Roshi-dere Vol.2 Chapter 06 Bahasa Indonesia

Chapter 6 — Kalau Kamu Otaku, Kamu Pasti Pernah Memimpikannya

 

“Sepasang kartu Jack”

“Fufufu, Full House.

“Haa!”

Pesta penyambutan untuk Masachika dan Ayano diadakan di ruang OSIS pada waktu sepulang sekolah.

Setelah makan malam cepat di kantin sekolah yang sebenarnya masih buka sampai malam hari, meskipun menunya terbatas, mereka lalu beralih ke ruang OSIS untuk mengadakan pesta penyambutan yang cuma berisi cemilan dan jus, mereka sekarang dibagi menjadi dua kelompok untuk mempererat hubungan. Masachika, Touya, dan Chisaki duduk di sekitar meja rapat OSIS. Sedangkan empat sisanya pindah ke kursi sofa untuk pengunjung dan bermain kartu. Tapi kenyataannya, cuma Alisa dan Yuki saja yang benar-benar bermain.

Di awal pesta penyambutan, suasana di antara mereka terlihat sedikit canggung (atau lebih tepatnya, Alisa tampaknya tidak dapat mengukur jarak di antara mereka), tapi setelah Yuki secara aktif berbicara dengannya, mereka secara bertahap mengenal satu sama lain dan sekarang tengah bermain poker bersama.

“... Fold. Aku keluar.”

“Ara~, begitu ya? Padahal aku dapat kartu jelek, sepertinya gertakanku berhasil dengan ampuh.”

“Eeh!?”

“Arara Alya-chan, sayang sekali, ya~”

Mereka bermain poker dengan bertaruh pada cemilan kecil yang dibagikan ke setiap orang …. Mungkin karena perbedaan pengalaman, sejauh ini Yuki terus mengalami kemenangan beruntun. 80% cemilan milik Arisa sudah berganti menjadi milik Yuki.

Maria terkekeh saat melihat situasi itu, dan Alisa memelototinya seakan-akan melampiaskan kekesalannya. Sedangkan di sisi lain, Ayano dengan wajah datarnya yang biasa, berdiri di antara Alisa dan Yuki sembari membagikan kartu dengan santai. Anehnya lagi dia terlihat sangat cocok menjadi dealer. Sungguh gadis pelayan super.

“Aku sudah lama kepikiran sejak kami pernah bermain permainan papan sebelumnya ... Tapi kelihatannya, Suou juga lebih jago dalam permainan meja.”

Masachika mengangguk setuju dengan penilaian Touya yang sedang menonton pemandangan itu bersama Chisaki.

“Yah, garis keturunan keluarga diplomat memang beda ... Tawar-menawar semacam itu sudah menjadi keahlian Yuki.”

“Hmmm~... memang ada alasan itu juga, tapi bukankah alasan gampangnya karena ekspresi Alya-chan mudah terbaca?”

“Sarashina-senpai ... padahal aku sudah berusaha untuk tidak mengatakan apa yang kupikirkan!”

Masachika ambruk di atas meja karena komentar blak-blakan Chisaki.

“Ehh, aah … entah kenapa, maaf banget.”

“Yah, jangan terlalu dipikirkan, tapi ... memang benar kalau Alya tidak bisa memasang wajah poker sama sekali.”

“Kamu juga sama-sama tidak ada ampunnya, ya, Kuze.”

“Habisnya, Ketua bisa lihat sendiri ..., ‘kan?”

Masachika meletakkan tangannya di sandaran kursi dan melirik ke arah Alisa, yang baru saja mendapat kartu dari Ayano, sedang mengangkat alisnya dan mengerutkan bibirnya erat-erat.

Setelah berpikir beberapa detik, dia mengajukan taruhan dengan agresif, tapi Yuki langsung melakukan raise dengan double push dan fold. Kebetulan, kartu yang mereka pegang sama-sama jelek, tapi kartu yang Alisa pegang mempunyai angka sedikit besar.

“...Kalau itu sih, siapapun bisa langsung tahu dia memegang kartu jelek kalau memasang ekspresi semacam itu”

“Kujou-imouto tak disangka punya wajah yang sangat ekspresif. Aku mengira kalau emosinya jauh lebih sedikit ketimbang kakaknya ... Hmm, kalau begini, mungkin saja ekspresi yang sulit dibaca itu kakaknya daripada adiknya.”

“Ahh... Memang sih”

Masachika mengangguk setuju sambil melirik Maria, yang sedang menonton pertandingan kartu dengan senyum mengembang di wajahnya. Chisaki pun ikut menyetujui sembari tersenyum masam.

“Aku sudah mengenalnya selama lebih dari setahun ... Tapi jujur saja, aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Pada dasarnya, dia gadis yang sangat baik seperti “Gadis suci”, tapi terkadang dia juga mengatakan atau melakukan hal yang aneh.”

“... Rasanya kayak punya kepekaan yang unik, iya ‘kan.”

“Atau lebih tepatnya ... planga-plongo?”

“Meski sudah tau, aku sengaja tidak mau mengatakan itu!”

Masachika membalas tsukkomi lagi pada ucapan tanpa ampun Chisaki. Touya tertawa geli saat melihat Masachika bertingkah seperti itu.

“Tadi itu tsukkomi yang bagus, Kuze”

“Hahaha ... Ngomong-ngomong, kenapa Ketua memanggil Alya dan Masha-san dengan panggilan seperti itu?”

“Hmm?”

“Maksudku, panggilan seperti Kujou-imouto dan Kujou-Ane  ...”

“Ah……”

Pertanyaan Masachika dijawab Touya dengan senyuman menyeringai sambil mengelus dagunya.

“Gimana bilangnya, ya ... bukannya yang begitu terdengar lebih keren? Rasanya mirip seperti orang penting yang memanggil bawahannya.”

“... Eh? Cuma itu saja alasannya?”

Alasannya sangat tidak terduga sehingga Masachika tidak bisa menahan diri untuk tsukkomi. Namun, Ia buru-buru menyanggah ketika Touya sedikit meringkuk sedih.

“Ah tidak juga! Aku pikir itu keren! Yup, memang keren sekali! Panggilan yang memakai nama plus kakak atau adik! Aku paham banget! Hanya saja ... aku tidak menyangka kalau itu alasannya saat Ketua mengatakannya dengan wajah yang begitu serius.”

“Ooh. Jadi ... kamu bisa memahaminya, ya?”

Pada sanggahan Masachika, Touya berdeham dan mendapatkan kembali ketenangannya. Tapi setelah itu, Chisaki menggoda Touya sambil menyeringai.

“Meski kamu bilang begitu dengan sok, tapi aslinya kamu cuma merasa malu memanggil nama gadis saja, ‘kan?”

“Ummm ... yah, mungkin ada juga yang seperti itu?”

“Jadi itu alasan aslinya, ye!”

Masachika secara spontan membalas dengan dialek Kansai[1] terhadap balasan Touya, yang melihat ke sana-sini pada alasan asli yang dibongkar pacarnya. Kemudian, Touya berkata kepada Masachika dengan wajah tegas yang tidak diperlukan. 

“Sebaliknya, Aku justru merasa heran kenapa kamu bisa dengan santai memanggil Kujou bersaudari dengan nama panggilan mereka.”

“Jangan mengatakan sesuatu seperti orang suram yang non-komunal[2], dong ...”

“Kuze... Apa kamu lupa? Sampai setahun yang lalu, aku ini cowok suram yang tidak pernah berbicara dengan benar pada seorang gadis, tau?”

“Benar sekali! Aku hampir melupakannya!”

“Touya masih jadi orang pemalu, iya ‘kan ~? Butuh waktu berapa lama sampai kamu bisa memanggil namaku~?”

“Yah, aku tidak berencana untuk memanggil nama gadis lain, jadi tidak ada masalah.”

“... Apaan sih tiba-tiba bilang begitu, mou!”

“Hahaha ... cara menyembunyikan rasa malumu terlalu kuat!”

Toshiya tertawa kering sambil menahan serangan siku Chisaki. Di belakang mereka berdua, Ayano muncul sambil berdiri tanpa mengeluarkan suara.

“Sarashina-sama. Apa anda mau menambah minuman lagi?”

“Uwaahh !?”

Chisaki terkejut secara berlebihan pada suara yang memanggilnya dari belakang, dan saat membalikkan badan, dia melihat Ayano dengan senyum kaku.

“Ah, Ahaha ... itu cara yang bagus untuk menyingkirkan hawa keberadaanmu. Jarang-jarang ada yang bisa menyelinap ke belakangku tanpa kusadari, tau?”

“Memangnya kamu ini pendekar pedang?!”

“Tidak juga, Kuze, Chisaki sebenarnya pendekar pedang, tau? Yah, lebih tepatnya sih, itu ditulis kanji kepalan tinju ketimbang kanji pendekar pedang[3].” 

“Sungguh kata yang bikin bulu kuduk berdiri”

Saat Masachika mengatakan itu dengan suara kaku, Ayano yang sedang menuangkan jus ke Chisaki, memiringkan kepalanya ke arah Masachika seolah-olah bertanya padanya.

“Tidak, aku enggak usah. Punyaku masih ada.”

“Begitukah? Bagaimana dengan Kenzaki-sama...?”

“Hmm? Ah, terima kasih. Kalau begitu, aku juga minta.”

Menanggapi tawaran Ayano, Touya meminum semua sisa minumannya dan memberikan cangkir kosong itu kepada Ayano. Dia lalu menuangkan jus ke dalamnya. Meski ini minuman berkarbonasi, tapi fakta bahwa minuman yang dia tuangkan hampir tidak berbusa sudah cukup mengesankan.

“Makasih. Ngomong-ngomong ... kemampuanmu sangat luar biasa sekali. Bisa dibilang sangat menggambarkan pelayan pribadi Suou, tapi apa itu juga keterampilan sebagai pelayan pribadi untuk tidak menimbulkan suara?”

“Ya, saya mempelajarinya dari kakek-nenek saya.”

“Ohhh?”

“Ketua, kakek Ayano adalah sekretaris kakek Yuki, dan neneknya adalah pelayan di keluarga Yuki.”

Touya dan Chisaki tampaknya tertarik dengan penjelasan Masachika.

“Hee, jadi begitu rupanya. Kalau begitu, orang tuamu juga?”

“Tidak, orang tua saya hanya pekerja kantoran biasa.”

“Ehh? Masa?”

“Ya. Alasan saya menjadi pelayan pribadi Yuki-sama ialah karena saya mengagumi kakek dan nenek saya dan ingin menjadi seperti mereka. Hal ini bukan bisnis turun temurun dari keluarga atau semacamnya.”

“Hmm~... Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu mulai bekerja sebagai pelayan  pribadi?”

Saat ditanya Chisaki, ekspresi Ayano sama sekali tidak berubah tapi cuma tatapannya saja yang memandang ke atas seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.

“Saya tidak tahu persis kapan tepatnya ... Tapi kalau tidak salah, Saya baru duduk di kelas 2 SD saat memutuskan untuk menjadi pelayan.”

“Bukannya itu terlalu dini!?”

“Itu menunjukkan seberapa besar saya mengagumi kakek dan nenek saya ... selain itu, Ma … Yuki-sama adalah orang yang sangat cocok menjadi master saya.”

“Hmm”

Ada jeda yang tidak wajar di tengah kalimatnya, tapi Touya dan Chisaki mengangguk tanpa merasa ada yang janggal.

“Ayano, ke sini sebentar”

Ketika Masachika sedikit mengerutkan alisnya, Ia kemudian memberi isyarat padanya, dan Ayano diam-diam mendekati sisi Masachika. Dia kemudian meminta maaf dengan berbisik-bisik atas kesalahan yang hampir dia lakukan.

“(Saya sungguh minta maaf, Masachika-sama)”

“(Yah, kuharap supaya kamu lebih berhati-hati lagi ... tapi ...)”

“(…...?)”             

Apa kamu sudah tidak marah lagi? Saat ingin bertanya begitu ... Masachika mengurungkan niatnya saat melihat tatapan lurus mata Ayano.

Itu karena, kata “Rasa hormat” sangat jelas tertulis di tatapan matanya. Kemana perginya tatapan mata dingin saat istirahat makan siang tadi? Tatapan matanya menunjukkan kesetiaan MAX pada Masachika.

(Nih anak sudah gawat, tatapan matanya sudah dipenuhi tekad ... Tapi, kenapa? Sejak kapan parameter sukanya jadi naik?)

Saat Masachika kebingungan dalam hati karena parameter suka dan kesetiaan Ayano sudah maksimal meski Ia tidak pernah ingat meningkatkannya, ...... Touya kembali mengajak bicara ke topik pembicaraan.

“Jadi, apa itu sudah menjadi tata krama pelayan pribadi supaya tidak menimbulkan suara? Sesuatu sepeti ... tidak menganggu perhatian tuanmu?”

“Ya. Saya selalu diberitahu begitu oleh kakek-nenek saya bahwa sebagai pelayan, saya harus berusaha menjadi udara.”

“... Hmm? Bukannya itu punya maksud yang berbeda?”

Masachika diam-diam setuju dengan pertanyaan Chisaki.

Sebenarnya, niat asli dari perkataan kakek-nenek Ayano memang berbeda. Bagian meminimalisir hawa kehadirannya sih memang tidak salah, tapi hal yang ingin mereka sampaikan ialah “kita harus berusaha menciptakan lingkungan yang nyaman bagi Tuan tanpa membuatnya menyadari kalau kita ada di sana”. Akan tetapi ... Ayano yang pada masa itu masih kecil, menanggapinya secara harfiah. “Jadi begitu rupanya, menjadi udara, ya!”.

Dan sejak saat itu, Ayano terus mendedikasikan dirinya untuk menjadi udara. Pada awalnya, saat Ayano baru memulai berperilaku hati-hati dan sopan supaya tidak bersuara, kakek-neneknya memandangnya sambil tersenyum lembut, “Oya, oya, apa dia sedang meniru kita?”Ara, ara, sungguh pelayan yang imut, ya.” Namun, begitu  sampai pada titik tertentu dimana Ayano sampai tidak menggerakkan ekspresi di wajahnya, “Eh? Sepertinya ada yang aneh?” saat mereka berpikiran begitu ... Semuanya sudah terlambat.

Lalu, kakek-neneknya yang sudah menanamkan kesalahpahaman halus pada cucu mereka, meminta maaf kepada orang tua Ayano, yang mana merupakan putra dan menantu mereka. Namun, karena Ayano sendiri merasa puas dan Yuki yang pada saat itu sudah menderita sedikit Chuunibyou sangat menyukainya dan mengatakan “pelayan tanpa ekspresi itu imut banget!”, jadi orang tuanya tidak bisa berkata apa-apa lagi tentang itu.

Dan sejak saat itu, Ayano terus menapaki jalan maid yang sedikit menyimpang… hingga sekarang. Dia berharap bisa menjadi sekretaris Yuki di masa depan, tapi akhir-akhir ini keterampilan bersembunyinya menjadi lebih terampil sampai-sampai membuat Masachika berpikir apakah dia sedang mencoba menjadi seorang kunoichi[4] atau semacamnya. 

“Ah, Ayano-chan. Apa aku juga boleh minta jusnya?”

“Maafkan atas keteledoran saya. Maria-sama.”

Kemudian, Maria datang menghampiri sambil membawa cangkir kosong.

“Alya-chan memarahiku dan menyuruhku untuk diam.”

Maria lalu duduk di sebelah Masachika sembari menjulurkan lidahnya. Saat berbalik, dia melihat Alisa mengerutkan alisnya dan menatap kartu dengan ekspresi serius. Cuma ada tiga cemilan kecil yang tersisa di sisi Alisa. Rupanya permainan itu sudah memasuki tahap terakhir.

“Oi, oi ... apa mereka baik-baik saja? Ini enggak bakal menimbulkan pertengkaran, ‘kan?”

Masachika dan Maria mengangkat bahu mereka secara bersamaan saat Touya menyatakan keprihatinannya pada suasana tegang yang terjadi di meja permainan.

“Aku yakin itu akan baik-baik saja. Meski terlihat begitu, Alya sendiri tampaknya sedang bersenang-senang.”

“Memang, atau bisa dibilang ... dia merasa gembira~ tumben-tumbennya~”

“Betul sekali.”

“Ara~, apa kamu bisa mengetahuinya?”

“Tentu saja”

Mereka berdua saling bertukar pandang dan tersenyum kecil. Touya dan Chisaki yang duduk berhadapan, memiringkan kepala mereka dengan sangat tidak percaya, seraya berkata “Merasa gembira…? Muka serius kayak gitu….?”.

Namun, Masachika bisa melihat bahwa Alisa merasa gembira pada tingkat yang belum pernah Ia lihat sebelumnya. Masachika bisa melihat dari setiap ucapan dan tindakannya kalau Alisa menikmati permainan bersama teman dari usia dan jenis kelamin yang sama, yang mungkin belum pernah dia rasakan selama beberapa tahun.

Misalnya saja, caranya melihat cemilan yang hampir habis. Itu bukanlah ekspresi ketidaksabaran karena hampir kalah, melainkan ekspresi penyesalan bahwa permainan hampir berakhir. “Padahal aku masih mau main lagi!!Kalau begini terus, permainannya akan cepat selesai!” itulah arti dari tatapan matanya.

(“Putri penyendiri” ...ya…)

Tatapan Masachika berubah menjadi lembut saat memikirkan nama julukan yang diberikan orang lain kepada Alisa. Sedari awal, Masachika tidak berpikir kalau Alisa adalah gadis yang tidak bisa didekati, tapi saat melihatnya menikmati bermain kartu secara normal seperti ini masih membuatnya dalam suasana hati yang tak terlukiskan.

“Ara ~ kebetulan saja sudah habis?”

Saat Masachika menoleh ke arah Maria, dia melihat bahwa botol plastik yang dibawa Ayano sudah kosong. Ayano mencoba untuk mendapatkan penggantinya segera, tapi langkah kakinya terhenti ketika menyadari bahwa semua jus yang dia beli sudah habis.

“Lalu, kurasa aku perlu membelinya dari mesin penjual otomatis yang ada di bawah, ya”

“Kalau begitu, saya akan...”

“Enggak usah, enggak usah, karena hari ini Ayano-chan lah yang jadi heroine-nya.”

“?”

Bukan hanya Ayano, tapi Touya dan Chisaki juga ikut memiringkan kepala mereka saat mendengar komentar heroine misterius itu. Tapi tak berselang lama, Masachika berhasil menebak apa yang dia maksud.

“Etto, karena kamu dan aku adalah bintang utama dari pesta penyambutan ini, jadi karena kamu yang wanitanya, bukannya itu membuatmu menjadi heroine?”

“Begitulah~. Kalau begitu, hero-san, tolong temani aku, ya?”

“Kenape aku juga disuruh beli?!”

Seperti biasa, jalan pemikiran Maria susah sekali untuk ditebak. Namun, Masachika menyadari kalau akan sulit baginya membawa sendirian jus kalengan untuk semua orang, jadi Ia menghentikan Ayano dan berdiri dari tempat duduknya. Ia kemudian menoleh ke arah Alisa dan Yuki yang duduk di sofa untuk pengunjung, lalu memanggil mereka.

“Aku mau membeli minuman dari mesin penjual otomatis yang ada di lantai bawah, kalian mau minuman apa?”

“Tolong belikan aku minuman sari buah apel” (Touya)

“Cola ... Eh bukan, aku mau ginger ale aja deh” (Chisaki)

“Etto, aku mau yang lemon tea” (Alisa)

“Aku cafe au lait. Ah, tapi yang warnanya cokelat ya, bukan yang putih.” (Yuki)

“Aku mau Shiruko, tolong ya” (Maria)

“Kalau saya, air putih saja sudah cukup.” (Ayano)

“Aku ini bukan pangeran Shotoku[5], jadi jangan berbicara secara bersamaan juga kali …. Terus Masha-san, kamu tidak perlu memberitahuku segala. Karena kamu juga akan ikut membelinya bersamaku, ‘kan?” 

“Oh iya, benar juga~”

Sambil menertawakan senyum ceroboh Maria, Touya mencari sesuatu untuk menuliskan pesanan lagi, tapi sebelum Ia bisa menemukannya, Masachika mulai membuka mulutnya.

“Haaa... jadi minuman yang mau dibeli adalah sari buah apel, ginger ale, lemon tea, cafe au lait coklat, shiruko dan air putih, ya. Oke siap~”

“““Ehh?”””

Masachika meninggalkan ruangan OSIS bersama Maria, diiringi wajah terkejut dari Alisa dan dua senpai-nya. Saat memasuki koridor, sensor gerak bereaksi dan menyalakan lampu yang ada di koridor. Setelah berjalan sebentar melintasi halaman sekolah yang berwarna merah temaram karena sinar matahari senja, Maria berbicara pada Masachika dengan nada tenang.

“Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Kuze-kun.”

“Mendadak ada apa, Masha-san? Sampai mengatakan begitu segala”

“Mengenai kamu yang membantu Alya-chan. Serta memutuskan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan ketua OSIS bersama Alya-chan. Aku yakin…..kalau Alya-chan juga ikut merasa senang.”

Wajahnya dipenuhi ekspresi simpati dan kasih sayang yang benar-benar layak dipanggil sebagai “Gadis Suci”.

“Itu sih, bukan sesuatu yang … perlu diucapkan terima kasih segala oleh Masha-san …”

“Tentu saja aku harus berterima kasih padamu. Selama ini Alya-chan tidak mempunyai siapapun untuk diandalkan, tapi sekarang dia memiliki seseorang yang mendukungnya.”

“Haa ...”

Masachika menghentikan langkah kakinya dan mengucapkan beberapa patah kata saat melihat senyum tenang dan lembut Maria yang sangat berbeda dari senyumnya yang biasa.

“Apa jangan-jangan ...”

“Hmm?”

“Ah, bukan apa-apa ...”

Setelah mengucapkannya tanpa sadar, Masachika merasa ragu dan bimbang apakah Ia berhak menanyakan hal seperti itu. Namun, seolah-olah didorong oleh tatapan lembut Maria, yang berhenti dan berbalik menghadapnya, Masachika mendapati dirinya melanjutkan pertanyaan tadi.

“Mungkin tebakanku ini salah, tapi ... Masha-san, apa kamu sengaja untuk tidak menunjukkan sisi seriusmu di hadapan Alya?”

Maria mengedipkan matanya dengan cepat, tampak terkejut setelah mendengar pertanyaan Masachika.

Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan menunjukkan senyum dewasa yang gusar.

“Aku …. tidak ingin bersaing dengan Alya-chan.”

Balasan yang didapatnya merupakan ungkapan, yang sekilas, bukan terlihat seperti jawaban. Tapi setelah mendengar itu, Masachika merasa puas dengan perkataannya dan berpikir “sudah kuduga”. Monolog Maria bergema di lorong sekolah yang sepi.

“Alya-chan adalah gadis yang rajin dan selalu berusaha sekuat tenaga. ...... dan aku menyayangi Alya-chan yang seperti itu.”

“... Oleh karena itu, supaya Alya tidak memandangmu sebagai pesaing... Masha-san sengaja berakting sebagai kakak perempuan yang ceroboh dan santai?”

Pertanyaannya begitu blak-blakan, tapi Maria justru membalasnya dengan tawa.

“Aku tidak berakting, kok. Jika kamu hidup dengan mode serius terus sepanjang waktu, kamu pasti akan merasa lelah, bukan? Terkadang kamu perlu yang namanya bersantai …. Tapi yah, aku tidak menyangkal kalau aku sering bersikap ceroboh dan santai di hadapan Alya-chan”

“Hahaha... bersikap ceroboh, ya?”

“Fufu, habisnya Alya-chan terus memanjakanku. Mau tak mau aku jadi bersikap ceroboh dan santai begini, ‘kan?”

“......Jadi begitu?”

Masachika tersenyum kecut sambil berpikir kalau peran secaman itu biasanya terbalik dari saudari yang normal.

(Aku ingin tahu sampai mana seriusnya itu)

Ia menggaruk bagian belakang kepalanya dan menatap langit-langit koridor sekolah, merasa tidak yakin kepada Senpai yang punya sifat perhatian atau santai. Kemudian, gumaman Maria mulai terdengar kembali.

“Aku tidak ingin meninggalkan Alya-chan sendirian.”

Saat menoleh kembali, Ia memandang ekspresi serius Maria. Masachika tersentak saat melihat sorot mata yang menatap lurus ke arahnya. Kemudian ekspresi Maria berubah santai dan berkata seolah-olah bergumam pada dirinya sendiri.

“Bukan cuma antar saudari perempuan ... tapi kebanyakan antar saudara juga sama-sama merasa kesulitan, iya ‘kan. Keberadaan mereka lebih dekat daripada orang lain, tapi itulah sebabnya kita jadi saling sadar-diri.”

“……Ah”

Masachika sangat memahami hal itu dengan sangat baik. Dirinya yang sudah meninggalkan rumah tempat Ia dilahirkan. Dirinya yang membenci ibunya, memberontak melawan kakeknya, dan melarikan diri dari rumah itu. Dan setelah terbebas, … Ia menyadari bahwa dirinya tidak punya apa-apa dan merasa hampa.

Ia tidak ingin melakukan apa-apa. Ia tidak ingin menjadi apa-apa. Padahal Ia sudah melimpahkan semua bebannya kepada adiknya demi memperoleh kebebasan.

[Aku tidak bisa begini terus. Aku harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa kulakukan di rumah itu, sesuatu yang sangat ingin kulakukan. Jika tidak, untuk apa aku meninggalkan rumah itu!]

...... Lama-kelamaan Ia menjadi tidak sabar. Tapi ujung-ujungnya, tidak ada yang berhasil. Tidak ada sesuatu yang mampu menggairahkan hatinya. Pada akhirnya, Ia cuma anak kecil yang kabur dari rumah karena emosi sesaat dan kehilangan arah tujuan.

Adik perempuannya mewarisi jejak kakak laki-lakinya dan tumbuh dengan baik sebagai penerus sah dari keluarga Suou. Sedangkan Masachika sendiri tidak pernah memanfaatkan bakatnya yang cemerlang dan justru menyia-nyiakannya hingga membusuk. Orang berbakat yang membusuk. Seseorang yang tidak memiliki makna keberadaan karena tidak pernah berusaha melakukan apa pun, kendati Ia bisa melakukan apa saja jika Ia mau.

Mau tak mau Ia membandingkan dirinya yang hampa dan brengsek, dengan adik perempuannya yang terus berjuang keras dengan cinta yang tak ada habisnya untuk keluarganya.

Meski begitu, fakta bahwa mereka masih menjadi saudara dekat dan tidak membuatnya merasa minder, itu semua karena upaya dari adik perempuannya.

Karena adiknya tidak pernah berubah, baik dulu maupun sekarang, dan masih menyampaikan kasih sayangnya secara lugas. Tak peduli apakah dirinya Suou Masachika atau Kuze Masachika, Ia masih menjadi Onii-chan kesayangan Yuki. Oleh karena itu, Masachika juga bisa menjadi kakak yang menyayangi adiknya tanpa perlu malu-malu mengatakan hal itu padanya.

Jika tidak begitu,... Masachika pasti akan menjaga jarak dari Yuki.

(Sungguh, adik perempuan yang sangat pengertian)

Pada saat berpikir begitu, Masachika tiba-tiba menyadari sesuatu. Karakter adik bodoh yang menyukai hal-hal berbau otaku yang sengaja Yuki perlihatkan di hadapannya...... bukannya itu juga merupakan upaya yang disengaja supaya kakaknya tidak merasa minder dengannya. ....

(Tidak, kalau itu sih memang sudah hobinya)

Mungkin Ia terlalu berlebihan memikirkannya, tapi pada saat yang sama, Masachika juga berpikir kalau ada beberapa aspek yang mungkin memang begitu. Usai melamuni hal tersebut, Ia merasa sedikit memahami proses berpikir Maria yang sengaja menunjukkan sisi cerobohnya di depan adik perempuannya.

Aku tidak berakting. Karena aku menyukainya ... Aku cuma ingin menyembunyikan beberapa bagian dari diriku karena aku ingin disukai. Kebanyakan orang ingin terlihat keren di depan orang yang mereka cintai. Tapi dalam kasus Maria, dia melakukan hal yang sebaliknya.

“Masha-san ... memang Onee-chan yang baik, ya.”

“Fufu~n, benar sekali. Meski begini-begini, aku sebenarnya Onee-chan yang baik, loh~.”

Maria membusungkan dadanya dengan bangga dan memasang wajah sok. Namun, dia segera tersenyum nakal sambil memejamkan satu mata, dan meletakkan jari di depan bibirnya.

“Pembicaraan tadi, tolong jangan bilang-bilang ke Alya-chan, ya?”


Jantung Masachika berdetak kencang pada gerakan menggoda Maria, yang belum pernah Ia lihat sebelumnya. Masachika tertawa ironis seolah-olah ingin mengelabui dirinya sendiri.

“...Aku tak akan mengatakannya, kok.  Meski aku memberitahunya, dia mungkin takkan percaya. Dia takkan pernah percaya kalau kakaknya sendiri sebenarnya adalah orang dewasa yang serius.”

“Ara~ bukannya itu terlalu berlebihan? Memang benar kalau aku jauh lebih santai ketimbang Alya-chan, sih. Ditambah lagi...”

Seraya tersenyum bermasalah, Maria menatap lurus ke arah Masachika seolah-olah bisa melihat segalanya.

“Bukannya Kuze-kun sama-sama menyembunyikan sisi seriusnya juga?”

“...”

Ketika Maria mengungkapkan hal itu, Masachika segera mencoba mengelabuinya ... tapi Ia langsung menyadari kalau upayanya itu sia-sia, dan cuma bisa mengangkat bahunya.

“... Dalam kasusku, aku tidak mempunyai alasan mulia seperti Masha-san.”

Bukan untuk seseorang. Alasan mengapa Ia sering bersikap malas-malasan dan main-main ialah untuk melindungi dirinya sendiri.

“Pada akhirnya, aku masih kekanak-kanakan”

Tanpa mengharapkan pengertian Maria, Masachika melontarkan kata-kata di luar konteks dengan cara mencela dirinya sediri.

Masachika sadar diri dan mengakui bila dirinya itu brengsek. Namun, Ia masih takut membiarkan orang tahu mengenai jati dirinya.

Ia terus bermain-main dan bertingkah bodoh supaya orang lain tidak menyadari sifat brengseknya. Lebih mudah dianggap sebagai orang bodoh yang malas ketimbang jadi orang brengsek. Ia tidak pernah menganggap serius siapapun dan tidak pernah membiarkan orang lain menyentuh lubuk hatinya yang paling dalam.

Begitulah cara Masachika melindungi harga dirinya yang secuil. Karena Ia selalu hidup dengan cara seperti itu... orang yang tidak berpura-pura dan menjalani hidup dengan sungguh-sungguh terlihat sangat menyilaukan. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa hidup dengan cara yang sama seperti mereka.

“... Yah, intinya aku cuma ingin menjalani hidup dengan santai, jadi aku terus menjaga karakterku yang tidak serius dan malas supaya tidak ada yang bisa mengandalkanku. Jadi, jangan khawatirkan hal itu.”

Dan bahkan hari ini pun masih sama, Ia mengelabui orang-orang di sekitarnya. Masachika takkan membiarkan orang lain masuk ke dalam lubuk hatinya, Ia takkan membiarkan orang lain menyadari kebusukannya.

Lagipula, mengapa Ia terus mengocehkan hal ini? Sampai sekarang, Masachika tidak pernah mengungkapkan perasaan aslinya kepada siapapun, bahkan dengan keluarganya sekalipun.

(Aneh sekali ... Entah kenapa, bila bersama Masha-san, kewaspadaanku selalu menurun ...)

Apa ini karena perasaan nyaman yang dipancarkannya? Sambil menyesali bahwa dia telah mengizinkan Senpai yang baru Ia kenal dalam waktu singkat untuk mengintip perasaannya yang sebenarnya, Masachika tersenyum masam dan mengalihkan pandangannya.

Mary berjalan tenang mendekati Masachika dan ...  dengan lembut mengangkat tangannya.

“Yoshi, yoshi”

“Huh!?”

“Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu sudah berjuang keras. Semuanya akan baik-baik saja .... Kuze-kun pasti akan baik-baik saja.”

Maria berkata dengan lembut sambil mengelus kepala Masachika.

“A-Aku,  tidak...”

Aku tidak melakukan yang terbaik. Lagipula, Apanya yang baik-baik saja?

Pemikiran tersebut terlintas di benaknya. Namun, tak satu pun dari pemikiran itu bisa diungkapkan dalam kata-kata. Yang bisa Masachika lakukan hanyalah menunduk ke bawah.

Dadanya terasa bergetar tak berdaya dan tak mampu mengucapkan sepatah kata. Sentuhan lembut nan nostalgia yang anehnya melelehkan hati, yang mana bisa menyebabkan air matanya tumpah jika Ia tidak hati-hati ...... mau tak mau, Masachika tidak punya pilihan selain mengeratkan giginya dan berusaha menahannya.

“Lagian kamu anak cowok, iya ‘kan~ ... yoshi, yoshi

Maria memandang Masachika dengan tatapan mata selembut mungkin. Rasanya mirip seperti menghibur anak kecil yang terluka, atau menenangkan bayi yang merengek.

Setelah beberapa saat, Masachika menggelengekan kepalanya dengan tidak nyaman. Maria segera merasakan niatnya dan melepaskan tangannya.

“... Maaf, sampai menghiburku segala.”

“Tidak masalah~. Karena aku adalah Senpai dan Kuze-kun ‘kan Kouhai-nya. Fufufu, aku justru merasa sudah melakukan sesuatu yang sangat mencerminkan seorang Senpai untuk pertama kalinya di OSIS~. Baik Alya-chan dan Yuki-chan sangat dewasa dan pintar, mereka tidak membiarkanku melakukan sesuatu seperti seorang Senpai.”

“Haha, benar juga.”

Maria menggembungkan pipinya tidak puas dengan senyum lembutnya yang biasa. Masachika juga sedikit tersenyum, merasa berterima kasih atas perhatian Senpai-nya yang sudah bersikap seperti biasa.

“Yah, aku juga sama ... aku akan berusaha supaya tidak menunjukkan hal semacam ini terus.”

“Ara, masa? Padahal kamu boleh minta dimanjakan oleh Senpai-mu ini, loh.”

“Tidak, aku juga punya harga diriku sendiri sebagai seorang cowok ... Apalagi, aku merasa tidak enakan pada pacar Masha-san juga.”

“Hmm... yah, benar sih... tapi enggak masalah. Ia bukan tipe orang yang langusng marah pada tingkat segini!”

“Haa ...”

Masachika mengangguk samar pada Maria yang membusungkan dadanya dengan bangga. Ia penasaran, apa kata-kata tersebut bisa dianggap serius….

“...Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Jika kita mengobrol terus, semua orang akan kehausan.”

“Benar juga, ayo”

Mengangguk pada kata-kata Maria, Masachika mengesampingkan pikirannya tadi dan sekali lagi menuju mesin penjual otomatis yang berada di lantai pertama. Lalu, setelah membeli minuman untuk semua orang, mereka berdua membawa kaleng-kaleng minuman itu ke ruang OSIS.

“Ah, akhirnya kembali. Kalian berdua cukup lama, ya.”

“Yah begitulah ...”

“Maaf banget ya ~? Habisnya, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Kuze-kun ~”

“Begitukah? Yah enggak masalah. Kebetulan juga aku baru saja menyelesaikan persiapanku ...”

Ketika mereka membuka pintu ke ruang OSIS, Touya sedang menunggu mereka dengan semacam senyum tak kenal takut menghiasi wajahnya.

“Persiapan?”

Saat Masachika memiringkan kepalanya, senyum Touya semakin lebar dan berkata dengan sikap tegas.

“Iya, persiapan untuk permainan kecerdasan dari tradisi turun-menurun OSIS Akademi Seirei...”

 

◇◇◇◇

 

“... Mahyong?”

Di ruangan OSIS, terdapat meja segi empat lebar yang terlihat seperti bukan pada tempatnya. Apalagi usianya sudah cukup lapuk. Para gadis-gadis cantik dari anggota OSISS mulai mengelilinginya. Meja lebar yang sudah terlihat asing, makin terlihat aneh lagi seusai dikelilingi gadis-gadis cantik.

Touya yang mungkin menyadari hal itu, tersenyum masam sambil mengaduk batu mahyong.

“Asal kalian tahu, apa yang kukatakan tadi mengenai bermain mahyong di pesta penyambutan adalah tradisi itu benar adanya, tau?”

“Haaa... setidaknya aku bisa memainkannya, tapi apa yang lain bisa bermain mahyong?”

Masachika melihat sekeliling anggota OSIS perempuan yang ada di sekitarnya, dan mereka semua bereaksi dengan cara yang berbeda.

“Aku bisa melakukannya, kok. Keluargaku juga sering memainkannya.” (Chisaki)

“Kalau menyusunnya saja, aku bisa, kok?” (Alisa)

“Aku juga sama, kalau menyusunnya saja juga bisa ” (Yuki)

“Maaf, saya tidak memahaminya ...” (Ayano)

“Aku bisa melakukan semuanya” (Maria)

Anehnya, ada banyak orang yang bisa memainkannya. Sementara itu, Masachika memikirkan tim seperti apa yang perlu ikut permainan, sembari memandang busuk adik perempuannya yang merupakan pemain master Mahyong tingkat-6 di internet, yang mengatakan “Kalau menyusunnya saja, aku juga juga bisa”, Touya lalu dengan cepat membentuk sebuah tim.

“Baiklah, kalau begitu kita akan bekerja sama dengan pasangan masing-masing sesuai tradisi. Aku dan Chisaki, Suou dan Kimishima, Kuze dan Kujou-imouto. Kujou-ane akan sendirian, apa ada yang keberatan?”

“Tidak sama sekali~ Aku yakin ini sangat menyenangkan, bukan?”

“Tidak, tidak, Masha, apa kamu yakin mau memainkannya sendirian?”

“Habisnya, aku cuma tahu aturan dasarnya saja”

Masachika mengalihkan tatapannya ke arah Alisa, yang mendecakkan lidah pada tawa lepas Maria saat duduk di kursinya.

“E~tto, kalau begitu aku akan memberimu penjelasan singkat sambil memainkannya, dan kamu bisa melihatku dari belakang, gimana?”

“Mengerti.”

Masachika duduk di kursi yang berhadapan dengan Touya, sedangkan Ayano duduk di sebelah kanannya. Rupanya, Yuki berencana untuk melihat-lihat situasinya dulu.

“Lalu, gimana kalau kita mulai saja sekarang? Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi sebelum sekolah tutup, jadi kita akan memainkan beberapa ronde permainan. Oh, masih ada satu hal lagi dan ini juga bagian dari tradisi......”

Setelah jeda sejenak, Touya tersenyum menyeringai.

“Tim yang memenangkan permainan boleh memerintah apapun kepada tiga tim yang kalah. Ah, tapi tentu saja, perintahnya yang dalam batasan wajar, oke?”

“Nanii?!!”

Masachika yang tadinya mengeluh karena pasangannya masih amatiran,  mengangkat alisnya karena terkejut, tapi tak disangka-sangka, pemain gadis lainnya tampak sangat antusias.

“Nah gitu dong! Permainannya jadi lebih menarik jika ada sanksi hukuman seperti itu!”

“Yah, kurasa anggota ini takkan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, jadi oke-oke saja ~”

“Aku juga tidak keberatan”

“Semuanya seperti yang Yuki-sama inginkan”

Jika ini yang terjadi, kamu bisa membayangkan bagaimana tanggapan dari pasangan Masachika yang memiliki semangat tidak mau kalah ...

“Aku juga tidak keberatan dengan itu”

“Bukannya kamu masih pemula banget, ye ...”

Jawabannya sudah seperti yang Masachika harapkan, tapi saat Ia menoleh ke belakangnya, Ia melihat ekspresi kuat Alisa seolah-olah dia tidak punya niatan untuk kalah.

(Kenapa dia bisa mempunyai tatapan membara seperti itu ...)

Meski dalam hati menggerutu, Masachika dengan enggan mengangguk.

“Haa... kalau begitu, aku juga tidak masalah. Omong-omong, perintah yang dimaksud ialah satu perintah mewakilkan tim pemenang, dan bukan satu orang satu perintah, ‘kan?”

“Tepat sekali. Yah, jika satu orang satu perintah, rasanya bakal tidak adil jika semisalnya Kujou-ane yang memang.”

“Itu juga “semisalnya saja” iya, ‘kan~.”

Sedari awal, Touya memperlakukan Maria sebagai tim yang bakalan kalah. Orangnya sendiri cuma tertawa seolah-olah tidak terlalu memedulikannya.

“Oh iya, Ketua. Bagaimana dengan rincian aturannya?”

Masachika bertanya sambil mengumpulkan batu mahyonh, dan Touya menjawab sambil menumpuk batu mahyong dengan lihai.

“Hmm… benar juga. Mulai dari 30.000 poin, ada dora merah, ada nakitan, ada double trilon, ada juga double yakuman dan triple yakuman... Yah, yang penting apa saja. Oh, tapi yang Tobi enggak boleh, ya."[6] 

“Baiklah... aku mengerti.”

“Oke, kalau begitu... Chisaki, kamu boleh melakukannya duluan!”

““Ehh?””

Chisaki yang tadinya berencana untuk menjadi penonton saja, mengedipkan matanya dengan ekspresi melongo. Masachika pun memasang ekspresi yang sama.

“Eh? Bukannya Ketua yang main duluan?”

“Tenang saja, yang namanya pahlawan sejati selalu datang terlambat.”

“Ah, begitu ya”

Dan begitu, pertandingan mahyong akhirnya dimulai ...

(Tidak, apa-apaan dengan isi grup ini?!)

Semua pemain yang menghadap meja semuanya cantik-cantik dan manis kecuali Masachika. Baik yang ada di hadapannya maupun dari kedua sisi, semuanya sangat menyengarkan mata. Dan di antara mereka, ada satu cowok mob.

(Kalau semuanya sampai telanjang──)

“Kuze-kun?”

“Etto, mari kita lihat. Sekarang, Masha dipilih sebagai dealer dengan dadu, tetapi ketika dealer ini mendapat poin ekstra untuk Rise, dan boleh terus menjadi dealer lagi──

Begitu imajinasi bejat yang khas wibu terlintas di benaknya, hawa dingin berhembus dari arah belakangnya, dan Masachika langsung buru-buru mulai menjelaskan.

Sambil berusaha mengabaikan tatapan dingin dari belakangnya dan seringai yang terlihat dari arah diagonal kanannya, Masachika terus melanjutkan penjelasannya.

“Yah, pada dasarnya, sepasang dari batu mahyong yang sama. Selain itu, ada empat set tiga batu yang berurutan atau tiga batu identik. Jika kamu sudah mempunyai total empat belas batu, maka kamu bisa melakukan Rise.”

“Maafkan saya. Saya sudah selesai.”

“Ah, Ayano sudah Rise, ya? Sebutannya Tsumo ketika kamu mengambil batu pemenang sendiri, dan Ron saat kamu mengambil batu yang dibuang orang lain.”

Seperti yang diharapkan, Alisa adalah pembelajar yang cepat dan langsung memahami sebagian besar aturan pada ronde keempat.

“Apa maksudnya dari akhir Tobi?"

“Itu maksudnya, Tobi yang tongkat poinnya hilang. Ada aturan bahwa permainan berakhir ketika seseorang menapai keadaan itu, tetapi permainan kali ini tidak demikian. Syukur banget, iya ‘kan! Kita bisa memainkannya sampai akhir, bahkan dalam keadaan terlilit hutang!”

“... Apa itu hal yang bagus?”

“Yah, jika kamu berpikir kalau ada kesempatan untuk membalikkan keadaan sampai akhir ... Di sisi lain, jika ini judi mahyong, ada risiko bakalan terjerumus lilitan hutang.”

“Judi mahyong ... apa kamu pernah melakukannya?”

“Oh, itu Pon”

“Kuze-kun?”

Pada akhirnya, di akhir ronde keempat, Masachika digantikan oleh Alisa. Dalam empat ronde terakhir, Ayano dan Chisaki masing-masing naik dua kali, dan urutan poinnya ialah: Ayano, Chisaki, Masachika, dan Maria.

(Ayano bermain aman, sederhana dan lumayan mahir. Sarashina-senpai tipikal orang bermain buru-buru. Sedangkan Masha-san ... apa dia benar-benar mengerti aturannya?)

Saat permainan berlangsung, Masachika sesekali memberi saran kepada Alisa, tapi aliran dan momentum permainan cenderung condong pada Chisaki dan Ayano yang bersaing satu sama lain untuk meraih kemenangan. Begitu permainan memasuki babak kedua South Field, Chisaki bertukar tempat dengan Touya dan Ayano digantikan oleh Yuki.

Segera setelah bertukar tempat, Yuki langsung melakukan Rise, dan ketika peran dealer beralih ke Touya, Touya langsung Rise tiga kali berturut-turut. Sembari melihat jalannya permainan dari belakang Alisa, Masachika berpikir, Ketua... kamu benar-benar mempermainkan mereka.

(Begitu rupanya, ... jadi ini yang dimaksud semuanya diperbolehkan. Yang artinya, bermain curang juga boleh, ya.)

Masachika melihat bahwa apa yang dilakukan Touya ialah memuat dan menukar Tsumo. Ia mengisi tumpukan di depannya dengan batu mahyong yang dibutuhkan dan menukarnya dengan batu Tsumo-nya sesuai kebutuhan.

“Ups, Tsumo lagi.”

“Touya, kamu hebat sekali!”

“Hahaha, inilah yang disebut sebagai martabat seorang Ketua.”

Touya menerima pujian Chisaki dengan senum cerah. Tetapi, jika dilihat baik-baik, ada sedikit ekspresi mendung di wajahnya. Ada perasaan bersalah yang mengganjal hatinya.

(Oh, jadi Sarashina-senpai tidak menyadarinya, ya. Itu sebabnya, Ia bisa bermain curang sampai tidak ketahuan bahkan jika dilihat dari belakang.)

Ketika Masachika merasa yakin, Touya juga merasakan kalau Masachika sudah mengetahui perbuatan curangnya.

(Jadi kamu menyadarinya, ya ... Kuze. Hebat sekali. Meski rasanya sedikit mengejutkan kalau Suou juga ikut menyadarinya ... Jangan membenciku karena ini, hal ini juga merupakan tradisi lain dari OSIS)

Ya, tepat sekali. Inilah yang menjadi tradisi sebenarnya dari OSIS Akademi Seirei.

Pada pesta penyambutan anggota OSIS anak kelas satu, Ketua dan Wakil Ketua akan membabak belur para anak kelas satu dalam permainan mahyong yang penuh kecurangan. Dengan begitu, para Senpai yang sudah berpengalaman akan mengajarkan pada mereka bahwa “Kalau tidak bisa melakukan ini, kamu takkan bisa memenangkan pemilihan kursi Ketua OSIS!”…. Singkatnya, ini bukanlah tradisi melainkan ajang balas dendam.

(Huhuhu... tahun lalu aku diberitahu kalau “Ini juga bagian dari pembelajaran”, dan dipaksa berkeliling sekolah sepuluh kali setiap selesai kegiatan OSIS selama sebulan ...)

Touya tersenyum muram saat mengingat masa lalu, ketika Ia dibuat babak belur karena curang dan diberi perintah yang akan membuat PTA[7] kalang kabut. Berkat itu, Ia kehilangan berat badannya, tapi hal itu juga membuatnya punya nyali dan rajin berolahraga, tetapi…. Masalah itu ya masalah itu, dan sangat berbeda dengan situasi sekarang. 

Ketua dan Wakil Ketua OSIS tahun lalu  menemani Touya dalam menjalani perintah lari mengelilingi sekolah meskipun mereka menyebutnya “Belajar,” dan ketika Touya berhasil melewati bulan itu, mereka berkata, "Kamu sudah melakukan yang terbaik,” dan membuatnya sedikit menangis, tapi cuma itu saja. Mereka benar-benar Senpai yang baik, ya, dasar kampret!

(Tolong awasi aku dengan baik, Ketua, Wakil Ketua ... Karena aku sudah mengambil alih kepemimpinan, aku akan menunjukkan teknik yang aku warisi dari kalian berdua…. Aku akan menunjukkan kepada para Kouhai ini mengenai kehebatan dari Ketua OSIS!)

Dengan semangat yang aneh, Touya mengincar Rise kelima berturut-turut, tapi...

“Ah, Ro, Ron!”

Alisa menyatakan “Ron”  dengan cara kikuk pada batu yang dibuang Yuki.

“Ara ... etto, karena ini Richi-dora, jadi totalnya 2.600 poin?”

Ketika Yuki menghitung skornya, Alisa tersenyum, meski sedikit kecewa karena skornya lebih rendah dari yang dia harapkan.

“Fufu, kuharap ini bisa membalas sedikit atas kekalahan poker tadi?”

“Iya, kali ini aku kalah.”

Yuki mengangkat alisnya dan tertawa sambil mengacungkan tongkat poin, Alisa menoleh ke belakang menatap Masachika dengan senyum puas di wajahnya.

“Oh... Selamat atas ‘Rise’ pertamamu”

“Terima kasih”

Menanggapi pujian Masachika, Alisa menyisir rambutnya dengan suasana hati yang baik. .........

(Alya ... Tadi itu cuma taktik dari Yuki, tau?)

Masachika yang sudah tahu segalanya, menatap Alisa dengan senyum tipis.

Tidak, bukan hanya Masachika. Semua orang, kecuali Alisa dan Maria, sebenarnya merasakan hal yang sama.

Yuki telah membaca sepenuhnya batu mahyong Alisa dan mengetahui kalau dia memiliki susunan yang jelek, jadi dia dengan sengaja membuang batu ke Alisa untuk menghentikan momentum Touya. Satu-satunya yang belum menyadarinya cuma Kujou bersaudari yang masih pemula.

“Selamat ya, Alya-chan”

“Terima kasih. Masha juga, lakukan yang terbaik, ya?”

Tapi tidak ada yang mengatakan apa-apa di hadapan Alisa, yang tersenyum puas pada kakaknya, yang belum mencetak skor sedikit pun.

Touya dan Chisaki tersenyum tipis, Yuki dengan senyumannya yang biasa, dan Ayano bertepuk tangan tanpa ekspresi. Ruangan OSIS Seirei Gakuen merupakan tempat yang lembut.

“Hmm, kalau begitu mari kita lanjutkan”

Touya mulai mengumpulkan dan mencampur batu, lalu melanjutkan permainan mahyong.

Permainan Yuki yang bagus menghentikan momentum Touya, tetapi Maria sudah benar-benar dalam kondisi genting pada tahap ini. Touya memiliki keunggulan besar atas Yuki yang menduduki tempat kedua dan Alisa yang ada di tempat ketiga.

(Fumu... mending sampai sini aja kali ya. Jika aku terlalu sering melakukannya, para anggota lain akan curiga, dan aku perlu membuang beberapa batu supaya tidak menimbulkan kecurigaan.)

Pada detik ini, Touya merasa yakin kalau dirinya akan menang, tapi ... pemikiran tersebut sangatlah naif.

“Alya, bisakah kita tukeran tempat sebentar?”

“Eh? Tapi...”

“Tidak, aku belum pernah mendapatkan poin. Padahal kamu seorang pemula, tapi sudah bisa mendapatkan poin, sedangkan aku masih belum dapat, rasanya kurang gimana~ gitu ... boleh ya? Ayolah.”

“Begitu? Apa boleh buat.”

“Terima kasih”

Alisa dalam suasana hati yang baik setelah puas membalas dendam pada Yuki, dan Masachika mengambil alih tempat duduknya lagi. Lalu, Ia bertukar pandang dengan Yuki yang ada di sebelahnya.

Ya ... Touya sangat meremehkannya. Keseriusan dari kakak beradik otaku ini. Dan Touya baru menyadari hal itu dua menit kemudian.

“Ah, maafkan aku, Ketua. Tanganku terselip.”

“Apa?”

“Ron. Double dealer, jadi totalnya 24.000 poin.”

Dua ronde kemudian, Touya yang mempunyai batu mahyong biasa tak bisa berkutik pada kombinasi Yuki. Pada titik ini, Touya masih menganggap kalau itu kebetulan, tapi ketika Masachika melakukan ‘Rise’ berikutnya, Ia menyadari kalau ini bukan cuma kebetulan belaka.

“Oh, ini Tsumo.”

“Haa?”

Dua menit kemudian, kali ini Touya bahkan tidak bisa mendapatkan Tsumo sekali pun.

“Chiho, jadi poinnya 32.000, ya.”

“Wow, Masachika-kun, luar biasa sekali!”

“Ara, kamu sudah melakukan ‘rise’?”

“Ehh!? Chiho!?”

“Selamat, Masachika-sama”

“Uhmm...?”

Saat para wanita bereaksi dengan cara yang berbeda, Touya bertukar pandang dengan Masachika yang ada di depannya.

Kuh... berani juga kamu ya, Kuze

huhuhu... kamu salah mencari lawan kalau mau bermain curang, Ketua.

Masachika membalas dengan senyum tak kenal takut kepada Touya yang tersenyum kaku.

Ya, tak perlu dikatakan lagi, Ia juga bermain curang. “Wow, Masachika-kun hebat banget!” meski mereka memujinya seperti itu, tapi kemenangannya ini ada campur tangan Yuki juga.

(Sebagai otaku, tentu saja aku sudah menguasai teknik curang dan manipulasi dadu, tau!!)

Masachika meneriakkan sesuatu di otaknya yang kemungkinan besar akan mendapat banyak kritikan dari para otaku di seluruh Jepang. Namun, kakak beradik ini benar-benar sudah menguasai teknik curang tingkat tinggi. Ia bisa mendapatkan nomor apa saja di dadu sesuai keinginannya. Omong-omong, Master dalam kecurangan adalah kakek dari pihak ayah mereka.

Jika kami berdua bekerja sama, kami mampu melakukan hal semacam ini dengan gampang, loh. Sayang sekali, ya, Ketua

Kuh...

Touya menyipitkan matanya dengant frustrasi saat jarak besar di antara mereka langsung tersaingi dalam beberapa menit. Sedangkan d sisi lain, Masachika membalas dengan senyum lebar.

Jangan khawatir, Ketua. Di ronde terakhir ini, aku akan melakukannya tanpa kecurangan.

Apa……? Jangan bilang…

Touya terkejut pada pesan tersirat yang disampaikan Masachika melalui kontak matanya. Dengan skor Masachika dan Yuki yang hampir menyusulnya, skor mereka bertiga hampir sama, kecuali Maria yang masih terjebak di posisi bawah. Siapapun yang mampu mencetak poin terbanyak dalam ronde terakhir ini bisa memenangkan hadiah utama.

Kita berdua sama-sama tidak ingin pasangan kita mengetahui kalau kita bermain curang, ‘kan? Bagaimana kalau kita bermain serius untuk terakhir kalinya?

... Hah, baiklah, aku terima tantanganmu. Dengan kemampuanku, biar aku tunjukkan kehebatan dari Ketua OSIS!

Mereka berdua saling bertukar senyum jantan dan memutuskan untuk bermain dengan serius tanpa menggunakan trik apa pun.

Ayo──

Dengan serius

『『Bertanding! 』』

Dan pertempuran terakhir dari nasib mereka pun dimulai──

“Araa? Aku ingin tahu apa ini bisa disebut ‘Rise’.”

““Ehh?””

Kedua cowok itu menoleh dengan wajah melongo ke arah sumber suara yang penuh kebingungan dari arah yang tidak terduga.

Dan saat mereka susunan batu mahyong punya Maria, mereka langsung saling bertukar pandang.

“Ketua……”

“Ya……”

“Maksud dari yang penting apa saja, berarti ini juga ...”

“……Iya”

“Masha, i-itu ...”

“Chisaki-chan? Eh, kalian semua kenapa?”

Chisaki memasang ekspresi tak percaya di wajahnya, dan bahkan Ayano membuka lebar matanya, sementara Yuki membuka mulutnya dengan senyum kaku menghiasi wajahnya.

“Empat jenis dari yakuman, Daisangen, Tsuiso...”

“Oh, ada empat jenis, ya~. Etto, Mangan, mungkin sekitar 8.000 poin?”

“Itu yakuman empat kali lipat, jadi totalnya 128.000 poin!!”

Saat Masachika berteriak putus asa, Touya yang tampaknya mulai tersadar dari keterkejutannya, bergumam dengan senyum getir.

“Untuk apa pertempuran sengit tadi ...”

“Betul sekali !?”

Pada akhirnya, berkat pembalikan situasi ajaib Maria, hasil akhirnya adalah Maria menduduki posisi pertama, pasangan Yuki-Ayano di tempat kedua, dan pasangan Touya-Chisaki berada di tempat ketiga. Sedangkan pasangan Masachika-Alisa, jatuh ke peringkat terbawah karena mendapat peran dealer.

Dan sebagai hadiah utamanya, Maria diberi hak untuk memerintah apa saja kepada enam pecundang .....

“Hmm~... perintah, ya~...”

Maria melihat sekeliling ruangan sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya ... Saat dia melihat tas kecil berisi cemilan dan pita yang dibagikan saat pesta penyambutan, ekspresi wajahnya langsung berubah “Aha~” seolah-olah dia baru saja memikirkan sesuatu. Masachika mendapat firasat buruk mengenai ini. Dan firasat buruknya memang tepat sasaran.

 

——— Beberapa menit kemudian.

“Kyaa~ imut banget~!”

Di dalam ruangan OSIS, Maria memasang ekspresi dengan senyum yang meleleh. Lalu di sana ada para gadis yang tampak sedikit malu, dan dua cowok yang gemetaran karena harus menanggung malu.

“Ketua……”

“Kuze, mending jangan bilang apa-apa ...”

Perintah yang dititahkan Maria ialah “semua orang harus memakai pita sampai waktunya pulang”.

Maria memakaikan langsung pitanya pada mereka. Buat golongan gadis-gadis masih mending. Pita tersebut cuma terkesan seperti riasan untuk mereka. Terutama pada Chisaki, yang biasanya tidak terlihat modis, mempunyai penampilan yang cukup menawan sampai-sampai bila ada siswi yang melihatnya, mereka akan berteriak kegirangan. Masalahnya justru terletak pada ... Masachika yang berwajah mob dan Touya yang berbadan besar serta berwajah tua.

“Sanksi permainan macam apa ini ...”

“Kamu masih mendingan ... coba lihat aku. Ini cuma menjadi tragedi.”

“Aku tahu betul, Ketua. Jika orang yang biasanya populer melakukan sesuatu yang aneh, kebanyakan orang akan berkomentar positif “Jadi dia punya sisi yang begitu juga ya”, tapi jika murid mob sepertiku melakukan hal yang sama, aku bakalan mendapat kritikan pedas seperti, “Tuh cowok masih waras?” semacam itu.”

Saat mereka berdua saling memandang meratapi nasib mereka yang menyedihkan, para gadis mulai mendekati mereka.

“Pft-, bu-bukannya ... itu bagus? Ak-Aku pikir itu sangat cocok buat kalian, kok?”

“Sarashina-senpai... Itu bahkan membuatku lebih menyedihkan saat mendengarmu mengatakan itu sambil hampir menertawakanku.”

“Tidak, tidak, seriusan, itu sangat cocok untukmu, kok? Masachika-kun”

“Tapi matamu tampak tertawa loh, Yuki-san.”

“Itu sama sekali tidak benar, kok? Iya ‘kan, Ayano?”

“Ya, pita itu sangat cocok untuk Anda.”

“Seriusan, apa-apaan dengan tatapanmu yang mendung begitu?”

“Kuze-kun...”

“Alya...”

Alisa memanggilnya dengan ekspresi rumit menghias wajahnya, tapi begitu Masachika berbalik, dia membuka matanya lebar-lebar dan langsung memalingkan wajahnya, sambil berusaha keras menahan tawa.

“Oi, coba bilang sesuatu napa!?”

“Ku-Kupikir itu sangat bagus. Ka-Kamu kelihatan imut, kok.”

“Kalau mau ketawa mending ketawa saja! Jangan sampai ditahan-tahan segala!”

“Ahahahahahaha"

“Yukiii! Kalau kamu jangan ketawaaaaa!”

Masachika memelototi Yuki yang tertawa bahagia sambil mempertahankan mode Ojou-sama. Namun, dia langsung menyerah ketika melihat Chisaki mulai tertawa terbahak-bahak, dan bahkan bahu Alisa mulai bergetar saat dia berbalik untuk tertawa.

“Ketua, Kuze-kun, ayo lihat ke sini ~”

“Ja, Jangan bilang kalau kamu mau mengambil foto juga!?”

“Tepat sekali ~? Sekalian buat kenang-kenangan.”

Wajah Masachika berkedut kaku saat mendengar bisikan Touya.

“(Menyerahlah, Kuze. Kita yang sudah kalah meski menggunakan kecurangan, tidak punya hak untuk menolak)”

“Kuh, bunuh saja aku!”

Masachika, dengan ekspresi penuh kepahitan, melontarkan kalimat seperti ksatria wanita yang ditangkap oleh musuh.

Setelah itu, gelak tawa dari gadis-gadis terus bergema di ruang OSIS sampai guru yang berpatroli datang untuk mengumumkan waktu penutupan.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>


[1] Dialek Kansai merupakan dialek yang unik dan cocok banget buat bagian komedi. Beberapa karakter anime yang memakai dialek kansai seperti Onizuka Hime (Sket Dance), Hattori Heiji (D.Conan), dan lain sebagainya. Yang sering nonton anime pasti tau uniknya dialek ini. Dan entah kenapa mimin ngerasa kalau dialek Kansai dan dialek Betawi sangat pas kalau buat adegan komedi :v

[2] Di raw-nya komu-sho, yang artinya orang yang tak mampu berkomunikasi atau bersosialisasi. Yup seperti di anime Komi-san wa Komu-sho desu

[3] Kanji time!! Sebenarnya apa yang Touya katakan mengandung kotowaza atau permainan kata-kata. Si Masachika mengatakan Kengou (剣豪) yang artinya pendekar pedang. Tapi kalimat yang Touya katakan mempunyai 2 kata Kengou. Paruh kalimat pertama: Kengou ((剣豪); pendekar pedang, dan paruh kalimat kedua Kengou (拳豪) yang artinya kepalan tangan atau tinju. Kalau di Indonesia sih namanya homofon : dua kata yang bunyi atau pengucapannya sama, tapi tulisannya berbeda. Contohnya kata Bank (tempat simpan pinjam uang) dengan Bang (panggilan untuk orang yang lebih tua, khususnya laki-laki). Entah perbandingan ini bener atau kagak, tapi itulah yang mimin tau. Coret-coret di kolom komentar kalau kalian punya pendapat lain

[4] Kunoichi adalah sebutan bagi ninja yang berjenis kelamin perempuan

[5] Pangeran Shōtoku (聖徳太子 Shōtoku Taishi) (7 Februari 574 – 8 April 622) adalah nama yang diberikan orang kepada negarawan Jepang yang hidup pada zaman Asuka, dari masa pemerintahan Kaisar Bidatsu hingga Kaisar Suiko. Nama aslinya adalah Pangeran Umayado. Legenda bertelinga tajam :Pada suatu waktu, Pangeran Umayado menerima kelompok orang yang masing-masing ingin menyampaikan petisinya. Sepuluh orang secara sekaligus berbicara secara bersamaan. Semua pernyataan yang diungkapkan masing-masing orang bisa dipahami pangeran tanpa ada sepatah kata pun yang terlewat. Jawaban yang diberikan pangeran pun sangat memuaskan. Sejak itu pangeran diberi julukan Toyosatomimi (bertelinga tajam). Kisah lain mengatakan kesepuluh orang tersebut menemui pangeran satu demi satu. Jawaban diberikan setelah mendengarkan semua petisi didengarkan. Legenda ini ingin menunjukkan ketajaman ingatan Pangeran Shōtoku. Sumber : Wikipedia Indonesia

[6] Mimin gak ngerti sama istilah permainan Mahyong, euy

[7] PTA = Parent-Teacher Association atau Asosiasi Wali Murid dan Guru, ialah Organisasi orang tua, guru, dan staf yang dirancang untuk memfasilitasi peran serta orang tua di sekolah

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama