Roshi-dere Vol.1 Chapter 08 Bahasa Indonesia

Chapter 8 —  Yeah, Aku mengerti

 

Haaah…. Gadis itu, bukannya dia semakin lama semakin ngelunjak saja ….? ”

Sepulang sekolah, Masachika bergumam begitu setelah melihat pesan yang Ia terima dari Yuki.

Dia harus pergi berbelanja untuk kebutuhan tugas OSIS tapi karena punya urusan mendadak, jadi dia meminta Masachika untuk pergi menggantikannya.

Nii-ni, kumohooooooon

“….”

Masachika merasa agak kesal dan lelah di bagian terakhir pesan, yang secara licik cukup genit untuk membuatnya merasa sedikit bahagia.

“Baiklah, jadi pergi atau tidak? Kurasa aku akan pergi tapi…. ”

Masachika membalas dengan lugas Siap sambil menggerutu.

Yaaay, daisuki dayo onii-chan

“Yeah, yeah”

Sambil tersenyum kecut pada stiker hati yang menari dengan liar dan dikirim berturut-turut, Masachika memasukkan smartphone-nya ke dalam sakunya dan menuju ke ruang OSIS.

Masachika punya sisi selalu merasa tak tega menolak permintaan adik perempuannya. Sampai-sampai takkan terasa aneh jika orang lain memanggilnya siscon bila mereka melihat perilakunya ini.

“Permisi.”

Masachika mengetuk pintu ruang OSIS dan membukanya. Di dalam ruangan, ada dua orang.

“Masuklah, Kuze. Aku minta maaf karena membuatu datang jauh-jauh untuk membantu kami lagi.”

“Yah, aku datang hanya untuk menggantikan Yuki.”

Salah satu orang di ruangan tersebut adalah ketua OSIS, Kenzaki Touya. Dan yang lainnya….

“Ooh? Jadi kamu yang namanya Kuze-kun, ya? Aku Maria Mikhailovna Kujou. Aku kakak perempuan Alya-chan dan sekretaris OSIS. Senang berjumpa denganmu oke ~? ”

“Ah, sama-sama. Alya selalu membantuku terus.”

Maria menyapanya dengan senyuman lembut dan ceria. Sebagai tanggapan, Masachika membungkuk sedikit sambil berpikir, “Kedua saudari ini benar-benar punya aura yang sangat kontras, ya”.

“Hari ini kudengar akan berbelanja dengan Kujou-senpai ...”

“Kamu bisa memanggilku Masha, oke? Teman Alya-chan adalah temanku juga~”

“Ah iya….”

Sambil berpikir “Di-Dia orangnya gampang bergaul”, Masachika tersentak ke belakang sedikit pada Maria yang berlari ke arahnya sambil tersenyum lebar.

“Masha-senpai atau Masha-san ~, yang mana saja tidak masalah, oke? ~”

“Uhuh… kalau begitu, Masha-san.”

Masachika mengalihkan pandangannya dengan malu-malu. Setelah akhirnya di depannya, Maria menggenggam tangan kanan Masachika dengan kedua tangannya dan menggoyangkannya dengan ringan ke atas dan ke bawah.

“Mm-hmm, senang bertemu, denganmu….”

Jika ini dalam acara jumpa fans dengan idol, ekspresi Maria yang berjabat tangan sembari tersenyum bisa membuat seorang cowok menjadi tawanan cinta dalam sekejap. Tapi, ekspresinya mendadak berubah serius begitu melihat wajah Masachika dari dekat.

Mata menyipitnya yang biasanya memberikan perasaan lembut sekarang terbuka lebar-lebar, dan senyumannya yang ramah benar-benar menghilang dari wajahnya.

“Ad-Ada apa?”

Masachika secara tidak sadar mencoba untuk mundur karena terkejut dengan perubahan sikap Maria, tapi Ia hanya bisa mundur satu langkah karena tangan kanannya digenggam dengan kekuatan yang tidak terduga.

“Kuze-kun…. Bagaimana cara penulisan nama aslimu? ”

“Eh? Masachika ( )… Masachika ( ) yang ditulis dengan kanji Sei () dalam kata Seiji (政治)  dan kanji Chika () dalam kata Chikai ( )” (TN : Arti kanji di nama Masachika, () : Pemerintahan, Politik. () : Dekat) 

“Masa .. chika…”

Maria menatap lekat-lekat wajah Masachika dengan ekspresi yang sangat tajam, seolah-olah tatapannya bisa menembus lubang di wajah Masachika.

Ditatap begitu dekat sementara tangannya digenggam dengan kedua tangan oleh Senpai berparas cantik yang baru Ia temui untuk pertama kalinya membuat Masachika sangat gugup, dan Ia mulai merasa tidak nyaman.

“Apa ada yang salah? Kakak perempuan Kujou. Apa ada sesuatu yang menghantui punggung Kuze?”

“Ketua, jika kamu ingin mengatakan sesuatu seperti itu, seharusnya 'Apa ada sesuatu yang menempel di wajahnya?'”

“Ooh, kamu pandai tsukkomi ya, Kuze”

Touya mengulurkan uluran tangan dan Masachika segera meraihnya. Touya memujinya sambil mengacungkan jempol pada balasan cerdiknya.

Saat melihat acara melawak yang tiba-tiba itu, Maria berkedip perlahan dan mulai menunjukkan senyum lembutnya yang biasa.

“Aah, maafkan aku. Aku terlalu asyik berpikir 'Jadi ini temannya Alya-chan ~'

Maria segera melepaskan tangannya, dan meletakkan tangannya di pipinya sambil memiringkan kepalanya meminta maaf. Seolah-olah ingin menenangkan diri, dia lalu bertepuk tangan lalu berbicara.

Baiklah, ayo kita pergi

Masachika mengedipkan matanya pada penggunaan bahasa Rusia yang mendadak. Tentu saja maknanya telah disampaikan kepadanya, tapi Ia tidak dapat menganggukkan kepalanya di sini karena Ia berpura-pura tidak mengerti bahasa Rusia kepada adik perempuannya, Alisa.

“Maaf, tapi apa yang kamu katakan tadi?”

Saat Masachika bertanya balik dengan wajah melongo, mata Maria melebar sesaat kemudian dia langsung tersenyum lagi.

“Maaf, aku cuma bilang 'ayo kita pergi'

“Aah, oke.”

“Baiklah Ketua, kami pergi dulu~.”

“Ya, aku mengandalkanmu.”

“Kalau begitu, permisi.”

“Aku juga mengandalkanmu, Kuze-kun.”

“Iya.”

Sambil membungkuk sedikit, mereka berdua meninggalkan ruang OSIS.

“Kita akan pergi berbelanja persediaan, kan? Meski aku belum sempat bertanya pada Yuki mengenai rinciannya.”

“Benar sekali~ ruang OSIS menggunakan banyak barang, tahu ~”

“Uhuh ... di SMP, OSIS biasanya memesan keperluan sekaligus untuk sesuatu seperti ini, tapi sepertinya di SMA kelihatannya berbeda, ya?.”

“Kami juga melakukan itu untuk barang habis pakai, oke ~? Tapi bagaimanapun juga itu adalah ruang OSIS yang kami gunakan. Bukannya kita ingin menambahkan sedikit warna kita sendiri? Kamu harus memilih sesuatu dengan mata kepalamu sendiri. Misalnya saja, teh. Kamu tidak bisa memilih yang bagus tanpa mencium aromanya.

“Ooh, jadi seperti itu…. Jika begitu masalahnya, aku merasa bimbang apa tidak masalah bagi orang luar seperti aku untuk semakin terlibat,”

“Kurasa begitu ... lalu, bukannya tidak ada masalah jika Kuze-kun juga ikut bergabung dengan OSIS?”

“Yah, aku tidak tertarik dengan itu.”

“Masa? Sayang sekali~ ”

Masachika tersenyum kecut padanya sambil mengangkat bahunya yang sepertinya benar-benar mengecewakan.

“Kalau begitu, kurasa aku akan melakukan yang terbaik sebagai pembawa belanjaan.”

“Ya, tolong lakukan, oke ~?”

Sebagai orang luar organisasi, kurasa aku akan melakukan yang terbaik menjadi pembawa bagasi ketimbang memberikan pendapat yang buruk ... itulah yang Masachika pikirkan, tapi pemikiran semacam itu ternyata sedikit  naif.

“Aromanya sangat harum ~. Untuk saat ini, aku akan menguji semua jenisnya—”

“Tidak, harusnya tidak boleh ada aroma begitu di ruang OSIS, ‘kan? Tolong lakukan hal semacam ini di kamarmu sendiri,”

“Ya ampun~ boneka kucing-kucing ini terlihat seperti Alya-chan! Ah, benar juga. Bagaimana kalau kita menyusun deretan boneka binatang yang mewakili semua anggota OSIS?”

“Tempat dreamland macam apa yang mau kamu buat! Mengesampingkan anggota gadis yang lain, pasti Ketua merasa tidak betah bila ada benda-benda seperti itu di ruang OSIS!”

“Ah, boneka singa berkacamata di sini adalah presiden~”

“Tidak, seperti yang kubilang…. Tung— , mereka sangat mirip!”

“Kalau yang ini——.”

“Tidak, mereka memang mirip, tapi tetap saja! Boneka binatang di ruang OSIS biasanya dilarang, ‘kan!”

“Eeeeh~”

“Tidak, akulah yang seharusnya bilang 'Eeeeh ~'”

Muu…. Aku mengerti. Tapi kucing-kucing ini lucu, jadi aku akan mebeli satu untuk diriku sendiri.”

“Aah, kamu tidak boleh menaruhnya di kwitansi yang sama! Kamu nanti akan dimarahi oleh Alya!”

Masachika punya firasat buruk saat Maria masuk ke toko mewah tanpa ragu-ragu pada satu titik tetapi itu lebih dari yang dia bayangkan. Jiwa bebas Maria terbang jauh melampaui imajinasi Masachika.

Maria mencari ke mana-mana, dan mencoba dengan serius membeli barang-barang yang jelas-jelas tidak sesuai untuk ruang OSIS. Selain menjadi pembawa belanjaan, Masachika melakukan yang terbaik untuk membuat segala sesuatunya tidak melebar kemana-mana.

(Tidak bagus, orang ini terlalu bebas. Apa dia selalu seperti ini? Jika itu masalahnya, pasti cukup menyebalkan bagi Alya, ya)

Entah bagaimana berhasil membeli item yang diperlukan, Masachika benar-benar kelelahan secara mental saat mereka menuju ke toko teh terakhir. Sambil memenuhi perannya sebagai pembawa belanjaan seperti yang sudah Ia nyatakan sebelumnya, Ia melihat ke arah Maria yang berjalan sambil memeluk boneka kucing di pelukannya.

Jangankan anak SMA, berjalan-jalan di pusat kota sambil memeluk boneka binatang tampaknya menjadi rintangan yang cukup berat bagi bocah SD, tapi anehnya, rasanya tidak terlalu aneh ketika Maria yang melakukannya.

(Uhuh, ya… rasanya seperti, 'Hei boneka kucing, gantian tempat sebentar dong')

Melihat kepala boneka kucing terjepit oleh bukit kembar membuatnya secara tidak sadar berpikir begitu…. Segera, Masachika menggigil kedinginan saat wajah Alisa yang menatap jijik seperti sampah muncul di benaknya.

(Apa boleh buat ‘kan .... Jika ada sesuatu yang begitu menakjubkan terjadi di depan matamu,  mana mungkin ada cowok yang takkan melihatnya. Karena itu salah satu  sifat menyedihkan para cowok)

Masachika meminta maaf kepada Alisa yang ada di dalam kepalanya, membuat alasan dalam dialek Kansai karena suatu alasan.

“Tempatnya di sini, Kuze-kun~”

“Ya! Maafkan aku!”

“…? apa ada yang salah?”

“Tidak, umm, ya. Bukan apa- apa….”

Melihat Masachika yang menundukkan kepalanya, Maria hanya membalas “Hmm ~?”, sambil memiringkan kepalanya dengan rasa penasaran dan pergi ke dalam toko.

“Umm, Masha-san. Seperti yang diharapkan, biar aku saja yang memegangnya untukmu.”

“Aah, makasih ~. Kalau begitu, jaga baik-baik Alya-nyan, ya ~? ”

“A-Alya-nyan….”

Masachika menerima boneka kucing dari Maria sementara wajahnya berkedut karena penamaan yang agak mengerikan.

(…. Tunggu, aku sudah memeganginya, tapi aku akan difoto!)

Jika melihat ada gadis SMA memegangi boneka, tanggapan orang-orang biasanya cuma memberikan senyum masam. Tapi beda lagi ceritanya jika ada cowok SMA yang memegang boneka, kamu pasti akan diperhatikan dengan seksama. Ini adalah kasus di mana tidak melakukan kontak mata itu penting. Tapi….

“Ya ampun ~ itu benar-benar cocok untukmu ~”

“Selera macam apa yang kamu miliki.”

Masachika penasaran, apa yang menarik hati Maria yang tersenyum begitu bahagia dan dari semua hal, mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk mengambil fotonya (mencoba untuk meninggalkan catatan).

“Katakan Cheese~”

“Nuh-uh, aku tak akan membiarkanmu, oke?”

“Eeeh ~ tidak ada salahnya ‘kan ~”

Masachika memblokir lensa kamera ponsel Maria dengan tas belanja di tangannya. Di luar titik ini, Masachika tidak lagi ragu-ragu untuk membalas sindiran Senpai-nya ini.

“Lihat, kamu mau mencari teh, ‘kan?”

“Aah, itu benar. Tenchou-san~ ”

Entah bagaimana berhasil menghindari difoto, Masachika berdiri di sudut toko dan mengawasi Maria.

Maria sepertinya pengunjung reguler di toko ini, dan dia mencoba aroma daun teh sambil membicarakan sesuatu dengan Tenchou, yang sepertinya adalah kenalannya.

“Kuze-kun, menurutmu mana yang bagus?”

“Yah, aku tidak tahu apa-apa mengenai teh. Lagipula, aku jarang meminum teh.”

Mungkin khawatir kalau Masachika bosan menunggunya, Maria meminta pendapatnya tetapi Masachika dengan sopan menolak.

(Jika itu Yuki, aku yakin dia bisa membahasnya dengan baik, terutama dalam situasi seperti ini)

Sebagai putri keluarga Suou, Yuki pasti memiliki pengetahuan yang baik tentang merek teh.

Saat Ia memikirkan hal ini, sepertinya dia akan diizinkan untuk mencicipi teh yang dia minati. Seorang karyawan wanita datang dari bagian belakang toko, membawa beberapa cangkir kertas yang diletakkan di atas nampan.

“Nnn ~ enak. Mumpung kita di sini, bagaimana kalau Kuze-kun ikut mencobanya juga?”

Usai menyicipi rasa dari salah satu cangkir kertas, Maria tersenyum lebar dan memberi isyarat kepada Masachika. Situasi ini menyentuh hati Masachika.

(Ini-ini .... Peristiwa ciuman tidak langsung!)

Suatu peristiwa di mana kamu dengan acuh tak acuh diberikan gelas atau botol minuman, yang isinya sudah dikonsumsi sebagian, oleh seorang gadis. Sebuah peristiwa yang menyebabkan banyak protagonis romcom tersipu malu, dan memberikan sedikit kebahagiaan sebagai ganti banyak rasa malu!

(Namun, aku berbeda)

Dalam acara semacam ini, Kamu akan kalah jika merasa malu; Kamu akan kalah jika kamu ke-GR-an; dan aku sepenuhnya menyadarinya. Ya, kamu harus cerdik di saat-saat seperti ini. Kamu harus melalui ini dengan gaya! (TN : GR = Gede Rasa)

“Baiklah kalau begitu….”

Dengan tekad seperti itu, Masachika meletakkan tas belanjaan yang dibawanya dan dengan langkah yang stylish (menurut standar Masachika), Ia berjalan mendekati Maria—-

“Ya, cobalah ini.”

“Terima kasih-ssu(TN: Tau karakter gobta dari anime ke isekai jadi slime? Bayangin aja cara bicara gobta yang setiap akhir kalimat ditambah kata-ssu XD)

Dan karyawan wanita itu menawarinya cangkir baru, dan Masachika menerimanya dengan senyuman. Rupanya, dari awal meang disiapkan untuk dua orang. Ini benar-benar toko yang penuh perhatian dan murah hati. Namun, pertimbangan semacam itu tidak terlalu disukai Masachika.

(Nuooooooooooo—– !! Ini .. bukan !! Aku seharusnya minum .. gelas yang itu !!)

Masachika menyesap teh dengan senyum terpampang sambil menderita di dalam batinnya.

“Gimana? Enak, ‘kan? ”

“Yessu, benar-benar enak-ssu

“Iya ‘kan~”

“Yessu, yessu

Masachika menggeliat aneh di dalam batinnya. Beginilah bila otakmu dipenuhi denga hal-hal otaku, yang tidak bisa membedakan antara kenyataan dan dua dimensi.

 

◇◇◇◇

 

“Ooh, kalian sudah kembali. Terima kasih atas kerja kerasmu… dan, kamu membawa sesuatu yang luar biasa di sana.”

Touya, yang sedang mengerjakan tugas dokumen di ruang OSIS, menunjukkan senyum masam saat melihat Maria memegangi boneka kucing.

“Imut, ‘kan?”

“Yah, imut sih tapi…. Apa kamu berniat akan menaruhnya di ruang OSIS? ”

“Eh~ boleh~?”

“Tidak, tolong jangan sampai melakukan itu.”

“Ketua, di mana aku harus meletakkan ini?”

Masachika bertanya sambil mengangkat tas belanjaannya. Touya bangkit dari mejanya lalu datang menghampiri untuk melihat isinya.

“Biar kulihat-lihat dulu…. Ya, sepertinya persediaan yang biasa. Kamu benar-benar sangat membantu, Kuze. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku mempercayakan semuanya pada kakak perempuan Kujou …. ”

“Ruangan OSIS akan berubah menjadi taman dreamland.”

“….Begitu rupanya. Ya, aku sangat senang. Terima kasih.”

Mungkin setelah menebak banyak hal dengan melihat Maria yang memegang boneka, Touya menepuk bahu Masachika dengan ekspresi lembut.

“Bagaimana dengan itu, Kuze. Kenapa kamu tidak ikut bergabung dengan OSIS?”

“Umm kalau masalah itu…. jika hanya membantu sesekali, aku tidak keberatan.”

“Kalau begitu maumu, bagaimana kalau kamu menjadi anggota di nama doang ? Aku takkan mengatakan apa-apa jika kamu tidak mau,”

“Aah, Kakak Kujou juga ikut mendukung, ya.”

“Umm kalau jadi anggota di namanya saja …. Aku tak berpikir kalau bukan seperti itu cara kerjanya. Maksudku, aku mengerti jika Yuki yang bertanya, tapi kenapa Ketua sangat ingin membuatku bergabung?”

Ketika Masachika bertanya dengan curiga, Touya mengelus dagunya dengan ekspresi seolah berkata, “Sebaliknya, menurutku inilah yang aneh.”

“Hmm…. Justru sebaliknya, kenapa Kuze tidak ingin bergabung dengan OSIS? Aku merasa kalau tidak mau melakukan pekerjaan yang melelahkan bukanlah satu-satunya alasanmu menolak ajakan bergabung iya, ‘kan?”

“… .Aku .. bukan seseorang yang layak menjadi anggota OSIS.”

Aku sama sekali tidak pantas …..memperoleh posisi itu saat aku tidak memiliki keinginan yang kuat untuk meraih posisi itu, atau kesiapan untuk memikul tanggung jawab yang menyertai posisi tersebut. Saat Masachika tersenyum getir dan ekspresinya mulai suram, Touya mengangkat alisnya, memiringkan kepalanya dengan ragu dengan “Hmm?”.

“Aku tidak berpikir kalau kamu itu bukan orang yang layak. Lagipula, bukannya kamu memiliki rekam jejak yang bagus sebagai wakil ketua di OSIS SMP?”

“Aku dapat mengatakan ini dengan yakin karena pernah mengalaminya. Lagipula dari awal, aku menjadi Wakil Ketua OSIS hanya karena Yuki memintaku. …. Dan bukan karena aku punya keinginan untuk mendapatkan posisi itu.”

“…. Hmm, dan memangnya ada yang salah dengan itu?”

“Eh?”

Masachika tanpa sadar mengangkat suaranya saat mendengar ucapan Touya yang terheran-heran. Touya kemudian menyeringai, dan berbicara dengan dadanya yang membengkak dengan bangga.

“Bahkan aku menjadi ketua OSIS demi bisa membuat gadis yang aku sukai mau melirikku,  tahu? Aku akan mengatakan itu lebih dari motif yang tidak murni daripada motifmu! Ha ha ha!”

“Eh? Ap-apa benar-benar itu alasannya?”

Masachika terkejut dengan pernyataan berani Touya seolah-olah tidak ada yang perlu merasa malu. Saat Masachika membuka lebar matanya karena terkejut, Touya mengoperasikan smartphone-nya dan menunjukkan satu foto padanya.

“Lihat ini.”

“….? Umm, apa ini adik laki-lakimu? ”

“Itu aku saat kelas 3 SMP dulu.”

“Eh !?”

Kalau secara blak-blakan, foto yang ditampilkan di sana adalah cowok yang sangat tidak menarik dan gemuk yang sama sekali tidak mirip seperti Touya saat ini.

Rambutnya tidak rapi; kacamatanya ketinggalan zaman; dan wajahnya dipenuhi jerawat.

Ditambah pula, caranya meringkuk tubuhnya yang besar secara horizontal dan vertikal seolah-olah Ia tidak yakin pada dirinya sendiri, kesan rendah diri yang kuat, dan bahkan tidak ada sedikitpun kemiripan dengan Touya yang sekarang.

“Seperti yang sudah kamu lihat sendiri, dua tahun lalu aku adalah tipikal cowok suram. Nilaiku jelek dan aku juga tidak pandai berolahraga. Sejujurnya, aku tidak terlalu suka pergi ke sekolah tapi…. terlepas dari kenyataan kalau aku tidak layak untuk itu, aku jatuh cinta dengan salah satu dari dua gadis tercantik di angkatanku. ”

“Dan dia adalah….”

“Ya, Wakil Ketua OSIS sekarang. Sarashina Chisaki.”

Fakta bahwa Ketua dan Wakil Ketua OSIS berpacaran sudah menjadi buah bibir di sekolah. Sampai-sampai Masachika, yang tidak tertarik dengan ghibah seperti itu, bisa ikuta mengetahuinya.

Namun, hingga saat ini Masachika mengira kalau dua elit dari kasta teratas sekolah berpacaran karena pilihan. Ia tidak menyangka kalau Ketua OSIS berkarisma itu dulunya berasal dari kasta terendah sekolah. (TN : Tuh, bagi yang sedang mengejar cewek idaman kalian, kalian perlu ngerubah diri demi bisa menjadi cowok layak dan baru deh dilirik sama cewek pujaan hati elu XD)

“Jadi, aku berusaha mati-matian untuk menjadi cowok yang layak menjadi kekasihnya. Bahkan aku memenangkan posisi ini sebagai Ketua OSIS adalah bagian dari itu. Bagaimana menurutmu? Niat yang tidak murni, ‘kan?”

“Ha ha ha…. Ya, kurasa begitu….”

Adapun Masachika, Ia hanya bisa tertawa setelah diberitahu sampai sejauh ini olehnya dengan begitu percaya diri. Saat Masachika hanya tersenyum kecut tidak tahu harus berkata apa, Touya lanjut berbicara.

“Itu sebabnya, ya ... Tidak peduli motif apa yang menjadi alasanmu. Bahkan kakak perempuan Kujou di sana juga bergabung dengan OSIS karena dia diundang oleh Chisaki.”

“Benarkah?”

“Itu benar, loh? ~ Yah, sebagian lagi karena aku memang tertarik,”

Maria menegaskan itu dengan senyum lembut di wajahnya. Kemudian wajah Maria menjadi sedikit serius, dan berbicara seolah menegurnya dengan lembut.

“Dengar .. Aku pikir tidak masalah motifnya,  selama kamu meninggalkan hasil yang bagus maka tidak masalah. Baik untuk cinta atau persahabatan, tidak masalah selama kamu melakukan sesuatu untuk kepentingan siswa sebagai bagian dari OSIS.”

“Apa… begitu?”

“Tentu saja. Jika tidak, bagaimanapun, politisi harus menjadi orang suci dulu untuk menjadi politisi.”

“Ahaha, aku rasa itu ada benarnya juga.”

Saat Masachika tertawa sinis dan agak lucu, Touya juga ikut mengangguk, seolah-olah menegaskan kata-kata Maria.

“Itu yang aku maksud. Tidak peduli motifnya, bersama dengan Suou, kamu sudah meninggalkan hasil yang luar biasa sebagai wakil ketua OSIS. Tidak ada yang perlu merasa malu-malu segala, atau merasa bersalah.”

Kata-kata tersebut tanpa diduga bergema kuat di hati Masachika.

Ia .. entah kenapa selalu merasa bersalah. Tidak peduli seberapa banyak pencapaian yang Ia peroleh, "Ada orang lain yang lebih pantas untuk posisi ini daripada aku", pemikiran seperti itu akan selalu muncul.

Rasa bersalah karena telah merebut posisi dari "seseorang" itu selalu membayangi hati Masachika.

Tidak peduli seberapa banyak lingkungan sekitarmemujinya, jika orangnya sendiri tidak dapat mengenalinya, itu sama saja tidak ada artinya. Tidak peduli kemuliaan apa yang dia terima, tanpa disertai harga diri itu hanya akan menjadi kemuliaan kosong. Tapi sekarang, melalui kata-kata Touya dan Mariya, Masachika bisa mengenali sedikit dari dirinya yang dulu.

“Jadi kamu bergabung dengan OSIS supaya seseorang bisa menjadi Ketua OSIS? Itu lebih dari cukup. Aku, serta Chisaki dan kakak perempuan Kujou, kami menyambutmu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengeluh.”

Masachika merasa ingin menitikkan air mata ketika Touya mengatakan itu dengan bangga sembari menunjukkan senyum tak kenal takut. Ia tidak tahu apa itu karena Ia senang merasa dimaafkan untuk masa lalunya, atau karena kekaguman pada Touya yang begitu mempesona.

“… .Aku akan, memikirkannya dulu.”

“Ya, pikirkan baik-baik. Sudah jadi hak istimewa para anak muda untuk mengkhawatirkan hal-hal semacam itu.”

“Bukannya Ketua masih anak muda juga ~. Sejujurnya, kamu tidak terlihat seperti siswa SMA,”

“Hahaha, memang! Bahkan beberapa waktu yang lalu, aku dikira sebagai mahasiswa pascasarjana!”

Masachika juga sedikit tersenyum pada kedua Senpai baik hati yang tersenyum cerah.

(Supaya seseorang bisa menjadi Ketua OSIS, ya….)

Ia merenungkan kata-kata Touya di benaknya, dan terkejut oleh orang yang secara alami muncul di pikirannya segera setelah itu. Itu karena .. orang yang muncul bukan Yuki….

“…. Ngomong-ngomong, Alya ada di mana hari ini?”

Demi mencoba mengalihkan perhatiannya, Masaschika bertanya sambil melihat sekeliling ruangan. Sebuah pertanyaan yang terlalu mendadak, tapi Touya menjawabnya tanpa terlalu mempedulikannya.

“Aah, adik perempuan Kujou pergi untuk menengahi perselisihan antar klub olahraga…. Sekarang setelah kamu mengungkitnya, dia memang agak lama juga.”

“Perselisihan? Itu….”

“Jangan khawatir. Ini sebenarnya bukan perselisihan. Sebenarnya—”

Menurut apa yang Touya katakan, sepertinya terjadi perebutan tentang hak menggunakan lapangan sekolah antara klub sepak bola dan klub bisbol.

Baik klub sepak bola dan bisbol memanfaatkan lapangan sekolah sebagai lokasi latihan mereka.

Dan tampaknya sekarang adalah waktu di mana klub bisbol biasanya menggunakan lapangan sekolah sedikit lebih banyak dari biasanya untuk pertandingan tahunan mereka di luar sekolah.

Namun, klub sepak bola tahun ini memprotes masalah ini. Dalihnya adalah, “Tim sepak bola juga akan mengadakan pertandingan di luar sekolah, jadi kami ingin memiliki hak untuk menggunakan lapangan sekolah”.

“Klub bisbol berpendapat kalau kegiatan ini adalah sesuatu yang mereka lakukan setiap tahun, dan klub sepak bola memprotes bahwa hanya karena itu kegiatan rutin setiap tahun, rasanya aneh kalau klub bisbol dengan prestasi yang lebih sedikit harus diberi prioritas. Sebetulnya, prestasi klub sepak bola semakin bagus dalam beberapa tahun terakhir, sementara prestasi klub bisbol telah menurun dalam beberapa tahun terakhir dengan jumlah anggotanya yang semakin menurun, Jadi…. Kedua belah pihak memiliki argumen masing-masing, jadi agak sulit untuk berkompromi .”

“Lalu, Alya yang menjadi mediatornya?”

“Ya. Biasanya, Chisaki yang bertanggung jawab atas perselisihan antar klub semacam ini, tapi hari ini dia tidak bisa melakukannya karena punya urusan di klub kendo. Kupikir itu bisa menjadi sebuah pengalaman, jadi aku mempercayakannya pada adik perempuan Kujou tapi…. Sepertinya dia mengalami kesulitan juga, ya.”

Setelah melirik jam, Touya melihat keluar jendela menuju gedung klub.

“… .Apa dia akan baik-baik saja?”

“Hmm? Yah, mungkin situasinya berubah sedikit memanas, tapi menurutku itu tidak akan berubah menjadi pertunjukkan adu jotos.”

Touya mengatakan itu dan mengangkat bahunya. Maria mengatur persediaan yang dibeli, dan tidak menunjukkan perhatian khusus.

Namun, sosok Alisa yang mengalami situasi sulit dengan karyawan yang mabuk beberapa hari lalu terlintas di benak Masachika. Perlahan, perasaan tidak enak menyebar di dalam dadanya.

“.... Baiklah, aku mau permisi dulu.”

“Ya, hati-hati.”

“Terima kasih untuk hari ini, oke. Aku akan mengucapkan terima kasihku lain kali.”

“Iya.”

Mengucapkan selamat tinggal kepada para Senpai-nya sambil merasa gelisah, Masachika kemudian meninggalkan ruangan OSIS.

“…. Cuma berjaga-jaga kalau situasinya tidak berubah menjadi perkelahian.”

Masachika menggumamkan itu. Ia bukan menuju ke gerbang sekolahan, melainkan ke gedung klub.

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Alisa)

“Seperti yang sudah aku bilang! Meski kalian mengatakan kalau itu kegiatan rutin, itu cuma pertandingan persahabatan, ‘kan? Klub kami akan mengadakan pertandingan turnamen penting di sini!”

“Ini juga penting karena pertandingan persahabatan! Kami juga punya hubungan dekat dengan sekolah lain, dan pertama-tama kamulah yang terus bersikap tidak masuk akal!”

Ruang klub klub sepak bola saat ini berada di tengah situasi yang memanas. Selusin murid dari kelas 2 dan 3 dari klub sepak bola dan bisbol berkumpul, dan saling menatap tajam dengan kedua belah pihak tidak mau mengalah.

“Kumohon tenanglah dulu. Tidak ada gunanya meneriaki satu sama lain, bukan?”

Alisa, yang berdiri di antara mereka, sudah mencoba menengahi situasi untuk kesekian kalinya tetapi masih belum berhasil.

Untuk berjaga-jaga, Alisa sudah menyiapkan tempat latihan lagi di pinggir sungai dekat sekolah sebagai solusi. Namun, kali ini terjadi perselisihan tentang siapa yang akan menggunakan lapangan sekolah dan siapa yang akan menggunakan lapangan tepi sungai.

Masih belum mencapai kesepakatan, diskusi antara kedua belah pihak sudah berubah menjadi perselisihan dengan kata-kata kotor.

Alisa mencoba memikirkan sesuatu untuk membuat merek berkompromi, tapi kedua belah pihak memanas dan menolak untuk mengalah sama sekali.

“Sejak awal, klub sepak bola punya anggota yang lebih banyak! Mempertimbangkan waktu untuk bepergian, klubmu yang harus pindah! ”

“Seperti yang kubilang, masukkan saja ke dalam rencanamu! Mencoba mendapatkan tempat untuk berlatih dengan alasan itu hanyalah penindasan mayoritas!”

“Tolong, tolong tenang dulu!”

Sambil mati-matian berusaha meninggikan suaranya untuk menenangkan kedua belah pihak, hati Alisa sudah di ambang kehancuran.

Bahkan bagi Alisa, dikelilingi oleh cowok yang lebih tua dan kekar terasa sedikit menakutkan.

Selain itu, setiap saran yang dia buat ditolak mentah-mentah dan terus menerus mendapat perkataan kasar dari kedua belah pihak, seperti yang diharapkan, bahkan Alisa akan kewalahan secara mental.

Dia berhasil bertahan sejauh ini hanya karena rasa tanggung jawab atas pekerjaan yang dia terima dan semangat kompetitifnya, tapi meski begitu, dia sudah hampir tidak sanggup lagi.

(Tak ada… yang mau mendengarkan apa yang aku katakan. Seperti yang diharapkan… Aku….)

Tidak bisa menggerakkan hati orang.

Itu adalah sesuatu yang samar-samar dia sadari dari dulu.

"Tidak ada yang bisa mengimbangi levelku", memandang rendah pada orang lain seperti itu, dia menjauh dari orang lain, dan menolak untuk mengerti atau memahami orang lain.

Inilah harga yang dibayar atas sikap angkuhnya.

Adakah orang di dunia ini yang mau mendengarkan perkataan manusia seperti itu?

Bagaimana mungkin hati orang bisa tergerak oleh seseorang yang hanya bisa memberikan argumen kritis, tanpa berusaha memahami perasaan orang lain.

(Aku …….sendirian)

Realitas semacam itu, bak racun dingin, menembus jantung Alisa yang berderit-derit dan menyiksanya.

Aku tahu. Aku sendiri yang memilih seperti ini. Menganggap semua orang di sekitarku hanya sebagai saingan, menjalani hidupku seolah-olah tak akan kalah dari siapa pun.

Semua itu pilihanku sendiri, jadi mau bagaimana lagi.

(Itu benar, aku tahu. Aku .. me .. ngert .. hal itu)

Tapi….tapi…..!

Tolong….

Gumaman kecil dan lemah dalam bahasa Rusia bisa terdengar, namun tidak bisa dimengerti oleh siapa pun di tempat itu.

Tidak mampu membuang harga dirinya dan melarikan diri, atau berteriak; bahkan tidak bisa dengan jujur ​​meminta bantuan orang lain.

Di sudut pikirannya, dirinya yang tenang dengan dingin berkata, "Itu sebabnya kamu sendirian". Saat dia menertawakan dirinya sendiri bahwa ini memang masalahnya, mulut Alisa masih berhasil mengeluarkan suara dari belakang tenggorokannya yang gemetar.

Seseorang, tolong bantu aku….

Suaranya terlalu kecil dan menyedihkan, tapi cuma gumaman kecil itu yang bisa dilakukan Alisa, pertanda SOS yang memilukan hati.

Tanpa niat untuk menyampaikannya kepada siapa pun, kata-kata yang digumamkan oleh gadis terisolasi dan menyendiri itu melayang ke dalam ruangan dengan sia-sia, tenggelam oleh raungan marah…. Atau seharusnya begitu.

Kretek kretek!

Suara pintu geser dibuka bergema di dalam ruangan, menarik semua tatapan semua orang di ruangan itu sekaligus.

Ada seorang murid cowok muncul dengan penampilan biasa.

Dilihat dari warna dasinya, Ia adalah anak kelas 1. Tubuhnya tidak terlalu tegap, dan di antara cowok di tempat ini, tubuhnya paling ramping.

Namun, saat Ia menatap ke sekeliling ruangan, semua orang di ruangan itu menelan ludah. Untuk sesaat, mereka tertelan oleh aura yang dipancarkan oleh cowok tersebut.

Membungkam senior yang penuh kemarahan sampai beberapa saat yang lalu dengan tatapannya saja, cowok itu melangkah ke dalam ruangan dengan percaya diri dan…. tiba-tiba, Ia memperkenalkan diri dengan senyum angkuh di wajahnya.

“Halo ~ Aku datang sebagai tenaga bantuan dari OSIS. Aku Kuze Masachika dari urusan umum OSIS.”

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Orang Ketiga)

Setelah tiba di depan ruang klub sepak bola, Masaschika pun mendengarkan situasi perjuangan Alisa sendirian.

(Ini .. sudah tidak mungkin. Alya)

Masachika menilai dengan tenang sambil mendengarkan suara satu orang, Alisa, yang mati-matian berusaha agar kata-katanya didengar.

Kedua belah pihak sudah tidak bisa berpikir jernih karena suasana yang sudah memanas. Dalam situasi ini, pembahasan harus dimulai lagi di kemudian hari setelah kedua belah pihak sudah merasa tenang.

Jika itu Alisa biasa yang pintar, dia seharusnya tahu kalau itu adalah solusi terbaik untuk situasi tersebut.

Mungkin, dia tidak sabar dengan kenyataan bahwa dia telah dipercayakan pekerjaan oleh Ketua, dan tidak memahami momen untuk berhenti.

(… .Nah, aku merasa kasihan, tapi ini juga pembelajaran baik untukmu)

Kalau terus begini, tak akan butuh waktu lama sebelum diskusi berakhir  bahkan tanpa perlu campur tangan Alisa.

Dan dari situ, mereka bisa melakukan diskusi lagi di waktu yang berbeda.

Sebagai orang luar, aku seharusnya tidak mengganggu. Jika aku mengganggu, itu akan melukai harga diri Alisa.

“Berusahalah yang terbaik, Alya.”

Masachika hanya mengirimkan sedikit kata-kata penyemangat, dan dari tempat itu—

Tolong….

Masachika berbalik, dan suara SOS kecil mencapai punggungnya. Ia menghentikan kakinya dan diam di tempat.

Suara kecil yang menyayat hati.

Suara yang meminta bantuan datang dari Alisa, suara yang belum pernah Masachika dengar bahkan sampai sekarang.

Masachika menggaruk kepalanya dengan keras karena suara yang membuat dadanya menegang tanpa sadar.

(Aah, sial! Kenapa kamu mengatakan itu!)

Aku harusnya meninggalkan tempat ini sedikit lebih awal. Jika begitu, aku tidak perlu mendengar suaranya seperti ini.

Sungguh SOS yang kikuk. Kamu bisa saja dengan jujur ​​meminta bantuan Ketua, atau bahkan kakak perempuanmu. Karena jika kamu tidak dapat melakukannya, kamu akan selalu sendiri tidak peduli berapa lama waktu berlalu. Dan karena itu….

Seseorang, tolong bantu aku….

Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.

Японял (Ya, aku mengerti)

Gumam Masachika dengan tenang dan menyisir rambutnya, Ia sekali lagi membalikkan badannya.

 

◇◇◇◇

 

Di antara banyak orang yang dibuat bingung oleh pendatang baru yang muncul tiba-tiba, beberapa siswa, termasuk ketua klub bisbol, “Kuze ....”, berseru kaget. Mereka semua adalah orang-orang yang mengenal Masachika saat Ia masih menjabat Wakil Ketua OSIS SMP.

“Kuze .. kun…”

Alisa memanggil namanya dengan suara yang penuh keterkejutan dan kebingungan, tapi sepertinya bergantung padanya. Masachika menepuk punggung Alisa dan melangkah maju ke depan untuk menutupi Alisa dengan punggungnya seolah-olah berusaha melindunginya.

“Aku sudah mendengar garis besar penjelasannya dari Ketua OSIS, tapi apa benar perselisihan ini dipicu mengenai siapa yang harus menggunakan lapangan sekolah dan area tepi sungai sebagai tempat latihan? ”

“Ya, itu benar.”

“Terima kasih banyak.”

Yang menjawab pertanyaan Masaschika adalah ketua klub bisbol, yang entah kenapa masih tetap diam sampai sekarang.

Sementara anggota klub lainnya melontarkan ejekan, Ia tetap diam dan menatap Masachika dengan mata setengah berharap dan setengah mempercayainya.

Seolah menanggapi tatapannya, Masachika melihat sekeliling sekali lagi dan menatap semua wajah dari kedua sisi sebelum berbicara.

“Lalu, bagaimana menurut kalian tentang hal seperti ini. Mempertimbangkan jumlah orang yang perlu beregrak, klub bisbol harus pergi ke daerah tepi sungai. Sebagai gantinya, klub sepak bola yang punya banyak anggota harus mengirimkan personelnya untuk membantu.”

Mendengar usulan Masachika, anggota klub sepak bola menjadi bingung dan anggota di klub bisbol bersikap antagonis.

“Apa-apaan itu! Pada akhirnya kitalah yang berakhir kotor-kotoran!”

“Kenapa harus kita yang mendapat lapangan di daerah tepi sungai!”

Rentetan suara protes mulai menyerang Masachika. Namun, semuanya langsung mereda hanya dengan satu suara yang berasal dari klub sepak bola.

“Kalau begitu, kami, para manajer, akan membantu klub bisbol.”

Orang yang angkat bicara adalah seorang siswi yang merupakan salah satu manajer klub sepak bola

Dia adalah ketua manajer klub sepak bola, yang cukup populer di kalangan cowok karena wajahnya yang cantik dan dukungannya yang setia kepada para pemain.

Saat mendengar uslan tak terduga, “Jika dia akan datang maka….”, Suasana hati semacam itu mulai menyebar di antara para anggota klub bisbol tapi kali ini, suara enggan datang dari sisi klub sepak bola.

Namun, keengganan mereka langsung dibungkam oleh komentar manajer itu, “Jika kamu bersedia melepaskan hak untuk menggunakan lapangan sekolah, maka ini wajar saja.”

“.... Adapun di pihak kami, kami tak keberatan dengan kondisi itu tapi bagaimana dengan sisi kalian?”

Merasakan suasana hati para anggota klub, ketua klub bisbol bertanya dan ketua tim sepak bola juga mengangguk setuju dengan kerutan halus di wajahnya.

“Jadi, itulah yang akan kami lakukan. Silakan datang ke OSIS besok untuk secara resmi mengisi formulirnya.”

Masachika menyimpulkan seperti itu, dan pembicaraan antara kedua belah pihak secara tak terduga mampu diselesaikan dengan mudah.

 

◇◇◇◇

 

Setelah diskusi selesai, Masachika dan Alisa berjalan menysusri lorong gedung klub dan menuju ke gedung sekolah utama. Keduanya berjalan dengan tenang tanpa adanya percakapan  maupun bertukar pandang.

“… .Aah ~, maaf soal itu.”

Lalu akhirnya Masachika angkat bicara, karena tidak mampu menahan suasana yang hening. Alisa kemudian berbalik ke arah Masachika dengan ekspresi bingung.

“Aku membicarakan diriku yang ikut campur dan mengalihkan pembicaraan secara sewenang-wenang. Aku hanya membuatmu kehilangan muka, ‘kan?”

“….Tidak juga.”

Menanggapi dengan singkat, Alisa sekali lagi menghadap ke depan. Namun, segera saat masih menghadap ke depan, “Umm”, dia angkat bicara.

“Kenapa kamu .. membuat usulan semacam itu?”

“Hm?”

“Kalau dipikir-pikir secara normal, mana mungkin klub bisbol mau menerima usulan semacam itu. Dari sudut pandangku, sepertinya kamu sudah tahu kalau Senpai itu akan datang untuk menawarkan bantuan.”

“Hee…. Kamu melakukannya dengan baik saat menyadarinya.”

“Tentu saja aku akan menyadarinya. Kamu terus menatap Senpai itu saat klub bisbol melancarkan protes, bukan?”

Sambil merasa terkesan karena diawasi dengan penuh perhatian, Masachika membeberkan sebuah rahasia dengan nada basa-basi.

“Ini rahasia, oke?”

“? Oke.”

“Manajer itu ... sebenarnya, berpacaran dengan ketua klub bisbol.”

“Eh !?”

Mata Alisa membelalak dengan megah dan menatap Masachika saat menemukan informasi tak terduga.

“Selama waktu diskusi, ketua klub bisbol terus-terusan diam saja, ‘kan? Ia tidak bisa mengatakan apa-apa karena pacarnya ada di sisi lain. Ini sedikit mencampurkan urusan publik dan pribadi, tapi kurasa mau bagaimana lag. ”

“Jadi begitu .. rupanya.”

“Di sisi lain, si Manajer merasa canggung karena dia sadar bahwa pihaknya yang memaksakan masalah tersebut. Itulah mengapa aku tahu jika aku membuat saran seperti itu di sana, dia langsung ikut mendukung usulanku. ”

“….Begitu ya.”

“Klub bisbol senang ada gadis-gadis cantik yang membantu mereka dalam sesi latihan. Klub sepak bola dengan senang hati menggunaan lapangan sekolah untuk mereka sendiri. Dan dua orang yang berpacaran itu ikutan senang bisa mendapatkan acara kencan yang melampaui batas antar klub. Ya, itulah yang disebut sekali dayung, dua atau tiga pulau terlampaui! ”

Bukannya aku tidak merasa kalau anggota klub bisbol biasa yang tidak tahu apa-apa cuma mendapat getahnya doang , dan Masachika menambahkan sambil tersenyum. Alisa juga sedikit tersenyum menanggapi ucapan Masachika.

“….Tunggu—”

Tapi kemudian, saat mereka melihat cowok berdiri di ujung koridor gedung sekolah utama, senyuman Masachika berubah sedikit getir.

“Hei, apa diskusinya berjalan lancar?”

“Ketua….”

Cowok yang menunggu mereka adalah Touya. Ia sepertinya tidak meragukan keberadaan Masachika bersama Alisa, dan  tersenyum seolah-olah sudah mengetahui segalanya.

“.... Klub sepak bola akan menggunakan lapangan sekolah dan klub bisbol akan menggunakan lapangan yang di tepi sungai. Tapi sebagai gantinya, selama waktu itu, para manajer klub sepak bola akan memberikan bantuan mereka dalam pelatihan klub bisbol, begitulah diskusi mencapai kesepakatan …. Itu semua berkat Kuze-kun.”

“Begitu ya,  terima kasih atas kerja kerasmu, adik perempuan Kujou.”

Touya menunjukkan apresiasinya tanpa mengatakan apapun yang tidak perlu pada Alisa yang melaporkan kebenaran dalam nada yang sebenarnya. Melihat Touya seperti itu, yang paling bisa dilakukan Masachika hanyalah menatapnya dengan tatapan mencela.

“Apa semuanya .. berjalan sesuai rencanamu?”

“Hmm? Bukannya aku punya alasan seperti itu.”

“Pada saat kamu tidak mengatakan, 'Apa yang kamu bicarakan?', Tampaknya Ketua merasa bersalah dalam hal ini sampai batas tertentu.”

“Ups… Kamu menebak dengan tepat.”

Ketika Touya dengan jujur ​​mengangkat kedua tangannya, Masachika menghela nafas seolah energinya telah tersedot keluar darinya.

“Jadi gimana? Apa kamu sudah memutuskannya? ”

“….”

Semuanya sudah terlihat jelas, pikir Masachika dalam hati, sementara kali ini Ia dengan jujur ​​mengibarkan bendera putih.

“Ya, baik…. Kuze Masachika yang tidak layak ini, ingin bergabung dengan OSIS sebagai anggota terbarunya .”

“Ya, senang bisa menerima anggota seperti dirimu.”

Touya menunjukkan senyum, senyum jantan dan Masaschika tersenyum pahit sepertinya ingin mengatakan, aku bukan tandingannya. Kedua orang dengan senyum kontras di wajah mereka berjabat tangan dengan kuat.

Alisa sedang menonton adegan itu dari jarak satu langkah dengan ekspresi yang agak rumit di wajahnya.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>

close

3 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. Bukannya pacarnya Maria itu ada di luar negeri ya? Dan Maria katanya setiap tahun bakal ke luar negeri buat ketemu pacarnya. Jadi g mungkin dong kalau pacarnya Maria ataupun orang yang di liontin Maria itu si masachika?

    Dan menurut gua Maria g kaget liat marga masachika, tapi dia mikirin tentang sesuatu seperti "oh ini toh cowo yang di suka adek gua?" Entahlah wkwk

    BalasHapus
  2. Ingat, itu cuman rumor/gosip yg beredar, bener atau enggaknya masih belum tau

    BalasHapus
  3. Eh cuma gosip? Hmmm interesting

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama