Tanin wo Yosetsukenai Chapter 114 Bahasa Indonesia

Chapter 114 —  Selesai

 

Mulai dari sana, prosesnya berjalan dengan lancar.

Setelah menambahkan minyak, dia memasukkan sayuran ke dalam wajan dan memasaknya sambil menyodoknya dengan sumpit. Sembari sesekali menaburkan garam dan merica, dia meletakkannya di piring sebelum masakannya gosong.

Mungkin ini pertama kalinya Enami-san memasak.

Karena dia memotong semua bagian, bentuknya jadi tidak rata dan ukurannya tidak beraturan. Tapi untuk orang yang baru pertama kali melakukannya, hasilnya sudah cukup bagus. Aku mencicipinya dengan cepat dan menemukan kalau pembumbuannya sudah pas.

“Kurasa masakanku sudah pada tingkat di mana aku bisa menghasilkan uang dari ini.”

Ketika aku mendengar evaluasi diri Enami-san yang sangat tinggi, aku merasa seolah-olah akan pingsan.

“Tidak, rasanya tidak seenak itu, kok ...”

“Benarkah? Lihat, aku pikir itu bisa dijual sekitar 200 yen.”

“Ah, tapi… jika kamu mendorongnya ke arah yang berbeda, kamu mungkin bisa menjualnya seharga 1.000 yen atau bahkan 2.000 yen…”

“Jangan mengatakan hal-hal cabul.”(TN: IYKWIM :v)

Sambil bercanda, aku berpikir kalau harga 200 yen adalah sekitar setengah dari biaya bahan-bahannya. Karena harga sayuran cukup mahal belakangan ini.

Sejujurnya, lauknya masih kurang cukup, jadi aku memutuskan untuk menambahkan satu lauk lagi.

Sebuah telur dadar.

“Ah, ya, ya. Aku palingan tinggal memecahkan telur dan menggulungnya, ‘kan.”

“Yah, ya ... tapi bisakah kamu melakukannya?”

“Memangnya kamu pikir aku ini siapa?”

“Aku pikir kamu adalah Enami-san, yang melewatkan pelajaran tata boga dan tidak tahu cara mengupas wortel.”

“Aku bisa membuat tumis sayuran, jadi aku bisa melakukannya.”

Dia tampaknya telah mendapatkan banyak kepercayaan diri, tetapi menggoreng sayuran sangat mudah. Tidak sulit untuk membuat telur dadar, tapi pemula sering kehilangan bentuknya.

…bisakah kamu memecahkan telur terlebih dahulu…?

Mangkuk diletakkan di depan Enami-san. Usai meraih salah satu telur, Enami-san dengan ringan mengetuknya di atas meja masak.

“Jangan gugup…”

“Jangan khawatir.”

Begitu dia mencoba membuka telur yang cukup retak, salah satu cangkangnya terbang ke arah yang salah, menyebabkan isinya jatuh secara diagonal dan keluar dari mangkuk.

“… Cih.”

“Bahkan jika kamu mendecakkan lidahmu, itu jelas-jelas kesalahan Enami-san!”

“Aku tahu. Aku akan melakukan yang lebih baik lain kali.”

Aku membersihkan kekacauan yang berserakan di lantai.

Bukannya Enami-san akan terus-terusan gagal. Kali ini, dia berhasil membukanya. Kuning telurnya masih utuh. Yang lainnya juga retak dengan baik.

Telur itu kemudian diaduk dengan sumpit dan dimasukkan ke dalam panci setelah dicuci. Kebetulan, di rumah ini tidak ada penggorengan untuk menggoreng telur.

Sambil dipanaskan di atas api kecil, Pan itu bolak-balik, kiri dan kanan, dan meregangkan telur tipis-tipis.

“….”

Enami-san sedang berkonsentrasi. Sedikit demi sedikit, dia mulai mengeluarkannya. Tetapi…

“Ah!”

Ada retakan di tengah. Dari sana, secara bertahap kehilangan bentuknya.

Tidak ada yang bisa aku lakukan tentang hal itu. Hasil akhirnya adalah telur dadar yang memiliki bentuk tertentu yang kurang sempurna.

“Yang ini memang tidak layak untuk dijual ...”

“Ya, sebenarnya dua-duanya juga sama.”

Aku pikir ini bisa dijual dalam jumlah banyak jika dijual dengan cara yang berbeda.

Dan hanya ada satu hidangan yang tersisa untuk dibuat.

“Fiuh…”

Berbeda dengan sebelumnya, aku bisa melihat sedikit kegugupan di wajah Enami-san. Hal itu dikarenakan hidangan ini bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk dimakan orang lain.

Setelah air dalam panci mendidih, beras kemasan dimasukkan ke dalamnya. Aduk-aduk agar nasi tidak mengeras. Telur kocok dan beberapa bawang hijau juga ditambahkan.

Saat mengikuti instruksiku, Enami-san agak linglung.

Saat dia menaburkan garam bumbu saat sedang keluar, aku panik dan memegang tangannya.

“Terlalu banyak, terlalu banyak.”

“Ah iya.”

Perasaan Enami-san pasti campur aduk saat memasak hidangan ini.

Bubur adalah hidangan standar yang disajikan untuk orang sakit.

Itu adalah masakan pertama yang aku buat ketika  mencoba memasak untuk pertama kalinya.

Membuatnya juga tidak sulit. Yang ada justru aku yakin kalau aku takkan gagal membuatnya.

Tapi bukan itu intinya.

“…”

Enami-san dengan gigih memindahkan sumpitnya ke dalam panci. Matanya terus memandangi butir-butir beras yang menari-nari di air.

Suasanya jadi tenang. Suara api gas yang menyala, suara air mendidih, dan nafas Enami-san.

Mencapai tingkat keterampilan kuliner tertentu merupakan hal bagus, tapi supaya hidangan tersebut bisa diterima orang lain merupakan masalah lain.

Apa dia benar-benar akan memakannya?

“Aku benar-benar sangat berterima kasih padamu, makasih banyak.”

Dia berkata dengan suara tenang yang tidak biasa.

“Kupikir aku akan berada dalam masalah jika sendirian. Dalam banyak artian.”

Aku yakin itu bukan cuma masalah makanan saja. Dibutuhkan banyak keberanian untuk menghadapi hal seperti ini sendirian. Paling tidak, itu adalah bagian di mana Enami-san selalu melarikan diri sampai sekarang.

“Bagaimanapun, memasak itu melelahkan. Tapi hari ini, aku pikir itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Tidak peduli bagaimana hasilnya, aku dapat mengatakan dengan pasti alau ini merupakan ahl yang diperlukan. Lebih baik menghadapinya secara langsung daripada tidak melakukan apa-apa…”

“Aku tidak keberatan untuk memberimu saran untuk ke depannya juga.”

“…Dasar besar kepala.”

Perlahan-lahan, ekspresi asli Enami-san ditunjukkan kepadaku.

Ekspresinya adalah wajah seorang gadis SMA biasa, benar-benar berbeda dari saat dia memberikan tatapan beku.

Setiap kali aku diperlihatkan wajah seperti ini, aku mulai merasakan dorongan untuk melihat ekspresi lain. Tidak peduli bagaimana aku mencoba untuk menutupinya, itu adalah fakta yang tak terbantahkan.

Aku pikir itulah sebabnya aku mengikuti ketidakwajaran Enami-san sampai sekarang.

Sementara kami berbicara, bubur di panci sepertinya sudah cukup lunak. Aku memberi tahu Enami-san tentang hal itu.

Dia mengangguk kecil. Hampir satu jam telah berlalu sejak kami mulai memasak.

Sumpit diletakkan di atas meja memasak. Mangkuk dikeluarkan dari lemari penyimpanan.

Kemudian, tangan Enami-san meraih kenop kompor.

Aku melepas celemekku dan melipatnya di lenganku.

Api di atas kompor, yang telah berkedip-kedip lemah, telah melakukan tugasnya dengan baik dan berangsur-angsur lenyap.

 

 

Sebelumnya || Daftar isi || Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama