The Result when I Time Leaped Chapter 167 Bahasa Indonesia

Di Dalam dan Di Luar Dugaan

 

 

Sudut Pandang Hiiragi Haruka

Saat istirahat makan siang, kami bertemu di ruang persiapan sejarah dunia untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Rasanya sangat lama sekali sejak kami bisa duduk berhadap-hadapan begini.

Jika dipikir-pikir lagi, selama dua bulan terakhir, aku merasa seperti mencoba melarikan diri dengan membuat alasan setiap kali aku ditanya apakah aku punya rencana. Memang benar kalau aku sibuk, tapi aku juga punya kecemasan mengenai Seiji-kun yang harus dipikirkan.

Jika kamu menanyakan sesuatu seperti itu kepada murid SMA yang berusia 17 tahun, mereka mungkin akan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja. Namun, mereka mungkin berkata begitu karena tidak ada pilihan lain—

“Kerja bagus.”

Pintu ruangan terbuka dan Seiji-kun masuk. Wajahku sedikit menegang. Melihatku bertingkah seperti ini, Seiji-kun yang peka sepertinya menyadari ada sesuatu yang terjadi.

“Ya. Kamu juga.”

Daripada membagikan makan siang, kami bertukar percakapan santai. Aku sudah tahu tentang hasil ujian Seiji-kun sebelum Seiji-kun memberitahuku, tapi aku masih ingin berbicara dengannya, jadi aku memulai dengan topik yang aku pahami dengan baik.

“Yah, bukannya yang namanya ujian memang seperti ini? Jika aku bekerja keras mulai musim panas kelas 3 nanti, aku akan melakukannya tepat waktu seperti yang pernah aku lakukan terakhir kali.”

Terakhir kali? Aku penasaran, tapi jika Seiji-kun baik-baik saja, kurasa tidak apa-apa.

Kami tidak duduk, tidak membentangkan seprai, dan juga tidak membuka bento makan siang. Rasanya agak tidak wajar, tapi Seiji-kun tidak pernah mempertanyakan keganjilan itu.

Percakapan kami terhenti, dan ada keheningan dalam waktu yang lama. Apa ini benar-benar oke? Aku tidak tahu sudah berapa kali pertanyaan ini muncul di benakku.

“Seiji-kun…?”

“Hmm?”

Aku memberitahunya apa yang aku pikirkan, dan apa yang aku rasakan. Kemudian, aku mengatakan kepadanya bahwa aku ingin mengakhiri hubungan kami.

Ekspresinya yang tersakiti belum pernah kulihat sampai sekarang. Aku mengerti kalau aku telah menyakiti seseorang yang tidak seharusnya aku lukai.

“Tak peduli apa yang aku katakan, ini mungkin hanya keegoisanku ... Maaf.”

Suara gemetar seseorang yang mencampakkan orang yang mereka cintai, terdengar seolah-olah itu berasal dari orang lain.

“Apa ini keputusan yang kamu buat sembari memikirkanku?”

Ia mungkin berpikir itu keegoisanku sendiri. Ia mungkin mencapku sebagai wanita yang mengerikan.

“Seperti yang kuduga, ini tetap terjadi ...”

Seiji-kun bergumam dengan suara pelan. Dalam ekspresi sedihnya, sepertinya ada semacam ketenangan.

“Aku mengerti.”

Aku tidak pernah bisa membayangkan Ia sangat putus asa, aku juga tidak bisa membayangkan Ia meratap dan menangis, tapi bertentangan dengan apa yang aku pikirkan, Seiji-kun dengan cepat memberikan pengertiannya.

Rasanya antiklimaks karena tidak ada keterikatan apapun.

Sebenarnya, aku ingin Ia lebih bersedih. Aku ingin Ia meluapkan amarahnya. Saat Ia menganggukkan kepalanya dengan mudah seperti itu, aku hanya bisa berpikir kalau hubungan ini sangat berarti bagi Seiji-kun. Itu cuma keegoisanku untuk mengatakan itu setelah membahas perpisahan.

… Aaah. Mungkin, tidak, pastinya begitu.

Aku mungkin takut dengan sifat dewasa Seiji-kun — tidak, lebih dari itu — kemampuannya untuk melihat jauh ke masa depan.

Tanpa mengungkapkan emosinya, Seiji-kun menerima argumen logis. Jika posisi kami dibalik, dan Seiji-kun yang meminta putus denganku, apa aku mampu memikirkannya secara logis?

Aku benar-benar takut akan hal itu.

Mulai sekarang, banyak wanita cantik dan menawan lainnya pasti akan muncul menghampiri hidup Seiji-kun. Itu bahkan yang terjadi sekarang.

Tidak aneh untuk berpikir kalau ada wanita yang lebih cocok dan menarik untuk Seiji-kun.

Aku takut orang yang aku cintai akan mencampakkanku tanpa mau berdiskusi dulu. Itu adalah sesuatu yang akhirnya aku pikirkan secara tidak sadar.

“Ini bukan seperti kau jatuh cinta dengan orang lain, kan?”

Aku menggelengkan kepalaku dengan sekuat tenaga.

“Tidak ada alasan lain. Apa yang aku katakan adalah perasaanku yang sebenarnya.”

“Begitu ya.”

Kalau begitu baguslah, gumam Seiji-kun.

“Karena aku hanya seorang siswa SMA, cuma Hiiragi-chan yang dapat aku lihat, dan aku tidak punya pilihan lain. Jadi, kau berpikir kalau ada banyak wanita hebat lainnya untuk ditemui.”

“Ya.”

Hiiragi-chan… Dia tidak memanggilku Sensei atau Haruka-san. Aaah… apa dia mungkin biasa memanggilku seperti itu di dalam pikirannya? Karena Ia tidak mampu untuk bersikap tenang di dalam dirinya—

“Tidak peduli jalan apa, itu akan memakan waktu 10 tahun…? Aaaah, kalau begitu, begitu aku berubah menjadi dewasa, setelah bertemu dengan berbagai wanita lain, apa yang harus aku lakukan jika kamu masih nomor satu bagiku. Bagaimana jika aku masih mencintaimu selama ini. ”

“Apa yang harus kamu lakukan…?”

Aku tidak tahu. Bagaimana aku bisa tahu? Ini bukan seperti kita putus karena kita saling membenci. Ucapannya tersebut membuat hatiku bahagia.

Jika kamu masih menyukaiku, kembalilah kepadaku. Mana mungkin aku mengatakan itu, terutama sebagai orang yang sudah mencampakkannya.

“Pasti akan ada wanita hebat yang muncul untukmu, Seiji-kun.”

“Mungkin, tapi meski mereka muncul, kurasa aku takkan meliriknya. Lagipula, itu bahkan yang terjadi pada diriku yang sekarang.”

“Apa maksudmu?”

“Bukan apa-apa.”

Meskipun kita baru saja putus, Seiji-kun entah bagaimana terlihat sedikit segar.

“Seperti yang diduga, rupanya begitu ya. Apa yang Rei-chan sadari mungkin … ”

Seiji-kun terus berbicara pada dirinya sendiri saat meninggalkan ruangan.

Suara pintu ditutup terasa sangat keras saat ruang persiapan kembali sunyi.

Aku merasa lelah secara mental, membuatku bersandar ke kursi terdekat. Aku tidak punya nafsu makan, jadi aku mau berleha-leha sebentar.

Saat aku memikirkan itu, pintu ruangan kembali terbuka.

Aku bertanya siapa yang datang dan melihat Sana-chan.

“…”

Butiran-butiran air mata terlihat di sekitaran matanya, dan mulutnya tampak cemberut murka.

“Apa ada yang salah?”

“Sana kebetulan melihat Nii-san berjalan di lorong, dan merasa da yang aneh. Ia tampak linglung, atau cemas… Itulah mengapa Sana datang ke sini. ”

Dia mungkin mendengarnya. Percakapan yang baru saja kami bicarakan.

“Sana-chan, menguping itu tidak sopan, tahu?”

“Diam!”

Sana-chan berjalan mendekat, lalu mengangkat tangannya. Plak..Suara kering, seperti bunyi terpukul sesuatu terdengar dari pipiku.

“Aduh!”

Pipiku menjadi panas, dan rasa sakit mulai menjalar. Aku akhirnya menyadari kalau aku habis ditampar.

“Kenapa kamu putus dengan Nii-san!”

“Kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu, Sana-chan!”

“Tentu saja ada! Karena, Nii-san menangis! ”

Menangis? Namun, tampaknya bukan itu masalahnya—

“Saat pintu ditutup, Ia berjalan menyusuri lorong sambil menangis — dan segera memasuki toilet.”

“Ta-Tapi itu bukan menjadi alasan untuk menamparku!”

“Karena aku sudah berjanji! Dengan Nii-san! Jika kamu membuat Nii-san menangis, aku akan memukulmu! ”

Aku meraih tangan yang dia angkat untuk memukulku sekali lagi.

“Janji yang begitu egois—”

“Kamulah yang egois! Membuat Nii-san sedih atas keegoisanmu sendiri — Sana pasti tidak akan pernah memaafkanmu!”

“Apa yang kamu tahu, Sana-chan !?”

“Sana tidak tertarik, makanya Sana tidak tahu! Kamu sangat cantik seperti penyiar, selalu tersenyum, dan mampu melakukan apa saja! Aku selalu membenci bagian dirimu yang itu!”

“Itulah artinya menjadi 'guru'!”

“Itu tidak masalah! Sana mungkin tidak tertarik, tapi Sana setidaknya tahu kalau kamu lari dari perasaan Nii-san!”

Sekali lagi, gadis ini… menebak tepat sasaran—

“Karena cinta, kamu akan putus. Aku tidak ingin menyembunyikan pikiranku dari Seiji-kun, jadi—”

“Kamu hanya menggunakan logika itu sebagai cara untuk melindungi dirimu sendiri saat kamu menyakiti Nii-san. Menggunakan alasan seperti itu sebagai perisai, adalah sesuatu yang hanya bekerja dalam 2-D! ”

Kami bertengkar dalam waktu yang lama.

Karena pintu dibiarkan terbuka, teriakan kami bisa terdengar dari lorong.

“Apa yang terjadi?”

Seorang guru, yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres masuk ke dalam ruangan, dan menarik Sana-chan pergi.

“Lepaskan! Lepaskan aku! Peleceh seksual! Wanita itu sudah—”

Sana-chan memukul-mukul saat dia ditarik ke lorong, dan dibawa ke ruangan lain oleh guru yang masuk.

“Hiiragi-sensei… ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi…? ”

“Ummm…”

Jika aku harus memberi tahu mereka apa yang terjadi, aku tidak akan dapat menghindari menjelaskan bagaimana awal permulaan kejadian ini terjadi. Paling buruk, Sana-chan bisa diskors. Itu bahkan bisa mempengaruhi nilainya. Untungnya, saat-saat dia menamparku tidak disaksikan oleh siapa pun.

Dia tidak akan pernah mengatakan apapun yang akan menimbulkan masalah bagi Seji-kun. Aku percaya padanya untuk itu. Itu sebabnya, aku akan percaya pada Sana-chan.

Pertemuan darurat antar guru diadakan, dan semua jam pelajaran sore di seluruh sekolah berubah menjadi belajar mandiri.

“Itu semua salah Saya. Sanada-san tidak melakukan kesalahan apa-apa… ”

Sana-chan terus menerus menolak untuk berbicara. Ketika ditanya tentang situasinya, aku memberitahu mereka bahwa itu adalah kesalahanku, dan memberikan berbagai kebohongan sebelum meminta pengampunan untuk Sana-chan.

Karena itu, situasi Sana-chan berakhir hanya dengan peringatan dari sekolah.

 

 

<<=Sebelumnya   |   Selanjutnya=>>

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama