1LDK, Soshite 2JK Vol.1 Chapter 15 Bahasa Indonesia

 

Chapter 15 — Gadis SMA dan Penyerangan

 

 

Aku benar-benar ingin terhindar dari hal-hal seperti demam flu di luar musim …….

Tidak, kali ini Kanon kena demam juga….

Aku menekan tombol keyboard di komputerku lebih cepat dari biasanya karena  dipenuhi dengan keinginan untuk berteriak.

Mana mungkin aku bisa meramalkan kalau empat orang akan cuti sakit ...

Berkat itu, pekerjaan departemen akuntansi lebih menumpuk dari biasanya.

Semuanya takkan seburuk ini jika cuma satu atau dua orang yang cuti, tapi kalau yang cuti sakit berjumlah empat orang sih beda lagi ceritanya.

“Isobe keparat, awas saja kalau Ia tidak mentraktirku makanan mahal kalau sudah sehat ....”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyuarakan keluhanku kepada rekan kerja yang tidak berada di kursi kerjanya.

Meskipun pria sialan itu selalu energik.

Kata lemah sama sekali tidak cocok untuknya, jadi apa yang dia lakukan …….

Rekan sejawat lain dalam tim akuntansi yang melakukan pekerjaan mereka masing-masing memiliki wajah seperti zombie juga.

“Komamura, tolong urutkan departemen penjualan untukku ~”

Sementara aku berkonsentrasi, tanda kwitansi sudah ditempatkan di mejaku.

Aku merasa suara itu berasal dari Sachihara, tetapi aku tidak dapat memastikannya dengan punggung menghadapku.

Aku dengan cepat membalik-balik tanda kwitansi untuk memeriksanya, tapi sepertinya aku menemukan nama produk yang tidak tertulis di sini.

Apa-apaan? Keparat mana yang melakukan ini. Aku harus memeriksanya ketika aku sesibuk ini.

Aku lalu melihat waktu di PC-ku.

…… Sepertinya aku akan lembur….

 

*****

[Sudut Pandang Orang Ketiga]

Hari ini Himari libur dari pekerjaannya.

Untuk makan siangnya, dia memakan onigiri buatannya sendiri.

Setelah mempelajari cara membuat onigiri tanpa mengotori tangannya, dengan menggunakan bungkus dan rice bowl dari Kanon, dia sudah tak sabar untuk membuatnya sendiri.

Himari yang kikuk pun bisa membentuknya menjadi bentuk yang indah, sehingga penampilannya juga apik.

Kanon menyiapkan bahan untuknya di pagi hari.

Onigiri hari ini adalah berisi ikan cod dan tuna mayones.

“Itu enak.”

Himari selesai makan, mengatupkan kedua tangannya.

Dan kemudian, ketika dia dengan santai melihat-lihat atas rak sepatu di dekat pintu, dia menemukan dompet di atasnya.

“Ah….”

Dompet hitam panjang pasti milik Kazuki.

Sekarang sudah menjelang waktu makan siang, jadi Ia mungkin bermasalah dengan itu sekarang.

Dan saat Himari berpikir begitu–

*Piriririri*

Telepon rumah pun berdering.

Itu pasti dari Kazuki.

Ia pasti mengira Ia kehilangan dompetnya dan menelepon untuk memeriksa.

Himari menyimpulkan itu, dan menjawab panggilan tersebut.

Halo—”

*klik*

Namun, begitu dia menjawab tanpa menyebutkan namanya, panggilan itu terputus.

Setelah meletakkan telepon, dia akhirnya menenangkan diri —-

Dan begitu menyadari kalau dia mengangkat telepon saat diberitahu untuk tidak melakukannya, Wajah Himari langsung pucat.

Dia segera melihat riwayat panggilan.

Satu-satunya hal yang ditampilkan adalah “Nomor Tersembunyi.”

Dari siapa itu?

Setidaknya, Himari yakin kalau itu bukan dari Kanon atau Kazuki.

Jika mereka segera memutus panggilan, mereka pasti mengira mereka memutar nomor yang salah karena kesalahan.

Jika memang begitu, tidak akan ada masalah tetapi–

Kata-kata, “Nomor Tersembunyi.”membuat Himari merasa tidak nyaman.

Lain kali jika ada panggilan masuk, Himari bersumpah untuk tidak mengangkat telepon—

Tapi panggilan berikutnya tidak pernah terjadi.

 

*****

Sama seperti terakhir kali, Yuri sedang menunggu di depan kantor Kazuki sambil memegang barang-barang yang akan dia berikan kepada Kanon.

Tapi, Kazuki masih belum keluar.

“Kau sangat terlambat Kazuki ~”

Langit sudah mulai gelap, tapi bahkan tidak ada tanda-tada kalau Kazuki akan keluar dari pintu masuk.

Mungkin Ia sibuk hari ini.

Yuri menyesal karena tidak bertukar nomer kontak dengannya

Sudah setengah tahun sejak mereka bertemu lagi, namun dia tidak bertanya padanya setelah sekian lama.

Sejak itu, Yuri tidak bisa lebih dekat dengannya.

Saat masa SD dulu, rumah mereka sangat berdekatan, dan ibu mereka adalah teman baik. Tanpa dia sadari, mereka sudah sering bermain bersama

Agar tidak digoda saat SMP, mereka hampir tidak pernah berinteraksi di sekolah tetapi mereka saling mengajari mata pelajaran yang mereka kuasai di rumah dan berhasil melalui tes.

Di SMA, mereka bedua berjalan bersama di pagi hari sambil membicarakan hal-hal sepele.

Dan kemudian, pada saat memasuki perguruan tinggi, mereka berdua berpisah dan belum bertemu sama sekali setelah mendapatkan pekerjaan sendiri.

Perusahaan Yuri tiba-tiba bangkrut, dan bekerja sambilan sambil berjuang untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Bukan kebetulan bahwa Yuri memilih pekerjaan di dekat tempat kerja Kazuki. Dia mencari kesempatan untuk menutup celah di antara mereka, seperti dulu.

Itu sebabnya saat dia mengetahui bahwa Kazuki adalah pengunjung yang sering mengunjungi kedai kopi itu, dia sangat gembira.

Menghidupkan kembali hubungan lamanya dengan Kazuki telah membuatnya dipenuhi dengan kegembiraan.

Dulu ketika dia bekerja di perusahaan, dia dipaksa untuk menghadiri kopdar untuk mengimbangi rasio jumlah pria dan wanita. Banyak pria yang berusaha  mencoba untuk bertukar nomer kontak dengannya dan dia juga sudah ditembk beberapa kali oleh rekan kerjanya.

Tapi Yuri selalu menolak semuanya.

Itu karena, hanya Kazuki yang selalu menjadi orang spesial di hatinya.

Sedangkan Kazuki mungkin tidak memiliki ciri khas apapun dan memiliki penampilan yang membosankan.

Dan dia bahkan bukan yang terbaik dalam melakukan percakapan. Tapi Yuri suka berbicara dengannya.

Dan di atas semua itu, ada sesuatu yang Yuri ketahui.

Dia tahu bagian diri Kazuki yang berusaha mencapai mimpinya.

Tapi Yuri tidak berani melakukan hal seperti mengakui perasaannya secara langsung.

Bahkan sekarang, status mereka masih sekedar teman masa kecil ——- Ada perasaan yang bercampur aduk dalam dirinya.

Namun bahkan sekarang dia tidak bisa menyerah.

–Bahkan sekarang mereka sudah dewasa.

“Jika Kazuki mengetahui betapa terobsesinya aku padanya, dia pasti akan membenciku ……”

Setelah tersenyum mencela diri sendiri, dia melihat ke arah gedung kantor perusahaan Kazuki.

Lampu di sebagian besar lantai bersinar di langit malam.

Mungkin departemen lain pun sibuk hari ini.

“Sepertinya aku harus pergi dulu ……….”

Dia tahu inti dari arah rumah Kazuki.

Dia tidak punya rencana untuk tinggal lama, hanya cukup untuk menyerahkan semuanya kepada Kanon.

Meski agak sedih karena tidak bisa bertemu Kazuki, selalu ada waktu berikutnya.

 —Yuri lalu berjalan pergi ke stasiun.

 

*****

[Sudut Pandang Komamura]

A-Akhirnya….

Aku menjatuhkan diri ke permukaan mejaku setelah mematikan PC.

Aku berhasil selamat dari tumpukan pekerjaan yang gila.

Meski, itu lebih cepat dari yang aku harapkan.

Kerja bagus, diriku. Sial, aku lelah sekali.

Aku merasa seperti akan meleleh di mejaku, tetapi rasa lapar yang melanda perut mengingatkanku betapa aku ingin pulang.

Aku lupa membawa dompet, jadi aku tidak bisa makan banyak untuk makan siang.

Aku meminjam uang untuk membeli udon termurah di kafetaria

Itu prinsipku untuk tidak meminjam terlalu banyak uang.

Bagaimanapun juga, aku harus segera pulang.

Aku membawa kartu kereta, jadi tidak masalah, jadi tidak punya uang juga bukan masalah.

Ah- Sepertinya tidak ada bir yang tersisa.

Tidak ada pilihan selain tidak minum hari ini kurasa ……

Aku meninggalkan gedung kantor dengan suasana hati yang depresi.

 

*****

[Sudut Pandang Orang Ketiga]

“Aku pulang ~”

“Selamat datang kembali, Kanon.”

Sekembalinya dari sekolah, Kanon disambut oleh Himari.

Ada tas belanjaan yang menggantung di tangannya. Sepertinya dia mengambil kesempatan untuk mampir berbelanja.

“Hei, Himari. Aku akan membuat tahu mapo hari ini. Kamu tidak suka terlalu pedas, kan?”

“Iya, aku tidak terlalu suka. Dan juga Kanon… Bolehkah aku ikut membantu? ”

“Ya, aku tidak keberatan, tapi bagaimana dengan gambarmu?”

 “Aku sedang mengganti suasana dulu sesekali.”

“Oke ~ Dokie ~. Aku mau cuci tangan dulu jadi tunggu sebentar ~. "

Saat Kanon menuju kamar kecil, Himari mengeluarkan daging dari tas belanjaan yang dibawa Kanon.

Dan kemudian— Interkom berdering.

Kanon meninggalkan kamar kecil dengan tergesa-gesa dan bertemu dengan mata Himari yang sedang panik.

“Himari. Pergilah bersembunyi ke kamar Kazu-nii.”

“Iya.”

Dengan secepat kilat, Himari bersembunyi di kamar Kazuki.

—–Kanon lalu menjawab interkom.

“Siapa?”

“Tukang antar paket.”

Terdengar suara pria dari sisi lain interkom.

“Ah, paket ya.”

Kazuki pasti memesan sesuatu.

Kanon menyimpulkannya begitu, dan dengan cepat menuju ke pintu.

Ketika dia membuka pintu, ada seorang pria yang memakai topi– tampaknya berusia 30-an atau 40-an.

Hanya saja, dia tidak membawa paket.

Sebaliknya, dia tidak mengenakan seragam kurir, melainkan kemeja dan jeans biru biasa.

“………….?”

Setelah meliaht itu, wajah Kanon mengerutkan kening karena curiga. Dan-

—- Itu terjadi dalam sekejap—

Pria itu dengan memaksa masuk ke dalam.

“Eh—-”

Dengan seberapa cepat itu terjadi, Kanon tidak dapat bereaksi.

Tidak, bukan hanya itu. Kekuatan pria itu begitu kuat sehingga dia dengan mudah menerobos pintu.

“Ha—!?”

“Jangan bergerak.”

Suara dan matanya yang tajam mengancam Kanon.

Kemarahan yang bahkan tidak dia coba sembunyikan lebih dari cukup untuk membuatnya ketakutan karena Kanon tidak terbiasa dengan laki-laki.

Dalam sekejap Kanon membeku, pria tersebut menerobos masuk ke dalam, dengan masih memakai sepatu.

“Shouko! Dimana kau !? ”

“—!”

Jantung Kanon berdegup lebih kencang saat mendengar nama yang pria itu ucapkan.

(“Kenapa Ia memanggil nama ibuku !?)

Pria tersebut adalah seseorang yang belum pernah dilihat Kanon sebelumnya.

Kanon tidak tahu ada hubungan macam apa antara pria tersebut dengan ibunya.

Yang dia tahu hanyalah bahwa dia sepertinya ada urusan dengan ibunya.

“Shouko!”

Sembari meneriakkan nama itu, Ia berputar-putar dan membuka pintu kamar mandi.

Di saat yang sama, Himari merasakan ada yang tidak beres, keluar dari kamar menuju dapur, melihat apa yang terjadi ..

(Himari !? Jangan keluar!)

Kanon mengira dia berteriak keras-keras.

Tapi suaranya tidak keluar.

Himari juga membeku ketakutan saat dia melihat pria itu.

Mata pria itu dan Himari bertemu.

Hasil terburuk membanjiri pikiran Kanon.

Entah bagaimana, tolong!

Jangan biarkan Himari terluka.

Kumohon—

Entah keinginannya terkabul atau tidak, tetapi pria itu hanya melewati Himari.

Kali ini, dia dengan sembrono membuka lemari ruang tamu.

“Shouko! Jika kau di sini, cepatlah keluar! ”

Dan tetap saja, pria itu menjelajahi ruangan, meneriakkan nama ibu Kanon.

Setelah sembarangan memeriksa bagian belakang tirai, Ia lalu pergi ke kamar Kazuki berikutnya,

Dengan tontonan yang terlalu aneh, dan suara pria yang mengintimidasi, kedua gadis itu tidak bergerak untuk beberapa saat tapi—

Himari adalah orang pertama yang sadar kembali.

Pada saat yang sama pria itu memasuki kamar tidur, Himari berlari ke arah Kanon.

Himari memeluk erat Kanon yang wajahnya pucat pasi karena syok.

“Apa kamu baik-baik saja, Kanon?”

Kanon menanggapi dengan anggukan.

Mungkin karena perasaan aman yang diberikan panas tubuh Himari, Kanon hampir ingin menangis.

Ketika Himari melepaskan pelukannya, dia memberi isyarat agar Kanon tetap diam.

Tanpa waktu untuk bertanya apa yang akan dia lakukan, Himari mengambil wajan penggorengan di dapur.

Dia kemudian berdiri di atas meja, masih memegang wajan.

Akhirnya, langkah kaki pria itu terdengar keluar dari kamar tidur Kazuki.

Himari memegang wajan dengan kedua tangannya saat dia gemetaran dan menatap ruang tamu dari dapur.

“Hei, kalian yang di sana. Kau ini putrinya Shoko, ‘kan? Dimana—”

“Hiyaaaah!”

Saat pria itu kembali ke dapur, Himari melompat menggunakan meja sebagai pijakan, dan mengayunkan wajan ke kepala pria itu.

 “Gahack— !?”

Himari dengan keras memukul kepala pria itu di bagian kanan dan tengah,

Dengan gaya sentrifugal, dia juga mendorong lututnya ke dalam perut si pria.

Setelah mendarat, Himari mengayunkan wajan ke punggung pria itu, yang berjongkok di lantai.

“Ini adalah balasan untuk Kanon! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! ”

Dengan mata berkaca-kaca, Himari tanpa henti menyerang pria dengan sisi wajan penggorengan yang tumpul.

“Rasakan ini! Ini juga untuk menerobos masuk tanpa izin! Hyaaa! ”

“Aduh! He-Hentikan—- !? H-hei! Berhenti! Hentikan! Aku—!”

“Ap-Apa yang terjadi disini !? Apa kamu baik-baik saja Kanon !? ”

Dan dari luar pintu depan terdengar suara baru.

Semua orang di ruangan itu balas menatap Yuri yang berdiri di sana sambil memegang kantong kertas.

Dia merasakan kekacauan di dalam apartemen melalui pintu dan langsung masuk.

Yuri khawatir bahwa sesuatu terjadi pada Kanon dan jadi dia masuk, tapi pemandangan yang terbentang di depannya jauh di luar kemampuannya untuk memproses sesuatu.

Kanon yang berdiri di sana dengan wajah pucat, dan seorang gadis yang tidak dia kenal sedang memukul pria yang juga tidak dia kenal dengan wajan penggorengan.

“Eh… uhm, siapa?… .Err… .e, apa? Siapa…..?”

Yuri membeku.

Seolah-olah waktu berhenti karena semua mendadak berhenti.

Dan mengambil kesempatan, pria itu merangkak di lantai, menjauhkan dirinya dari Himari.

“Hei, kalian semua adalah putri Shouko kan !? Te-Tenanglah dulu, oke? Aku tidak—m”

*kachack*

Dan pintunya terbuka lebih jauh.

Semua mata berpaling padanya sekali lagi.

Kali ini, pemilik ruangan - Kazuki telah kembali.

“………………”

Sama seperti Yuri, Kazuki tidak bergerak sesaat tapi–

Ia segera bergerak.

Langkag pertamanya menuju ke orang asing yang ada di rumah—-

Berlari ke arah itu.

Dia memegang punggung pria itu dan mengunci lengannya di belakangnya.

 

*****

[Sudut Pandang Komamura]

Siapa yang bisa mengira saat aku pulang ke apartemen  dan menemukan pemandangan yang begitu kacau?

Yuri sedang berdiri di ambang pintu, dan Himari tidak bersembunyi, di luar terlihat jelas—

Namun demikian, setelah mengetahui bahwa Penyerang Tak Dikenal harus ditangani terlebih dahulu, tubuhku secara mengejutkan bergerak tenang, sampai-sampai aku sendiri dibuat kaget.

Lebih tenang dari pertandingan judo yang pernah aku ikuti.

Jika Kanon tidak mengatakan— "Sepertinya dia sedang mencari ibuku-" Aku akan langsung membuat pria ini pingsan saat itu juga.

Luka yang dialami pria itu karena Himari dan aku terlihat sangat besar dan sekarang duduk di lantai dapur tanpa punya tenaga untuk berdiri. —– adalah apa yang bisa kusimpulkan dari ekspresinya.

Ada banyak sekali hal yang perlu diselesaikan tetapi–

“Apa kalian sudah menelepon polisi?”

Saat aku bertanya, Himari dan Kanon menggelengkan kepala bersamaan.

“Hei kau………….”

Aku hendak memarahi mereka tapi aku menahan diri.

Mungkin sulit dilakukan saat situasi panik tapi ……

Sementara aku ingin mereka memanggil polisi terlebih dahulu dan terutama—

Setelah memikirkannya, itu akan berubah menjadi sangat buruk jika itu terjadi, itulah yang akhirnya aku sadari ....

Mungkin hanya karena hidup dengan Himari telah dinormalisasi sampai batas tertentu, aku benar-benar lupa tentang masalah "itu" ……….

“Kazu-nii. Orang ini sepertinya kenal dengan ibuku ……. ”

Kanon memberitahuku dengan malu-malu.

Itulah yang paling menarik bagi Kanon ... ...

Aku kira inilah saatnya untuk memperjelas tentang identitas pria ini.

“Ehm… .Pertama-tama, jujur ​​saja, Anda ini siapa?

“… ..Saya Murakumo. Saya berpacaran dengan Shouko.”

Aku sudah menduganya tapi, jadi begitulah kenyataannya ya….

Saat aku melirik sekilas ke Kanon, dia sepertinya sampai pada kesimpulan yang sama, jadi dia tidak terlalu gelisah.

“Jadi? Kenapa Anda menerobos masuk ke sini? "

–Dan untuk itu, pria yang menamai dirinya Murakumo, menjawab dengan suara rendah.

“Tidak. Anda bisa meminta maaf nanti, tolong kasih tahu alasannya.”

“Saya datang untuk mencari Shoko.”

Ah, itu cocok dengan kesaksian Kanon dan yang lainnya di sini.

Apa yang benar-benar ingin aku ketahui ialah informasi yang lain.

Ketika aku memaksanya terus melanjutkan melalui tatapan mataku, pria itu mendadak gagap berbicara dan ——–

Singkatnya, inilah yang terjadi.

Sepertinya ibu Kanon— Shouko, telah tinggal di rumah Murakumo cukup lama setelah dia meninggalkan rumah.

Tapi, dia menghilang tanpa sepatah kata pun beberapa minggu lalu.

Murakumo tidak tahu mengapa dia pergi.

Demi menemukan Shouko, Ia menggunakan kunci duplikat yang Ia terima untuk masuk ke rumah Kanon, tapi akhirnya tidak menemukan petunjuk apapun.

Tetapi secara kebetulan, dia menemukan catatan dengan nomor telepon kerabatnya.

Dan itu adalah tempat orang tuaku dan apartemen ini.

Murakumo pertama kali menelepon tempat orang tuaku untuk mencoba mencari tahu, tapi tidak ada yang mengangkat telepon.

Yah tidak mengehrankan.

Ibuku sedang dirawat di rumah sakit, dan Ayah selalu sibuk.

Jadi, Ia mencoba menelpon nomor lain —— Ia mencoba menelepon apartemenku, yang merupakan tempat ini, dan sebuah suara wanita menjawab telepon.

“Ah…..”

Himari menecplos, dan dengan itu, aku tahu siapa yang menjawab telponnya.

Sepertinya Murakumo mengira itu suara Kanon.

Dia juga mengatakan bahwa dia hanya mengenal Kanon melalui cerita Shouko.

Dan berpikir jika Kanon ada di sini, maka kemungkinan besar Shouko juga ada di sini.

Jadi, mencari tahu tentang tempat ini, darah mengalir ke kepalanya dan semua akal sehatnya hilang entah kemana.

Ada sesuatu yang disebut mengganggu, lalu ada ini.

Kalau dipikir-pikir lagi, ketika aku dan Kanon pergi ke rumah lamanya, Kanon merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Aku menyadari bahwa intuisi seorang wanita memang luar biasa.

“Aku tahu aku bertindak terlalu jauh …… .tapi lebih dari siapa pun yang pernah aku temui, dia—”

Murakumo melihat ke arah kejauhan saat Ia mengatakannya.

Bibi Shouko mungkin adalah penakluk hati pria — itulah yang kupikirkan saat melihat Murakumo.

Aku tidak pernah terobsesi dengan orang lain seperti dirinya, jadi aku tidak tahu apa yang Ia rasakan.

“Namun demikian, aku sangat menyesali kurangnya ketenanganku dan menerobos masuk ke dalam tanpa izin. Maaf….”

Saat Murakumo berlutut, bersujud, kami semua bertukar pandang.

Reaksi apa yang tepat di saat-saat seperti ini.

“Ah… uhmm, maafkan saya karena telah memukul anda dengan sekuat tenaga juga…”

Di belakangku, Himari berkata begitu sembari takut-takut.

“Tidak perlu diindahkan. Itu pembelaan diri yang sah, nona kecil.”

“O-Ok… ..”

Hmmm. Dengan perbedaan antara Murakumo yang sekarang berkepala dingin dan orang yang masuk ke rumah orang lain….

Ini mungkin contoh yang sangat ekstrim tentang bagaimana cinta mengubah sifat orang.

“Bagaimanapun, ibuku tidak ada di sini jadi…”.

“Kami juga ingin tahu di mana Bibi Shouko berada.”

“Begitu ya…”

“Dan pertanyaannya sekarang adalah… Apa yang akan kami lakukan dengan Anda sekarang?”

Biasanya, kami bisa menyerahkannya pada polisi karena masuk tanpa izin, tapi itu akan menempatkanku berada di situasi seperti telur di ujung tanduk.

Kedua gadis itu juga mengimbauku untuk "jangan melibatkan polisi" dengan kode mata mereka. Aku menimbang pada skala kehidupan yang aku miliki dengan mereka berdua sekarang, dan menyerahkan pria dengan perilaku radikal itu ke polisi—–

Dan aku memilih hidupku saat ini.

Sungguh dewasa yang tidak memiliki harapan….

“Saya akan menghubungi Anda juga saat Bibi Shouko ditemukan. Jadi saya harap Anda tidak kembali ke sini lagi.”

“……Aku mengerti.”

Dan ketika dia mendapatkan info kontakku, aku mengantarnya ke luar.

Begitu Murakumo pergi, keheningan menyelimuti ruangan.

Aku berhasil menyelesaikan satu masalah sekarang, tapi….

Dari sudut pandangku dan gadis itu, di sinilah masalah yang sebenarnya dimulai.

Aku dengan malu-malu menengok ke arah Yuri.

Dia ditinggalkan dan diam sampai sekarang.

Saat pandangan matanya bertemu denganku, dia mendesah pasrah.

“Apa kamu bisa memperkenalkan gadis itu padaku?”

Sambil menatap Himari, dia berkata tanpa ekspresi.

……………….

“Begitu rupanya….”

Setelah mendapatkan penjelasan singkat, dia kembali menatapku.

Mungkin bukan hanya imajinasiku kalau dia terlihat lebih dingin dari biasanya.

Padahal, kurasa tak peduli seberapa dermawannya Yuri, reaksi seperti ini memang sudah kuduga ……

Apa yang kami lakukan memang tidak masuk akal.

“Err, Ini bukan salah Komamura-san! Aku lah yang membuat permintaan yang tidak masuk akal– ”

“Iya. Ini bukan salah Kazu-nii. Akulah yang meminta Himari tinggal di sini jadi….! ”

Mungkin karena mereka menyadari atmosfir gelisah diantara aku dan Yuri, mereka berdua saling menyalahkan diri.

“Ah..Uhh, ya… ..”

Mungkin Yuri kewalahan oleh mereka berdua yang dengan panik mendekatinya, dia hanya membungkuk ke belakang.

“Jadi jangan salahkan Komamura-san!”

“Itu salah kami jadi…!”

“Uhm, aku mengerti apa yang terjadi, jadi tenanglah, kalian berdua.”

Yuri menenangkan mereka berdua, dan menatapku lagi.

Tapi aku tidak bisa benar-benar menatap langsung matanya.

“Kazuki ...... Jika orang lain mengetahuinya, kamu tahu akan tersandung masalah besar, ‘kan….?”

“Aku tahu. Tapi aku—”

Apa aku bisa tetap melindungi kehidupan ini bahkan jika ada kemungkinan hal itu terjadi?

Aku merenungi pertanyaan itu, dan jawaban yang keluar adalah–

—Iya

Mau tak mau aku menganggap aku bodoh karena hal itu.

“Keduanya masih di bawah umur lho. Mereka harus di bawah pengawasan orang dewasa.”

Dia tidak bermaksud menuduhku, tapi kata-katanya sangat menyakitkan.

Dadaku juga menegang.

Aku mengerti kenapa dia mengatakan itu tapi-

“……..Umm—”

 “Itu sebabnya aku juga akan ikut membantumu.”

“…… Eh?”

Aku secara refleks menatap langsung wajahnya.

Maksudku, kata-katanya sama sekali tidak seperti yang aku harapkan.

“Eh… .Apa?”

“Ya ampun, dengarkan baik-baik! Aku memberitahumu kalau aku juga akan membantu! Beban yang kamu tanggung sangat berat karena menjadi wali dari gadis-gadis manis ini kan !? ”

Senyumannya yang memancarkan kata-kata “Apa bolehh buat selain aku terlibat dengan benar ~” sama seperti yang sering aku lihat saat kita masih muda.

“Yuri …….”

“Jadi, Kanon dan… Himari, ya? Aku akan menjadi komplotan kalian sekarang— apa kalian setuju? ”

Yuri memiringkan kepalanya saat bertanya.

Kedua gadis itu, linglung untuk beberapa saat dan kemudian saling memandang–

Sambil tersenyum, mereka mengangguk dengan penuh semangat.

Yuri berkata “Aku mau pulang dulu untuk saat ini" dan kembali ke rumahnya.

Setelah Yuri pergi, Kanon dan Himari saling bertukar pandang lagi.

“Sekarang…. Ini waktunya ceramah untuk kalian ~ ”

“Eh? Mengapa? Polisi tidak dipanggil, da-dan semuanya berakhir baik-baik saja kan…. ”

“Itu hanya efek samping.”

Mungkin karena tampang seriusku membuatnya kewalahan, perkataan Kanon jadi terbata-bata .

“Kalian benar-benar beruntung kali ini. Jika orang itu membawa pisau, maka aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada kalian sekarang.”

“Itu… ..”

Himari juga menundukkan kepalanya.

“Mengerti? Jika sesuatu terjadi mulai sekarang di mana kau merasa ketakutan, jangan hanya berdian diri terus, kau harus lari. Jangan khawatirkan aku dan hubungi polisi. Kamu juga Himari, jangan berpikir tentang ditemukan oleh orang tuamu. Tidak ada yang bisa menggantikan hidupmu.”

“Iya…..”

“Aku mengerti…..”

Himari dan Kanon menanggapi dengan tepat.

Aku senang mereka memahami maksudku.

“Baiklah. Jika kalian sudah mengerti, itu asaj sudah cukup. Ini benar-benar sudah lewat waktu untuk itu, tapi perutku suah kelaparan.”

“Uuuuhm …… ..Aku tidak bisa membuat makan malam. Aku seharusnya membuat tahu mapo. ”

“Tentang itu, err, maaf Kanon… .. Aku membuat wajanmu agak penyok….”

Tunggu sebentar, wajan itu aslinya milikku….

“Baiklah, kita harus membeli yang baru. Kurasa kita bisa makan ramen hari ini. ”

“Ya… .. Tidak ada lubang di atasnya jadi bukan berarti kita tidak bisa memasak dengan ini tapi sel pria tua itu menempel ke dalam wajan sehingga terasa kotor. Aku tidak ingin memasak dengan wajan itu lagi.”

“Uwu…. Maaf… ..”

Sepertinya terlalu berlebihan. Perkataan tajam gadis-gadis SMA tidak bisa dimaafkan….

“Ah oh ya, apa kamu pernah belajar seni bela diri, Himari? Gerakan badanmu ketika melawan pria itu sejujurnya cukup bagus.”

 “Ermm…. Hanya saat aku masih SD  saja sih. Aku pernah ikut latihan kendo ……. ”

 “Ahh ~. Jadi itulah sebabnya kenapa kamu memegang panci seperti pedang. Pengalaman Kazu-nii di Judo benar-benar terbukti berguna.”

“Emang sih………..”

Untung saja pria tadi tidak membacawa senjata tajam.

Dan mungkin karena aku sudah lama tidak bergerak seperti itu, badanku mulai terasa nyeri. Besok mungkin lebih buruk lagi.

“Baiklah, ayo kita makan mie gelas untuk makan malam malam ini. Hmm, tapi yang kami punya di sini rasanya sangat berbeda jadi ~… .. Siapa cepat dia dapat! ”

“Ah, enggak adil, Kanon!”

“Oi. Uang itu berasal dari kantongku sendiri jadi biarkan aku memilih dulu! ”

Kami semua bergegas ke lemari tempat mie gelas disimpan.

Aku menghargai kebahagiaan di mana kami dapat mengalami konflik taruhan rendah ini.

Hari itu, aku mengalami mimpi yang tidak biasa.

Aku bermimpi saat masih latihan judo, di gimnasium di suatu tempat mengadakan pertandingan.

Ada banyak orang di gimnasium, memegang spanduk dan mengibarkan bendera. Masing-masing dari mereka bersorak.

Sepertinya ini adalah babak penyisihan perlombaan, dan aku duduk di posisi pelari kedua dengan catatan 5 lawan 5. Rekan setimku yang memelopori pertandingan, memberi kami satu poin dengan cara yang brilian.

Berikutnya giliranku.

aku menyemangati diriku sendiri, dan berdiri—

Pertandingan berakhir terlalu cepat.

Sepuluh detik setelah start, lawanku memutuskan pertandingan dengan tendangan melebar, dan membantingku ke tanah.

Masih berkubang dalam kekalahan telak, aku membungkuk sebagai rasa terima kasih kepada rekan satu timku, dan menyemangatiku dengan mengucapkan padaku untuk tidak menghiraukannya.

Itu masih satu kemenangan dan satu kekalahan.

Tapi aku masih frustasi, tentang “satu kekalahan” yang sepenuhnya karena kesalahanku.

Meninggalkan sentimen tersebut, Pertandingan berikutnya dimulai–

Itu adalah mimpi, tapi itu adalah refleksi dari kenyataan.

Ah, benar juga.

Ini juga masa laluku.

Aku sudah berlatih judo sejak aku masih SD, dan aku percaya bahwa aku akan terus melakukannya bahkan ketika aku menjadi dewasa, meski perasaan itu memudar setiap tahun.

Tubuhku tidak terlalu besar, juga tidak terlalu jago dalam hal itu. Di beberapa titik saat itu, aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah menjadi seseorang yang “Istimewa”.


<<=Sebelumnya   |   Selanjutnya=>>

close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. apa apaan dengan konflik sebanyak ini, hanya dalam satu chapter 😂😂

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama