Kimi wa Hatsukoi no Hito, no Musume Vol.1 Epilog Bahasa Indonesia

Epilog —  Meski begitu…

 

Setelah itu …

Ichigo berhasil melindungi Luna dari jalan pegunungan, dan bisa mengantarnya kembali ke apartemennya dengan selamat.

Karena ketidakhadiran Luna tanpa alasan, Ichigo langsung menyuruhnya untuk membuat alasan sakit ke sekolah, dan semuanya akan baik-baik saja. Adapun waktu yang hilang, dia memberi tahu mereka bahwa dia sakit ketika bangun di pagi hari, jadi dia minum obatnya dan langsung tertidur, mengakibatkan keterlambatan laporan panggilan.

Untungnya – Pihak sekolah tampaknya khawatir bahwa Luna, salah satu siswa teladan mereka, tidak datang ke sekolah, sehingga mereka lega mendengar kabar darinya dan tidak menindaklanjuti masalah ini lebih jauh.

Ichigo memutuskan untuk tinggal bersama Luna di rumahnya selama beberapa jam lagi sampai dia benar-benar tenang. Akibatnya, Ia harus kembali ke rumah pada malam hari… Dengan kata lain, sejauh menyangkut pekerjaan, Ia cuti seharian.

“Baiklah kalau begitu.”

Waktu sudah menjelang malam. Di depan kamar Luna, Ichigo mengucapkan selamat tinggal.

“Terima kasih banyak untuk hari ini, Kugiyama-san.” ujar Luna sambil berdiri di ambang pintu, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

...Seperti yang Ichigo pikirkan, suasananya tidak sepolos dan ceria seperti kemarin. Dia menarik batas yang tepat dan mengambil sikap hormat yang biasanya dimiliki orang terhadap orang dewasa.

“…Sampai jumpa lagi, jika ada kesempatan.”

“Ya.”

Mendengar ini, Ichigo merasa sedikit sedih, tapi dia menepak kepalanya sendiri karena memiliki perasaan seperti itu, dan meninggalkannya.

Saat meninggalkan apartemen dan meletakkan tangannya di pintu pengemudi mobil yang diparkir, Ichigo melihat ke jendela kamar Luna.

“… Lebih baik begini.”

Ya, memang lebih baik begini.

Gumamnya pada siapa pun... Tidak, bukan pada siapa pun, tapi pada dirinya sendiri, Ichigo masuk ke dalam mobil.

 

※※※※※

 

Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian itu, dan Ichigo belum mendengar kabar dari Luna atau melakukan kontak dengannya.

Kehidupan sehari-harinya kembali seperti semula.

Di pagi hari, Ia pergi ke tempat kerjanya – Sebuah department store besar yang Ia kelola, dan kembali ke rumah setelah bekerja sampai malam tiba.

Ia menerima konsultasi dari staf toko tentang area penjualan, produk, dan isi pekerjaan, dan memberi mereka saran yang akurat tentang cara memecahkan masalah. Selain itu, ketika perusahaan memintanya untuk menulis ulasan atau mengirimkan proyek baru, Ia menggunakan informasi yang telah dilihat dan ditelitinya untuk menciptakan ide dan menanggapinya.

Hari liburnya juga tidak berbeda dari biasanya. Isinya adalah campuran pekerjaan dan kehidupan pribadi. Bukan waktu untuk bermalas-malasan, tetapi waktu untuk beberapa tujuan dan signifikansi.

Begitulah cara Ichigo menghabiskan hari-harinya.

“Apa aku bisa berasumsi kalau semuanya sudah kembali seperti semula ...?” gumam Ichigo saat duduk di sofa dan menonton drama luar negeri yang disiarkan melalui Internet.

Mungkin itu karena habis minum-minum di malam hari dan dalam suasana hati yang mabuk, Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggumamkan itu.

“……”

Kemudian, Ichigo tiba-tiba berpikir. Ia memikirkan Luna dan hari-harinya bersamanya, yang berisik namun juga menyenangkan.

Saat itulah Ichigo kembali sadar.

“Apa sih yang aku pikirkan?”

Luna telah belajar untuk bersikap masuk akal. Luna telah belajar mendisiplinkan diri dan kembali ke kehidupan sehari-harinya. Namun, apa perasaan Ichigo yang membuatnya sangat menyesal?

“Kamu sangat menyedihkan! Ichigo Kugiyama!” Ia berteriak pada dirinya sendiri seolah-olah untuk menghukum penderitaannya. Ini adalah sesuatu yang bisa Ia lakukan karena sedang mabuk.

Di kejauhan, Ichigo bisa mendengar anjing menggonggong, jadi Ia berpikir kalau suara teriakannya terlalu keras.

 

※※※※※

 

Lalu, saat ini—

“Ah, pak manajer. Boleh saya meminta waktu Anda sebentar?”

Hari ini adalah hari Sabtu. Karena ini akhir pekan, pengunjung di toko cukup ramai. Di tengah semua itu, Ichigo sedang melewati kantor ketika dia dihentikan oleh Wakana, asisten manajernya.

“Ya, ada apa?”

"Saya ingin tahu apa saya bisa memperkenalkan Anda kepada karyawan paruh waktu baru yang akan bekerja dengan kita mulai sekarang.”

Rupanya, pekerja paruh waktu baru telah tiba.

(... Tumben sekali. Sekolah bahkan tidak libur musim panas, atau lebih tepatnya, apa kami memiliki wawancara perekrutan akhir-akhir ini?)

Saat Ichigo sedang memikirkan ini, pekerja paruh waktu yang dimkasud muncul setelah diminta oleh Wakana.

“Halo, aku berharap bisa bekerja sama denganmu—”

Kalimat Ichigo berhenti di tengah jalan saat melihat pekerja paruh waktu yang dimaksud. Bukan hanya mulutnya, tetapi seluruh tubuhnya benar-benar berhenti bekerja.

Orang yang berdiri di sana adalah—

“Saya mohon bimbingannya, Manajer Kugiyama.”

Rambut hitamnya yang panjang, tergerai hingga mencapai pinggangnya.

Kulitnya yang tampak halus dan hampir mendekati transparan.

Garis wajahnya terdefinisi dengan baik dengan lekukan halus di hidungnya.

Matanya sedikit sipit dengan bulu mata yang panjang dan seksi.

Ternyata pekerja baru yang dimaksud adalah Luna.

Dia berdiri tepat di depan Ichigo dengan mengenakan seragam toko.

Dia mengenakan pakaian yang sama dengan yang dia coba di rumah Ichigo tempo hari.

“Ke-Kenapa kamu ada di sini!” Ichigo yang bingung berteriak.

“Apa Anda terkejut?”

Kemudian, Wakana, yang entah kenapa tersenyum bahagia, mulai menjelaskan. Menurutnya, Luna sebenarnya diam-diam datang untuk wawancara kerja paruh waktu beberapa hari yang lalu ketika Ichigo tidak ada. Dengan tidak adanya manajer, asisten manajer akan menjadi orang yang melakukan wawancara perekrutan.

Berdasarkan kepribadian, bahasa, dan sikapnya, hasil wawancara Luna cukup positif dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika dia bekerja di layanan pelanggan.

SMA tempat dia bersekolah, SMA khusus Perempuan Himesuhara, yang merupakan sekolah untuk Ojou-sama, sangat toleran terhadap kegiatan di luar skolah dan mengizinkannya bekerja paruh waktu selama dia mendapat izin.

“Alasan kenapa Hoshigami-san ingin bekerja paruh waktu di toko adalah karena dia bertemu dengan pak manajer. Dia bilang, 'Jika orang seperti manajer bertanggung jawab atas toko, saya dapat bekerja di sini dengan tenang dan bersenang-senang.'”

Ichigo mendengarkan penjelasan Wakana dengan wajah yang masih tercengang.

“Ha ha ha…”

“Dan kemudian, ketika saya bercanda menyarankan kepada Asisten Manajer Wakana kalau kita harus memperkenalkan diri kepada manajer sebagai kejutan, dia setuju karena merasa kalau yang begitu akan lebih menyenangkan.” tutur Luna dengan senyum yang indah dan ceria.

Karena alasan inilah dia tidak memberi tahu Ichigo bahwa dia akan bekerja di sini sampai hari ini.

Mengenakan seragam toko dan dengan rambut diikat gaya ekor kuda, Luna memancarkan suasana yang energik namun menggemaskan. Ichigo bisa melihat bahwa karyawan lain yang lewat sedang melihat dan mencuri-curi pandang di depan kantor.

“Hei, bukannya kamu gadis yang pernah datang ke toko sebelumnya…?”

“Sudah lama tidak bersua. Saya mohon bimbingannya mulai sekarang.”

Kemudian, karyawan lain yang tahu tentang Luna memperhatikan kehadirannya dan berhenti untuk menyambutnya. Dalam waktu singkat, kerumunan orang telah terbentuk di tempat.

“Ara, Luna-chan, kamu sudah memutuskan untuk bekerja di sini. Padahal masih ada begitu banyak tempat bagus lainnya untuk Luna-chan bekerja!”

“Selamat sore! Terima kasih untuk bantuannya tempo hari.”

Tentu saja, Luna sedang mengobrol ramah dengan Sonozaki, seorang ibu rumah tangga paruh waktu yang lewat.

“Ah, senang bertemu denganmu! Aku mahasiswa semester ke empat di Universitas Pendidikan Jasmani Kawaki, Aoya—”

“Apa yang kamu lakukan tiba-tiba memperkenalkan dirimu seperti itu? Lihat, kamu menakuti Luna-chan, tau.”

Aoyama, seorang mahasiswa paruh waktu yang sebelumnya jatuh cinta pada Luna pada pandangan pertama, menyambutnya dengan postur tegak yang kaku dan tegang. Mendengar cara perkenalannya itu, Sonozaki menepuk pundaknya dengan senyum lucu.

Luna tersenyum lembut saat melihat hal itu

(...Apa ini kenyataan?)

Ichigo hanya bisa menutupi matanya saat merasa pijakannya mulai goyah dan meletakkan tangannya di dinding terdekat.

Suasana yang ramah telah tercipta, dan dengan itu, parit luar telah terisi dengan sempurna. Ichigo selaku manajer toko, akan menjadi orang yang membuat keputusan akhir tentang perekrutan, tapi sangat tidak wajar untuk menolaknya setelah sudah sejauh ini.

“Per-Permisi sebentar ...” kata Ichigo sambil menyelinap keluar dari kerumunan, menuju ruang inventaris toko.

Ketika Ichigo sampai di tempat di mana palet ditumpuk untuk pengiriman produk, Ia memeriksa untuk memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya dan kemudian jatuh berlutut.

“Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi…”

Ichigo berpikir semuanya sudah kembali seperti semula, dan menjalani kehidupan yang normal kemali.

Kemudian, ketika Ichigo dalam keadaan bermasalah—

“Permisi.”

Kepala Ichigo tersentak saat ada seseorang memanggilnya dari belakang.

Dan di sana, ada Luna yang berdiri.

“Ehehe, lama tidak ketemu, Ichi.”

Ketika dia mengkonfirmasi sosok Ichigo dan ekspresi di wajahnya – Luna memasang senyum licik dan nakal, seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya.

“Tidak, itu belum lama. Kenapa kamu ada di tokoku…?”

“Ichi ... aku minta maaf.”

Senyum di wajahnya berubah menjadi ekspresi yang sedikit sedih.

“Aku tahu kalau semua yang Ichi katakan memang benar, dan tentu saja, itu bisa membuat Ichi mendapat masalah… Selain itu, kamu mengatakannya demi aku. Aku tahu semua itu.”

“Jika kamu mengetahui hal itu, lantas mengapa…?”

“Aku tahu tapi aku tidak bisa menghentikannya.”

Maaf – tambah Luna.

“Tapi, aku menyukai Ichi.”

Ichigo mencoba untuk tenang, melihat kenyataan, dan menyatukan semuanya kembali. Tetapi pada akhirnya, tidak ada yang berhasil. Luna telah kembali.

“Kupikir suatu hari nanti… aku akan menemukan cara selain memaksa diriku untuk melupakan, tapi aku benar-benar tidak bisa menyerah.”

“Seperti yang pernah aku bilang, tidak etis bagi kita untuk memiliki hubungan seperti itu. Lagipula, aku sudah memberitahumu bahwa perasaanku padamu—”

“Aku tahu Ichi kalau melihat bayangan ibuku dalam diriku.”

Saat itu, Ichigo mengira kata-kata itu akan menyakiti Luna… Dia tahu itu dan masih berani mengatakannya.

Akan tetapi, Luna—

"Untuk saat ini, tidak apa-apa.” kata Luna. “Pada waktunya, aku pasti akan membuatmu mencintaiku apa adanya, aku bersumpah.”

“……”

Dia menjadi lebih agresif dari sebelumnya.

Ichigo penasaran apa Ia  justru menyalakan api dari arah yang berlawanan. Jalan pemikirannya dipercepat. Alih-alih menjauhkan dirinya, dia semakin mendekat.

Ichigo mau tak mau jadi kebingungan. Seorang gadis, yang penampilannya sama persis dengan cinta pertamanya, menyukainya dan melakukan pendekatan yang penuh agresif.

Mungkin itu adalah situasi yang membuat semua orang iri. Tapi apa yang akan menungunya hanyalah jalan kehancuran yang tidak bermoral.

“…Ichi.”

Lalu—

Luna bergegas mendekati Ichigo yang dalam keadaan bingung dan tidak bisa berpikir jernih.

“Hah…?”

Ichigo tidak bisa bereaksi dengan baik terhadap situasi yang tiba-tiba.

Awalnya, jarak mereka tidak terlalu jauh.

Semuanya terjadi dalam waktu kurang dari satu detik.

Luna berlari mendekati Ichigo secepat yang dia bisa, dan mendekatkan wajahnya ke wajahnya-

Bibirnya menyentuh bibir Ichigo.

“——"

Dalam sekejap, indra perasa Ichigo terasa tumpul  dan dilumuri dengan semua yang dia tawarkan.

Aroma Luna, aroma parfum jeruk segar, menodai indra penciumannya.

Bibir yang bersentuhan, telapak tangan di dadanya, rambut hitam yang menyentuh pipinya. Perasaan itu semua memenuhi seluruh tubuhnya.

Sesaat setelah mereka bersentuhan, dia mengeluarkan napas sesaat, suara tipis seperti hembusan napas. Semua suara di dunia telah menghilang, dan hanya itu, mendominasi pendengarannya dan menahan diri selamanya di gendang telinganya.

“-…Ah.”

Sesaat waktu, yang terasa seperti berlangsung selamanya, kembali normal.

Luna perlahan-lahan menjauhkan tubuhnya.

Kemudian, dia menatap lurus ke arah Ichigo yang masih linglung.

Matanya tampak basah, dan pipinya memerah.

Ichigo bisa merasakan bahwa emosi dan pikiran yang selama ini Luna simpan dan tekan meluap dan tidak bisa dihentikan.

Mereka sedang bekerja.

Di bagian belakang toko tempat Ichigo menjadi manajernya.

Seseorang mungkin melihat mereka. Bahkan, tidak mengherankan jika mereka memergokinya.

Tetap saja, dalam keadaan seperti itu, mereka berdua, yang saling menempelkan bibir, hanya bisa saling berhadapan selamanya, seolah-olah waktu telah berhenti–

Rupanya, kehidupan Kugiyama Ichigo akan terus diombang-ambingkan oleh musuh tangguh yaitu cinta pertamanya yang kedua, di mana mereka berdua takkan pernah bersatu.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi Selanjutnya=>>

 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama