Roshi-dere Vol.1 Chapter 05 Bahasa Indonesia

Chapter 5 —  Berhenti! Jangan Berkelahi Memperebutkan Aku!

 

“Hnng ~ akhirnya kelar juga ~ Ayo ke ruang klub~ Hikaru. ”

“Oke.”

Setelah semua jam pelajaran selesai, Masachika menatap kedua teman dekatnya saat mengemasi barang-barangnya di kelas dengan santai.

“Hah? Takeshi, kamu ada kegiatan di klub musik ringan hari ini? Bagaimana dengan klub bisbolmu? ”

“Sekarang sih lagi libur dulu. Sekitar periode ini, aktivitas kami sedikit tidak teratur.”

“Hmmm~”

Takeshi dan Hikaru berada di sebuah band di klub musik ringan, tapi Takeshi juga masuk ke tim klub bisbol.

Alasannya bergabung dengan dua klub ialah “Pertama-tama, jika aku jago olahraga dan musik, bukannya aku akan populer di kalangan gadis-gadis?”. Alasannya sederhana dan sarat dengan motif tersembunyi tapi, inilah alasan kekuatan Takeshi.

“Apa kamu mau langsung pulang?”

“Ya ~ yah, tidak banyak yang bisa dilakukan ~”

“Kenapa tidak bergabung dengan klub saja, Masachika? Meski agak terlambat, tapi masih belum terlalu terlambat, ‘kan? ”

“Terlalu merepotkan.”

“Kamu ini benar-benar…. Cuma masa-masa SMA saja kamu bisa menghabiskan masa mudamu dalam kegiatan klub, ‘kan? ”

Takeshi menggelengkan kepalanya dan berkata “Astaga ~ Nih anak benar-benar~,” dan melihat ke langit dengan gaya terlalu lebay.

“Persahabatan diperdalam melalui aktivitas klub! Bau debu, keringat, dan air mata tercurah dari usaha berhari-hari! Lalu…. Di tengah semua itu, perasaan cinta membara dengan warna biru!”

“Persahabatan akan runtuh karena perbedaan pendapat. Bau besi, darah dan penyesalan tercurah dari usaha berhari-hari. Lalu…. Perasaan cemburu membara ketika ada pemain andalan mendapatkan semua gadis untuk diri mereka sendiri.”

“Berhenttiiiiii! Jangan hanya menonjolkan sisi gelap dan membosankan dari aktivitas klub! Kegiatan klub kami bukan tempat yang seperti itu!”

“Bahkan persahabatan… bagaimanapun juga, hanyalah hal yang rapuh, tahu?”

“Lihat! Sekarang Hikaru hampir menyebrangi sisi gelap! ”

“Maaf, Hikaru. Ini salahku jadi tolong kembalilah.”

“Cinta…. Mungkin jauh lebih menyakiti orang, tahu?”

Masachika dan Takeshi mencoba yang terbaik untuk menarik Hikaru kembali, yang tiba-tiba kehilangan cahaya di matanya dan mulai membawa bayangan gelap di punggungnya.

Setelah mereka entah bagaimana berhasil membuat Yamiru-san* kembali ke dunia nyata, Masachika berpisah dengan mereka berdua dan menuju loker sepatunya. (TN : Yamiru-san = Sisi gelap (Hika)ru. Yami = Gelap)

“Kegiatan klub…. ya.”

Masachika menggumamkan itu dengan suara acuh tak acuh sambil melihat anggota tim klub sepak bola yang berkumpul di halaman sekolah.

Berbeda dengan waktu di SMP yang selalu sibuk dengan OSIS, kini Masachika punya banyak waktu luang untuk kegiatan klub. Bukannya Ia tidak pernah memikirkan hal ini ketika melihat teman-temannya menikmati kegiatan klub mereka.

Tapi hal tersebut tidak pernah berhasil menggerakkan hatinya. Ia sama sekali tidak bisa termotivasi. Perasaan kalau itu terlalu merepotkan akan selalu muncul.

Bagi Masachika, butuh banyak usaha untuk memulai sesuatu yang baru.

“Yah, begitulah caraku perlahan-lahan kehilangan peluang dan pada akhirnya, tidak melakukan apa-apa….”

Ia bergumam pada dirinya sendiri, tetapi hanya perasaan depresiasi diri yang menyebar di dadanya.

“Ups”

Dan kemudian, smartphone yang ada di saku celananya bergetar.

Untuk beraga-jaga, Ia melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada guru di dekatnya, dan Masachika mengeluarkan smartphone-nya dan melihat pesan yang ditampilkan di layar.

“… .Haaa.”

Ia kemudian menghela nafas dan berbalik arah.

 

◇◇◇◇

 

Saat menyusuri lorong, Masachika mengetuk pintu ruangan yang ditunjukkan oleh pesan yang barusan diterimanya dan membukanya. Di sana, pelaku yang memanggil Masachika untuk datang kemari, Suou Yuki, menoleh ke arah Masachika.

Yuki, yang sedang berjongkok di depan rak peralatan pengorganisasian, tersenyum seperti bunga yang sedang mekar. Dia menahan roknya sambil berdiri…. Dan segera setelah itu, dia bergegas ke Masachika dengan derai-derai sambil menaikkan suara yang manis.

“Ah, Masachika-kuu~un. Ayo sini~ sini~ ”

Sikapnya yang biasa seperti nyonya muda dari keluarga ningrat tidak terlihat di mana pun, dan dia bertingkah sok manis.

Jika ada murid lain melihat ini, mereka pasti akan terkejut, “Apa tuan putri memakan sesuatu yang aneh !?”, dan tercengang oleh pemandangan ini tapi, Masachika menunjukkan senyum masam dan meladeni tingkahnya.

“Maaf ~, apa kamu sudah menunggu lama~?”

Masachika bergegas dengan cara yang sama sambil mengangkat suara centil. Mengesampingkan Yuki yang merupakan gadis cantik, tingkah laku Masachika yang ini secara obyektif sangat menyeramkan.

Tapi, Yuki sepertinya tidak mempermasalahkannya dan melanjutkan aktingnya yang lucu.

“Nnn. Emang, aku sudah menunggu lama, tahu~”

“Hei, kamu ‘kan seharusnya bilang 'Tidak, aku baru saja sampai di sini' ‘kan?”

“Kalian berdua sangat dekat, ya”

Saat suara dingin datang dari balik rak yang berjejer di ruangan, dalam sekejap, Masachika berhenti bergerak.

Masih dengan ekspresi membeku, Ia berderit mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Di sana, mata biru itu mengintip dari celah antara peralatan yang ditumpuk di rak.

“… .Jadi kamu ada di sini juga, Alya.”

“Ya aku disini. Aku minta maaf, oke? Kalau aku mengganggu kalian.”

“Mana mungkin, haha….”

Sambil tersenyum kaku kepada Alisa, yang mengatakan itu dengan nada nyelekit, Masachika mengalihkan pandangannya dengan protes kepada Yuki.

Namun, pipi Masachika berkedut saat Yuki, yang telah sepenuhnya kembali ke sikapnya yang seperti nyonya muda, tersenyum anggun sambil memiringkan kepalanya.

(Nih anak, awas saja nanti….)

Masahika punya dorongan untuk menyubit wajah menyebalkan Yuki, tapi Ia tidak bisa melakukannya di hadapan Alisa. Oleh karena itu, Masachika pura-pura terbatuk dan menutupinya.

“Ummm… jadi? Kamu ingin aku membantumu mengatur peralatan? ”

“Iya. Kelihatannya kalau cuma kami berdua saja yang melakukannya bakal kesulitan…… Boleh aku meminta bantuanmu? ”

“Yah, kurasa aku bisa membantu…. Aku merasa bahwa aku harus memulai dengan masalah lain terlebih dahulu dan rasanya tidak enakan ”

“Itu hanya imajinasimu”

“Aku ragu dengan hal itu.”

Masachika menuju ke belakang bersama Yuki sambil membuat lelucon.

“Alya juga, ayo lakukan yang terbaik.”

“….Iya”

Alisa membalas tanpa mengalihkan pandangannya dari peralatan di rak. Sementara Masachika tersenyum kecut, Ia menerima daftar alat-alat dari Yuki.

“Untuk sekarang, apa kamu bisa mulai dari sekitar sini?”

“Meja dan kursi lipat. Memeriksa kuantitas dan kerusakannya, ya. Siap~ ….. Tunggu sebentar, aku sudah penasaran sejak SMP tapi, apa ini tugas OSIS….? ”

“Entah… tapi, bisa mempermudah pada saat acara untuk mengetahui peralatan apa yang tersedia, di mana mereka, dan berapa banyak yang kamu miliki, tahu?”

“Uhuh, itu benar tapi… ini, kupikir itu tidak masuk akal untuk dua gadis….”

“Untuk jaga-jaga, Ketua OSIS bermaksud untuk membantu kami nanti tapi ya, Ketua OSIS juga sangat sibuk.”

“Begitu ya.”

Sekali lagi menyadari kurangnya SDM di OSIS saat ini, Masachika memulai pekerjaannya.

Ia memeriksa jumlahnya persis seperti yang tertulis di daftar, dan menyingkirkan bantal atau kursi yang robek dengan penutup kaki yang lepas.

“Mengesankan sekali, kamu sangat ahli melakukannya..”

“Sepertinya begitu.”

Masachika merasa staminanya memburuk karena pujian jujur ​​Yuki dan tatapan agak mengagumi Alisa di punggungnya.

(Ah ~ sial, lenganku mulai nyeri)

Ia tidak menunjukkan kepura-puraan seperti itu di depan mereka berdua, tapi kekuatan fisiknya pasti tidak sebanyak dua tahun lalu ketika Ia terbiasa sibuk dengan urusan OSIS.

Lengan dan pinggul Masachika mulai terasa nyeri setelah berulang kali mengangkat dan menurunkan tumpukan kursi lipat.

(Aah ~ berat, sulit merepotkan. Aku seharusnya tidak menerima pekerjaan ini begitu saja. Jika Yuki baru saja menghubungiku sedikit lebih awal ~ Aku bisa saja menyeret Takeshi ~~ Sekarang aku baru sadar, jika si Ketua OSIS bakal datang, dia tidak perlu meneleponku, ‘kan?)

Sambil membuat beberapa komentar kecil di benaknya, Masachika mengubah frustrasinya menjadi energi dan bekerja dengan sangat cepat. Di belakangnya, suara Yuki memanggilnya.

“Masachika-kun, bisa bantu aku sebentar tidak?”

“Hmm?”

Saat berbalik, Yuki terlihat bermasalah, menunjuk ke karton yang ditempatkan di kolom paling atas. Bahkan di antara gadis-gadis, Yuki berada di sisi yang lebih kecil. Jadi mungkin sulit bagi Yuki untuk menurunkan barang-barang yang ditempatkan di kolom paling atas.

(Begitu, jadi kamu memanggilku untuk melakukan pekerjaan fisik dan mencapai tempat-tempat tinggi, ya)

Yakin akan hal ini, Masachika menghampiri Yuki dan mengambil kotak kardus itu untuknya.

“Terima kasih banyak, Masachika-kun.”

“Ya… tunggu, apa ini?”

Tutup yang sedikit terbuka menunjukkan kotak berwarna-warni yang aneh. Karena penasaran, Masachika membukanya dan menemukan segala macam alat permainan di dalamnya.

“Permainan dadu dan kartu… Apa ini? Mengapa berang-barang yang begini bisa ada di sini? ”

“Aku dengar sih kalau barang-barang ini dulunya milik klub permainan papan yang dibubarkan beberapa tahun yang lalu. Banyak barang yang dibeli dengan anggaran sekolah, jadi sekolah menyitanya kembali.”

Haa ~ jadi begitu…. Tunggu, apa barang ini boleh dipinjam?”

“Tentu saja. Tetapi sebagian besar murid tidak menyadari kalau barang ini tersedia untuk dipinjamkan, ”

“Kupikir juga begitu. Maksudku, kamu akan menggunakan barang-barang ini untuk apa? ”

“Untuk pertunjukan festival sekolah…. Atau peluncuran klub, mungkin? Aku juga sedikit bersenang-senang di acara kumpul-kumpul beberapa hari yang lalu untuk merayakan kelahiran OSIS angkatan sekarang.”

“Hmmmm ~, ngomong-ngomong siapa yang menang?”

“Err ~ Kupikir aku yang menang?”

“Keliatan jelas,”

“Dan yang kedua ….”

“Kalian berdua, cepat lanjutkan pekerjaan kalian.”

“Ah, maafkan aku. Alya-san ”

“Baik, permisi”

Terkejut saat mendengar peringatan Alisa, mereka berdua berhenti mengobrol dan kembali bekerja. Merasa kapok, Masachika memutuskan untuk tidak memikirkan hal yang tidak perlu dan fokus pada pekerjaannya.

Untuk sesaat, di dalam ruangan sunyi senyap. Suara yang terdengar hanyalah suara peralatan yang dipindahkan dan sesuatu yang tertulis di daftar. Dalam keheningan, bahasa Rusia Alisa mulai keceplosan.

Beri aku perhatianmu juga

Pukulan kritis di hati Masachika! Serangan mendadak dan sangat efektif!

(Ngguuuh ~~! Tidak, ini cuma sekilas! Ini cuma sekilas dari secuil eksibisionisme Alya! Aku tidak perlu menanggapinya!)

Dengan menggigit bibirnya, Masachika mati-matian berjuang untuk menahan serangan perasaan manis yang datang. Benar, Alisa hanya menikmati keseruannya. Alisa hanya bersenang-senang membuat komentar memalukan yang seharusnya tidak diperhatikan. Dengan kata lain, ini bukanlah perasaan dia yang sebenarnya dan dia tidak ingin orang-orang bereaksi terhadapnya!

Beri ~ aku ~ perhatianmu ~, beri ~ aku ~ perhatianmu, beri aku ~

Tekanannya .. luar biasa….!

Masachika memuntahkan darah di dalam hatinya karena mendengar gumaman manis Alisa yang diselubungi seolah-olah dia sedang bernyanyi. Itu bukan situasi di mana orang bisa mengatakan dia tidak bersungguh-sungguh lagi.

(Sebaliknya, bagaimana perasaanmu tentang ini!? Apa kamu tidak merasa malu!?)

Masachika meneriakkan hal itu di dalam pikirannya tapi, bahkan Alisa juga merasa malu.

(Hnnnnggg—– !!)

Alisa mengerang tanpa suara. Saat dia berjongkok di depan rak untuk melakukan pekerjaannya, jauh di lubuk hatinya, Alisa sangat bersemangat dalam berbagai hal.

Dia menoleh ke belakang untuk memeriksa, meskipun dia tahu kalau gumamannya takkan tersampaikan.

Dia merasa lega setalah melihat punggung Masachika masih melanjutkan pekerjaannya

(Fu, fuu ~ n. Ia tidak mengerti ~. Ini juga mudah untuk memahami daya tarik…. Sungguh, dasar cowok yang tidak peka)

Mereka bekerja sambil memunggungi satu sama lain, tapi dalam kenyataannya, tubuh keduanya gemetaran karena rasa malu. Tingkah mereka sangat lucu jika dilihat dari samping.

Beri ~ aku ~ perhatianmu ~, berikan ~ aku ~ perhatianmu ~

(Gufuh! T-tidak, masih belum! Masih ada kemungkinan bukan aku orangnya! Mungkin saja dia meminta perhatian Yuki, lagipula—)

Yuki memanggil Alisa dari pintu masuk, meskipun dia mungkin tidak menyadari keadaan mereka berdua.

“Alya-san, apa ada masalah?”

Alisa terkejut, tetapi dengan cepat menutupi penampilan dan nadanya.

“Aah, maafkan aku. Aku tadi bernyanyi sedikit. ”Bukan kamu yang aku maksud

(–Bukan dia, oke! Aku tahu itu!)

Masachika hampir terkapar karena kombo tiga kali lipat tanpa henti. Kaki dan pinggulnya mulai gemetar.

“He-hee~h, lagu Rusia? Lagu apa?”

Mendengar pertanyaan Masachika, Alisa tiba-tiba menoleh ke belakang. Dia tampak agak bahagia dan Masachika bertanya-tanya apa itu cuma imajinasinya saja. Meski tidak tahu kebenarannya, tapi untuk saat ini, hati Masachika mengalami damage yang tak bisa ditahan lagi.

“Judulnya…”

“Apa, kamu tidak bisa mengingatnya?”

“Ya,… judulnya 'Perasaan yang Tak Tersampaikan'?”

“Ooh….”

Hati Masachika  mati dengan selamat karena jawaban yang diberikan dengan tatapan yang tersipu.

◇◇◇◇

 

“Dengan ini, kerjaan kita kurang lebih sudah selesai. Terima kasih atas kerja kerasmu. Terima kasih banyak, Masachika-kun ”

“Terima kasih, Kamu benar-benar sangat membantu kami.”

“Ya.”

Sekitar satu jam kemudian, dengan upaya luar biasa dari Masachika, yang telah mencurahkan hati dan jiwanya ke dalam pekerjaannya, mereka bertiga meninggalkan ruang peralatan setelah menyelesaikan pekerjaan jauh lebih awal dari yang direncanakan. Kemudian, seorang murid laki-laki bertubuh bongsor mendekati mereka.

“Apa, kalian sudah selesai?”

“Aah, Ketua. Terima kasih atas kerja kerasmu. Dan ya, berkat bantuan Kuze-kun, kita bisa selesai lebih awal dari yang dijadwalkan ”

“Ah, jadi kamu yang namanya Kuze, ya. Aku Kenzaki, Ketua OSIS angkatan sekarang. Aku pernah mendengar tentangmu, tahu? Aku dengar kamu sangat luar biasa.”

“Uhuh, terima kasih”

Sambil membungkuk ringan, Masachika menatap cowok di depannya. Tidak perlu yang namanya perkenalan diri, karena Masachika sudah tahu siapa cowok tersebut.

Anak kelas 2, Kenzaki Touya. Ia adalah ketua OSIS karismatik yang memimpin OSIS angkatan sekarang di divisi SMA.

Ia orang berbadan bongsor. Selain tinggi, bahunya terlihat  lebar dan dada yang tebal, yang membuatnya terlihat lebih besar dari yang sebenarnya jika kamu melihatnya dari dekat. Sekilas, Ia bukanlah cowok yang tampan.

Sebaliknya, Ia memiliki wajah yang tampak cukup tua. Ditambah dengan fisiknya, Ia tidak terlihat seperti murid kelas 2 SMA. (TN : Jadi keinget Juumonji dari anime Mahouka :v)

Namun, alisnya terawat rapi dan kacamatanya bergaya.

Di atas segalanya, kepercayaan dirinya yang meluap dari ekspresinya memberinya pesona dan martabat sebagai seorang pria.

(Sekarang aku mengerti, Ia benar-benar orang yang berkarisma)

Hanya sekali melihatnya, Ia akan membuatmu merasa kalau Ia adalah cowok yang dapat diandalkan. Dan secara alami membuatmu berpikir bahwa jika kamu mengikuti orang ini, semuanya akan baik-baik saja. Secara lebaynya sih, bisa dibilang kalau Ia memiliki aura penguasa.

Aku penasaran cowok macam apa yang bisa menarik empat gadis cantik berspesifikasi tinggi sendirian, tapi aku akan mengerti jika cowok ini. Masachika berpikir dengan sangat jujur.

“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang”

“Tunggu dulu. Sangat disayangkan membuatmu pulang tanpa bisa membalas budi setelah menerima bantuan darimu. Waktu sangat penting. Jika kamu tidak keberatan, izinkan aku mentraktirmu makan.”

“Umm tidak perlu repot-repot, perasaanmu saja sudah cukup….”

Masachika merasa enggan menerima tawaran Touya. Ia hanya merasa sungkan ditraktir makanan oleh Senpai yang baru saja Ia temui, tetapi pada saat yang sama Ia punya firasat buruk di kepalanya.

Untuk lebih spesifiknya, Masachika curiga kalau ini mungkin tujuan sebenarnya dari pemanggilan Yuki. Yuki membuka mulutnya seolah-olah menegaskan tebakannya.

“Tidak perlu sungkan-sungkan. Bagaimanapun juga, saat kamu sampai di rumah, kamu takkan punya makanan, ‘kan? ”

“Yuki….”

“Hmm? Kenapa Suou tahu tentang situasi rumah Kuze?”

Yuki menjawab dengan senyuman yang jelas ke arah tatapan bertanya yang sangat masuk akal dari Touya dan Alisa.

“Bagaimanapun juga, kita adalah teman masa kecil.”

(Tidak, itu sama sekali bukan jawabannya)

Meski Masachika…. mungkin Touya dan Alisa juga membuat pernyataan seperti itu di benak mereka, tapi senyum Yuki begitu kuat sehingga tidak ada yang berani membuat bantahan.

“Begitu ya…. Nah, kalau begitu kebetulan sekali. Suou dan adik perempuan Kujou juga bisa ikut datang. Ini sebagai permintaan maafku karena membuat kalian melakukan pekerjaan berat. Anggap saja hadiah dariku hari ini.”

“Dengan senang hati aku menerimanya, Ketua.”

“….Aku mengerti. Terima kasih banyak.”

“Eee~h serius”

Hal berikutnya yang Ia tahu, Ia harus pergi juga. Sejujurnya, Ia tidak terlalu tertarik, tapi Ia tidak bisa memaksa dirinya untuk terus-terusan menolak ajakan mereka. Oleh karena itu, Masachika dengan diam-diam mengikuti mereka.

(Jadi ini  kekuatan dari ketua OSIS, ya….)

Saat memikirkan hal itu dengan pasrah, Yuki melihat ke belakang dan memberinya senyuman puas. Rupanya, ini benar-benar tujuan aslinya.

(Jadi ini taktik dari humas OSIS, ya….)

Masachika mendesah dalam hati. Mengikuti arus, Masachika mengalihkan perhatiannya ke Alisa yang berjalan di sampingnya.

“….Apa?”

“Yah, bukan apa-apa.”

“Apa-apaan itu. Biasanya tidak sopan menatap wajah wanita tanpa alasan, tahu.”

“Maaf.”

Pernyataan Alisa ada benarnya juga, jadi Masachika dengan jujur ​​merenungkannya dan melihat ke depan.

(Jadi ini perlakuan judes dari bendahara OSIS, ya ....)

Masachika memikirkan hal-hal bodoh sambil melihat ke arah langit yang jauh.

Sekarang aku jadi gugup

Masih dengan tatapan ke arah jauh, Masachika memuntahkan darah. Ia bisa merasakan kalau Alisa meliriknya sambil menyeringai, tetapi Ia tidak punya tenaga untuk menanggapinya. MP Masachika sudah nol.

Masachika mengganti sepatunya di pintu masuk dan keluar dari gedung sekolahan.

Kemudian setelah beberapa saat, mereka berpapasan dengan sekelompok klub sepak bola.

Mereka sepertinya telah menyelesaikan latihan mereka, dan ketika mereka melihat kelompok Masachika yang terdiri dari empat orang, mereka secara alami menyingkir ke samping.

(Tidak, mereka hanya melihat mereka bertiga dan bukan aku,)

Bahkan saat mereka berpapasan, Ia bisa merasakan tatapan mata dari sampingnya. Seperti yang diharapkan, Alisa paling menarik perhatian.

Lalu Yuki, dan setelah itu Masachika. Namun, perhatian yang terkumpul pada Masachika adalah, "Siapa cowok ini", dipenuhi dengan kecurigaan seperti itu.

(Ya, wajar saja)

Masachika sendiri sadar bahwa keberadaannya seperti salah tempat, tapi Ia masih merasa sedikit tidak nyaman.

Sebaliknya, seperti yang diharapkan dari Alisa dan Yuki. Mereka menarik lebih banyak perhatian ketimbang Masachika, tapi mereka sama sekali tidak terlihat gugup. Mereka berdua bahkan terlihat tidak peduli dengan tatapan murid lain.

Pemandangan tersebut bahkan tidak berubah setelah meninggalkan sekolah. Kedua gadis ini bahkan mengumpulkan perhatian orang-orang yang lewat. Namun, mereka bertiga, kecuali Masachika, berjalan dengan santai dan memasuki restoran keluarga sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari sekolah.

Mereka dipandu ke meja mereka. Touya duduk pertama di ujung terjauh, dan Masachika mendesak kedua gadis itu untuk duduk lebih dulu agar tidak duduk di depannya. Namun…

“Masachika-kun, tolong?”

“Kamu tahu sendiri lah… Alya, silahkan.”

“Kenapa kamu melemparkannya padaku”

Yuki merekomendasikan tempat duduk di depan Touya dengan senyum acuh tak acuh dan Masachika melimpahkannya kepada Alisa dengan wajah pura-pura tidak tahu. Dengan demikian, ada keheningan selama beberapa detik. Dan Touya-lah yang memecahkan suasana hening tersebut.

“Duduk saja, Kuze. Kamu merepotkan karyawan di sini.”

Saat melihat sekelilingnya, memang ada seorang karyawati berdiri diam, memegang nampan dengan kacamata di atasnya. Masachika menyerah dan duduk di depan Touya. Yuki dengan mulus duduk di sampingnya dan Alisa duduk di sebelah Touya.

“.... meski agak terlambat tapi, Bukannya ini melanggar peraturan sekolah karena mampir dengan memakai berseragam?”

“Jangan pedulikan itu. Tidak jarang aku terlambat menghadiri rapat OSIS, keluar untuk makan, lalu pulang. Itu peraturan sekolah yang sudah lama usang. Lupakan itu dan pesan apapun yang kamu mau. Pesan apa saja asalkan yang kurang dari seribu yen.”

“Ketua, Kamu benar-benar kehilangan setengah dari kejantananmu karena kata-kata terakhir itu, tahu?”

Fuu, kejantanan tak akan memenuhi dompetmu, Suou.”

Kalimat ceria Touya melembutkan suasana, dan Masachika juga merilekskan bahunya. Tapi, masih terlalu dini untuk kehilangan fokus. Begitu mereka menyelesaikan pesanan mereka, dan tepatnya seribu yen/orang, topik pembicaraan langsung beralih ke Masachika.

“Meski begitu, kamu berhasil melalui semua itu dalam waktu yang sangat singkat, ya. Aku sudah siap-siap kalau pekerjaan itu akan memakan waktu sampai besok.”

Tepat setelah Touya mengatakan itu, Yuki segera menimpali.

“Itu semua berkat Masachika-kun yang melakukan yang terbaik. Seperti yang diharapkan, ada bantuan dari cowok benar-benar membuat perbedaan. Apalagi jika sudah terbiasa.”

“Kurasa kamu benar.”

“Masachika-kun itu luar biasa. lho? Ia dapat melakukan pekerjaan fisik dan administrasi tanpa mengeluh, dan Ia juga sangat pandai dalam bernegosiasi dan menjalin relasi.”

“Hei, Yuki. Kamu terlalu banyak memujiku. Melebih-lebihkan seseorang juga ada batasannya kali.”

“Hoh, tidak biasanya sampai membuat Suou memujimu seperti itu. Bagaimana menurutmu, Kuze. Apa kamu tertarik untuk bergabung dengan OSIS? Kebetulan saja masih ada posisi kosong untuk jabatan urusan umum.”

Akhirnya mengungkit hal ini lagi. Masachika memelototi Yuki yang ada sampingnya, dan kemudian secara resmi memberitahu Touya.

“Maaf, tapi aku tidak mau menjadi anggota OSIS lagi. Aku sudah mendapat banyak pengalaman saat di SMP dulu.”

“Begitu ya…. Memang benar pekerjaan OSIS di divisi SMA lebih melelahkan ketimbang di SMP, tapi itu sepadan dengan usahanya, oke? Dibandingkan dengan sekolah lain, sekolah kita memberi OSIS lebih banyak wewenang keleluasaan, dan sejujurnya, ini akan berdampak besar pada evaluasi pribadimu.”

Perkataan Touya ada benarnya. Menjadi anggota OSIS di Akaemi Seirei merupakan status yang besar.

Secara khusus, gelar Ketua dan Wakil Ketua, yang merupakan pusat kelembagaan OSIS, adalah gelar elit absolut yang melampaui batas kasta sekolah. Belum lagi ada keuntungan mendapat rekomendasi universitas, itu juga akan sangat penting setelah terjun di masyarakat.

Lagipula, bahkan ada pertemuan sosial yang hanya terdiri dari mantan ketua dan wakil ketua OSIS Akademi Seirei, yang merupakan anggota dari sejumlah besar tokoh penting di lingkaran politik dan bisnis.

Jika kamu bisa menjalankan OSIS tanpa masalah selama setahun, hal itu seperti jaminan sukses di masyarakat.

Di sisi lain, jika kamu menjalankan OSIS dengan buruk dan menyebabkan masalah, Kamu akan dicap sebagai "tidak kompeten". Meski demikian, masih banyak orang yang mengincar posisi itu, dan cara tercepat untuk mengambil kursi ketua OSIS dan wakil ketua di semester berikutnya adalah dengan mengumpulkan banyak pencapaian sebagai anggota OSIS.

“Sayangnya, aku tidak punya ambisi besar atau aspirasi sebanyak itu. Saat ini aku tidak berencana untuk melanjutkan ke universitas lain dan memiliki koneksi dengan orang-orang terkenal tidak terlalu menarik buatku.”

Bagi Masachika, yang hanya menghabiskan kehidupan sehari-harinya dengan santai tanpa tujuan masa depan, hal seperti itu tidak ada manfaatnya.

“Jangan bilang begitu, dan ayo bekerja sama di OSIS. Dan kemudian, mari mencalonkan diri dalam pemilihan lagi, oke?”

“Jangan seenaknya meningkatkan permintaanmu begitu saja. Maksudku, bahkan tanpa aku, kamu pasti akan menjadi Ketua OSIS berikutnya, ‘kan? Lagipula kau adalah mantan ketua OSIS di SMP.”

“Aku ingin bekerja di OSIS bersamamu, Masachika-kun.”

“Tidak mau. Terlalu merepotkan.”

Lebih dari 90% cowok di sekolah kemungkinan besar akan menganggukkan kepala mereka tanpa sadar terhadap permohonan Yuki, tapi Masachika tidak menggubrisnya. Melihat mereka dengan lucu, Touya mengelus dagunya.

“Kuze, mengatakan kalau Suou pasti akan memenangkan pemilihan adalah kesalahan besar, oke? Ada kandidat lain juga, dan ada adik perempuan Kujou.”

Usai mengatakan itu, Ia lalu menatap Alisa yang duduk di sebelahnya. Merasa terkejut, Masachika juga menatapnya dan matanya bertemu dengan tatapan Alisa yang menatapnya dalam diam.

“Alya, apa kamu berencana mencalonkan diri untuk pemilihan ketua OSIS berikutnya?”

“Ya, Yuki-san dan aku akan bertarung memperebutkannya di tahun depan.”

Alisa menatap Yuki yang duduk di seberangnya. Yuki membalas tatapannya dengan senyuman tenang. Masachika membayangkan bayangan api yang membumbung di belakang mereka berdua.

Seolah-olah ingin mencairkan suasan yang emmanas, Touya sekarang mengungkit masalah Alisa.

“Kalau tidak salah, adik perempuan Kujou duduk di sebelah Kuze di kelas, ‘kan. Jadi bagaimana Kuze? Dari sudut pandangmu.”

Tapi ternyata, itu cuma menambahkan bahan bakar ke dalam api.

“Bahkan jika kamu bertanya bagaimana ... Jika aku harus mengatakan dalam satu kata, Ia itu 'sembrono'”

“Hoh?”

Alisa mencemoohnya dengan wajah berhati dingin, sementara Touya terlihat sangat tertarik.

Alisa melirik Masachika sesaat, tapi Masachika menyadarinya dan hanya bisa mengangkat bahu.

“Hebat, terus lakukan dan singkirkan pujian berlebihan Yuki", itulah yang dipikirkan Masachika.

“Selalu melupakan banyak hal, dan sikapnya di kelas juga tidak bisa dikatakan baik. Tampaknya lebih cepat juga untuk mencari nilainya dari bawah ”

“Masachika-kun .. Ia hanya melakukannya seminimal mungkin saat motivasinya rendah. Tapi Ia selalu berhasil mendapat nilai yang pas-pasan,”

Yuki segera melakukan bantahan setelah evaluasi jelek Alisa terhadap Masachika. Alisa mengerutkan keningnya, dan kobaran api sekali lagi muncul di belakangnya.

“… .Kurasa begitu, aku duduk di sebelahnya jadi aku tahu nilainya. Bahkan pada kuis, Ia selalu menghindari ujian remidi. Itu membuatku sedikit terkesan. Andai saja Ia serius berusaha, bukannya Ia juga bisa mendapatkan nilai tinggi, itulah yang aku pikirkan”

“Bagaimanapun juga, Masachika-kun pada dasarnya sangat pintar. Ia juga bisa berhasil masuk ke Akademi Seirei tanpa banyak kesulitan. Ah, aku tahu semua ini karena kita adalah teman masa kecil.”

“Kuze-kun tidak hanya pintar tapi juga atletis, namun .. Ia tidak pandai bermain bola. Beberapa hari yang lalu juga, saat pelajaran basket, jari-jarinya sampai terkilir. ”

“Masachika-kun .. memang tidak pandai bermain bola sejak Ia masih kecil. Meski aku bilang begitu, aku tidak dapat berbicara untuk orang lain. Aah, Masachika-kun, favoritmu di pelajaran olahraga adalah lari marathon, ‘kan? ”

Wuss wuss wuss

Ada bayangan kobaran api di belakang Alisa. Bertanya-tanya apakah itu akan mengenainya dan membuat Masachika berkeringat dingin. Namun kenyataannya, Ia sama sekali tidak merasa panas.

Yuki anehnya bisa menghadapinya langsung dengan ekspresi yang dingin dan tenang.

“Te-Terima kasih sudah menunggu ~”

Kemudian, karyawan tersebut memanggil dengan takut-takut, membawakan pesanan mereka.

Dari semua tempat, dua gadis cantik yang duduk di sisi lorong memberikan suasana yang tidak biasa, dan pada saat itu, senyum dari karyawan itu menjadi kaku. Masachika menoleh, dan melihat kalau dia karyawan tadi yang memegang nampan dan berdiri diam.

Sungguh malang sekali. Dari sudut pandang si karyawan tadi, hari ini mungkin adalah hari sialnya.

“Oh, makanannya sudah datang. Untuk saat ini, bagaimana kalau kita mulai makan.”

Mendengar kata-kata Touya, Alisa dan Yuki menghentikan pertarungan mencolok mereka, dan suasananya melembut.

Rasa hormat Masachika terhadap Touya semakin meningkat. Selain itu, kesukaan karyawan terhadap Touya telah meningkat. Namun, itu tidak akan pernah berkembang menjadi acara romantis karena Touya sudah punya pacar.

 

◇◇◇◇

 

Setelah selesai makan di restoran keluarga, mereka pergi keluar dan seperti yang diharapkan, langit di luar sudah gelap.

Sebelum itu, pertama-tama selama makan mereka melakukan percakapan yang ramah. Pembawa acara, Touya, pada dasarnya melakukan hampir semua pembicaraan, Yuki mengambil peran sebagai moderator situasi dengan kemampuan komunikasinya yang tinggi, dan Masachika dan Alisa sepenuhnya mengambil peran pendengar sehingga situasinya tidak lepas kendali.

Sebagai gantinya, Masachika selalu diundang untuk bergabung dengan OSIS beberapa kali oleh Touya dan Yuki, tapi Masachika tidak mengangguk.

“““Terima kasih untuk makanannya.”””

“Ya”

Setelah Touya selesai membayar, Ia meninggalkan restoran keluarga. Ketiga junior masing-masing berterima kasih padanya dan Touya mengangguk dengan rendah hati. Kemudian Ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu sambil berjalan ke tempat parkir.

“Adik perempuan Kujou pulang jalan kaki, ‘kan. Suou naik kereta seperti aku, kalau Kuze bagaimana?”

“Ah, aku juga akan berjalan kaki.”

“Gitu ya. Lalu Kuze, tolong antar adik perempuan Kujou pulang. Aku akan mengantar Suou pulang.”

“Iya.”

Masachika mengangguk patuh saat penghormatannya terhadap Touya, yang merupakan seorang pria yang bisa mengatakan hal-hal ini secara alami, telah meningkat. Kemudian, Yuki mengangkat tangannya dengan hati-hati.

“Umm, Ketua. Aku sangat menghargai perhatianmu tapi, aku akan memanggil mobil jadi tidak perlu repot-repot mengantarku.”

“Hmm, begitukah?”

“Iya. Aku akan menunggu di sini sampai mobil jemputanku  tiba, jadi jangan khawatirkan aku.”

“…. Begitu ya. Sampai jumpa minggu depan.”

Masachika melihat Touya yang menjauh dan berjalan menuju stasiun. Kemudian Masachika melakukan kontak mata dengan Alisa.

“Baiklah, ayo pergi?”

“Ini bukan seperti, kamu harus repot-repot untuk mengantarku pulang. Tidak apa-apa.”

“Alasan itu tidak akan berhasil. Ayo pergi. Sampai jumpa, Yuki ”

“Ya, sampai jumpa.”

“Sampai jumpa besok, Yuki-san”

“Ya, Alya-san juga.”

Yuki membungkuk dengan indah saat berpisah dengan mereka. Masachika dan Alisa mulai berjalan ke arah berlawanan yang dituju Touya.

“Seberapa jauh rumah Alya dengan berjalan kaki?”

“Kira-kira sekitar dua puluh menit.”

“Begitu, kamu pasti banyak berjalan.”

“Bagaimana dengan Kuze-kun?”

“Aku? Kira-kira 15 menit. Mempertimbangkan kecepatan berjalan kita, mungkin jaraknya tidak jauh berbeda.”

“Oh”

Lalu, hening. Mereka berjalan tanpa bisa menemukan topik pembicaraan, dan sedikit lebih jauh dari mereka, sebuah pintu toko yakitori dibuka. Dari dalam, sekelompok orang yang tampak seperti karyawan kantoran keluar dari toko tersebut.

“Sheesh, dasar orang-orang dari divisi pengembangan keparat itu, memangnya mereka pikir kita orang marketing ini apaan!”

“Pak Kepala, Anda terlalu banyak minum.”

“Isoyama-san, jangan terlalu keras-keras, oke?”

Seorang pria paruh baya yang terduduk dengan wajah dan mata merah berteriak dan berbicara omong kosong, dan beberapa pria tampaknya bawahannya berusaha menenangkannya.

Jelas sekali kalau Ia sedang mabuk. Masachika memindahkan Alisa ke sisi dekat jalan dan mencoba berjalan melewati mereka tanpa melakukan kontak mata.

Namun, saat mereka hendak berjalan melewati mereka, pria yang dipanggil “Pak Kepala” melihat Masachika dan Alisa yang kebetulan lewat. Kemudian, mungkin ada sesuatu yang tidak beres dengannya, ekspresi wajahnya berubah menjadi tidak senang dan mulai berteriak dengan suara keras.

“Apaaaa? Melakukan hubungan seksual terlarang pada jam segini? Astaga, pelajar jaman sekarang cuma berpikir main terus! Tugas pelajar adalah belajar, kaliaaaan dengar itu ~~? ”

“Isoyama-san! Itu tidak baik!”

“Ma-Mari kita sudahi saja o .. oke?”

“Tutup mulut kalian! Lagipula… apaan .. Apaan itu? ”

Bahkan tidak mempedulikan bawahannya yang mencoba menghentikannya, pria tersebut memandang Alisa yang berjalan di bawah bayang-bayang Masachika, dan mendengus.

“Warna rambut yang bodoh. Aku ingin melihat wajah orang tuamu. Aku yakin mereka tetap saja sama mencoloknya, orang tua yang tidak berguna! ”

Kaki Alisa tiba-tiba berhenti mendengar perkataan pria yang sengaja membuatnya mendengar kata-kata kasarnya.

“Hei, Alya.”

Merasakan kemarahan Alisa, Masachika mendesaknya untuk mengabaikannya untuk menghindari masalah, tapi Alisa, masih berhenti berdiri, memandang pria itu dengan mata dingin yang mengerikan. Dia kemudian meludahinya dengan rasa jijik yang tak tertandingi dengan omelan yang biasanya dia tujukan pada Masachika.

“Benar-benar tipikal orang dewasa yang memalukan.”

Suaranya tidak lantang, tapi anehnya terdengar jelas, bahkan di antara suara keras pria dan bawahannya yang mencoba menenangkannya. Orang-orang itu berhenti bergerak sejenak seolah-olah terkejut dengan cara berbicara yang tak kenal ampun.

Namun, pria yang dipanggil “pak kepala” itu mulai terlihat marah dan melepaskan pengekangan bawahannya, yang telah kembali ke akal sehat mereka. Dengan langkah kasar, ia lalu mendekati Alisa.

Sebagai tanggapan, Alisa berbalik dan menunjukkan sikap tidak mundur tapi…. lebih cepat darinya, Masachika tiba-tiba menyelipkan dirinya di antara mereka.

Ia kemudian menghadapi pria paruh baya yang mendekatinya dengan amarah yang tidak bisa disembunyikan, dan tersenyum lembut. Raut muka yang tidak sesuai dalam situasi ini.

 “Sudah lama tidak bertemu, Isoyama-san. Kalau tidak salah saya berkesempatan menyapa anda di pernikahan kakak laki-laki saya?”

“A .. ah .. ya?”

Pria itu menghentikan langkahnya, terperanjat oleh sapaan sopan yang tiba-tiba. Dia sepertinya telah sedikit sadar dari situasi yang tidak terduga dan melihat wajah Masachika dengan ekspresi kebingungan.

“Saya senang melihat Anda masih terlihat sehat. Kakak laki-laki saya pernah memberitahu bahwa Anda merupakan mitra bisnis penting perusahaan kita, jadi saya bisa mengingat Anda dengan baik.”

“A .. aah, ya”

Pria itu mengangguk sambil terheran-heran dan kebingungan seolah-olah ingin mengatakan, “Eh? Elu siapa?”.

Namun, saat Masachika menyebut “rekan bisnis”, ekspresi gelisah mulai muncul perlahan di wajahnya.

Sementara bawahan pria itu dan Alisa merasa kebingungan dengan situasi yang terjadi, Masachika menunjukkan senyum lembut dan terus melanjutkan.

“Bagaimanapun ... bahkan di pernikahan kakak laki-laki saya, Anda sepertinya banyak minum. Saya melihat sepertinya anda sangat suka minum.”

“Ah, ya, ngomong-ngomong tentang hal-hal yang aku suka, aku pesta minum akhir pekan ini. Ha ha ha.”

“Begitu rupanya. Ah, dan ngomong-ngomong dia adalah tunanganku.”

Pergantian peristiwa yang terlalu absurd. Masachika merangkul pundak Alisa dan tersenyum bangga saat Alisa membuka lebar matanya dan menatap Masachika.

“Dia benar-benar gadis yang brilian. Kalau boleh jujur sih,  dia gadis yang terlalu baik untuk saya.”

“Begitu. Memang, dia tampaknya adalah gadis yang cerdas.”

Bahkan saat kebingungan masih tampak jelas di raut wajahnya, pria itu membuat penilaian yang berlawanan seperti sebelumnya dengan senyuman kaku.

Masih menanggapi dengan senyuman lembut, Masachika menurunkan nada suaranya dengan mata yang memancarkan cahaya dingin.

“Anda juga setuju? Oh ngomong-ngomong, ibunya berasal dari luar negeri. Dan dia mewarisi rambutnya dari ibunya, tahu. Bagaimana menurut Anda? Bukankah itu indah?”

“Ka-Kalau dilihat-lihat, memang rambut yang indah….”

Melihat wajah Alisa dari dekat, pria itu pasti menyadari bahwa kata-katanya bukanlah kebohongan.

Pria paruh baya itu tampaknya sudah tersadar dan canggung. Ia menghadap Alisa dan sedikit menundukkan kepalanya.

“Err .. Maafkan aku sebelumnya. Meski aku mabuk, aku mengatakan sesuatu yang kurang ajar.”

Usai melihat ini, Masachika menarik tatapannya yang tajam dan berkata dengan lembut.

“Saya telah menerima permintaan maaf anda. Kamu juga, ‘kan? ”

“… ..”

Masachika menatap Alisa dari balik bahunya, dia tidak mengatakan apa-apa saat memelototi pria itu.

Namun demikian, Masachika mengangguk setuju. Dia meletakkan tangannya di bahu Alisa seolah menyembunyikan ekspresinya, dan mendesaknya untuk berjalan.

“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu.”

Ia kemudian meninggalkan tempat itu bersama Alisa. Mereka melanjutkan beberapa saat dalam diam. Ketika orang-orang itu tidak terlihat, Masachika melepaskan tangannya dari bahu Alisa dan menghela nafas.

“Ya ampun, kamu terlalu sembrono. Kamu tahu jika kamu mengatakan sesuatu seperti itu kepada seorang pemabuk, mereka akan langsung marah, ‘kan? ”

“… .Orang tuaku dihina, tahu. Cuma karena Ia mabuk, bukan berarti aku akan tinggal diam.”

“Seperti yang sudah kubilang, kamu terlalu sembrono. Bagaimana jika dia memukulmu atau melakukan hal lainnya.”

“Walau aku terlihat begini, tapi aku juga mempelajari beberapa teknik bela diri. Aku bukan gadis lemah yang gampang dilukai oleh seorang pemabuk.”

Suara Alisa terdengar datar, seolah-olah dia masih marah dan dengan paksa menahan amarahnya. Masachika menggaruk kepalanya bertanya-tanya apa yang harus dilakukan karena Ia juga mengerti bagaimana perasaannya.

“.... Yah, bahkan pria itu sudah mengakui kesalahannya. Jadi kamu harus puas dengan itu kali ini.”

“….Aku tahu itu.”

Alisa menghela napas panjang dan ekspresinya kembali tenang sesuai kata-katanya.

“Ngomong-ngomong, pria tadi itu kenalanmu?”

“Tidak? Aku sama sekali tidak mengenalnya.”

“….Hah?”

Saat Alisa menatapnya dengan ekspresi terperangah, Masachika berkata sambil tersenyum tipis.

“Yah, itu kejutan besar. Sepertinya penipuan yang berpura-pura menjadi kerabat juga bisa sukses sambil bertatap muka.”

“Ha-Haaaaah !? Eh, lalu pria itu benar-benar orang asing? Bagaimana dengan apa yang terjadi di pernikahan kakak laki-lakimu !? ”

“Tapi aku tidak punya kakak laki-laki, kok?”

“Wa-wah….”

“Ya, karena Ia sedang mabuk dan sebagainya, tapi aku juga tidak pernah menyangka bakal berjalan semulus itu. Sejujurnya, Aku juga sangat gugup tadi. Ha ha ha, utung saja semuanya berjalan dengan baik.”

Alisa sepertinya merasa sakit kepala karena tawa kosong Masachika.

“….Kenapa kamu sampai melakukan itu?”

“Hmm? Nn ~ bagaimana bilangnya ya ~, sepertinya pria tadi terlalu banyak menenggak alkohol. Aku hanya mencoba menenangkannya sedikit dengan mengemukakan pembicaraan tentang pekerjaan. Dan kemudian ada masalah itu juga ... kurasa.”

“Apa itu?”

Masachika melirik Alisa yang curiga dan mengangkat bahu.

“… .Aku .. dicemooh oleh kata-kata kasar pria tua itu juga. Aku hanya ingin menakut-nakutinya sedikit. Untungnya, semuanya tidak semakin runyam dan kita mendaat permintaan maaf darinya. Soal hasilnya, menurut aku sudah cukup.”

Haah… Tak dapat dipercaya kamu bisa membuat banyak kebohongan secara mendadak seperti itu. Kamu .. Kamu memiliki bakat sebagai penipu ulung, ‘kan?”

“Kejam sekali. Kamu berani berbicara seperti itu terhadap Masachika-san yang murni dan polos ini.”

“… .Ya, ya, murni dan polos.”

“Hentikan. Jangan mengatakannya dengan pandangan mata kosong seperti itu. Itu jauh lebih merusak secara mental.”

Mencibir wajah menyedihkan Masachika, Alisa mulai berjalan cepat ke depan. Setelah Masachika menyusul dan mengimbangi kecepatan jalannya, Alisa bergumam dengan suara kecil, masih melihat ke depan.

“….Terima kasih.”

“Yeah.”

Dan Masachika pun menanggapi sambil tetap melihat ke depan. Setelah itu, tidak ada percakapan di antara keduanya. Mereka terus berjalan dalam suasana hening, dan tak lama kemudian mereka berhenti di depan gedung apartemen Alisa.

“Apa di sini tempatnya?”

“Ya, terima kasih sudah mengantarku,”

“Ya”

Saling berhadapan di depan pintu masuk, Masachika menggaruk kepalanya sambil memperingatkan Alisa.

“Yah, kurasa kita sedang apes mengalami kejadian tadi. Namun, saat kamu sendirian, kamu benar-benar harus mengabaikannya, oke? Semuanya bakal terlambat jika ada sesuatu yang terjadi.”

“Apa? kamu mengkhawatirkanku? ”

“Yeah, aku khawatir. Lagipula, kamu itu sedikit kikuk dalam hal berinteraksi dengan orang lain.”

Masachika menjawab dengan menatap langsung ke mata Alisa, yang tertawa seolah mengolok-oloknya.

Alisa mengedipkan matanya dengan wajah terkejut saat mendengar balasan jujur Masachika. Dia kemudian menggumamkan sedikit “Begitu ya”.

Dia kemudian berbalik dan meliirik kembali ke pintu masuk melalui bahunya.

“….Aku mengerti. Aku akan .. lebih berhati-hati.”

“Baik. Kalau begitu tolong lebih berhati-hati nanti.”

“….”

Setelah berjalan beberapa langkah, dia berhenti di depan pintu otomatis. Tanpa berbalik, dia lalu memanggil Masachika.

“Nee, Kuze-kun.”

“Hmm?”

“Apa kamu benar-benar ….... tidak mau bergabung dengan OSIS?”

“Oh ayolah, bahkan kamu juga?”

“Jawab aku.”

Masachika berhenti memasang ekspresi jenakanya saat mendengar suara tegas Alisa yang takkan memafkan adanya kejahatan atau tipu daya. Ia kemudian menjawab dengan suara tegas yang sama, agar tidak meninggalkan harapan yang tersisa.

“Ya, aku tidak akan bergabung dengan OSIS.”

“….Jika—”

Namun, Alisa tidak gentar. Suaranya terdengar sedikit lebih tidak sabaran saat terus berbicara.

“Bagaimana jika aku—”

Tapi, kata-katanya berhenti di sana. Setelah beberapa detik terdiam, Alisa berkata, “tidak”.

“Bukan apa-apa. Selamat malam.”

“Ya, malam juga.”

Alisa kemudian langsung masuk ke gedung apartemennya. Setelah melihat sosoknya masuk ke dalam apartemen, Masachika juga berbalik. Ia menatap langit malam dan bergumam pada dirinya sendiri, tertawa sinis.

“… .Aku ingin tahu apa yang mereka harapkan dariku ~? Alya, dan Yuki juga.”

Masachika bisa menebak apa yang akan dikatakan Alisa. Ia mengetahuinya, dan berpura-pura tidak menyadarinya.

“Tidak .. tidak ada yang bisa aku lakukan tentang itu”

Masachika mengejek dirinya sendiri, dan berjalan pulang dengan perasaan suram yang aneh.

◇◇◇◇

 

“Aku pulang ~”

Ketika Masachika kembali ke apartemennya sendiri setelah mengantar pulang Alisa, Ia mengerutkan kening karena melihat sepatu yang berjejer di pintu masuk.

Satu-satunya yang tinggal di apartemen ini hanya dua orang, Masachika dan ayahnya, yang bekerja sebagai diplomat dan saat ini berada di luar negeri karena urusan pekerjaannya.

Namun, ada sepasang sepatu di lantai yang bukan milik Masachika atau ayahnya.

(Bukannya kamu bilang kalau kamu akan pulang….)

Sambil mengerutkan alisnya, Masachika menuju ke ruang tamu. Saat Ia membuka pintu ruang tamu, di sana sudah ada Yuki dengan rambutnya yang dikuncir ala ponytail, berpakaian sangat santai dengan kaos lengan panjang dan celana olahraga pendek. Dia sedang duduk di kursi dan menonton anime di televisi, bertindak seolah-olah kalau itu merupakan tempatnya sendiri.

“Ah, selamat datang kembali ~. Apa kamu sudah mengantar pulang Alya-san? ”

“Kamu, kenapa kamu ada di sini?”

“Eh? Itu karena mulai hari ini, aku akan tinggal di sini.”

“Tidak, aku tidak pernah mendengar hal ini, tahu.”

“Yah, karena aku memang tidak pernah mengatakannya.”

Yuki mengatakan ini tanpa rasa malu sembari masih asyik menonton televisi.

Penampilan dan sikapnya adalah gambaran sempurna dari nyonya muda keluarga terpandang - seperti yang dia tunjukkan di sekolah. Sebuah perubahan 180 derajat jika seseorang melihat ini untuk pertama kalinya, mereka mungkin salah mengira kalau dia adalah orang lain.

Kemudian anime yang Yuki tonton berakhir, dan iklan mulai diputar.

Iklan tersebut menayangkan berita film adaptasi live-action berdasarkan manga fantasi gelap yang terkenal. Menunjuk kea rah iklan itu, Yuki tiba-tiba berbicara.

“Ah, aku akan melihat ini besok.”

“Hmm~”

“Tidak, kamu juga ikutan nonton.”

“Aku tidak pernah mendengar tentang ini.”

“Aku tidak mau mendengar adanya penolakan.”

Mengeluh pada Yuki yang sama sekali tidak tahu malu, Masachika melirik iklan itu.

“Ngomong-ngomong, bukannya kamu berada di faksi oposisi yang menentang adaptasi live-action seperti ini?”

“Tahan dulu omonganmu itu!”

Yuki tiba-tiba berteriak sambil mengangkat telapak tangannya saat mendengar ucapan Masachika, dan mulai berbicara dengan cepat.

“Aku tahu. Aku tahu dari saat castingnya, 8/9 dari 10  itu ranjau darat! Sejujurnya, PV tersebut tidak memberikan  kesan apa-apa selain firasat buruk! Tapi menurutku, tidak supan mengkritiknya tanpa benar-benar menontonnya. Mungkin itu bukan ranjau darat. Mungkin saja ada berlian yang terkubur menunggu untuk ditemukan di sana! Aku tahu. Karena ada orang seperti aku yang mau mengeluarkan uang untuk itu, ada begitu banyak film live-action buruk di luar sana, aku tahu itu. Aku tahu semua itu!! ”

“Tidak, ketegangan ini. Apa-apaan dengan ketegangan ini? Ketegangan ini mirip seperti seolah-olah kamu akan mengakui sebuah rahasia yang seharusnya tidak aku ketahui.”

“Aku tahu! Kalau onii-chan-ku dan aku sebenarnya tidak punya hubungan darah. Aku .. tahu semua itu, lho!? ... tunggu, apa yang kamu ingin aku katakan ~. Kita punya ikatan darah yang kuaaaat, ‘kan ~”

“Mengatakan kita punya ikatan darah yang kuat, kekuatan kata memang tidak bisa diremehkan.”

“Yah, maksudku… ada juga yang seperti itu, ‘kan? Dikira saudara kandung, tapi ternyata sebaliknya, mereka sebenarnya adalah sepupu~ sesuatu seperti itu. Dalam situasi itu, bukannya kamu akan bilang kalau mereka punya hubungan darah?”

“Aaah ~ memang ada yang begitu. Hubungan yang aman karena mereka sepupu dan bukan saudara kandung.”

“Tentu saja ada. Kamu benar-benar tidak mengerti sama sekali.”

“Mengerti apa?”

Ketika Masachika memiringkan kepalanya dengan bingung, Yuki tiba-tiba membuka lebar matanya dan berteriak sambil meraih kerah baju masachika.

“Dasar bodoh !! Itu tidak masalah karena mereka adalah saudara yang punya hubungan darah, ‘kan !! ”

“Tidak masalah gundulmu!?”

Suou Yuki. Di sekolah, dia hanyalah teman masa kecil Masachika, begitulah settingannya. Tapi nyatanya, dia adalah teman otaku Masachika dan…… hak asuhnya diambil ibunya saat orangtua mereka bercerai, dia sebenarnya …….adik kandung Masachika.

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama