa menyingkirkan mereka sendiri. Hanya saja, jika bersama dengan Nano, aku memiliki keinginan untuk melindunginya. Itu sebabnya aku harus melihat langsung pacarnya ini untuk diriku sendiri – Itulah pikirku, tapi perasaanku menjadi terguncang selarut ini ke dalam permainan. Lagipula-

“Aku benar-benar buruk dengan cowok...”

“Apa benar begitu?”

“—Woaheh ?!”

Seorang cowok yang muncul di hadapanku membuatku takut setengah mati, lalu Nano muncul tepat di belakangnya.

“Ah.”

“Ohhh? Iku-chan, apa yang aku lihat di sini? Kamu mau merayu pacarku? Bercanda ~! ” Nano mengucapkan lelucon dengan gelak tawanya yang khas.

Aku tidak bisa membalasnya sama sekali. Lagipula-

“A-Apa kamu ... barusan mendengarku ...?”

“Jika kau mengacu pada pernyataan 'Buruk dengan cowok', maka ya, aku mendengarnya.”

“…! …!”

“Jika pernyataanmu benar, itu akan membuat situasi ini sangat canggung.” Cowok itu — ujar pacar Nano, ketika Ia mundur satu langkah menjauh dariku.

... Wajahnya sedikit lebih baik. Tubuhnya sepertinya agak terlatih, tapi diberi tahu bahwa Ia adalah pacar Nano, aku tidak bisa menahan perasaan bahwa ada yang salah. Maksudku, cowok itu memang mengenakan seragam sekolahnya.

“... Senpai, Senpai. Itulah tepatnya yang aku maksud ~ ”

“…Maksud?”

“Hmpf, tidak apa-apa. Lagipula Iku-chan ... Tunggu, Iku-chan melongo?! Ahahaha!”

Tawa Nano akhirnya menyadarkanku kembali ke akal sehatku ... Sial, aku harus membuatnya sadar bahwa akulah yang menilai di sini.

“Ku-Kuhum ... Memang benar aku agak buruk dalam berurusan dengan cowok, tapi itu karena aku selalu masuk ke sekolah khusus perempuan sejak SMP hingga sekarang ... Aku bisa melindungi Nano ketika dia dirayu terus, jadi jangan memandang rendah aku, oke ?! ”

“Di ... rayu ...”

Eh? Kenapa Ia mengeluarkan smartphone-nya? Apa Ia mencari kata 'dirayu' atau sejenisnya?

“Senpai, maksudnya seorang cewek diajak untuk bermain dengan cowok yang tidak dikenal.”

“Ahhh ... jadi itu sesuatu seperti Fishgal ... selama festival ...”

“Fish…? Ahh, tapi itu memang sering terjadi di festival jadi mungkin sedikit mirip. ”

“Sering? Aku pikir upacara itu hanya terjadi sekali ... “

“Upacara?! Pfft, oke ya, kita pasti berbicara tentang sesuatu yang lain ...”

“Bagaimanapun juga, izinkan aku berterima kasih karena telah melindungi Koori. Aku menghargainya.”

“Eh? A-Ah ... Yah ...”

Apa-apaan dengan orang ini ...? Mundur selangkah setelah mendengar tentang rasa takutku terhadap cowok, dan sekarang malah berterima kasih kepadaku, Ia jelas-jelas bukan orang jahat, tapi ... Tidak, aku belum bisa mengatakan dengan pasti. Keputusan Nano mungkin telah dipengaruhi oleh sesuatu, jadi sekarang setelah sampai pada titik ini, aku harus mengujinya sendiri.

“Hei, Iku-chan, Senpai. Ada banyak orang di sekitar sini, jadi bagaimana kalau kita masuk ke toko terdekat?”

“Ya…..kamu benar…”

“Baiklah, ayo ke Starpa*! —Tidak ada yang menentangnya? Sempurna!” (TN : Parodi untuk Sturbuck)

“Aku bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa ...” Bukannya aku keberatan, sih ...

Nano mulai berjalan, jadi aku mengikutinya. Pacar Nano dan aku secara kebetulan berjalan berdampingan, jadi aku praktis dipaksa untuk menembus keheningan yang canggung.

“Jadi ... um ... Watase, kan?”

“Aku lebih terbiasa dipanggil Kairi, tapi panggil saja sesukamu, Ikunohara Mimika.”

Nama lengkap, ya ...

“... Tidak perlu memanggil dengan nama lengkap.”

“Begitu ya. Lalu — Mimika.”

“Hah?!” Aku meragukan telingaku ... Bisakah kamu menyalahkanku?

“…Apa ada yang salah?”

“Eh, apa yang terjadi, Iku-chan ~”

“Bu-Bukan apa-apa!”

“Yah, Mimika tiba-tiba menjerit seperti itu.”

““Hah?!?!””

Kali ini, reaksiku tumpang tindih dengan jeritan Nano. Co-Cowok ini, memanggilku dengan nama panggilanku ... pada pertemuan pertama kami ... di depan pacarnya sendiri...!

“Senpai!!”

“...? Maaf, tapi kenapa kau terlihat panik seperti itu, Koori? ”

“Eh ... Ma-Maksudku, aku tidak panik sama sekali, kok?! Hanya saja…”

“Ja-Jangan panggil aku seperti itu !!”

Meskipun aku merasa tidak enak karena menyela mereka di tengah pembicaraan, aku tidak bisa membiarkan itu berlalu.

“Aku tidak ... terlalu suka namaku.”

“Benarkah? Aku pikir itu nama yang bagus. “

“…!”

Co-Cowok ini ... di hadapan Nano, dengan lancarnya ...!

“Di [Mektray], Mimika berarti—”

“Hah? Mektray?”

“... Tidak, bukan apa-apa. Tolong lupakan itu.”

“Po-Pokoknya, jangan panggil aku seperti itu lagi, oke ?!”

“It-Itu benar! Mengapa Senpai tiba-tiba memanggilnya dengan nama panggilannya? Kamu bahkan tidak memanggil namaku ...”

“Aku pikir begitu supaya tidak membingungkan karena Koori memanggilmu dengan nama keluargamu ...”

“Nano memanggilku Iku-chan!”

“Benar, benar!”

“Begitu rupanya ... aku mengerti. Aku akan memanggilmu 'Iku-chan' juga, kalau begitu.”

“Kenapa malah berakhir seperti itu ?!”

“Mengapa jadi berakhir seperti itu ?!”

Nano dan aku berteriak pada saat yang bersamaan, dia tertawa terbahak-bahak ... Apa ini benar-benar waktu yang tepat untuk ketawa?!

“Maaf, ini bukan waktunya untuk mulai tertawa ... Aku pikir hanya memanggil dengan nama keluarganya saja tidak ada masalah!”

“Begitu ya. Lalu, aku akan memanggilmu Ikunohara.”

“... Y-Ya.”

Cowok ini langsung menerimanya setelah Nano memberikan ide ...? Meski dari sikapnya itu membuatnya tampak seperti pacar yang baik, semua tingkahnya yang terjadi sejauh ini tidak mencerminkan begitu. Kurasa aku harus mengawasinya sedikit lebih dekat ...

Kami bertiga tiba di Starpa terdekat, untungnya kami menemukan tempat dengan tiga kursi terbuka, dan memesan. Nano memutuskan memesan menu spesial terbaru, sedangkan Watase dan aku memesan kopi biasa.

“Ahhh, Starpa benar-benar yang terbaik ... Barang baru mereka selalu sangat enak ~”

“Aku lebih terkejut bagaimana kamu bisa minum sesuatu yang manis seperti itu ...”

“Tidak, tidak, kamu perlu meminumnya sedikit, dan kamu pasti akan mengerti, Iku-chan ~ Ini.”

“Enggak mau.”

“Eh, jangan begitu dong ~”

“... Kamu sangat ingin melihat ekspresi masam di wajahku?”

“Ah, ketahuan?”

“Kubunuh kamu…”

“Ahahaha! Maksudku, wajahmu benar-benar imut, Iku-chan ~”

“Zip iz ... Bukannya kamu sering mengeluh tentang mengambil terlalu banyak kalori baru-baru ini?”

“Ahh, itu. Yah, apa boleh buat, Starpa terlalu hebat ... Tapi aku ingin menekan mereka sebanyak mungkin. ”

“Aku benar-benar tidak menghargai itu.”

“Hah? Ahh, kamu punya masalah bertambahnya berat badan, ya. Apa maksudnya itu? Kamu mau berkelahi denganku, Iku-chan?”

“Hah? Aku tidak ingin mendengar itu darimu. Memang benar kalau tubuhku tidak mengizinkanku, tapi itu karena aku tidak meminum hal-hal semacam ini, dan aku cukup yakin semua lemak itu hanya akan menuju ke —” Di sana, aku baru ingat.

Betul. Bukan hanya ada aku dan Nano sekarang. Dengan panik, aku memandangi pacar Nano, yang duduk di sebelahnya. Watase menangkap tatapanku, dan berbicara.

“Aku ragu kamu harus mengkhawatirkan kenaikan berat badan yang berlebihan. Dari sudut pandangku, Kau dan Koori jauh lebih ramping dari standar. ”

“Ehehehe ~ Senpai memang hebat! Puji aku lagi, ayo!”

“Aku tidak tahu apa ini disebut pujian, tapi ... Selama tidak ada masalah kesehatan, tidak peduli bagaimana penampilan luarmu berubah, itu tidak masalah. Aku menyukaimu apa adanya, Koori. ”

“Mmm — Uhuk, Uhuk!”

Di tengah-tengah menyesap frappuccino-nya, Nano mulai terbatuk ... Yah, aku tidak bisa menyalahkannya untuk itu ...

“Apa kau baik-baik saja, Koori?”

"”.. Aku jelas ... tidak ... Uhuk ...”

“...!Kalau begitu, kita harus bergegas dan—”

“Ah, tunggu, aku baik-baik saja, oke! Karena itu, jangan lakukan apa pun!”

“Jangan lakukan apa pun ...?”

Bukankah itu terlalu berlebihan? Melihat reaksiku, Nano membuka matanya lebar-lebar, dan bergumam.

“Ugh ... Y-Yah, Senpai cenderung terlalu berlebihan ... Seperti membawaku ke rumah sakit segera.”

“Rumah Sakit? Aku tidak bisa mempercayai rumah sakit di dunia ini.”

“Ahh, Senpai! Shhh!”

“……”

Mencurigakan ... Terlalu mencurigakan ... Mengingat sifat Nano, dia tidak terlibat dengan seorang cowok gila ... kecuali ...?

“Uuu ... mungkin ini masih terlalu dini ...”

“Apa maksudmu?”

“... Y-Ya, kau tahu ...”

Mencurigakan, sangat mencurigakan, oh sangat mencurigakan.

“Ikunohara.”

Dipanggil oleh cowok yang selalu membuatku terkejut  ... Namun, aku tidak merasa seperti itu sekarang. Apa itu — karena itu Watase? Tidak, tidak, tidak, itu karena Ia memanggilku dengan nama keluargaku dengan suara lembutnya!

“A-Ada apa?”

Oh, sial, suaraku jadi naik satu oktaf karena aku memikirkan hal yang aneh-aneh! Sialan, sangat memalukan ...! Saat aku memikirkan itu, Watase menoleh ke arahku.

“Aku sudah mengatakan hal ini sebelumnya, tapi aku ingin mengucapkan terima kasih lagi. Pada saat aku belum berada di sana, Kau telah melindungi Koori — Terima kasih. ” Ia menunduk.

“Ke ...”

Kenapa kamu melakukan ini — aku bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatku sebelum Ia terus melanjutkan.

“Tentu saja, aku sadar bahwa aku tidak punya hak untuk mengatakan itu. Tapi, bagiku, Koori adalah ... sosok yang tak tergantikan. Aku berani mempertaruhkan nyawaku untuk melindunginya, tidak peduli apa. Kau telah mengambil alih tugasku saat aku tidak ada, jadi rasa terima kasihku tidak ada habisnya”

Dengan kata-kata itu, Ia sekali lagi menundukkan kepalanya, bahkan akan menabrakkan kepalanya di atas meja, itu benar-benar mengejutkanku. Apa yang terjadi dengan orang ini ... Ia cowok aneh, sangat serius ... dan sebenarnya merasa dapat diandalkan untuk beberapa alasan. Apa cowok semacam ini benar-benar ada? Maksudku, mereka mungkin memang ada, tapi ... Cowok yang begitu tepat di hadapanku ... Ah, kepalaku mulai sakit ... Juga, bagaimana dengan perasaan Koori setelah mendengar ini—

“……!”

Wajahnya berubah menjadi tomat ?! Dia memerah semerah tomat!! Dia sangat malu bahkan tidak bisa mengeluarkan suara !! Hei, apa yang harus kita lakukan tentang ini ...

“Koori? Kenapa kau tiba-tiba diam? ”

Ia ... menanyakan itu padanya ?! Ini jelas-jelas karena semua hal yang baru saja kamu katakan !! Serius, apa yang dipikirkan orang ini! Apa dia tidak memikirkan sesuatu ?!

Ketika aku sibuk membalas dalam hatiku, Nano tampaknya tidak tahan lagi, dan berbicara.

“... Um ... Maksudku ... aku senang ... ta-tapi, di depan Iku-chan sedikit ...memalukan….”

“-! Ma-Maaf, aku melakukannya lagi ...”


“Ah, well, aku cuma tersipu tentang ini ... bukan sesuatu yang harus diminta maaf.”

“Tidak, aku membuatmu merasa tidak nyaman, karena ... aku benar-benar ... melontarkan beberapa hal yang memalukan ...”

“Tidak tidak—”

“Tidak—”

Dan begitulah, mereka terus saling meminta maaf satu sama lain ... Seriusan deh, apa yang terjadi dengan pasangan idiot ini ... Apa aku dipaksa menonton di sini?

“Apa aku dipaksa menonton di sini?”

Ah, aku keceplosan mengatakannya.

“Ugh ... Ma-Maaf, Iku-chan ...”

“... Maksudku, tidak apa-apa, sungguh.”

... Sebenarnya aku merasa sedikit cemburu. Aku ingin tahu apa suatu hari nanti aku bisa mengalami sesuatu seperti ini ...

“Tidak tidak tidak tidak!”

Tenanglah, diriku! Ini bukan waktunya untuk menghayal! Aku harus mencari tahu apakah orang ini — Watase Kairi, adalah cowok yang layak menjadi pacar Nano !!

Dan di sana, aku tersadar. Aku sudah menemukan jawaban untuk pertanyaan ini. Meski kepalanya sedikit sableng, sudah jelas terlihat bahwa Nano lebih penting baginya daripada orang lain. Hanya mendengar kata-katanya, sudah jelas bahwa cowok ini akan melakukan segalanya untuk melindunginya. Pada akhirnya, itu semua hanya ...

“Iku-chan?”

“……”

Betul. Mengujinya cuma alasanku saja. Aku hanya tidak ingin Ia mengambil Nano dariku. Itu sebabnya aku merasa iri padanya.

“Ah ... Ahh, Senpai, aku merasa agak lapar ...”

“Dipahami.”

“Di sini, makan sedikit mo — Wah, cepat sekali?!”

Watase berjalan ke mesin kasir tanpa ragu, di mana Nano tertawa terbahak-bahak. Tentu saja, aku tahu betul bahwa Nano tidak merasa lapar atau semacamnya.

“... Maaf tentang itu.”

“Ahaha, menemukan sisi Iku-chan yang langka!”

“…Bawel.”

Meskipun dia perhatian padaku, aku tidak merasa minta maaf atau marah. Itu seperti Nano. Dan itu sebabnya aku merasa semakin terganggu dengan keegoisanku sendiri—

“Terima kasih banyak, Iku-chan.”

Karena itu, aku tidak mengharapkan rasa terima kasih sedikit pun.

“…Hah?”

“Maksudku, Senpai kadang-kadang bisa agak aneh, jadi aku merasa cemas meninggalkannya dengan orang lain.”

“... Keluhatan jelas.”

Aku bisa melihatnya.

“Tapi, kupikir, jika itu Iku-chan, kamu mungkin baik-baik saja dengan Senpai yang seperti ini. Kamu akan melihat Senpai secara keseluruhan ... Dan aku bertaruh untuk itu.”

“Maksudku ... aku yang ingin bertemu dengannya sejak awal, kan?”

“Ya. Aku pikir itu tidak akan berhasil jika bukan untukmu, Iku-chan. ” Nano menatapku lurus ke mata. “Itu sebabnya — terima kasih telah bermain bersama dengan keegoisanku hari ini. Berkat kamu, aku bisa membual tentang Senpai — tentang pacarku, jadi aku sangat puas. ” Nano berkata dengan nada bercanda.

Sungguh, ini sebabnya dia ... Ini sebabnya dia teman terbaik yang bisa kau miliki.

“Ah, tapi—”

Setelah melihat sekilas ke Watase yang masih berdiri di kasir, Nano mendekatkan wajahnya ke telingaku, dan berbisik.

“Ka-Kamu tidak boleh jatuh cinta ... dengan Senpai, oke ...?”

“Hah?”

Hah?

“-! Bu-Bukan apa-apa! Lupakan saja apa yang kukatakan tadi!”

Nano pasti baru menyadarinya usai mengatakannya. Bahwa dia mengatakan sesuatu yang sangat memalukan. Serius, apa-apaan dengan dia ... apa dia itu lucu atau apa? Aku ingin menggodanya lagi.

“Yah, memang benar kalau Watase sepertinya orang baik.”

“-Benar, ‘kan?! Lebih, pujilah lagi!”

“Ia mungkin agak sableng, tapi aku tidak bisa menyangkal tentang ketekunannya, dan Ia serius denganmu. Ia pasti tidak akan selingkuh darimu.”

“Baiklah benar! Itu Iku-chan untukmu, kamu benar-benar mengerti! ”

“Ia cukup tampan, dengan punya gaya yang hebat juga, dan Ia yang sedikit berotot sebenarnya sesuai kesukaanku.”

“... Kesukaanmu?”

“Itu mengingatkanku, Nano, bukannya kamu pernah bilang kalau orang bebas untuk jatuh cinta pada siapa pun yang mereka inginkan?”

“Eh? Hah? I-Iku-chan?!”

“Kencang sekali, heh.”

“Ti-Tidak, tunggu, tunggu dulu! Iku-chan! Ka-Kamu tidak boleh, oke ... ?! ” Nano melompat dari tempat duduknya, tampak seperti akan menangis.

Aku tidak bisa menahan lebih lama dari itu, seriusan deh.

“Pfft, ahahahaha! Wajahmu putus asa sekali! Aku cuma bercanda, doang!”

“……… Bercanda? Benarkah? Benarkah? ”

“…Siapa tahu?”

“Iku-chaaaaan?!?!”

“Apa ada yang salah?”

Watase kembali dengan waktu yang pas, memaksa Nano membeku sepenuhnya.

“U-Um ... yah ... Tunggu, apa-apaan ini ?!”

Watase membawa nampan besar, dengan sandwich dan donat yang tak terhitung jumlahnya di sana, bahkan membuatku terkejut.

“Aku memilih beberapa hal yang seharusnya memuaskan nafsu makanmu.”

“Maksudku, aku berterima kasih untuk itu, tapi sebanyak ini ... ?!”

“Apa masih kurang cukup?”

“Kenapa kamu langsung menyimpulkan begitu?!”

Cowok ini luar biasa, haha!

“Aku terkejut karyawan di sini tidak bertanya dua kali tentang jumlah ini ...”

“Ia memang bertanya.”

“Beneran ditanya?! Kalau begitu pikirkan baik-baik di sana! ”

“Aku bertanya lagi mengapa Ia menanyakan itu, tapi Ia akhirnya hanya mengatakan 'Maaf', dan membiarkanku.”

“Bukan itu yang aku maksud!”

“Pfft ...”

“Ini bukan waktunya untuk tertawa Nano!”

“Tapi ... balasanmu sangat sengit ... sehingga aku...hahahaha”

... Ugh. Jangan buat aku malu sekarang. Dan, mereka berdua benar-benar pasangan serasi. Rasanya mereka saling merindukan satu sama lain dalam percakapan mereka, namun masih memiliki panjang gelombang yang sempurna.

“Haa ... Terserahlah, aku mau mengembalikan ini lagi, jadi pilih yang ingin kamu makan.”

“Okayyy, kalau begitu aku yang ini ~”

“Aku sudah kenyang.”

“Benarkah? Aku akan pergi kalau begitu.”

“Ikunohara.”

“Hah? Kamu tidak perlu membantuku, itu akan membuat segalanya lebih rumit.”

“Aku tahu ... Terima kasih.”

“... Y-Ya.”

Sungguh, mengapa kamu bisa tiba-tiba berada di depanku seperti itu ... Apa Nano dilakukan karena ini? —Ah, dia melihat ke sini.

“... Mungkin kamu seharusnya membantuku, Watase.”

“Kau yakin?”

“Kamu seharusnya baik-baik saja jika kamu bersamaku.”

“Eh ... Eh?!”

“Tenang, Nano. Jangan khawatir.”

Aku hanya ingin berbicara dengannya sebentar. Nano yang biasanya kemungkinan besar akan mengejar itu, tapi dia agak aneh hari ini. Wajah yang baru saja dia lihat ketika menatap punggung Watase ... seperti dia bahagia, malu-malu ... Inikah artinya jatuh cinta?

... Ini bahkan bukan tentang diriku, namun aku, memasukkannya ke dalam kata-kata ... sangat memalukan. Tapi, itu sebabnya aku harus mengatakannya. Aku mengambil keputusan, dan berbicara kepada Watase ketika mengantri.

“Yo, Watase.”

“Ya.”

“Umm…”

Eh ... meski aku memutuskan untuk mengatakannya, sekarang malaj begini ... Ahh, aku sangat menyedihkan! Ambil napas dalam-dalam, dan coba lagi ...

“Ka-Kamu tahu ... Aku sebenarnya merasa sedikit cemburu karena kamu ...”

Watase mungkin menatapku sekarang, tapi aku tidak bisa membalas tatapan itu.

“Aku menjadi marah, merasa cemas karena kamu mencuri Nano dariku ... Kupikir dia pasti menikmati waktu lebih menyenangkan denganku ... hal-hal seperti itu. Tapi setelah bertemu denganmu hari ini, aku menyadari itu. Aku idiot, bukan.”

Ya, idiot. Nano sudah jatuh cinta padanya, aku tidak punya hak untuk mencegah hubungannya, namun ...

“Ikunohara, kau salah dalam hal itu.”

“Ya, aku tahu aku — Hm? Salah?”

Apa yang? pikirku, ketika Watase dengan cepat menutup jarak antara kami berdua, menatap lurus ke mataku.

“Eh ... A-Apa yang kamu ...”

“Ada hal yang hanya bisa aku lakukan, dan hal yang hanya bisa kau lakukan. Kita tidak pernah bisa menjadi pengganti sempurna untuk yang lain. ”

“……”

Matanya membuatku terperangkap di dalam. Aku merasa menggigil di punggungku.

“…Maaf. Aku membuatmu melihat sesuatu yang tidak perlu.”

“Y-Ya ...”

Ia meminta maaf, tapi aku tidak tahu untuk apa. Mungkin sesuatu terjadi di masa lalunya? Meski aku merasa tertarik, bukan berarti aku hanya bisa bertanya padanya. Juga, ini akan menjadi giliran kami dengan sangat cepat, jadi aku harus mengeluarkannya sekarang!

“P-Pokoknya, maaf karena bertingkah seperti aku sedang mengujimu dan itu saja! Aku tahu ini mungkin terdengar aneh karena datang dari mulutku, tapi ... Aku senang kamu adalah pacarnya. ”

Aku merasa seperti kehilangan suaraku dalam beberapa kata terakhir itu, tapi siapa yang peduli ...

“Aku juga senang kau adalah teman berharga Koori. Tolong perlakukan aku dengan baik mulai sekarang. ”

“——”

“...? Apa ada yang salah?”

Maksudku, itu yang ingin aku tanyakan ... Bagaimanapun juga ...

“... Apa-apaan dengan wajah itu, hei.”

Pasti yang ini. Cara Watase berhasil memenangkan hati Koori.

“Watase ... Jangan lakukan itu di depan cewek lain selain Nano ... Dan, jangan beri tahu Nano tentang ini juga.”

Dia pasti akan salah paham.

“... Aku tidak terlalu mengerti apa yang kau maksud, tapi jika itu demi Koori, maka aku akan melakukannya. Aku berjanji.”

“Y-Ya ...” Aku jadi tersipu pada kejujuran Watase lagi.

... Sial, mengapa harus aku yang memerah seperti ini ... dan juga, Ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang aku katakan, bukan? Kurasa aku harus mengulang sendiri untuk terakhir kalinya. Aku memberkati hubungan mereka berdua — atau begitulah yang aku pikirkan, tapi..

“Ahahahahaha, I-Iku-chan ... I-Itu ... Ahahahaha!”

Nano mengolok-olokku ketika kami kembali, melihat bahwa kami tidak diizinkan untuk mengembalikan sandwich dan donat lagi. Ditambah lagi dengan Watase yang mengawasi kami dengan ekspresi riangnya ...! Ya Tuhan, keduanya sangat menyebalkan ... Kalian memang pasangan yang serasi, untuk menangis dengan keras. Meledaklah pasangan idiot! Dan tetap bersama untuk selamanya!

 

Tambahan

“Senpai, tadi apa yang kamu bicarakan dengan Iku-chan?”

Kami sedang dalam perjalanan pulang setelah berpisah dengan Iku-chan. Aku bertanya kepadanya berkali-kali sampai sekarang, tapi tidak pernah mendapat jawaban ... Maksudku, itu baik-baik saja, ‘kan? Hanya ... ketika mereka kembali, mereka berdua tampak memliki suasana hati yang baik ...

Tentu saja, itu baik-baik saja, oke ?! Aku berharap mereka berdua juga bisa berhubungan baik sebagai teman!

—Yah, memang benar kalau Watase terlihat seperti orang baik.

—Ia terlihat tampan, dan punya gaya yang hebat juga

—Tubuhnya yang sedikit berotot sebenarnya sesuai seleraku

Sesuai selera, katanya ...!

“Tidak, dia pasti cuma bercanda tentang itu!”

“...? Koori?”

“Ah.”

Aku benar-benar mengatakan itu dengan lantang, bukan ?! Ahhh, apa yang sudah aku lakukan ...!

“Aku sudah penasaran dari tadi... Apa ada sesuatu yang ingin kau ketahui?”

Senpai benar-benar tahu ~~~! Gaaah, terserahlah! Lakukan atau mati!

“Senpai! Apa yang kamu bicarakan dengan Iku-chan ketika kamu mengembalikan makanan tadi ?! ”

Ah, pada dasarnya aku berteriak padanya ... Itu membuatku terdengar seperti orang gila yang mencurigakan ...!

“Ah, itu.” Senpai mengangguk, dan membuka mulutnya. “Aku berbicara dengan Ikunohara tentang ...”

Ia berhenti ... Hah? Mengapa?

“Tentang…?”

Senpai tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan kemudian, melanjutkan tanpa menahan apapun.

“Rahasia.”

“—Eh. Eh ?! Ra-Ra-Rahasia?! ”

“Ini demi dirimu, Koori.”

“Ehhhhh ?! Apa maksudnya itu?!”

Serius, apa yang Ia maksud dengan itu ?!

“Aku tidak mengerti ... tapi Ikunohara memberitahuku untuk mengatakan itu.”

Iku-chan bilang begitu... itu sama sekali tidak membantu ?!

“U-Um ... Tidak ada yang terjadi di antara kalian berdua, kan ...?”

“…Apa yang kau bicarakan?”

“Itu — Ahhh, kurasa itulah yang akan terjadi!”

Karena itulah aku mencoba menghindari mengatakannya dengan lantang !! Tanda tanya muncul di atas kepala Senpai, membuatku tidak punya pilihan lain selain menyerah dengan “Lupakan saja... !!”, menghindari wajahku yang merah padam.

... Ahhhhhhh, aku tinggal bertanya langsung pada Iku-chan!


Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama