The Result when I Time Leaped Chapter 154 Bahasa Indonesia

 

Natal - Bagian 4

 

 

“Maaf, aku tidak sempat menyiapkan hadiah—”

“Fufu ~ Tidak apa-apa kok, aku tidak keberatan.”

Waktu sudah menunjukkan hampir larut malam.

Hiiragi-chan yang telanjang menyandarkan kepalanya di dadaku, seolah-olah mencoba mendengarkan detak jantungku.

“Buatku, hadiahku hanya bisa berkencan denganmu tanpa masalah sampai sekarang.”

“Apa kau tidak masalah dengan itu?”

“Ya.”

Sangat mudah untuk merasakan kehangatan satu sama lain karena kami berdua sama-sama telanjang.

“Besok, kau masih ada pekerjaan di sekolah, ‘kan?”

“Ah, aku sama sekali tidak mau memikirkannya!”

Hiiragi-chan cemberut saat menolek-nyolek dadaku.

Kami berdua akhirnya tertidur saat melakukan percakapan santai di dalam ruangan yang remang-remang.

Keesokan paginya. Kami berpakaian dan keluar dari hotel. Sebelum melompati waktu, aku belum pernah menginap di hotel seperti ini sebelumnya, jadi ini pasti pengalaman pertama kali.

Jika aku tidak membalasnya setelah semua perlakuannya selama ini, perasaanku bakal sedikit dipertanyakan.

Setelah naik ke mobil di tempat parkir bawah tanah, kami berdua pulang menuju ke rumah.

“Makanan dan anggurnya enak, dan kamarnya juga luar biasa nyaman. Aku sangat puas…

Hiiragi-chan berbicara dengan gembira saat mengenang rasa makanan dan anggur yang kami nikmati dari tadi malam.

Aku juga mengingat-ingat kembali, dan mengutarakan apa yang menurutku paling terbaik.

“Tapi, menurutku yang paling menakjubkan…”

“Hmmm? Apa?”

“Ah, tidak, tidak jadi.”

“Eeeh? Apa? Sekarang aku jadi penasaran, nih.”

Tidak, jika aku menyebutkannya, mungkin tidak sebagus itu… Oh baiklah.

“Haruka-san juga luar biasa.”

“Aku? Apanya?”

“Umm… di atas ranjang… tubuh molekmu.”

“!?”

Hiiragi-chan yang duduk di sampingku, mukanya langsung memerah.

“Eh, S-Seiji-kun, apa jangan-jangan kamu memakai kacamata night vision atau semacamnya?”

Tentu saja tidak. Memangnya aku ini agen dari pasukan khusus?

“Maksudku, kamu tahu sendiri, matamu akan terbiasa dengan kegelapan… dan cahaya bulan juga menyinari ruangan.”

“Ja-Jadi ba-badanku terlihat jelas…?”

Mobil mulai berbelok maju mundur.

“Aw-Awas, Haruka-chan, tenanglah sedikit!”

Ha-Hampir saja! Inilah sebabnya aku tidak ingin menyebutkannya!

Aku dengan kuat meraih roda kemudi darinya, dan mengembalikannya ke posisi stabil.

“Inh-Inhi chuma tubuh normal ...”

Ah, lidahnya kegigit. Jika itu normal, lantas standar macam apa yang dia bandingkan?

Hiiragi-chan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

“Kau seharusnya memiliki jumlah pengalaman yang sama denganku, namun…”

“Ak-Aku sudah banyak belajar, tahu! Ya ampun, mending hentikan percakapan ini. ”

Hiiragi-chan yang sedang merengut sambil tersipu masih cukup manis.

Jika aku menggodanya lebih dari ini, mungkin saja ada kecelakaan, jadi aku berhenti menggodanya.

“Pertama kali kita melakukannya, semuanya diserahkan pada Seiji-kun ... Ja-Jadi, kupikir sebagai yang lebih tua aku harus menenangkan diri.”

Ah, dia menjadi putus asa. Aku secara tidak sengaja mulai tersenyum.

“Kenapa kamu malah senyum-senyum? Ya ampun.”

Hiiragi-chan bertingkah seperti sedang marah, tapi dia juga ikut tersenyum.

Kami tiba di tempat parkir komplek apartemen Hiiragi-chan, tempat kami akhirnya berpisah.

“Nikmati kencanmu dengan Sana-chan, oke?”

“Okeeee.”

Hiiragi-chan mempertimbangkan jadwalku hari ini, dan akhirnya kami check-out lebih awal, jadi waktunya masih jam 8 lewat sedikit.

Aku sendiri ingin melakukannya dengan lebih santai, tapi yang namanya janji tetaplah janji.

Aku mencium bibir Hiiragi-chan di dalam mobil karena sepertinya dia menginginkannya.

Namun, sepertinya tidak akan ada habisnya, jadi aku keluar dari mobil dan menutup pintu setelah berkata, “Sensei, semoga berhasil dengan pekerjaan Anda!”

Aku bisa mendengar dia berteriak seperti biasanya dari dalam mobil.

Aku mengendarai sepeda ke rumah, dan kemudian berganti baju untuk pergi keluar.

“Nii-san? Kita mau keluar sekarang, jadi bangun—… eh, kamu sudah bangun…? ”

Sana, yang datang untuk membangunkanku, melebarkan matanya karena terkejut. Akulah yang lebih lemah dalam hal bangun di pagi hari, jadi aku bisa mengerti jika Sana masuk ke kamarku tanpa mengetuk.

“Kau juga bangun pagi-pagi sekali.”

“Y-yaa…”

Terlebih lagi, dia sudah selesai dengan semua persiapannya. Dia mengenakan jenis baju yang lebih dewasa dari yang aku puji saat kontes kecantikan.

“Kamu berencana pergi kemana setelah berusaha keras untuk ini?”

“Di-Diam! Bu-Bukan berarti Sana melakukan ini untuk ditunjukkan pada Nii-san! ”

Sana memalingkan wajahnya ke samping. Sekarang aku memikirkannya, Kanata memang mengatakan itu di kontes. Saat dia mengatakan sesuatu seperti itu…

“Ah, benar.”

Ini masih jam 8 pagi.

“Karena sekarang hari libur jadi sarapannya masih belum disiapkan… apa yang harus kita lakukan?”

“Ayo pergi ke kafe untuk sarapan… lagipula ini hari Natal.”

Kami berdua sudah selesai bersiap-siap, jadi usulan itu tidak terlalu buruk.

“Kalau begitu, ayo pergi.”

Aku memang berjanji bahwa aku akan menuruti apapun yang dia minta.

“Sana terus-menerus memikirkan game apa yang harus dibeli sepanjang malam tadi. Tidak, bukan hanya kemarin. Sejak ujian akhir semester! Sekarang, akhirnya di sini, dan inilah keputusanku.”

“Oh? Setelah bingung apa yang mau kau beli? mari kita dengarkan keputusanmu.”

“Sikapmu yang merendahkan… yah, tidak apa-apa. Aku akan membiarkanmu mendengarnya.”

Kami berdua meninggalkan rumah dan naik kereta menuju pusat kota.

Karena serakang sekitar jam 9 pagi, masih belum ada banyak orang dan kami dapat berjalan di sepanjang trotoar tanpa khawatir dengan keramaian di hari libur.

Kafe yang kami temukan cukup lengang, menjadikannya tempat yang tepat untuk mengobrol tentang game.

Setelah masuk, kami memesan pada pelayan, dan kopi kami segera dibawa.

“... Sana telah mempersempitnya menjadi 3.”

Sana memasukkan banyak gula dan susu ke dalam kopinya.

“Oh. Dan?”

Memangnya jumlah tiga benar-benar sudah dia persempit? Aku kira jumlah sebelumnya mungkin jauh lebih tinggi.

“Ada game baru untuk seri RPG, game yang kita mainkan sepanjang waktu. Juga— ”

Oh, saat Sana bilang tiga, maksudnya tiga game RPG. Salah satu dari tiga game tersebut merupakan game yang kami mainkan sejak SMP. Yang kedua adalah SRPG dengan elemen pelatihan. Dan yang ketiga adalah game tembak-menembak. Kau bisa bermain co-op. Pilihannya cukup bagus.

“Pilihan yang bagus.”

“Itu semua berkat pertimbangan yang cermat. Jadi yaa tentu saja.”

Dia menyibakkan rambutnya sebelum meminum kopi berisi susu dan gula.

“Panas sekali!?”

Lidahnya kepanasan.

“Hmmm, salah satu dari tiga game itu tidak ada masalah, kan…?”

Aku juga menyesap kopiku, dan melihat ke arah Sana, yang sedang mendinginkan lidahnya dengan menjulurkannya.

Aku mengenali gaya seni yang Sana miliki di masa mendatang.

Dia bertanggung jawab atas beberapa ilustrasi yang merupakan bagian dari dokumen terperinci mengenai persiapan untuk permainan sosial.

Sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi ada perasaan fantasi, dengan hanya sedikit transparansi dalam desain karakter.

Ilustasinya digambar dengan cara yang hampir terasa terlalu bagus, imut, dan keren untuk digambar Sana. Kurasa itu bagus karena dia menyukainya?

Tampaknya seri RPG pertama yang terdaftar memiliki pengaruh besar terhadap hal itu. Namun, pengaruh ini adalah sesuatu yang hanya aku sadari karena aku memiliki informasi masa depan.

Artinya, game yang dia mainkan selama masa ini sangat memengaruhi gaya seni Sana…

“Hmmm? Namun, jika aku mengubahnya, bukannya itu bakal buruk? ”

“Apa yang kamu gumamkan?”

Dia kemudian melanjutkan untuk memotong sepotong roti French sebelum menyantapnya. Menu ini lebih seperti makanan penutup, tapi karena secara teknis ini roti panggang, dia menganggapnya sebagai sarapan. Karena kelihatannya enak, jadi aku juga memesannya.

“Ngomong-ngomong, apa judul barunya?”

“Fufufu. Penjelasannya akan panjang.”

“Kalau bisa, tolong dipersingkat.”

Aku sudah mengatakan itu, tapi dia berbicara tentang banyak hal dan tidak berhenti sampai mengambil waktu 20 menit penuh.

“Baiklah, aku paham, aku paham!”

“Apa yang kamu pahami? Orang yang mengatakan itu biasanya tidak pernah memahami sesuatu.”

Sana memonyongkan bibirnya sambil ingin melanjutkan.

Jika aku terus mendengarkan ocehannya, satu hari saja takkan selesai.

“Hari ini, aku Kakak Santa.”

“Apa yang kamu bicarakan?”

“Aku akan membelikanmu semuanya.”

“Eh?”

“Jangan meremehkan apa yang aku dapatkan dari pekerjaan sambilanku. Setidaknya aku bisa melakukan sebanyak ini. ”

“Mau sampai kapan kamu terus bersikap sombong tentang memiliki pekerjaan sambilan?”

“Entahlah~.”

“Kakak Santa… Ap-Apa itu beneran oke?”

“Kakak Santa tidak pernah menarik kembali kata-katanya. Cuma tiga sih gampang. ​​

“Ini adalah kemurahan hati yang belum pernah terjadi sebelumnya…”

Aku melihat sekilas ke dalam dompetku.

Dua dari… Yukichi-sensei… [TN : Bahasa gaul untuk mengatakan uang 10.000 yen karena de kertas uangnya ada gambarnya btw, 10.000 yen = 2,6 juta rupiah]

Hei… umm… memang berapa harganya? Aku bertingkah sombong, tapi apa uang segini sebenarnya cukup?

Aku mengalami keringat dingin di punggungku. Namun, aku tidak mengungkapkan semua itu saat aku memasang wajah sombong.

Kami mengakhiri pembicaraan kami untuk saat ini, saat Sana mulai berbicara tentang bagaimana dia bersenang-senang dengan Kanata kemarin.

Singkatnya, dia pergi ke rumah Kanata untuk memakan kue dan bermain game.

“… Hei.”

“Hmm?”

“Sana pulang untuk makan malam kemarin, tapi Nii-san masih belum pulang… Kamu pergi ke suatu tempat, ‘kan?”

“Ah, uhh. Aku hanya pergi nongkrong di malam hari. Karena ini adalah Malam Natal.”

Aku mengungkit nama Fujimoto dan beberapa teman sekelas lainnya, tetapi dia tetap curiga.

Sana terlihat seperti telah mengambil keputusan, saat dia menundukkan pandangannya ke bawah.

“… Nii-san, apa yang sebenarnya kamu lakukan kemarin?”



<<=Sebelumnya   |   Selanjutnya=>>

close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama