Roshi-dere Vol.2 Chapter 03 Bahasa Indonesia

Chapter 3 — Boleh Aku Nambah Lagi…?

Catatan : Chapter ini terjemahan langsung dari raw JP, mohon kritik dan saran dari para pembaca sekalian jika ada kalimat aneh/ambigu/rancu.

Catatan Tambahan :

[  ] = Alisa ngomong pakai bahasa Rusia

(  ) = Monolog Masachika/Alisa/ Yang lain tergantung warna

“(  )” =  bisik-bisik

=======================================================

“Mengenai tadi….maafin, ya? Karena mendengar suara cowok yang tidak kukenal, jadi kupikir orang-orang dari klub bisbol dan klub sepak bola kembali lagi ke sini, tahu.”

Orang yang mengatakan itu sambil tersenyum kaku ialah ketua geng preman …..alias, seseorang yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS, Sarashina Chisaki.

Masachika yang duduk di hadapannya, juga sedikit mengendurkan bahunya saat melihat wakil Ketua OSIS meminta maaf dengan menyatukan kedua tangannya di depan wajah sembari mengedipkan satu mata.

“Haa….etto, memangnya mereka melakukan sesuatu?”

“Hmm? Bukannya kamu sendiri yang jauh lebih tau?”

“Eh?”

Saat Masachika memiringkan kepalanya dengan kebingungan, Chisaki menatap Alisa yang duduk di sebelah Masachika dan berkata,

“Kouhai-ku yang imut pergi ke sana untuk menengahi permasalahan mereka, tapi mereka justru tidak mau mendengarkannya dan terus saja berdebat. Perilaku mereka yang begitu sama saja ngajak berantem dengan OSIS, iya ‘kan? Jadi, yah, aku membung….. maksudnya, memberi mereka peringatan!”

Tadi, kamu mau bilang membungkam, iya ‘kan?

Mengesampingkan pertanyaan yang muncul di benaknya, Masachika membalas sembari menatap pedang kayu yang tergeletak di sebelah Chisaki.

“…Jadi begitu ya. Tapi tetap saja….bukannya terlalu berlebihan sampai mengeluarkan pedang kayu segala?”

“Eh? Aah ini sih….Ahahaha.”

Kemudian, Chisaki balas menatapnya dengan tatapan tidak nyaman, dan berkata dengan nada ceria yang dipaksakan.

“Ja-Jangan khawatir! Meski pukulan tanganku bisa membunuh orang, tapi mana mungkin pedang kayu bisa membunuh orang!”

“….Be-Begitu ya?”

“Ya. Karena pedang kayunya patah duluan sebelum mematahkan orang!”

“Ahahaha…”

“Haha….ah, ya”

Chisaki tampaknya menyadari kalau omongannya sedikit keceplosan dan memalingkan pandangannya dengan senyum kaku saat melihat tawa kering Masachika.

Yah, Jika Yuki yang memberitahu hal ini, Masachika juga pasti akan membalas “Jangan khawatir dengkulmu?!” dengan nada bercanda…. Tapi dalam situasi ini, Ia tidak bisa menertawakannya karena diberitahu oleh Chisaki. Atau lebih tepatnya, Ia tidak bisa menjadikannya sebagai candaan.

Sarashina Chisaki. Dia adalah salah satu dari dua gadis tercantik di kalangan anak kelas 2, dan meski ditakuti oleh beberapa cowok, dia sangat populer di kalangan murid perempuan sebagai salah satu gadis keren di sekolah.

Julukannya ialah “Donna, Mother of the School”. Pada awalnya dia dipanggil sebagai “Donna”, tapi setelah Maria, si ‘Madonna Sekolah,’ masuk ke sekolah ini tahun lalu, julukan tersebut diberikan pada Maria. Dia merupakan mantan ketua komite kedisiplinan SMP dan sekarang menjabat sebagai wakil ketua OSIS, dia biasanya bertanggung jawab dalam mengkoordinasi komite kegiatan klub yang anggotanya terdiri dari ketua dan wakil ketua setiap klub.

(Aku dengar kalau ada beberapa gadis yang memanggilnya “Onee-sama”, sedangkan beberapa anak cowok ada yang memanggilnya “Ane-san”…. Jadi  begitu ya)

Masachika mengingat kembali wajah ketakutan para anggota klub bisbol dan klub sepak bola, lalu penampilan Chisaki yang sedang marah. Ia jadi yakin kalau “tadi itu benar-benar Ane-san[1]

Dulu, dia menyelesaikan masalah pembullyan di kelasnya dengan kekuatan tinjunya saja, atau dia melawan dan mengalahkan sekelompok berandalan yang berbuat onar di festival sekolah, atau dia pernah menghentikan sapi mengamuk yang akan menyerang siswa dengan tangan kosong saat jalan-jalan sekolah di Hokkaido.

Dia mempunyai banyak pencapaian, tapi kisahnya yang paling terkenal mungkin saat dimana Chisaki menyelamatkan siswi Akademi Seirei yang akan diculik saat  meninggalkan sekolah.

Meski cerita lain yang mengenai dirinya banyak diragukan, tapi cuma cerita ini saja yang kebenarannya tidak perlu ditanyakan lagi. Karena pada saat itu, pihak kepolisian sampai memberinya piagam penghargaan. Dia bahkan sampai muncul dalam berita koran.

Jadi bila dilihat dari latar belakang kisahnya serta situasi yang barusan terjadi, tak diragukan lagi kalau dia adalah Ane-san yang menggunakan kekerasan sebagai mata pencahariannya…..atau Masachika pikir orangnya begitu, tapi melihatnya gelisah karena tatapan dua Kouhai-nya, sepertinya dia tidak seseram yang dirumorkan.

“Uuu~~…Touya~”

Mungkin karena dia tidak tahan dengan suasana yang canggung dan kaku ini, Chisaki merengek meminta bantuan pacarnya, Touya.

Menanggapi permintaan bantuan pacarnya, Touya yang sedang duduk di kursi Ketua OSIS dengan membelakangi jendela, membuka mulutnya sambil sedikit tersenyum.

“Yah, jangan terlalu kaku begitu, Kuze. Chisaki tidak melakukan kekerasan apa-apa terhadap mereka. Dia cuma mengancam mereka dengan ancaman kekerasan.”

“Hei, Touya~!?”

“Cuma bercanda kok”

Touya tertawa nakal pada Chisaki yang membelalakan matanya dengan kaget. Saat Chisaki menyadari kalau dia habis diejek, dia mulai berdiri dari tempat duduknya, berjalan cepat mengitari meja dan mulai menepak-nepak bahu Touya.

“Mou! Mou! Mou!”

“Hahaha, maaf, maaf.”

Masachika juga ikut tertawa saat melihat pertengkaran menggemaskan antara sepasang kekasih tersebut.

“Astaga, mou!!”

“Haha, Chisaki? Bahuku bakalan patah kalau kamu memukulnya sekeras itu.”

Menggemas….kan? Tidak, barusan saja bahu Ketua mengeluarkan suara yang sedikit gawat.

Bukan hanya suara retak saja, melainkan ada suara dentuman yang kedengarannya seperti memukul bagian dalam tubuhnya.

Dan setiap kali suara itu terdengar, tubuh kekar Touya bergetar. Masachika melihat sisi kejantanan Touya yang tersenyum dan tetap berusaha menghibur pacarnya.

“Maafin aku~, apa aku sedikit terlambat?”

Pada saat itulah, Maria memasuki ruangan OSIS. Ketika dia membuka pintu, matanya berkedip kaget saat melihat Touya dan Chisaki, dan menunjukkan senyum sedikit getir pada mereka.

“Ara ara~, Chisaki-chan, Ketua. Bermesra-mesraan di ruang OSIS-nya jangan terlalu berlebihan, oke?”

Masachika secara alami menatap Maria yang mampu mengakhiri adegan yang sedikit kejam ini dengan kalimat “bermesra-mesraan”.

Tapi sepertinya kalimat tersebut sangat efektif untuk Chisaki, yang mengatakan “Si-Siapa juga yang bermesra-mesraan!” [2]dan menjauhkan diri dari Touya, lalu dia menatap Touya, yang sedang mengelus-elus bahunya, dengan tatapan khawatir seolah-olah baru saja tersadar dengan perbuatannya.

“Ma-Maaf ya? Apa itu sakit?”

“Hmm? Ah, tidak apa-apa kok. Kebetulan saja bahuku lagi kaku, jadi aku tidak merasa sakit atau semacamnya.”

Touya tertawa dan meregangkan otot bahunya sambil mengedutkan pipi karena menahan sedikit rasa sakit. Karena terlalu banyak menunjukkan sisi kejantanannya, Masachika mau tidak mau merasa kagum padanya. 

“Aku benar-benar minta maaf…..karena tidak bisa mengendalikan tenagaku dengan baik.”

“(Memangnya kamu ini dari suku barbar mana?!)”

“Tenang saja, aku baik-baik saja, kok. Itulah sebabnya aku sering melatih tubuhku. Kamu boleh memukul sepuasnya”

“(Sampai rela melatih tubuh demi pacarnya)”

“Touya….”

“(Eh? Kenapa suasanya tiba-tiba berubah dengan nuansa pink dan manis begini?)”

Alisa menarik siku Masachika yang melakukan tsukkomi dengan berbisik.  Saat Ia berbalik, Ia melihat Alisa dengan ujung mulutnya berkedut sembari menggelengkan kepalanya.

Masachika menertawai tatapan mencela Alisa dan berkata sambil menunjuk ke arah Chisaki melalui bahunya.

“(Naa, apa Sarashina-senpai mendapat panggilan ‘Ane-san’ karena berpenampilan begitu?)”

“(Kenapa kamu berpikiran begitu?)”

“(Tidak, jika aku berpenampilan begitu, aku akan menjadi Sarashina-senpai)”

“Kufufu~~~~~!!”

Alisa tertawa ringan tanpa sadar, dan setelah itu, dia menepak tangan Masachika dengan pipi memerah karena malu.[3] 

“Ara ara~, kelihatannya kalian akrab sekali, ya~”

“Akrab darimana coba?”

“Hmm, sepertinya hal itu tidak bisa disembunyikan dari kakakmu, ya? Tentang keakraban kita ☆”

“Berisik”

Saat Alisa membalas dengan judes Masachika yang mengatakan kalimat memalukan sambil mengedipkan mata dengan payah, terdengar suara ketukan dari pintu ruang OSIS, dan kali ini Yuki yang masuk.

“Permisi. Aku minta maaf karena datang terlambat.”

“Hmm, yah, jangan khawatirkan itu, Suou.”

Touya mengatakan itu sambil berdiri dari meja khusus Ketua OSIS, dan pindah ke meja yang sama dengan Masachika serta anggota OSIS lainnya.       

Ia lalu duduk di bagian ujung meja jika dilihat dari sisi pintu. Dari sana, Maria, Alisa dan Masachika berada di sebelah kanan. Sedangkan di sebelah kiri, ada Chisaki dan Yuki yang duduk berdampingan. Kemudian, setelah semuanya duduk di tempat masing-masing, Touya mulai membuka bibirnya.

“Baiklah, karena semuanya sudah ada di sini, mari kita mulai rapat OSIS-nya.”

“““““Mohon kerja samanya.”””””

“Kalau begitu, Kuze. Apa kamu bisa memperkenalkan dirimu sekali lagi?”

“Iya”

Masachika berdiri dari tempat duduknya setelah diminta Touya.

“Namaku Kuze Masachika. Dalam kesempatan kali ini, Aku ikut bergabung menjadi bagian dari OSIS dan bertanggung jawab dalam Urusan Umum. Hobiku adalah hobi otaku secara umum. Kupikir aku lumayan tahu mengenai anime dan manga yang terkenal. Terus….”

Setelah jeda sejenak, Ia melirik ke arah Alisa yang duduk di sebelahnya, dan membuat pernyataan,

“Tahun depan nanti, Aku berencana ikut mencalonkan diri dalam pemilihan ketua OSIS bersama Kujou Alisa yang ada di sini. Senang bertemu dan mulai sekarang mohon bantuannya.”

“Iya, senang bertemu denganmu.”

“Sama-sama, senang bertemu juga~”

“Senang bertemu denganmu juga~?”

Masing-masing Senpai membalas dengan senyuman dan memberi sambutan tepuk tangan yang hangat. Dan kemudian, Yuki juga ikut memberikan tepuk tangan seraya menyunggingkan bibir dengan emosi yang tak bisa terbaca, serta Alisa, yang menatap Yuki dengan ekspresi semacam itu.

“Kalau begitu, apa kamu ingin anggota lain memperkenalkan diri mereka juga? Mumpung sekalian.”

Touya melihat ke sekeliling anggota OSIS lainnya dan setelah memutuskan kalau tidak ada yang keberatan, Ia lalu menoleh ke Masachika.

“Aku Kenzaki Touya selaku Ketua OSIS tahun ini. Belakangan ini hobiku melatih otot. Senang bisa bekerja sama denganmu, Kuze.”

“Namaku Sarashina Chisaki dan menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS. Kalau hobi…Kendou[4] mungkin? Senang bisa bertemu denganmu.” 

“ Aku Kujou Maria yang menjabat jadi Sekretaris. Hobiku mungkin mengoleksi barang-barang imut. Ah, kalau manga yang bergenre Shoujo aku tahu banyak, loh? Senang berkenalan denganmu~”

“Aku Suou Yuki dari bagian Humas. Hobiku adalah bermain piano dan merangkai bunga. Aku sangat menantikan untuk bisa bekerja sama denganmu lagi, Masachika-kun.”

“Kujou Alisa dari bagian Bendahara. Hobiku membaca. Senang bertemu denganmu juga.”

Setelah sesi perkenalan diri selesai Masachika juga membungkuk ringan ke arah anggota lainnya.

(Tetap saja, rasanya sungguh menakjubkan melihat mereka semua berkumpul seperti ini)

Tanpa sadar Ia merasa kagum dengan para anggota lainnya. Terlebih lagi, perbedaan paras wajah anggota perempuannya. Hal ini mungkin belum pernah terjadi selama sejarah panjang Akademi Seirei.

Apalagi wajah mereka semua mempunyai daya tariknya tersendiri. Jika mereka difoto dan foto tersebut dikirim ke stasiun TV, mereka mungkin akan diwawancai sebagai “Anggota OSIS yang terlalu cantik”.

“Kalau begitu Kuze. Untuk sementara, apa kamu bersedia bekerja dengan Kujou-Ane hari ini?”

“Iya”

“ Maaf ya. Tapi, karena kamu pernah menjabat sebagai wakil ketua OSIS pas SMP, kamu pasti akan segera terbiasa. Tapi untuk sementara dulu, kamu ikuti anggota yang lain dan mengingat pekerjaanmu.”

“Apa jangan-jangan Ketua masih kekurangan orang?”

“Ya kalau boleh jujur, kita memang kekurangan orang. Berkat itu, kita masih belum bisa membagi sepenuhnya tugas dari masing-masing posisi yang sudah ada.”

“Biasanya bagian sekretaris dan bendahara memang harus ditangani banyak orang sih…. Jadi, ya, aku tidak keberatan. Bagian Urusan Umum tidak jauh berbeda dengan tukang bantu-bantu. Lagipula, aku sudah terbiasa melakukannya saat masih kelas satu SMP ketika baru jadi anggota OSIS.”

“Oh, kalau itu sih bikin lega”

Yuki lalu tiba-tiba memanggil Touya yang sedang dalam suasana hati bagus.

“Aku minta maaf karena sudah menyela pembicaraanmu, Ketua. Aku berencana menemui anggota klub seni untuk mendiskusikan perihal pameran yang akan mereka adakan.”

“Hmm? Ah, aku serahkan masalah itu padamu”

“Iya, ngomong-ngomong…..karena aku juga ingin mendiskusikan masalah anggaran dan lainnya, jadi aku ingin mengajak Alya-san untuk ikut denganku.”

“Eh?”

Alisa mengedipkan matanya dengan kaget saat tiba-tiba diminta menemani Yuki.  Tapi, mungkin karena dia merasakan sesuatu dari ekspresi Yuki, jadi dia langsung mengangguk dengan ekspresi serius.

“….Aku mengerti. Kalau begitu, aku izin pergi sebentar.”

Kemudian, mereka berdua pergi meninggalkan ruangan OSIS.

(…..Sepertinya, ini bakalan terjadi sesuatu)

Perasaan cemas muncul sekilas di hati Masachika saat melihat punggung mereka berdua.  Akan tetapi, perasaan tersebut dengan cepat menghilang oleh suara lembut yang sepertinya tidak memiliki kekhawatiran apapun.

“Baiklah~ kalau begitu Kuze-kun sebelah sini ya~ Ayo kemari~”

Maria tersenyum dengan memancarkan aura penyembuhan yang luar biasa sembari menepuk-nepuk kursi yang tadinya diduduki Alisa. Masachika lalu pindah tempat duduk sembari tersenyum pahit pada panggilan yang mengalihkan perhatiannya.

 

◇◇◇◇

[Sudut Pandang Alisa]

Alisa berjalan mengikuti di belakang Yuki menyusuri koridor sekolah.

Yuki memintanya supaya ikut bersamanya dengan dalih menemaninya dalam pertemuan di klub seni, tapi Alisa bukanlah orang bodoh yang begitu saja mempercayai alasan itu.

Pasti ada alasan lain mengapa Yuki meminta dirinya untuk ikut, dan Alisa samar-samar mengetahui alasan tersebut. Tapi, dia tidak merasakan ada tanda-tanda kalau Yuki mau memulai pembicaraan.

(Benar juga….Akulah yang seharusnya memulai pembicaraan ini)

Setelah berpikir sejenak dan membuat keputusan, Alisa mulai memanggil Yuki yang berjalan di depannya.

“Yuki-san, bisa kita bicara sebentar?”

Seperti yang diduga, tidak ada ekspresi terkejut di wajah Yuki saat dia berbalik menghadap Alisa. Yuki tersenyum tenang dan menanggapi perkataan Alisa dengan mengangguk, dia lalu menoleh ke samping dan menatap ruang kelas kosong yang ada di dekatnya.

“Iya, aku tidak keberatan, kok. Daripada berbicara di sini, bagaimana kalau kita membicarakannya di kelas kosong yang di sana?”

“Baiklah”

Yuki memasuki kelas yang kosong terlebih dahulu, dan Alisa mengikuti di belakangnya sembari menutup pintu. Mereka berdua saling berhadapan di ruang kelas kosong yang diterangi sinar matahari terbenam. Setelah suasana hening yang singkat, Alisa memulai pembicaraan.

“Aku memutuskan untuk ikut dalam pemilihan ketua OSIS bersama Kuze-kun.”

Alisa menyatakannya dengan jelas sembari menunjukkan ekspresi seolah-olah dia menantang Yuki. Dan Yuki mengangguk sambil masih tersenyum seperti biasa.

“Iya, aku sudah tahu. Kemarin aku mendengarnya langsung dari mulut Masachika-kun.”

“….begitu ya.”

Alisnya berkedut sejenak ketika mendengar balasan Yuki, tapi dia berhasil menjawab dengan suara kecil sambil menganggukkan kepalanya. Yuki memiringkan kepalanya ke arah Alisa yang tiba-tiba langsung diam.

“Uhmm, apa cuma itu saja yang ingin dibicarakan?”

“...... Ya. Aku takkan meminta maaf, karena aku merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku hanya ingin membuatnya lebih jelas melalui mulutku sendiri.”

“Fufufu, jadi begitu rupanya.”

Tergantung dari pendengarnya, kata-kata Alisa terdengar seperti dia sedang mengajak berkelahi, tapi Yuki cuma tersenyum seakan baru saja mendengar sesuatu yang lucu.

“Ya, kamu memang tidak perlu meminta maaf segala, iya ‘kan? Karena itu semua pilihan Masachika-kun sendiri.  Aku takkan mengeluh mengenai hal itu, dan aku juga takkan mengeluh pada Alya-san.”

Setelah menyatakannya dengan begitu jelas, Yuki tertawa kecil dan bergumam “Meski sangat disayangkan karena Ia tidak memilihku, sih”. Alisa mendapati dirinya bertanya saat melihat senyum tipis Yuki.

“Yuki-san, apa kamu……ke Kuze-kun…..”

“Hmm?”

“… Tidak, bukan apa-apa.”

Segera setelah mengatakannya, Alisa menyesal karena sudah bertanya begitu dan menarik kembali pertanyaannya. Akan tetapi…..

“Aku mencintainya kok. Lebih dari siapapun di dunia ini.”

“Uh-!!?”

Alisa terkejut saat mendengar jawaban tanpa ragu-ragu dan ekspresi lugas yang ditunjukkan Yuki.

“……Le-Lebih dari siapapun?”

“Iya. Lebih dari ibuku, lebih dari Ayahku, dan lebih dari siapapun di dunia ini. Aku sangat mencintai Masachika-kun.”

Tanpa merasa ragu maupun malu, Yuki terang-terangan mengungkapkan cintanya kepada Masachika. Pengakuan cintanya yang begitu tulus membuat Alisa melangkah mundur tanpa sadar. Seolah-olah memanfaatkan keadaan panik Alisa, Yuki dengan cepat balik bertanya.

“Kalau Alya-san bagaimana?”

“Eh?”

“Aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu terhadap Masachika-kun?”

“Ak-Aku…..”

Alisa ingin membalas secara refleks kalau Ia cuma teman, tapi dia langsung memalingkan pandangannya dari tatapan lurus Yuki. Setelah pengakuan Yuki yang begitu lugas dan jujur, Alisa merasa ragu apa jawaban klise seperti itu sudah cukup atau tidak.

“Kuze-kun adalah…..temanku……te-teman yang sangat berharga.”

Alhasil, Alisa berhasil mengucapkan kata-kata itu sambil memalingkan mukanya dan tersipu. Sesaat kemudian, Alisa merasa punggungnya terasa panas dan menggeliat….tapi bukan Yuki namanya kalau dia merasa puas dengan jawaban sebatas itu.

“Apa kamu menyukainya?”

“Eeeehh!?”

Alisa langsung melihat lurus ke depan sembari berteriak dengan suara aneh. Yuki segera menutup jarak dan menatap wajahnya.

Dia tanpa sadar melangkah mundur, tapi Yuki tetap berusaha menutup jarak di antara mereka.

Tanpa disadari, Alisa sudah benar-benar terpojok saat punggungnya menyentuh pintu kelas. Ada perbedaan tinggi 20 cm antara Yuki yang mungil dan Alisa yang berbadan tinggi, dan pada jarak ini, Yuki benar-benar menatap lurus ke arah Alisa. Tapi berbanding terbalik dari perbedaaan itu, justru Alisa lah yang merasa kewalahan.

“Jadi bagaimana? Apa kamu menyukainya?”

“Suka….atau semacamnya, masalah itu ….”

“Aku sudah memberitahumu kalau aku mencintainya! Jadi, Alya-san juga harus menyatakannya dengan jelas!”

“Uh, uuu~…”

Pertanyaan Yuki yang tak henti-hentinya membuat otak Alisa menjadi terlalu panas, karena dia tidak terbiasa berbicara mengenai masalah percintaan.

Akibatnya, tanpa bisa berpikir jernih, dia mulai membuka mulutnya karena didesak oleh rasa persaingannya terhadap Yuki dan perasaan tidak mau kalah.

“Aku tidak tahu apa aku me-menyukainya…..atau tidak….tapi! Aku takkan menyerahkan Kuze-kun padamu!!”

Mendengar teriakan tak terduga, Yuki mengedipkan matanya perlahan dan mulai menjauhkan dirinya dari Alisa.

“….Jadi begitu, ya. Fufufu, untuk saat ini, aku sudah cukup puas mendengar perkataan tadi.”

Usai tertawa terkikik sebentar, Yuki mendesak Alisa dengan senyum lembutnya yang biasa.

“Kalau begitu, ayo pergi ke ruangan klub seni. Kita tidak boleh membuat mereka menunggu terlalu lama.”

“Y-Ya, ayo…”

Meski dia masih sedikit kebingungan dengan perubahan mendadak yang begitu cepat, Alisa tetap meninggalkan ruang kelas bersama Yuki. Sambil berjalan menuju ke ruangan klub seni, Alisa terus memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu.

(Ak-Aku….barusan, bilang apa tadi? Entah kenapa, aku baru saja mengatakan sesuatu yang luar biasa……maksudku, cinta? Ehhh, cinta??) [5]

Yuki memasang senyum jahat saat memalingkan wajahnya dari Alisa yang masih terlihat panik dan kebingungan, karena dia tidak dapat sepenuhnya memproses informasi yang diterima.

(Sangat berharga terus Tidak mau menyerahkannya padaku ya …. Hee~, ternyata Onii-chan lumayan jago juga~♪)

Berbanding terbalik dari Alisa, langkah kaki Yuki terasa ringan dan menikmati dirinya sendiri sampai tampak seperti mulai menari.

 

◇◇◇◇

[Sudut Pandang Masachika]

“Masha-san, mengenai bagian ini …”

“Hmm? Ahh, sepertinya yang itu salah tulis.”

“Seperti yang kuduga. Aku tinggal memperkainya di sebelah sini, ‘kan?”

“Um, tolong ya~”

Pada saat yang sama, Masachika yang membantu Masha dalam tugas OSIS-nya dibuat terkejut dengan situasi yang tak terduga. Itu karena….

(Tak disangka, orang ini …….mahir banget melakukan pekerjaannya!?)

Ia secara halus, atau lebih tepatnya lumayan kasar, merasa terkejut. Karena kemampuan Maria dalam menangani tugas OSIS jauh melebihi ekspetasi Masachika. Suasana tenang yang terpancar darinya masih sama seperti biasanya, tapi kecepatan dalam melakukan tugasnya tak disangka-sangka sangatlah cepat.

Masachika yang mengira kalau Maria direkrut ke dalam anggota OSIS karena berdasarkan popularitasnya daripada keterampilan praktisnya, cukup terkejut dengan kemampuannya yang tak terduga.

(Sedangkan yang ini justru…..)

Masachika diam-diam mengalihkan pandangannya ke arah Senpai yang duduk di depannya.

“Ehh…? Ini di sebelah mana ya….eh? Yang mana?”

“Chisaki-chan. Bukannya itu berkas biru yang baru saja kamu taruh di sana?”

“Eh? Ah, jadi yang itu, ya.”

Setelah diberitahu Maria, Chisaki lalu menuju ke rak penyimpanan berkas yang berjejer di dekat dinding. Tapi dia sepertinya tidak tahu berkas mana yang dimaksud, lalu bergumam “Yang itu, ya?” sambil mengeluarkan berkas yang sudah tertata rapi dan memiringkan kepalanya.

(Yang ini justru payah banget! Maaf kalau aku bilangnya kasar! Maaf banget!)

Rupanya, Chisaki tidak terlalu pandai dalam urusan administrasi. Atau lebih tepatnya sejauh dari apa yang Masachika lihat, dia tidak pandai menata dan mengatur sesuai urutan.

“….~~….?~~~”

Ditambah juga, yah…..dia sepertinya tidak bisa tenang. Padahal baru 20 menit mengerjakan tugas dokumen, dan dia sudah terlihat gelisah.

(Kayak bocah SD yang kebelet ingin main….)

Apa masih belum selesai? Aku sudah lelah, tau? Itulah kesan yang Chisaki tunjukkan saat melihat ke sekelilingnya, tapi Masachika pura-pura tidak menyadari hal tersebut, dan memandangnya dengan tatapan lembut.

Gadis yang terlihat polos dan bertanggung jawab dalam penyembuhan, yang sekilas kalau dia  tidak bisa mengerjakan tugas dengan benar. Lalu, gadis keren yang terlihat bisa melakukan tugas dengan sekejap seperti wanita karir.

Akan tetapi, kemampuan mereka berbanding terbalik dari kesan penampilan yang didapat.

(Memang benar apa kata pepatah, kita tidak boleh menilai buku dari sampulnya saja, ya…)

Saat Masachika memikirkan hal semacam itu, Touya yang sepertinya sudah tidak tega melihatnya mulai memanggil nama pacarnya.

“Ahhh iya….Chisaki. Ngomong-ngomong, aku mendengar kalau perpustakaan sedang melakukan kegiatan beres-beres buku hari ini.”

“!! Apa ? Apa mereka kekurangan orang?!”

“Iya, karena anggota perempuan di komite perpustakaan lumayan banyak. Beres-beres buku merupakan pekerjaan yang lumayan berat. Jadi, apa kamu bisa membantu mereka sebentar?”

“Oke, serahkan saja padaku!”

Usai diberitahu Touya, Chisaki langsung melesat keluar dari ruangan OSIS dengan ekspresi bahagia mirip seperti anak kecil yang diijinkan untuk main. Tampaknya tugas administrasi tersebut terlalu menyebalkan buatnya. Sepertinya dia takkan kembali untuk sementara waktu.

“Maaf Kuze. Yah, Chisaki memang selalu seperti itu. Meski begitu, dia sangat berguna saat diskusi bersama anggota komite dan rapat antar klub. Jadi tolong awasi dia baik-baik.”

“Tidak, yah itu sih….sesuatu yang disebut orang yang tepat pada tempatnya iya ‘kan[6]. Hahaha.” 

Masachika membalas dengan senyum getir kepada Touya yang berusaha membantu Chisaki. Kenyataannya, Masachika yakin kalau dia adalah Senpai yang keren dan bisa diandalkan.

Semua itu bisa dilihat dari kejadian tadi saat dia marah demi Alisa. Tapi….ya  aku jadi kesulitan bagaimana harus menanggapinya saat dia menunjukkan sisi kekanak-kanakan seperti itu.

“Tapi, dia yang begitu juga imut, iya ‘kan?”

“Tidak, ini bukan Hehe ini imut loh. Tolong jangan seenak jidat mengelompokkannya begitu.”

“Ohh, lumayan juga, Kuze. Saat ini, peran jadi pelawak sangat berharga buat OSIS. Terus lakukan peran itu dengan baik lagi di masa depan.”

“Justru sebaliknya, memangnya OSIS sudah berubah jadi organisasi yang isinya pelawak doang?”

“Bagus! Sudah kuduga, merekrutmu jadi anggota OSIS adalah pilihan yang tepat!”

“Darimana kamu punya perasaan semacam itu.”

Acara lawak yang dimulai secara tiba-tiba. Di tengah lawakan mereka berdua, Maria tersenyum dan berkata “Sepertinya kalian bersenang-senang~” Dia sepertinya sudah terbiasa dengan situasi semacam ini dan mengambil berkas yang ditinggalkan Chisaki dan terus bekerja seolah-olah tidak ada yang terjadi.

(Nih orang, kayaknya berbakat sekali….)

Pendapat Masachika mengenai Maria langsung berubah saat itu juga.

 

◇◇◇◇

 

Mereka terus melanjutkan pekerjaan selama kurang lebih 40 menit. Setelah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan yang ada, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar. Ngomong-ngomong, Chisaki masih belum kembali selama waktu itu.

“Kalau begitu, aku buatkan teh dulu ya~~”

“Ah, biar aku bantu.”

“Tidak apa-apa~ tinggal duduk dan tunggu saja oke? Lagipula, aku suka membuat teh, kok.”

Ketika diberitahu begitu, Masachika jadi ragu apa harus tetap membantunya atau tidak. Selain itu, teko dan cangkir yang dipanaskan terlihat otentik juga. Orang amatiran seperti dirinya tidak bisa sembarangan ikut campur.

“Kalau Kuze-kun tehnya mau ditambah susu? Atau gula? Ah, ada selai juga kok?”

“Ditambah selai…..jangan-jangan, itu teh khas Rusia?”

“Kalau di Jepang sih sebutannya begitu. Sayangnya, ini bukan teh lemon.”

“….Kalau begitu, mumpung ada kesempatan, aku pilih yang ditambah selai.”

“Oke~. Ah, Ketua sih ditambah protein, ya ‘kan?”

“Memangnya ada masalah dengan itu?”

“Buhaa”

Masachika hampir dibuat tertawa terbahak-bahak oleh candaan mendadak dan tak terduga dari Maria (?). Ditambah lagi, balasan Tsukkomi Touya dengan ekspresi datar membuat lelucon itu sangat pas dan menambah unsur komedinya.[7] 

(Seriusan, orang ini bahkan membuat lelucon seperti ini! Tidak, mungkin dia alami ......? Aku tidak tahu, tapi pokoknya, ini sih sudah terlalu berlebihan ...... kuhahaha)

Masachika yang duduk di kursi menggeliat tak karuan karena berusaha menahan tawa.

“Oi, kamu terlalu banyak ketawa, Kuze.”

“Maafkan aku……..tapi…..kuhahaha.”

Setelah diperingati Touya yang sedikit terkejut, Masachika akhirnya berhenti tertawa setelah puas tertawa sampai-sampai mengeluarkan air matanya.

“Haa….tadi gawat banget….. hah? Bukannya kalau di Rusia, teh termasuk minuman yang diminum saat musim dingin, ya?”

Ketika Masachika menanyakan pertanyaan tersebut demi menutupi rasa malunya karena sudah tertawa di depan para Senpai, Maria memiringkan kepalanya saat dia tengah menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisi daun teh.

“Hmm~? Tergantung keluarganya mungkin? Setidaknya, keluargaku tetap meminum teh bahkan di musim panas, tau? Yah, lebih tepatnya ibu yang lebih suka meminum teh…”

“Ahh, Ibu Masha-san orang jepang sih, ya. Jadi begitu….”

Jika ibu yang memiliki pengaruh besar pada kebiasaan makan anak adalah orang Jepang, meski anaknya lahir di Rusia, selalu ada perpaduan antara antara budaya Jepang dan gaya makan mereka.  Begitu Masachika meyakini hal itu, Maria bertanya dengan santai sambil membelakanginya.

“Apa Kuze-kun tahu banyak mengenai Rusia?”

“Tidak, bukannya begitu…..tapi, aku cuma pernah melihat beberapa film Rusia saja.”

“Hmm~ begitu ya.”

Sebenarnya, bukan cuma beberapa saja. Paling sedikit, Aku sudah menonton 20-an film saat tinggal bersama Kakek dari pihak Ayah yang sangat menyukai Rusia. Hasilnya, ini sangat membantuku meningkatkan keterampilan mendengarkan bahasa Rusia. Oleh karena itu, bahkan setelah jadi siswa  SMA, aku bisa mendengar gumaman manis seseorang dengan sempurna! Yaayy!

“Hmm? Ada apa Kuze-kun? Sampai memandang ke arah jauh segala”

“Tidak, bukan apa-apa….”

Saat Ia memikirkan sesuatu seperti ‘apakah ini berkah atau kutukan, aku tidak tau’, Maria menempatkan piring kecil dan selai di hadapan Masachika.

“Ini dia~, silahkan dinikmati~”

“Te-Terima kasih banyak”

“Ketua juga, ini silahkan”

“Ah, makasih.”

Rupanya, teh Touya ditambah gula, sedangkan Maria memakai selai.

(Umu, apa yang harus kulakukan dengan ini….)

Masachika merenung sebentar saat melihat piring kecil dengan selai yang disediakan dan memutuskan untuk mencicipi tehnya dulu.

“Ohh! Enak….”

“Benarkah? Terima kasih”

Aromanya benar-benar berbeda dari teh hitam kemasan yang biasa Ia minum. Aroma yang kuat mengalir dari mulut sampai ke hidung. Rasa teh yang dalam. Lalu….rasa yang membuatnya mengingat kenangan yang nostalgia.

(Ah, benar juga….)

Ibunya juga menyukai teh hitam. Sementara pipinya sedikit berkedut karena rasa pahit teh, Masachika melirik ke arah Maria.

Maria kemudian menggunakan sendok untuk membawa selai ke dalam mulutnya, dan mulai menyesap tehnya.

“Hmm? Ada apa?”

“Ah, bukan apa-apa….kupikir selainya dicampur ke dalam teh hitam”

“Itu tergantung orangnya mungkin? Je…..kalau Kakek mencampurkan selai ke dalam teh~. Tapi kalau aku sih lebih suka memakannya seperti cemilan pendamping teh”

“Hee~…..”

Masachika yang meyakini kalau itu mirip seperti teh hijau dengan sup kaldu, Ia mulai meniru Maria dan mencicipi selainya.

“Manis banget….”

Masachika buru-buru menyesap teh hitam karena mulutnya dipenuhi rasa manis selai yang terlalu legit. Kemudian, rasa manis selai dinetralisir sampai batasan tertentu dan rasanya menjadi sedikit berbeda lagi.

“Jadi begitu rupanya….”

Rasa manis dan asam dari selai ditambah dengan aroma daun teh membuat rasanya menjadi semakin kompleks. Tapi…..

(Hmmm….berbeda dari biskuit dan kue, perpaduan ini benar-benar meleleh di mulutku, dan membuatku merasa seperti sedang meminum sesuatu yang lain….)

Perpaduan selai dan teh itu memang punya kelezatannya tersendiri, tapi karena tehnya enak, Ia pikir mencicipi tehnya saja sudah lebih dari cukup. Tapi, Masachika merasa tidak enakan juga tidak menghabisnya karena sudah disiapkan untuknya.

(Lain kali, aku juga akan memintanya untuk ditambah gula doang)

Seraya diam-diam memutuskan itu, Masachika secara bergantian menyesap teh dan memasukan selai ke dalam mulutnya.

(Tapi kalau dipikir-pikir lagi ….)

Senpai yang satu ini mempunyai paras cantik dan gaya yang bagus. Dia memiliki kepribadian yang lembut dan mudah bergaul, serta disukai oleh banyak orang, baik dari cowok maupun cewek.

Selain itu, Masachika pernah mendengar kalau dia selalu masuk di peringkat 30 teratas di angkatannya, yang mana selalu diumumkan di lorong sekolah sebagai siswa terbaik, jadi sudah pasti otaknya pintar.

Kemampuan atletisnya masih belum diketahui, tapi dengan kepribadiannya yang baik, bahkan jika dia tidak atletis, dia masih mempunyai daya tariknya sendiri. Ditambah lagi, dia pandai bekerja dan mahir membuat teh.

(Eh? Bukannya dia adalah gadis sempurna dan idaman?)

Karena selalu dekat dengan Alisa yang terkenal sebagai gadis super sempurna, Masachika tidak menyadarinya sama sekali karena aura lembut yang biasa Maria tunjukkan, tapi setelah dipikir-pikir lagi, dia juga lumayan termasuk gadis super sempurna.

Begitu menyadari hal tersebut, Masachika entah kenapa merasa jadi tidak nyaman.

Dengan senyum lembut menghias wajahnya, Maria perlahan-lahan membawa cangkir teh ke mulutnya. Penampilannya yang begitu santai memancarkan nuansa kuat dari sosok Onee-san yang menawan.

(Begitu rupanya, ini sih memang pesona dari Madonna. Dia akan mengubah semua cowok menjadi shota tanpa memandang bulu….)

Masachika memikirkan sesuatu yang bodoh dan mencoba melamuni hal yang berhubungan dengan otaku, tapi Maria menyadari tatapannya dan memiringkan kepala ke arahnya sambil tersenyum, yang mana memaksanya untuk tersadar.

Dia cuma tersenyum ke Masachika dan bertanya “Ada apa?”, tapi entah kenapa jantung Masachika berdetak kencang saat melihat senyum tersebut.

Itu adalah perasaan aneh. Masachika merasa gelisah dan tidak bisa tenang.

Jika tidak hati-hati, Ia merasa seolah-olah akan mengungkapkan sifat aslinya tanpa sadar, Masachika merasa sedang berhadapan dengan anggota keluarga yang sudah dikenal.

Saat Masachika berpikir, aku harus waspada…..tapi begitu melihat senyum lembut Maria, kewaspadaaan dan pengendalian dirinya seolah-olah mengendur. Suasana lembut dan nyaman yang dia pancarkan hampir membuat Masachika menyerah padanya…..

“Kami kembali.”

“…..kami kembali.”

“Ah~Alya-chan, Yuki-chan, selamat datang kembali~”

Pada saat itu, Yuki dan Alisa yang pergi ke klub seni untuk rapat, baru saja kembali dan seketika ekspresi Maria langsung berubah.

Dalam sekejap, suasana Onee-san yang baik dan penuh pengertian langsung lenyap entah kemana…..dan yang di sana, hanya ada seorang Onee-chan lembut yang mencintai adik perempuannya.

(Apa-apaan dengan perbedaan itu!?)

Masachika hampir terkejut dengan perubahannya yang begitu mendadak. Tanpa mempedulikan Masachika yang begitu, Maria tersenyum lembut dan menuju rak tempat piring dan teh disimpan.

“Kalian berdua mau minum teh tidak?”

“Iya, aku mau.”

“…aku juga.”

“Baiklah~, tunggu sebentar ya~”

Maria bersenandung gembira seraya dia menyiapkan teh. Saat Masachika menatap punggungnya dengan tatapan lembut, Alisa yang duduk di sebelahnya, mendekati dengan kursinya.

Ketika berbalik melihatnya, Alisa, yang duduk di dekatnya, menatapnya dengan tajam seolah-olah menyiratkan, “Apa? Mau protes? ”

“….Apa?”

“Tidak….bukannya kamu terlalu dekat?”

Saat Masachika membalas pertanyaan Alisa dengan blak-blakan, Alisa menoleh ke sisi lain dan berkata,

“...... Di Rusia, nasib sial akan menimpa gadis muda jika mereka duduk di kursi pojokan.”

“Eh? Masa?”

“Iya”

Usai mengatakan itu, dia memindahkan kursinya lagi dan duduk pada jarak di mana sikunya hampir menyentuh siku Masachika. Lalu, dia menoleh ke arah Yuki yang memandangnya dengan tatapan menahan.

(Tidak, ini masih terlalu dekat! Lagian apa-apaan tatapan itu? Eh, shuraba? Apa ini shuraba[8]?) 

Alisa menatap Yuki dengan penuh kewaspadaan.  Dan Yuki balas menatap Alisa dengan senyuman yang tak terbaca.

Masachika sekilas merasa ada percikan di antara tatapan mereka berdua, dan saat Ia mencoba kabur dari tempat duduknya karena suasana yang tidak nyaman itu…..Alisa yang merasakan gerakannya, langsung meraih lengan kirinya yang terjulur ke atas kursi.

Di bawah meja, gadis di sebelahnya meraih lengan baju seolah-olah ingin mengatakan “Jangan pergi”. Kalau kamu cuma menyimak bagian ini saja, bisa dibilang kalau ini situasi yang sangat romantis.

Akan tetapi, perasaan Masachika yang sebenarnya saat Ia benar-benar terjebak dalam situasi itu ialah ......

(Tidaaaaakkkkkkk!! Lepaskan akuuuuuu!!! Aku tidak tahan dengan suasana iniiiiiiiii!)

Ia merasa seperti cowok yang berpapasan dengan cewek selingkuhannya. Masachika mencoba sekuat tenaga untuk kabur dari situasi itu secepat mungkin.

(Kenapa! Kenapa ini bisa terjadi!? Tolong aku, Masha-san~!)

Ketika Masachika menoleh ke belakang, Ia berbicara dengan Maria yang sedang membuat teh.

“…..itulah yang Alya bilang, tapi memangnya pemali[9] semacam itu beneran ada, Masha-san?” 

“Tentu saja ada ~. Lebih tepatnya, bukan tertimpa nasib sial, tapi dikatakan kalau melakukan itu bakalan menunda pernikahanmu.”

Setelah mengatakan itu, Maria berbalik dengan wajah bahagia dan menatap Alisa dengan mata berbinar.

“Meski begitu, tak kusangka Alya-chan sampai mempedulikan hal semacam itu….apa jangan-jangan, kamu sudah menemukan seseorang yang ingin kamu nikahi!”

“…..Mana ada yang begitu. Itu cuma masalah suasana hati saja, kok.”

“Eh~? Benarkah~?”

“Cerewet”

“Mou, dasar Alya-chan”

Maria menggembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya. Setelah melirik sekilas ke arahnya, Alisa menunduk ke bawah pada tangannya sendiri yang mencengkeram ujung baju Masachika dan bergumam dengan suara yang sangat pelan.

Masih terlalu dini buat menikah


Coloring by Hizame1

Suaranya benar-benar sangat pelan. Tapi Masachika yang berada di dekatnya, bisa mendengar jelas gumaman tersebut.

(Benar juga~ lagian masih 15 tahun, iya ‘kan~?  Aku sedikit penasaran dengan caramu mengatakan itu, tapi dari sudut pandang umum, menikah di umur segitu memang masih terlalu dini, iya ‘kan? Eh, kamu masih berani mengatakannya di hadapan kakakmu sendiri!!)

Masachika gemetar ketakutan terhadap Alisa yang tak mengendurkan sikap agresifnya (?), meski di belakangnya ada kakaknya yang memahami bahasa Rusia.

Kemudian, saat mendengar suara Maria meletakkan cangkir teh di atas nampan, Alisa buru-buru melepaskan tangannya dari ujung baju Masachika. Tak berselang lama, Maria membawa nampan yang berisi teh untuk Alisa dan Yuki

“Ini dia~ Alya-chan. Kamu boleh mencicipinya duluan”

Lalu, Maria meletakkan piring kecil di depan Alisa ….. piring kecil berisi selai yang sangat tebal sampai-sampai Masachika pikir kalau satu toples digunakan semua.

“….Apa?”

“Tidak, bukan apa-apa…..”

Masachika dengan cepat mengalihkan pandangannya dan memasukkan sisa selai ke dalam teh dengan wajah acuh tak acuh.

Ia mengaduknya dengan sendok dan meminumnya dalam sekali teguk.

(….yup, rasanya kayak minuman lain)

Mungkin karena jumlah selai yang dimasukkan terlalu banyak, rasa manisnya masih tersisa di mulut dan membuat mulutnya berair karena legitnya selai. Kemudian, Yuki tiba-tiba angkat bicara.

“Uhmm….Sarashina-senpai sedang pergi ke mana?”

“Eh? Ah…..omong-omong, kapan orang itu akan kembali?”

Saat memerika jam dan memiringkan kepalanya, Touya yang meletakkan cangkir tehnya, mengangkat bahu dan berkata.

“Chisaki sedang pergi membantu anggota perpustakaan. Yah….dia pasti akan kembali kalau perutnya kelaparan”

“Emangnya dia anak kecil!”

Pada saat Masachika secara refleks membalas dengan lawakan, pintu ruangan OSIS terbuka dengan keras.

“Rasanya aku mencium aroma enak di sini!”

“Dia beneran kayak anak kecil!”

Masachika langsung melakukan tsukkomi pada Chisaki yang memasuki ruang OSIS dengan mata berbinar-binar.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>


Komentar Penerjemah : Pertama-tama saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Raden K870XK atas trakteerannya yang begitu banyak, saya sampai kaget ada yang trakteer sebanyak itu, sekali lagi terima kasih banyak!! Selanjutnya, terima kasih banyak atas tanggapan para pembaca di chapter sebelumnya, Saya jadi ikutan merasa senang jika banyak para pembaca yang puas dengan kualitas terjemahan di sini. Hmmm apa lagi ya, ahh kendala di chapter 3 ini ada banyak adegan komedi/tsukkomi yang bikin saya kesusahan buat nerjemahinnya ke bahasa Indonesia karena saya sendiri gak dapet joke-nya hahaha maaf ya. Tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menerjemahkannya supaya mudah dibaca buat kalian.

Terakhir, untuk novel Roshidere ini saya usahakan update minimal satu chapter perminggu atau bisa sampai 2 minggu tergantung dari kesulitan dan banyaknya kata yang ada serta kesibukan saya. Karena Chapter 3 ini jumlah katanya lebih banyak dari Chapter 2 yang kemarin, jadi waktunya lebih lama dari yang diperkirakan.

Oke segitu saja dari saya, terima kasih banyak karena sudah mampir di lapak kecil dan amatiran ini ^_^     



[1] Bagi yang gatau, panggilan ‘Ane-san’ biasanya ditujukan untuk wanita yang sangat dihormati dan disegani di kalangan cowok (khususnya para cowok-cowok berandal/preman) panggilan lainnya ada yang ‘Ane-go’. Yah kalau kalian sering nonton anime yang ada berandalannya, panggilan Ane-san/Ane-go udah ga asing lagi

[2] Dasar tsundere nih si wakil ketua osisnya :v

[3] Mimin gak paham sama candaan mereka, jadi maaf ya kalau komedinya kurang~

[4] Kendo (剣道 kendō) adalah seni bela diri modern dari Jepang yang menggunakan pedang

[5] Yuki bilang ke Alisa kalau dia “mencintai” Masachika. Nah, kanji yang dipakai 愛(ai) mempunyai makna yang lebih luas dan mendalam, jadi maknanya tidak hanya cinta dalam artian romantis, tapi juga bisa dalam artian kasih sayang antara anggota keluarga

[6] The Right man of the right place, filosofi yang biasanya diterapkan dalam perusahaan/tempat kerja, yang artinya kalau dimaknai : Menempatkan orang sesuai dengan kemampuannya

[7] Ya iyalah, orang waras mana yang mengkombinasikan teh sama minuman protein :v

[8] Yang sering nonton anime romcom pasti ngerti istilah Shuraba ya ‘kan? Yah, intinya shuraba itu adegan pertengkaran/keributan dimana 2 heroine memperebutkan MC, atau kalau di genre shoujo sih dua cowok yang memperebutkan satu cewek

[9] https://kbbi.web.id/pemali

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama