Mea-san, Kocchi Muiteyo! Chapter 06 Bahasa Indonesia

Chapter 6 — Mea-san, Jangan-Jangan Kamu...

 

Sehari setelah upacara masuk, ada liburan akhir pekan.

Kegiatan belajar mengajar secara resmi baru bisa dimulai pada hari Senin setelah akhir pekan, jadi itu hanya periode persiapan untuk itu.

Tapi sejujurnya, aku tidak terlalu peduli dengan itu.

“Mea-san. Aku akan bertanya lagi padamu, mengenai kejadian yang kemarin ... “

“Itu rahasia.”

“Tidak, meski kamu bilang rahasia ... Tapi, kamu bahkan merahasiakannya dariku?”

“Ya, itu rahasia.”

... .Yeeah. Sudah sepanjang hari dia menanggapinya begitu, dan Sabtu sore ...

Mea-san terus bertingkah seperti ini sejak kemarin dan dia tidak pergi ke mana pun.

Tak peduli berapa kali aku bertanya, jawabannya selalu saja “Rahasia.” Dia menutup bibirnya erat-erat dan memalingkan wajahnya dengan cemberut ...

Bagaimanapun juga, aku merasa klau aku perlu melakukan sesuatu mengenai ini. Berkat perbuatannya, aku dikelilingi oleh teman-teman sekelasku untuk waktu yang lama kemarin, seolah-olah aku disambut oleh ibu mertuaku, begitulah rasanya.

Aku tidak bingung harus  berbuat apa ... jujur saja, ini adalah pertama kalinya aku harus berurusan dengan sifat Mea-san yang seperti itu, jadi aku tidak yakin bagaimana menanganinya.

Tapi bukan berarti aku harus menyerah di sini! Ini, ya, ini adalah masalah di antara kami berdua!

Aku akan bertanya padanya lagi namun disela oleh suara mendadak.

*Pinpoon ♪*

Bel pintu tiba-tiba berdering. Aku terkejut.

“Apa ada yang berencana untuk datang?”

“…Aku tidak tahu.”

“Oh ya ... Kira-kira apa Ayahku mengirimiku paket tambahan kali, ya..”

Ngomong-ngomong, aku harus menyiapkan cap pribadi selain cap bankku untuk kesempatan seperti itu. Untuk kami berdua, “Nonomiya” dan “Chitose”.

Sambil memikirkan hal itu, aku lalu membuka pintu depab. Yah, kurasa aku cuma perlu menandatangani hari ini──

*Buuggg!*

“Selamat siang ~~~~~~ !!”

“... .ehhh?! Renjou-san!?”

Ketika aku membuka pintu, ada seorang gadis kecil dengan rambut berwarna cerah berkepang dua dengan pita melilit rambutnya seperti kemarin.

Seperti yang diharapkan dari pengunjung tak terduga ini, Mea-san juga tidak bisa diam.

“Ke-Kenapa kamu bisa ada di sini, Kobato-san ...?”

Ketika Mea-san berlari ke pintu depan, Renjou-san tersenyum dan mengangguk.

“Ya, aku mendapat alamat rumah ini dari ibumu, Me-chan!”

“.............”

“Yah pokoknya, aku masuk ya, permisiii~”

“Ahh, tunggu...”

Dia mendekatiku tanpa menunggu jawabanku. Di tangannya, dia membawa tas belanjaan yang sepertinya berisi bahan makanan.

“Ku-kun, boleh kupinjam dulu kulkasmu?”

Lalu dia memiringkan kepalanya dengan manis padaku.

“K-Ku-kun?  Apa yang kamu maksud itu aku?”

“Ya ~~. Kuuya-kun disingkat jadi Ku-kun!! ... Tidak masalah, ‘kan?”

“Ya, aku tidak keberatan sih, tapi ...”

“Eheheh ~. Makasih ~. Kalau begitu, ♪ kulkas ♪, ♪ ​​kulkas ~

Maksudku ... Apa yang dia lakukan dan apa yang terjadi padanya? Dia berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda dari kemarin !!

Jika aku tidak kena penyakit pikun, kemarin dia bersembunyi di balik Mea-san setelah kami pertama kali bertemu. Dia sepertinya tipe gadis yang pemalu.

Tapi hari ini, dia sangat ramah ... bahkan untukku. Dan kemudian ada kunjungan mendadak ini. Jenis perubahan hati macam apa yang dia miliki ...?

“Apa yang sedang kamu lakukan, Kobato-san?”

Tampaknya hal itu merepotkan Mea-san juga. Dia bergegas untuk bertanya tentang itu.

Kemudian, sambil memasukkan bahan maknan dari tas belanjaan di tangannya ke dalam kulkas, dia menoleh ke arahku dan berkata-

“Aku mendengar kalau kalian berdua hidup bersama, tapi pasti rasanya sulit ‘kan!”

Ujarnya dengan senyuman.

“Apalagi, kalian berdua bertunangan dan menikah, jadi sebagai pengantin baru kalian hidup bersama.”

Ibu Mea-san tampaknya sudah mengungkapkan banyak hal kepada anak ini ...!

Yah, sepertinya, peryantaan Mea-san “dia adalah suamiku!” di dalam kelas kemarin rupanya mengungkapkan juga kepada seluruh sekolah kalau dia juga tinggal bersamaku ... kurasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan rahasia itu.

“I-Itu bukan masalah besar kok?” Mea-san menyapu rambutnya dan membusungkan dadanya. Tapi…

“Begitukah? Tapi kamu belum pernah memasak sebelumnya, ‘kan, Me-chan?”

“Ugyuu ... !!”

Dia langsung dibungkam dengan satu kelimat.

Seolah mengejar musuh yang melarikan diri (Mea-san), Renjou-san melompat padanya.

“Adapun aku! Tentang rencana untuk hidup bersama, kupikir, jika kita tidak jujur ​​pada diri kita sendiri maka itu sangat buruk sekali.”

“Be-Benar? Lalu?”

Ketika Mea-san terdiam, aku tidak punya pilihan selain menyela.

Kemudian, Renjou-san menyusut sedikit tubuhnya, menatapku, dan berkata,

“... .Ku-kun adalah suaminya kan?”

“Apa? I-Iya ....”

Caranya menatapku dan memanggilku "suami." Aku ingin dia memahami kalau itu membuatku merasa gugup.

Tidak, habisnya! Aku tidak percaya bahwa gadis yang bertingkah malu-malu kemarin menjadi sangat agresif hari ini ... seriusan? Aku tidak percaya dia berbicara denganku.

Selain itu, penampilannya masih muda dan imut, sehingga kekuatan destruktif penampilannya yang mendongak, bagaimana bilangnya ya, sangat menakjubkan. Pandangan mendongak Mea-san juga cukup mengasyikkan, tapi dalam kasus Renjou-san, wajahhnya yang masih kekanak-kanakan itu membuatku tidak tega meninggalkannya sendirian sebagai seorang pria ..!

Tidak peduli tentang fakta bahwa aku akan melalui lautan emosi seperti itu, dia terus melanjutkan.

“Sang istri harus membuat makan malam untuk suaminya. Kalian berdua pasangan pengantin baru. Me-chan mungkin tidak pandai dalam memasak, itu sebabnya ... Aku bisa membuatnya untuknya.”

“I—Itu sih ...”

Nah, bagaimana cara menggambarkannya? Apa itu deklarasi darinya kalau dia adalah 'istri' yang lebih baik dari Mea-san?

Jika memang begitu, apa itu berarti dia datng kemari untuk melakukan pertarungan dengan Mea-san? Bukannya mereka berdua sudah bersahabat sejak sekolah SD? Maksudku, bahkan jika mereka tidak sahabatan, bukannya mereka terlalu agresif hari ini?

Aku sangat takut pada gadis itu dan agresivitasnya membuatku tidak bisa menerimanya lagi. Tidak, aku tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya! Aku tidak pernah sedekat ini dengan gadis mana pun sebelumnya!

(Tidak, masih ada Fuuga, tapi dia lebih condong sebagai teman laki-laki!)

“Itu sebabnya aku akan memasak makan siang hari ini dan menunjukkan padamu bagaimana caranya.”

Nada suaranya tersenyum dan ramah ... tetapi apa itu cuma bayanganku saja yang merasakan tekanan darinya dan membuatku tidak bisa bisa menolaknya?

Tapi, ya. Aku harus bersikap tenang di sini. Itulah yang harus dilakukan pria keren dan deasa.

Ehh ... Renjou-san sudah repot-repot mwmbawakan bahan-bahannya dengan uangnya sendiri dan datang untuk memasak untuk kita. Dia juga berkata, “Hidup bersama, itu pasti rasanya sangat sulit.”

Dan faktanya, kita memang butuh makanan. Keterampilan memasak Mea-san persis seperti yang dia katakan, dan aku tidak bisa memasak dengan baik karena aku selalu mengandalkan ibuku.

Jika ada seseorang yang bersedia menjadi contoh, bukannya itu sesuatu yang patut disyukuri?

Ketika aku memikirkan faktor-faktor itu... Aku tidak punya alasan untuk menolaknya.

Tidak, aku tidak ingin menolak, tapi ... apa itu bakalan baik-baik saja? Ada perasaan seperti itu. Karena…

“...”

Sedari tadi, Mea-san terus menggigit bibirnya dengan frustrasi ketika dia terus menarik ujung pakaianku.

“Ahh ... Umm ... Mea-san?”

“... Kuuya-san ... Apa yang harus kita lakukan?”

Kenapa dia bertanya padaku!?

“Apa kamu akan menerima atau menolaknya ...?”

“Yah, itu ... ada bagusnya dia mau dijadikan contoh, iya ‘kan? Untuk kita.”

Mau tak mau aku menjawab begitu sembari menekankan kata “kita”.

Semoga saja dia bisa memahami maksud di balik pikiranku yang menekankan hal ini!

“────── !!!”

UWAAA! Kurasa niatku tidak tersampaikan padanya!

Segera setelah mendengar jawabanku, matanya melebar dan dia terhuyung-huyung seolah-olah mendengar sesuatu yang syok (tentu saja dia melepaskan ujung pakaianku).

“Whaa ... Ehhh? Apa yang terjadi, Mea-san?”

“It-Itu ... R ... Rahasia ...”

Lagi-Lagi bilang begitu!

Hmm, aku berpikir ... bahwa itu akan sangat meresahkan jika Mea-san untuk memunculkannya, karena kita tidak akan dapat melanjutkan dari sana.

“Tapi ... kalau itu masalahnya!”

“Apa?”

“Ak-Aku akan memasak untukmu juga!”

“Eeeehhhhhhhhh ?? !!”

Aku tidak tahu kenapa aku tidak menduga dia mengatakan itu!

Maksudku, bukannya kamu membuat kesalahan besar pagi ini juga, Mea-san?

“Kamu tidak keberatan dengan itu ‘kan, Koboto-san.”

“Hahaha ... Mou ~ Kamu itu sangat keras kepala sih, Me-chan?”

Bahkan ketika Mea-san menunjuk jari padanya, aku perhatikan bahwa Renjou-san masih tersenyum dan banyak tertawa.

“Oke, ikuti saja arahanku, dan semoga sukses.”

“Kita lihat saja nanti…!”

Oh, itu bagus ... atau lebih tepatnya, jika itu masalahnya.

“Jika itu masalahnya, aku mungkin juga akan ikut berpartisipasi dalam membuatnya demi masa depan kita──”

Tetapi sebelum aku bisa menyelesaikan kalimat itu….

““Tolong awasi aku, Kuuya-san / Ku-kun!””

Mereka berdua menyatakannya secara bersamaan.

Kekuatan kedua gadis itu, atau lebih tepatnya motivasi mereka, sedemikian rupa sehingga aku hanya bisa merespons, “O-Oh, baiklah ...”

Mereka berdua lalu mulai memasak.

“Aku akan membuat steak hamburger rebus untuk makan siang hari ini ~~! Aku membuatnya karena itu hidangan yang gampang dibuat~”

Ketika dia mengenakan celemek yang dibawanya, Renjou-san tersenyum cerah, dan berseru padaku.

“Oh, begitu? Kedengarannya sulit hanya dengan mendengar namanya ...”

“Cuma ada beberapa langkah untuk membuat steak hamburger. Yang harus kamu lakukan tinggal merebusnya dengan saus, supaya kamu tidak perlu khawatir apakah dagingnya masih mentah atau matang. Itulah dua alasan utama mengapa banyak yang gagal membuat steak hamburger.”

“Be-Begitu ya... masuk akal juga...!”

“Jika kamu belajar cara memasaknya, kamu bisa mengubahnya dan menggunakan banyak resep lain. Kamu dapat memasak steak hamburger tanpa merebusnya, dan saus rebus dapat dibuat menjadi kari atau sup dengan mengubah bumbu akhirnya.”

“Ohhh, itu praktis sekali! Ini akan meningkatkan repertoarku dalam sekali libas!”

Seperti ini, dia juga sangat murah hati dalam menunjukkan sampelnya pada kami dan memberi beberapa tips untuk membantu kami dengan makanan kami di masa depan.

Aku sangat berterima kasih padanya. Dia persis seperti malaikat yang memberi bantuan dari surga.

“Dan juga ... ehehe ~, Ku-kun suka steak hamburger, ‘kan?”

“Yah, itu sih ... Emangnya ada orang yang tidak suka steak hamburger?”

Aku menjawab sambil menggaruk kepalaku. Bahkan, ayah aku juga suka hamburger, jadi seharusnya tidak mengherankan kalau pria dewasa sepertiku juga menyukainya. Lagian, ini merupakan hidangan daging.

“~~~ Ku-kun, kamu memang sangat imut dan menggemaskan ... ♪♪”

“Apa?”

“Tidak ada, bukan apa-apa. Kalau begitu, mari kita mulai dengan memotong bawang ...”

* Taktakatakatakatak * Dia menggunakan pisau begitu cepat sehingga tampak seperti fatamorgana, dan dalam waktu singkat, bawang-bawangnya sudah dipotong menjadi irisan.

“Keren bangeettt!! Kalau aku sih mustahil bisa melakukannya sepertimu !!”

“Di jaman sekarang, ada mesin yang bisa memotong sayuran dan harganya juga wajar, jadi aku pikir itu ide yang bagus menggunakannya untuk pertama kalinya. Tapi jika kamu bisa memotong bawang dengan mahir, kamu bisa memotong sayuran lain dengan cukup mudah, jadi secara pribadi, aku merekomendasikanmu untuk berlatih ~~”

“Be-Begitu ya......! Renjou-san, kamu sangat luar biasa ...! Jadi apa selanjutnya? Apa selanjutnya?”

Aku sangat kegirangan saat melihat keahliannya sehingga aku tidak bisa berhenti menatapnya.

“Heh heh heh ~, selanjutnya ...”

Selanjutnya, Renjou-san tampak senang ketika melihatku seperti itu.

Senyum di wajahnya terlihat menggemaskan, dan mau tak mau aku jadi ikutan tersenyum bersamanya──

“Tunggu sebentar.”

Dan kemudian suara tenang datang dari samping. Tentu saja itu suara Mea-san.

“Kurasa aku cukup pandaii memotong bawang juga.”

Dia mengibaskan rambut dari bahunya dan mengucapkan itu dengan wajah serius.

“Ehh, masa? Tapi Me-chan, kamu pernah bertugas membuat kari di kemah pelatihan di SD , dan kamu tahu pada saat itu ... "

“Pada saat itu aku tidak bertanggung jawab untuk memotong bawang. Tapi sekarang—”

*Taktakatakatakatak!!! *

“Ohh astaga!!!?”

“HWAA──?!”

Renjou-san dan aku berteriak bersamaan.

Itu karena ... cara memotong Mea-san sangat berbeda dari cara yang Renjou-san tunjukkan sebelumnya.

Seolah memotong langit dengan pisau - katakanlah, seperti dia membuka gerbang ke-5 - dia berulang kali mengirisnya, dan secara sekaligus, bawang-bawangnya diiris semuanya.

Ini bukan teknik biasa, mana ada orang normal yang bisa menguasainya! Tidak dalam arti yang sama dengan apa yang aku katakan kepada Renjou-san, tapi yang ini jelas sekali MUSTAHIL untuk dilatih! Teknik ini!

“Ap-Ap-Ap-Ap-Apa-apaan itu tadi?! Me-chan!? Bagaimana caramu memotong bawang seperti itu?”

“Karena aku adalah Ni ... Itu rahasia.”

── Aku mengerti, aku tidak tahu karena aku belum melihatnya menggunakan pisau sampai sekarang ... Mea-san tampaknya jago menangani pisau karena dia seorang putri ninja.

Dia sudah berlatih melempar shuriken selama bertahun-tahun ... dan  tampaknya hal itu juga dirahasiakan dari sahabatnya, Renjou-san.

“Gi-Gimana? Apa kamu menyukainya, Kuuya-san?”

Dan kemudian Mea-san bertanya kepadaku seraya mengepalkan tinjunya (Penampilannya sedikit menakutkan karena dia memegang pisau di satu tangannya).

“Tidak, itu benar-benar menakjubkan ...  Mea-san memang luar biasa.”

“Ya, ya ~! Fufufufufu ~~ fufufufufufufuf ~~~, aku gerhasil, Kuuya-san memujiku ... ♪~”

Aku melakukan yang terbaik untuk menjaga ketenanganku dan memujinya, tapi ekspresi Mea-san justru memerah dan tersenyum cengengesan.

... Sial, Mea-san benar-benar imut dan manis sekali! Keimutan Renjou-san menonjolkan kepolosan dan rasa ingin melindungi, tetapi keimutan Mea-san berasal dari kesenjangan antara kepribadian normalnya yang dewasa dan kelucuan saat ini!

Apa Mea-san selangkah lebih maju dengan ini? Tidak, memangnya sejak awal ini adalah pertandingan ?

“H-hmm, tapi memasak yang sebenarnya baru akan dimulai! Selanjutnya, aku akan meremas dagingnya!”

“Wuaaahhh.”

Memang benar bahwa memotong bawang tidak sama  dengan membuat hamburger rebus, dan mereka masih jauh untuk dibilang memasak steak hamburger .

Langkah selanjutnya untuk mereka berdua ialah  menguleni daging, mencampur tepung roti dan bahan-bahan lainnya, dan membentuknya menjadi hamburger ...

“Dan, seperti ini! Kuncinya adalah membuat lubang di tengah!”

Renjou-san selesai memasak terlebih dahulu dan menempatkan steak hamburger di atas nampan.

“Wow cantiknya!”

Aku keceplosan mengatakannya. Steak hamburger buatannya tampak sangat lezat dan memiliki bentuk yang indah.

:Ehehehehe ~~~, cantik? Apa aku cantik? Oh ya ampun, Ku-kun ~, kamu terlalu menyanjungku ~ ♪”

“Tu-tunggu! Steak hamburger! Maksudku steak hamburger-nya!”

Ahh! Reaksinya yang tersenyum lebar dan mengguncang tubuhnya seperti itu !! Ahh sangat imut! Gerakan itu!

Aku merasakan rasa bersalah ketika memikirkannya, dan aku menoleh ke arah Mea-san.

“Ahh ... seperti ... seperti ini ... ahhh nggak. Tidak, tidak, tidak, tidak... oooh lagi ... ahhh ... hmm ...”

Rupanya, dia berusaha menguleni daging dengan melempar bolak-balik di antara telapak tangan kiri dan kanannya, meniru prosedur lawannya, Renjou-san ... mungkin kekuatannya terlalu kuat, tetapi bukannya menjadi rata, dagingnya justru tersebar dan tercecer kemana-mana. Setiap kali dia melakukan ini, dia harus mengumpulkan kembali daging yang berceceran, jadi kalau boleh jujur sih, aku merasa kalau dia takkan bisa menyelesaikannya ...!

“... Ku-Kuuya-san.”

Dan bahkan lebih ketika dia memperhatikan tatapanku dan membeku.

“Maaf, tapi Mea malu untuk menyajikannya ...!”

“Tunggu, tunggu, tunggu! Tidak baik untuk menutupi wajahmu dengan tangan saat sedang memasak!”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Pertama-tama, kupikir kamu harus menguleninya dengan lebih lembut, Mea-san ..."

“... Kuuya-san, kamu sangat baik.”

“Jangan katakan sesuatu seperti itu, itu memalukan!”

“Aku akan mencoba yang terbaik! Makasih banyak, Kuuya-san!”

Jadi, rupanya dia sudah berada di ambang menyerah ... Yah, nada suaranya juga terdengar panic.

 

◇◆◇◆

 

Setelah itu, ada banyak lika-liku, tetapi aku akan mengesampingkan detailnya ....

“Oke, hidanganku sudah siap ~ ♪!”

“Aku ... Aku juga sudah selesai. Wahhh ....”

Dua suara yang kontras satu sama lain, dan piring disiapkan (?).

Kami bertiga segera membawanya ke meja ruang tamu. Kebetulan, mereka berdua masing-masing membuat satu lagi untuk diri mereka sendiri dan satu laginya untukku. Itu berarti aku harus memakan keduanya. Mana mungkin aku bisa menolaknya dalam situasi ini.

Untungnya, Renjou-san sudah menanak nasi saat memasak steak hamburger tadi. Jika ini sebuah pertandingan memasak, aku merasa kalau pemenangnya telah diputuskan pada tahap ini, tetapi sepertinya itu saja masih kurang cukup.

“Baiklah Ku-kun ~”

“Silakan dinikmati, Kuuya-san.”

…Ya. Aku harus membandingkan kedua piring yang disiapkan oleh mereka ...

Aku tidak punya pilihan lain selain mengambil sendok dan kemudian──

“Ini, buka mulutmu ahh ~ ♪”

“...... eh?!?”

Aku berteriak konyol ketika dia menyodorkan sendok yang dipenuhi dengan hamburger dan saus, yang aku ambil terlebih dahulu.

Tidak, bukannya aku tidak paham apa yang dia maksud. Maksudku, aku harus memakannya dengan benar. Tetapi…

“Re-Renjou-san, kurasa  aku bisa memakannya sendiri ....”

Mau dilihat dari mana pun, suap-suapan biasanya cuma akan dilakukan oleh sepasang kekasih atau pengantin baru, ‘kan!!!

Mau tak mau aku meneriaku hal itu di dalam pikiranku.

“Tapi, Ku-kun dan Me-chan, Kalian menikah cuma buat formalitas saja, ‘kan?” Renjou-san menatapku sambil mengulurkan sendok dan mengatakan itu.

“Dan bukan tentang kalian berdua, pernikahan ini diputuskan oleh orang tua kalian, kan?”

“Yah, itu memang benar sih, tapi ...”

“Apalagi, kalian berdua belum cukup umur untuk menikah secara legal, ‘kan? Jadi kalian belum tahu apa yang akan terjadi mulai sekarang, bukan?”

“Apa? Y-Yah, iya, kita emang belum tahu itu ... tapi ...”

“Sekarang kamu mengerti itu, ayo bilang ahh ♪”

“...... ..”

Singkatnya.

Aku rupanya lagi di-PDKT! Dan jika Mea-san tidak berbuat sesuatu, posisinya bisa diganti oleh Renjou-san, kan? Apa!?

Dengan kata lain, reaksi gadis ini terhadap pertemuan pertama kami kemarin adalah “Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama” ... Sesuatu seperti ini, atau bukan ....?

Hatiku berdegup kencang seperti, boom boom bang ... Tentu saja, ini baru pertama kalinya aku digoda oleh seorang gadis atau didekati. Bohong rasanya kalau aku bilang tidak merasa senang.

Tapi ... Apa ini ... Oke?

Karena, bagaimana aku bisa menjelaskannya? Ketika aku menengok ke arah Mea-san ...

“~~~~~”

“Ahh, Uhmm, Mea-san ...?”

Aku pikir Mea-san memelototiku dengan matanya yang indah, lalu dia dengan cepat menyingkap rambutnya dari bahunya dan meraih sendok dengan penuh semangat.

“... Ayo buka mulutmu, ahh ー! Kuuya-san!”

Tunggu, Mea-san, kamu juga mau menyuapiku? Kamu takkan membiarkanku pergi!

Jadi ini strategi pertempuran ...! Dan jika ini terus berlanjut ....

“Ku-kun. Punyaku dulu, ayo ahh~~!”

“Kuuya-san ... kumohon, ini permintaan, punykku ... ahh~~!”

Keduanya harus dimakan!

Mustahil cuma memakan salah satu dari mereka, tetapi juga tidak dapat diterima untuk menolak makan berdua.

Jadi pertanyaannya ialah punya siapa dulu yang harus dimakan ...

“Ka-Kalau begitu.. aku akan ... mencicipi milik Mea-san dulu...”

Wajar-wajar saja kalau aku harus memberikan prioritas kepada istriku, Mea-san, bahkan jika kita menikah karena janji. Aku merasa sedikit kasihan kepada Renjou-san, tapi ...

“I-Itadakimasu.”

Aku memasukkan sendok yang disodorkan Mea-san ke dalam mulutku.

“Bagaimana rasanya ... Kuuya-san ...?”

“*Kunyahkunyah* ... rasanya enak, sama seperti masakanmu yang biasa, Mea-san!”

“Benarkah?!”

“Ya ... steak hamburgernya dimasak dengan benar, dan sausnya …..”

Tentu saja, hamburger-nya agak kurang matang dan ada beberapa benjolan tepung bercampur dengan saus. Tapi itu masih bisa dimakan! Mempertimbangkan apa yang telah dibuat Mea-san, keterampilannya sudah meningkat lagi.

“Enak! Kamu melakukannya dengan baik, Mea-san!”

“Eheh, ehehe ~ Mea hebat ...! Fufufu ~~ fufufufufufu ~~ ....”

Mungkin itu karena dia merasa sangat senang, tapi dia menyebut dirinya 'Mea’ lagi.

Gampang sekali buat memahami pemikirannya, meski dia memiliki banyak rahasia ... Itulah bagian imut dan menggemaskan dari Mea-san. Dan yang lebih penting lagi, bagian di mana wajahnya memerah dan tubuhnya menggeliat Dia terlihat lebih seksi sambil tersenyum dan menyeringai, aku tidak tahan. Aku ingin melihatnya lagi! Tunjukkan lebih banyak padaku!

Akan sangat bagus jika itu berakhir di sini, tapi──

“Sekarang, selanjutnya adalah punyaku!”

Tidak adil rasanya kalau aku cuma memakan masakan Mea-san dan tidak memakan hidangan Renjou-san, ‘kan?…

“Aku tidak tahu, aku tidak tahu, apa Ku-kun akan menyukainya. ... Dagdig-dug dagdig-dug.

Dan di sana, dia menempatkan lebih banyak tekanan padaku (pandangan subyektifku). Jadi, sebagai seorang pria, aku tidak bisa mengabaikan ini atau itu akan ... buruk.

“I-Itadakimasu. * Gigit*”

Aku menggigit lagi, kali ini dari sendok yang diulurkan oleh Renjou-san.

“Bilang dong, bilang, gimana rasanya? Ku-kun ~”

“*Kunyahkunyah* ...!?!?!?” ── Mau tak mau aku ingin berteriak keras. Rasanya sangat jauh berbeda

Rasa dan aromanya menyebar setelah aku meletakkannya di mulutku. Cuma dengan menggigit sedikit steak hamburgernya, aku bisa merasakan perpaduan umami yang meluap ....

“Le-Lezat sekali .... !!”

Sejujurnya, aku tidak enakan untuk mengatakan ini, tapi rasanya jauh lebih enak daripada Mea-san.

“Yay!”

Seolah menambah kelezatan makanan, Renjou-san tersenyum senang, seperti dia sangat gembira setelah mendengar pendapatku.

Terus terang itu reaksinya itu terlalu menggemaskan, dan aku merasa sangat tersentuh bahwa gadis yang seperti itu memasakkanku hidangan yang luar biasa dan lezat.

Ketika aku merenungi hal itu Aura Renjou-san tiba-tiba menjadi sangat tenang.

“Jika Ku-kun sangat menyukainya ... Aku akan membuat sebanyak yang Ku-kun ingingkan mulai sekarang.”

“Apa……?”

“Jika Me-chan adalah istrimu ... kalau begitu ... Aku akan menjadi 'simpanan’-mu ... canda deh, heheheheh ~~ ..."

“Re-Renjou-san ...?”

─ Kata yang penuh ketulusan dan ceria itu membuatku sedikit kalut.

Dia selalu sangat agresif, tapi saat auranya mendadak tenang, aku benar-benar terkejut ... Mau tak mau aku jadi menyadari perbedaan yang benar-benar membuatku takut ...! pikirku.

“Aku juga akan memenuhi celah itu, oke!”

Ekspresi Renjou-san tiba-tiba berubah, dan dia tersenyum dengan senyuman cerah dan ceria.

“Jika kamu mengalami kesulitan atau mempunyai pertanyaan dalam memasak, aku akan dengan senang hati akan kembali dan memberimu nasihat.”

“Ahh, oke, terima kasih ...”

"Ehehe ~~”

─ Percakapan aneh semacam itu terjadi di antara kita.

“*nyam* *nyam* *nyam*, lezat sekali, meski dia adalah lawanku, mau tak mau aku harus memujinya karena kelezatan ini ....! *Nyam nyam nyam*”

Mea-san melotot Renjou-san sambil mengunyah steak hamburger milik Renjou-san.

Malam itu, aku memasak makan malam.

“Buku resep yang ditinggalkan Renjou-san padaku luar biasa. Bahkan seseorang sepertiku bisa dengan cepat memasak makanan yang persis seperti pada gambar karena itu dijelaskan dengan sangat baik.”

Ketika aku membalik halaman, aku dibuat terkesan sekali lagi.

Ya. Setelah itu, Renjou-san meninggalkan buku resep ini dan pulang ke rumahnya.

Aku tak bisa menggambarkan kata-kata lain dengan kata sempurna, atau jika itu adalah buku yang masih membutuhkan perbaikan ... Pokoknya, kesimpulannya adalah bahwa aku sendiri bisa membuat makan dari buku resepnya...

Tentu saja, ada alasan mengapa aku memasak makanan pertamaku.

“Renjou-san, dia itu hebat sekali, ‘kan ... dalam banyak hal.”

“.........”

“Apa dia selalu seperti itu? Mea-san. “

“..............................” ── dan sejak siang tadi, Mea-san masih belum mau berbicara denganku.

Aku bisa menebak secara kasar alasan kenapa dia merajuk karena aku memberikan ulasan yang lebih baik terhadap steak hamburger Renjou-san ketimbang milik Mea-san ....

Tapi itu masih tidak mengubah fakta kalau aku masih tidak peka dengan bagaimana cara menanggapi tanpa menyakiti perasaannya.

“Pokoknya, ayo kita makan dulu, Mea-san. Kupiki aku memasaknya dengan cukup baik kali ini.”

“….Terima kasih atas makanannya.”

Namun, ketika dia makan, dia menyatukan tangannya dengan benar dan berkata 'Terima kasih atas makanannya', itulah yang biasanya dilakukan Mea-san di depan aku ...!

Tapi ... setelah itu ...

“*nyam* * nyam* ... wow, bumbu daging dan kentangnya sangat meresap!”

“.......”

“Aku senang nasinya tidak terlalu lembek.”

“................”

“Ternyata memasak nasi itu sangat mudah ya, kupikir aku bisa melakukannya sendiri mulai sekarang ~~”

“.............................. ..”

Tidak peduli apa yang aku katakan, Mea-san masih diam membisu.

Apa sebaiknya aku meminta maaf untuk ini? Kejadian tadi siang memang salahku karena mengatakan steak hamburger Renjou-san jauh lebih enak.

Tidak, aku benar-benar minta maaf, tetapi memang benar kalau punya Renjou-san jauh lebih lezat ... Mea-san sendiri mungkin tahu perbedaan di antara kemampuan mereka berdua ...

Hmmm ... apa yang harus kulakukan sekarang ...?

(.... Apa jangan-jangan bukan itu saja hal cemberutin Mea-san ...?)

Tiba-tiba aku punya firasat

Kalau begitu mana yang benar? Aku sama sekali tidak tahu.

Dan kemudian, malam harinya.

(... ..mmm?)

Aku sedang tertidur ketika menyadari sesuatu dan tiba-tiba terbangun.

“Nn ... Uhmma ... *bangun* ...”

Mea-san, apa dia mencoba untuk melangkahiku ....?

Kenapa…? Ahh ya, dia tidak bisa bangun dari tempat tidur tanpa melakukan itu, apa dia mau minum air atau pergi ke kamar mandi ...Pikirku dengan keadaan setengah tertidur.

Pada akhirnya, Mea-san melangkahiku dan turun dari tempat tidur.

Suara langkah kaki berjalan menjauh, lalu diikuti suara membuka  dan menutup pintu.

Kemudian, setelah beberapa saat, aku mendengar suara air mengalir.

Mea-san, apa dia pergi ke toilet ...? Aku merasa kasihan sekarang, karena diriku, dia tidak bisa bangun dengan mudah ...

Ketika aku sedang memikirkan hal itu, pintu terbuka lagi dan aku menyadari kalau Mea-san masuk.

Dia mencuci tangan ke dapur dan kembali ke tempat tidur.

Ap-Ap yang harus aku lakukan? Jika aku tidak melakukan apa-apa, dia harus melangkahiku lagi untuk masuk ke tempat tidur, kan? Apa aku perlu berpura-pura membalik dan membiarkan sisi kiri terbuka untuknya ....?

Saat aku dilanda kebimbangan….

“... .kuwuya.”

Dia berdiri tepat di sebelah tempat tidur dan bergumam pada dirinya sendiri.

Ketika aku penasaran tentang apa yang hendak dia lakukan—

“- * Nshyoo* !!”

(!?)

Aku hampir saja berteriak, tapi entah bagaimana berhasil menahannya.

Ini karena Mea-san tiba-tiba mendorongku dan memutarku.

Kira-kira apa itu terlalu merepotkan untuk melangkahiku, atau sesuatu ....

“... Eii.”

Bersandar.

(!?!?!?!?!)

Aku hampir berteriak lagi.

Itu karena tindakan, Mea-san. Tidak hanya dia menyelinap ke tempat tidur denganku, tapi dia justru—

“Kuwuya ....”

Itu karena dia memelukku seolah-olah aku ini adalah bantal guling atau semacamnya.

Itu benar-benar pelukan erat. Bukan hanya tangannya, tapi juga kakinya melilitku, dan kami benar-benar dalam ... keadaan berdekapan.

Seperti yang diduga, rasa kantukku langsung lenyap seketika. Maksudku, rasanya sangat hangat dan lembut!

Dan ... ti-tidak, bukan karena aku ingin memperhatikannya atau apa pun! Aku dihancurkan oleh oppai Mea-san dan tubuhnya, tapi apakah ini baik-baik saja ...!?

Bagaimanapun juga... mengapa ini terjadi──

“... Su─ Su─”

Segera, aku mendengar suara napas tenang Mea-san, dia rupanya akhirnya tertidur.

Jadi dia mungkin terlalu malas untuk melangkahiku, dan hanya menggeserku sedikit untuk membuat ruang baginya untuk tidur.

Tapi bahkan jika itu adalah satu-satunya alasan, dia tidak perlu memelukku seperti ini segala...

“Me-Mea-san ...?”

Aku menoleh melalui pundakku untuk melihat apa yang sedang terjadi, karena aku merasakan seluruh tubuhku menegang.

Dan kemudian…

“Hmfuuu ... Kuwuya ... adalah…Mea…”


“............”

Dia mengigau.

Ya. Begitu rupanya, itu seperti terakhir kali dia berkata, 'Orang ini adalah milikku dan kemudian dia memelukku.

Kurasa dia benar-benar marah mengenai peristiwa siang tadi.

Dia juga mungkin merasa maah terhadap dirinya sendiri. Aku tidak bisa memasak, dan aku tidak bisa memasak apa pun sebaik Renjou-san.

Tapi ... Kurasa itu sebabnya dia merasa sangat buruk.

Ya. Dia mempercayai, “Kuuya-san adalah suamiku.” ....

Semuanya itu ada dalam imajinasiku.

Tapi mau tak mau aku berprasangka seperti itu.

“Nfuu ... ...”

“~~~~~”

Aku tidak tega membangunkan Mea-san. Akibatnya, seluruh badanku menegang, dan aku terus menanggung kelembutan dan kehangatan tubuhnya.

(Karena jika dipikir-pikir lagi ... tentang itu ... itu juga salahku ... pasti ...)

Seandainya saja aku tidak plin-plan dan telah mengambil sikap tegas, Mea-san mungkin takkan tidur dengan perasaan seperti itu.

Ketika aku memikirkan hal itu, aku tidak punya pilihan selain menanggungnya ....

Pada malam itu, aku tidak bisa tidur sampai matahari terbit.

Dan kemudian keesokan paginya.

“Aaaaaaa! Mea …. Mea benar-benar menyesal mengenai apa yang sudah Mea lakukan, Maaf Kuuya-san !! Ini semua salah paham, y-ya salah paham. AAA Mouuuu !! Aku tidak bisa menjadi istri lagi .... !!”

Tak perlu dijelaskan lagi, begitu dia terbangun, wajahnya langsung semerah tomat sampai-sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Aku merasa lega.

Aku lega karena mengetahui bahwa setelah menghabiskan malam seperti ini, dia akan mulai berbicara denganku lagi.

“Uuuu Uuuuuuu ~~~ !!! Me-Mea juga menekan dadanya padamu ... sekarang Kuuya-san telah menemukan semuanya tentangku, apa yang harus dilakukan oleh Mea! Mea merasa ingin mati saja karena tidak tahan dengan rasa malu ini…..”

Jadi aku berpikir lagi ketika menatap Mea-san, yang mukanya sudah memerah sampai ke telinganya dan menggeliat dalam penderitaan.

(...... Aku perlu mengambil sikap tegas.)

“Kuuya-san sudah dewasa dan mungkin tidak peduli, tetapi bagi ... Mea, ini masalah serius! Karena ... karena ... Mea tidak pernah menekankan dadanya kepada seorang pria sebelumnya! Ini adalah pertama kalinya ... Aku sudah melakukan ini, aku merasa sangat malu, Mea akan mati, aku tidak punya pilihan selain meminta Kuuya-san mengembalikannya padaku.”

—Ya. Jika Mea-san menganggap kalau aku sudah dewasa.

Lalu, sekali lagi.

 

 

Sebelumnya || Daftar isi || Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama