The Result when I Time Leaped Chapter 170 [TAMAT] Bahasa Indonesia

Reuni dan…….

 

Sudut Pandang Hiiragi Haruka

“Terima kasih atas kerja kerasnya.”

“Terima kasih atas kerja kerasnya.”

Aku memberikan kunci ruang guru kepada petugas kemanan, dan keluar melalui pintu belakang yang tidak terkunci.

“Uhh dinginnya.”

Aku membenci diriku sendiri karena tidak dapat menangani pekerjaan dengan mudah. Namun, aku bisa menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk menghindari pesta akhir tahun yang merepotkan. Itu mungkin hal yang bagus.

Aku menutup erat bagian depan mantel aku, dan melilitkan syal yang telah aku miliki selama sepuluh tahun di leherku.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Aku tidak ingin pergi ke pesta, atau lebih tepatnya aku benar-benar tidak ingin pergi, jadi aku memilih berjalan ketimbang mengendarai mobil.

30 menit jalan kaki. Terbatas untuk hari-hari seperti ini, sepertinya taksi akan membutuhkan banyak waktu untuk menjemputku.

“Mending jalan saja.”

Saat aku berbicara kepada diriku sendiri di tengah cuaca yang dingin, sebuah mobil yang tidak aku kenal berhenti di tempat parkir.

Lampu depan dimatikan dan si pengemudi keluar dari dalammobil.

Aku pikir itu mungkin seorang guru, tapi ternyata aku salah.

Wajah si pengemudi adalah wajah yang aku ingat. Wajah mudanya telah tumbuh ke titik di mana itu bisa disebut wajah seorang pemuda.

Setelah mencari kata-kata untuk diucapkan, Ia lalu membuka mulutnya untuk berbicara.

“Aku melewatkan pesta akhir tahun.”

Suara yang familiar dan menenangkan di telinga.

“…Ya aku juga.”

Jika aku tidak berusaha menahannya, aku merasa air mataku akan tumpah. Kakiku gemetar. Sebagai gantinya aku menahan suaraku yang gemetaran, penglihatanku terhalang oleh air mata.

“Bagaimana dengan itu? Mau pergi minum-minum denganku? ”

“Di tempat dan waktu seperti ini, kamu merayuku…?”

“Memangnya salah? … Karena kamu adalah orang yang luar biasa. ”

“Apa kamu tidak masalah bersama denganku?”

“Iya.”

“Menurutmu sudah berapa umurku? Aku berusia 34 tahun pada awal Desember, tahu? ”

“Aku juga, aku berusia 27 pada awal Desember. Apa mungkin kita punya hari ulang tahun yang sama? ”

“Jika kamu tetap ingin mengundang seseorang, bukannya lebih baik mengajak seseorang yang lebih muda?”

“Ini bukan sesuatu yang bisa kamu terima hanya karena mereka masih muda.”

“Aku payah dalam menyelesaikan pekerjaan, jadi aku menggunakannya sebagai alasan karena tidak ingin pergi ke pesta akhir tahun ... Aku orang yang jahat seperti itu.”

“Memangnya itu benar-benar sesuatu yang mengerikan?”

Saat kami bertukar kata, jarak di antara kami menyusut satu langkah.

Aku mengatakan kepadanya kata-kata apa yang selalu melekat di hatiku.

“Aku memiliki seseorang yang aku suka.”

Kedua kaki kami berhenti.

“Sejak sepuluh tahun lalu. Ia adalah laki-laki yang dilarang untuk membuatku jatuh cinta, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku.”

“Kebetulan. Aku juga ... Banyak hal telah terjadi dan rasanya seperti 20 tahun, tapi aku sudah menyukai orang itu selama 10 tahun sekarang. Nama orang tersebut ialah Haruka.”

Air mata membasahi pipiku. Kami berjalan menuju satu sama lain, tetapi pada akhirnya kami berlari.

Kami saling berhenti dengan berpelukan.

“Semuanya bohong. Apa maksudmu dengan kebetulan? ”

“Itu aneh.”

Mendongak ke arah suaranya yang tidak bersalah, aku menemukan senyuman yang nostalgia.

Dengan lenganku yang melingkari punggungnya, aku memeluknya erat-erat.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Aku tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi, sebelum kamu mengakuiku sebagai orang dewasa.”

“Tidak… Ini belum terlambat… Belum terlambat… Aku selalu percaya dan menunggumu, Seiji-kun.”

Sepuluh tahun yang lalu, kartu pesan dan bunga yang aku terima untuk Natal. Semua yang tertulis di atasnya adalah [Aku pasti akan datang menemui mu]. Saat itu, aku tidak mengerti, tapi sekarang aku mengerti.

“Aku bisa minum sake bersamamu sekarang.”

“Ya.”

“Aku sudah punya SIM, dan mobilku sendiri.”

“Ya…”

“Aku sudah bertemu banyak wanita lain, tapi kamu adalah Sensei terbaik.”

“… Astaga… Saat kita berduaan… Jangan panggil Sensei tapi Haruka, ‘kan…?”

Seiji-kun menertawakan kata-kataku yang teredam karena tangisanku.

“Yah, kurasa kamu bukan guruku lagi.”

“Kalau begitu, jangan katakan itu. Ketika sampai pada kalimat penting, kamu selalu sengaja memanggilku 'Sensei'.”

“Ahaha ketahuan juga.”

Aku langsung menyadari bahwa itu adalah caranya menyembunyikan rasa malunya.

Ia terus melanjutkan hidup, dan mengalami berbagai banyak hal. Bukan sebagai mahasiswa, bukan sebagai remaja, tapi sebagai seorang pria, Ia datang menemuiku.

“Apa kamu bersedia menjadi istriku?.”

Ketika kami berkencan, Ia pernah mengucapkan kata-kata itu berkali-kali kepadaku, tetapi hari ini membuatku yang paling bahagia sejauh ini.

Aku sekali lagi memeluk Seiji-kun dan menepuk punggungnya.

“Iya. Jika kamu tidak keberatan denganku, aku mau menerimanya.”



Sudut Pandang Sanada Seiji

Setelah Hiiragi-chan naik ke mobil, kami mulai bergerak.

“Rasanya baru pertama kalinya, aku melihat Seiji-kun duduk di kursi pengemudi.”

Ada suatu saat ketika kami melakukan perjalanan pemandian air panas, tapi dia sedang tertidur.

Saat kami akan pergi ke bar mewah, Natsumi-chan menghubungiku. Ketika aku menerima omelannya sebelumnya, aku bertanya di mana Hiiragi-chan akan berada. Berkat itu, dia mungkin menyadari apa yang akan terjadi.

“Itu hebat. Te-Tempat itu, kan? Kami akan pergi juga— "

Sepertinya dia bersama dengan Sana dan Kanata. Rei-chan juga.

Wajah Hiiragi-chan memucat dan tubuhnya mulai gemetaran saat dia menyadari kalau semuanya akan hadir.

“Sana-chan mungkin akan melakukannya lagi.”

“Melakukannya lagi? Apa yang sedang kamu maksud?”

“Ah… Bukan apa-apa.”

Apa? Apa yang terjadi?

“Seiji-kun, kamu tidak bisa minum jika mengemudi, kan?”

“Aku akan pulang dengan kereta terakhir, jadi tidak apa-apa.”

“Kita sudah lama tidak bertemu… namun kamu akan pulang?”

Aku menghentikan mobil di lampu merah.

Setelah aku menyadari bahwa dia sedang menatapku, dia mendekatkan wajahnya  dan menciumku dua kali.

“Hanya malam ini, aku mau kita berdua saja…?”

“Ya.”

Sulit untuk bergabung dengan grup yang sudah selesai melakukan pemanasan di pesta lain, terutama jika kamu tidak mabuk.

Aku akan meminta maaf kepada mereka nanti, aku membidik toko lain dan menginjak pedal gas.

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Tidak ada kendala di jalan. Yang harus aku lakukan hanyalah maju.

Aku tidak tahu apa-apa tentang apa yang akan terjadi setelah usia 27 tahun. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok.

Biasanya, begitulah adanya. Aku tidak keberatan dengan itu.

Aku sedikit cemas karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi jika Hiiragi-chan berada di sisiku, semuanya akan baik-baik saja.

Aku merasa kalau hari ini, aku memulai kembali hidupku yang telah terhenti.

"Kamu tidak akan kelelahan padaku hanya karena aku kikuk, ‘kan?”

“Aku tahu tentang itu, jadi jangan khawatir.”

“Astaga…”

Aku tersenyum pada Hiiragi-chan yang menatapku dengan ekspresi rumit.

Mengincar waktu kami harus menunggu sinyal, dia melingkarkan kelingkingnya di sekitarku.

“Seiji-kun, aku akan berada dalam perawatanmu selamanya.”

“Aku juga.”

Adapun hasil dari saat aku melompati waktu dan menembak kepada guru yang aku sukai saat itu, aku dapat mencapai akhir yang bahagia dengan orang yang kusayangi.

 

<TAMAT>

 

<<=Sebelumnya   |   Daftar isi

close

3 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. Hohoho... Akhirnya tamat juga seru juga nih novel njirr enk bnr si mc wkwkwk.makasih min udh nerjemahin nih novel sya selaku pembaca menikmatinya

    BalasHapus
  2. Kisah cinta guru murid yg menyenangkan........makasih udah diterjemahin min................

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama