Kimi wa Hatsukoi no Hito, no Musume Vol.2 Chapter 5 Bahasa Indonesia

Chapter 5 — Keluarga

 

 

Ichigo mengingat kenangannya tentang rumah orang tua Sakura.

Di masa lalu, ketika dirinya masih kecil, Ichigo biasa pergi ke rumah Sakura untuk bermain. Keluarga Sakura adalah keluarga kaya yang menjalankan bisnis pribadi, dan rumah mereka, meskipun bukan rumah besar, adalah bangunan bergaya barat yang hebat dibandingkan dengan keluarga biasa.

“Ah, halo, selamat pagi, tante.”

Ia membunyikan bel pintu di sebelah papan nama yang dibaca 'Ito' dan meminta izin untuk masuk. Di pintu gerbang, ibu Sakura menyapa Ichigo,

'Selamat datang, Ichigo-kun.'

Dia memberikan kesan yang lembut dan ramah, dengan kemiripan yang sama seperti Sakura. Tidak seperti rambut hitam Sakura, rambut kastanye yang bergelombang dan lembut diikat menjadi satu bundel dan digantung di atas bahunya.

“Maaf sudah mengganggu, tante.”

'Tunggu sebentar ya, tante akan pergi memanggil Sakura. Semoga saja dia tidak masih tidur meskipun Ichigo-kun sudah datang. '

Ia memastikan untuk menyapa orang tua Sakura dengan benar ketika  mengunjungi rumah mereka. Mungkin itu tidak terlalu kaku dan sopan seperti tentang suasana unik, kelas atas yang dimiliki keluarga ini. Dalam pikiran kekanak-kanakannya, dia sadar akan perlunya berperilaku dengan benar.

‘Oh, Ichigo-kun. Terima kasih sudah datang.'

Ayah Sakura juga muncul. Beliau adalah presiden perusahaan yang berurusan dengan pemrosesan buah dan sayuran, pengembangan produk, dan distribusi. Rambut hitamnya dipotong pendek dan Ia memiliki wajah yang bermartabat. Beliau adalah pria yang tampak kuat dengan kacamata dan tubuh yang kokoh. Namun, Ia tidak terlihat menakutkan dan galak, melainkan sebaliknya, Ia memberikan kesan yang murah hati, baik hati, dan pekerja keras.

Pada saat itu—

‘Ya ampun, Sakura. Mau sampai kapan kamu bersiap-siap? Ichigo-kun sudah ada di sini, tau.'

‘Aku mengerti, Bu. Jangan katakan itu keras-keras.’

Sakura turun dari tangga yang menuju lantai dua. Ketika dia melihat Ichigo, dia tersenyum malu-malu.

‘Selamat pagi, Ichi.’

Dia mengenakan sweater musim panas berwarna lembut dan rok lipit. Rambut hitam pekatnya masih sama seperti biasa. Dia memancarkan aroma yang menyegarkan, mengingatkan pada jeruk.

Di sana, dia tampak seperti dewi yang turun ke bumi.

......

Paman yang serius dan pekerja keras, seorang tante yang baik dan lembut, kemudian, seorang gadis muda yang rapi dan cantik. Tidak mengherankan jika keluarga mereka tampak bagus jika dijadikan lukisan. Keluarga mereka sangat persis seperti keluarga ideal yang Ichigo bayangkan. Namun—

Lima belas tahun yang lalu, keluarga Sakura gagal dalam bisnis mereka. Karena penjualan yang terus meningkat, mereka memutuskan untuk memperluas bisnis mereka dan menghabiskan banyak uang untuk beriklan, tapi semuanya tidak berjalan dengan baik dan mereka berakhir dengan banyak hutang.

Demi menyelamatkan keluarganya dari krisis, Sakura bertunangan dengan presiden perusahaan besar. Itu adalah pernikahan politik. Setelah Sakura bertunangan dan pergi ke luar negeri, orang tua Sakura juga pindah, mungkin karena terlalu sulit bagi mereka untuk tinggal di daerah tersebut.

Hubungan di antara Ichigo dan Sakura benar-benar terputus, dengan cara yang begitu kejam dan mengerikan—

 

※※※※※

 

Menurut tangal yang ada di kalender, sekarang sudah mendekati pertengahan Agustus. Itu adalah sekitaran waktu di mana liburan musim panas memasuki babak kedua.

Gumpalan awan cumulonimbus yang berbentuk mirip seperti sarang lebah raksasa, menggantung di langit biru. Di bawah langit cerah seperti itu, sebuah mobil melaju di atas jalanan aspal yang panas. Di kursi pengemudi, orang memegang setir adalah Ichigo. Dan di kursi penumpang, Luna duduk dengan manis. Mereka berdua dalam pakaian kasual mereka hari ini.

“Apa kamu merasa gugup?”

“Y-Ya.”

Ketika Ichigo bertanya kepadanya, dia menjawab dengan suara gemetar. Luna yang duduk di kursi penumpang, memiliki ekspresi agak suram di wajahnya.

“... Terima kasih banyak Ichi, karena sudah bersedia ikut denganku hari ini.” Luna berkata dengan malu-malu seraya menatapnya, dan Ichigo tersenyum tenang, seolah-olah berusaha meringankan ketegangannya.

“Tidak, justru akulah yang harusnya berterima kasih karena sudah diberi kesempatan ini. Sudah lama sejak aku punya kesempatan untuk menyapa orang tua Sakura.”

Saat ini, Ichigo dan Luna sedang dalam perjalanan ke rumah orang tuanya orang tua Luna. Dengan kata lain, rumah di mana orang tua Sakura tinggal. Nama lengkap Sakura sebelum pernikahannya adalah Ito Sakura. Oleh karena itu, mereka sedang dalam perjalanan menuju keluarga Ito.

“......”

Ekspresi Luna dalam perjalanan ke rumah kakek neneknya bukanlah ekspresi yang ceria. Hubungan antara dirinya dan keluarga orang tuanya pernah disebutkan sebelumnya oleh Luna sendiri. Mereka tidak akur ... dan itu tidak terlihat bagus. Tapi bukannya berarti mereka menolaknya. Luna juga menggambarkan bahwa orang tua Sakura, kakek dan neneknya, sebagai orang baik. Namun, mereka sepertinya tidak memahami kesedihan dan kegelapan yang dia miliki di hatinya.

Meski demikian, in adalah perjalanan akhir pekan yang panjang ke rumah wali yang sudah merawatnya. Mana mungkin dia tidak pulang ke rumah mereka. Terlepas dari situasinya, rumah itu sekarang bertindak sebagai orangtua pengganti, mengawasi pertumbuhan Luna, dan yang paling penting—

“Begitu rupanya ... kuburan Sakura ada di sana, ya.”

“…Ya.”

Mengunjungi makam Sakura. Itulah salah satu alasan mengapa Ichigo dan Luna pergi ke rumah orang tuanya hari ini. Sisa-sisa peninggalan Sakura beristirahat di makam orang tuanya, keluarga Ito, bukan di keluarga suaminya, keluarga Hoshigami.

Walaupun nama keluarga Luna adalah Hoshigami, makam Sakura berada di kuburan keluarga Ito ... mungkin ada beberapa keadaan yang pelik di luar imajinasinya, atau mungkin jauh lebih baik untuk tidak membayangkan yang aneh-aneh, tapi Ichigo tidak memaksakan dirinya untuk mencari tahu pada saat ini. Karena hal pertama yang harus mereka lakukan ialah menghadapi masalah yang menjulang di depan mereka.

... Mengunjungi makam Sakura, ya ...

Itu adalah tindakan yang pasti membuatnya sadar akan kematian Sakura, meski dirinya sudah mengetahui dan sadar akan hal itu. Rasanya memang menyakitkan, tapi bukan berarti Ia tidak ingin pergi. Sebaliknya, Ichigo ingin pergi mengunjunginya. Ia ingin menghadapinya. Untuk menghadapi kematian Sakura sambil mengambil kesempatan ini dan menjadi teguh.

“......”

Ichigo melirik kursi penumpang dan melihat Luna yang masih menutup mulutnya. Lebih dari segalanya, hal yang Ia khawatirkan saat ini adalah gadis itu.

Mungkin dia awalnya ingin berbicara dengan Ichigo tentang permasalan ini malam itu di Festival Musim Panas. Dia mungkin mengandalkan Ichigo, yang menyatakan bahwa Ia akan membantu Luna jika sesuatu terjadi padanya.

Namun, setelah 'kejadian itu', dia sekali lagi merasa bimbang dan ragu-ragu mendekati Ichigo ...

... Itu semua salahku.

Ichigo kemudian memutar setirnya dan mengganti jalur. Luna mendongak dan bereaksi terhadap gerakan yang tiba-tiba dari kendaraan yang tadinya melaju lurus ke depan.

“Ayo istirahat dulu.”

“Ah, ya ...”

Mobil Ichigo melaju langsung memasuki rest-area yang ada di pinggir jalan. Itu hanyalah rest-area kecil tanpa adanya fasilitas atau bangunan yang signifikan, Cuma ada mesin penjual otomatis dan toilet.

“Aku pergi beli minuman dulu.”

“Ah, lalu aku akan pergi juga ...”

“Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri.” Menahan upaya Luna untuk bergerak, Ichigo dengan cepat keluar dari kursi pengemudi dan menuju ke deretan mesin penjual otomatis. Ia kemudian membeli sebotol es kafe au lait di sana dan kembali ke dalam mobil.

“Ini.” Kemudian, Ia memberinya kepada Luna yang ada di kursi penumpang. “Kali ini, yang dingin.”

“......”

Ichigo ingat ketika Ia menolaknya sebelumnya, keadaan mental Luna menjadi tidak stabil dan tersesat berkeliaran di pegunungan, jadi Ia harus mencarinya. Pada saat itu, Ichigo juga ingat kalau Ia membeli café au lait untuk menenangkan Luna.

“Jangan khawatir.” Ichigo menyemangati Luna ketika menyerahkan café au lait dan naik ke kursi pengemudi. "Setidaknya kamu tidak sendirian. Ada aku disini. Jika kamu mengalami kesulitan, aku ada di sini untuk membantumu.”

“…Aku minta maaf.”

“Tidak apa-apa. Karena itulah sebabnya aku di sini bersamamu.”

Ya, menghadapi kematian Sakura, menyapa orang tuanya untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Semuanya bukan demi perkara masa lalu. Di masa sekarang, di sini dan sekarang, ada seorang gadis yang menderita. Membantunya juga merupakan tanggung jawab penting yang harus Ichigo lakukan pada dirinya sendiri.

Mendengar perkataan menghibur Ichigo, Luna tersenyum dengan tatapan mata lembab.

“... Aku merasa sangat bersyukur kamu ada di sini, Ichi.”

“......”

... Jika senyum Sakura diumpamakan layaknya dewi, maka senyum gadis ini adalah malaikat.

... Sekali lagi, aku dengan egoisnya membandingkannya dengan Sakura ... Aku memang tidak pernah kapok sama sekali, Ichigo merenungkan situasi ini secara rahasia.

Kemudian, setelah istirahat sejenak, mobil yang mereka tumpangi melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan rest-area.

 

※※※※※

 

“…Kita sudah sampai. Apa benar ini tempatnya?”

“Ya.”

Berkendara dari kota tempat Ichigo dan Luna tinggal, dan melintasi beberapa gunung dan prefektur, membutuhkan waktu tempuh sekitar tiga jam. Mereka berdua tiba di daerah pedesaan dengan lanskap luas dan tenang.

Mereka akhirnya sampai di depan sebuah rumah besar yang dibangun di atas bukit yang sedikit tinggi. Meski itu adalah rumah besar ... tapi tidak sampai disebut Grand Mansion. Rumah tersebut lebih mirip seperti rumah gaya Jepang yang relatif besar dibandingkan dengan biasanya. Namun, gerbang yang luar biasa dan pintu masuk otomatis dengan jelas membedakannya dari rumah umum.

Ini adalah rumah tempat kakek dan nenek Luna tinggal ... dengan kata lain, orang tua Sakura.

“Perusahaan dan pabriknya ...?”

“Tidak di dekat sini, tapi itu bisa ditempuh dengan jarak pendek.”

Pertanyaan Ichigo dijawab oleh Luna. Rupanya, masih sama seperti dulu. Bisnis keluarga mereka masih terus berlanjut, yang mana itu sedikit melegakan.

“......”

Kakek dan nenek ibu Luna, dengan kata lain Ayah dan Ibu Sakura.

Lima belas tahun yang lalu, setelah usaha bisnis yang gagal dan keterlibatan Sakura, orang tua pun Sakura pindah, mungkin karena mereka merasa malu tinggal di daerah tersebut. Sekarang, untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, Ichigo bisa mendatangi tempat mereka pindah.

“… Laut?”

Rumah itu terletak di atas gunung kecil, jadi menengok ke belakang, pemandangan lanskap terbuka bisa terlihat. Dari kejauhan, Ichigo bisa melihat cakrawala. Lokasi rumah ini relatif dekat dengan laut, walaupun masih jauh beberapa kilometer dari pantai terdekat.

Namun, entah itu kebetulan atau mungkin takdir yang tak bisa dihindari? Bagi Ichigo, yang telah mengalami ingatan tentang musim panas itu ketika pergi ke pantai bersama Sakura, dirinya tidak bisa menahan diri untuk merasakan jika ini sesuatu yang ditakdirkan.

“Apa kamu sudah memberitahu nenek dan kakekmu tentang aku?”

“Ya, aku memberi tahu mereka sebelumnya, jadi seharusnya baik-baik saja.”

“Begitu ya ... Baiklah!” Ichigo kemudian menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Kegugupan Luna mungkin menular. Tidak ... kegugupan Ichigo sendiri memuncak segera setelah melihat rumah di depannya.

“Apa kamu merasa gugup juga, Ichi?”

“Ah ... Ya.”

Pada saat itu, Luna menebak persis apa yang terjadi. Sebagai orang yang merasakan hal yang sama, mereka mungkin dapat berkomunikasi satu sama lain. Keduanya saling memandang dan tersenyum.

“Kalau begitu, ayo pergi.”

“Ya.”

Kemudian, setelah memutuskan, Ichigo menelepon bel pintu. Ia membunyikan bel pintu di sebelah papan nama bergaya Jepang yang dibaca 'Ito'. Sama halnya yang pernah terjadi di masa lalu.

Suara dering samar diulang beberapa kali ... lalu, 'Ya,'  suara balasan bisa terdengar dari penerima di pintu. Itu adalah suara seorang wanita tua.

“Ini aku, Luna. Aku sudah kembali ke rumah.”

“Ara, selamat datang kembali, Luna-chan. Aku akan membuka gerbang sekarang.” Beberapa detik kemudian, gerbang samping dibuka secara otomatis.

“Suara tadi itu ...”

“Ya, itu suara nenek.”

Mereka berjalan melalui gerbang yang terbuka dan memasuki pekarangan rumah. Mereka berjalan melewati taman Jepang yang megah dengan pohon pinus yang dipangkas dengan rapi, dan kemudian sampai di pintu masuk mansion, di mana pintu itu sudah dibuka. Di sana, seorang wanita tua sedang menunggu.

... Orang ini ...

Lima belas tahun sudah berlalu sejak saat itu. Dengan kata lain, usianya saat ini mungkin sudah mencapai akhir lima puluhan. Namun, dia tampak dan terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Rambut berwarna kastanye-nya diikat sanggul dan menutupi bahunya, masih sama seperti itu saat itu. Secara intuitif, Ichigo langsung mengenalinya. Dia adalah ibu Sakura, yang sudah lama tidak Ia jumpai selama 15 tahun.

“Selamat datang kembali, Luna-chan.” Dia berkata kepada Luna dengan senyum lembut. Itu adalah senyum ceria yang menggambarkan kelembutan dan kepribadian yang sesuai untuk usianya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ichigo yang berdiri di samping Luna.

“... Kamu Ichigo-kun?”

“Ya, sudah lama tidak bertemu, tante.”

Apa aku harus memberinya souvenir yang ada di tanganku sekarang?

Ichigo tidak tahu apakah Ia terlalu santai atau gugup ketika memikirkan hal sepele semacam itu. Ini adalah pertama kalinya Ia bertemu lagi dengan beliau sejak dia masih kecil dan setelah semua peristiwa yang terjadi.

“Ichigo-kun ...”

Pertama-tama, ekspresi macam apa yang harus Ia tunjukkan, dan kata-kata macam apa yang harus dibicarakan?

Ketika Ichigo memikirkan itu dengan bimbang, beliau membuka matanya lebar-lebar—

“Kamu beneran Ichigo-kun!? Ya Tuhan, kamu sudah tumbuh dewasa!” Dia melompat-lompat dengan gembira. Itu adalah reaksi yang polos layaknya gadis SMA yang kegirangan. “Sudah lima belas tahun sejak aku melihatmu. Kamu sudah tumbuh besar! Kamu dulunya anak kecil yang lucu saat itu, tapi sekarang kamu sudah berubah jadi seorang pria dewasa! Lihat!”

“Ah iya. Tante juga, masih secantik seperti biasanya ... “

“Walah, walah, sekarang kamu juga pintar menyanjung seperti itu! Waktu memang berlalu dengan cepat! Apalagi, kamu sekarang manajer toko tempat Luna bekerja, ‘kan? Sungguh kebetulan sekali, aku tidak bisa mempercayainya! Mukjizat macam apa ini!? Tapi tetap saja, kamu sudah menjadi pria yang tampan!”

“......”

Dia telah diberitahu sebelumnya dan mengizinkannya berkunjung, jadi dIchigo berpikir kalau beliau takkan terlalu terkejut ... Ichigo sedikit kebingungan oleh reaksi  ibu Sakura yang tak terduga. Dia tampaknya telah banyak berubah dari kesan suci dan polos dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu.

“Um, Ini hanya oleh-oleh tidak seberapa, tapi tolong silahkan diterima.”

“Oh ya ampun, aku senang sekali. Sekarang, ayolah, ayolah, kalian berdua. Aku akan menyiapkan cemilan yang kalian bawa dan beberapa teh.”

“Ah iya.”

Atas saran ibu Sakura, atau lebih tepatnya pada desakannya, Ichigo dan Luna melepas sepatu mereka.

“Tapi irasanya sudah lama sekali, jadi aku sangat senang. Aku minta maaf karena terus menanyakan ini, tapi kamu adalah manajer toko dari tempat Luna bekerja, ‘kan?”

“Ya, ummm ...”

Ibu Sakura bertanya, masih dalam keadaan gembira. Dia tampak benar-benar terkejut, dan mungkin karena dia juga merasa optimis, dia terus mengulangi topik yang sama.

Namun, Ichigo terkekeh pada reaksinya, dan sebagai gantinya, Ia merasa kalau hatinya berangsur-angsur mulai tenang. Ketika menyadari bahwa pihak lain juga dalam keadaan gembira, Ia bisa merasakan bahwa ketegangan itu dengan cepat menghilang.

“Tidak, bukannya berarrti aku kebetulan jadi manajer toko tempat dia bekerja.”

“Ya, ya, aku juga sudah mendengar cerita itu. Kamu menyelamatkan Luna-chan dari serangan berandalan, bukan? Kamu jantan sekali.” Ibu Sakura meletakkan tangannya di pipinya dan berbicara tentang kekagumannya dengan, “Kyaa!”

Tampaknya Luna juga menmberitahunya tentang pertemuannya dengan Ichigo.

Diserang oleh berandalan ... yah, walaupun isinya sedikit berbeda.

“Nenek, Kugiyama-san agak bermasalah.” Kemudian, Luna menindaklanjuti dari samping sambil tertawa terkekeh.

“Oh astaga, aku minta maaf.” Kata ibu Sakura, tampak malu.

... Luna-san tampaknya tidak punya masalah berbicara dengan beliau.

“Tapi beneran, aku tidak percaya kalau Ichigo-kun, yang dulunya sangat kecil dan imut, sudah tumbuh menjadi orang dewasa yang hebat. Aku merasa seperti sedang berbicara tentang anakku sendiri, dan aku menangis tertaru dengan kebahagiaan.” Ibu Sakura menyeka matanya saat mengatakan itu.

Ichigo juga merasakan sensasi tersedak di belakang tenggorokannya pada perilakunya.

“Aku juga ... Aku senang bisa melihat tante lagi.”

Rasanya konyol sekali betapa gugupnya aku dengan semua pemikiran yang saling bertentangan dan suram yang berkutat di kepalaku, pikir Ichigo.

Lima belas tahun telah berlalu, dan ada perpisahan dramatis. Karena itu, Ia ingin sekali melihatnya lagi ... tepi orang ini tidak berubah. Tidak, kesannya agak berbeda, tetapi tidak dengan cara yang tidak menyenangkan. Bagaimanapun juga, dia adalah ibu Sakura, dan juga orang yang baik dan lembut.

Ibu yang cantik itu, yang menurutnya adalah sosok ibu yang ideal, sama halnya seperti dirinya, dterus-menerus tumbuh selama bertahun-tahun. Fakta ini saja membuat Ichigo merasa nyaman.

“Kalau begitu, tunggu aku di kamar Tatami di sini.”

Ketika dia membawa mereka ke koridor, mereka dipandu ke ruang belakang dengan pemandangan halaman. Ibu Sakura menunjuk ke pintu geser tertutup dan berkata,

“Otou-san juga berada di Ruang Tatami, jadi kamu bisa berbicara dengannya setelah sekian lama. Jangan lupa untuk menyapa juga, Luna-chan.” (TN: Ibu Sakura memanggil suaminya dengan panggilan 'Otou-san', jadi kalau diterjemahkan artinya jadi ayah.)

Ayah sakura.

Pada saat itu, Ichigo merasa tubuh Luna sedikit gemetar ketika dia mengikuti di belakangnya.

“Luna-san?”

“......”

Sebelum Ichigo bisa menanyakan keadaannya, mereka bertiga tiba di Ruang Tatami. Ibu Sakura meletakkan tangannya di pintu geser dan membukanya.

“Otou-san, Luna-chan dan Ichigo-kun ada di sini.”

Di dalam ruang Tatami, seorang pria duduk bersila dengan bantal, menunggu kedatangan mereka.

“......”

Dia adalah seorang pria tua, tetapi fisiknya yang tumbuh dengan baik tampak sangat akrab. Karena itu, Ichigo bisa langsung mengenalinya dengan sekilas.

“Ah ... sudah lama tidak bertemu, Paman.”

“......”

Ia memalingkan kepalanya dalam diam pada salam Ichigo. Rambut abu-abunya semakin banyak dan kerutan di wajahnya menjadi lebih dalam dan lebih gelap. Ia mengenakan kacamata berbingkai hitam dan wajahnya yang khidmat menunjukkan bahwa Ia telah mengalami banyak kesulitan. Tidak ada tanda-tanda sosok ayah yang ceria, sungguh-sungguh, dan ideal seperti di masa lalu. Seorang pria, tanpa ekspresi, pendiam dan tegas seperti batu bisu, ada di sana.

“Silakan duduk.” Ketika ibu Sakura memberi tahu mereka, Ichigo dan Luna duduk tegak di atas bantal yang telah disiapkan untuk mereka. Di seberang meja kayu, mereka menghadapi ayah Sakura.

“......”

Ibu Sakura meninggalkan ruangan Tatami, dan suasana yang berat memenuhi ruangan. Ichigo bertanya-tanya apakah pria itu benar-benar ayah Sakura.

... Tidak, instingku memberitahuku begitu.

Tidak diragukan lagi, mereka adalah orang yang sama. Namun, seperti ibu Sakura, kesannya justru ...

“... Ichigo-kun.” Lalu di sana, beliau mulai membuka mulutnya kepada Ichigo, yang sedang melamun.

“Ya!” Ichigo secara tidak sadar meluruskan punggungnya dan menanggapi dengan tegas.

Melihat reaksi Ichigo seperti itu, ayah Sakura—

“... Sudah lama.”

Wajahnya dipenuhi dengan senyum lembut. Suara yang keluar dari tenggorokannya lembut dan hangat. Ichigo hampir terguncang oleh kesenjangan antara kesan sebelumnya dan yang ini.

“... Ya, sudah lama tidak berjumpa, Paman.” Ia bisa membalas secara alami. Ekspresi pria di depannya masih sama dengan 15 tahun yang lalu. Oleh karena itu, Ichigo merasa lebih tenang.

“Aku senang mendengarmu baik-baik saja. Kamu terlihat luar biasa, dan aku mendengar kalau kamu sekarang adalah manajer di toko besar? Hebat sekali.”

“Terima kasih banyak.”

Nada suaranya yang tenang dan bermartabat berbicara dengan baik dari Ichigo. Merasa agak malu, Ichigo menggaruk rambutnya.

Apa-apaan ... Ia tidak berubah sama sekali.

Meskipun mereka tidak bertemu satu sama lain dalam 15 tahun, percakapan itu lebih normal dari yang diharapkan. Ichigo bahkan merasakan nostalgia. Tapi kemudian, Ichigo menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

“... Luna-san?”

Luna yang berada di sampingnya tidak bergabung dalam percakapan sama sekali. Dia tampak waspada terhadap kehadiran ayah Sakura ... Tidak, Ichigo bisa merasakan ketakutannya. Wjahnya tampak seperti seorang anak kecil yang menghadapi omelan ayah yang galak.

“... Luna, aku mendengar kalau kamu saat ini bekerja paruh waktu di toko Ichigo-kun.”

Kemudian, percakapan beralih kepadanya. Pada saat inilah nuansa dan suasana yang dipakai ayah Sakura berubah sepenuhnya. Suasana sama seperti beberapa menit yang lalu, ketika pintu ke ruangan ini pertama kali dibuka. Ekspresinya tampak tegas.

“Aku harap kamu tidak menimbulkan masalah?”

“…Ya.”

Suasana yang menyelimuti terasa tegang. Situasinya sangat ekstrem dan pergeseran itu melampaui pemahamannya sampai membuat Ichigo tidak punya pilihan lain selain menutup mulutnya.

“... Ichigo-kun. Kami mempunyai banyak hal yang perlu dibicarakan, tapi bisakah kamu meluangkan kami waktu sebentar?” Pada saat itu, ayah Sakura mendesak Ichigo untuk meninggalkan ruangan.

“Eh ...”

“Kami memiliki sesuatu yang penting untuk didiskusikan antar keluarga. Aku minta maaf untuk bersikap seperti ini kepadamu yang merupakan tamu kami, tapi kami hanya perlu waktu sebentar saja.”

“......”

Auranya sangat mengintimidasi hingga membuat Ichigo mau tak mau bilang setuju dan diam-diam meninggalkan kursinya.

“Luna-san, apa kamu tidak apa-apa?” Dia berbisik kepada gadis di sebelahnya.

“Ah ... Ya, maaf. Seperti yang dibilang kakek, itu hanya akan memakan waktu beberapa saat.” Luna membalas dengan nada kaku.

Begitu diberitahu seperti itu, Ichigo tidak punya pilihan lain selain keluar dari ruangan. Ia meninggalkan kamar tatami. Ketika hendak pergi, Ia melihat sekilas ke arah wajah Luna, yang memiliki ekspresi sedih seolah-olah dia mengalami sesuatu yang menyakitkan.

 

※※※※※

 

“... Apa yang harus kulakukan ...” Setelah meninggalkan ruangan, Ichigo bingung.

... Pembicaraan keluarga yang penting, ya ...

Bagaimanapun juga, dirinya masih orang luar yang baru saja tiba di sini. Dirinya juga tidak bisa sembarangan berjalan di dalam rumah ini. Namun, Ia juga tidak bisa terus-terusan berdiri di lorong, dan bahkan jika itu keadaan yang memaksa, mana mungkin Ia akan menguping. Jadi Ichigo memutuskan untuk mencari dapur terlebih dahulu.

“Ara, Ichigo-kun.”

Ketika  menuju ke arah dapur, Ia bisa mendeteksi kehadiran orang yang bergerak. Ia mengintip ke dalam ruangan dan, seperti yang diharapkan, menemukan dapur, di mana ibu Sakura sedang menyiapkan teh.

“Aku sudah membuka cemilan yang kamu berikan padaku.”

“Ya terima kasih banyak.”

“Bagaimana dengan Otou-san dan Luna-chan?”

“Ah, sepertinya ada hal penting yang perlu mereka bicarakan, jadi aku memberikan waktu untuk mereka berdua.”

“Begitu ya ...” Guman Ibu Sakura seraya mengalihkan wajahnya ke bawah. Ekspresinya tampak berawan, dan Ichigo bisa melihatnya.

“... Biarkan aku ikut membantu juga.” Ucap Ichigo dan memasuki dapur. “Maafkan aku atas kunjungan hari ini. Aku mengambil keuntungan dari mudiknya Luna-san dan mendadak datang berkunjung ke sini.” Ichigo berkata ketika menempatkan teko yang dipenuhi dengan daun teh, cangkir teh, dan beberapa permen di atas nampan.

“Tidak, jangan khawatir, oke? Aku terkejut ketika pertama kali mendengarnya, tapi aku sangat senang ketika melihat Ichigo-kun lagi setelah sekian lama.” Ibu Sakura berkata dengan nada suara yang ceria saat menunggu air dalam panci listrik mendidih. “Lagipula, aku merasa sangat berterima kasih karena sudah mengantar Luna-chan kembali ke sini dengan aman.”

“Tidak, itu tidak benar…”

... Bagi orang tua Sakura, yang mengingatkannya pada kenangan saat itu, keberadaannya sendiri dianggap seperti apa? Apa dirinya menjadi kenangan yang menjijikkan? Atau seseorang yang tidak ingin mereka ingat?

Tidak ada cara untuk memastikannya. Ichigo penasaran apa mereka benar-benar merasa senang mengenai dirinya yang datang ke sini karena dia benar-benar ingin tahu tentang itu.

... tetapi menilai dari reaksi mereka terhadap kunjungannya hari ini, keberadaan Ichigo rupanya tidak mengganggu mereka.

“......”

Jadi, di dalam pikiran mereka, apakah ingatan tentang Sakura sebagian besar sudah memudar? Memikirkan kemungkinan tersebut membuat hatinya sedikit perih.

“Apa hubungan Luna-san dan Paman tidak rukun?” Mungkin itu adalah upaya yang tidak disadari untuk menyembunyikan rasa sakitnya, tetapi Ichigo mendapati dirinya segera bertanya.

“... Apa kamu sudah mendengar sesuatu dari gadis itu?” Setelah beberapa saat singkat, ibu Sakura balik bertanya.

“Yah ... Tidak, ini hanya sekedar dugaanku.”

“Tapi gadis itu memang menunjukkan beberapa tanda yang membuatmu berpikir begitu, bukan?” Pada saat itu, ibu Sakura tersenyum pada Ichigo. “Ichigo-kun, gadis itu mempercayaimu, iya ‘kan? Aku sedikit terkejut sekaligus senang tentang itu.”

“Ya…”

“Aku tidak menyangka kalau dia akan menunjukkan hatinya kepada seseorang seperti itu. Dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya kepadaku atau bahkan kepada teman-teman dekatnya.”

Kemudian, ibu Sakura membalikkan badan dan menghadap ke arah Ichigo. Suasana di sekitarnya seolah-olah dia memutuskan tentang sesuatu dan bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Kamu benar, sejujurnya, ayah dan Luna-chan sama sekali tidak akur. Luna-chan takut pada pria itu.”

“... Aku sudah mendengar sedikit tentang itu dari Luna-san.” Mendengar kebenaran itu, Ichigo juga melanjutkan untuk berbicara sambil berhati-hati dengan kata-katanya.

“Ketika suami Sakura meninggal dan Sakura kembali ke rumah, dia kembali dengan warisan yang sangat sedikit. Jadi Sakura dan Paman sering berdebat tentang itu ... karena perihal ini, Luna berpikir kalau keberadaannya tidak diterima ... Sesuatu seperti itu?”

“…Tepat sekali.”

Ichigo berpikir kalau dirinya sudah menyampaikan dengan hati-hati, tapi dia mungkin mengungkapkannya dengan begitu blak-blakan. Namun, menilai dari balasan Ibu Sakura, mungkin lebih baik sejelas mungkin. Ketika Ichigo bertanya kepadanya tentang hal itu, ibu Sakura tersenyum dengan ekspresi sedikit sedih.

“... Dia juga mengubah kepribadiannya.”

“Itu ...”

Ibu Sakura menoleh ke arah luar, seolah-olah dia mencari tempat yang jauh. Dan kemudian….

“Ichigo-kun, aku benar-benar minta maaf.”

“Eh ...”

“Karena situasi keluarga kami, Sakura menghilang dari kehidupanmu. Masalah itu selalu menghantui pikiranku sejak lama.”

“......”

Topik itu tiba-tiba menggoyahkan ketenangannya, dan jantung Ichigo mulai berdetak cepat. Dirinya berpikir kalau ini masih tentang Luna dan permasalahannya sendiri bisa dibahas lain waktu, tetapi sekarang, Ia benar-benar terkejut.

“Kamu mungkin tiddak mempercayainya ketika aku memberitahumu ini, dan kamu mungkin berpikir aku hanya berbicara omong kosong, tapi ... Orang itu juga, selalu menyesalinya karena sudah memaksa Sakura untuk menikah demi menyelamatkan keluarga kami.”

“Menyesali…”

Mengapa Ibu Sakura tiba-tiba membahas hal itu sekarang? Dirinya takkan pernah berpura-pura memiliki rasa keadilan. Dia tidak memiliki hak untuk merasa marah.

Dan mengapa bisa begitu? Karena Ichigo bisa merasakan kalau tidak ada kepalsuan dalam kata-katanya. Setidaknya, pria itu tidak dengan sukarela memilih untuk mengorbankan kehidupan putrinya. Bahkan jika disuruh memilih untuk melakukannya, itu mungkin akan menjadi keputusan yang sangat sulit sebagai pemilik bisnis dengan ratusan karyawan.

Namun. Ichigo menggigit bibirnya.

Namun, jika semua itu ditentukan sebagai kesalahan, maka sebagai akibat dari kesalahan tersebut, 'Luna yang lahir dari kesalahan itu'…

…. Kemudian, suara bernada tinggi bisa terdengar mereka.

“….eh?”

“Barusan, tadi itu ...”

Kedengarannya seolah-olah ada sesuatu yang retak. Suara itu datang dari ruang tatami di belakang. Ichigo memandangi ibu Sakura. Sedikit kecemasan melintas di wajahnya. Melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu, Ichigo mengencangkan ekspresinya.

“Ayo pergi.”

Setelah itu, Ibu Sakura dan Ichigo bergegas menuju kamar Tatami.

 

※※※※※

 

“Permisi, suara tadi itu baru saja….”

Ichigo tiba di depan kamar Tatami. Ketika membuka pintu geser, Ia menemukan Ayah Sakura dan Luna .…

“Luna-san!?”

Pandangan mata Ichigo melebar dengan tak percaya ketika melihat keadaan Luna di dalam ruangan. Dia terkapar di tikar tatami dan berbaring tak berdaya. Di sampingnya, ada vas bunga yang pecah. Ichigo dengan cepat membungkuk berlutut dan memeriksa keadaan Luna yang berbaring di sana.

“Uh ...”

Ketika Ichigo dengan lembut menyentuh bahu Luna, erangan yang berasal dari tenggorokannya terdengar. Rupanya dia masih sadar.

Merasa lega dengan keadaannya, Ichigo melihat sekeliling ruangan. Ayah Sakura berdiri diam, dan ibu Sakura memegang mulutnya dengan ekspresi terkejut. Kemudian, Ia melihat ada selembar kertas tipis di atas meja. Di bagian depannya tertulis, 'kartu laporan'. Itu adalah kartu laporan dari sekolah Luna, SMA Perempuan Himesuhara.

“…Apa yang sebenarnya terjadi?” Ichigo meminta penjelasan ayah Sakura.

Ia tetap dalam posisi berdiri, pandangannya diarahkan ke arah lain.

“Otou-san ...” Ibu Sakura juga memalingkan wajahnya yang cemas kepadanya.

“... Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya membicarakan tentang apa dia mengabaikan pelajarannya setelah kamu pergi.”  Akhirnya, ayah Sakura membuka mulutnya. Dia mengatakannya dengan sederhana, dingin, dan langsung ke intinya. “Aku memeriksa kartu laporannya. Nilainya memang tidak buruk, tetapi ada nilai yang turun di beberapa pelajaran, padahal dia selalu mempertahankan nilai tertinggi dalam semua mata pelajaran di sekolah SMP. Itu sebabnya ...” Beliau lalu melanjutkan “Aku memberitahunya kalau dia perlu keluar dari pekerjaan paruh waktuya yang sekarang.”

“......”

“Itu keputusan yang wajar. Tugas utama dari seorang pelajar adalah belajar. Pertama-tama, ini terlalu dini bagi anak kelas satu SMA untuk bekerja paruh waktu. Sebaliknya, jika dia terus bekerja di toko ketika mencoba menyeimbangkan keduanya dalam keadaan seperti itu pasti akan merepotkan Ichigo-kun juga. Adapun masalah biaya hidup, jumlah yang kami kirimkan harusnya mencukupi sama seperti sebelumnya ... itu saja.”

“Aku benar-benar senang bisa bekerja di toko ini.”

Ichigo masih bisa mengingat jelas senyum bahagia di wajah Luna ketika mengatakannya pada hari itu. Luna menyukai pekerjaan paruh waktunya saat ini. Dia tidak bisa melupakan Ichigo, terlepas dari rasa cintanya dan ingin mengejarnya serta membuatnya berpaling padanya, Luna merasa puas dan dengan senang hati bekerja pada pekerjaannya saat ini.

“... Jika nilainya turun, maka ...” Kata Ichigo ketika memegangi Luna dalam rangkulannya. “Aku memintanya untuk menyetujui bertanggung jawab pada posisi sibuk di toko. Memang benar dia datang bekerja selama berjam-jam sebelum liburan musim panas. Jadi, jika memang itu alasan kenapa nilainya bisa turun, maka itu berarti semuanya salahku.”

“......”

“Paman. Sebagai orang dewasa yang berada dalam posisi untuk mengawasi dan menjaga pertumbuhan seorang anak yang masih pelajar, perkataan paman memang ada benarnya. Tapi bukannya berarti paman bisa berbuat kasar padanya—”

“Kugiyama-san, bukan itu yang terjadi ...” Lalu tiba-tiba terdengar suara dari arah dekat lengan Ichigo. Luna perlahan mengangkat dirinya. “Aku baru saja ... tersandung.”

“Luna-san ...”

“Aku merasa sakit dan pusing, saat aku terjatuh, vasnya juga tak sengaja ikutan jatuh ... Kakek tidak melakukan apa-apa.”

“......”

Meskipun keadaan Luna baik-baik saja, fakta bahwa kesadarannya secara abnormal terpengaruhi berkat kehadirannya, itu berarti kata-kata dan sikapnya telah mempengaruhi mentalitasnya. Ichigo juga mempelajari tentang masalah kesehatan mental dalam pelatihan kerja khusus manajer. Mana mungkin dirinya mengabaikan situasi ini.

“Luna-san, apa kamu bisa berdiri?” Ichigo perlahan-lahan melepas tangannya dari tubuh Luna saat memerksanya. Dia kemudian tersenyum meyakinkan ketika  yakin dia bisa menopang badannya  sendiri. Dia berdiri dan melangkah di depan ayah Sakura.

“... Ichigo-kun, ini masalah dalam keluarga kami.” Ayah Sakura berkata kepada Ichigo. Suara dan ekspresinya tampak garang, bukan ekspresi lembut yang Ia tunjukkan kepada Ichigo sebelumnya. “Aku minta maaf untuk mengatakan ini, tetapi kamu hanyalah orang luar. Jadi, bisa tidak jangan mencampuri urusan keluargaku?”

“Paman ...” Ichigo menanggapi langsung pernyataannya. “Benar sekali. Aku mungkin tidak berada dalam posisi untuk ikut campur dalam urusan keluarga Anda.”

“…Jika begitu…”

“Atau itulah yang ingin kukatakan, tapi sayangnya, paman dan keluarga paman sudah menghancurkan hidupku, jadi aku bukanlah orang yang tidak berhubungan dengan masalah ini.”

Mendengar ocehan kasar Ichigo, ayah Sakura melebarkan matanya dengan kaget. Jika persis seperti yang dikatakan ibu Sakura, jika pria di hadapan Ichigo ini adalah tipe orang yang serius dan bertanggung jawab, serta jika Ia menyesali perbuatannya pada hari itu, maka tentu saja Ia tidak bisa mengabaikan perkataan Ichigo.

“Izinkan aku berbicara langsung ke intinya. Kedatanganku hari ini karena aku ingin berbicara dengan paman.” Secara gambling dan blak-blakan, Ichigo terus melanjutkan “Aku ingin membicarakan tentang Sakura.”

 

※※※※※

 

Untuk saat ini, Ichigo meminta ibu Sakura dan Luna untuk meninggalkan ruangan sehingga Ia bisa melakukan percakapan empat mata dengan ayah Sakura.

“Kugiyama-san ...” Ketika Luna berjalan keluar dari ruangan sambil ditemani neneknya, dia menatap Ichigo ketika mereka saling berpapasan. Ekspresi di matanya menampilkan kecemasan sekaligus kebingungan. Itu adalah ekspresi yang sama pernah dia tunjukkan ketika Ichigo menemukannya di pegunungan sebelumnya.

Demi menennangkannya, Ichigo berkata, “Jangan khawatir,” dan memandangi mereka keluar dari ruangan. Saat ini, hanya ada Ichigo dan Ayah Sakura saja yang ada di dalam ruangan.

“Sudah lama aku tidak bertemu paman dalam lima belas tahun, tapi paman tidak berubah sama sekali.”

“......”

Tak satu pun dari mereka yang mau duduk. Sambil berdiri, mereka bertukar kata-kata dan hanya melakukan apa yang diperlukan.

“Pada satu titik, ketika aku pertama kali bertemu dengan paman, paman masih terlihat sama persis seperti dulu. Pria yang baik dan lembut layaknya sosok ayah ddeal yang selalu aku bayangkan.”

“... Ideal, ya?”

Berulang kali, ayah Sakura tersenyum sinis. Seolah-olah ingin mengatakan, 'Memangnya kamu tahu apa, hah ...?'

“Itu sebabnya aku merasa tidak nyaman dengan cara paman memperlakukan Luna-san.” Ichigo dengan jujur ​​menyampaikan pendapatnya sendiri kepada pria tersebut. “Seolah-olah Anda memalsukan diri sejati Anda, membuat diri Anda tampak kasar dan menakutkan. Tidak, seolah-olah Anda mencoba memaksakan diri untuk berubah.”

“... Ichigo-kun.” Kemudian, ayah Sakura mengajukan pertanyaan Ichigo. “... Apa aku terlihat seperti sedang mengabaikan gadis itu?”

“Ya, tergantung pada dari sudut pandang mana anda melihatnya.”

“Tapi itu sebabnya aku berpkir kalau anda tidak serius.” Ichigo melanjutkan.

“Aku bisa merasakan kalau kekerasan paman terhadap Luna bukan karena anda tidak menyukainya, atau menganggapnya sebagai gangguan.”

Seorang putri yang pulang dengan membawa sebagian kecil dari warisannya yang sangat besar, dan cucu yang ditinggalkannya. Dia perlu dicintai, dia perlu diterima. Ketika Ia bertanya pada Luna apa yang ada di benaknya sebelumnya, Luna sepertinya berpikir bahwa dia harus bertindak seperti dirinya.

“Tapi ketika aku melihat anda hari ini, kupikir persepsi itu salah. Sebaliknya, Anda terlihat kikuk, tetapi masih berusaha merawatnya ... Aku merasa seperti Anda tidak tahu bagaimana memperlakukannya dengan benar. Anda kesulitan untuk menggambarkannya dengan kata-kata.”

“... Ucapanmu tampak kondradiktif.”

Ichigo terkekeh pada pernyataan ayah Sakura yang masuk akal.

“Bisa saja memiliki dua perasaan kontradiktif pada saat yang sama.”

Dua emosi yang bertentangan. Ada kalanya Ichigo berada dalam keadaan seperti itu sehingga Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Meski Ia sudah menolak Luna dan memberitahunya akan lebih baik jika mereka tidak pernah bertemu lagi, tapi Ia masih berusaha mencarinya. Peristiwa ini pun adalah kasus yang sama.

“Anda menyesal karena sudah mengacaukan kehidupan Sakura 15 tahun yang lalu. Dan sekarang Luna-san ada di sini, Anda juga merasa bersalah atas hal itu.”

“... Ichigo-kun.” Kemudian, ayah Sakura membuka mulutnya. Suaranya terdengar bergetar. “Semua yang kamu katakan itu benar adanya.”

Seolah-olah Ia bertobat.

“Kamu benar-benar bisa mengetahuinya sejauh itu, huh? Sifatku yang menyedihkan tampaknya terpampang jelas di matamu.”

“......”

“Ketika aku mendengar kalau kamu akan datang bersama Luna hari ini, aku terkejut, tapi pada saat yang sama, aku merasa pasrah dan siap kalau waktunya sudah tiba.”

“Itu ...” Ichigo menghentikan kata-katanya di sana. Itu karena ayah Sakura berbalik dan menatapnya.

“Maaf, tapi sekarang, aku akan memberimu rengekan terburukku.”

“…Ya.” Ichigo bertekad untuk menerima semua kata-katanya dan ekspresinya yang kesakitan.

“Aku menyesali tentang apa yang sudah kulakukan di masa lalu, mengenai aku yang memaksa Sakura ke dalam pertunangan yang tidak diinginkan karena kesalahanku. Ketika Sakura pulang ke rumah ini, mau tak mau aku merasa seolah-olah aku dihadapkan dengan kesalahan masa laluku. Aku tidak bisa menghadapi Sakura. Itu sebabnya aku memperlakukan Sakura dengan sangat buruk.”

“......”

“Sekarang dia sudah pergi dari dunia ini juga, rasa bersalah membanjiriku, dan aku dipenuhi dengan penyesalan. Namun, jika aku menyebut kalau pertunangan Sakura adalah kesalahan, itu berarti sama saja dengan aku menyangkal Luna yang lahir dari kesalahan tersebut ... Itu sebabnya aku tidak bisa menyebutnya kesalahan. Karena itu berarti menolak keberadaan gadis itu. Itu sebabnya ... Aku bahkan tidak berani menghadapi Luna lagi.”

“......”

“Jika seseorang menuduhnya sesuatu, dia tidak bisa membantah kembali, dan jika seseorang mengoreksi kesalahannya, dia tidak punya alasan, jadi aku tidak punya pilihan selain menjadi keras dan galak, untuk membuatnya takut ... Kami tidak punya pilihan selain untuk menutupi perasaan kita satu sama lain seperti itu.”

Itu adalah serangkaian kutukan yang telah mengikatnya selama lima belas tahun terakhir.

“... Jika kamu, Luna, dan Sakura membenciku, tidak apa-apa. Tidak masalah. Kamu bisa membenciku sepuasmu. Aku tidak kompeten dan tidak dapat diandalkan, dan aku tidak mungkin dimaafkan karena seperti ini ...”

“…Aku mengerti.”

Ketika ayah Sakura selesai memuntahkan kecaman seperti itu, Ichigo ... merasa lega. Ia merasa senang karena beliau masih sama seperti dulu.

“Terima kasih. Karena sudah bersedia membicarakan apa yang paman pikirkan.”

“Tapi ...” lanjut Ichigo. Ia menemukan apa yang perlu dilakukan dan apa yang seharusnya Ia lakukan. “Izinkan aku meluruskan satu kesalahpahaman yang ada dalam ucapan paman.”

“…Salah paham?”

“Kesalahpahaman kalau semua orang membenci Anda.”

Ichigo membuka pintu geser dan meninggalkan ruangan. Ia kemudian pergi ke dapur, di mana Luna baru saja dikawal oleh ibu Sakura untuk menerima perawatan.

“Luna-san, apa kamu baik-baik saja?”

“…Ya.”

Dia merasa jauh lebih tenang sekarang. Ichigo berjongkok dan melakukan kontak mata dengannya saat dia duduk di kursi.

“Luna-san, biarkan aku bertanya sesuatu padamu. Apa kamu membenci kakekmu? Karena sudah membuatmu melalui pengalaman yang menakutkan.”

Mungkin itu tidak baik untuk kesehatan mentalnya, tapi Ichigo langsung mengajukan pertanyaan seperti itu. Tetapi saat ini, itu adalah sesuatu yang benar-benar perlu dikonfirmasi ulang.

Luna sejenak melebarkan matanya terkejut, tetapi menjatuhkan tatapannya dengan takut-takut ketika Ichigo berkata, “Tidak apa-apa,” dan meremas tangannya.

“... Itu ...”

Ketika ditanya apakah dia takut padanya, Luna takkan bisa mengatakan tidak. Dan itu tidak apa-apa. Salah jadinya jika dia mencoba bertindak seperti gadis yang baik dalam situasi ini.

“Paman, Tante, dan Luna-san juga.”

Ichigo pun berdiri. Pada saat itu, bersama Luna di depannya, ibu Sakura berdiri di belakangnya, dan ayah Sakura menunggu di luar dapur, Ichigo lalu mengajak mereka semua….

"Ada tempat yang ingin aku kunjungi, jika kalian tidak keberatan, apa kalian bersedia ikut denganku sebentar?”

 

※※※※※

 

'Ada tempat yang ingin aku kunjungi'

Segera setelah mengatakan itu, Ichigo menempatkan semua orang di dalam mobil dan pergi. Lebih dari sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di….

“Ini…”

“Mungkin Paman dan Tante tidak tahu mengenai hal ini, tapi ... musim panas sebelum Sakura menghilang, dia dan aku pergi untuk melihat laut bersama.”

Tujuannya adalah pantai. Laut terlihat dari puncak gunung kecil di mana rumah orang tua Sakura berada, jadi Ia tahu kalay ada pantai berada di dekatnya. Mengikuti sistem navigasi mobil, mereka mengunjungi pantai yang terdekat. Itu adalah pantai spi dengan beberapa penduduk setempat yang berjalan-jalan. Pemandangan ini mengingatkan Ichigo pada lautan musim panas itu.

“Tidak ... Aku mengingatnya.”

Hembusan angin laut yang kuat menerpa di sepanjang pantai. Ibu Sakura dan Luna memegang rambut panjang mereka sementara ayah Sakura berdiri di sana dengan acuh tak acuh, mendengarkan kisah Ichigo.

“Ketika Sakura pergi bersamamu untuk melihat lautan ... itu lebih dari sepuluh tahun yang lalu, tepat di sekitar tahun ini?” Kata ayah Sakura, ekspresinya agak suram.

Ichigo memandang sekilas ke arahnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah laut.

“Di pantai itu, aku berbicara dengan Sakura. Kami membicarakan impian kamu di masa depan.”

“... mimpi, ya? Aku—”

“Paman, tolong dengarkan dulu sampai aku selesai.”

Ayah Sakura mungkin berpikir bahwa dia telah menghancurkan masa depan Sakura, bahwa Ia telah menghancurkan mimpi putrinya dan semua yang dia inginkan. Namun, apa yang ingin disampaikan Ichigo berbeda.

“Pada hari itu, Sakura mengatakan kepadaku kalau di masa depan, dia ingin bekerja dalam bisnis keluarga dan membantu ayah serta keluarganya dengan pekerjaan mereka.”

Begitu mendengar ucapan Ichigo, tatapan mata ayah Sakura melebar.

Ya, Ichigo mengingatnya. Itu adalah percakapan terakhir mereka di musim panas itu.

Matahari mulai terbenam dan waktu yang dijadwalkan untuk pulang semakin mendekat. Ichigo berdiri dari pasir dan mulai berjalan pergi, mengatakan bahwa sudah waktunya untuk pergi — tapi pada saat itu….

“Ichi, kamu tahu, aku ...” Sakura mulai berbicara kepada Ichigo yang bergerak di depannya. “Aku sedang berpikir untuk mengambil alih bisnis keluarga di masa depannanri. Aku ingin mengalami banyak hal, mendapatkan pengetahuan, dan jika mungkin, membantu ibu dan ayahku dalam bisnis keluarga.”

Itulah yang dia katakan.

Ichigo kemudian melihat ke belakang. Ayah dan Ibu Sakura pasti belum pernah mendengar ini sebelumnya. Ya, ini adalah mimpi yang cuma dikatakan Sakura kepada Ichigo.

“Jika paman bertanya kepadaku apa Sakura memiliki penyesalan atau tidak ... Aku akan mengatakan bahwa dia tidak mempunyai penyesalan sedikit pun. Dia adalah orang yang mampu membayangkan cita-cita seperti itu ketika berada di kelas 3 SMP. Aku pikir alasan dia kembali ke sini setelah suaminya meninggal karena dia mengkhawatirkan keadaa kalian dan ingin membantu paman.”

“... Jadi itu terjadi, ya?”

Ichigo mengangguk pada ayah Sakura, yang suaranya sedikit serak.

“Ichigo-kun ... jadi kamu selalu mengingat saat itu sepanjang waktu?” Ibu Sakura bertanya dengan ekspresi yang agak bahagia sekaligus sedih di wajahnya.

“Ya ... tapi tidak persis 'sepanjang waktu'.” Balas Ichigo, tatapannya sedikit menunduk. “Aku baru mengingatnya belakangan ini. Aku sudah mengubur kenangan yang menyakitkan dan berusaha melupakannya. Tapi ketika aku bertemu dengannya, aku jadi mengingatnya.”

Kemudian Ichigo memandang Luna. Ayah Sakura juga berbalik untuk menatapnya.

“Luna ...”

“Sejak aku pertama kali bertemu dengannya, aku selalu merasakan jejak Sakura dalam dirinya. Kehadiran Luna-san membawa kembali kenangan yang sudah aku coba lupakan dan itu membuat kehadiran Sakura menjadi lebih kuat dalam diriku ... tetapi ternyata, itu tidak semuanya buruk. Dengan cara ini, aku bisa menyampaikan pikirannya kepada kalian.”

“......”

“Dan mimpi yang Sakura harapkan pada waktu itu ... Dia bilang kalau dirinya ingin mengalami segala macam hal ketika dia bisa bekerja.” Ichigo memandang Luna dengan lembut. “Kamu memiliki mimpi yang sama sekarang, Luna-san.”

Luna terkesiap dan dia erat-erat menekankan bibirnya. Dia menyadari bahwa Ichigo berusaha memberi tahu kakeknya tentang perasaan sejati Luna, tentang apa yang sebenarnya ingin dia lakukan.

“Bisakah kamu membantunya dengan mimpinya? Aku juga akan membantunya dengan segala kemampuanku. Tolong.”

“... Luna.” Setelah mendengarkan kata-kata Ichigo, ayah Sakura menoleh ke belakang di Luna. “Kakek…”

Mungkin ayah Sakura tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan benar. Ia menganggap dirinya sebagai seseorang yang harus terpinggirkan, seseorang yang harus dibenci, dan dicemooh. Alasan mengapa Ia begitu galak pada Sakura dan Luna ialah itulah cara yang bertele-tele, terlalu canggung dan tindakan menyakitkan diri.

“…Kakek minta maaf.”

Masa lalu tidak dapat diubah. Seseorang tidak bisa hanya mengakui bahwa kesalahan adalah kesalahan atau menyangkal kalau itu bukanlah kesalahan. Ia memiliki kontradiksi dalam hidupnya.

Namun ... Luna juga, hidup dengan emosi yang saling bertentangan. Dia ingin bersama Ichigo, walaupun tahu kalau dia seharusnya tidak boleh—

“Kakek, tolong jangan meminta maaf.” Luna meraih tangan kakeknya. Dia cukup pintar untuk memahami perasaannya. “Sama seperti yang Kugiyama-san katakan, aku yakin kalau ibu tidak membenci atau marah terhadap Kakek. Itu sebabnya, jangan khawatir tentang itu.”

…Tepat sekali.

Ketika Ichigo pertama kali bertemu ayah dan ibu Sakura hari ini, Ia dapat melakukan percakapan normal dengan mereka. Rasanya seperti kelanjutan dari apa yang terjadi 15 tahun yang lalu, tetapi tanpa penyesalan untuk Sakura. Ichigo tidak menyimpan dendam terhadap mereka juga. Terlebih lagi setelah mengetahui kebenaran kalau beliau menderita selama 15 tahun terakhir.

Luna lalu berusaha menyampaikan,

“Tidak ada siapapun yang membenci kakek. Kakek hanya harus mempercayaiku tentang itu.”

Ayah Sakura menggigit bibirnya dengan erat. Dan di bahunya, ibu Sakura dengan lembut meletakkan tangannya dari belakang.

“... mulai sekarang, bisakah kita memulai kembali, sebagai keluarga?"

“Ya.” Luna tersenyum, dan senyumnya yang tampak malaikat seperti itu, ditujukan pada kakeknya.

 

 

※※※※※

 

 

Dengan peristiwa itu, hubungan rumit antara Luna dan kakeknya telah tiada.

Tidak, rasanya terlalu berlebihan untuk menyebutnya berbaikan. Mereka hanya berbicara satu sama lain, cuma itu saja. Tentang Sakura, tentang Luna, dan tentang ayah Sakura. Hanya itu saja, tapi itulah faktor yang paling penting.

'Tidak tahu' sering memiliki dampak psikologis negatif. Dan 'tahu', atas apa nilainya, memiliki efek mengurangi beban psikologis, terlepas dari alasan atau konsistensi. Seringkali merasa lega. Bagaimanapun juga, begitu masalah ini diselesaikan, rasanya mungkin terlihat seperti bukan masalah besar.

Kutukan lima belas tahun telah diangkat hanya dalam beberapa jam komunikasi. Itu adalah kisah sepele dan klise. Namun, butuh banyak keajaiban yang harus terjadi untuk menyelesaikan perkara ini.

Jika Ichigo tidak bertemu Luna, jika Luna tidak membiarkannya masuk ke dalam hatinya dan tahu tentang ayah dan ibu Sakura, jika Ichigo tidak mengingat kenangannya tentang Sakura ... bisa dibilang kalau kutukan itu diangkat karena semua pertemuan itu dan semua masa lalu telah berkumpul. Meski di atas segalanya, hal itu berkat kontribusi Ichigo yang membawa mereka ke titik ini.

“Luna, kamu harus pulang dengan Ichigo-kun.” Di depan rumah keluarga Ito, ketika mereka baru saja kembali dari pantai dan keluar dari mobil, ayah Sakura mengatakan ini kepada Luna dan Ichigo.

“Eh ...” Awalnya, Ichiho akan pulang dulu hari ini, dan Luna akan menginap beberapa malam.

“Kurasa Luna akan lebih baik tinggal bersamamu sekarang.” Ayah Sakura mengatakan ini dengan ekspresi cerah. Itu adalah ekspresi dermawan, baik, dan tulus yang pernah beliau tunjukkan dan sama seperti 15 tahun yang lalu. Ibu Sakura juga menyetujui perkataannya dengan berkata, “Benar.”

“Ichigo-kun, aku sangat menyesali atas apa yang sudah kulakukan padamu.” Ayah Sakura menundukkan kepalanya secara mendalam. “Dan hari ini, aku berhutang budi padamu. Selain itu, jika aku boleh mengatakan ini, aku ingin kamu berada di samping Luna dan teris mendukungnya.”

“Kakek ...” Begitu mendengar perkataannya, Luna memerah dengan malu.

“Aku merasa tenang jika dia berada di dekatmu. Terelbih lagi, ketika aku melihatmu dan Luna sekarang, aku merasa sperti kalau kamu sedekat dengan Sakura seperti pada saat itu. Hal itu membuatku tersenyum.”

“Sungguh, sejak gadis ini adalah putrinya, mungkin dia dan Ichigo-kun adalah pasangan yangserasi.”

Ketika ayah dan ibu Sakura mengatakan sesuatu yang menguntungkan, Luna tersenyum, dan pipinya memerah, seolah-olah dia merasa puas

... Eh, hmm?

Sedangkan di sisi lain, Ichigo berkeringat dingin. Suasana yang tak terlukiskan dan ramah ini diarahkan dari kerabat Luna, apa itu hanya imajinasinya? Atau mungkin memang dimaksudkan begitu?

... Tidak, aku saja yang terlalu kepedean ... mungkin ...

 

※※※※※

 

“Ah, Ichi, tempatnya ada di depan sana.”

Dengan demikian, Ichigo dan Luna pulang lebih cepat atas perintah orang tua Sakura. Namun, ada sesuatu yang harus mereka lakukan sebelum pulang. Ichigo berbicara dengan orang tua Sakura dan mendapat persetujuan mereka. Untuk mencapai tujuannya, Ichigo pergi ke tempat tertentu, dipandu oleh Luna. Dan tempat itu adalah….

“…Di sini?”

Komplek pemakaman yang dibangun di sekitar sisi lain gunung, hjaraknya agak jauh dari rumah orang tua Luna, ada makam yang diukir dalam marmer hitam yang menjulang dengan nama keluarga Ito di atasnya.

“Mereka memindahkan kuburan keluarga Ito ketika mereka pindahan ke daerah yang sekarang.”

“Begitu ... Tapi tentu saja, tempat ini memiliki pemandangan dan tenang, jadi seseorang bisa beristirahat dengan tenang.”

Dan sekarang, di bawah kuburan ini, Sakura juga tengah tertidur lelap. Sekali lagi, Ichigo dipaksa untuk menghadapi kenyataan itu.

“… Begitu ya.”

Melihat namanya terukir di sisi batu nisan, Ichigo mengerti bahwa ... Sakura benar-benar sudah tiada.

“......”

Ia menyalakan dupa yang sudah disiapkan dan menempatkannya ke dalam pedupaan. Ichigo menyatukan tangannya, menutup matanya, dan berdoa dengan pikiran kosong. Namun, secara alami dan tak terelekkan, ada banyak ingatan mengenai Sakura yang kembali muncul di dalam pikirannya.

Ichigo mengingat ketika berjalan bersamanya di sepanjang jalan menuju sekolah, di mana kelopak bunga sakura berterbangan. Kenangan bermain gim dan bersenang-senang bersama di rumahnya. Kenangan pergi jalan-jalan bersama, mengunjungi kolam renang, taman, festival musim panas, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat lainnya. Di setiap adegan tersebut, di setiap ingatan yang semakin menumpuk dan sepele, ada senyum Sakura yang mempesona.

Dan kemudian ketika musim panas di pantai. Pada hari di mana mereka berbicara tentang masa depan mereka, yang mana Ia coba tutupi untuk menghindari mengingatnya, Sakura memberi tahu Ichigo tentang mimpinya dalam perjalanan pulang. Setelah mengatakan kalau dia ingin membantu bisnis keluarganya, Sakura lalu menambahkan…..

‘Aku akan merasa sangat senang jika mungkin ... Ichi bisa berada di sampingku juga ... '

Ya, benar sekali. Pada akhirnya, Sakura memberitahunya hal itu.

Awalnya, Ichigo tidak benar-benar memahaminya pada saat itu. Dirinya hanya berpikir kalau Sakura bermaksud akan menyenangkan untuk bisa bekerja bersama-sama. Jadi mungkin, mungkin saja, perasaannya terhadap Ichigo….

“Ichi?”

“Ah…”

Butiran air mata tumpah ruah dari sudut matanya. Mereka mengalir tak terbendung secara menyedihkan. Luna yang ada di sebelahnya, tampak khawatir.

“Aku baik-baik saja.”

Tidak, hentikan. Sekarang bukan waktunya.

Ichigo mati-matian berusaha menahan diri. Namun…

Air matanya tidak berhenti mengalir.

Bayangan Sakura yang muncul di benaknya. Kenangan indah dari adegan yang tak terlupakan di pantai, disertai dengan kebahagiaan yang Ia rasakan pada saat itu, tidak bisa pergi dengan mudah.

Namun, ingatan yang dipenuhi cahaya seperti itu tidak bisa lagi diperoleh kembali atau diperbarui. Fakta tersebut menggerus hatinya. Tanpa Ia sadari, dirinya sudah menangis tersedu-sedu. Meski Ichigo bilang kalau Ia baik-baik saja, Ia tidak bisa menghentikan air matanya. Mengeluarkan suara isak tangis kecil,  Ichigo menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan meratapi kematian mantan cinta pertamanya.

“Ichi ...” Pada saat itu, Ichigo merasakan sentuhan lembut yang menyelimutinya. Tangan ramping Luna mendekap bahu Ichigo saat dia memeluknya. Secara diam-diam dan tanpa sepatah kata pun, Luna hanya ingin menghibur untuk menenangkannya.

Untuk sementara, mereka terus dalam posisi itu dan melewati waktu bersama. Pada akhirnya…..

“…Terima kasih.” Ichigo, yang  mulai sedikit tenang dan berhenti menangis, menyeka wajahnya dengan mansetnya dan berkata kepada Luna.

“Ichi, apa kamu baik-baik saja?” Luna bertanya dengan penuh perhatian saat menjauhkan badannya. Guncangan psikologis yang diterima Ichigo sangatlah tak terukur. Dan dia memahami itu juga.

“Ya, aku sudah baik-baik saja sekarang.” Ichigo menjawab dengan wajah tenang supaya tidak membuat Luna cemas.

“... Kamu tahu, ada banyak alasan mengapa aku meminta Ichi untuk datang ke sini bersamaku hari ini.” Di sana, Luna berbicara dalam benaknya. “Aku tidak punya keberanian untuk melihat Kakek. Aku sangat takut ... Itu sebabnya, aku ingin kamu berada di sana untukku. Aku tahu itu menyedihkan, tetapi itulah yang kurasakan.”

"Ya, tidak apa-apa."

Kamu masih anak-anak. Tidak ada salahnya untuk mengandalkan orang dewasa, pikir Ichigo.

“Dan juga…”

Luna kemudian melanjutkan sambil mengarahkan pandangannya ke bawah,

“Kupikir, Ichi mungkin ingin melihat Ibu.”

“......”

“Aneh sekali, bukan? Di malam aku melakukan 'itu', aku benci ketika mengetahui kalau Ichi menempatkan bayangan Ibu padaku ... tetapi jika Ichi ingin melihat ibu, Aku berpikir kalau kamu harus bertemu dengannya.”

Dua emosi yang saling bertentangan. Terkadang kita merasakannya pada saat yang sama. Tetapi seseorang selaly dapat memilih satu emosi daripada yang lainnya.

Jika ini yang dia pilih dari dua emosi yang dicampur di dalam dirinya pada saat itu, itu tidak terlalu berlebihan jika pilihan Luna sudah menyelamatkan Ichigo.

“Terima kasih. Aku merasa bersyukur bisa berada di sini, dan aku senang kamu membuat keputusan itu.”

“Ya, aku sangat senang.” Luna mengangkat kepalanya dan memandang Ichigo. Tatapan matanya, yang tampak seperti perhiasan dengan sedikit hijau di belakang kegelapan, memandang Ichigo. Matanya juga terlihat lembab.

“Aku yakin Ibu juga merasa sangat senang karena bertemu dengan pria luar biasa yang terus memikirkannya di hatinya.”

Ekspresinya penuh rasa terima kasih dan kasih sayang dari lubuk hatinya.

“Aku pikir Ibu pasti merasa senang karena kamu adalah cinta pertamanya.”

“......”

Cinta pertamanya ... Lalu, itu sama denganku, pikir Ichigo ketika mendongak untuk menatap langit yang memancarkan gradasi oranye dan biru.

 

※※※※※

 

Setelah itu, Ichigo dan Luna sekali lagi masuk ke mobil dan pulang. Waktunya sudah sore menjelang malam ketika mereka meninggalkan prefektur tersebut, dan ketika mobil yang mereka tumpangi melaju di sepanjang jalan raya, tirai gelap yang menandakan malam hari menyelubungi langit.

“Ah, benar juga! Di depan sana, ada rest-area itu.” Di tengah perjalanan mereka, Luna tiba-tiba berteriak.

“Di depan sana ... Ah, rest-area yang ernah aku singgahi pada perjalanan bisnis tempo hari, ya.” Ichigo melihat sistem navigasi pada permintaan Luna, dan memperhatikan nama rest-area pada layar.

“Sudah waktunya untuk istirahat, jadi ayo mampir ke sana. Mari kita cicipi es krim bunga matahari!”

“Astaga, yang benar saja.”

Jadi, menanggapi desakan Luna, Ichigo mengarahkan mobilnya ke rest-area. Beberapa hari yang lalu, Ia mendatangi rest-area ini dengan Wakana, dan hari ini, Ia datang bersama Luna. Ichigo sedikit kaget saat berpikir kalau janji yang dibuatnya pada hari itu akan menjadi kenyataan begitu cepat.

“Ini dia, es krim bunga mataharinya.” Kemudian, Luna dengan cepat membeli es krim dan kembali ke mobil. Karena mereka tidak bisa keluar dengan mereka berdua di tempat umum, Ichigo memintanya untuk pergi sendiri. Toppingnya mungkin terlihat seperti biji bunga matahari, tapi Luna bilang kalau itu hanyalah kacang almond berlapis cokelat.

“Di sini, ahh!” Di dalam mobil, Luna menawarkan sesendok es krim.

“Ya, aku akan mengambil seluruh sendok.”

“Eh, kamu bisa saja mengambilnya.”

Ia mengambil sendok dari Luna dan memakan es krim.

“... Ya, ini memang cokelat almond. Dan rasanya cukup enak.”

“Iya ‘kan! Aku belum pernah mencobanya dan aku menyukainya!” Luna berseru ketika dengan senang hati membawa es krim ke mulutnya.

... Moodnya yang suram selama setengah hari tadi tampak seperti kebohongan, pikir Ichigo ketika memandangnya.

Nah, mengingat salah satu masalah yang terus menghantui pikirannya telah tuntas, tidak mengherankan kalau dia merasa lebih bersemangat.

“Nee ~ Ichi.” Kemudian, Luna menunjukkan jendela dari kursi penumpang. “Mumpung kita di sini, ayo pergi melihat observatorium.”

“Observatorium?”

“Ya, kamu pernah bilang kalau pemandangan malam di sana itu indah, bukan?”

“Hmm…”

Ichigo melihat ke arah observatorium dari mobil. Mungkin karena sudah larut malam, atau mungkin waktunya saja yang pas, hampir tidak ada banyak orang yang datang di rest-area.

“Jangan khawatir. Ketika aku pergi membeli es krim tadi, aku melihat sekeliling, tetapi tidak ada orang selain kita berdua.”

Itu adalah langkah cerdik di pihaknya untuk melakukan pengintaian.

“... Yah, kalau cuma sebentar.”

“Horee!”

Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju ke observatorium. Dari sana, Ichigo dapat melihat pemandangan malam yang sama seperti yang Ia lihat dengan Wakana kemarin.

“Wah ~ menakjubkan sekali!” Luna terkagum-kagum saat melihat pemandangan yang luar biasa. “Apa itu?”

“Itu lampu pabrik.”

"Entah bagaimana, rasanya agak keren. Ah! Ada taman hiburan di sana!” Gondola bianglala menyala. Luna memalingkan kepalanya kepada Ichigo sembari menunjuka kea rah sana. Pipinya sedikit memerah, menunjukkan kegembiraannya. “Suatu hari, mari kita pergi ke taman hiburan bersama.”

“......”

Ketimbang kecewa, dia sepertinya dalam suasana hati yang gembira. Melihat bahwa suasananya berada di ambang luar kendali, Ichigo menegurnya, “Kita tidak bisa.”

Bibir Luna cemberut “Ehh~~” tetapi ekspresinya yang cemberut tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaksenangan sama sekali.

Setelah menghabiskan waktu yang menyenangkan seperti ini, waktu sudah memasuki larut malam. Mobil Ichigo akhirnya tiba di depan apartemen Luna.

“Kalau begitu, terima kasih banyak untuk hari ini, Ichi.”

“Ya, Sampai jumpa.”

Di depan kamar Luna, mereka mengucapkan selamat tinggal.

“Sampai jumpa besok.” Ichigo berbalik pada Luna dan berusaha pergi. Saat itulah Ia merasa kalau dirinya dipeluk dengan erat dari belakang. Hati Ichigo hampir berhenti pada sentuhan lembut yang menyelimuti punggungnya.

“Terima kasih banyak, Ichi ...” Suara yang manis, seolah meluap dari lubuk hatinya, terdengar telinganya. Dia membisikkan kata-kata terima kasih.

Dan kemudian-

“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, Ichi.”

Kata-kata cinta dengan semua perasaan yang bisa dia kerahkan.

“Hari ini, ketika aku melihat Ichi menangis memikirkan Ibu ... kupikir kamu adalah orang luar biasa yang selalu mengabdikan diri pada orang yang kamu cintai ... Aku merasa seperti kalau cintaku semakin tumbuh—”

Perasaan hangat meninggalkan punggungnya.

“Memang ada banyak kesulitan, tapi aku benar-benar senang bahwa orang yang jatuh cinta, cinta pertamaku, adalah kamu.”

Ichigo berbalik dengan panik. Meski Ia membalik kepalanya, Ia bisa tetap kaku ketika Luna tertawa, “Ehehe~” dan menutup pintu.

Ichigo buru-buru menyembunyikan wajahnya yang memerah, seolah-olah menyembunyikan rasa malunya.

“... Jangan melongo terus, ya ampun.”

Jantungnya benar-benar hampir copot.

Bagaimana jika seseorang melihat kita, pikir Ichigo seperti biasa.

Tapi.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, dan Ichigo tidak merasa buruk. Wajahnya tidak tumpang tindih oleh wajah Sakura juga. Itu hanya kepuasan murni karena dirinya bisa membantu Luna ... dan ketika gadis itu berkata 'Aku mencintaimu',  membuatnya sangat bahagia.

 

 

Sebelumnya || Daftar isi || Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama