Our Dating Story Vol.1 Prolog + Chapter 1

Prolog

 

Shirakawa Luna, gadis tercantik nomor satu di sekolah.

Keberadaan Shirakawa-san sudah terkenal sejak kelas 1, dan bahkan cowok tipe suram seperti aku saja sudah mendengar desas-desus mengenai dirinya yang menjadi “gadis paling cantik nomor satu seangkatan”, dan aku sudah menyadarinya sedari awal.

"Nomor satu seangkatan" hanyalah istilah yang digunakan semua orang karena tidak ada yang tahu seperti apa rupa semua murid cewek di sekolah, tapi aku pikir ada kemungkinan besar kalau dia beneran “gadis tercantik nomor satu seangkatan”.

Shirakawa-san juga memiliki rumor yang membuat hati para cowok berdebar kencang. Desas-desus kalau dia adalah “Cewek lonte yang menyukai hal-hal ecchi dan sering berganti pacar karena tidak pernah puas hanya dengan satu cowok”, atau semacamnya.

Sepertinya dia cuma pacaran dengan cowok paling banter tiga bulan lamanya, dan selera orang yang dia kencani bervariasi dari yang lebih tua sampai dengan yang sebaya, dan dari atletik hingga yang berbudaya.

“Kalau begitu, aku mungkin punya kesempatan”, banyak cowok bersemangat yang berpikiran begitu. Ketika mereka mendengar desas-desus kalau Shirakawa-san sedang jomblo, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir kalau lucu melihat para cowok mengerumuninya seperti hyena meski mereka tidak begitu tampan.

Ya, aku tahu derajatku sendiri dan tidak pernah berharap bisa berpacaran dengan Shirakawa-san. Sesekali menatapnya dari jauh saja sudah cukup bagiku.

Bagiku, keberadaan Shirakawa-san mirip seperti matahari.

Dia begitu menyilaukan sehingga aku tidak bisa melihatnya secara langsung. Jika cowok suram seperti aku terlalu dekat dengannya, aku mungkin akan terbakar menjadi abu tanpa sempat bisa berteriak.

Semakin terang matahari bersinar, semakin gelap bayangannya. Semakin cantik dan menyilaukan Shirakawa-san terlihat, membuatku semakin menyadari betapa suramnya diriku. Aku tidak pernah berpikir untuk bisa berbicara dengannya.

Bertingkahlah seperti orang suram jika kamu adalah orang yang suram. Simpan saja kekagumanmu terhadap Shirakawa-san di dalam hatimu sendiri.

Itulah cara terbaik untuk menjalani kehidupan sekolah yang damai.

 

Chapter 1

 

Begitu naik ke kelas 2 SMA, hal pertama yang kupikirkan ialah, “Aku beruntung bisa sekelas dengan Shirakawa-san”.

Shirakawa-san adalah gadis yang sangat cantik. Kecantikannya tidak kalah dengan selebriti remaja yang ada di TV, tapi menurutku, dia jauh lebih cantik.

Mata yang sangat besar dan bulu mata yang panjang. Hidung kecil dan batang hidung yang mancung. Bibirnya yang indah dan mulut yang tersenyum rupawan. Semua komponen itu diatur dengan sangat sempurna di wajah mungilnya.

Tubuhnya juga luar biasa dan ketika kamu melihatnya berjalan di kejauhan, dia akan terlihat seperti model. Meski aku mengatakan itu, dia tidak selangsing model asli. Pahanya yang memanjang dari rok pendeknya memiliki jumlah daging yang pas dan siluet payudaranya yang melimpah memantul-mantul dari dua atau tiga kancing yang selalu dibiarkan terbuka di blusnya. Itulah yang terbaik. Bukannya aku menyukai gadis tipe gyaru, tapi sungguh misterius bahwa ketika mengenai dirinya, rambut panjang bergelombang lembut yang berwarna cerah terlihat seperti meningkatkan keseksiannya.

Andai saja aku bisa berpacaran dengan Shirakawa-san.

Jika saja aku bisa berkencan dengan Shirakawa-san.

Aku pikir ada banyak sekali cowok di sekolah yang berimajinasi seperti itu.

Demi mengubah mimpi itu menjadi kenyataan, ada banyak cowok yang mulai berkeliaran di sekitarnya saat mereka beruntung ditempatkan di kelas yang sama dengannya.

Namun, aku adalah cowok suram dan membosankan. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak sedap dipandang ketika aku tidak akan dianggap serius.

Tidak peduli seberapa sering kita berada di ruang yang sama, ada jurang pemisah antara Shirakawa-san dan aku. Ini jarak sosial yang alami.

Jarak ini tak akan pernah berubah.

Dengan pemikiran begitu, aku hanya bisa melihat sosok cantiknya dari jauh.

Namun, ada suatu peristiwa yang terjadi begitu tiba-tiba.

Pada hari tertentu, setelah beberapa hari berlalu sejak aku sekelas dengan Shirakawa-san. Di jam wali kelas sebelum pulang, Shirakawa-san menyerahkan kertas lembaran kepada guru. Jika tidak salah, cuma murid yang lupa menyerahkan formulir balasan terkait pemberitahuan rapat orang tua-guru yang seharusnya kemarin, yang dipanggil oleh guru untuk meninggalkan tempat duduknya dan maju ke depan.

Namaku Kashima Ryuuto, dan karena penempatannya berdasarkan nomor absen siswa, mejaku kebetulan ditempatkan di barisan depan dekat meja guru. Peristiwa itu terjadi ketika aku entah bagaimana mengikuti sosok Shirakawa-san dengan tatapanku, yang tiba-tiba muncul di depanku dari kursi di belakang kelas sembari membawa lembaran prin-out di tangannya.

“Shirakawa-san, kamu belum menuliskan namamu di sini.”

Guru yang menerima cetakan dari Shirakawa-san berkata demikian, dan mengembalikannya kembali.

“Oh, itu benar.”

Shirakawa-san melihat print-out yang dia terima lalu berbalik, mengibarkan rok pendeknya.

Lalu…. Dia membuka mulutnya ke arahku, yang tidak bisa berpaling karena serangan mendadak itu.

“Hei, boleh pinjam pensilmu sebentar enggak?”

Kupikir jantungku bakalan copot karena tak bisa menahan kekagetanku.

“Uah? Ooh…. ”

Aku entah bagaimana berhasil menjawab segitu dan mengeluarkan pensil dari kotak pensilku, lalu menyerahkannya. Aku memang membalas dengan suara aneh tapi entah bagaimana, aku nyaris bisa menahan tanganku dari gemetaran.


Shirakawa-san dengan cepat mengambilnya dan membungkuk ke depan arahku.

“….!?”

Yang lebih mengejutkan lagi, dia mulai menuliskan namanya di mejaku.

Aku sangat gugup sampai-sampai mulai berkeringat dingin sambil merasa senang karena bisa melihat Shirakawa-san dari jarak dekat.

Melihat Shirakawa-san dari dekat, bulu mata lentiknya yang tertunduk terlihat mempesona. Rasanya menjengkelkan karena aku ingin melihat belahan dadanya yang membungkuk tetapi bajunya menghalangi sudut pandanganku.

Meski begitu, dia adalah orang yang ceria. Terlalu ceria. Jika itu aku, jika mejaku berjarak 100 meter di belakang, aku akan pergi jauh-jauh dan menulis nama di mejaku sendiri, tetapi sebaliknya, melihat efisiensi itu penting, dia meminjam pensil tanpa ragu…. dari teman sekelas lawan jenis yang tidak pernah dia ajak bicara sekalipun, dan mungkin yang namanya bahkan tidak dia ketahui…. Mentalitas semacam itu, kurasa aku takkan bisa memahaminya tidak peduli berapa kali aku terlahir kembali.

Mungkin itulah yang aku rasakan saat melihat Shirakawa-san. Meski dia adalah orang terpilih yang selalu dikelilingi oleh banyak teman yang berwajah tampan dan cantik, dia tidak pernah ragu untuk berbicara dengan siswa yang tergabung dalam kelompok madesu jika ada kesempatan. Aku sudah sering melihat pemandangan seperti itu beberapa kali saat aku masih di kelas 1.

Apa dia bisa melakukan itu karena mempunyai sifat yang ceria dan tulus? Mungkin saja begitu, karena dia memiliki popularitas absolut. Dia bahkan tidak perlu sibuk tampil populer dengan menghindari kontak dengan orang yang suram, dan memikirkan bagaimana orang lain melihatnya.

Pada saat aku kehabisan akal pada pendekatan yang tak terduga dan memikirkan hal-hal semacam itu dengan kecepatan kilat, Shirakawa-san sudah selesai menulis namanya. Dia lalu mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Makasih, ya!”

Senyuman yang indah dan menawan. Aku masih bisa merasakan kehangatan pada pensil mekanik yang dikembalikan.

Ekspresinya tersebut menjadi pukulan yang kuat.

Itu semua hanya terjadi selama puluhan detik.

Namun, kejadian tersebut sudah cukup membuatku jatuh cinta pada Shirakawa-san.

Aku ingin kalian membayangkannya. Adegan seorang gadis cantik, yang tampak seperti baru keluar dari poster, berdiri di hadapanmu sembari berkata "Makasih, ya!", lalu tersenyum padamu. Dan kemudian, aku ingin kalian perlu mempertimbangkan kalau aku tidak pernah punya pacar selama 16 tahun menjalani hidup dan di atas semua itu, aku adalah cowok suram yang sangat tertarik pada lawan jenis.

Aku pasti akan jatuh cinta, bukan?

Dan karena alasan itulah, aku jatuh cinta pada Shirakawa-san. Sampai sekarang dia selalu menjadi seseorang yang aku kagumi tetapi sekarang, aku lebih menaruh perhatian padanya.

Tentu saja, cuma jatuh cinta padanya tidak membuatku berpikir, “Aku ingin berpacaran dengannya”. Aku berada pada usia di mana tidak aneh memiliki delusi yang kuat, tetapi seperti yang diharapkan, aku tidak cukup berani untuk melangkah sejauh itu.

Selama satu tahun ini di kelas yang sama, mungkin ada kesempatan untuk sedikit lebih dekat dengannya, misalnya seperti, diminta untuk meminjamkan sesuatu lagi…. Dengan hanya sedikit harapan di dadaku, aku menjalani kehidupan sekolahku dengan damai.

Dengan demikian, waktu pun terus berlalu dan aku tidak pernah mendapatkan kesempatan lagi untuk melakukan kontak dengan Shirakawa-san, dan tanpa terasa, waktunya sudah mendekati pertengahan semester pertama.

 

◇◇◇◇

 

Pada jam jstirahat makan siang di hari tertentu.

Aku sedang makan dengan dua temanku di sudut kelas.

Tentu saja aku juga punya beberapa teman. Cowok semua, sih. Tapi jika kamu bertanya kepadaku siapa lagi teman lain selain mereka berdua, aku akan merasa sedikit sakit hati.

“Fuwaah ~ ngantuk bangett. Aku benar-benar kurang tidur.”

Orang yang mengatakan itu , dan membawa makanan kecil dari bento makan siang ke mulutnya sambil menguap adalah Ijichi Yuusuke dari kelas yang sama, dan dijuluki “Ichi”.

Kami berdua sudah sekelas sejak kelas 1 dan bisa akrab berkat minat yang sama. Akibat dari menjalani kehidupan yang tidak sehat karena kecanduan dalam video game, dia menjadi agak gemuk. Dan dikombinasikan dengan tinggi badannya, dia memberikan kehadiran eksternal yang cukup besar. Ia besar tapi…. Sayangnya, hampir menyedihkan kalau Ia orang yang muram. Akulah yang mengatakan itu. Ngomong-ngomong, wajahnya terlihat mirip dengan mantan yokozuna  Asa●ryuu.

“Tadi malam KEN mengunggah video terbarunya pada tengah malam, jadi aku menontonnya. Setelah itu aku main game sampai pagi.”

Usai mendengar komentar Ichi, cowok yang sedang menikmati bento makan siangnya di sebelahku ikut menanggapi.

“Aku juga kurang tidur karena KEN. Aku bangun pagi-pagi karena pemberitahuan perekrutan KEN di Twitter, jadi kupikir aku punya kesempatan untuk bergabung dengan mereka, tapi saat mencobanya, aku langsung ditolak karena sudah penuh. Aku frustasi jadi aku bermain di ruangan lain sampai waktunya sekolah ”

Cowok yang bilang begitu adalah Nishina Ren dari kelas sebelah, dijuluki "Nishi". Ia juga berada di kelas yang berbeda tahun lalu tapi Ichi sepertinya pernah mendengar rumor tentang seseorang yang memiliki minat yang sama dengan kita, jadi Ia mengajak ngobrol dengannya dan pertemanan kita mencapai pada titik di mana kita bisa makan siang bersama.

Jika cuma masalah wajah, Nishi bisa saja menjadi bagian dari grup yang ceria. Ia memiliki mata bulat yang lucu, dan tampang baby face yang membuatnya terlihat seperti anak SMP. Berbeda dengan Ichi, dia memiliki perawakan yang cukup kecil. Dan tepat di tengah mereka adalah aku yang bertubuh sedang dengan wajah layaknya karakter sampingan.

“Kalian berdua sungguh luar biasa. Hal terbaik yang bisa aku lakukan di sini cuma mengikuti video KEN.”

Aku menimpali dengan tulus dan menutup bento makan siangku yang sekarang kosong.

Minat kami yang sama adalah video game…. Atau lebih tepatnya, dengan menjadi penggemar "KEN", youtuber  channel Ayo Main Video Game terkenal.

Ken adalah mantan pro-gamer, yang setiap hari terus-menerus mengupload beberapa jenis video di channel Ayo Main Video Game. Keterampilan tingkat tinggi, serta percakapan yang lucu menarik minat banyak orang, dan jumlah pelanggan channel YouTube-nya lebih dari satu juta dan terus meningkat.

Para penggemar KEN yang berdedikasi disebut "KENS's Kids", dan bahkan ada pemain terampil di antara penggemarnya tersebut yang secara pribadi didekati oleh KEN agar dapat bermain bersama dalam video bermainnya. Ichi dan Nishi diam-diam mengincar kesempatan itu dan terus mengasah keterampilan mereka dalam video game setiap hari.

Sedangkan untukku, aku hanyalah penggemar tipe konsumen yang hanya menonton 4 atau 5 video yang diupload KEN setiap hari. Bahkan dengan semua itu, pada saat kamu menulis komentar, dalam sekejap mata 2 atau 3 jam telah berlalu. Jadi ini adalah hobi yang bisa memakan banyak waktu. Di hari libur, terkadang aku bermain online sambil mengobrol dengan Ichi dan lainnya, tetapi bukan berarti aku bisa bermain sehebat KEN jika aku sendiri yang bermain game, jadi seperti yang diharapkan, menonton video Let's Play jauh lebih menyenangkan.

Namun, penggemar tipe konsumen seperti itu punya sisi bagusnya sendiri. Karena kamu tidak perlu memaksakan diri, kamu dapat menjalani hidup dengan tempomu sendiri.

“Kalau dipikir-pikir, kita akan mendapatkan hasil UTS kita, ‘kan?”

Saat Nishi bergumam begitu, ekspresi Ichi langsung menjadi kaku.

“Hentikan~, jangan ingatkan aku dengan itu! Kali ini aku benar-benar mengacau. KEN juga kejam ya, merekrut Kids baru yang berpartisipasi selama periode ujian.”

“Benar sekali. Aku mencoba yang terbaik untuk masuk, tapi pada akhirnya tidak bisa.”

Nishi juga menjawab dengan wajah putus asa dan menghela nafas.

“Kashi sih bagaimana? Bagaimana dengan ujianmu?”

Mereka mendadak melayangkan pertanyaan padaku, aku hanya membalas “Eh?”, Dan melihat mereka. Benar, aku dipanggil “Kashi” oleh mereka berdua.

“Ya…. Aku juga tidak yakin, sih. Ini ujian pertama sejak gurunya diganti, jadi tren ujiannya juga berbeda.”

Sejujurnya, nilai kami bertiga tidak terlalu buruk. Menurutku, kita semua berada di sepertiga teratas seangkatan. Sekolah ini awalnya adalah sekolah SMA pilihan keduaku dan aku diterima, jadi menurutku posisinya biasa-biasa saja.

“Kamu yakin!? Kamu beneran yakin, ‘kan !? Jangan mengkhianati kami, oke !? ”

“Ya-ya…. Tidak apa-apa, Ichi ”

Tapi, mereka sepertinya benar-benar dalam masalah kali ini. Jadi meskipun itu masalah orang lain, aku sedikit khawatir tentang mereka.

“Aku benar-benar dalam masalah di sini. Jika nilaiku turun di ujian ini, orang tuaku akan mengomeliku untuk berhenti bermain game….! ”

“Aku juga dalam posisi buruk…. Mereka mengancam akan menyita smarphone-ku jika aku mendapat nilai jelek dalam ujian.”

Nishi juga ikutan setuju, dan Ichi meraih tangannya dengan sepenuh hati.

“Kamu juga ya! Kita ini sohib, bukan !? ”

“Tentu saja. Itu sebabnya, siapa saja di antara kita yang menadapat nilai terbaik harus mendengarkan apapun yang dikatakan orang lain dengan nilai terburuk.”

“Kenapa malah jadi seperti itu !?”

Akulah satu-satunya yang membalas usulan Nishi.

Pada saat itu, aku tidak terlalu memikirkannya dan tidak bisa menolaknya dengan kuat karena suasananya, jadi aku akhirnya menerima janji yang tidak masuk akal itu.

 

◇◇◇◇

 

Kemudian di minggu berikutnya, pada jam istirahat makan siang saat lembaran ujian untuk semua mata pelajaran telah dikembalikan.

“Tamat sudah… semuanya sudah berakhir…. ”

Tangan Ichi mencengkeram lembar jawaban bahasa Inggris dengan nilai “18” tertulis dengan warna merah.

Oleh karena itu, sebagai hasil alami dari pencapaian skor seperti itu, nilai keseluruhan Ichi adalah yang terburuk di antara kami bertiga. Meski tidak seburuk Ichi, nilai ujian Nishi juga sama buruknya  dan benar-benar dikalahkan. Alhasil, aku, yang mendapatkan nilai yang sama seperti biasanya, mendapatkan hasil terbaik.

“Bergembiralah, Ichi…. Kalau kamu memberitahu kalau kamu akan menebusnya di UAS, aku yakin ibumu akan mengizinkanmu bermain game. Iya ‘kan, Nishi? ”

“….”

Aku mengharapkan persetujuannya, tapi Nishi juga tampak linglung dengan wajah pucat. Mereka berdua… .. pasti sering dimarahi oleh orang tua mereka.

“Kalian berdua, jangan pasang muka kusut begitu….”

Saat aku masih berusaha menghibur mereka berdua, Ichi tiba-tiba mencengkeram lenganku dengan erat.

“… .Hei, kamu ingat janji kita, ‘kan?”

Tatapan matanya terlihat seperti zombie, hampa dan mengerikan.

“Umm….”

“Orang dengan nilai terbaik harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang dengan nilai terburuk”

“Ya-ya, kurang lebih….”

“Ini adalah perintah dariku. Kashi, kamu harus menembak gadis yang kamu sukai. ”

“Huuh !?”

Aku tanpa sadar meneriaki perintah gila itu dan gemetar ketakutan pada tatapan teman sekelas yang menatapku sekilas.

“Ke-kenapa? Kenapa perintah yang seperti itu? Ada banyak hal lain yang bisa kamu minta yang lebih menguntungkanmu ‘kan. Misalnya mentraktir makan, atau seperti, menjadi pesuruh satu hari penuh…. ”

“Diam! Aku sangat terpuruk sekarang! Aku akan ikut menyeretku ke dalam jurang keterputus-asaan juga! Jika kamu tipe orang suram seperti aku menembak seseorang, tentu saja kamu akan ditolak dengan menyedihkan! Rasakanlah keterpurukan seperti dirikuuuu!”

“Itu sih kejam sekali!”

Mungkin akan berakhir seperti yang Ia katakan, tapi jika teman dekatku mengatakan itu langsung di depan mukaku, rasanya sangat menyedihkan sampai-sampai membuatku ingin menangis.

“Perintah ngaco macam apa itu! Sejak awal….!”

“Jangan khawatir, Kashi.”

Saat aku mencoba memprotes, Nishi meletakkan tangannya di pundakku.

“Setidaknya, aku akan memungut tulang-tulangmu, oke.”

Ia mengatakan itu dengan senyum ceria. Aku turut senang melihatmu bisa cepat pulih dan dengan cepat mendapatkan kembali semangatmu, tapi aku dapat melihat kata-kata "Rasakan akibatnya" tertulis di seluruh wajahmu.

“Kalian terlalu kejam! Sejak awal, bukannya nilai kalian yang turun akibat kelalaian kalian sendiri!? ”

“Uwaah, jadi itu yang kamu pikirkan ya, Kashi!”

“Kashi, ini tidak seperti yang dijanjikan! Kamu sudah berjanji, ‘kan !? Bukannya kita ini sohib sejati!? ”

Ketika Ichi mengatakan itu dengan keras, aku hanya bisa terdiam.

Aku memang berjanji begitu. Kita adalah teman. Sebaliknya, jika orang-orang ini tidak menjadi temanku, aku tidak tahu kehidupan sekolah macam apa yang akan kulalui. Setiap waktu istirahat, aku mungkin pergi ke toilet, aku bahkan tidak ingin pergi ke sana, dan menghitung jumlah kerutan di tanganku sembari menunggu istirahat berakhir….

Alasanku tidak harus menghabiskan hari-hari semacam itu adalah karena aku punya Ichi dan Nishi. Keduanya sekarang menatapku dengan ekspresi seolah mengatakan persahabatan kita sedang di ujung tanduk .......

“… .Aku paham, oke! Aku hanya perlu menembak, ‘kan !? ”

Selamat tinggal, perasaan cintaku yang sesaat.

Dan begitulah, aku akhirnya dipaksa menembak gadis yang kusukai, Shirakawa-san.

Meski begitu, cuma memikirkan seseorang macam diriku yang menembak Shirakawa-san, gadis tercantik seangkatan, tidak, mungkin di seluruh sekolah, membuat lututku menggigil sampai ke titik brrrrr.

Tapi, yah…. Jika kupikir-pikir lagi, meski aku terus memendam perasaan ini pada Shirakawa-san, kupikir mana mungkin bakalan ada satu dari sejuta kemungkinan kita berakhir pacaran. Sebaliknya, jika aku tidak beruntung, Shirakawa-san mungkin mulai berpacaran dengan teman sekelas lain dan aku mungkin akan mengalami kerusakan mental karena menyaksikan kemesraan mereka dari dekat.

Sebelum hal itu terjadi, lebih baik ditolak dan atasi perasaan bertepuk sebelah tanganmu, supaya kamu dapat menikmati sisa kehidupan sekolahmu. Aku juga bisa memikirkannya seperti itu, ‘kan.

Jadi seperti itulah, aku dengan putus asa menghibur hatiku yang putus asa untuk menepati janji dengan teman-temanku.

Dan bila misalnya aku ditolak, aku pikir takkan ada banyak kerusakan sosial bagiku. Jika aku memikirkan tentang kepribadian Shirakawa-san, aku berpikir dia bukanlah tipe orang yang bermulut ember dan memberitahu teman-temannya hanya karena dia ditembak oleh cowok suram seperti diriku. Aku pikir dia juga terbiasa ditembak cowok dan aku merasa dia benar-benar akan melupakan peristiwa ini keesokan harinya.

Istilah “Mengikuti Ujian Masuk ke Sekolah Bergengsi Terlepas dari Kesempatan" terlintas di benakku.

Dari sudut pandangku, Shirakawa-san sama seperti sekolah yang sulit untuk aku masuki, sosok yang selalu aku impikan dan dambakan. Aku merasa kalau aku harus mencobanya sekali dan setidaknya membuat kenangan duduk untuk ujian. Jika bukan karena kesempatan ini, aku tak akan pernah melakukan sesuatu seperti menembak padanya sepanjang hidupku.

Begitulah caraku membujuk dan dengan putus asa menyemangati diriki sendiri.

….Ya. Betul sekali. Ayo kita lakukan.

Dengan tangan gemetaran, aku menuliskan pesan di secarik kertas selama kelas.

Sepulang sekolah di hari itu, aku langsung memantapkan rencana untuk mengakui perasaanku.

Aku merasa seperti akan putus asa dan berubah pikiran jika menundanya. Dan jika aku perlu melakukannya, aku ingin menyelesaikan ini secepat mungkin.

Ditolak bukan berarti kiamat. Saat sampai di rumah, aku akan menonton video baru KEN untuk menyembuhkan hatiku yang terluka.

Aku menggumamkan itu pada diriku sendiri dan sepulang sekolah, aku meletakkan catatan yang sudah aku tulis ke tempat rak sepatu Shirakawa-san.

________________________________________

Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Setelah membaca ini, tolong datanglah ke tempat parkir guru di belakang gedung sekolah.

Kashima Ryuuto dari kelas 2-A

________________________________________

Alasanku secara tegas menulis namaku karena aku pikir kalau melakukannya secara anonym, terlalu menyeramkan untuk membuatnya datang. Dan alasan kenapa aku bahkan menulis kelas karena jika hanya namaku saja akan membuatnya kebingungan, “Siapa orang ini? Aku tidak tahu, jadi tidak usah diladenin, ah ”, bisa saja berakhir seperti itu. “Aku tidak tahu siapa ini tapi, sepertinya Ia dari kelas yang sama jadi Ia pasti ada urusan denganku”, dan dengan berpikir begitu, kupikir itu akan membuatnya lebih mudah untuk datang.

“Eh, dari semua orang, gadis yang disukai Kashi adalah Shirakawa-san !?”

“Ini sih bagai punguk merindukan bulan! Apa kamu masih waras !? ”

Ichi dan Nichi mengkonfirmasi nama di rak sepatu dari belakangku dan mereka terguncang dengan keras.

Reaksi dari mereka berdua membuatku menyadari sekali lagi kalau aku akan melakukan sesuatu yang keterlaluan, dan lututku mulai gemetaran.

Jika bisa, aku hanya ingin menyimpan catatan ini dan pulang…. Itulah yang aku pikirkan, tapi aku tidak ingin teman-temanku berpikir kalau aku adalah orang yang tidak dapat menepati janjinya.

Tenanglah, diriku. Tenangkan dirimu.

Untuk saat ini, aku akan menyelesaikan misi "Menembak" ini. Cuma itu saja yang perlu aku pikirkan.

Aku menarik napas dalam-dalam, dan berkata pada diriku sendiri berulang kali, dan menuju ke lokasi yang ditentukan.

Tempat parkir guru di belakang gedung sekolah, sejauh yang aku tahu, tempat ini merupakan tempat paling tidak populer di sekolah. Pada jam-jam segini dimana jam pelajaran baru saja berakhir dan kegiatan klub baru dimulai, masih belum ada guru yang berniat untuk pulang. Selusin atau lebih mobil diparkir berdampingan dan di sana, aku sedang menunggu Shirakawa-san.

Ichi dan Nishi seharusnya bersembunyi di balik mobil di suatu tempat dan mengawasiku dari jarak yang cukup dekat.

Shirakawa-san tidak langsung datang. Pada waktu sepulang sekolah, gadis normie seperti dirinya akan selalu mengobrol dengan teman-temannya di kelas dan aku tidak pernah melihatnya meninggalkan kelas lebih awal dariku. Jadi aku sama sekali tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk melihat catatan di rak sepatunya.

Aku terus menunggu…. mungkin selama 20 sampai 30 menit.

Ketika aku akhirnya melihatnya muncul dari sisi lain gedung sekolah, aku sangat lega karena diserang oleh perasaan kelelahan yang mendahului semua emosi lain dari sebelumnya.

Aku sudah mempersiapkan diri kalau dia tidak datang, jadi meski aku belum menembaknya, aku merasakan suatu pencapaian.

Shirakawa-san melihat sekeliling dan mendekatiku setelah memastikan tidak ada orang lain lagi di sekitar sini.

“Apa kamu yang menempatkan ini di rak sepatuku?”

Kertas putih yang dia pegang di samping wajahnya adalah pesan dariku.

“Y-Ya.”

Saat aku menjawab dengan suara gemetaran, Shirakawa-san tertawa kecil.

“Fufuu.”

Dia menertawakanku… ..!

Ketika memikirkan hal itu, wajahku menjadi panas karena perasaan malu.

“Kenapa pakai bahasa formal segala? Bukannya kita sekelas? Umurnya sama ‘kan? ”

Saat dia bilang begitu, aku tidak merasakan adanya kesan kalau dia mengolok-olokku. Bukan tentang suaraku yang gemetaran, tapi dia sepertinya benar-benar menganggap bahasa formal itu lucu.

Aku merasa sedikit lega tapi pada saat yang sama, merasa sedih karena kupikir dia tidak tahu keberadaanku, meskipun aku mengetahui dirinya. Bahkan jika aku sudah mempersiapkan diri, bukanlah tugas yang mudah untuk mencoba sesuatu yang pasti akan gagal.

“Se-Sepertinya begitu….”

Untuk saat ini, aku membalas Shirakawa-san dengan ucapan santai seperti yang dia katakan kepadaku.

Saat dia mendekatiku, dia berhenti sekitar dua meter di hadapanku.

“Jadi? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”

Suara yang jelas dan cerah. Suara yang memancarkan kepribadian baiknya dan tidak merasa kesal maupun jijik karena mendadak dipanggil oleh cowok suram semacam diriku.

Aah, Shirakawa-san….

Aku terlalu gugup untuk melihatnya secara langsung, tetapi aku yakin bahkan sampai sekarang, dia masih memiliki wajah yang sangat cantik.

Aku… tentangmu, aku sungguh….

Aku akan mengatakannya. Aku harus mengatakannya. Jika aku terus menunduk dalam diam seperti ini, bahkan seseorang dengan kepribadian baik seperti Shirakawa-san akan muak denganku.

Dengan pemikiran begitu, aku dengan putus asa mendongak ke arahnya.

“….!”

Wajah Shirakawa-san yang sangat cantik menatap lurus ke arahku dan menembus hatiku. Meski aku membuka mulut, suaraku tidak bisa keluar dari tenggorokanku dengan baik.

“Su…. Su-Su-Suk! ”

Sialan, aku tidak menyangka bakalan segagap ini karena menembak gadis!

Tapi sekarang aku sudah sampai sejauh ini, sekarang sudah tidak ada jalan untuk kembali.

“Ak-Aku menyukaimu! (Su-Suki desu!)

Aku berhasil mengatakannya.

Cowok yang sangat muram.

Diriku….yang sangat menjijikkan ..….

Aku membenci diriku sendiri dan pada tingkat ini, aku cuma ingin mengubur diriku sendiri ke dalam tanah beton dan menghilang.

“Eh? Suzuki? ” (TN : “Su—Suki desu” “Eh? Susuki? ” Shirakawa pikir si MC mengatakan namanya "Susuki". namanya bukan Susuki. Btw, suki = suka.)

Shirakawa-san mengerutkan alisnya dan menatap tajam ke arahku. Setelah itu, dia melihat apa yang tertulis di kertas di tangannya dan membuat wajah yang lebih serius.

Sekali lagi, aku pikir dia memang cantik. Karena gaya berpakaiannya seperti gyaru, aku pikir dia mungkin tidak memakai make-up tapi aku terpesona oleh fitur kecantikannya yang tidak bisa ditutupi oleh make-up, seperti bayangan area mata dan garis dari hidung ke dagunya.

Karena sudah melakukan sebuah pengakuan yang gagal besar-besaran, tidak ada lagi yang perlu dipermalukan dan aku secara misterius mampu mengamatinya secara hati-hati sebelum aku ditolak.

“Hei, Suzuki itu siapa?”

Shirakawa-san masih memasang ekspresi kebingungan.

“Eh?”

Aku pikir, Seriusan, memangnya siapa sih Suzuki ini…. Lalu aku tersadar. Karena pengakuanku yang kikuk, dia jadi salah dengar.

“Tidak. Umm maksudnya…. Aku menyukaimu, Shirakawa-san….”

Kali ini, meski terbata-bata aku berhasil mengatakannya dengan benar. Mungkin karena aku pernah gagal sekali jadi tidak ada ruginya lagi.

Kemudian mata Shirakwa-san terbuka lebar.

“… .Ah, maksudmu yang itu?”

Untuk sesaat, Shirakawa-san memalingkan muka dariku seolah-olah dia sudah menyadarinya.

Ekspresinya tampak seperti sedang bermasalah. Mungkin, dia tidak begitu mengenalku sehingga dia tidak tahu bagaimana  cara terbaik untuk menolakku.

“….Kenapa?”

Itulah sebabnya, pertanyaan Shirakawa-san mungkin adalah pertimbangan yang dia pikirkan untukku, sebagai permulaan sebelum dia menolakku.

“Eh…..”

“Kenapa kamu menyukaiku?”

Aku tidak menyangka akan ditanyai begitu dan mulai berpikir sendiri.

Kenapa? Kenapa aku menyukainya?

Hal seperti itu…. Bukannya itu sudah jelas.

“….Karena kamu…. cantik.”

Aku takut suaraku bakal gagap, dan sekarang suaranya akan menghilang.

Yah, tapi….

Tidak peduli berapa kali aku gagal, aku hanya akan ditolak sekali. Aku berpikir begitu pada diriku sendiri dan itu membuatku merasa sedikit lebih baik.

“….”

Shirakawa-san mengedipkan matanya dan menatapku. Pipinya sedikit merona dan dia menunduk seolah-olah tengah merasa malu.

“Hmmm~….”

Dia bergumam seolah ingin menutupi rasa malunya. Lalu, dia menatapku dan mengucapkan sesuatu yang keterlaluan.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai jadian? Aku sekarang lagi jomblo, kok.”

Awalnya, aku tidak mengerti apa yang baru saja dia katakan.

Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai jadian? Aku sekarang lagi jomblo, kok

Jadian? Pacaran?

Pacaran .. Shirakawa-san? Dengan siapa?

Jangan bilang…. denganku!?

“Eeeh !?”

Aku merasa seolah-olah akan pingsan.

Aku langsung mengira dia sedang mengolok-olokku, tetapi jika memang begitu, rasanya bikin sakit di hati.

“Apa, kenapa kamu begitu terkejut? Bukannya kamu sendiri yang menembakku!”

Shirakawa-san terkikik dengan aneh setelah melihat ekspresiku yang terkejut. Jangan bilang kalau dia serius? Atau dia cuma menikmati melihat reaksiku?

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

“….Jadi, apa yang ingin kamu lakukan?”

Shirakawa-san, yang telah menghentikan cekikikannya, mulai mendekatiku dan bertanya.

“Apa kamu ingin mulai berpacaran denganku?”

Matanya yang menengadah terlihat sangat imut. Jantungku hampir mau copot.

Bagaimana bisa berubah menjadi seperti ini? Aku tidak pernah membayangkan perkembangan ini sama sekali.

Aku tidak begitu yakin tapi, sesuatu yang sangat hoki sedang terjadi padaku.

Aku adalah cowok yang suram tanpa memiliki sesuatu untuk dibanggakan, orang yang hobinya menonton video mari bermain game, dan aku tidak punya nyali untuk melepaskan keberuntungan ini dengan mudah.

Mungkin saja dia mengolok-olokku. Mungkin saja ini hanya mimpi, tetapi jika memang begitu, jawabanku sudah sangat jelas.

“….Iya….”

Aku mengangguk dengan muka merah padam dan Shirakawa-san tersenyum terlihat puas.

“Oke!”

Wajahnya yang tersenyum terlihat manis. Tidak, senyumnya juga sangat manis. Ini bukan VR, ‘kan? Aku tidak percaya Shirakawa-san bisa sedekat ini denganku dan tersenyum padaku.

Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku untuk selama-lamanya.

“Kalau begitu, ayo kita pulang bareng! Aku sudah memberitahu teman-temanku kalau aku ada urusan dan sudah mengucapkan selamat tinggal pada mereka.”

Dan seperti itu, aku mulai berjalan bersama Shirakawa-san menuju gerbang belakang.

Ketika aku sedang berjalan melewati tempat parkir, aku melihat Ichi dan Nishi berjongkok di belakang mobil dengan wajah tercengang dan tampak seperti mayat.

Bagaimanapun juga, kelihatannya ini bukan prank settingan dari mereka.

 

◇◇◇◇

 

Ya Tuhan… apa-apaan ini !?

Aku tidak sedang bermimpi, ‘kan !?

Aku benar-benar… berjalan … berdampingan dengan Shirakawa-san… ‘kan !?

Situasi macam apa ini !?

Apa dia benar-benar serius berpacaran denganku !?

Aku hanya menggerakkan kakiku diam-diam karena jantungku berdebar sangat kencang.

“… .Namamu, bagaimana cara membacanya? Kuwashima? ”

“Ka… Kashima, Ryuuto”

“Oh, Ryuuto! Namamu keren banget! ”

Shirakawa-san tersenyum dengan mata berbinar. Serangan mendadak dari wajahnya yang tersenyum dan pujian “Keren banget”, membuat detak jantungku yang sudah kencang sejak tadi menjadi lebih kencang lagi.

Tenang, tenanglah diriku.

Aku tidak bisa mengobrol dengan benar jika terlalu kegirangan begini.

Lagipula aku akan segera dicampakkan. Beberapa menit kemudian dia akan berkata, “Aku bercanda. Apa kamu benar-benar mengira kita beneran pacaran? ”, Sambil tertawa. Pasti begitu, tidak salah lagi.

Aku mengatakan itu pada diriku sendiri dan berusaha untuk tetap tenang, entah bagaimana.

“Nee, Ryuuto.”

Shirakawa-san dengan polosnya mulai berbicara denganku

“Apa kita ….. pernah berbicara satu sama lain?”

“Eh !? Ah… Umm… ”

Aku hampir ingin memberitahunya mengenai aku yang meminjamkan pensil padanya, tapi kejadian itu cuma bisa dihitung sebagai kejadian sepele, dan menghitungnya sebagai "Berbicara" akan terdengar menyeramkan.

“… .Tidak, tidak terlalu….”

“Hmmm, begitu ya.”

Bagaimanapun juga, aku adalah aku, jadi aku ingin menanyakan sesuatu yang sedari tadi menggangguku.

“Shirakawa-san .. umm, kenapa…. kamu mau berpacaran denganku….? ”

Aku berkata pada diriku sendiri untuk tetap tenang, dan itulah sebabnya aku merasa situasi ini sangat sulit dipercaya. Setelah meninggalkanku dengan hati yang berdebar-debar seperti ini, ada kemungkinan besar kalau, “Hari ini aku akan pulang bersamamu”, sebenarnya pembicaraan semacam itu. Tidak, bisa saja bukan itu yang sebenarnya terjadi.

Karena aku .. memiliki trauma dengan "menembak gadis".

Saat aku kelas 1 SMP, aku kebetulan duduk bersebelahan dengan seorang gadis yang sangat manis. Dia akan tersenyum dan berbicara kepadaku tentang sesuatu dan ada banyak skinship juga. Dan ketika aku membiarkan dia menyalin PR-ku, “Kupikir ... aku suka orang yang baik seperti itu”, gumamnya begitu, dengan pipi yang memerah untuk beberapa alasan. Tentu saja, diriku yang muram berasa seperti berada di khayangan karena saking gembiranya dan aku cukup yakin dia memiliki perasaan kepadaku, tidak salah lagi. Sambil mempercayai itu, aku mengumpulkan keberanian sekali seumur hidup dan mengakui perasaanku padanya.

Dan hasilnya, aku menderita kekalahan telak. Wajah canggungnya sambil bergumam, “Aku menganggap Kasahima sebagai orang baik, tapi….”, Masih membekas di ingatanku sampai hari ini.

Aku belajar dari pengalaman yang menyakitkan ini. Gadis…. Terutama yang manis dan populer tidak bisa dipercaya.

Fakta bahwa seorang gadis populer membuat semua orang berpikir, "Mungkin aku bisa melakukannya”. Dengan kata lain, gadis itu sendiri sangat sugestif dan jika kamu mengira kalau cuma kamu yang istimewa, kamu akan dihadapi pada kenyataan yang sangat kejam.

Bahkan tanpa perlu berpikir keras, sama sekali tidak ada alasan mengapa seorang gadis cantik dan populer akan menyukai cowok suram macam diriku. Karena aku pikir begitu, aku bisa menyatakan perasaanku kepada Shirakawa-san tanpa beban. Karena aku 100% yakin akan ditolak, aku tidak memikirkan sama sekali setelah diberi OKE.

Itulah sebabnya… Sulit untuk menerima situasi seperti ini, seolah-olah aku sedang dijebak untuk konten prank .

“Eh….?”

Shirakawa-san kembali menatapku dengan rasa ingin tahu.

“Apa kamu ingin mendengar kenapa aku memutuskan pacaran dengan Ryuuto?”

“.... Maksudku, Shirakawa-san mungkin tidak menyukaiku. Dan karena aku pikir kamu tidak mengenalku…. ”

Padahal kami satu kelas tetapi dia bahkan tidak tahu cara membaca namaku.

Dan di sana, jawaban yang tak terduga keluar dari  mulut Shirakawa-san.

“Kalau begitu, bukannya aku bisa mengenalmu mulai dari sekarang, dan mulai menyukaimu?”

“Eh?”

Saat aku melihatnya, Shirakawa-san memiringkan kepalanya dan menatapku dengan mata menengadah.

“Maksudku, bahkan Ryuuto juga tidak mengenalku dengan baik, ‘kan?”

Aku membeku ketika mendengar perkataannya.

“Kita bahkan tidak pernah berbicara sebelumnya, ‘kan? Kamu menyukai penampilanku, bukan?”

“….”

Saat itu aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku sudah menjawabnya sebelumnya. Ketika ditanya oleh Shirakawa-san mengapa aku menyukainya, aku menanggapinya dengan “Karena kamu cantik”.

Aku suka penampilannya. Itu benar.

Tapi, aku telah melihat Shirakawa-san dari kejauhan sejak aku masih kelas 1. Aku selalu berpikir, "Sangat cantik", dan mengaguminya. Itulah mengapa aku pikir aku menyukai Shirakawa-san lebih dari yang aku kira. Tapi sekarang setelah dia menyebutkan, dia benar. Aku memang tidak tahu apa-apa tentang Shirakawa-san.

“Apalagi, aku …... sedikit menyukai Ryuuto, lho”

“… .Eh !?”

Aku memandang kaget Shirakawa-san udai mendengar pengakuan tak terduganya. Selanjutnya, aku dipukul dengan mata menengadah yang lucu, dan proses berpikir otakku berjalan lebih cepat dua kali lipat.

Karena Shirakawa-san jauh lebih pendek dariku, kurasa begitulah cara dia melihatku saat aku di sampingnya. Dia terlihat seperti model berkat wajah kecil dan bentuk tubuhnya yang langsing, bukan karena tinggi badannya sendiri.

Apalagi, dari tadi aku bisa mencium aroma harum. Aku tidak yakin apakah itu bunga atau buah, tapi aroma ini berasal dari Shirakawa-san, ‘kan.

Tunggu, ini bukan waktunya untuk memikirkan hal begituan.

Shirakawa-san sedikit menyukaiku?

Tidak, mana mungkin itu benar!

Maksudku, dia bahkan tidak mengenalku!

Seolah-olah bisa mendengar jeritan di hatiku, Shirakawa-san membuka mulutnya.

“Tadi, Ryuuto bilang kalau kamu 'menyukai'-ku, ‘kan?”

“….Ya.”

“Itulah alasannya.”

“… .Eh?”

“Eh? Kenapa malah 'Eh?'

“Maksudku, umm…. Cu-Cuma itu saja….? ”

Saat aku menggumamkan itu dengan nada tidak percaya, wajah Shirakawa-san berubah masam seakan merasa penasaran dengan apa yang sedang kupikirkan.

“Aah! Kamu berpikir kalau aku ini lacur yang menyukai semua cowok tidak peduli siapa orangnya, ‘kan? Bahkan aku punya seleraku sendiri, oke? Seorang cowok dengan kuku tumbuh besar dan cowok yang meninggalkan keringat di hidungnya sama sekali enggak bakalan mau bahkan jika aku mati, oke!”

Bukankah seleranya terlalu spesifik !? Tunggu, jadi cuma itu yang enggak boleh !?

Saat aku dibuat tercengang oleh selera luas Shirakawa-san seperti yang dikabarkan, dia menatapku dengan wajah cemberut sekaligus diselingi dengan protes.

“Tapi, karena Ryuuto bukan cowok seperti itu jadi itulah alasannya. Itu sebabnya aku merasa senang, tau.”

Tapi, apa yang Shirakawa-san katakan ada benarnya juga. Jika seorang gadis yang tidak aku kenal menembakku aku dengan, "Aku menyukaimu"… .. Kecuali gadis itu sebagian besar tidak sesuai dengan seleraku, aku mungkin akan langsung menyukainya.

Tapi, itu karena aku benar-benar bukan cowok populer yang tidak pernah ditembak bahkan sekali pun.

“.... Tapi, Shirakawa-san sepertinya terbiasa dengan kalimat 'Aku menyukaimu', ‘kan….”

“Eeh?”

Apa yang sedang kamu bicarakan, dia menatapku seolah-olah menyiratkan begitu.

“Bukannya kamu akan merasa senang tidak peduli berapa kali seseorang berkata 'Aku menyukaimu' padamu?”

Aku pikir itu benar, tapi….

“Kebahagiaan itu…. Bukannya kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu berpikir 'Ayo pacaran'? ”

Aku masih ragu. Karena aku tidak ingin terluka.

Ketika hari esok tiba, "Aku sama sekali tidak menyukaimu, jadi aku tidak berpacaran denganmu!"; Aku tidak tahan membayangkan masa depan di mana aku diberitahu seperti itu.

Karena, jika kita beneran “pacaran” pada saat ini, besok, dan lusa, aku pasti akan lebih jatuh cinta pada Shirakawa-san.

Sulit dipercaya karena…. ini sepertinya bukan lelucon.

“Jadi…. 'Suka' yang dimaksud Shirakawa-san bagiku cukup baik untuk teman, maksudku…. Bukannya itu sedikit terlalu… murahan….? ”

Aku mengatakannya. Meski gadis super cantik ini dengan ramah menyetujui kalau dia mau berpacaran denganku, aku akhirnya mengatakan sesuatu yang mungkin dia benci!

Aku idiot.

Aku benar-benar bego dengan mulut besar!

Benar saja, Shirakawa-san terdiam beberapa saat. Saat aku mencemaskan apakah aku menyakiti perasaannya, Shirakawa-san menatapku.

“…..Masa? Bukannya itu bagus?”

Balasannya sangat sederhana dan jelas.

“Meski murahan tapi terasa menyenangkan bukan, dan itu membuatmu ingin lebih dekat denganku, ‘kan? Jadi mengapa tidak mencoba pacaran dulu saja. Bahkan jika saling 'Suka' di awal itu murahan, jika kita terus pacaran dan lebih saling mengenal satu sama lain, bukannya itu akan berubah menjadi 'suka' yang asli suatu hari nanti? ”

Shirakawa-san mengatakan itu sambil tersenyum padaku dengan ujung bibirnya melengkung bagus.

“… .Yah, meski sampai sekarang aku belum pernah pacaran dengan seseorang dan mengubahnya menjadi 'suka' yang asli, sih”

Ketika dia menunjukkan senyum mencela dirinya sendiri, aku bertanya dengan takut-takut.

“….Kenapa….?”

Gosip mengenai dirinya yang berpacaran paling lama dua atau tiga bulan dengan satu pacar mungkin benar. Ketika aku sedang berhati-hati bertanya-tanya apa penyebabnya, “Aah”, mata Shirakawa-san terbuka lebar.

“Kamu pikir aku sudah bosan dan mencampakkan mereka, ‘kan? Justru sebaliknya! Ketika aku berpacaran dengan seseorang, aku sangat setia! Jika ada cowok lain menembakku, aku langsung menolaknya karena sudah punya pacar.”

“Ja-Jadi begitu rupanya, ya.”

Aku melontarkan balasan mencolo karena kewalawan dengan auranya, tapi ketidakpercayaanku terhadap gadis cantik masih mengakar kuat.

“.... Tapi, menilai dari apa yang Shirakawa-san katakan sebelumnya, biarpun kamu punya pacar, bukannya itu membuatmu senang diberitahu 'Aku menyukaimu' oleh orang lain, dan kamu akan mulai sedikit menyukai mereka? ”

“Hah? Kamu ini bicara apa?”

Alis Shirakawa-san berkerut dengan indah.

“….”

Dikalahkan oleh kengerian dari wajah tidak senang seorang gyaru, diriku yang muram tetap diam.

“Diberitahu 'Aku menyukaimu' sama cowok yang bahkan tidak kusuka, bukannya itu cuma bikin sebal? Benar-benar menjijikkan.”

“….”

Itu berbeda dari apa yang kamu bilang tadi..….

Tapi pokoknya, sepertinya tak masalah untuk mempercayai kalau dia setia saat berpacaran dengan seseorang.

Saat kami berbicara seperti itu, Shirakawa-san tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Rumahmu ke arah mana?”

Sekarang setelah dia menyebutkannya, kita sudah berada di depan stasiun. Stasiun terdekat dari sekolah bukanlah stasiun terminal yang besar, namun, jalan menuju gerbang tiket yang aku lalui sekarang cukup berkembang sehingga lalu lintas pejalan kaki tidak mereda bahkan pada saat-saat sebelum jam sibuk seperti sekarang.

Karena sekolah kami adalah sekolah swasta di Tokyo, banyak siswa berangkat ke sekolah menggunakan kereta api. Stasiun O ini memiliki pintu masuk terpisah untuk jalurnya dan kereta bawah tanah, jadi Shirakawa-san mungkin bertanya karena waktunya.

“Ah, umm, aku turun di stasiun K.”

“Hmmm, kalau aku sih di stasiun A.”

“Be-Begitu…. ternyata dekat, ya ”

Stasiun terdekat rumahku adalah Stasiun K, letaknya tiga stasiun dari sini dan Stasiun A adalah stasiun kedua sebelum itu.

“Oh, kita berada di jalur kereta yang sama, ‘kan? Ayo pergi! ”

“Ya-ya….”

Diseret oleh temponya Shirakawa-san, aku pun menuju ke area stasiun kereta.

Kami berdua lalu naik kereta, dan karena cuma dua stasiun, kami akan sampai di stasiun tempat Shirakawa-san turun. Situasi yang sulit dipercaya ini akan berakhir di sini.

Sampai sebelumnya, meski aku pikir aku sangat gugup sehingga aku tidak akan bisa menahan diri, anehnya jika menyangkut hal itu, aku merasa enggan untuk berpisah.

“Sebentar lagi tiba. Kemudian…"

Ketika kami akhirnya mendekati Stasiun A dan hendak berpisah dengannya, "Eh?", Shirakawa-san menatapku dengan heran.

“Kamu tidak mau mengantarku sampai ke rumah?”

“Eh?”

Aku sama sekali tidak tahu kalau maksud dari "mengantar seseorang pergi" ialah mengantarnya dari sekolah sampai rumahnya.

Tapi, memang benar kalau mengantarnya sampai rumah merupakan tugas dari pacar.

“Ka-Kalau begitu…….”

Situasi yang sulit dipercaya terus berlanjut.

Aku tidak perlu membayar ongkos untuk persinggahan dengan tiket komuter, jadi aku memutuskan untuk turun di Stasiun A juga dan mengantar Shirakawa-san sampai di rumah.

Stasiun A adalah stasiun besar dengan distrik perbelanjaan tersebar di depannya. Sekitar 15 menit berjalan kaki menuju rumah Shirakawa-san.

Sejujurnya, aku tidak begitu ingat apa yang kita bicarakan selama itu. Realitas yang tidak realistis dari “Aku berpacaran dengan Shirakawa-san” bertimpangan dengan perasaan realita yang tiba-tiba saat aku menyimpang dari rute perjalananku yang biasa, dan aku kehabisan akal dan terlalu gugup untuk bisa berkonsentrasi pada percakapan.

“Rumahku ada di sini.”

Shirakawa-san berhenti sambil mengatakan itu, di hadapanku ada rumah kayu dua lantai. Eksteriornya tampak cukup tua, dan di seluruh sekitarnya terdapat rumah-rumah dengan nuansa serupa yang berbaris dan menjadikannya sebagai kawasan pemukiman yang asri.

Karena tidak tahu harus berkata apa tentang tampilan rumah yang tidak dapat diprediksi dari penampilan Shirakawa-san yang dipoles, “Rumah yang bagus”, aku hanya membuat komentar yang aman.

Kemudian Shirakawa-san tersenyum senang.

“Benarkah? Makasih!”

Senyuman penghargaan yang jujur ​​tanpa sedikit pun keraguan bahwa itu cuma sanjungan belaka.

“….”

Keimutannya membuat hatiku berdebar-debar lagi, tapi di saat yang sama aku merasa bersalah dan ingin segera meninggalkan tempat ini.

“Ka-Kalau begitu, aku akan pergi sekarang….”

Saat aku hendak membalikkan badan, Shirakawa-san dengan riang memanggilku.

“Hei, mau mampir sebentar?”

“… .Eh !?”

“Orang tuaku sedang bekerja, dan nenek sedang mengikuti kelas dansa hula.”

Begitu, jadi dia tinggal bersama neneknya, ya…. Tapi kelas dansa hula, Anda sangat energik sekali, nek…., Pemikiran sepele seperti itu memenuhi pikiranku tapi, ada sesuatu yang lebih penting dari apapun.

Mampir ke rumah Shirakawa-san.

Memasuki rumah Shirakawa-san dan…. tidak ada orang lain disana.

Hanya ada kami berdua.

“… .Ap-Apa kamu yakin?”

Aku bertanya sambil menelan ludahku dengan gugup dan Shirakawa-san mengangguk tanpa ragu-ragu.

“Ya. Karena Ryuuto adalah pacarku.”

Eh, meski begitu. Bahkan jika aku adalah teman sekelas mob yang namanya bahkan tidak kamu kenal sampai beberapa saat yang lalu? meski cuma aku sendiri yang berpikir begitu, jika dia sendiri yang bilang tidak ada masalah, tidak ada alasan bagiku untuk menahan…. diri, ‘kan….

Apa aku .. akan mati?

Peristiwa semacam ini .. tidak seharusnya terjadi dalam hidupku.

“Umm, kalau begitu…. Maaf mengganggu.”

Jadi, 30 menit setelah aku mulai jadian dengan “pacar” pertamaku…. Aku langsung mengunjungi rumahnya.

Aku masih merasa sedang dikibuli tapi sekarang, aku akan menginjakkan kaki ke “rumah Shirakawa-san”.

Langkah kakiku terasa goyah dan sekali lagi, kesadaranku akan perasaan realitas mulai menghilang.

“Pe-Permisi….”

Saat aku berjalan ke pintu depan, aku dikelilingi oleh bau rumah orang lain yang hampir membuat nostalgia. Di bawah ada sejumlah sepatu mencolok, yang aku anggap milik Shirakawa-san, diletakkan sembarangan. Kejelasan dari itu semua membuat hatiku semakin berdebar-debar.

“Ayo naik. Kamarku ada di lantai atas.”

Didorong oleh Shirakawa-san, aku menaiki tangga sempit yang langsung kulihat di depanku.

Di lantai dua, ada kamar dengan pintu geser mirip kamar bergaya tadisional Jepang, dan kamar dengan pintu ayun ala barat. Shirakawa-san memutar kenop pintu yang bergaya ala barat.

“Masuklah ~”

Usai mengatakan itu, dia menunjukkan padaku kamarnya dan menyimpulkannya, itu adalah ruangan dengan suasana yang sepertinya cocok dengan kesan Shirakawa-san.

Hal pertama yang menarik perhatianku di kamar dengan luas sekitar lima tikar tatami ialah tirai warna pink gelap dan penutup selimut tempat tidur. Di samping dinding ada meja rias putih dan lemari dengan kesan yang agak murahan tetapi dengan desain bergaya yang terlihat seperti preferensi gadis. Di tengah-tengah itu ada meja tulis, tapi meja itu ditutupi dengan kantong atau barang-barang kecil, sama sekali bukan lingkungan tempat dimana kamu bisa belajar.

Secara keseluruhan, aku kewalahan dengan jumlah barang kecil yang ditempatkan di mana-mana. Seperti botol kecil yang mirip kosmetik, boneka binatang yang mirip maskot, dan benda kelap-kelip yang tampak seperti aksesori. Meski begitu, benda-benda itu tidak berserakan, dan item yang ditampilkan mungkin disatukan dengan pendekatan khususnya sendiri.

Selain itu, aroma bunga atau buah dari Shirakawa-san begitu kuat melayang di udara hingga membuatku tercekat.

“Apa ada yang salah? Ayo cepat masuk~.”

Shirakawa-san, yang masuk lebih dulu, memanggilku karena aku kewalahan karena terlalu banyak kurangnya kekebalan terhadap kamar gadis.

“A, aah, yeah….”

Aku pun bergegas masuk ke dalam kamarnya.

“Duduklah di mana pun yang kamu suka, oke.”

Shirakawa-san dengan santai mengatakan itu dan meletakkan tas sekolahnya di lantai secara sembarangan.

“Aku akan mengambil minuman. Teh barley aja gimana? ”

“Ah, ya-ya. Terima kasih….”

Shirakawa-san lalu meninggalkan ruangan. Ritme langkah ringannya yang menuruni tangga secara aneh senada dengan jantungku yang berdebar kencang.

Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi….

Padahal, aku sudah menyiapkan diri untuk ditolak, tetapi sekarang sebagai "pacar" Shirakawa-san, aku berada di dalam kamarnya. Aku sendiri masih tidak percaya dengan situasi ini.

Tapi, bagaimanapun juga.

Saat ini aku berada di kamar Shirakawa-san….

“Fuuuuh….”

Untuk saat ini, mending tarik napas dalam-dalam.

Aroma Shirakawa-san….

Pikiranku dipenuhi dengan hal itu, lalu aku menyadarinya.

Kamu terlalu menyeramkan, diriku! Apa sih yang sedang kamu lakukan!

Tapi, ini adalah situasi di mana aku berduaan di kamar gadis yang aku dambakan. Aku merasa seperti dorongan untuk melakukan sesuatu yang buruk berjalan dengan liar.

Benar, misalnya… seperti, ingin membuka laci ini.

Untungnya, atau tidak, di dekat pintu masuk kamar atau dengan kata lain di sebelahku, ada lemari putih. Hal yang benar-benar pribadi adalah…. Terus terang, sepertinya semua jenis kancut dimasukkan ke sana dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

Hentikan! Itulah satu-satunya hal yang tidak boleh dilakukan oleh manusia dan cowok!

Tapi…. Aku mau melihatnya….

Setelah mengalami konflik batin, akhirnya malaikat dan iblis yang ada di hatiku telah mencapai kesimpulan.

Pemenangnya adalah .. si Iblis.

“Cuma sedikit aja… ..!”

Aku meludahi alasan di mulutku karena rasa bersalah itu dan dengan cepat meletakkan tanganku di laci. Saat aku membukanya beberapa sentimeter, aku tanpa sadar mengangkat suara kekaguman.

“Whoah….”

Renda putih yang terlihat di mataku begitu indah sehingga tanganku berhenti.

Ini adalah…. kancut… .pribadi Shirakawa-san… ..!

Pada saat itulah aku mendongak ke atas, menikmati semua kebahagiaan karena bisa melihatnya.

“Maaf sudah lama menunggu.”

“Uwaah !?”

Aku sangat terkejut, dan itu tidak berlebihan, aku melompat beberapa sentimeter dari lantai. Pada saat yang sama, aku akhirnya menabrak laci yang sekarang terbuka.

“Aduh .. duh!”

Sial, aku belum menutupnya… ..!

“Hah? Lacinya kebuka? Maaf.”

Namun, bahkan tanpa mencurigaiku, Shirakawa-san mengalihkan pandangannya ke laci saat menyadari kalau laci itu sedikit terbuka. “Ah!”, Lalu dengan mata berbinar, Shirakawa-san meletakkan teh barley di tangannya di atas meja, dan meraih renda putih di dalamnya, mengeluarkannya.

“Hei, lihat ini.”

“….!?”

Apa yang mau kamu tunjukkan padaku !?

Saat aku membeku pada ajakannya, Shirakawa-san membukanya, dan menunjukkannya kepadaku tanpa ragu sedikitpun.

Voilá! Bukannya itu sangat lucu? Ini kamisol yang baru aku beli beberapa waktu lalu! Aku berpikir untuk memakainya saat memakai model baju dengan atasan terbuka.”

“….”

Saat aku melihat kamisol putih terbentang di hadapanku, aku diserang oleh perasaan kelelahan yang misterius.

“Ya-ya, terlihat bagus….”

Maksudku, bisa melihat pakaian polos Shirakawa-san saja sudah cukup menakjubkan tapi aku justru salah paham kalau itu pakaian dalamnya jadi aku tidak bisa menyangkal kalau aku sedikit kecewa.

Tapi kamisol yang terbuka…. Kamisol yang terbuka, ya….

Seperti yang diharapkan, tidak ada gunanya melihat sesuatu di kamar orang lain tanpa izin.

Aku bersumpah dalam hati untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi.

“Oke, ini tehnya.”

Dan Shirakawa-san memegang teh barley dengan kedua tangannya sekali lagi.

“Ayo, duduk, duduk.”

“Ah, ya, terima kasih….”

Aku ikutan duduk setelah berhasil menenangkan diriku.

Tapi duduk dimana?

Tidak ada furnitur seperti sofa atau kursi tanpa kaki di kamar ini. Ada yang terlihat seperti kursi meja belajar, jadi jika memang begitu, tidak ada pilihan selain duduk langsung di lantai kayu atau di kasur.

Kasur….

Hah, kasur !?

Ada kalanya kamu akan duduk di atas kasur ketimbang di sofa, ada juga saat di mana dua orang duduk berdampingan di atas kasur dan mengobrol santai tetapi…. ya, tapi, bukannya itu hal mustahil dalam situasi ini !?

Pemilik kamar ini adalah Shirakawa-san yang selalu aku impikan, dan gadis tercantik seangkatan, dan sungguh tak diduga menjadi “pacar”-ku.

Jika kita akhirnya duduk berdampingan di atas kasur, itu bakalan sangat gila.

“… .Ah, jadi begitu maksudnya?....boleh kok.”

Ketika Shirakawa-san melihatku masih belum duduk, Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi wajahnya menunjukkan suatu pemahaman.

“Oke. Apa kamu mau mandi dulu? Kamar mandinya ada di bawah jadi mau aku antar ke sana?”

“Eeh ?!”


Ap-Apa? Apa yang barusan dia katakan?

Jika kamu bilang sesuatu seperti mandi, imajinasi liarku akan semakin mengarah ke sisi itu….

Mungkin Shirakawa-san adalah orang yang sangat suka kebersihan dan hanya membiarkan tamu yang sudah mandi di kamarnya? Atau apa dia mengatakan secara tersirat kalau aku "bau"?

Uh-uh tunggu, Bukan itu, benar. Bahkan sebelumnya Shirakawa-san dengan santai berkata untuk duduk begitu…. Dan saat aku terus memikirkan omong kosong, Shirakawa-san sekali lagi, “Ah, jadi begitu?”, Membuat wajah seolah dia sedang memikirkan sesuatu.

“Apa Ryuuto tipe yang tidak perlu mandi?”

Eh? Ehhhh, tunggu, apa dia sedang membicarakan tentang itu?

Saat pikiranku sedang kacau balau, tindakan Shirakawa-san selanjutnya membuatku tercengang.

Shirakawa-san sekali lagi meletakkan gelas teh barley di atas meja kecil, dan menyentuh bagian dada dari seragamnya.

“Hari ini ‘kan ada pelajaran olahraga, aku mungkin sedikit bau, jadi rasanya agak memalukan….”

Sambil mengucapkan kata-kata itu, dia membuka kancing salah satu blus seragamnya. Dua kancing yang biasanya terbuka membuat rasa terbuka di dadanya sekarang menjadi tiga, menampakkan lebih banyak…. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari belahan lembah yang menunjukkan sekilas renda bra-nya, dan tanpa sadar aku menelan ludahku.

Ini .. jadi ini .. pakaian dalam asli Shirakawa-san (sedang dikenakan langsung)…. Tunggu,  gawat, jangan lihat, jika aku terus-terusan menatapnya, aku akan dikira seperti orang mesum!

Namun, tanpa mempedulikan konflik batinku, dia terus menyentuh kancing berikutnya dan membukanya tanpa ragu-ragu.

“Tungg— , Shirakawa-san !?”

Dan saat itulah aku akhirnya semakin yakin.

Setelah sejauh ini, pembicaraan tadi tidak lain dan tidak bukan pasti mengarah ke arah itu.

Pembicaraan tentang mandi tadi dan sebagainya. Dan apa yang dia katakan barusan. Itu hanya memiliki satu arti.

Bagaimana jika…. Tidak, perumpamaan tidak ada gunanya lagi di sini. Ini sudah .. tidak salah lagi. Betul sekali.

Dia mencoba melakukan sesuatu yang erotis…. denganku. Ini luar biasa.

Eh, tidak bercanda !?

Apa itu tidak apa-apa !?

Tak disangka aku bisa mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan perjaka yang suram ini, aku tidak pernah memikirkannya sampai sekarang.

Selain itu, aku tidak percaya bahwa pasanganku adalah Shirakawa-san.

Keberuntungan yang luar biasa…. Tidak, tunggu, tapi!

Apa dia beneran serius tentang ini !?

“Tu-Tunggu sebentar….!”

Karena mendengar suaraku yang terkejut, Shirakawa-san berhenti membuka kancing-kancingnya.

“Hmm? Apa ada masalah?”

Aku menelan ludahku, dan berbicara dengan Shirakawa-san yang tampak penasaran.

“Ap-Apa yang sedang….kamu…. lakukan?”

Sudah kuduga, ini masih terlalu dini. Tidak peduli seberapa tinggi puncak imajinasi liarku sebagai cowok, bahkan aku tidak pernah membayangkan perkembangan pesat yang seperti ini.

Sejujurnya aku tidak bisa mengikuti kecepatan ini.

Mungkin ada kesalahan di suatu tempat.

Aku harus mengkonfirmasi niat sebenarnya sebelum dia jadi salah paham.

“Apa, katamu …..bukannya kita mau berhubungan seks?”

Aku tertegun sampai tak bisa berkata apa-apa begitu mendengar jawabannya yang lugas.

Ap-Apa kamu serius !?

Seriusan !? Apa kamu baik-baik saja tentang ini !?

Saat aku masih dalam keadaan panik, Shirakawa-san menatapku dengan curiga.

“Eh? Maksudku, kamu tidak mau melakukannya?”

“Bukan itu masalahnya, tapi…. Eh? Eeh !? ”

Jadi tidak ada masalah!? Eh, tunggu, jika dia setuju dengan itu, maka aku juga mau, tapi, eh beneran nih!?

Apa kamu yakin tentang ini!?

Shirakawa-san melihatku dengan ekspresi kebingungan.

“Umm…. Bukannya ini masih terlalu cepat? Kamu bahkan tidak tahu namaku sampai beberapa saat yang lalu, kan? Dengan pasangan seperti itu…. apa Shirakawa-san .. tidak keberatan? ”

Aku sangat ingin melakukan hal-hal erotis. Aku berada di usia dimana aku ingin melakukan itu.

Lebih jauh lagi, pasangannya adalah Shirakawa-san yang aku dambakan. Aku sangat senang bisa melihat tubuh telanjang Shirakawa-san, yang pernah aku bayangkan dalam imajinasiku, di kehidupan nyata.

Tapi sekarang !?

Meski aku masih belum mempercayai kalau aku "pacaran" dengan Shirakawa-san.

Segala sesuatunya berjalan terlalu lancar, kebingunganku menguasai hasrat seksualku.

Apa yang sebenarnya dia pikirkan?

Aku sedang panik sekarang.

“Itu benar, tapi, sekarang kamu adalah pacarku, ‘kan?”

Shirakawa-san memiringkan kepalanya…. ini sangat berbahaya, dia terlalu manis!

“Me-Meski begitu…. Meski kamu masih belum tahu cowok apa aku ini, apa kamu beneran yakin? Bagaimana jika .. aku cowok brengsek? ”

“Hah?”

“Atau jika sebenarnya, aku ini orang yang sangat cabul atau semacamnya….”

“Eh, apa yang kamu bicarakan? Apa Ryuuto cowok yang cabul? ”

“Ti-Tidak, tidak kok! Ini cuma perumpamaannya saja. Maksudku, Shirakawa-san masih …… belum mengenal aku ini cowok macam apaan, ‘kan…. ”

“Eeh? Apa-apaan itu? Ngomongin filsafat?”

Shirakawa-san masih terlihat bingung.

“.... Selain itu, mau bagaimana lagi, ‘kan? Kamu adalah pacarku. Jika kita pikir itu tidak akan berhasil, apa pun yang terjadi, pilihannya adalah putus.”

Jadi begitu rupanya….

Untuk saat ini, aku memahami kalau pemikiranku dan Shirakawa-san tentang "hubungan" sangatlah berbeda.

Dalam sudut pandang Shirakawa-san: “Mencoba berpacaran dengannya dan melihat apakah hubungan itu bisa dilanjutkan atau tidak”.

Tapi, hubunganku dengannya…. cinta dengan seorang gadis cantik yang selalu kuimpikan, yang mungkin takkan pernah datang lagi dalam hidupku, aku ingin merawatnya dengan hati-hati, selangkah demi selangkah.

Aku baru saja menyadarinya.

“Eh, Ryuuto tidak mau melakukannya denganku? Bukannya para cowok hanya memikirkan hal-hal erotis saat mereka berdua dengan pacar mereka? ”

Ekspresi Shirakawa-san masih dipenuhi dengan teka-teki, dan dia menatapku dengan tatapan ragu. Segera setelah itu, dengan wajah serius,  dia tiba-tiba berkata, “Mungkin kamu ...”, dan menurunkan pandangannya, lalu fokus pada area resleting selangkanganku.

“.... Tidak, Bukan seperti itu!”

Ot*ngku selalu sehat setiap pagi, jadi jangan khawatir tentang itu!

“Aku tidak bermaksud begitu. Aku ingin menghargai hubungan kita…. Shirakawa-san adalah….pa-pacarku, ‘kan? ”

Aku sekali lagi tergagap pada saat yang genting. Aku merasa malu mengungkapkannya karena aku tidak biasa mengatakannya.

“Jika itu masalahnya, aku ingin melakukan hal-hal semacam itu pada waktu yang tepat, bagaimana cara bilanginnya ya….”

“Waktu yang tepat….?”

Shirakawa-san mengerutkan alisnya.

Kenapa!? Kenapa dia memasang ekspresi semacam itu?

Malahan, bukannya peran kita .. justru terbalik dalam hal ini? Gadis-gadis biasanya ingin menjaga hubungan, dan cowok ingin melakukannya secepat mungkin. Itulah yang biasanya terjadi.

Saat aku memikirkan itu, tiba-tiba, sebuah keraguan muncul di benakku.

“… Umm… apa Shirakawa-san saking ngebet kepengen……melakukannya?”

Aku jadi membayangkan itu, bagaimana jika dia adalah seorang gadis yang lebih menyukai seks ketimbang cowok, dan ada sesuatu yang membakar jauh di dadaku. Pacarku adalah gadis yang mesum…. apa yang harus kulakukan. Aku ingin tahu apakah tubuhku bisa bertahan…. Dan napasku hampir berubah menjadi liar.

Namun, seolah-olah menghalangi delusiku, kerutan di antara alis Shirakawa-san sedikit mengendur.

“Eh? Hmmm….? ”

Wajahnya terlihat seperti sedang terganggu karena sesuatu.

“Aku tidak pernah berpikir apakah aku ingin melakukannya atau tidak. Aku bingung bagaimana menjelaskannya? Kewajiban, atau lebih tepatnya…. Aku pikir itu adalah sesuatu yang kamu lakukan saat berpacaran dengan seseorang. Jika si gadis tidak mengizinkan pacarnya melakukannya, Ia mungkin akan berpaling ke gadis lain, ‘kan?” [TN : My kokoro~ entah kenapa ngerasa jleb :’( ]

Saat aku mendengar itu, perasaan nakalku menjadi sedikit depresi.

Lalu, aku jadi teringat apa yang dia katakan beberapa waktu lalu.

── Bukannya para cowok cuma memikirkan hal-hal erotis saat berduaan dengan pacar mereka??

Dan kemudian, kalimat yang dia katakan saat kami berdua berjalan menuju ke stasiun.

──Kamu pikir aku sudah bosan dan mencampakkan mereka, ‘kan? Justru sebaliknya! Ketika aku berpacaran dengan seseorang, aku sangat setia! Jika ada cowok lain menembakku, aku langsung menolaknya karena sudah punya pacar

Aku tidak terlalu memperhatikannya saat itu, tapi itu berarti pacar Shirakawa-san kehilangan minat padanya dan mencampakkannya?

Untuk sesaat, aku pikir itu hal yang tidak masuk akal. Tapi...

Sebagai sesama cowok, bukannya aku tidak bisa memahami perasaan mantan pacar Shirakawa-san.

Jika kamu bisa bercinta dengan mudah pada hari pertama kamu mulai berpacaran dengan seorang gadis, mungkin kamu akan segera kehilangan minat, dan mulai melirik gadis-gadis lain. Tidak seperti aku, cowok yang hanya bisa menembak Shirakawa-san karena dipaksa untuk menepati janji, mereka mungkin adalah cowok ganteng yang ceria dan penuh percaya diri.

“….”

Entah bagaimana, aku mulai marah.

Shirakawa-san bukanlah gadis yang ingin berhubungan seks karena dia menyukai seks, tapi dia adalah seorang gadis yang selalu menduga-duga, dan mengijinkan pacarnya untuk berhubungan seks dengannya. Setidaknya, sejauh ini dia tampaknya selalu seperti itu.

Jika kamu gampang melakukan seks, dan setelah semua itu, mulai tidak tertarik lagi padanya, dan mencampakkannya. Bukannya itu tidak jauh berbeda dengan mengincar tubuhnya doang?

“.... Jadi, hari ini kita tidak berhubungan seks?”

“Eh?”

Aku sedang memikirkan berbagai hal, dan aku hampir terkejut saat Shirakawa-san mulai berbicara denganku.

“Umm, yah….”

Aku ingin melakukannya.

Sejujurnya, aku sangat mau. Pasti maulah, mana ada cowok yang tidak mau.

Tapi, jika kita melakukannya di sini dan sekarang….

Pada akhirnya, aku sama saja seperti mantan pacarnya, ‘kan….

Ya, aku memang ingin melakukannya!

Aku tidak tahu apakah kesempatan seperti ini bakalan datang dua kali. Shirakawa-san bisa saja berubah pikiran dan berkata “Aku tahu, ayo kita putus”.

Aku mau, aku kepengen melakukannya. Aku ingin berhubungan seks!

Tapi, ini pengalaman pertamaku, jadi aku tidak yakin apakah aku bisa melakukannya dengan baik…. Jika aku menyeret sejauh ini untuk berhubungan seks, dan bingung pada saat dibutuhkan, dia akan kecewa dan membandingkanku dengan mantan pacarnya, ‘kan. Jika aku ditertawakan, aku pasti takkan pernah pulih dari sakit hati…. Tidak, menurutku Shirakawa-san bukanlah gadis seperti itu, tapi….

Jika sudah begini, aku tidak punya kelonggaran untuk bilang aku akan melakukannya sampai akhir. Shirakawa-san bisa tetap memakai bajunya dan jika aku bisa meminjam tangannya sebentar maka…. tungg—, itu salah! Apa sih yang sedang kamu pikirkan, diriku! Pikiranku dikuasai oleh hasrat seksualku dan mulai menjadi aneh.

Aku berbeda dari mantan pacarnya.

Kamu ingin menunjukkannya melalui perbuatan, bukan?

Kalau begitu, tidak ada jawaban lain selain hanya satu jawaban untuk dipilih, ‘kan….

“….Sepertinya begitu…. mending jangan… melakukannya hari ini.”

Aku mengatakan itu sambil meneteskan air mata darah di hatiku.

“Fuun?”

Shirakawa-san memiringkan kepalanya dengan wajah penasaran merupakan hal termanis yang pernah aku lihat, dan aku sangat menyesali keputusanku begitu aku mengatakannya.

 

◇◇◇◇

 

Lima menit kemudian, aku berjalan-jalan dengan Shirakawa-san.

Saat berada di kamarnya, aku menjadi terlalu grogi dan tidak bisa berbicara dengannya secara normal, jadi aku mengajaknya untuk pergi keluar.

Saat kami berjalan tanpa tujuan di lingkungan sekitaran rumahnya, Shirakawa-san tiba-tiba bergumam.

“Ryuuto , kamu itu cowok yang serius sekali, ya.”

Aku menoleh ke arahnya dan mencoba membaca emosinya, dan merasa lega untuk saat ini karena tidak ada tanda-tanda kekecewaan maupuan ejekan di wajahnya.

Meski aku sudah menyesali kalau aku tidak bisa berhubungan seks dengannya, tapi jika dia menatapku dengan mata dingin, hal itu akan menjadi pukulan mematikan bagiku.

“Menurutku, ini pertama kalinya aku punya pacar seperti Ryuuto.”

Demi membalas gumaman monolognya, aku membuka mulutku dengan takut-takut dan bertanya.

“… .Apa itu, dalam artian yang buruk?”

“Nah, bukan begitu maksudku.”

Shirakawa-san menatapku dan menggelengkan kepalanya.

“Aku tahu ada juga cowok yang seperti itu.”

Wajahnya yang tersenyum dengan sudut mulutnya yang tersungging masih tetap imut bahkan di bawah malam yang redup di luar ruangan.

Melihatnya seperti itu membuatku berpikir bahwa keputusanku sebelumnya bukanlah keputusan yang salah.

Tidak, yah, aku sebenarnya sangat ingin melakukannya sih….

“Umm…. Shirakawa-san. Aku .. sebenarnya …. ”

Aku pikir itu cuma masalah waktu saja sebelum dia mengetahuinya, jadi aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Baru pertama kali… berpacaran dengan seorang gadis.”

Mata Shirakawa-san sedikit melebar. Aku tahu, ini mungkin pola yang belum pernah dia lihat pada mantan pacarnya.

“Aku juga tidak punya teman gadis yang dekat denganku, jadi sesuatu seperti, berpaling ke gadis lain jika aku tidak bisa melakukannya denganmu…. Hal itu takkan pernah terjadi. Itu sebabnya…. ”

Karena isi topiknya, aku takut membicarakannya di luar ruangan, jadi nada suaraku kayak berbisik.

“Saat kita melakukan hal begituan di masa depan, aku ingin Shirakawa-san benar-benar berpikir kalau kamu 'mau' melakukannya denganku juga, err maksudku….”

Dia mungkin menertawakan keperjakaanku, tapi aku ingin bermesraan dengannya juga, dan terhubung dengannya sebagai dua kekasih yang tulus.

Aku selalu membayangkan, memimpikannya dari lubuk hatiku, bila suatu hari nanti, aku akan dapat menjalani hari seperti itu dengan seorang gadis yang aku cintai.

Aku hampir kehilangan diri dan menjadi liar tadi, tetapi aku senang bisa tetap menjaga kewarasanku.

“Setidaknya, aku tidak ingin kamu menganggapnya sebagai kewajiban atau semacamnya.”

Aku berhasil mengatakannya.

Aku bisa mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan dengan benar di kamarnya.

“….Begitu. Jadi itu yang kamu maksud.”

Setelah beberapa saat, Shirakawa-san mengatakan itu dan menatapku. Wajahnya tampak segar, seolah-olah terlepas dari ketidakpastian di hatinya.

“Ak-Aku minta maaf…. Meski Shirakawa-san bersedia…. melakukannya untukku.”

“Tidak masalah. Aku mengerti apa yang Ryuuto pikirkan ”

Mengatakan itu dengan gaya humornya yang baik, Shirakawa-san melihat ke depan. Tapi kemudian dia dengan santai menyapa, “selamat siang”, kepada seorang bibi yang datang dari depan, berjalan dengan tas belanja di tangannya. Aku belum pernah melihat wajah tetanggaku sebelumnya, jadi aku terkesan dengan ini.

Menurutku dia gadis yang sangat baik. Aku yakin dia disayangi oleh orang tua dan neneknya, dan dibesarkan dalam lingkungan yang sangat santai…. Itulah yang kubayangkan, dan aku mau tidak mau merasa rileks

Ah, dengan seorang gadis cantik dan imut seperti dirinya, bagaimanapun juga aku ingin berhubungan seks dengannya…. Yah, aku sudah menyesalinya tapi tetap saja….

“Jadi, jika aku ingin berhubungan seks dengan Ryuuto….”

Karena Shirakawa-san mulai membicarakan hal itu, aku terkejut dan mengecek di belakangku. Kami baru saja berpapasan dengan tetangganya.

Melihat reaksiku, “Kamu terlalu parno”, Shirakawa-san mengatakan itu dan tersenyum lucu. Shirakawa-san kemudian menatapku dengan mata menengadah.

“Pada saat itu terjadi, kamu tidak keberatan jika aku memanggil Ryuuto, kan?”

“Ya-ya, tentu….”

Aku berdoa semoga "Pada waktu itu" tidak terlalu jauh atau alangkah baiknya jika aku melakukannya lebih awal, itulah yang aku pikirkan tetapi karena tidak bagusnya juga untuk terburu-buru, aku jadi tidak dapat mengatakannya.

“Oke!”

Shirakawa-san menjawab dengan riang, dan tersenyum dalam suasana hati yang baik.

“Dan pada saat itu, mungkin, hubungan kita bisa menjadi hubungan yang 'beneran', dan bukan yang 'murahan'.”

Aku terkejut diberitahu ini. Aku sudah cukup mencintai Shirakawa-san tapi, apa aku boleh…. mempercayai akan tiba saat dimana dia juga akan mencintaiku dan kita bisa bermesraan seperti pasangan pada umumnya?

Aku sangat bersyukur masih hidup.

Tidak kusangka akan ada hari dimana Shirakawa-san mengatakan ini padaku, aku merasa sangat senang karena sudah dilahirkan….!

Setelah berjalan-jalan sebentar, aku mengantar Shirakawa-san lagi sampai rumah, dan di depan pintu dia berbicara sambil tersenyum.

“Tidak langsung berhubungan seks, mungkin ada bagusnya juga. Aku pikir, ini pertama kalinya aku merasa segembira ini.”

Karena itu, pada diriku yang terlalu gugup untuk mengatakan apapun, Shirakawa-san melambaikan tangannya dengan senyuman yang sangat manis.

“Mulai hari ini tolong jaga aku ya, oke. Pacarku! ”

 

◇◇◇◇

 

Lalu, setelah sampai ke rumah dan berbaring di atas kasurku.

“Aku tahu, aku harusnya meladeninyaaaaaaa ~~ Uuuoooooooh─────!”


Shirakawa-san tidak mengetahui kalau aku merasa sangat menyesal sampai-sampai membuatku jingkrak-jingkrak tidak karuan di atas kasur karena sudah menolak ajakannya.

 


<<=Sebelumnya   |   Selanjutnya=>>

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama