
Selingan — Tanggung Jawab Orang Dewasa
──Sudut
Pandang Takayanagi──
Pada hari
Senin sore, kami kedatangan tamu yang tak terduga.
Dia
adalah ibu dari anggota tim sepak bola, seorang ‘Mama Sadis’ yang terkenal sebagai pengurus
PTA. Seharusnya, kepala sekolah lah
yang menangani hal ini,
tetapi dirinya saat
ini sedang dalam perjalanan dinas ke kantor pemerintah untuk melaporkan masalah
yang sedang berlangsung.
Oleh
karena itu, aku dan wakil kepala sekolah yang harus berurusan dengannya.
“Apa maksudnya ini? Aku tidak mempercayai kalau anakku
tiba-tiba diskors! Kenapa kalian tidak mengatakan
apapun kepadaku?”
Dia mendesak dengan sikap yang sangat agresif. Suara teriakan kerasnya
menggema di ruang tamu.
“Itu
karena putra Anda terlibat dalam masalah perundungan yang dilaporkan di berita…”
Ketika
wakil kepala sekolah mencoba menjelaskan secara logis, dia memotong dengan
kemarahan yang meluap.
“Aku
adalah anggota PTA di sekolah ini. Mencoba menjatuhkan sanksi tanpa pemberitahuan
adalah tindakan sewenang-wenang dari pihak sekolah. Keributan kali ini jelas
telah merusak citra sekolah. Perasaan keadilan yang salah dari para guru telah
merusak citra sekolah secara keseluruhan. Apa Anda mengerti? Ini sudah seperti pengkhianatan. Aku akan
mengangkat masalah ini di dalam rapat PTA.
Kalian tahu apa yang akan terjadi pada
kalian jika itu terjadi, ‘kan? Aku harap kalian menantikan perombakan staf berikutnya.”
Dia
benar-benar mengeluarkan semua yang ingin dia katakan dengan cepat. Tanpa sadar, sisi emosionalku
muncul. Aku sangat berterima kasih kepada kepala sekolah dan wakil kepala
sekolah yang berdiri di garis depan.
Namun…
“Dengan segala hormat,
Aida-san.”
Aku tidak
bisa menahan diri untuk tidak berseru.
“A-Apa?”
Dia sedikit tersentak, mungkin
terkejut dengan serangan balik yang tidak terduga. Sifat kompetitifku yang
dikenal saat di klub semasa sekolah kembali muncul.
“PTA
adalah organisasi yang membantu pertumbuhan anak-anak. Aku mempercayai bahwa campur tangan Anda dalam
sanksi terkait masalah ini justru merupakan
tindakan yang tidak pantas.”
Usai mendengar
perkataanku, dia marah dan urat-urat di
lehernya terlihat.
“Takayanagi-sensei.
Pernyataan Anda terdengar sedikit
bermasalah. Anda merendahkan kami. Lagipula, bukannya sangat tidak masuk akal untuk
menghukum begitu banyak siswa hanya untuk melindungi satu orang?? Pihak korban juga memiliki sebagian
tanggung jawab. Mereka pasti telah melakukan sesuatu yang mencurigakan. Selain
itu, para pelaku juga memiliki masa depan.
Jika Anda berusaha merampas masa depan siswa yang cemerlang itu, kami harus
melawan.”
Sekilas
terdengar logis, tapi itu hanya emosi yang meluap. Aku tidak keberatan jika ini
berakhir di sini. Dengan tekad demikian,
aku melanjutkan.
“Perkataan Anda sendiri yang justru terdengar tidak masuk
akal. Pendidikan macam apa itu
jika Anda tidak bisa melindungi seorang siswa yang tidak
bersalah? Anda tadi bilang
bahwa pihak korban juga
memikul sebagian tanggung jawab, tetapi
dalam kasus ini, mayoritas hanya menuduh satu siswa
yang lemah dan menjadikannya sasaran main
hakim sendiri. Dan
mereka bahkan mungkin meninggalkan bekas
digital yang tidak akan pernah hilang. Para
pelaku juga memang memiliki
masa depan mereka. Namun,
masa depan itu hanya akan muncul setelah mereka bertanggung jawab atas masalah
perundungan kali ini, bukan?”
Dia menanggapi serangan balikku dengan
nada histeris.
“It-Itu.... tapi meskipun begitu, hukuman
untuk begitu banyak siswa tidak bisa diterima…”
Dalam
situasi seperti ini, pihak yang
menyerang lebih dulu biasanya menang. Terutama tipe seperti ini, mereka kuat
dalam menyerang tetapi lemah dalam bertahan.
“Jika
kita mempertimbangkan tujuan
asli dari PTA, kita tidak bisa mengabaikan kesalahan kali ini, bukan? Apa itu akan membantu
pertumbuhan siswa yang sehat?
Jika mereka tidak menyadari kesalahan mereka, siswa akan tumbuh dengan cara
yang menyimpang. Itu sama saja dengan kita
sebagai guru dan Anda sebagai orang tua mengabaikan peran asli kita. Bukannya begitu?”
“...”
Wanita
yang beberapa saat sebelumnya sangat bersemangat dan tegas, kini terdiam.
Dan kemudian,
wakil kepala sekolah yang sebelumnya diam memberikan pukulan terakhir.
“Sayangnya, apa yang ingin kukatakan
telah diungkapkan oleh Takayanagi-sensei. Sangat buruk bagi junior yang tidak
memberi penghormatan kepada senior. Namun, kami akan mendukungnya. Anda mungkin
berpikir bahwa Anda bisa menggunakan status Anda sebagai pengurus PTA untuk
mengancam guru dan mungkin menutupi masalah ini… tapi itu adalah kesombongan.
Aida-san, membayangkan
seseorang seperti Anda untuk berbicara tentang pendidikan yang sehat membuatku merasa muak.”
※※※※
──Sudut
Pandang Ibu Aida──
Aku pergi meninggalkan sekolah.
Aku tidak pernah menyangka
akan diperlakukan seperti orang idiot
setelah mengajukan protes tentang putraku.
Mengapa aku
harus mengalami penghinaan seperti ini? Bahasa kasar seperti itu terhadap orang
tua sama sekali tidak dapat diterima.
Aku
seharusnya dianggap sebagai pelanggan oleh sekolah. Namun, mereka memperlakukanku
seolah-olah aku adalah seorang penjahat...
“Diam, dasar nenek peyot!”
Aku masih
belum bisa melupkan kata-kata yang diucapkan oleh
putraku. a selalu menjadi kebanggaanlu.
Hingga SMP, prestasi akademiknya selalu berada di peringkat teratas. Dirinya sudah ber,ain sepak
bola sejak
kecil, dan ia juga telah mencapai hasil yang memuaskan, dan tahun ini dia bahkan masuk
dalam daftar pemain cadangan. Dia selalu dengan antusias
bercerita kepadaku bahwa Senpai kelas
3 yang bernama Kondo memiliki bakat luar biasa, sehingga mereka
mungkin bisa ikut serta dalam turnamen nasional tahun ini. Tanpa mengetahui
bahwa senior itu adalah orang jahat. Semuanya akibat
si Senpai itu. Rupanya, ayahnya adalah anggota dewan kota
bernama Kondo dan ia juga
sedang menghadapi kecaman di
internet. Sudah kuduga, cara
mendidiknya yang salah. Jadi, semuanya adalah kesalahan orang-orang itu.
Namun...
Putraku
ditipu oleh senior dan pacarnya yang ia percayai,
menjadi kaki tangannya dan terlibat
dalam masalah perundungan...
Putraku
seharusnya menjadi korban, tapi dia diperlakukan seolah-olah dia adalah pelaku.
Apa pihak sekolah akan menghukumnya? Itu
tidak mungkin.
Ini jelas-jelas tindakan sewenang-wenang dari
sekolah. Ketika anakku masih SD dan SMP,
mereka selalu menangani masalah dengan baik. Sekarang, meskipun aku pergi
untuk mengajukan protes, mereka tidak menghiraukanku.
Ini
benar-benar tidak masuk akal.
“Benar juga, jika sudah begini, aku akan mengungkapkan
tindakan sewenang-wenang sekolah di internet. Tanggapan mereka benar-benar
mengerikan, dan kami adalah korban, jadi pasti, pasti...”
Sebagai
langkah pencegahan, aku merekam percakapan tadi secara diam-diam.
“Benar.
Jika aku mengunggah file ini ke media sosia, pasti banyak yang akan
bersimpati dan berpihak kepadaku.”
Media
sosial bisa untuk mengunggah foto dan video. Aku segera mengunggahnya ke
akunku.
“Anakku
terlibat dalam masalah perundungan di sekolah yang sedang menjadi perhatian
publik. Dirinya
hanya ditipu oleh Senpai
yang jahat. Anakku adalah korban. Namun, respons dari pihak sekolah sangat
buruk. Ini buktinya. Aku mohon,
bantu anakku dengan kekuatan kalian.”
※※※※
Sesampainya
di rumah, aku segera memeriksa akunku. Reaksi yang datang sangat luar biasa dari yang pernah kulihat. Ternyata aku benar. Aku tidak salah. Dengan
penuh harapan, aku memeriksa komentar.
“Eh...”
Reaksi yang muncul justru mengarah
ke arah yang berbeda dari yang kuharapkan.
“Wakil kepala sekolah dan
Takayanagi-sensei sangat keren. Pendapat
yang benar sekali.”
“Orang
tua monster, benar-benar dibantahkan
wkwk.”
“Baru pertama kalinya aku melihat orang yang dengan
serius mengatakan bahwa korban memiliki
sebagian tanggung jawab, sementara pelaku juga memiliki
masa depan.”
“Tidak mengherankan jika putranya
bisa menjadi pelaku perundungan, dia benar-benar
terlihat seperti orang tua monster.”
“Sekolah
mungkin bertindak terlalu berlebihan,
tapi itu pendapat yang benar. Mereka mengatakan korban juga memiliki tanggung
jawab, tetapi tampaknya kasus perundungan ini sepenuhnya merupakan kasus di
mana korban dituduh secara salah. Korban sama sekali tidak bersalah.”
“Jadi begini contoh nyata dari seorang pencuri
yang kurang ajar.”
“Jujur
saja, bahkan aku yang tidak terlibat merasa jijik dengan reaksi pemilik
postingan ini.”
“Aku
malah ingin menitipkan anakku di sekolah seperti ini.”
Hampir
sebagian besar komentar justru bernada negatif terhadapku.
Aku merasa ketakutan dan segera menghapus postingan tersebut. Ini pasti aman, kan? Jumlah
pengikut di akun ini juga tidak terlalu banyak.
Aku
berusaha meyakinkan diri sendiri dan mulai menyiapkan makan malam.
“Eh, apa
kamu buru-buru menghapus postingan itu?”
“Tentu
saja, aku menyimpan gambar dan data suara.”
“Ini akan
menjadi gelombang besar.”
Aku tidak
pernah berpikir bahwa kali ini kami yang akan terpapar kebencian di internet.
※※※※
──Sudut
Pandang Endou Kazuki──
‘[Berita
sedih] Orang Tua Monster Mengunggah Klaim Anak yang Dirundung juga Bersalah dan berhasil membuat keributan.’
“Apa ada
masalah pada pihak yang diintimidasi? Melindungi masa depan pelaku? Kamu tidak
seharusnya mengatakan itu hari ini, aku ada
bukti postingannya.”
“[Ada
bukti] Orang tua dari anak yang memimpin perundungan. Terjebak dalam teori
egois dan terpaksa menghapus postingan dan melarikan diri.”
Setelah
pelajaran selesai, aku mencari informasi terbaru tentang tim sepak bola di
internet dan menemukan bahwa orang tua Aida, yang ternyata adalah pelaku
perundungan, telah mengancam sekolah dan entah apa yang mereka pikirkan, mereka
malah memposting rekaman suara di media sosial.
Postingan
itu menjadi viral dan dia
buru-buru menghapusnya, tapi hal itu sudah
terlambat dan hanya menambah bahan bakar untuk api yang semakin membara. Dengan akun yang menggunakan nama
asli, identitas mereka sudah terungkap dan situasinya semakin buruk.
“Seriusan, apa yang sudah dia lakukan?”
Meskipun
mereka adalah musuh, mau tak mau aku jadi ikutan
merasa pusing dengan kesalahan yang mereka buat. Setelah kesalahan besar yang
dilakukan oleh anggota dewan kota Kondo
dan anaknya, opini publik yang sebelumnya simpatik terhadap Aono-kun kini sepertinya sudah menjadi
keputusan yang pasti.
Kelihatannya
waktu pemulihan reputasi
Aono-kun tidak terlalu jauh.
“Yah,
tidak apa-apa. Sekarang mereka hanya akan jatuh sendiri, jadi aku akan
mempersiapkan eksperimen.”
Hari ini,
aku akan fokus pada pelajaran remedial
Aono-kun. Setelah berkonsultasi dengan
guru pembimbing, kami akan melakukan eksperimen sublimasi yodium. Itu adalah
eksperimen yang cukup menarik dan indah.
Untuk
jaga-jaga, aku sudah meninjau
video di situs kemarin, dan guru pembimbing juga akan ikut berpartisipasi. Anggota klub juga tidak
memiliki prasangka terhadap Aono-kun,
dan ketika aku menjelaskan situasinya,
mereka dengan senang hati menawarkan untuk meluangkan waktu dari kegiatan klub
mereka untuk membantu.
Selain
itu, sepertinya Ichijou-san juga
akan ikut berpartisipasi. Informasi tersebut membuat klub
kimia kami yang terdiri dari laki-laki merasa bersemangat. Tidak, kami mengerti bahwa Aono-kun dan Ichijou-san memiliki
perasaan terhadap satu sama lain,
jadi aku tidak berpikir bahwa anggota klub memiliki harapan yang aneh. Namun,
bisa melakukan eksperimen dengan gadis yang terkenal sebagai yang tercantik di
sekolah adalah hal yang menyenangkan.
Aku juga
senang bisa membantunya dengan cara
seperti ini.
Ngomong-ngomong,
Aono-kun dan Imai yang menyemangatiku untuk ikut klub meskipun aku
merasa tidak percaya pada manusia. Klub kimia ini merupakan kelompok kecil yang erat, jadi
sekarang kami bisa berbagi waktu yang tak tergantikan. Guru pembimbingnya juga seorang pria tua yang
baik hati yang akan segera pensiun.
“Permisi.
Aku datang untuk membantu pelajaran remedial.”
Di ruang
persiapan eksperimen, guru pembimbing kami
sedang menonton acara berita di televisi kecil.
“Ah,
terima kasih. Aono-kun dan yang
lainnya akan segera datang, jadi mari kita selesaikan persiapannya.”
Namun,
sepertinya Sensei lebih
tertarik pada televisi. Ia sepertinya tidak segera mematikannya.
[Insiden
perundungan kali ini pasti akan menjadi kasus percontohan di masa
depan. Ini bukan
sesuatu yang bisa dianggap remeh hanya sebagai perundungan. Jika itu melibatkan
kekerasan, itu menjadi kasus penyerangan atau penganiayaan. Jika barang pribadi
disembunyikan, itu menjadi pencurian. Jika mengeluarkan kata-kata kasar di media sosial, itu
menjadi pencemaran nama baik atau fitnah. Pelecehan seksual bahkan lebih parah.
Semua ini adalah kejahatan yang sah. Selama ini, mencoba menangani masalah ini
hanya di dalam sekolah adalah hal yang tidak mungkin.]
[Tetapi,
bagi generasi kami, ada sedikit ketidaknyamanan…]
[Memang
mungkin demikian. Namun, kenyataannya, banyak siswa yang terpaksa bunuh diri
atau tidak pergi ke sekolah karena perundungan. Menurutku kita perlu mengubah
kesadaran secara keseluruhan di masyarakat.]
Bahkan acara berita yang hanya membahas
berita selebriti, kali ini tampaknya menunjukkan
banyak minat pada masalah ini. Mungkin karena banyak penonton yang memiliki
anak atau cucu, diskusi ini berlangsung cukup lama. Orang tua yang kehilangan
anak karena perundungan juga memberikan komentar.
“Seandainya
ada guru atau teman yang membelanya,
atau orang dewasa di dekatnya yang mengatakan kepadanya bahwa perundungan
adalah kejahatan, mungkin anakku tidak perlu meninggal. Aku terus memikirkannya
setelah melihat laporan berita.”
Kedengarannya
seperti teriakan yang memilukan.
Jika Aono-kun membuat
pilihan terburuk, aku yakin bahwa aku
juga takkan bisa bangkit kembali.
“Endou-kun.
Kamu sudah berusaha dengan baik.”
Sensei
mematikan televisi dan dengan lembut berkata tanpa menatapku.
“Eh?”
“Aku
tidak akan mengatakan apa yang terjadi. Jika aku mengatakannya, itu akan menimbulkan masalah. Namun, memiliki
seseorang yang bisa menemani di saat-saat sulit merupakan
suatu keberkahan. Jaga hubungan itu dengan baik ke
depannya.”
Dengan
kata-kata hangat itu, aku hampir menangis dan menjawab dengan suara bergetar,
“Ya,” lalu Sensei menoleh
dan tersenyum lembut.
※※※※
──Sudut
Pandang Takayanagi──
Tanpa
mengetahui bahwa ibu Aida sedang menjadi perbincangan online, aku diundang oleh kepala
sekolah ke sebuah bar yang bisa bermain shogi. Sepertinya dia mampir ke sini
setelah perjalanan dinas. Beliau bilang ingin
berbicara dir sini karena dia mengetahui hobiku.
Aku tidak
sempat bersantai karena sibuk menangani masalah kali ini, jadi
kepala sekolah merasa kasihan dengan situasiku, dan
menawarkan untuk mentraktirku.
“Baiklah,
mari kita bersulang.”
Kepala
sekolah berkata demikian sambil mengarahkan bir ke arahku.
Aku
mengangguk dan perlahan menempelkan gelas kami.
“Terima
kasih atas kerja kerasnya.”
“Meskipun begitu, seperti yang diharapkan
dari mantan juara amatir. Aku tidak bisa menang
melawanmu.”
Kepala
sekolah tersenyum masam sambil
melihat bidak shogi-nya yang sudah di-skakmat.
“Rasanya
menyegarkan bisa bermain shogi lagi setelah sekian lama.”
Beliau
pasti sangat mencemaskanku. Memang,
akhir-akhir ini aku sering lembur.
“Aku senang mendengarnya.
Ngomong-ngomong, apa kamu tahu kutipan terkenal dari Kimura Yoshio, seorang
juara besar sebelum perang, ketika dia kalah dari Ooyama Yasuharu, juara besar
setelah perang dan kehilangan gelar juaranya?”
Pemain
shogi biasanya memiliki ingatan yang baik dan umumnya adalah penggemar shogi. Aku
juga tidak terkecuali.
“Tentu
saja. ‘Aku mendapat penerus yang baik,’ bukan?”
Kepala
sekolah tersenyum lebar.
“Benar
sekali. Ini adalah kesempatan yang baik, jadi aku ingin membicarakannya dengan
baik. Takayanagi-sensei, kamu adalah guru yang benar-benar luar biasa. Aku
tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu.
Oleh karena itu, aku merasa tidak pantas mengatakan hal seperti ini. Namun,
melihat pekerjaanmu, aku ingin mengikuti jejak teladan yang agung. Pada saat aku
akan pensiun dalam beberapa tahun ke depan, aku benar-benar merasa bahwa aku
telah mendapatkan ‘penerus yang baik’.”
“Ah, aku
masih jauh dari itu. Masalah kali ini juga takkan mungkin ditangani dengan baik tanpa
bantuan guru-guru lain…”
“Tidak, kamu terlalu merendah. Ini
adalah masalah yang biasanya membuat orang mundur. Kurasa kita hanya bisa
sampai sejauh ini karena kau menyadarinya sejak dini. Izinkan aku menceritakan
sedikit kisah dari masa lalu. Sebenarnya, aku pernah menjadi wali kelas tempat
terjadinya perundungan.”
Ekspresi
wajahnya menunjukkan penyesalan. Aku
bisa memahami semuanya dari situ.
“...Pada
akhirnya, aku tidak bisa melindungi muridku seperti yang kamu lakukan. Dia akhirnya berhenti sekolah.
Aku baru menyadarinya setelah
korban mulai sering absen. Itulah hal yang paling aku sesali dalam karir
mengajarku.”
Aku
merasa bahwa itu benar-benar menyiksa beliau.
Pekerjaan
guru adalah tanggung jawab yang memengaruhi masa depan anak-anak yang memiliki harapan.
Aku memahaminya secara verbal, tetapi terkadang
kesibukan sehari-hari membuatnya terasa jauh.
“Itu...”
Aku tidak
bisa menemukan kata-kata yang tepat. Seandainya saja Aono menjadi siswa
seperti yang diajarkan kepala sekolah dulu,
aku pasti akan menyesalinya seumur hidupku.
“Itulah sebabnya tanggapanmu sungguh
luar biasa. Ketika aku mengetahuu ada guru seperti
Takayanagi-sensei di sekolah ini,
aku merasa tenang untuk menyerahkan tongkat estafet
kepada kalian.”
Dan
ekspresinya merupakan ekspresi
seseorang yang telah mengambil keputusan.
“Terima
kasih.”
Cuma itu
kata terbaik yang bisa kukatakan kepada beliau.
“Ya.
Namun, generasi muda saat ini luar biasa. Menjadi atlet Olimpiade di usia
remaja adalah hal yang biasa, sama halnya dalam shogi. Ada anak muda yang
berusia hampir seperti siswa SMA yang berada di puncak profesional. Aku meyakini kalau Aono Eiji
yang kamu lindungi pasti akan menjadi seperti itu. Banyak orang dewasa yang
pesimis tentang masa depan Jepang, tetapi banyak anak muda yang luar biasa
muncul, jadi... kurasa masih ada harapan. Itulah
sebabnya...”
Kepala
sekolah berbicara dengan penuh keyakinan
sambil tersenyum. Beliau menatapku
dengan tatapan langsung.
“Aku akan bertanggung jawab penuh. Aku
ingin kamu terus maju dengan lurus. Mungkin kamu akan
menerima tekanan dari luar di
masa depan, tapi kamu tidak
perlu mengkhawatirkannya. Bertanggung
jawab adalah tugasku sebagai kepala sekolah.”
Aku juga
harus membalas tekad atasanku.
“Aku akan
melakukan yang terbaik.”
Kepala
sekolah tersenyum lembut.
※※※※
──Sudut
Pandang Kepala Sekolah──
Setelah berbincang-bincang dengan
Takayanagi-sensei, aku pergi ke toilet pada waktu yang tepat. Sambil melihat kotak masuk email
di ponsel yang kusimpan di saku, aku berusaha menahan
kemarahanku.
Beberapa
jam yang lalu, seorang teman yang bekerja di Kementerian Pendidikan mengirimkan
pesan peringatan kepadaku.
“(Rupanya,
para petinggi kementrian sedang mencoba untuk campur tangan dalam masalah perundunganmu
untuk segera menyelesaikan skandal politik ini. Mungkin akan ada tekanan di
masa depan, jadi berhati-hatilah.)”
Aku berterima kasih kepada temanku yang baik itu, sambil merasa
muak dengan dunia yang busuk ini.
“Jika aku
tidak bisa melindungi siswa dan bawahanku sendiri,
apa gunanya menjadi kepala sekolah?”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya