The Result when I Time Leaped Chapter 166 Bahasa Indonesia

 

Khawatir

 

 

Semester ketiga sekolah sudah dimulai dan selama waktu itu, aku terus mengkhawatirkan masalahku, berbeda dengan Hiiragi-chan, yang terus melanjutkan kegiatannya seperti biasa.

“Semester ketiga… sangat sibuk… ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan…”

Selama akhir pekan mulai hari Jumat, dia kelelahan seperti biasa, dan berada dalam kondisi dimana HP dan MP-nya hampir nol.

Dia semakin jarang menunjukkan dirinya di kegiatan klub, dan dia juga mulai pulang lebih lama pada akhir pekan.

Tetap saja, kegiatan klub kita tidak seperti kegiatan klub yang sebenarnya. Biasanya kami bertiga berkumpul sepulang sekolah dan mengobrol, dan sesekali Rei-chan akan mampir dan kami akan melibatkannya ke dalam percakapan.

Begitulah situasinya, namun aku tidak bisa terbuka tentang kecemasanku. Bahkan jika aku memberitahu orang-orang bahwa kami akan putus dalam satu bulan, tidak ada yang akan mempercayaiku.

Alasan dia begitu sibuk, karena dalam waktu singkat akan ada ujian tengah semester dan akhir semester. Karena itu, pekerjaan yang diperlukan untuk mempersiapkan soal ujian sangat dikompresi menjadi waktu yang singkat.

“Aku tidak pandai mengatur sesuatu, jadi mau bagaimana lagi.”

Atau begitulah ekspresi Hiiragi-chan yang berubah dari lelah menjadi senyuman. Saat dia berkonsentrasi pada pekerjaan, sulit bagi kami untuk berbicara serius tentang hubungan kami.

Setelah segalanya lebih tenang untuk Hiiragi-chan—

Sambil berpikir seperti itu, satu bulan berlalu dan ujian tengah semester telah berakhir. Sembari terus mencari kesempatan untuk berbicara lagi, kami bergegas ke paruh kedua bulan Februari.

“Hei, Sanada. Apa kamu akan mendapatkan coklat?”

“Entahlah. Mendapatkan sesuatu bahkan seperti 2 coklat wajib akan menjadi kemenangan besar.”

Fujimoto berbicara lagi sambil mencoba menyembunyikan suaranya.

“Bukan itu, maksudku honmei-choco.”

“Dari siapa?”

Aku berpura-pura polos, tapi dari caranya berbicara, apa menurutnya aku dijamin akan mendapatkannya?

“... Tidak, itu bukan apa-apa.”

“Hei, Fujimoto, apa kamu mungkin ...?”

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”

“Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Bahkan jika kau berpacaran dengan seseorang, itu bukanlah sesuatu yang menjadi perhatianku. Itu takkan membuatku populer.”

Ia membuatnya seolah-olah Ia berbicara pada dirinya sendiri, dan kemudian segera mengubah topik. Berbicara tentang hal-hal seperti, siapa yang menembak siapa.

Mungkin, Fujimoto tahu tentang hubunganku dengan Hiiragi-chan, dan Ia mencoba mengkonfirmasi di berbagai hal tanpa aku sadari.

“Fujimoto, bagaimana kalau aku memberimu coklat. Dipenuhi dengan rasa syukurku setiap hari.”

“Itu menjijikkan. Aku tidak membutuhkannya.”

Aku tertawa.

Fujimoto melihat ke lorong dan mendesah kecil.

“… Ya ampun, Sanada. Kau membuat jantungku berdetak kencang di sana. ”

Ia lalu menunjuk ke luar dengan ibu jarinya.

“Sanada, di sana. Mereka memanggilmu.”

Fujimoto sedang menunjuk ke dua gadis. Saat tatapan mata kami bertemu, salah satu dari mereka mengangguk.

Aku berdiri dan berjalan ke lorong, gadis yang mengangguk menanyakan waktuku. Aku mengenalinya, tapi aku tidak ingat namanya. Aku seharusnya tidak banyak berinteraksi dengannya.

Gadis lainnya adalah Ougoshi-san, dari salah satu kelas elektifku.

Setelah memberitahunya kalau aku punya waktu, mereka berdua berjalan menyusuri aula menuju area dengan lebih sedikit orang. Mungkin ini sudah direncanakan, karena tidak satupun dari mereka berbicara satu sama lain saat mereka membawaku keluar dari gedung sekolah di depan ruang upacara minum teh.

Tanpa berkata apa-apa, gadis lainnya menepuk punggung Ougoshi-san sebelum berbalik dan pergi.

Ada keheningan untuk beberapa saat, dengan ketegangan yang melanda tubuhku.

… Beberapa saat kemudian, Ougoshi-san membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, dan kemudian menjulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah kantong kertas kecil.

Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan dengan baik karena suaranya sangat pelan, tapi aku bisa mendengar bagian yang paling penting darinya.

Itu mengingatkanku, sebelumnya, kejadian itu juga terjadi sekitar waktu ini…

Aku memberi jawaban menolak Ougoshi-san. Aku ragu-ragu apakah akan menerima cokelatnya atau tidak, dan saat aku sedang bimbang, Ougoshi-san dengan paksa menyerahkannya kepadaku, sebelum melarikan diri dariku.

Itu seperti ini sebelumnya juga, namun, aku tidak pernah bisa terbiasa dengan rasa bersalah yang tak terlukiskan ini.

 

Sudut Pandang Hiiragi Haruka

Kapan aku harus memberinya cokelat?

Apa aku perlu memanggilnya sepulang sekolah — aku sedang memikirkan rencana seperti gadis remaja saja.

Saat berjalan menyusuri lorong dan mengkhawatirkan kapan waktu yang tepat, aku menemukan Seiji-kun berjalan di belakang dua gadis. Dokun, detak jantungku mulai berdebar kencang.

“…”

Perasaan sakit dalam diriku berada pada level yang berbeda dari sebelumnya.

Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi perasaan ini berbeda dari kecemburuan atau bahkan kecemasan.

Seiji-kun pasti akan ditembak. Aku tidak terlalu khawatir tentang itu, karena Ia pasti akan menolak gadis itu. Aku percaya padanya.

——Sensei adalah seorang dewasa, Kamu seharusnya memiliki hubungan asmara dengan orang dewasa lainnya. Kenapa kamu justru memlih Nii-san.

——Sensei, Nii-san cuma dimabuk suasana saja. Pasti ada banyak gadis lain di luar sana, Ia hanya dalam keadaan di mana Ia tidak melihat mereka.

Kata-kata yang diucapkan Sana-chan di akhir tahun terus bergema di benakku.

“…”

Saat itu aku berdebat dengan Sana, namun perkataan tersebut masih tertancap kuat di dadaku.

Apa aku membatasi pilihan Seiji-kun…?

Aku bukan seperti itu…

Aku berdiri di lorong, seolah-olah waktu telah berhenti untukku. Setelah beberapa saat, salah satu gadis kembali dan kembali ke ruang kelas, dan beberapa saat setelah itu, gadis lain lewat dengan mata merah melihat ke bawah saat dia berlari.

Ia bisa diandalkan, meski terkadang mesum. Bahkan di tempat kerja, dia luar biasa dan baik hati.

“…”

Terjebak pada suasana dan tidak mencari ke tempat lain. Itu juga berlaku untukku. Aku yang ingin memonopolinya, berusaha mencegahnya diambil orang lain, aku mungkin tanpa sadar telah menurupi telinga dan mata Seiji-kun.

Pilihan terbaik Seiji-kun, bahkan mungkin orang lain selain aku.

Apa aku memiliki pesona wanita dewasa?

Aku payah dalam pekerjaan, dan sering kali bertingkah kikuk. Pemabuk yang parah juga.

Pesonamu hanya ada di tubuh dan keluargamu — aku tidak bisa menertawakannya.

Pada akhirnya, aku tidak bisa menyerahkan coklat yang sudah aku buat dengan perasaan cinta dan rasa syukurku.

“… Seiji-kun, maaf, aku berpikir untuk menyiapkannya, tapi aku sibuk dengan pekerjaan—”

Aku akhirnya berbohong pada Seiji-kun. Sesuatu di dalam diriku sepertinya sedang hancur berkeping-keping.

“Begitu ya. Lagipula, sepertinya ada banyak pekerjaan yang menumpuk”

Yah, apa boleh buat, kata Seiji-kun melalui telepon. Seperti biasa, Ia memang pelajar, tapi itu membantunya karena Ia sangat pengertian dalam hal pekerjaan.

Itulah mengapa, rasa bersalah yang lebih besar membanjiri dadaku.

Rasanya sia-sia jika dibuang, jadi aku memberikannya pada Natsumi yang mampir ke tempatku selama akhir pekan.

Bungkusan indah untuk coklat dibuang begitu saja.

Tanpa bisa melakukan percakapan yang tepat dengan Seiji-kun, waktu masa ujian akhir semester sudah terlewat.

Untuk hasil ujian akhir, Seiji-kun mendapatkan nilai rata-rata seperti biasa.

Ujian akhir semester sudah selesai, dan hal terakhir yang tersisa untuk sekolah adalah upacara kelulusan, membuat suasa sekolah penuh dengan suasana santai.

Sebelum ujian akhir, aku asyik bekerja seolah-olah aku melarikan diri dari masalahku. Namun, setelah itu semua selesai, aku akhirnya memikirkannya. Tentang Seiji-kun.

Apa yang terbaik untuk Seiji-kun? Apa yang terbaik untukku? Apa yang terbaik untuk kita berdua?

Orang yang luar biasa menyukaiku. Mencintaiku. Itu adalah sesuatu yang sangat aku sukai, tapi ada bayangan yang menyelimuti itu.

Aku baik-baik saja dengan itu, tapi apa Seiji-kun beneran baik-baik saja menjalin hubungan denganku?

 

 

<<Sebelumnya   |   Selanjutnya=>>

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama