The Result when I Time Leaped Chapter 150

 

Sesuatu yang Tidak Ingin Dilihat Orang Lain

 

 

Aku, yang tak sengaja meninggalkan kaset DVD di apartemen Hiiragi-chan tadi malam, datang ke tempatnya pagi-pagi sekali.

Alasanku datang sepagi ini adalah karena kami tidak menonton filmnya meskipun aku membawanya. Itu sih tidak masalah, tapi karena kami tidak membukanya, aku khawatir tentang isi konten di dalamnya.

Aku penasaran apakah di dalamnya sesuai dengan cover-nya.

Aku memiliki sedikit kepribadian yang ceroboh, jadi aku sering menukar-nukar isi DVD dan AV dan sama sekali tidak tahu apa isinya.

Hiiragi-chan bilang kalau aku bisa mengambilnya lain kali aku lewat, tapi tidak pernah terlalu dini bagiku untuk melakukannya.

Aku membunyikan bel pintu.

Karena sekarang jam delapan pagi, dia seharusnya sudah bangun.

Setelah menunggu sebentar, aku bisa mendengar seseorang membuka pintu dari sisi lain.

“…Iya?”

Suaranya sangat mengantuk. Pintu terbuka sedikit, dan dia menjulurkan kepalanya dari celah sehingga aku bisa melihatnya.

“Haruka-san, selamat pagi.”

“Eh!? S-Seiji-kun!?”

Gubrak! Pintu dibanting hingga tertutup.

“Eh, tunggu, apa !?”

Aneh sekali, ini sangat berbeda dengan reaksi yang kuharapkan! Biasanya, dia akan menyambutku dengan penuh senyuman.

“Ka-Kau hari ini bekerja, kan? A-ada apa? ”

Kenapa dia begitu panik? Apa ada sesuatu yang akan buruk untuk dilihat… Ah, ti-tidak mungkin, mana mungkin ada cowok lain, kan… !?

Tidak mungkin… pasti tidak mungkin…

“Seharusnya aku yang bertanya ada apa !? Kenapa kau tiba-tiba menutup pintu !? ”

“It-Itu sih…”

Dia ragu-ragu mengatakannya. H-hei… itu tidak benar ‘kan, Hiiragi-chan.

“Ngo-Ngomong-ngomong, ada apa kamu kemari?”

Aku mendengar suara rantai pintu dipasang. Seberapa banyak dia tidak ingin aku masuk…?

“Aku hanya ingin mengambil DVD yang kelupaan kemarin.”

“Ba-baiklah, DVD-nya ada di dekat sofa, jadi aku akan mengambilnya. Tunggu sebentar.”

“Bisakah Anda mengizinkan aku masuk?”

“Kenapa kamu mendadak begitu sopan?”

“Aku hanya ingin tahu apa pacarku tidak setia dengan cara apa pun.”

“It-Itu tidak benar! Sebaliknya, bisa tidak kamu berhenti menggunakan kalimat formal!”

“Lalu kenapa kau memasang rantai pintu, dan memaksaku berdiri di luar.”

“Uuuu… La-Lalu, 30 detik, tunggu 30 detik! Aku akan melepas rantainya.”

Untuk apa waktu itu? Apakah itu  waktu untuk cowok dipaksa masuk ke dalam lemari ...

Aaaaahh… Aku tidak bisa bekerja seperti ini. Saat aku merasa frustasi, pintu akhirnya terbuka.

“Maaf sudah membuatmu menunggu.”

“Haruka-san, kenapa kau memasang rantai pintu?”

“Bukan apa-apa, tidak apa-apa, eheheh.”

Hiiragi-chan mengenakan kacamata hitam besar dan masker, membuatnya tampak seperti capung… Apa dia sedang sakit?Tapi kemarin dia terlihat sehat-sehat saja? Apalagi, dia memakai kacamata hitam saat di dalam…? Aku merasa dia tidak mengenakan kacamata tadi.

“Ayo masuk. Apa kamu sudah sarapan, Seiji-kun? Karena masih ada waktu sampai bekerja, aku akan membuatkanmu sarapan.”

Dia tiba-tiba kembali normal. Dia masih memakai kacamata hitam dan masker, jadi kurasa itu tidak sepenuhnya normal.

Sambil bingung, aku masuk kamar. Untuk berjaga-jaga, aku memeriksa kamar kecil, kamar mandi, kamar tidur, lemari, dan tempat mana pun yang bisa menampung satu orang. Semuanya kosong.

“Terus, sebenarnya tadi itu ada apa…?”

Juga, DVD di dalam paket kebetulan adalah disk dengan film yang benar.

“Apa kau sedang sakit?”

“Eh? Uuh, ya! Benar, uhuk, uhuk. ”

Batuknya sepertinya dipaksakan. 

“Ada apa dengan kacamata hitam itu?”

“Matahari pagi cukup cerah di ruangan ini.”

Tidak, tapi tirainya benar-benar mengahalangi cahaya masuk.

Rasanya mencurigakan… Dia memang terlihat seperti pilek, tapi itu hampir terasa seperti alasan yang dibuat-buat.

Aku menunggu selama 15 menit. Dua potong roti panggang, telur dadar, dan salad disiapkan. Porsi yang cukup untuk dua orang. 

“Tunggu sebentar, oke?”

Dengan saus tomat di tangannya yang lain, Hiiragi-chan menggambar bentuk hati di atas telur dadarku.

“Aku ingin mencoba melakukan ini setidaknya sekali.”

Tawanya yang teredam sepertinya penuh dengan kepuasan, tapi aku sama sekali tidak bisa mengatakan padanya seperti apa ekspresinya.

Setelah mengucap syukur atas makanannya, aku mulai makan. Dia melepas maskernya karena menghalangi.

“Ya. Telur dadarnya enak ♪ ”

Dia memuji dirinya sendiri dengan tampak puas. Saat itu juga, aku melepas kacamata hitamnya.

“Tunggu, apa yang kamu lakukan, Seiji-kun !?”

“Apa yang aku lakukan…?”

Hiiragi-chan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya.

“Kenapa kau menyembunyikan wajahmu?”

“Te-Tentu saja, aku akan menyembunyikannya…. Ka-Karena aku tidak memakai riasan ...”

Ooh. Cuma itu toh. Aku akhirnya merasa lega. Dia menutup pintu secara tiba-tiba, tidak mengizinkan aku masuk, dan membuatku menunggu 30 detik sampai dia memakai kacamata hitam dan masker, semuanya demi membuatku tidak melihat wajah naturalnya.

Kalau dipikir-pikir, biasanya akulah yang tidur lebih awal dari Hiiragi-chan dan kemudian bangun lebih lambat darinya. Itu sebabnya aku belum pernah melihatnya tanpa riasan.

“Tidak apa-apa, jangan khawatir tentang itu. Kau masih tetap manis, kok. ”

“Bahkan jika kamu mengatakan itu, itu tidak bagus. Cepat dan kembalikan kacamata hitamku.”

Kuuuhh…. Memujinya tidak ada pengaruhnya.

Jika aku meningkatkannya—

Aku menggunakan kedua tanganku dan dengan cepat melepas masker yang menutupi wajahnya.

“Fugyah !?”

“Aaah. Begitu rupanya.”

Dia menyembunyikannya, jadi aku merasa penasaran bagaimana kelihatannya, tapi nyatanya ada bedanya dengan wajahnya yang biasa.

“Hentikan ituuuu. Jangan lihat. “

Hiiragi-chan mengamuk di kursinya sambil menggelengkan kepalanya. Nah, di sekitar matanya, dan mungkin di sekitar bibirnya juga, itu sedikit lebih sederhana atau lebih lembut dibandingkan dengan riasan.

“Kulitmu terlihat cantik, jadi menurutku kau masih manis, Haruka-san.”

“Kulit cantik? Be-Benarkah? ”

Pujian tersebut tampaknya telah mendapatkan pukulan kritis. Tunggu tunggu, tolong hentikan, jangan terlalu tajam menatapku.

“Ya. Seriusan. Terus, jika kau menyembunyikannya seperti itu, itu membuat orang lain semakin penasaran, Sensei berwajah natural. ”

“Bukan Sensei, panggil aku Haruka-san tanpa riasan.”

“Aku bahkan tidak berpikir itu wajah yang perlu kau sembunyikan.”

“Aku ingin kamu melihatku dalam kondisi terbaikku, jadi melihatku seperti ini jelas tidak baik.”

“Tetap saja, aku merasa tidak ada banyak yang berubah, kok.”

Aku ingin memberitahunya bahwa dia sudah terlihat cantik dengan atau tanpa riasan, tapi kurasa ini memiliki efek sebaliknya.

“Tidak, ada perbedaan besar.”

Wajahnya serius dengan suara rendah. Tidak berdandan. Ekspresi aslinya.

“Y-ya. Maaf…”

Saat aku meminta maaf, Hiiragi-chan memulihkan kacamata hitamnya dengan kecepatan cahaya dan memakainya.

“Aku senang kamu datang untuk memberi kejutan, tapi para gadis punya persiapannya sendiri. Mengerti?”

Dia menusuk hidungku.

“Mengerti.”

“Baguslah  jika kamu sudah mengerti.”

Sama seperti ini, aku menghabiskan waktuku sampai harus berangkat kerja dengan Hiiragi-chan bersantai dan sarapan.

“Jika Seiji-kun bilang ingin melihat, kurasa aku bisa membiarkanmu melihatku, tahu.”

Dia membuat pernyataan yang mirip seperti gadis tsundere.


<<=Sebelumnya   |   Selanjutnya=>>

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama