Gimai Seikatsu Jilid 8 Prolog Bahasa Indonesia

Prolog — Asamura Yuuta

 

Jalanan yang dipenuhi bunga sakura, sekarang benar-benar tertutup dedaunan. Saat aku berjalan di sepanjang jalanan sempit yang menjadi rute sekolah dan menaiki lereng yang berkelok-kelok, aku bisa melihat bangunan SMA Suisei mengintip dari balik bukit.

Aku melirik jam tanganku dan melihat kalau masih ada banyak waktu untuk sampai ke gedung aula sebelum upacara pembukaan dimulai. Meski begitu, aku masih mempercepat langkahku dan bergegas menuju gerbang masuk sekolah.

Hari ini merupakan pengumuman pergantian kelas, jadi pertama-tama aku perlu memeriksa di mana kelasku berada. Sedikit maju di depan loker sepatu, para siswa memadati selembar kertas besar yang ditempel di dinding, mencantumkan nama-nama siswa dan kelas sesuai urutan.

Sebagai seseorang yang hampir tidak memiliki teman dekat di sekolah, atau lebih tepatnya, terutama di sekolah, momen semacam ini bisa sedikit menegangkan. Hingga menginjak kelas 2, Maru selalu sekelas denganku, jadi aku merasa mudah untuk berada di dalam kelas.

Aku tidak terlalu terganggu oleh perasaan kesepian, tapi sebagai pelajar, sering kali diperlukan kerja kelompok dan adanya seseorang yang mendukungmu akan membuat kehidupan sekolahmu jadi lebih mudah. Jadi, bisa dibilang itu argumen yang masuk akal bahwa aku harus sedikit keluar dari cangkangku dan lebih ramah dengan teman sekelasku yang lain.Tapi sekali lagi, terkadang aku merasa menginvestasikan terlalu banyak energi ke dalam hubungan merupakan hal yang tak sepadan.

Yah, kupikir memiliki beberapa teman yang mendukungmua saat musim ujian memang terasa nyaman. Di sisi lain, aku mungkin terlalu memikirkan hal ini secara berlebihan, dan Maru akan mengatakan sesuatu yang sarkastik seperti, “Toleransimu terhadap rasa kesepian terlalu tinggi, cuy.”

Saat kerumunan para siswa mulai sedikit mereda, aku menyelinap masuk dan dengan hati-hati mencari-cari namaku di antara daftar kelas. Karena namanya dalam urutan abjad, memiliki nama  “Asamura” sebagai nama belakang rasanya cukup praktis di saat-saat seperti ini. Jika aku hanya mengikuti daftar dari atas, aku pasti bisa menemukannya dengan cepat.

Coba aku lihat… bukan di Kelas 3-1. Bukan di Kelas 3-2. Kelas 3-3 juga bukan. Aku menggeser penglihatanku lebih jauh ke arah kanan–

Hmm?

Cahaya keemasan memasuki ujung pandanganku. Ketika aku secara naluriah menoleh untuk melihat, aku melihat seorang gadis dengan rambut berwarna cerah yang sedikit lebih panjang berdiri di sebelah kananku. Dia sedikit mengernyit, menatap daftar nama kelas dengan penuh perhatian.

Ayase Saki.

Murid kelas 3 di SMA Suisei—— dan juga adik tiriku.

Ayahku dan ibunya menikah pada bulan Juni lalu, dan kami menjadi saudara tiri.

Aku menemukan diriku memandangi sosoknya untuk sementara waktu. Rambut Ayase-san, yang tadinya dipotong pendek, kini mulai tumbuh hampir sama panjangnya dengan saat kami pertama kali bertemu.

Gaya rambut yang sama dan sosok yang sama... tapi kesan yang kurasakan darinya sekarang sangat berbeda dari dulu. Kesan ‘berbeda’, yang kumaksud bukanlah masalah penampilannya. Warna rambut yang mencolok atau riasan yang tampak alami cukup halus untuk tidak melanggar peraturan sekolah. Tidak, bukan itu yang kumaksud, hal yang kumaksud ialah ekspresi wajahnya. Ayase-san benci difoto karena menurutnya matanya terlihat mengintimidasi, tapi itu bukan karena fitur wajahnya yang alami. Mungkin karena dia selalu tegang di sekitar orang lain, dan ketegangan itu terlihat di wajahnya.

Kesanku padanya sudah cukup berubah untuk memahami itu.

Ketika kami pertama kali bertemu, dia mengeluarkan nuansa layaknya binatang buas, selalu waspada dan siap menggigit apa pun yang mencoba menyakitinya, walaupun dia mungkin akan marah jika aku mengatakannya di depan wajahnya. Sekarang, aku mengerti mengapa Ayase-san menyebut riasan dan pakaiannya sebagai ‘persenjataan’. Kupikir kewaspadaannya berasal dari ketidakpercayaan terhadap ayah kandungnya yang sudah menceraikan ibunya. Aku juga memiliki perasaan pahit terhadap ibu kandungku, yang sudah menceraikan Ayahku, jadi aku sedikit memahami bagaimana perasaannya. Atau mungkin karena kami sudah lama tinggal di bawah atap yang sama dan lambat laun aku mulai memahaminya.

“Asamura-kun.”

Tiba-tiba, dia berbalik ke arahku dan berbicara.

“A-Ayase-san.”

“Hmm? Maaf, apa aku mengejutkanmu?”

“Yah, tidak juga.”

Itu tidak sepenuhnya benar. Aku hanya sedikit terkejut karena kami biasanya tidak melakukan percakapan santai di sekolah. Selain itu, aku merasa sedikit canggung karena sudah menatapnya untuk sementara waktu.

“Kita berada di kelas yang sama tahun ini. Jadi, mohon kerja samanya, ya.”

“Eh?... Hahhh?”

Aku melihat kembali pengumuman daftar kelas. Aku sudah memeriksa sampai Kelas 3-3. Jadi, itu berarti…. Kelas 3-4. Sudah kuduga. Nama ‘Asamura Yuutadicetak di bagian atas, tepat di sebelah ‘Ayase Saki’.

“Ah, beneran.”

Ah, beneran? Eh tunggu, jangan bilang kalau kamu tidak mau sekelas denganku?”

Ayase-san mengerutu, terdengar sedikit kesal. Aku lalu buru-buru menjelaskan,

 “Tidak, tidak, bukan seperti itu. Aku hanya berpikir kalau mereka biasanya tidak menempatkan anggota keluarga di kelas yang sama.”

Aku tidak tahu apakah sebenarnya ada peraturan seperti itu, tapi pihak sekolah seharusnya sudah tahu kalau Ayase-san dan aku adalah keluarga sekarang. Aku baru saja berasumsi mereka akan memisahkan kami ke kelas yang berbeda.

“Tapi tidak ada aturan semacam itu, ‘kan?”

Sekarang setelah dia menyebutkannya, aku mulai merasa tidak begitu yakin lagi.

Ketika aku mencari ingatanku, aku ingat bahwa di SMP ada saudara kembar dan sepupu yang berada di kelas yang sama. Sepertinya banyak pekerjaan hanya untuk menyeimbangkan kemampuan akademik dan kepribadian siswa di setiap kelas, apalagi harus mempertimbangkan hubungan dan persahabatan mereka juga.

“Sekarang setelah kamu menyebutkannya, mungkin saja memang begitu.”

“Ngomong-ngomong, sepertinya aku tidak sekelas lagi dengan Maaya.”

“Ah, benarkah?”

“Hal yang sama berlaku untukmu, kan?”

“Hah?”

Aku berbalik untuk melihat daftar kelas lagi. Hmm, coba lihat... Ah, Maru tidak ada. Aku memindainya lagi dan melihat nama Maru di Kelas 3-3.

“Maaya ada di Kelas 3-3.”

“Itu berarti Maru sekelas dengannya, ya.”

Jika keduanya bersama, itu akan menjadi kelas yang menarik. Walaupun aku tidak tahu kenapa mereka berdua selalu bersaing.

“Karena kita bersebelahan, kita mungkin akan memiliki jam pelajaran olahraga bersama. Tapi, ketika sudah masuk kelas 3, ada lebih banyak jam pelajaran yang dipisahkan oleh pilihan jurusan, jadi mungkin tidak masalah jika kita tidak berada di kelas yang sama seperti mereka.”

Karena kelas yang kami pilih bervariasi berdasarkan apakah mereka mengambil jurusan IPA atau IPS, atau apakah mereka bertujuan untuk universitas nasional atau swasta, kami akan lebih sering dipisahkan ke dalam kelas yang berbeda dari sebelumnya.

“Sepertinya Maaya ingin memilih jurusan IPA.”

“Hah?”

Bukannya itu sedikit mengejutkan? Kalau dipikir-pikir, kupikir Maru juga mengincar bidang yang berhubungan dengan sains. Mereka berdua mungkin lebih mirip dari yang kukira.

“Dia bilang mimpinya adalah menjadi ilmuwan gila.”

“Kamu yakin dia tidak sedang membicarakan tentang anime...?”

“Benarkah? Aku tidak yakin apa dia sedang bercanda atau tidak.”

Kami berdua memiringkan kepala, karena sama-sama tidak memahaminya.

“Yah, pokoknya, mohon kerja samanya selama setahun ini ya, Asamura-kun.”

“Aku juga sama, Ayase-san.”

Bagaimanapun juga, mulai sekarang, kami berdua akan menghabiskan satu tahun bersama di kelas yang sama dan di sekolah yang sama. Intinya, aku merasa sangat senang.

Saat kami berjalan berdampingan menuju upacara pembukaan, kami membicarakan hal-hal seperti itu.

Tidak ada lagi orang di sekitar kami. Semua orang sudah bergegas ke gedung aula. Itu sebabnya kami bisa berjalan perlahan dan mengobrol santai seperti ini.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

“Maksudmu mengenai di sekolah?”

Kami belum secara resmi mengumumkan kalau kami adalah saudara tiri. Kami tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu atau menjadi topik pembicaraan yang aneh. Aku lalu memilih perkataanku dengan hati-hati.

“Pada dasarnya, kupikir tidak ada salahnya untuk tetap sama seperti dulu. Misalnya, kita bisa berjalan dan mengobrol tentang hal-hal seperti bagaimana kita berakhir di kelas yang sama, seperti yang kita lakukan sekarang.”

Kurasa itu wajar-wajar saja bagi siswa untuk melakukan hal-hal seperti itu. ketika aku mengatakan begitu, Ayase-san menanggapinya dengan terkekeh.

“Itu berarti, kita cukup bertingkah seperti teman sekelas biasa, ya?”

“Betul. Rasanya bakalan aneh jika kita menghindari pembicaraan.”

“Baiklah, aku mengerti,” kata Ayase-san sembari mengangguk.

Meski demikian—

Mempertimbangkan kepribadian Ayase-san, dia mungkin takkan bisa berbicara dengan mudah di sekolah layaknya dia berbicara di rumah. Dan karena Maru tidak bersamaku lagi, mungkin ada kalanya ketika aku takkan berbicara dengan siapa pun di sekolah.

 

 

Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama