Roshi-dere Vol.2 Chapter 08 Bahasa Indonesia

Chapter 8 – Idealis dan Realist

 

Hari acara debat akhirnya tiba. Saat Masachika dan Alisa berjalan menuju pintu belakang auditorium yang terhubung dengan area belakang panggung, mereka kebetulan bertemu dengan lawan debat mereka.

“Ah, halo-halo~”

Sayaka memberi sapaan dengan membungkuk ringan dan segera memasuki auditorium, tapi murid lain yang ada di belakangnya menyapa dengan sikap yang ramah.

“Kuzecchii, lama enggak ketemu~ hari ini mohon kerja samanya ya~... Eh, tapi aneh juga kalau aku bilang begitu, ya?”

“Bukannya kamu terlalu santai?”

“Yah, habisnya aku enggak dapet giliran debat, iya ‘kan ~? Tentu saja aku bisa santai-santai begini”

Orang yang melambaikan tangannya dengan riang adalah gadis berambut pirang  dengan gaya dikuncir ke samping atas. Dia mengenakan seragam yang sedikit longgar dengan riasan yang sangat ringan sehingga guru-guru tidak bisa menyalahkannya. Penampilannya yang sangat tidak biasa di Akademi Seirei ini biasa disebut gyaru. Gadis tersebut menatap Alisa, yang tertegun di depan tipe orang yang belum pernah dia hadapi sebelumnya.

“Apa ini pertama kalinya kita berbicara secara langsung? Hai~ namaku Miyamae Nonoa. Setidaknya, aku ini partner dari Sayacchi~”

“Begitu ... Namaku Kujou Alisa. Mari berdebat dengan baik.”

“Ahahaha, serius banget~ mungkin kamu dan Sayacchi bakalan cepet akrab.”

Setelah tertawa lepas, Nonoa berkata “Kalau gitu, senang bertemu denganmu dan sampai ketemu lagi~.” sambil berjalan memasuki auditorium.

“Tadi itu partner-nya Taniyama-san? Rasanya entah kenapa….”

“Tidak serasi? Yah, jika dilihat dari penampilannya saja, mereka terlihat seperti pasangan murid teladan yang kaku dan gadis gyaru yang modis. Maksudku, dia memang gadis gyaru, terlepas dari penampilannya. Sepertinya dia memanfaatkan penampilanya yang mencolok untuk keuntungannya sebagai model.”

“Model? Bukannya…. itu melanggar peraturan sekolah?”

“Hmm, dengar-dengar sih kalau dia memodelkan iklan merek orang tuanya, jadi bisa dibilang kalau itu hampir aman?”

“Maksudku, aku pernah melihatnya dan merasa penasaran, tapi rambutnya itu ...”

“Oh, yang itu sih rambut aslinya, tau? Katanya, neneknya itu orang Amerika.”

“……Begitu ya.”

Masachika melanjutkan sambil tersenyum masam pada Alisa, yang sepertinya memahami tapi masih kurang puas dengan penjelasan Masachika.

“Aku dengar kalau mereka berdua adalah teman masa kecil. Meski penampilan dan kepribadian mereka benar-benar berbeda, tapi mereka berdua sangat dekat.”

“Oh jadi begitu rupanya ...”

“Asal kamu tahu saja, jika kamu berpikir kalau mereka berpasangan karena punya hubungan semacam itu, kamu salah besar, tau? Miyamae merupakan gadis yang menduduki puncak kasta sekolah terlepas dari OSIS atau yang lainnya, dan dia adalah salah satu murid terbaik dalam hal memiliki koneksi.”

“Itu sih ... memang jadi ancaman dalam pemilihan nanti.”

“Yah, hari ini jangan terlalu mengkhawatirkan tentang itu. Sekarang, kamu hanya perlu fokus pada Taniyama.”

“Benar juga. Baiklah, aku mengerti.”

Untuk saat ini, Alisa tampaknya mengesampingkan masalah Nonoa dari pikirannya, dan Masachika menghela nafas sebelum bertanya pada Alisa.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi sekarang?”     

“Ya”

Kemudian, mereka melangkah masuk ke auditorium, tempat di mana pertempuran penentuan akan berlangsung.

 

◇◇◇◇

 

“Uwaah, sudah ada banyak orang yang berkumpul. Kurasa lebih dari setengah murid yang tidak punya kegiatan klub datang kemari, iya ‘kan?”

“Yah, habisnya ini acara debat pertama di tahun ini. Terlebih lagi, penantangnya adalah Taniyama-san, dan orang yang menerima tantangannya adalah Kujou-san ... jadi wajar-wajar saja kalau ini menarik banyak perhatian.”

Ketika Takeshi dan Hikaru tiba di gedung auditorium, mereka melihat sekeliling dengan cemas pada jumlah orang yang berkumpul di sana yang hampir penuh, padahal sekarang merupakan waktu mepet di jam sepulang sekolah sebelum memasuki masa ujian. Jika sebelum acara saja jumlah penontonnya sudah ramai begini, mungkin beberapa siswa harus berdiri saat acara perdebatan dimulai.

“Taniyama-san tuh, gadis yang bertarung sampai akhir melawan Ohii-sama[1] untuk memperebutkan posisi ketua OSIS SMP, ‘kan?” 

“Betul sekali, pada kelas satu SMP dulu, banyak yang memujinya dan digadang-gadang menjadi ketua OSIS berikutnya, tapi pada akhirnya dia tetap kalah dari Suou-san.”

“Kalau tidak salah, Taniyama-san tidak pernah kalah dalam debat, ‘kan? Seandainya saja Taniyama-san dan Ohii-sama melakukan debat sebelum pemilihan Ketua OSIS, aku enggak tahu bakalan jadi apa hasilnya.”

“Aku juga berpikir begitu, tapi kupikir dia bersikap adil dengan tidak bertanding di bidang keahliannya dan menyelesaikan pemilihan dengan cara yang bermartabat.”

“Tidak, tidak, bukannya kamu dulu memilih Suou-san.”

“Itu ya itu. Aku cuma terkesan dengan cara musuh saja.”

Saat berjalan melewati auditorium mencari dua kursi kosong yang berdampingan, mereka berdua bisa mendengar suara siswa di sekitaran mereka. Dari murid kelas satu hingga kelas tiga, orang-orang dari pelbagai angkatan membicarakan prediksi mereka untuk debat dan kesan mereka terhadap para peserta.

“Mengenai agenda ini, menurutmu bagaimana?”

“Hmmm, sulit untuk menilainya karena agendanya sendiri tidak melibatkan sebagian besar siswa. ...... Tapi yah, aku yakin dia bisa menyelesaikannya dengan baik.”

“Kalau si murid pindahan, gimana? Aku tidak tahu banyak tentang gadis itu...”

“Aku juga sama, yang kutahu cuma dia punya nilai bagus ... lagian, memangnya dia bisa berdebat?”

“Apa kamu pernah mendengar nama murid yang bernama Kuze ini?”

“Bukannya itu nama wakil ketua saat Suou-san menjadi Ketua OSIS dulu? Aku sendiri tidak tahu banyak.”

“Ah ~ Apa ada hal seperti itu? Eh? Jika emang begitu, kenapa Ia bersama murid pindahan itu?”

Sebagian besar cerita yang mereka dengar adalah tentang Sayaka, dan cuma sedikit orang yang membicarakan tentang Alisa. Tapi tidak ada orang yang membicarakan Masachika sama sekali.

“... Entah kenapa, rasanya sudah berat sebelah, ‘kan?”

“Yah, dalam debat ini, ada terlalu banyak perbedaan dalam reputasi ... Oh, di sana ada kursi kosong, tuh.”

“Ah, benar juga”

Setelah menemukan kursi kosong yang ada di tengah barisan, Takeshi dan Hikaru duduk di sana. Kemudian, saat melihat panggung yang ada di depan, mereka melihat Sayaka dan Nonoa berada di sisi kanan panggung di seberang podium tengah. Sedangkan di sisi kiri, ada Alisa dan Masachika.

Meski semua yang ada di panggung duduk di kursi yang sama, tapi anehnya, tatapan mata mereka tertuju pada Sayaka. Cara dia menegakkan punggungnya dan bermeditasi dengan tenang memberikan kesan yang bermartabat.

“Akhirnya bisa dapet tempat duduk juga ... entah kenapa, aku merasa kalau mereka sepertinya enggak bisa menang. Maksudku, aku tidak bisa membayangkan kalau Taniyama-san akan kalah.”

“Seperti yang kuduga, Masachika terlihat tenang, tapi... Apa Kujou-san bakal baik-baik saja? Kujou-san yang jadi pembicara utamanya, ‘kan?”

“Yah, biasanya sih sesama calon kandidat ketua yang menjadi pembicara utamanya, dan kandidat wakil ketua akan mendukungnya. Jika cuma kandidat wakil ketuanya saja yang berbicara, itu akan membuat kandidat Ketua terlihat seperti pajangan doang. Kalaupun mereka memenangkan perdebatan ini, tidak ada gunanya jika itu akan memberi kesan negatif terhadap pemilihan Ketua OSIS nanti.”

“Emang, ... aku ingin tahu apa dia baik-baik saja? Kujou-san, dia kelihatannya tidak pandai berbicara, iya ‘kan? ... apalagi di hadapan orang sebanyak ini.”

“Bener banget ... Setidaknya, dia harus bisa berbicara dengan pemikiran terbuka dan jujur, jika tidak begitu, dia tidak punya kesempatan untuk bersaing melawan Taniyama”

Mereka berdua menatap Alisa yang ada di atas panggung dengan prihatin. Alisa  tidak menunjukkan tanda-tanda menyadari tatapan mereka dan hanya duduk di kursinya sambil menatap lurus ke depan. Mata biru yang menatap podium kosong itu tampaknya tidak memiliki keraguan atau kecemasan sama sekali...

(Ada begitu banyak ...orang, tenggorokanku terasa kering ... suaraku, apa bakalan bisa keluar?)

Tapi di dalam hati, dia merasa sangat gugup.

Tentu saja, ada tekanan bahwa masa depannya sedang dipertaruhkan dalam perdebatan ini. Tapi sebelum itu, ini adalah pengalaman pertama Alisa untuk mengucapkan kata-katanya sendiri di depan begitu banyak orang.

Pertama-tama, Alisa mempunyai sifat yang egois tapi tidak asertif[2]. Karena dia tidak mengharapkan apa pun dari orang lain, jadi di masa lalu dia tidak terlalu memedulikannya. Sebagai ganti untuk tidak mencoba mempengaruhi orang lain dengan pendapatnya, dia juga tidak akan terpengaruh oleh pendapat mereka. Itulah sikap dasar Alisa. 

Namun, apa yang dia butuhkan sekarang ialah kemampuan untuk menggerakkan orang lain. Kemampuan untuk membuat orang lain mendukungnya melalui kata-katanya sendiri. Sampai sekarang, Alisa menyingkirkan jauh-jauh hal itu karena dianggap tidak perlu.

(Apa aku bisa melakukannya? Aku merasa takut ditolak lagi ... sama seperti waktu itu)

Alisa kembali  mengingat rentetan penyangkalan yang di alaminya beberapa hari yang lalu dalam diskusi antara klub sepak bola dan klub bisbol. Rasanya mengerikan. Dia tiba-tiba tidak bisa merasakan kakinya seolah-olah kakinya mati rasa. Kaki yang menginjak panggung yang seharusnya keras, terasa seperti terbuat dari karet.

“Alya”

Suara dari sebelah yang memanggil namanya membuat Alisa menoleh dengan setengah hati. Dia merasa sangat bersyukur karena perhatiannya bisa teralihkan dari penonton yang ada di depannya.

“……Apa?”                      

Apakah suara balasannya terdengar tenang atau gemetaran?  Alisa sendiri merasa tidak yakin. Saat menoleh, dia melihat wajah seorang cowok yang menatapnya dengan ekspresi serius. Biasanya dia menganggapnya sebagai cowok yang tidak dapat diandalkan, tapi setelah melihat ekspresi seriusnya itu, Alisa sendiri merasa tertekan olehnya.

(Kuze-kun, Ia terlihat sangat tenang... aku harus lebih tegas lagi. Aku sendiri yang bilang kalau aku akan melakukannya. Aku tidak mau mengecewakan Kuze-kun. Aku harus tenang dan jangan tegang. A-Ambil napas dalam-dalam…)

Saat dia mencoba bernapas pelan-pelan, tenggorokan dan paru-parunya tidak mau menuruti kemauannya. Tubuhnya gemetaran dengan sendirinya, dan semakin banyak tenaga yang terkuras dari badannya.

“Alya...”

“Kuze..kun …”

Dia sudah tidak bisa berpura-pura kuat lagi. Suaranya terdengar serak saat berusaha untuk berbicara. Wajahnya mulai meringis seakan-akan hampir menangis, dan isi kepalanya kacau balau ...

“Apa benar kalau kamu punya ukuran E-cup?”

“……Ha?”

Pertanyaan yang begitu aneh dan terlalu mendadak membuat Alisa tertegun sejenak, karena tidak memahami apa yang dikatakan partner-nya itu. Tapi, saat tatapan Masachika melirik area dadanya, Alisa akhirnya menyadari situasinya. Dia secara refleks mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan, tapi mengingat kalau dia sedang berada di atas panggung, dia hampir menghentikan dirinya melakukan itu.

“Da-Dasar cabul...! Apa yang sedang kamu bicarakan dalam situasi ini!”

Alisa mencelanya sambil berusaha menekan volume suaranya. Kemudian, Masachika mengalihkan pandangannya ke area penonton dengan ekspresi yang sangat serius.

“Ya, aku juga berpikir demikian ... aku tidak bisa melakukan sesuatu yang aneh dalam situasi di hadapan publik begini, .... Tapi apa kamu tahu? Pada saat yang sama, aku pun menyadarinya. Jika aku tidak bisa melakukan hal yang aneh-aneh, itu berarti kamu tidak bisa menamparku maupun melarikan diri.”

Kemudian, Ia tersenyum dan kembali menatap Alisa dengan ekspresi tenang yang aneh.

“Aku jadi menyadarinya ... maksudku, itu berarti aku bisa melakukan pelecehan seksual padamu sepuasnya, iya ‘kan?”

“Mending kamu mati saja sana”

“Kukukuku, mereka pasti takkan menyangka kalau kita sedang melakukan percakapan gila di atas panggung begini...”

“Aku bahkan tidak ingin memikirkannya.”

“Guhehehe, Ojou-chan... kamu hari ini pakai kancut warna apa?”

“Kamu!!... Haa”

Alisa menghela nafas lelah saat berusaha menahan tangannya yang secara refleks terangkat kepada partnernya yang membuat suara vulgar dengan ekspresi serius. Dia mulai mengkhawatirkan penilaiannya, apa orang semacam ini  benar-benar partner yang tepat untuknya.

“Ya ampun, setidaknya tolong sedikit gugup  ...”

“Oi, Oi, begini-begini aku juga sedikit gugup, tau? Oh, di sana ada Takeshi dan Hikaru. Oi~”

“Sebelah mana? Ah, tu-tunggu!”

Alisa berusaha meraih pergelangan tangan Masachika yang melambaikan tangan pada temannya, dan memaksanya untuk diletakkan di atas pangkuannya. Kemudian, dia memelototi wajah yang tak punya rasa gugup itu.

“Nee, bisa berhenti enggak? Karena ini memalukan, tau.”

“Jangan khawatir. Karena aku merasa lebih malu ketimbang dirimu.”

“Kalau memang begitu, kamu harus sedikit malu.”

“Su-Sungguh tangan yang kuat... Tidak, jangan menatapku dengan tatapan yang begitu membara. Ak-Aku malu ih...!”

“...”

“Ups, apa itu tatapan yang sedang melihat sampah?”

Ketika Masachika tampaknya tidak menganggapnya serius sama sekali, Alisa dengan kasar melepaskan tangannya dan membuang muka dengan cuek.

“Oi~, Alya-san~”

“...”    

“Kok ngambek sih, karena kamu kelihatan gugup, jadi kupikir melakukan candaan sedikit buat mengendurkan kegugupanmu, tau.”

“... Kata siapa? Aku tidak merasa gugup sama sekali, kok.”

“Masa~? Tapi kok wajahmu masih agak kaku begitu?”

Masachika bertanya dengan nada curigaan saat menatap wajah samping Alisa. Sebenarnya, pipinya tidak terlihat pucat lagi, tapi dia masih merasa gugup. Masachika menghela napas kecil dan berbicara pelan dengan nada serius.

“Kamu tidak perlu menyembunyikan kegugupanmu segala. Wajar-wajar saja kalau kamu merasa gugup pada perdebatan pertamamu. Justru sebaliknya, kamu boleh-boleh saja untuk mengatakan sesuatu seperti Meski aku merasa gugup, tapi aku akan melakukan yang terbaik, jadi mohon bantuannya.dan mendapat simpati dari banyak penonton.”

“... Mana mungkin aku akan mengatakan itu.”

“Yah, benar juga sih.”

Alisa takkan pernah melakukan apa pun yang untuk memanjakan dirinya dengan alasan semacam itu.

Alisa merupakan tipe perfeksionis, jadi dia pasti berpikir untuk melakukannya dengan sempurna dari awal hingga akhir.

“Alya, coba lihat ke sini”

“...?”

Masachika bertanya sembari menatap mata Alisa, yang balas menatapnya dengan pandangan curiga.

“Alya, siapa lawanmu?”

“... Taniyama-san, ‘kan?”

“Salah. Lawanmu adalah dirimu yang ideal dan sempurna. Benar, ‘kan?”

Setelah mendengar perkataan Masachika, tatapan Alisa sedikit goyah dan kemudian perlahan mengangguk.

“... Kurasa begitu. Aku mungkin paling takut saat tidak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan keinginanku.”

“Tuh, ‘kan? Dengan kata lain, kamulah yang satu-satunya menilai dirimu sendiri. Dan cuma ada kamu yang berbicara di podium. Penonton hanyalah penonton. Selama tidak ada sesi tanya jawab, mau sebanyak apapun mereka, semua itu tidak ada hubungannya, iya ‘kan?”

“Apa benar begitu?”

“Iya”

Saat tatapan Alisa mengembara dengan cemas, Masachika dengan berani membuat penegasan. Masachika tahu bahwa semakin tidak stabil mentalnya, kata-kata yang Ia ucapkan akan terngiang di dalam diri Alisa dan membuatnya mulai percaya diri lagi.

“Yang harus kamu lakukan ialah berpikir untuk menjadi orang yang paling keren sesuai bayanganmu. Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya jika ada sesuatu yang terjadi.”

“...”

Alisa berkedip pelan seolah-olah sedang mencoba menelaah kata-kata Masachika, dia lalu kembali menghadap ke depan dengan ekspresi yang sudah terlihat sedikit lebih tenang.

Lalu secara kebetulan, Touya, yang menjadi pemandu acara debat, mendekat dari area luar panggung.

“Kuze, Kujou. Sudah waktunya acara di mulai, apa kalian sudah siap?”

“Iya”

Masachika menjawab dengan jelas, dan melirik Alisa yang ada di sebelahnya. Alisa juga diam-diam membalas tatapannya dan menoleh ke arah Touya sambil mengangguk.

“Aku juga sudah siap”

“Baiklah”

Setelah mengangguk dengan tegas, Touya lalu menuju ke tempat duduk Sayaka. Setelah mendapatkan konfirmasi dari sisi mereka juga, Touya berdiri di meja moderator yang terletak di sisi kiri panggung dan mengarahkan suaranya ke mikrofon.

“Karena waktunya sudah tiba, oleh karena itu, Acara Rapat Umum Siswa akan dibuka sekarang.”

Saat Touya mengumumkan pembukaan acara, para penonton yang berisik perlahan-lahan menjadi tenang. Setelah kebisingan mereda, Touya kemudian melanjutkan untuk memperkenalkan para peserta.

“Ketua dari rapat umum ini adalah saya sendiri selaku Ketua OSIS, Kenzaki Touya. Pihak pengusulnya adalah Sayaka Taniyama dari kelas 1-F dan Miyamae Nonoa dari kelas 1-D.”

Menanggapi tatapan Touya, Sayaka dan Nonoa berdiri dari kursi dan membungkuk. Tepuk tangan meriah dari para penonton dan dukungan dari para pendukung mereka pun terdengar.

“Pihak yang Ditantang adalah Kujou Alisa yang menjabat sebagai Bendahara OSIS serta Kuze Masachika yang menjabat sebagai Urusan Umum OSIS.”

Alisa berdiri dari tempat duduknya, lalu membungkuk dengan indah dan Masachika membungkuk dengan gerakan lucu. Kali ini ada keriuhan tepuk tangan lagi, tetapi jumlahnya lebih sedikit dari sebelumnya, dan tidak ada suara dukungan.

“Agendanya adalah Pengenalan penilaian guru dalam bergabung dengan OSIS. Kalau begitu pihak pengusul, silahkan utarakan opini anda.”

“Ya”

Sayaka berdiri seraya menjawab dengan suara yang terdengar bagus dan jelas bahkan tanpa mikrofon sekali pun. Dia berjalan di atas panggung tanpa menunjukkan kegugupan sama sekali, lalu membungkuk hormat kepada Touya di tengah jalan, dan kemudian menaiki podium. Pada saat yang sama, penampilan Sayaka diproyeksikan ke layar di belakang panggung.

“Selamat siang semuanya. Terima kasih banyak karena sudah berkumpul di sini di sela-sela kesibukan Anda. Kali ini, saya ingin mengusulkanPengenalan penilaian guru dalam bergabung dengan OSIS. Singkatnya, kami mengusulkan bahwa sebelum seorang murid bisa bergabung dengan OSIS, mereka memerlukan rekomendasi dari guru.”

Setelah melihat sekeliling pada penonton dan menyapa mereka, Sayaka mengutarakan opininya dengan lancar.

“Saat ini, anggota OSIS dipilih langsung oleh ketua dan wakil ketua. Tapi pada kenyataannya, mereka menerima murid yang mencalonkan diri tanpa pandang bulu. Faktanya, saat kami melakukan survei terhadap semua murid dari divisi SMP dan SMA yang pernah menjadi anggota OSIS, meski cuma sementara———”  

(... Seriusan? Dia sampai repot-repot menyiapkan data seperti itu segala?)

Masachika merasa kagum dengan persiapannya dalam menyajikan data numerik  dalam waktu yang sesingkat ini.

(Tidak, ini bukan Taniyama, melainkan ulah Miyamae ya ...)

Ketika Masachika memandang Nonoa dengan perasaan campur aduk, orang yang dimaksud justru sedang melihat kukunya sendiri dengan santai seolah-olah dia tidak peduli.

Rupanya, dia memang berniat cuma menjadi penonton saja dalam perdebatan ini.

“Dari sini, saya pikir Anda semua dapat memahami situasi sekarang bahwa siapa pun bisa menjadi anggota OSIS selama mereka mencalonkan diri. Tapi bagaimana dengan ini? Akademi Seirei adalah sekolah bergengsi dan mempunyai sejarah panjang. Lantas, pantaskah OSIS yang merupakan perwakilan dari para siswa, menjadi organisasi yang bisa dimasuki siapa saja, tidak peduli seberapa buruk perilakunya?”

Setelah menyampaikan fakta objektif, Sayaka berbicara kepada para penonton dengan nada yang kuat.

“Saya percaya bahwa hanya murid terbaik dan terpintar saja yang boleh bergabung dengan OSIS. Anda semua pasti merasakan hal yang sama, bukan? Bukankah kita ingin seseorang dengan kualitas yang tepat dan sesuai sebagai anggota OSIS yang akan memerintah sebagai perwakilan kalian atau kadang-kadang atasan bagi murid yang berada di klub? Coba anda bayangkan sendiri. Seorang siswa yang biasanya memiliki nilai jelek dan berperilaku buruk menjadi atasan kita segera setelah Ia menjadi anggota OSIS, loh? Mereka akan berada dalam posisi untuk memberikan instruksi dan memberikan izin, loh? Apa Anda semua tidak membencinya?”

Masachika bisa merasakan bahwa suasana di antara penonton berubah ketika ditanya Sayaka dan banyak murid yang bergumam “Setelah ditanya begitu, rasanya benar juga….”.

(Dia memang pandai dalam memanipulasi keadaan ...)

Dengan mengubah perspektif mereka, Sayaka membuat para siswa yang tadinya masa bodo sembari mengatakan, “Bukannya aku ingin bergabung dengan OSIS, dan aku juga tidak terlalu peduli,” menjadi ikut ambil bagian untuk berpikir. 

Saat ini, opini mereka digiring ke arah “Aku tidak peduli, tapi kupikir aku lebih suka orang yang lebih kompeten untuk menjadi anggota OSIS”. Semuanya berubah menjadi apa yang Sayaka inginkan.

“Oleh karena itu, kami mengusungkan perlunya penilaian dari guru. Secara khususnya, formulir keanggotaan OSIS harus dicap oleh wali kelas, guru bimbingan konseling dan kepala sekolah. Hal ini akan menciptakan keanggotaan OSIS yang seluruhnya terdiri dari siswa yang benar-benar berbakat serta mendapat dukungan dari guru.”

Sembari menatap para penonton, Sayaka berbicara dengan tegas saat dia memberi sentuhan terakhir pada penampilannya.

“Demi mewujudkan OSIS yang lebih bermartabat dan berwibawa! Saya mohon dukungan kalian semunya!! …… Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih banyak.”

Saat Sayaka membungkuk, para penonton memberinya tepuk tangan meriah dan sorakan dari pendukungnya. Setelah mengangkat tangannya sebagai tanggapan untuk pendukungnya, Sayaka mengalihkan pandangannya ke Touya. Sebagai tanggapan, Touya mengambil mikrofon.

“Kalau begitu mari kita lanjutkan ke sesi tanya jawab. Untuk pihak lawan, apa Anda punya pertanyaan?”

Touya menatap Alisa dan Masachika, tatapan penonton juga tertuju pada mereka. Bagaimana si murid pindahan yang dirumorkan itu akan menyanggah argumen brilian Sayaka? Di bawah tatapan penuh minat dan antisipasi para penonton, Alisa kembali menatap Touya dalam diam dan …… menggelengkan kepalanya.

“Etto, apa tidak ada?”

Masachika memintanya untuk melanjutkan dengan gerakan tangan saat Touya mengkonfirmasi ulang dengan ekspresi terkejut. Perkembangan yang tidak terduga itu mengecewakan para siswa yang mengatakan, “Apa-apaan itu? Enggak ada bantahan atau semacamnya gitu?”. Namun, ini adalah sesuatu yang Masachika putuskan setelah mendiskusikannya dengan Alisa.

Sayaka yang seorang veteran dalam pertandingan debat, jarang menunjukkan celah selama sesi tanya jawab. Jika kamu mengajukan pertanyaan yang buruk, dia bisa membalasnya dengan sempurna dan dialah yang akan mendapatkan poin. Jangan mengajukan pertanyaan yang sensitif. Sebaliknya, jauh lebih baik untuk  mendengarkan argumen pihak lain dan kemudian memberinya ruang untuk mengungkapkan pikirannya.

(Sampai saat ini, semuanya sesuai rencana)

Argumen Sayaka kurang lebih sesuai dengan dugaannya. Tidak ada masalah sama sekali. Selebihnya terserah Alisa.

“Baiklah, apa kamu sudah siap?”

“……Ya”

Alisa menjawab pelan, dan kemudian suara Touya bergema.

“... Kalau begitu, mari kita lanjutkan dengan argumen dari pihak lawan.”

“Ya”

Alisa berdiri sembari menjawab dengan suara biasa yang anehnya terdengar sangat jelas, meski dia tidak memaksakan suaranya.

“Oke, berjuanglah!”

Diiringi dukungan Masachika di punggungnya, Alisa perlahan menuju podium. Tatapan penuh penasaran dari penonton tertuju pada Alisa, ….. atau bisa dibilang tatapan yang sedikit kejam.

“(Jadi menurutmu, bagaimana cara dia membalikkan situasi ini?)”

“(Tidak, tidak, bukannya ini sudah berakhir saat dia tidak bisa mengajukan pertanyaan? Sudah pasti Taniyama-san yang memenangkan perdebatan ini.)”

“(Kubilang juga apa, ‘kan? Jika Suo-san tidak muncul, mana mungkin mereka bisa menang)”

“(Sudah, sudah, mending kita dengarkan dulu isi dari pidato “Putri Penyendiri” itu.)”

“(Lagipula, emangnya dia bisa berbicara di depan publik? Semoga saja dia enggak menangis~)”

Suara penghinaan dan ejekan bisa terdengar dari pelbagai sudut auditorium. Suasana di aula tidak lagi terfokus pada bagaimana Alisa akan berdebat, melainkan pada bagaimana “si putri penyendiri” akan kalah.

Pada suasana yang tidak menyenangkan itu, Chisaki yang berada di luar panggung mengangkat alisnya dengan jengkel dan mencoba untuk keluar, tapi Maria meraih lengannya dan menghentikannya. Saat Mariya mengawasi Alisa yang sedang berjalan menuju podium, tatapan matanya terlihat seperti kakak tegas namun baik hati yang percaya pada adik perempuannya. Dan Alisa yang dimaksud ... sedang berkonsentrasi pada batinnya sendiri tanpa menyadari suasana yang ada di sekitarnya.

(Diriku yang ideal, seperti yang kupikirkan ... diriku yang paling keren ...)

Dia merenungkan apa yang Masachika katakan padanya, dan membayangkan sosok ideal dirinya. Ngomong-ngomong soal penampilan keren, penampilan Sayaka tadi juga terlihat berwibawa dan keren. Tapi lebih dari itu...

(Ya, sama seperti waktu itu ... apa yang aku lakukan?)

Alisa berusaha mengingatnya lagi. Penampilan cowok itu yang lebih keren dari siapapun. Pada waktu itu, Ia bilang...

(Aah, benar juga)

Dia sudah membayangkan sosok ideal yang dia inginkan. Sisanya tinggal mengikuti gambaran sosok ideal yang ada di dalam kepalanya.

Setelah sampai di podium, Alisa perlahan-lahan melihat sekeliling area penonton. Dan kemudian... dia pun tersenyum.

 

◇◇◇◇

 

Ketika Alisa berdiri di podium dan tersenyum, ada keriuhan di antara kursi penonton. Beberapa orang ada yang tercengang, beberapa ada yang beneran terkejut, dan beberapa orang... yang berhalusinasi menjadi satu-satunya cowok ditunjukkan senyum itu.

“Selamat siang semuanya. Nama saya Kujou Alisa selaku Bendahara OSIS. Sebagai perwakilan OSIS, saya ingin membuat sanggahan terkait agenda ini. Mohon kerja sama dan perhatiannya.”

Kemudian dia membungkuk dengan anggun. Ekspresinya tampak tenang dan tak kenal takut, seolah-olah dia memuji lawannya atas pertarungan yang bagus.

Dalam sekejap, semua penonton di dalam aula itu menyadari bahwa keheningan selama sesi tanya jawab sebelumnya bukan karena dia “tidak bisa” mengajukan pertanyaan, tapi karena dia “tidak harus” melakukannya.

Kesan para penonton langsung berubah 180 derajat pada sapaan provokatif yang tidak sesuai dengan citranya sebagai “putri penyendiri”.

“Sebelumnya, Taniyama-san menyebutkan bahwa memasukkan penilaian guru ke dalam proses menjadi anggota OSIS akan membuat Organisasi ini menjadi lebih bermartabat. Namun, pendapat saya justru sebaliknya. Saya pikir hal itu akan mengurangi otoritas OSIS jika kita memasukkan penilaian dari guru. Itu dikarenakan menghilangkan wewenang Ketua dan Wakil Ketua, yang merupakan inti dari OSIS, untuk mengangkat anggotanya.”

Para siswa yang hadir menjadi tertarik dengan bantahan langsung Alisa terhadap argumen Sayaka, yang tampaknya sangat logis.

“Sejak awal, anggota OSIS yang paling dihormati dan membuat iri para siswa ialah posisi Ketua dan Wakil Ketua. Keduanya memenangkan kampanye pemilihan yang sengit dan memenangkan posisi tersebut, itulah sebabnya kenapa mereka diberi banyak kewenangan dari pihak sekolah. Dan salah satu contoh dari kewenangan tersebut adalah memilih anggota OSIS untuk menempati posisi lainnya. Lalu, bagaimana bila kewenangan itu diserahkan kepada guru, meski hanya sebagian? Bukankah itu sama saja dengan mengakui kalau OSIS saat ini tidak dapat melindungi martabatnya sendiri tanpa bantuan para guru?”

Suara Alisa bergema di auditorium. Beberapa orang ada yang merasa kagum pada kecantikannya yang bermartabat, sementara yang lain merasa terkesiap pada sikap megahnya. Hanya dalam beberapa menit, Alisa telah mengubah suasana auditorium, tapi dia tidak menyadari hal ini dan terus mengutarakan pendapatnya tanpa ragu-ragu.

“Sekolah ini sangat menjunjung tinggi kemandirian siswanya. Itulah yang menjadi alasan mengapa OSIS diberikan kewenangan yang cukup besar. Karena berada dalam posisi bebas menentukan anggotanya sendiri itulah yang membuat Ketua dan Wakil Ketua menjadi istimewa. Apa yang akan terjadi jika pemilihan anggota OSIS harus tunduk pada penilaian guru? Hal itu akan menyebabkan Ketua dan Wakil Ketua tidak bisa leluasa menambahkan siswa yang mereka harapkan ke dalam OSIS. Mereka juga tidak bisa menolak siswa yang bergabung dengan OSIS karena sudah mengantongi penilaian para guru. Akibatnya, kewenangan untuk menunjuk anggota OSIS diserahkan kepada para guru. Dan anggota yang dipilih guru menjalankan sebagian besar tugas OSIS. Bukannya itu sangat menyimpang dari jati diri OSIS Akademi Seirei ini?”

Masachika bisa merasakan bahwa para penonton, yang tadinya setuju dengan pendapat Sayaka, mulai goyah pada pidato Alisa yang penuh semangat.

(Bagus, dia bisa berbicara dengan tenang. Sempurna.)

Masachika mengelus dadanya dengan lega saat melihat pidato Alisa. Sejujurnya, penampilannya lebih bagus dari yang Ia harapkan. Melihat seberapa gugupnya Alisa tadi, Ia pikir kalau penampilannya itu akan sedikit canggung, tapi ... pidatonya ini sudah cukup untuk bersaing.

(Taniyama berpendapat bahwa OSIS akan lebih bermartabat jika hanya berisi siswa elit yang sudah mendapat persetujuan guru. Alya membantah bahwa kewibawaan OSIS terlindungi karena Ketua dan Wakil Ketua yang dipilih melalui pemilihan umum mempunyai hak untuk menunjuk anggotanya. Argumen kedua belah pihak sama-sama masuk akal ... Jadi sejauh ini, mereka seimbang ...?)

Masachika, yang telah memperhatikan punggung Alisa dengan puas, merasakan tatapan tajam datang dari sebelah kirinya dan berbalik untuk melihatnya.

Ada sosok Sayaka yang menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam dari balik kacamatanya.  Tatapan matanya dengan jelas bertanya seakan menyiratkan, “Apa ini semua idemu?”

(Kamu salah, Taniyama. Ini semua … adalah kata-kata Alya sendiri)

Masachika tidak memberi masukan apa-apa dalam isi argumen Alisa kali ini. Yang Masachika lakukan hanyalah memprediksi argumen Sayaka. Argumen Alisa ini seratus persen hasil upayanya sendiri, yang dibuat berdasarkan prediksi Masachika.

(Lawanmu bukanlah aku, tapi Alya)

Saat Masachika melihat ke arah Sayaka dengan niatan seperti itu, argumen Alisa berakhir dan sesi tanya jawab pun dimulai. Sayaka dengan cepat mengangkat tangannya dan bertanya pada Alisa.

“Anda mengatakan bahwa ketua dan wakil ketua memiliki kewenangan untuk menunjuk siswa sebagai anggota OSIS, tapi seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dalam beberapa tahun terakhir siapa saja bisa menjadi anggota OSIS bila mereka mengajukan diri. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal itu?”

“Bukannya hal itu tidak apa-apa selama tidak menimbulkan masalah? Jika masalah terjadi dan ada banya siswa yang mengeluh, maka ketua OSIS bisa mengambil tindakan. Hal itu sudah menjadi tanggung jawabnya.”

Sayaka mungkin berpikir bahwa Alisa mendapat masukan dari Masachika, dan selama dia memberi rentetan pertanyaan pada lawannya itu, Alisa akan goyah. Namun pada kenyataannya, Alisa sama sekali tidak gentar.

“Ikatan Alumni merasa prihatin dengan kemerosotan kualitas OSIS akhir-akhir ini. Oleh karena itu, saya kira kita harus mempertimbangkan penilaian dari para guru, bagaimana menurut anda?”

“Seharusnya ketua dan wakil ketua OSIS lah yang memutuskannya. Salah satu keputusannya ialah mengakui kurangnya kemampuan mereka dan meminta bantuan guru. Itu bukan hak kita yang memutuskannya.”

Sebaliknya, Sayaka secara bertahap semakin kehilangan ketenangannya. Lambat laun, argumennya mulai tidak logis karena kekuatan lawan yang tak terduga.

(Itu kesalahanmu sendiri karena salah menilai lawan. Ketimbang menghadapi Alya yang ada di sana, kamu justru mengejar bayanganku yang bahkan tidak ada. Sejak awal lawanmu adalah Alya, tapi kamu malah mewaspadaiku ...)

Dari awal, Masachika tidak berniat berurusan dengan Sayaka. Setelah mendengarkan argumen Alisa sebelumnya, Masachika memutuskan bahwa dia mampu berurusan dengan Sayaka, dan menyerahkan kepadanya.

Ya, lawan Masachika bukanlah Sayaka. Orang yang harus dihadapi Masachika ialah ...

(Baiklah, bagaimana dia akan bergerak?)

Masachika mengalihkan perhatiannya ke arah gadis yang duduk di sebelah Sayaka. Nonoa yang sampai saat itu mempertahankan sikap acuh tak acuh, diam-diam menatap balik Masachika.

Lalu, seolah-olah meminta maaf atas sesuatu, dia memejamkan matanya, membungkuk, dan kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku roknya.

“...?”

...... Dan perubahan terjadi secara bertahap.

Hal pertama yang terjadi ialah bisikan kecil. Lalu secara bertahap mulai menyebar ke seluruh auditorium. Jika didengarkan baik-baik, Masachika bisa mendengar beberapa patah kata seperti “murid pindahan” dan “orang luar”. Pada saat yang sama, ada sorakan untuk Sayaka dari kursi penonton.

(Cih, kamu berani melakukannya ...  Nonoa, ya?)

Manipulasi kesan. Ini merupakan taktik yang hanya bisa digunakan oleh Nonoa karena dia memiliki hubungan relasi yang sangat luas di dalam sekolah.

Karena ada banyak siswa dari kalangan terpandang dan berderajat tinggi yang memasuki sekolah ini, maka orang yang memiliki pola pikir elektif pun tidak sedikit. Bagi para siswa yang seperti itu, ada perbedaan besar dalam kesan mereka terhadap Sayaka, putri CEO dari perusahaan yang sangat bergengsi, dan Alisa, seorang siswa pindahan kelas menengah. Jika teman Nonoa yang membaur di antara penonton merangsang area tersebut, mereka cenderung memilih Sayaka secara emosional, dan mengesampingkan logika argumennya. Tapi lebih dari itu, yang jadi masalahnya...

“Ah……”

Alisa mulai menyadari keberadaan penonton. Ketenangan yang selama ini dia pertahankan dengan hanya berfokus pada dirinya sendiri mulai terguncang saat dia menyadari keberadaan para penonton.

Bahkan saat melihatnya dari belakang, Masachika bisa melihat dengan jelas bahwa tubuhnya tiba-tiba menjadi tegang.

“U...!”

Gumaman para siswa meningkat ketika Alisa tiba-tiba terdiam. Semakin dia merasa terburu-buru dan mencoba mengatakan sesuatu, semakin membisu pula mulutnya.

(Cepat, aku harus mengatakan sesuatu ... Eh? Apa yang ingin aku katakan ... tadi itu pertanyaannya apa? aku harus cepat, tapi apa pertanyaannya, dia—  )

Saat ketegangannya memuncak dan hampir memasuki keadaan panik, Alisa tiba-tiba merasakan tepukan lembut di punggungnya.

“Kamu sudah melakukan yang terbaik. Sisanya serahkan saja padaku.”

Ketika Alisa menoleh ke arah suara itu, dia melihat cowok yang sangat bisa diandalkan lebih daripada siapapun saat ini.

Masachika menaiki podium, lalu tiba di samping Alisa, dan mengambil mikrofon sambil tertawa.

“Permisi, saya minta maaf karena tiba-tiba menyela saat sedang sesi tanya jawab, tapi mulai dari sini, izinkan saya yang akan mengambil alih. Dia sudah berbicara lebih lama dari yang diharapkan, dan saya penasaran apa tenggorokannya sudah kering kerontang? Ya ampun, inilah akibatnya jika kamu biasanya tidak banyak berbicara, tau?”

Kemudian, Masachika berkata dengan nada menggoda seraya mengalihkan pandangannya ke Alisa. Dia langsung cemberut karena tiba-tiba diejek dan, gelak tawa menyebar di antara kuris penonton.

Ketika suasana di auditorium mulai santai lagi, Masachika memutuskan untuk memainkan kartu andalannya.

(Jika kami bisa menang dengan argumen berlogika, semuanya akan baik-baik saja ... Tapi karena pihakmu menggunakan emosi pada perdebatan ini, aku akan menggunakan cara yang sama juga)

(Sebisa mungkin, aku tidak ingin melakukannya, tapi ... aku sudah berjanji pada Alisa bahwa “aku akan mengurus semuanya jika ada sesuatu yang terjadi”)

Jadi….Masachika memutuskan untuk menghancurkan semuanya dengan senyuman.

“Baiklah, kalau begitu, saya ingin mengakhiri ini dengan cepat demi kawan saya yang tenggorokannya sudah kering begitu ... Lagian, memangnya kita benar-benar perlu membahas ini lebih jauh?”

Para penonton menjadi ribut kembali saat pertanyaan itu tiba-tiba dilontarkan dari sikap konyolnya. Kemudian, Masachika dengan cepat menindaklanjuti dengan serangan balik.

“Bukannya diskusi semacam ini sudah selesai sebulan yang lalu?”

Masachika melihat sekeliling penonton, yang memiringkan kepala mereka dengan bingung karena tidak memahami apa yang Ia maksud, Masachika lalu mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah Touya yang berdiri di podium moderator.

“Saat memilih Ketua Kenzaki menjadi Ketua OSIS ... Bukankah perasaan semua orang sudah bulat?”

Tatapan para siswa langsung tertuju pada Touya, yang menoleh saat namanya tiba-tiba disebutkan.

“Seperti yang semua kalian ketahui, Ketua Kenzaki adalah siswa rendahan yang tidak menonjol di kelasnya sampai setahun yang lalu. Tidak, saya akan mengatakannya dengan jelas karena orangnya mumpung ada di sini, Ia itu orang suram! Ia adalah orang madesu[3] yang takkan pernah bisa mendapatkan dukungan guru!!”  

“O-Oi !?”

Gelak tawa pun meledak di antara penonton saat Touya dengan setengah tertawa berteriak tanpa sadar. Masachika lalu dengan cepat menimpali.

“Tapi, Ketua Kenzaki terus berusaha keras. Setelah bergabung dengan OSIS, Ia berusaha mati-matian untuk meningkatkan nilainya, memoles kemampuan dan sifat kejantanannya, dan pada akhirnya, Ia berhasil menaklukkan gadis tercantik di Akademi Seirei! Bukankah kalian semua ikut bersemangat melihat Ketua Kenzaki yang seperti itu ? Bukankah kalian semua ingin mendukung dirinya yang berubah dari murid suram menjadi Ketua OSIS yang karismatik!?”

Setelah mengatakan itu dalam sekali napas sambil menambahkan gerakan, Masachika menutup mulutnya dan melihat sekeliling ke arah penonton. Lalu, saat perhatian para penonton tertuju padanya, Ia berbibara dengan tenang.

“Ketua Kenzaki bisa menjadi ketua OSIS karena ada sistem yang memungkinkan setiap siswa bisa menjadi anggota OSIS selama mereka memiliki semangat. Saya akan bertanya lagi. Apa kita perlu membahas ini lebih lanjut lagi?”

Pertanyaan Masachika itu tidak terjawab. Semuanya, …. bahkan Sayaka dan Nonoa benar-benar dibuat terdiam.

“Ah... Hmm., yah, Saya sedikit kaget karena Kouhai-ku tiba-tiba mengejekku... Jika tidak ada pertanyaan lagi, sekarang kita akan beralih ke argumen penutup, pihak pengusul, apa kalian setuju?”

“...”

Melihat Sayaka yang cuma berdiri terdiam, Masachika mendorong punggung Alisa dan mendesaknya untuk kembali ke tempat duduknya.

Lalu, saat Ia turun dari podium... Tiba-tiba, suara terkejut Nonoa terdengar.

“Eh, hei, Sayacchi!?”

Masachika berbalik saat mendengar suaranya, dan tak disangka, Sayaka baru saja berlari ke luar panggung. Situasi yang sama sekali tidak terduga. Selain itu, Masachika ...... tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri saat melihat sekilas ekspresi Sayaka. Alisa bergerak dengan cepat, menggantikan Masachika yang hanya berdiri mematung. Dia langsung berlari dan menghilang ke luar panggung untuk mengejar Sayaka.

Para penonton menjadi riuh karena perwakilan dari pihak pengusul dan tertantang meninggalkan panggung di tengah jalannya perdebatan, sebuah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di saat semua orang kebingungan, Nonoa berdiri sembari menggaruk-garuk kepalanya, dan mulai berjalan ke tengah panggung

“Aku minta maaf karena sudah mengganggumu.”

Dan ketika dia memberi tahu Masachika di tengah jalan, dia berdiri di podium dan mengangkat tangannya.

“Baiklah~, kami akan menyerah~.”

Setelah keheningan sejenak, bisikan yang dipenuhi nada kebingungan menyebar ke seluruh auditorium pada pernyataan menyerah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Kemudian, Touya yang telah pulih dari keterkejutanya, memanggilnya dengan bingung.

“Umm, kalau begitu, ide dari pengusul akan ditolak... Apa kamu tidak keberatan dengan itu?”

“Oh itu sih enggak masalah, enggak masalah. Yahh, maaf banget, temanku Sayaka ini sudah banyak merepotkan.”

Setelah melihat Nonoa menundukkan kepalanya, Touya terbatuk dan lalu membuat pernyataan.

“Kalau begitu, usulan dari pihak pengusul akan ditolak... Dengan ini, saya umumkan bahwa Rapat Umum Siswa ditutup.”

Bersamaan pengumuman dari Touya, Rapat Umum Siswa berakhir dalam keadaan penuh kebingungan.

 

◇◇◇◇

[Perubahan Sudut Pandang]

“Kalau begitu, mohon bantuannya ya. Masachika-kun.”

“Tenang saja, serahkan semuanya padaku. Yuki”

Saat melihat mereka berdua, aku pikir mereka adalah pasangan yang ideal.

Dia memiliki pesona dan karisma luar biasa yang menarik perhatian semua orang. Lalu, ada orang di belakang layar yang mendukungnya.

Sebuah hubungan di mana mereka saling mempercayai satu sama lain dan pengabdian tanpa batas.

Ah, mereka memiliki kepercayaan serta ikatan yang kuat lebih daripada siapa pun. Wajar saja aku tidak bisa mengalahkan mereka. Dengan pujian dan kekaguman … serta sedikit rasa isi, aku akhirnya bisa menyerah.

Oleh karena itu, saat aku melihat Ia berpasangan dengan murid pindahan itu, aku merasa dikhianati.

Kenapa kamu ada di sana? Apakah ikatan yang aku kagumi dan lebih berharga dari apa pun itu hanya kebohongan belaka? Kekaguman dan rasa hormatku berubah menjadi kebencian, dan aku ingin memisahkan mereka serta menghancurkan hubungan mereka dengan cara apa pun.

Lantas kenapa … hatiku bergetar saat melihat mereka berdua berdiri berdampingan......?

Cowok itu yang dulunya hanya berani berdiri di belakang satu langkah, tapi sekarang Ia berdiri di sampingnya. Ia tampak lebih ceria dan lebih hidup dari sebelumnya.

Kenapa Ia terlihat seperti itu? Padahal orang disebelahnya bukan partner-nya yang dulu. Kenapa... Kenapa dadaku terasa sakit begini?

 

◇◇◇◇

[Perubahan Sudut Pandang Lagi]

“Tunggu!”

Alisa berlari keluar dari auditorium dan menyusul Sayaka ketika dia sampai di belakang gedung olahraga. Dia meraih lengan Sayaka dari belakang dan menghentikan pelariannya.

“Cepat kembali ke auditorium. Aku takkan membiarkanmu kabur di tengah jalan!”

Alisa mengangkat alisnya saat Sayaka menghentikan kakinya tetapi tidak berbalik maupun menjawab.

“Coba katakan sesuatu——” 

Kemudian Alisa dengan paksa memutar badannya dan tersentak saat melihat ekspresi Sayaka.

“Kamu——” 

Sayaka memelototi Alisa yang bingung dan mengguncang suaranya, sembari berlinangan air mata, dan dengan kasar melepaskan genggaman tangan Alisa.

“Kenapa...! Kenapa kamu—— !”

Tubuh Alisa menegang pada kata-kata yang dilontarkan dengan penuh emosi.

“Kuze-san dan Suou-san adalah partner yang tak tergantikan! Karena mereka berdua, aku…! Aku...! Aku merasa menyerah! Tapi kenapa...!!”

Sayaka menyuarakan kata-katanya dengan tertatih-tatih seakan dia sedang batuk darah sembari menitikkan air mata. Tangisan itu hampir dipenuhi dengan kemarahan, kesedihan, dan banyak emosi lainnya, lalu Alisa samar-samar menyadari niat Sayaka yang sebenarnya.

“Kamu, kamu…”

Tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Alisa selalu berpikir bahwa kata-kata dan tindakannya memiliki sikap permusuhan, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sekarang, setelah mengetahui kalau perbuatannya itu mengandung niat baik, Alisa tak bisa berkata apa-apa.

Dia selalu seperti itu. Di saat-saat seperti ini, dia tidak bisa mengatakan sesuatu yang dapat menghibur orang lain. Dia tidak bisa menggerakkan hati orang. Oleh karena itu... Alisa memutuskan untuk menerima semuanya. Paling tidak, dia akan menerima kemarahan Sayakan sebagai pengganti cowok itu. Karena itulah satu-satunya peran yang bisa dia lakukan.

“Jika ada ... sesuatu yang ingin kamu katakan kepadaku. Kamu boleh mengatakan semuanya.”

“!!!”

Sayaka menatapnya dengan penuh kebencian saat Alisa mengatakannya dengan blak-blakan  ... Sayaka tiba-tiba menundukkan wajahnya, menghela nafas panjang dan berkata dengan suara bergetar.

“Aku tidak berhak untuk mengatakan apa-apa lagi.”

Dan saat mengangkat wajahnya lagi, Sayaka tersenyum hampa dan menangis.

“Sungguh, aku ini seperti orang bodoh saja ... Seenaknya sendiri mempercayai, mengaguminya, lalu secara egois merasa dikhianati, dan melampiaskan kemarahan ... meski itu semua hanya keegoisanku sendiri. Uhuu..uhu..uuuu!”

Alisa tidak memahami bagaimana perasaan Sayaka. Namun, entah bagaimana Alisa bisa merasakan bahwa dia adalah orang yang sangat rasional.

Fakta mengenai Masachika berpasangan dengan Alisa dan bukan dengan Yuki,  pasti membuatnya sangat syok sampai lupa diri karena disulut oleh rasa amarah.

“Ah, ketemu, ketemu”

Saat Alisa mengalihkan pandangannya ke suara yang tiba-tiba dia dengar, Nonoa datang dari sudut gimnasium.

“Ahh~ahh~, sampai menangis begitu... maaf banget ya, Kujou-san. Kamu bisa menyerahkan hal ini padaku sekarang. Jadi, apa kamu bersedia kembali ke tempat Kuzecchi?”

“Etto ...”

“Jangan khawatir, jangan khawatir, ya? Kumohon”

Setelah mendengar kata-kata Nonoa, Alisa berjalan menuju auditorium sambil menatap Sayaka. Tapi, setelah beberapa langkah, dia berbalik dan memanggil Sayaka yang dipapah bahu Nonoa.

“Taniyama-san”

Sayaka masih tidak mau berbalik. Meski begitu, Alisa terus melanjutkan ucapannya.

“Alasan kenapa Kuze-kun lebih memilihku... Aku sendiri tidak tahu. Tapi, aku ingin menanggapi kehendaknya. Itu sebabnya ...”

Dia tidak bisa menuangkannya ke dalam kata-kata dengan baik. Dirinya bahkan tidak tahu apakah ini hal yang tepat untuk dikatakan pada lawannya. Kendati demikian, Alisa berusaha semaksimal mungkin menyampaikannya pada Sayaka.

“Itu sebabnya ... Aku akan berusaha keras. Aku berharap kalau kamu mengakuiku suatu hari nanti. .... hanya itu saja.”

Kemudian dia meninggalkan tempat itu dengan cepat. Nonoa memandang punggungnya dan bergumam pada dirinya sendiri..

“Sungguh... dia gadis yang baik ya, Kujou-san. Kupikir dia gadis yang sangat jutek, tapi ternyata dia tidak terlalu buruk juga...”

“...Benar sekali. Lagi pula, dia adalah orang yang dipilih Kuze-san.”

Sayaka mendongakkan sedikit wajahnya dan bertanya dengan suara yang sedikit serak.

“... Bagaimana dengan debatnya?”

“Hmm? Oh itu sih, aku memutuskan bahwa kita sudah menyerah. Yah, ada banyak keributan yang terjadi, tapi Kuzecchi dan Ketua melakukan pekerjaan dengan baik untuk mengendalikan situasinya.”

“Begitu ... Aku minta maaf karena sudah menyebabkan banyak masalah untukmu. .....”

“Tenang aja, enggak masalah kok, karena aku ini ‘kan sahabatmu.”

Saat dia tertawa lepas, Nonoa melepas kacamata Sayaka dan memeluknya erat dari depan.

“Selain itu, ini bukan pertama kalinya ‘kan. Ya ampun, Sayacchi selalu menjadi orang yang cepat menangis, menjerit, dan mengamuk. ...”

“Hal seperti itu……”

“Sering iya ‘kan~. Memangnya kamu pikir sudah berapa kali aku harus berurusan dengan amukanmu?”

Terlepas dari kata-katanya, Nonoa membelai lembut punggung Sayaka  dan berkata seolah-olah untuk mengingatkannya.

“Kalau sudah merasa tenang... ayo pergi meminta maaf kepada Kuzecchi dan Kujou-san, oke. Aku juga akan ikut menemanimu, kok.”

“...”

Sayaka menganggukkan kepalanya dalam diam usai mendengar perkataan sahabatnya. Nonoa terus mengelus punggung Sayaka untuk menenangkan dirinya.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi Selanjutnya=>>


[1] Sepertinya Ohii-sama adalah julukan Yuki waktu SMP
[2] Asertif adalah sikap mampu berkomunikasi dengan jujur dan tegas, tapi tetap menghargai dan menjaga perasaan orang lain
[3] Madesu = Masa depan suram, yah intinya sih kayak murid dari kasta terendah, pesimis terus, dan gak punya banyak teman :v

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama