Roshi-dere Vol.4 Epilog Bahasa Indonesia

Epilog — Masa Lalu Yang Tidak Boleh Dilupakan.

 

“Ara Masachika-chan, kamu mau keluar?”

“Ya, aku mau keluar dulu sebentar.”

“Begitu, hati-hati di jalan, ya?”

“Hmm, aku pergi dulu.”

Masachika melambai ke neneknya dan meninggalkan rumah. Setelah menyelesaikan kemah pelatihan OSIS, Masachika datang mengunjungi rumah kakek-nenek dari pihak ayahnya ... Pada hari ini, Ia memutuskan untuk pergi ke tempat tertentu dengan satu tekad.

“... Baiklah..”

Dengan mengerahkan sedikit semangatnya, Masachika perlahan mulai berjalan di bawah terik matahari.

“...”

Selama kemah pelatihan OSIS, Masachika menyadari perasaan cinta Alisa yang diarahkan padanya. Ia tidak tahu seberapa besar perasaan cintanya itu. Apa itu hanya perasaan samar yang tidak disadari oleh orangnya sendiri, atau apa itu justru perasaan yang jelas Alisa sadari ... Jika itu yang terakhir, apa Alisa sendiri memiliki keinginan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih atau tidak. Masachika sendiri tidak tahu tentang itu …. Tapi karena sekarang Ia sudah menyadari hal tersebut, Ia tidak bisa berpura-pura tidak mengetahuinya seperti dulu lagi.

Tidak, sebelum berpura-pura tidak tahu ... Masachika berpikir kalau dirinya harus memantapkan perasaan dan tekadnya. Bagaimana dirinya harus …. menanggapi perasaan Alisa?

(Apa aku …. menyukai Alya?)

Itu adalah pertanyaan yang sudah Ia tanyakan pada dirinya sendiri berkali-kali sejak hari kemah pelatihan. Jika ditanya apa Ia menyukainya atau tidak, Masachika pasti akan mengatakan kalau Ia menyukainya. Sebaliknya, dirinya bahkan merasakan sesuatu yang mirip dengan kasih sayang. Ia juga merasakan sesuatu yang tampak seperti kegembiraan cinta. Tapi……

(Aku tidak tahu ...)

Jika ditanya apa itu benar-benar cinta, Masachika sendiri tidak begitu paham. Tidak, bisa dibilang kalau Ia mencoba untuk tidak memahaminya. Dan alasan tersebut sangat dimengerti oleh dirinya sendiri.

(Jika mengingat masalah cinta ...)

Mau tak mau Ia jadi mengingat kenangan masa lalu. Mengenai dirinya yang pernah jatuh cinta pada gadis itu. Dan Masachika membenci dirinya sendiri karena telah melupakan gadis itu dan tidak bisa lagi mempercayai cintanya sendiri ... Lalu pada akhirnya, Ia berpura-pura tidak melihatnya. Begitulah cara dirinya melarikan diri selama ini.

(Tapi ... kalau aku begitu terus, tidak ada gunanya.)

Sekarang, Ia harus berhenti melarikan diri. Jangan gunakan gadis itu sebagai alasan untuk lari dari cinta lagi. Ia harus menyelesaikan cinta masa lalunya ... demi bisa terus melangkah maju.

Ada seseorang yang jatuh cinta kepada dirinya yang seperti ini. Ada seorang  Senpai …. yang memberinya keberanian pada dirinya yang seperti ini.

“Karena Kuze-kun adalah tipe orang yang bisa mencintai seseorang dengan baik.”

Ditemani kata-kata yang diucapkan dengan pelukan lembut, Masachika bergerak maju. Ia berjalan menuju ….... taman yang dipenuhi dengan kenangan bersama gadis itu.

“.....”

Semakin dekat dirinya melangkah ke taman, semakin familier pula jalan yang Ia lewati .... Hati Masachika berderit dan mengeluarkan aliran rasa jijik serta penolakan tanpa henti. Bahkan setelah mengambil keputusan, langkahnya masih terasa lambat dan pemikiran untuk melarikan diri seperti, “Mendingan pulang lagi saja,” atau “Mungkin aku akan melakukannya lain kali” muncul di benaknya.

Meski demikian, Masachika terus berjalan sambil menahan keringat berminyak yang bercucuran terlepas dari panasnya terik matahari, dan sensasi mual yang berputar-putar di perutnya. Butuh waktu lebih dari 30 menit untuk mencapai tujuan, yang biasanya memakan waktu 10 menit untuk mencapainya.

“... Ah, di sini tempatnya.”

Begitu Masachika melihat pintu masuk taman, anehnya Ia merasa tenang. Rasanya seperti …. objek yang kamu takuti selama ini tanpa mengetahui identitas aslinya telah memperoleh entitas dan kamu sudah tidak merasa takut lagi. Masachika sendiri agak kebingungan dengan perubahan ketenangan suasana hatinya yang begitu tiba-tiba.

(Mungkinkah ... aku sudah tidak begitu ingin menghindarinya ...?)

Atau mungkin karena bukan alun-alun dengan banyak fasilitas bermain, yang menjadi tempat kenangan terindahnya. Tempat di mana Masachika kecil selalu bertemu dengan gadis itu hanyalah bagian dari seluruh taman besar ini, dan tempatnya berada di sepanjang kawasan pejalan kaki dari sini ke ujung lain area taman.

“... yah, kurasa aku akan menelusurinya sesuai urutan.”

Bertentangan dengan nada ringannya, Masachika meyakinkan dirinya sendiri dan melangkah dengan tekad yang kuat.

Ia berjalan perlahan sambil melihat-lihat kawasan pejalan kaki tempat keluarga dan pria yang sedang berlari kecil.

(Ah, di sebelah sana ... tempat di mana aku bermain lempar tangkap frisbee dengan gadis itu)

Di ruang terbuka besar yang dikelilingi oleh pepohonan, ingatan Masachika tentang masa lalu kembali muncul di dalam kepalanya. Saat melihat area sekelilingnya, kenangannya saat bersama gadis itu kembali terlintas satu demi satu.

(Kalau yang di sana adalah tempat di mana aku biasa bersembunyi saat bermain petak umpet ... … Ah, perosotan itu, kami biasa meluncur ke bawah bersama-sama...)

Tidak ada satu pun yang istimewa dari hal itu, semua itu hanyalah permainan anak kecil yang penuh kekonyolan dan kekanak-kanakan. Namun, bagi Masachika yang waktu itu belum pernah merasakan permainan kekanak-kanakan semacam itu dalam hidupnya, hari-hari yang dihabiskan bersama gadis itu selalu terasa menyenangkan. Kekaguman murni yang gadis itu tujukan padanya adalah yang paling menyenangkan, begitu pula mata birunya yang menatap lurus ke arahnya. Berkat kekecawaan pada ibunya, hatinya yang membeku mulai meleleh. Ia merasa kalau dirinya bisa melakukan apa saja demi gadis itu.

(Jalan ini... Oh iya, aku diserang anjing di jalan ini...)

Masachika mengenang masa lalu dengan perasaan yang tenang dan tenteram. Hari-hari yang Ia habiskan bersama gadis itu masih terkenang indah dan bersinar......, tapi hatinya tidak merasa sakit dengan kecemerlangan itu. Dirinya tak perlu lagi merasa tersiksa oleh rasa kehilangan. Dengan perasaan lega di dalam batinnya ….  Masachika tiba-tiba berhenti di alun-alun air mancur yang mendadak muncul di hadapannya.

(Dan tempat ini ….... tempat aku berpisah dengan gadis itu ...)

Ya, pada saat Ia menyadarinya. Pintu ingatan …. yang tersegel jauh di lubuk hati Masachika, mulai terbuka.

 

◇◇◇◇

 

Masaachika

Apa?

Seperti biasa, mereka beristirahat setelah bermain bersama. Gadis itu biasanya memanggilnya dengan nama julukannya, tapi sudah lama sekali sejak dia memanggilnya dengan nama itu, .... dan  Masachika berbalik untuk melihat ada apa gerangan.

Kemudian, gadis yang selalu ceria itu memiliki ekspresi suram di wajahnya........

“──────”

Dan mengatakan sesuatu ……  ya, gadis itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Bukan dalam bahasa Rusia, tapi dalam bahasa Jepang.

Masachika dibuat tercengang oleh kata-katanya dan ...... begitu kesadarannya kembali, gadis itu sudah pergi.

Apa ada sesuatu yang salah? Mari dengar ceritanya lagi lain kali. Sambil berpikir demikian, Ia mengunjungi taman itu lagi keesokan harinya, tetapi gadis itu tidak ada di sana.

Tidak peduli berapa kali Masachika mengunjungi taman itu dan mencarinya, Ia tidak dapat menemukan gadis itu ... “Mungkin aku bisa melihatnya hari ini,” “Aku tidak bisa melihatnya hari ini, tapi aku akan menemuinya besok,” Ia terus mengulangi harapan samar dan kekecewaan yang sia-sia tersebut. Setelah sebulan berlalu, Ia akhinya tiba-tiba menyadari, “Ahh, aku memang tidak bisa melihatnya lagi, ya.”

Dan tidak lama setelah itu, Ia dipanggil kembali ke rumah kakek dan neneknya dari keluarga Suou. Ayahnya lalu memberitahu kalau dirinya dan Ibunya akan bercerai. Pada saat itu, ingatan masa lalu muncul kembali di benak Masachika.

“Uwaahh, keren!!!”

Kapan ... kejadian itu terjadi? Kalau tidak salah, dirinya itu masih anak TK. Ayahnya lalu berkata kepada Masachika kecil yang berseru saat melihat petugas polisi. Ayahnya bilang “Keren banget, ya? Sebenarnya, Ayah dulu ingin menjadi polisi”.

“Tapi sekarang, kenapa Ayah tidak jadi polisi?”

Ketika Masachika menanyakan pertanyaan ini dengan polos, ayahnya cuma tersenyum sedikit sedih dan berkata.

“Karena ayah menemukan sesuatu yang lebih penting daripada mimpi ayah sendiri.”

Pada waktu itu, Masachika tidak memahami maksudnya, tetapi kemudian Ia mengetahui bahwa keluarga Suou merupakan keluarga yang menjabat jadi diplomat selama beberapa generasi. Ia lalu mengetahui bahwa ayahnya telah meninggalkan mimpinya sendiri untuk menjadi seorang diplomat demi bisa menikahi ibunya.

Masachika merasa kagum ketika mengetahui hal tersebut. Apa yang dikatakan ayahnya lebih penting daripada mimpinya adalah ibunya. Ayahnya lebih memprioritaskan wanita yang dicintainya daripada mimpinya sendiri. Keren sekali. Ayahku sangat keren sekali! Ya, Masachika sangat menghormatinya ketika masih kecil dulu, namun….

“Maaf ya, Masachika. Mulai sekarang, ayah dan ibu akan hidup terpisah.”

Namun ... kenapa….kenapa, ibu mengkhianati pengabdian dan usaha ayah? Mengapa dia tidak menghargai usaha ayah ... tidak menghargai usahaku?

“Baiklah, aku mengerti.”

Masachika tidak perlu mengerti hal itu. Ia tidak harus memahaminya. Ibunya ... Wanita itu hanyalah seorang bajingan yang bahkan tidak bisa memberikan kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya sendiri. Itu saja sudah cukup.

“Kalau begitu, ... aku akan ikut ayah.”

Ia sudah tidak peduli lagi. Ia sudah merasa muak. Semua upayanya terbuang sia-sia. Hari-hari usaha kerasanya untuk mendapat perhatian ibu itu tidak ada artinya. Semuanya sama sekali tidak berguna. Jadi Ia membuangnya.

Ibu yang tidak pernah menanggapi sekeras apapun dirinya berusaha, kakek yang masih tetap memaksanya untuk bekerja keras, dan keluarga  inni yang sudah membuat ayahnya meninggalkan mimpinya. Masachika membuang semuanya. Yang dia butuhkan hanyalah ayah dan adik perempuannya, Yuki. Mulai sekarang, Ia akan menjalani hidup dengan memikirkan mereka sebagai keluarganya. Selama ada Ayahnya dan Yuki, dirinya...

“Maafkan aku Nii-sama, aku ... akan tetap tinggal di rumah ini.”

Tapi, begitu Masachika mengunjungi kamar adiknya... Yuki mengangkat tubuhnya di tempat tidur dan mengatakan itu tanpa ragu.

Kata-kata yang tidak terduga. Masachika dibuat terkejut dengan keinginan kuat yang ditunjukkan adik perempuannya.

“Apa kamu mengkhawatirkan asmamu? Kalau begitu, jangan khawatir. Tidak masalah jika kamu tidak tinggal di sini, penyakit asmamu pasti takkan bertambah parah. Jika kamu menginginkan seorang pengasuh, kamu bisa membawa Ayano bersamamu...”

Meski merasa kebingungan, Ia masih berusaha membujuk Yuki sambil dilanda perasaan tidak sabar. Namun, Yuki tidak menggelengkan kepalanya.

“Kenapa! Tidak ada untungnya kalau kamu tinggal di rumah ini terus!Lebih baik, kita pergi meninggalkan rumah ini!”

Yuki hanya tersenyum sedih saat melihat ledakan emosi Masachika yang meneriakkan hal-hal buruk tentang ibu dan kakeknya.

“Tapi ... jika aku pergi dari rumah ini, ibu akan sendirian.”

Yuki hanya mengucapkan satu kata itu. Begitu mendengar kalimat yang dia ucapkan dan melihat raut wajahnya, Masachika tidak bisa ...... mengatakan apa-apa lagi.

Pada saat itu, Ia langsung paham. Ia selalu berpikir bahwa adiknya yang sakit-sakitan dan harus Ia lindungi …… ternyata jauh lebih dewasa, dan memiliki keinginan yang jauh lebih kuat dan cinta yang lebih dalam daripada dirinya.

Tiba-tiba, Masachika merasa malu pada dirinya sendiri. Ia merasa sangat malu dengan kepicikannya sendiri, mengomel secara emosional dan menyalahkan keluarganya. Tapi harga diri  Suou Masachika menolak untuk menerima kenyataan ini..

“Kalau begitu, lakukan saja sesukamu!”

Seraya menyadari di suatu tempat di lubuk hatinya kalau dirinya cuma menambah daftar rasa malunya, Masachika berteriak begitu dan meninggalkan kamar Yuki. Dan tanpa menatap wajah Yuki, Ia menghabiskan hari-harinya dengan berpikir “Dia pasti akan meminta maaf padaku”, “Mana mungkin Yuki mau meninggalkanku”, atau “Jika dia meminta maaf, aku akan memaafkannya sebagai kakaknya”. Pada hari perpisahan mereka tiba, Masachika melihat adik perempuannya berdiri di samping ibunya. Akhirnya, Ia kemudian menyadari kesalahpahaman bodohnya.

Yang membuang segalanya adalah Masachika, tapi mengapa Ia merasa seolah-olah kalau dirinya lah yang dibuang. Ia pergi meninggalkan kediaman Suou dengan perasaan hampa, seolah-olah angin dingin bertiup di dadaku, tanpa meninggalkan sedikit pun kegembiraan. Di sampingnya, ayahnya terus meminta maaf kepadanya dengan tatapan minta maaf sepanjang waktu.

Setelah itu, hari-hari yang terasa kelabu terus berlanjut untuk sementara waktu. Kesehariannya berlalu sangat damai tanpa ada harapan kakeknya, kekaguman dari gadis itu, maupun pelajaran les yang harus dipelajari. Tanpa tahu apa yang harus dilakukan atau apa yang ingin Ia lakukan, Masachika hanya menghabiskan kesehariannya dalam kemalasan...... Ketika memasuki kelas 6 SD dan menyadari sekolah SMP mana yan ingin Ia masuki, mendadak suatu ide terlintas di benaknya. Benar juga, ayo masuk ke Seirei Gakuen.

Bisa dibilang, ini merupakan semacam balas dendam. Ia akan memasuki sekolah yang diinginkan kakeknya, tanpa perlu bantuan dari keluarga Suou. Kemudian dirinya akan memberitahu pada kakek dan ibu itu dengan pernyataan, “Ikan yang kalian lepaskan itu besar. Kalian telah kehilangan pewaris yang tak tertandingi berkat perbuatan bodoh kalian sendiri.”

Dengan motif yang menyimpang seperti itu, Masachika mulai belajar untuk ujian masuk ... dan berhasil diterima di sekolah Seirei Gakuen dengan mulus.

Gimana, rasain tuh.  Buat memasuki sekolah segampang ini, cuma butuh waktu enam bulan saja untuk belajar. Sudah kuduga kalau aku ini luar biasa, aku ini orang istimewa ...  merasa puas dengan hal itu, Masachika menghadiri upacara penerimaan siswa baru dengan penuh antusias. Lalu di sana, orang yang menjadi siswa terbaik yang diterima di sekolah dan memberikan pidato sebagai perwakilan siswa baru adalah .....

“Senang bertemu dengan anda semua. Nama saya Suou Yuki, dan saya diminta untuk memberi pidato perkenalan sebagai perwakilan dari siswa baru.”

Adik perempuannya sendiri, orang yang ditinggalkan dalam keluarga Suou.

Adiknya memberi pidato sambutan dengan penuh sopan santun dan perilaku yang bermartabat. Saat melihat tubuhnya yang sehat dan pertumbuhannya yang bagus ….… Masachika akhirnya menyadari kalau dirinya bukanlah orang yang istimewa. Dirinya adalah sosok yang bisa diganti. Orang yang benar-benar tidak berharga... Sampah yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Ia selalu emosional dan selalu termotivasi berkat orang lain. Jika tidak bergantung pada orang lain dan mencari-cari alasan, Ia tidak bisa melakukan apa pun dengan motivasinya sendiri. Selain itu, Selain itu, Ia mengandalkan mereka tanpa izin, dan jika pihak lain tidak menanggapi seperti yang diinginkan, Ia secara egois akan merasa kecewa... ...Tanpa mampu mencintai keluarga dekatnya, Masachika menyerahkan semuanya pada adik perempuan tercintanya.

Namun, adik perempuannya itu masih memperlakukannya dengan baik kepada dirinya yang tidak berdaya. Dia selalu menunjukkan wajahnya yang konyol dan bersikap ala otaku supaya tidak membuatnya merasa bersalah, dan dia tidak pernah malu untuk memberitahu betapa besar dia menyukai Masachika. Adik perempuannya berusaha melindungi ikatan keluarga sekaligus harus memikul tanggung jawab berat menjadi pewaris keluarga Suou. Setiap kali melihat seberapa lapang hatinya dan kecemerlangan jiwanya, Masachika merasa ……..

 

◇◇◇◇

 

“Hah ...”

Masachika duduk di bangku dekat alun-alun air mancur dan menghela nafas karena dadanya memancarkan rasa sakit yang berdenyut. Rasanya sungguh menyakitkan. Dimulai dengan ingatan berpisah dengan gadis itu, rantai ingatan masa lalu yang diingatnya benar-benar mengerikan.

“Rasanya pengen mati saja~ ...”

Ini bukan perkara apakah dirinya menyukai Alisa atau tidak.

Sedari awal  ... Mengapa dirinya bertingkah songong sampai berpikir kalau dirinya pantas bersama Alisa? Dirinya hanyalah wadah kecil yang kosong, berkeliaran mencari seseorang untuk diandalkan. Bagaimana bisa dirinya yakin kalau dirinya cocok dengan Alisa?

“... Sungguh bodoh sekali.”

Sejak awal, Masachika tidak pernah memiliki hak untuk memikirkan apakah Ia menyukainya atau tidak. Dikelilingi oleh orang-orang dengan jiwa yang mempesona, apa Ia membuat kekeliruan dengan berpikir bahwa dirinya telah menjadi salah satu dari mereka?

“... Dasar keparat.”

Secara alami, sumpah serapah pada dirinya sendiri keluar dari mulutnya. Ketika Masachika mengingat dirinya yang dulu, dirinya adalah bocah tengil yang tak berdaya lebih dari yang Ia duga. Selama ini ….. Masachika selalu menganggap kalau semuanya itu salah ibunya. Tapi ternyata Ia salah.

Sekarang Ia bisa memahaminya. Penyebab langsung kehancuran keluarga itu tidak lain adalah ...... dirinya sendiri. Sampai saat itu, masing-masing dari mereka memiliki pemikirannya sendiri, tapi mereka berhati-hati untuk tidak menghancurkan bentuk keluarga. Ibu itu juga melindungi garis pertahanan terakhirnya dengan tidak membiarkan anak-anaknya melihatnya memukul suaminya terlalu keras.

Namun ... hanya Masachika yang melanggar garis pertahanan itu. Ia bahkan tidak berusaha menyembunyikan kebenciannya pada ibunya dan pemberontakannya ...... mungkin jadi penyebab kenapa orang tuanya bercerai. Mereka mungkin memutuskan bahwa sudah mustahil mempertahankan bentuk keluarga lagi. Kemudian mereka semua berpisah ... Yuki sekarang berusaha mati-matian untuk melindungi ikatan keluarga yang telah dihancurkan Masachika. Adik perempuan yang mencintai keluarganya lebih dari siapapun Meskipun dia memikul tanggung jawab yang berat sebagai pewaris keluarga Suou.

“Ugh!”

Tiba-tiba, Masachika merasa ingin menangis. Dadanya bergetar dan buliran air mata sudah menggenang di sudut matanya. Entah itu karena ketidaklayakannya sendiri, kasih sayang terhadap adik perempuannya, atau karena rasa kasihan, ...... Ia tidak tahu jawabannya. Tanpa mengetahuinya, Masachika menggertakkan gigi dan berusaha menahan air matanya. Sekarang Ia ingin memeluk Yuki ... memeluk tubuh kecilnya itu dengan sekuat tenaga.

“... Haahhh.”

Masachika menghela napas dengan emosi yang campur aduk dan berdiri dari bangku. Tujuan awalnya untuk mengunjungi tempat kenangan dengan gadis itu dan menyelesaikan cinta masa lalu ... belum terpenuhi. Tapi sekarang, Ia pikir kalau semuanya sudah cukup.

Sejak awal, dirinya sama sekali tidak cocok untuk Alisa. Tidak, Masachika yakin kalau dirinya tidak pantas untuk siapa pun. Dirinya yang membenci dan sudah menghancurkan keluarganya sendiri. Dirinya yang tidak bisa melindungi satu-satunya adik kesayangannya. Masachika merasa kalau dirinya tidak pantas untuk memiliki cinta yang mengarah pada ... ikatan keluarga baru. Bahkan jika Ia berhasil mendapatkannya ... Ia merasa kalau dirinya tidak bisa merawatnya dengan baik.

“... mending pulang saja lah.”

Entah bergumam kepada siapa, Masachika mulai berjalan pergi. Matahari musim panas terasa sangat menyengat di kulitnya, namun bagian dalam tubuhnya terasa sangat dingin sampai-sampai Ia tidak bisa merasakan panasnya. Seolah-olah organ di dalam tubuhnya digantikan dengan tanah liat dingin. Seluruh tubuhnya terasa berat seperti lumpur dan Masachika merasa sangat tidak nyaman.

Ia berjalan perlahan ke trotoar dan hanya mengikuti jalan setapak. Ketika  mencapai persimpangan jalan, Masachika berhenti.

“...”

Jika Ia memilih jalan di sebelah kanan, jalan tersebut akan mengarah ke pintu keluar taman. Jika Ia memilih jalan di sebelah kiri, jalan tersebut akan mengarah pada alun-alun …… dengan banyak peralatan bermain, di mana dirinya menghabiskan sebagian besar waktunya dengan gadis itu. Masachika sedikit ragu …... dan perlahan melangkahkan kakinya ke jalan setapak di sebelah kiri. Masachika sendiri tidak yakin apa alasannya. Entah karena Ia memutuskan untuk menelusuri semua area taman itu supaya Ia tidak perlu berkunjung ke sini lagi ... atau mungkin suasana hatinya begitu putus asa sehingga Ia berpikir untuk melukai dirinya sendiri untuk lebih jauh mencungkil hatinya sendiri?

Tanpa mengetahui jawabannya, Masachika terus berjalan sambil menundukkan kepalanya yang berat dan menatap tanah. Tak berselang lama kemudian, jalan beraspal berubah menjadi jalan berpasir bercampur kerikil. Ketika perlahan-lahan mengangkat wajahnya, Masachika melihat sebuah kotak yang terlihat jauh lebih kecil dari yang diingatnya.

Kotak pasir yang dikelilingi oleh trotoar, dan empat ayunan berwarna merah yang saling berjajar. Di luar itu, ada pagar kecil untuk mencegah seseorang untuk berlarian ke arah jalan raya. Ketika masih kecil dulu, Ia selalu merasa kesal karena harus berjalan di antara pagar-pagar kecil yang berliku-liku sebelum bisa berlari ke gadis itu. Sambil tertawa kecil memikirkan dirinya yang dulu, Masachika mengalihkan perhatiannya ke arah sebelah kiri. Ada fasilitas permainan berbentuk kubah dengan lubang di dalamnya. Dan di atasnya …..

“Ehh…?”

Ada sosok familiar yang memandang ke atas langit. Seseorang yang seharusnya tidak ada di sini ……. membuat jalan pemikirannya berhenti. Saat Masachika berdiri tertegun dan melihat sosok itu dengan tatapan tercengang, gadis yang tadi menatap ke langit tiba-tiba menurunkan pandangannya. Dia terus  menjaga Masachika dalam pandangannya, mengangkat pinggulnya, dan setengah meluncur turun dari fasilitas bermain dengan sedikit terhuyung.

Kemudian, ketika kakinya mencapai permukaan tanah, dia perlahan berjalan mendekati Masachika.

Dia berhenti di hadapan Masachika dengan ekspresi yang sedikit bernostalgia ..... tapi juga ada senyum sedih di wajahnya. Ketika Masachika terkesiap, gadis tersebut lalu berkata dengan segenap perasaannya.

 

“Sudah lama tidak ketemu, ya….”



 

Sebelumnya Daftar isi  |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama