Jinsei Gyakuten Jilid 4 Bab 3.5

 

Selingan — Tanggung Jawab Orang Dewasa

 

──Sudut Pandang Takayanagi── 

 

Pada hari Senin sore, kami kedatangan tamu yang tak terduga

Dia adalah ibu dari anggota tim sepak bola, seorang Mama Sadis’ yang terkenal sebagai pengurus PTA. Seharusnya, kepala sekolah lah yang menangani hal ini, tetapi dirinya saat ini sedang dalam perjalanan dinas ke kantor pemerintah untuk melaporkan masalah yang sedang berlangsung

Oleh karena itu, aku dan wakil kepala sekolah yang harus berurusan dengannya

“Apa maksudnya ini? Aku tidak mempercayai kalau anakku tiba-tiba diskors! Kenapa kalian tidak mengatakan apapun kepadaku?” 

Dia mendesak dengan sikap yang sangat agresif. Suara teriakan kerasnya menggema di ruang tamu. 

“Itu karena putra Anda terlibat dalam masalah perundungan yang dilaporkan di berita…” 

Ketika wakil kepala sekolah mencoba menjelaskan secara logis, dia memotong dengan kemarahan yang meluap. 

“Aku adalah anggota PTA di sekolah ini. Mencoba menjatuhkan sanksi tanpa pemberitahuan adalah tindakan sewenang-wenang dari pihak sekolah. Keributan kali ini jelas telah merusak citra sekolah. Perasaan keadilan yang salah dari para guru telah merusak citra sekolah secara keseluruhan. Apa Anda mengerti? Ini sudah seperti pengkhianatan. Aku akan mengangkat masalah ini di dalam rapat PTA. Kalian tahu apa yang akan terjadi pada kalian jika itu terjadi, kan? Aku harap kalian menantikan perombakan staf berikutnya.” 

Dia benar-benar mengeluarkan semua yang ingin dia katakan dengan cepat. Tanpa sadar, sisi emosionalku muncul. Aku sangat berterima kasih kepada kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang berdiri di garis depan. 

Namun… 

Dengan segala hormat, Aida-san.” 

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru

“A-Apa?” 

Dia sedikit tersentak, mungkin terkejut dengan serangan balik yang tidak terduga. Sifat kompetitifku yang dikenal saat di klub semasa sekolah kembali muncul. 

“PTA adalah organisasi yang membantu pertumbuhan anak-anak. Aku mempercayai bahwa campur tangan Anda dalam sanksi terkait masalah ini justru merupakan tindakan yang tidak pantas.” 

Usai mendengar perkataanku, dia marah dan urat-urat di lehernya terlihat. 

“Takayanagi-sensei. Pernyataan Anda terdengar sedikit bermasalah. Anda merendahkan kami. Lagipula, bukannya sangat tidak masuk akal untuk menghukum begitu banyak siswa hanya untuk melindungi satu orang?? Pihak korban juga memiliki sebagian tanggung jawab. Mereka pasti telah melakukan sesuatu yang mencurigakan. Selain itu, para pelaku juga memiliki masa depan. Jika Anda berusaha merampas masa depan siswa yang cemerlang itu, kami harus melawan.” 

Sekilas terdengar logis, tapi itu hanya emosi yang meluap. Aku tidak keberatan jika ini berakhir di sini. Dengan tekad demikian, aku melanjutkan. 

Perkataan Anda sendiri yang justru terdengar tidak masuk akal. Pendidikan macam apa itu jika Anda tidak bisa melindungi seorang siswa yang tidak bersalah? Anda tadi bilang bahwa pihak korban juga memikul sebagian tanggung jawab, tetapi dalam kasus ini, mayoritas hanya menuduh satu siswa yang lemah dan menjadikannya sasaran main hakim sendiri. Dan mereka bahkan mungkin meninggalkan bekas digital yang tidak akan pernah hilang. Para pelaku juga memang memiliki masa depan mereka. Namun, masa depan itu hanya akan muncul setelah mereka bertanggung jawab atas masalah perundungan kali ini, bukan?” 

Dia menanggapi serangan balikku dengan nada histeris. 

It-Itu.... tapi meskipun begitu, hukuman untuk begitu banyak siswa tidak bisa diterima…” 

Dalam situasi seperti ini, pihak yang menyerang lebih dulu biasanya menang. Terutama tipe seperti ini, mereka kuat dalam menyerang tetapi lemah dalam bertahan. 

“Jika kita mempertimbangkan tujuan asli dari PTA, kita tidak bisa mengabaikan kesalahan kali ini, bukan? Apa itu akan membantu pertumbuhan siswa yang sehat? Jika mereka tidak menyadari kesalahan mereka, siswa akan tumbuh dengan cara yang menyimpang. Itu sama saja dengan kita sebagai guru dan Anda sebagai orang tua mengabaikan peran asli kita. Bukannya begitu?” 

“...”

Wanita yang beberapa saat sebelumnya sangat bersemangat dan tegas, kini terdiam. 

Dan kemudian, wakil kepala sekolah yang sebelumnya diam memberikan pukulan terakhir. 

Sayangnya, apa yang ingin kukatakan telah diungkapkan oleh Takayanagi-sensei. Sangat buruk bagi junior yang tidak memberi penghormatan kepada senior. Namun, kami akan mendukungnya. Anda mungkin berpikir bahwa Anda bisa menggunakan status Anda sebagai pengurus PTA untuk mengancam guru dan mungkin menutupi masalah ini… tapi itu adalah kesombongan. Aida-san, membayangkan seseorang seperti Anda untuk berbicara tentang pendidikan yang sehat membuatku merasa muak.” 

 

※※※※

──Sudut Pandang Ibu Aida── 

 

Aku pergi meninggalkan sekolah. Aku tidak pernah menyangka akan diperlakukan seperti orang idiot setelah mengajukan protes tentang putraku. 

Mengapa aku harus mengalami penghinaan seperti ini? Bahasa kasar seperti itu terhadap orang tua sama sekali tidak dapat diterima.

Aku seharusnya dianggap sebagai pelanggan oleh sekolah. Namun, mereka memperlakukanku seolah-olah aku adalah seorang penjahat... 

“Diam, dasar nenek peyot!” 

Aku masih belum bisa melupkan kata-kata yang diucapkan oleh putraku. a selalu menjadi kebanggaanlu. Hingga SMP, prestasi akademiknya selalu berada di peringkat teratas. Dirinya sudah ber,ain sepak bola sejak kecil, dan ia juga telah mencapai hasil yang memuaskan, dan tahun ini dia bahkan masuk dalam daftar pemain cadangan. Dia selalu dengan antusias bercerita kepadaku bahwa Senpai kelas 3 yang bernama Kondo memiliki bakat luar biasa, sehingga mereka mungkin bisa ikut serta dalam turnamen nasional tahun ini. Tanpa mengetahui bahwa senior itu adalah orang jahat. Semuanya akibat si Senpai itu. Rupanya, ayahnya adalah anggota dewan kota bernama Kondo dan ia juga sedang menghadapi kecaman di internet. Sudah kuduga, cara mendidiknya yang salah. Jadi, semuanya adalah kesalahan orang-orang itu. 

Namun... 

Putraku ditipu oleh senior dan pacarnya yang ia percayai, menjadi kaki tangannya dan terlibat dalam masalah perundungan... 

Putraku seharusnya menjadi korban, tapi dia diperlakukan seolah-olah dia adalah pelaku. Apa pihak sekolah akan menghukumnya? Itu tidak mungkin. 

Ini jelas-jelas tindakan sewenang-wenang dari sekolah. Ketika anakku masih SD dan SMP, mereka selalu menangani masalah dengan baik. Sekarang, meskipun aku pergi untuk mengajukan protes, mereka tidak menghiraukanku. 

Ini benar-benar tidak masuk akal. 

“Benar juga, jika sudah begini, aku akan mengungkapkan tindakan sewenang-wenang sekolah di internet. Tanggapan mereka benar-benar mengerikan, dan kami adalah korban, jadi pasti, pasti...” 

Sebagai langkah pencegahan, aku merekam percakapan tadi secara diam-diam. 

“Benar. Jika aku mengunggah file ini ke media sosia, pasti banyak yang akan bersimpati dan berpihak kepadaku.” 

Media sosial bisa untuk mengunggah foto dan video. Aku segera mengunggahnya ke akunku. 

“Anakku terlibat dalam masalah perundungan di sekolah yang sedang menjadi perhatian publik. Dirinya hanya ditipu oleh Senpai yang jahat. Anakku adalah korban. Namun, respons dari pihak sekolah sangat buruk. Ini buktinya. Aku mohon, bantu anakku dengan kekuatan kalian.”

 

※※※※

 

Sesampainya di rumah, aku segera memeriksa akunku. Reaksi yang datang sangat luar biasa dari yang pernah kulihat. Ternyata aku benar. Aku tidak salah. Dengan penuh harapan, aku memeriksa komentar. 

“Eh...” 

Reaksi yang muncul justru mengarah ke arah yang berbeda dari yang kuharapkan. 

Wakil kepala sekolah dan Takayanagi-sensei sangat keren. Pendapat yang benar sekali.” 

“Orang tua monster, benar-benar dibantahkan wkwk.” 

Baru pertama kalinya aku melihat orang yang dengan serius mengatakan bahwa korban memiliki sebagian tanggung jawab, sementara pelaku juga memiliki masa depan.” 

Tidak mengherankan jika putranya bisa menjadi pelaku perundungan, dia benar-benar terlihat seperti orang tua monster.” 

“Sekolah mungkin bertindak terlalu berlebihan, tapi itu pendapat yang benar. Mereka mengatakan korban juga memiliki tanggung jawab, tetapi tampaknya kasus perundungan ini sepenuhnya merupakan kasus di mana korban dituduh secara salah. Korban sama sekali tidak bersalah.” 

Jadi begini contoh nyata dari seorang pencuri yang kurang ajar.” 

“Jujur saja, bahkan aku yang tidak terlibat merasa jijik dengan reaksi pemilik postingan ini.” 

“Aku malah ingin menitipkan anakku di sekolah seperti ini.” 

Hampir sebagian besar komentar justru bernada negatif terhadapku. Aku merasa ketakutan dan segera menghapus postingan tersebut. Ini pasti aman, kan? Jumlah pengikut di akun ini juga tidak terlalu banyak. 

Aku berusaha meyakinkan diri sendiri dan mulai menyiapkan makan malam. 

“Eh, apa kamu buru-buru menghapus postingan itu?” 

“Tentu saja, aku menyimpan gambar dan data suara.” 

“Ini akan menjadi gelombang besar.” 

Aku tidak pernah berpikir bahwa kali ini kami yang akan terpapar kebencian di internet.

 

※※※※

──Sudut Pandang Endou Kazuki──

 

[Berita sedih] Orang Tua Monster Mengunggah Klaim Anak yang Dirundung juga Bersalah dan berhasil membuat keributan.

“Apa ada masalah pada pihak yang diintimidasi? Melindungi masa depan pelaku? Kamu tidak seharusnya mengatakan itu hari ini, aku ada bukti postingannya.” 

“[Ada bukti] Orang tua dari anak yang memimpin perundungan. Terjebak dalam teori egois dan terpaksa menghapus postingan dan melarikan diri.”

Setelah pelajaran selesai, aku mencari informasi terbaru tentang tim sepak bola di internet dan menemukan bahwa orang tua Aida, yang ternyata adalah pelaku perundungan, telah mengancam sekolah dan entah apa yang mereka pikirkan, mereka malah memposting rekaman suara di media sosial

Postingan itu menjadi viral dan dia buru-buru menghapusnya, tapi hal itu sudah terlambat dan hanya menambah bahan bakar untuk api yang semakin membara. Dengan akun yang menggunakan nama asli, identitas mereka sudah terungkap dan situasinya semakin buruk. 

Seriusan, apa yang sudah dia lakukan?” 

Meskipun mereka adalah musuh, mau tak mau aku jadi ikutan merasa pusing dengan kesalahan yang mereka buat. Setelah kesalahan besar yang dilakukan oleh anggota dewan kota Kondo dan anaknya, opini publik yang sebelumnya simpatik terhadap Aono-kun kini sepertinya sudah menjadi keputusan yang pasti. 

Kelihatannya waktu pemulihan reputasi Aono-kun tidak terlalu jauh. 

“Yah, tidak apa-apa. Sekarang mereka hanya akan jatuh sendiri, jadi aku akan mempersiapkan eksperimen.” 

Hari ini, aku akan fokus pada pelajaran remedial Aono-kun. Setelah berkonsultasi dengan guru pembimbing, kami akan melakukan eksperimen sublimasi yodium. Itu adalah eksperimen yang cukup menarik dan indah. 

Untuk jaga-jaga, aku sudah meninjau video di situs kemarin, dan guru pembimbing juga akan ikut berpartisipasi. Anggota klub juga tidak memiliki prasangka terhadap Aono-kun, dan ketika aku menjelaskan situasinya, mereka dengan senang hati menawarkan untuk meluangkan waktu dari kegiatan klub mereka untuk membantu. 

Selain itu, sepertinya Ichijou-san juga akan ikut berpartisipasi. Informasi tersebut membuat klub kimia kami yang terdiri dari laki-laki merasa bersemangat. Tidak, kami mengerti bahwa Aono-kun dan Ichijou-san memiliki perasaan terhadap satu sama lain, jadi aku tidak berpikir bahwa anggota klub memiliki harapan yang aneh. Namun, bisa melakukan eksperimen dengan gadis yang terkenal sebagai yang tercantik di sekolah adalah hal yang menyenangkan. 

Aku juga senang bisa membantunya dengan cara seperti ini. 

Ngomong-ngomong, Aono-kun dan Imai yang menyemangatiku untuk ikut klub meskipun aku merasa tidak percaya pada manusia. Klub kimia ini merupakan kelompok kecil yang erat, jadi sekarang kami bisa berbagi waktu yang tak tergantikan. Guru pembimbingnya juga seorang pria tua yang baik hati yang akan segera pensiun. 

“Permisi. Aku datang untuk membantu pelajaran remedial.” 

Di ruang persiapan eksperimen, guru pembimbing kami sedang menonton acara berita di televisi kecil. 

“Ah, terima kasih. Aono-kun dan yang lainnya akan segera datang, jadi mari kita selesaikan persiapannya.” 

Namun, sepertinya Sensei lebih tertarik pada televisi. Ia sepertinya tidak segera mematikannya

[Insiden perundungan kali ini pasti akan menjadi kasus percontohan di masa depan. Ini bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh hanya sebagai perundungan. Jika itu melibatkan kekerasan, itu menjadi kasus penyerangan atau penganiayaan. Jika barang pribadi disembunyikan, itu menjadi pencurian. Jika mengeluarkan kata-kata kasar di media sosial, itu menjadi pencemaran nama baik atau fitnah. Pelecehan seksual bahkan lebih parah. Semua ini adalah kejahatan yang sah. Selama ini, mencoba menangani masalah ini hanya di dalam sekolah adalah hal yang tidak mungkin.] 

[Tetapi, bagi generasi kami, ada sedikit ketidaknyamanan…]

[Memang mungkin demikian. Namun, kenyataannya, banyak siswa yang terpaksa bunuh diri atau tidak pergi ke sekolah karena perundungan. Menurutku kita perlu mengubah kesadaran secara keseluruhan di masyarakat.]

Bahkan acara berita yang hanya membahas berita selebriti, kali ini tampaknya menunjukkan banyak minat pada masalah ini. Mungkin karena banyak penonton yang memiliki anak atau cucu, diskusi ini berlangsung cukup lama. Orang tua yang kehilangan anak karena perundungan juga memberikan komentar. 

“Seandainya ada guru atau teman yang membelanya, atau orang dewasa di dekatnya yang mengatakan kepadanya bahwa perundungan adalah kejahatan, mungkin anakku tidak perlu meninggal. Aku terus memikirkannya setelah melihat laporan berita.” 

Kedengarannya seperti teriakan yang memilukan.

Jika Aono-kun membuat pilihan terburuk, aku yakin bahwa aku juga takkan bisa bangkit kembali. 

“Endou-kun. Kamu sudah berusaha dengan baik.” 

Sensei mematikan televisi dan dengan lembut berkata tanpa menatapku. 

“Eh?” 

“Aku tidak akan mengatakan apa yang terjadi. Jika aku mengatakannya, itu akan menimbulkan masalah. Namun, memiliki seseorang yang bisa menemani di saat-saat sulit merupakan suatu keberkahan. Jaga hubungan itu dengan baik ke depannya.” 

Dengan kata-kata hangat itu, aku hampir menangis dan menjawab dengan suara bergetar, “Ya,” lalu Sensei menoleh dan tersenyum lembut.

 

※※※※

──Sudut Pandang Takayanagi──

 

Tanpa mengetahui bahwa ibu Aida sedang menjadi perbincangan online, aku diundang oleh kepala sekolah ke sebuah bar yang bisa bermain shogi. Sepertinya dia mampir ke sini setelah perjalanan dinas. Beliau bilang ingin berbicara dir sini karena dia mengetahui hobiku

Aku tidak sempat bersantai karena sibuk menangani masalah kali ini, jadi kepala sekolah merasa kasihan dengan situasiku, dan menawarkan untuk mentraktirku. 

“Baiklah, mari kita bersulang.” 

Kepala sekolah berkata demikian sambil mengarahkan bir ke arahku. 

Aku mengangguk dan perlahan menempelkan gelas kami

“Terima kasih atas kerja kerasnya.” 

Meskipun begitu, seperti yang diharapkan dari mantan juara amatir. Aku tidak bisa menang melawanmu.” 

Kepala sekolah tersenyum masam sambil melihat bidak shogi-nya yang sudah di-skakmat

“Rasanya menyegarkan bisa bermain shogi lagi setelah sekian lama.” 

Beliau pasti sangat mencemaskanku. Memang, akhir-akhir ini aku sering lembur.  

Aku senang mendengarnya. Ngomong-ngomong, apa kamu tahu kutipan terkenal dari Kimura Yoshio, seorang juara besar sebelum perang, ketika dia kalah dari Ooyama Yasuharu, juara besar setelah perang dan kehilangan gelar juaranya?” 

Pemain shogi biasanya memiliki ingatan yang baik dan umumnya adalah penggemar shogi. Aku juga tidak terkecuali. 

“Tentu saja. ‘Aku mendapat penerus yang baik,’ bukan?” 

Kepala sekolah tersenyum lebar. 

“Benar sekali. Ini adalah kesempatan yang baik, jadi aku ingin membicarakannya dengan baik. Takayanagi-sensei, kamu adalah guru yang benar-benar luar biasa. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Oleh karena itu, aku merasa tidak pantas mengatakan hal seperti ini. Namun, melihat pekerjaanmu, aku ingin mengikuti jejak teladan yang agung. Pada saat aku akan pensiun dalam beberapa tahun ke depan, aku benar-benar merasa bahwa aku telah mendapatkan ‘penerus yang baik’.” 

“Ah, aku masih jauh dari itu. Masalah kali ini juga takkan mungkin ditangani dengan baik tanpa bantuan guru-guru lain…” 

“Tidak, kamu terlalu merendah. Ini adalah masalah yang biasanya membuat orang mundur. Kurasa kita hanya bisa sampai sejauh ini karena kau menyadarinya sejak dini. Izinkan aku menceritakan sedikit kisah dari masa lalu. Sebenarnya, aku pernah menjadi wali kelas tempat terjadinya perundungan.” 

Ekspresi wajahnya menunjukkan penyesalan. Aku bisa memahami semuanya dari situ

“...Pada akhirnya, aku tidak bisa melindungi muridku seperti yang kamu lakukan. Dia akhirnya berhenti sekolah. Aku baru menyadarinya setelah korban mulai sering absen. Itulah hal yang paling aku sesali dalam karir mengajarku.” 

Aku merasa bahwa itu benar-benar menyiksa beliau

Pekerjaan guru adalah tanggung jawab yang memengaruhi masa depan anak-anak yang memiliki harapan. Aku memahaminya secara verbal, tetapi terkadang kesibukan sehari-hari membuatnya terasa jauh. 

“Itu...” 

Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Seandainya saja Aono menjadi siswa seperti yang diajarkan kepala sekolah dulu, aku pasti akan menyesalinya seumur hidupku

Itulah sebabnya tanggapanmu sungguh luar biasa. Ketika aku mengetahuu ada guru seperti Takayanagi-sensei di sekolah ini, aku merasa tenang untuk menyerahkan tongkat estafet kepada kalian.” 

Dan ekspresinya merupakan ekspresi seseorang yang telah mengambil keputusan. 

“Terima kasih.” 

Cuma itu kata terbaik yang bisa kukatakan kepada beliau

“Ya. Namun, generasi muda saat ini luar biasa. Menjadi atlet Olimpiade di usia remaja adalah hal yang biasa, sama halnya dalam shogi. Ada anak muda yang berusia hampir seperti siswa SMA yang berada di puncak profesional. Aku meyakini kalau Aono Eiji yang kamu lindungi pasti akan menjadi seperti itu. Banyak orang dewasa yang pesimis tentang masa depan Jepang, tetapi banyak anak muda yang luar biasa muncul, jadi... kurasa masih ada harapan. Itulah sebabnya... 

Kepala sekolah berbicara dengan penuh keyakinan sambil tersenyum. Beliau menatapku dengan tatapan langsung. 

Aku akan bertanggung jawab penuh. Aku ingin kamu terus maju dengan lurus. Mungkin kamu akan menerima tekanan dari luar di masa depan, tapi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Bertanggung jawab adalah tugasku sebagai kepala sekolah.” 

Aku juga harus membalas tekad atasanku. 

“Aku akan melakukan yang terbaik.” 

Kepala sekolah tersenyum lembut.

 

※※※※

──Sudut Pandang Kepala Sekolah──

 

Setelah berbincang-bincang dengan Takayanagi-sensei, aku pergi ke toilet pada waktu yang tepat. Sambil melihat kotak masuk email di ponsel yang kusimpan di saku, aku berusaha menahan kemarahanku

Beberapa jam yang lalu, seorang teman yang bekerja di Kementerian Pendidikan mengirimkan pesan peringatan kepadaku

“(Rupanya, para petinggi kementrian sedang mencoba untuk campur tangan dalam masalah perundunganmu untuk segera menyelesaikan skandal politik ini. Mungkin akan ada tekanan di masa depan, jadi berhati-hatilah.)” 

Aku berterima kasih kepada temanku yang baik itu, sambil merasa muak dengan dunia yang busuk ini. 

“Jika aku tidak bisa melindungi siswa dan bawahanku sendiri, apa gunanya menjadi kepala sekolah?”

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama