Keiken-zumi Jilid 4 Bab 3 Bagian 4 Bahasa Indonesia


PART 4


Aku membuka mataku ketika merasakan beban lembut yang mendarat di punggungku.

Atau lebih tepatnya, baru pada saat itulah aku menyadari kalau aku ketiduran.

“Ah, apa aku membangunkanmu?”

Ketika aku melihat ke arah suara tersebut, aku melihat Luna berdiri di sana. Sebuah selimut menutupi tubuhku, yang terbaring telungkup.

Sejenak aku bingung dengan situasinya, tetapi tampaknya aku berada di kamar Luna dan tertidur di lantai semalam saat merawatnya. Mungkin karena aku kurang tidur setelah belajar di sekolah bimbel.

Aku melihat jam di kamarnya, dan menyadari kalau sekarang sudah pukul tujuh pagi. Cahaya pagi masuk melalui celah tirai.

“Ahh, selamat pagi...”

Luna sudah berganti pakaian dari gaun putihnya menjadi pakaian tidur biasa.

“Bagaimana kondisimu? Apa kamu sudah cukup istirahat?”

Saat aku bertanya padanya, Luna membalas dengan tersenyum.

“Ya. Sepertinya demamku sudah turun. Perutku tiba-tiba merasa lapar.”

Ahaha, Luna tertawa sedikit malu-malu.

“Oh, iya benar juga ... maaf, saya tidak membuat apa-apa untuk dimakan.”

“Enggak, sehaursnya aku yang minta maaf karena  tidak bisa menghidangkan apapun untukmu. Apa kamu juga merasa lapar, Ryuto?”

Meskipun aku masih dalam keadaan kantuk, memang benar aku merasa lapar semalaman.

“Aku membuat makanan lezat untuk pesta natal, loh? Karena kupikir kita akan makan di restoran, jadi aku hanya membuat ayam goreng dan kue saja.”

“Begitu ya… terima kasih.”

“Gimana kalau kita memakannya sekarang?”

“Ehh, pagi-pagi begini?”

Ayam dan kue?

“Enggak mau? Kamu taidak ingin memakannya?”

“Enggak juga, aku justru ingin segera memakannya.”

Luna tertawa bahagia saat mendengar jawabanku.

“Horeee! Ayo makan, ayo makan!”

 

Ketika kami turun ke lantai bawah, ruang tamunya masih sama seperti tadi malam. Sudah kuduga, sepertinya Ayah Luna tidak pulang kemari.

Luna menyiapkan ayam panggang utuh dan kue Natal berbentuk buche de noel. Kue tersebut dibuat dengan dasar kue gulung yang tersedia secara komersil dan mengikuti video panduan. Cara penyebaran krimnya terlihat amatir, tapi itu membuatnya terasa penuh cinta dan menggemaskan.

“Itadakimasu!”

Setelah membawa makanan ke kamar Luna, ini adalah pesta natal kami berdua yang dimulai pada pukul 7:30 pagi.

“Oh iya, suhu tubuhku sekitar 37,5 derajat. Kurasa demamku sudah turun sepenuhnya…”

Luna yang telah memasukkan termometer yang kusodorkan di sampingnya, mengeluarkannya dari leher jaketnya dan meletakkannya di atas meja.

“Jangan memaksakan dirimu, lebih baik kamu beristirahat saja dulu hari ini.”

“Yeah, kamu benar... Tadinya aku berencana bertemu dengan Nikoru dan yang lainnya, tapi aku akan membatalkannya.”

Luna segera mengeluarkan smartphone-nya dan mengetik pesan dengan berkecepatan tinggi.

“Bukannya rasa ayam ini kurang kuat? Maaf ya~. Apa kamu ingin memakannya dengan ditambahkan garam?”

Aku menggelengkan kepalaku saat Luna hendak berdiri.

“Tidak, aku baik-baik saja, kok.”

Sepertinya ada perbedaan rasa, jadi sejak tadi aku mencoba mencari yang lebih pekat dan yang lebih ringan untuk dimakan bersama.

“Benarkah? ... Ah iya, aku hampir kelupaan! Ini, hadiah Natal dariku!”

Luna membuka tas yang dia bawa kemarin dan memberikan sesuatu yang diambil darinya kepadaku. Itu adalah kado yang dibungkus dengan kantong hijau dan pita merah.

“Ayo buka, ayo buka!”

“I-Iya... terima kasih.”

Ketika aku membuka kantongnya, ada beberapa kantong kertas putih di dalamnya. Aku mengambilnya dan melihat......

“Jimat?”

Benda yang kutemukan adalah jimat yang sering dijual di kuil. Ada yang bertuliskan “Jimat Pendidikan” atau “Jimat Kelulusan", dan ada juga yang bertuliskan “Jimat untuk Kesehatan” atau “Perlindungan dari Bencana” bahkan “Keamanan Berkendara” juga.

“Ya. Pada awalnya, aku hanya berniat untuk membeli jimat untuk belajar, tapi saat Nikoru bilang 'Kalau pacarmu hanya belajar terus, tubuhnya bisa rusak, tahu?' Aku jadi khawatir dan merasa cemas tentang berbagai hal lainnya juga.”

Ehehehe, Luna tersenyum dengan polosnya.

Selain dari berbagai jimatnya, jika diperhatikan dengan baik, aku menyadari kalau bukan hanya satu nama kuil yang tertera di jimat tersebut.

“... Apa jangan-jangan, kamu pergi mengunjungi beberapa kuil?”

“Eh? Yeah.... Sesuatu yang disebut 3 Dewa wilayah Kanto? Aku menemukannya ketika mencari tahu info tentang jimat untuk belajar.”

'Tiga Dewa Wilayah Kanto'? Aku sama sekali tidak pernah mendengarnya.”

“Yeah. Karena aku ingin mencoba mengumpulkannya semua, aku pergi ke sana bersama Nikoru kemarin.”

“Jadi begitu.... Ini, Tani... Ho... Tenmangu? Dimana itu?”

“Ah, sepertinya itu dibaca ‘Yabo’, loh. Hmm, Aku menaiki jalur Keiou dari Shinjuku dan setelah satu kali transit, di sanalah tempatnya.”

“Eh, bukannya itu jauh banget, ya? Itu berarti kamu mengunjunginya tiga kali sebelum pergi ke restoran?”

“Iya.”

“Dari pagi-pagi? Pasti rasanya dingin, kan?”

“Ah ya. Itu adalah kesalahan hitunganku. Padahal hari sebelumnya, cuacanya masih hangat...”

Luna tersenyum dengan pahit.

Karena kuil pada dasarnya berada di luar ruangan, dengan penampilan Luna kemarin, perjalanan ke kuil pasti rasanya dingin. Mungkin hal itu juga yang menjadi penyebab kenapa dia tiba-tiba demam...entah kenapa aku jadi merasa bersalah.

“Karena belakangan ini, Ruuto, kamu benar-benar berusaha keras dalam belajar, kan? Aku hanya bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini...”

“Terima kasih banyak, Luna.”

Perasaan Luna membuatku bahagia, dadaku dipenuhi dengan perasaan hangat.

“Aku akan mengenakan semua talisman ini. Masih ada satu tahun lagi sampai ujian masuk universitas, jadi aku harus dilindungi dengan baik.”

Ketika aku mengatakan itu, Luna tersipu dan tersenyum malu-malu.

“Hehehe.”

“Ngomong-ngomong aku juga punya hadiah untukmu, Luna.”

“Eh!?”

Pada saat bertemu dengan kekasih di hari Natal, aku rasa sudah menjadi hal yang wajar untuk menyiapkan hadiah. Namun, Luna tampak terkejut dan membelalakkan matanya.

“Serius!? Apa itu!?”

“Aku akan mengambilnya sekarang... Tunggu sebentar ya?”

Dengan mengatakan itu, aku mengambil tasku dan meninggalkan ruangan.

“Selamat hari Natal.”

Aku masuk ke dalam ruangan dengan suara riang yang tidak biasa, membuat Luna terkejut dan mengedipkan matanya.

Gawat, apa aku tergelincir...?

Aku memakai topi merah, jas merah, dan mengenakan janggut putih serta kacamata. Semuanya adalah kostum Santa sederhana yang aku beli di toko serba-serbi..

──Santa datang ke rumah dan memberikan kami hadiah secara langsung. Aku merasa sangat senang.

──Tapi ternyata itu cuma ayahku yang berpakaian sebagai Santa.

Demi Luna yang menyukai kejutan, aku ingin mereka ulang kenangan Natal masa kecil yang pernah dia ceritakan sebelumnya.

Saat aku menyiapkannya, aku tidak pernah mengira bahwa pertemuan kemarin akan berakhir seperti itu, dan mengingatkan dia pada kenangan dengan ayahnya mungkin menjadi kontraproduktif... Rasa cemas pun menghampiriku saat dia tidak memberikan reaksi apa-apa..

“Umm ... ini hadiah untukmu...”

Aku memberikan bungkusan hadiah yang kupegang kepada Luna.

Aku harus melakukan sesuatu  menutupi suasana ini dengan kata-kata... Tetapi saat aku berpikiran begitu dan hendak berbicara….

“... Fufu...”

Luna tertawa.

Sambil tertawa, air matanya mulai mengalir dari sudut matanya.

“Eh!? Lu-Luna...?”

Aku langsung dibuat panik melihat reaksinya yang begitu, dan dia pun meneteskan air mata dari mata yang lain.

“Fufufu... Kamu itu Ryuuto, ‘kan? Aku bisa tahu karena kamu memakai kaus kaki yang sama…”

Luna menunjuk ke arah kakiku dan tersenyum. Bukan hanya kaus kaki yang sama, bahkan celananya juga sama, dan sebagai kostum, kualitasnya sangat rendah, tetapi karena Luna tertawa dengan bahagia sambil menangis, aku ikut tersenyum.

“Haha... Kelihatannya aku juga membuat kesalahan seperti ayah Luna...”

Setelah aku mengatakan itu, air mata Luna mengalir lebih deras, dan aku menyadari bahwa kata “ayah” benar-benar masih menjadi hal yang sensitif.

“Ma-Maafkan aku...”

Aku merasa panik dan meminta maaf, tetapi Luna menggelengkan kepalanya dengan berlinangan air mata.

“Enggak apa-apa kok, karena Sinterklasku bukan lagi ayahku.”

Ucap Luna dengan senyum kecil, dia lalu tiba-tiba mendekat dan bersandar ke arahku.

“...!?”

Aku membeku saat Luna tiba-tiba memelukku dan berbisik di dekat telingaku.

“….Aku tahu bahwa orang yang memberiku kebahagiaan adalah kamu, Ryuuto...”

“Luna...”

Rambutnya yang bergelombang menggelitik hidungku, dan detak jantungu berpacu dengan cepat.

Dia kemudian perlahan menjauh dariku, dan Luna menatapku dengan sedikit malu-malu.

“Nee, boleh aku membuka hadiahnya?”

“Eh, ya, tentu saja ...”

Setelah melihat hadiahnya sekali lagi, Luna dengan hati-hati membuka kemasannya di atas meja.

“...Ah, anting-anting!”

“Yeah. Cincin itu, terbuat dari permata bulan... ‘kan? Aku menemukan batu yang sama.”

“Masa!? Wahh itu benar-benar sama!”

Luna secara bergantian melihat cincin yang dia kenakan di jari manis tangan kanannya dan anting-anting itu. Sejak aku memberinya cincin saat festival musim panas, Luna selalu mengenakannya saat kami bertemu di luar sekolah.

Sekarang, anting-anting yang kuberikan pada Luna memiliki desain yang sama dengan cincin, dengan bahan dasar emas yang berkilauan dan batu alam putih yang sama. Meskipun tidak dibeli dari toko yang sama karena kubeli secara online, aku merasa berhasil menemukan sesuatu yang mirip seperti itu.

“Kurasa Luna sudah memiliki banyak anting-anting...maaf, hanya itulah satu-satunya ide yang terlintas dalam pikiranku.”

“Tidak! Aku senang! Bahkan jika aku memiliki banyak anting-anting, aku masih akan mengumpulkannya.”

Luna menggelengkan kepalanya dengan antusias.

“Selain itu ... saat membayangkan kalau hadian ini dipilih dan dibeli oleh Ryuuto, aku merasa sangat senang.”

Dengan pipi yang merah merona, Luna tersenyum dan menatapku.

“Terima kasih banyak, Ryuuto .... aku akan mencoba memakainya sekarang.”

Setelah mengatakan itu, Luna mulai melepaskan anting-anting yang dia kenakan. Kemudian, dia memasang anting-anting batu bulan di kedua telinganya.

Rambutnya dikumpulkan di satu sisi untuk memudahkannya dan tengkuk leher yang ramping berwarna putih terlihat. Keindahan dan keanggunannya membuatku terpesona.

“Selesai! Bagaimana menurutmu?”

Luna dengan senang hati menunjukkan anting-anting barunya padaku.

“Yeah, itu sangat cocok padamu.”

Itu jauh melebihi apa yang kupikirkan saat kubeli secara online, dan anting-anting tersebut memang sangat cocok untuk Luna.

“Horee! Hehe. Aku akan memakainya sepanjang hari ini~”

Luna berseru ceria sambil membawa anting-anting yang dilepas ke tempat tidur. Sepertinya dia ingin menyimpannya di atas meja lampu tidur yang telah disediakan untuk aksesorinya.

Di situ, Luna berlutut di atas tempat tidur dan menarik keluar sebuah boneka dari bawah salah satu lututnya.

“Oh, aku malah menginjaknya. Maaf ya, Chi-chan.”

Chi-chan?

Nama itu terdengar akrab dan membuatku terkejut.

“Itu...”

Aku menunjuk ke arah boneka tersebut, dan Luna mengangkatnya.

“Oh, ini? Ini Chi-chan si boneka kucing. Lucu banget, ‘kan? Aku mendapatkannya dari Maria waktu kecil.”

Luna yang sudah menyimpan anting-antingnya dengan satu tangan, menggenggam Chi-chan dan turun dari tempat tidur.

Chi-chan adalah boneka kucing kecil. Aku tidak tahu itu mengambil dari karakter apa, tapi matanya yang bulat dan terbuat dari plastik terlihat menggemaskan.

“Maria tuh, dia dulu pandai memohon. Aku selalu merasa iri padanya.”

Luna duduk di bawah tempat tidur seraya menatap Chi-chan, dan tiba-tiba bergumam.

“Aku selalu langsung mengucapkan apa yang kupikirkan sejak dulu, jadi perasaanku dianggap enteng. Ketika aku bilang 'Aku mau!' tentang mainan atau apa pun, mereka hanya mengiyakan saja dan tidak terlalu memperhatikanku.”

Dengan senyum getir, Luna tersenyum padaku.

“Tapi Maria dulu lebih pendiam dibandingkan denganku. Ketika berada di toko mainan pun, dia hanya diam-diam memandangi mainan. Orang dewasa sepertinya ingin membelikan sesuatu untuk anak yang seperti itu. Maria selalu mendapat perhatian dari bibi kami sejak kecil, dan dia selalu mendapatkan berbagai macam barang. Boneka ini juga salah satunya.”

“Jadi begitu ya.”

“Tapi sebenarnya, Maria kelihatannya tidak terlalu menginginkannya. Karena dia tidak menginginkannya, jadi dia tidak pernah mengatakan 'aku mau'. Itulah sebabnya aku yang menerimanya.”

Mendengar sudut pandang Luna tentang cerita yang kudengar dari Kurose-san terasa segar.

“Tapi, ada satu kali Maria pernah memintaku untuk mengembalikan Chii-chan,” ujar Luna dengan ekspresi sedikit sedih di wajahnya.

“Waktu itu aku merasa sangat sedih. Sejak awal Chi-chan sangat imut, tapi bukannya dia yang membuatnya berdebu di sudut ruangan? Jika dia menginginkannya kembali seperti itu, dia seharusnya merawatnya dengan baik sejak awal. Tapi kenapa dia mengatakan hal-hal seperti itu setelah aku mulai menghargainya? Aku merasa sedih dan marah, jadi aku memukulnya. Tapi itu bukan alasan yang benar, kan?”

Luna memiliki ekspresi yang dicampur dengan perasaan bersalah dan kekecewaan.

Melihat ekspresinya yang begitu, aku lalu memberitahunya.

“... Kurose-san bukannya menginginkan Chi-chan. Karena Chi-chan adalah sesuatu yang Luna sayangi, jadi dia merasa ingin memiliki Chi-chan.”

“Eh?”

“Karena dia menyayangi dan mengagumi, jadi dia ingin mendekati Luna.”

“...Apa itu yang Maria katakan?”

Luna menunjukkan ekspresi yang sedikit kaku.

“Yeah. Saat aku dan dia masih berteman.”

Ketika aku berkata begitu, Luna menggigit bibirnya dengan ringan dan menundukkan kepalanya.

“Begitu ya...”

Ketika dia mengangkat wajahnya lagi, ekspresinya sudah cerah.

“Jadi, Ryuuto sudah tahu tentang Chi-chan ya?”

“Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Aku terkejut karena dia lebih lucu dari yang aku bayangkan. Sepertinya kamu telah merawatnya dengan baik, ya?”

Walaupun secara keseluruhan terlihat agak usang, namun tidak ada noda kotor, dan terlihat jelas kalau dia rajin merawatnya dengan penuh kasih sayang.

“Yeah!”

Luna memeluk Chi-chan dan tersenyum.

Melihat tanggapan Luna seperti itu, aku pun ikut tersenyum juga.

“Syukurlah hubunganmu dengan Kurose-san sudah kembali seperti semula.”

“...Hmm, ya, benar sih.”

Aku merasa khawatir dengan keraguan sesaat Luna ketika dia mengangguk.

“... Apa masih ada sesuatu yang kamu khawatirkan?”

Luna menggelengkan kepalanya dengan lembut ketika mendengar pertanyaanku.

“Hmm tidak ada. Tapi, rasanya kita belum sepenuhnya kembali seperti dulu. Seperti ada tembok di antara kita... Karena selama enam tahun, hampir tidak ada komunikasi antara kami. Aku yakin banyak hal yang aku tidak mengerti tentang perasaan Maria dan situasinya. Mungkin di pihaknya juga sama.”

“Begitu ya...”

Mungkin itu adalah hal yang tidak bisa dihindari.

“Tapi, semoga kalian berdua bisa berbicara dan kembali seperti sebelumnya sedikit demi sedikit.”

“Yeah…. aku benar-benar berharap begitu.”

Luna bergumam pelan dengan senyum tipis.

“Walaupun kami tidak bisa hidup bersama seperti dulu... tapi setidaknya, aku ingin menjadi dekat dengan Maria sama seperti sebelumnya.”

Aku juga benar-benar berpikir begitu. Dan aku juga berharap kalau Kurose-san lebih banyak tersenyum.

“...Aku mirip seperti orang bodoh, ya.”

Pada saat itu, Luna tiba-tiba mengoceh dengan nada menghina diri sendiri.

“Karena Hari Natal adalah hari peringatan pernikahan, kan? Baik ayah maupun ibu sudah melangkah maju sejak lama.”

Luna memeluk Chi-chan dengan erat, hingga dagunya terletak di kepala Chi-chan.

“Selama seminggu ini, aku secara sembrono merasa gebira, melakukan kesalahan, dan merasa kecewa sendiri... rasanya seperti apa sih yang sedang kulakukan selama ini.”

“Hal seperti itu…”

Aku merasa kasihan dengan Luna, dan berusaha mencari cara untuk mengubah topic pembicaraan.

Lalu, aku tiba-tiba menceploskan suara “Ah iya” .

“Ngomong-ngomong tentang hari peringatan... minggu lalu merupakan hari peringatan setengah tahun kita berpacaran, ‘kan?”

Ketika aku memberitahunya begitu, Luna melebarkan matanya dengan terkejut.

“Oh iya! Benar juga!”

Seakan-akan masih belum mempercayainya, Luna berseru.

“Ehh, kenapa aku malah melupakannya!? Padahal aku masih mengingatnya sampai ujian! Ehhh~~, aku ingin merayakan peringatan setengah tahun kita bersama dengan benar~!”

“Apa boleh buat, karena kamu sibuk mempersiapkan perayaan malam natal, ‘kan.”

Aku juga terlalu sibuk dengan persiapan les musim dingin setelah ujian, jadi aku juga melupakannya sampai sekarang.

Aku mengingat minggu lalu ketika melihat Luna.

“... Ka-Kamu kenapa?”

Aku membeku tanpa sadar karena kaget.

Luna menangis. Air matanya jatuh dengan deras di kepala Chi-chan.

“Luna...? Kamu baik-baik saja?”

Luna menggelengkan kepalanya saat aku bertanya-tanya apakah dia begitu terguncang karena lupa merayakan setengah tahun hari jadian kami.

“Bukan begitu... Aku tidak pernah berpikir bahwa akan ada hari dimana aku akan melupakan hari jadianku dengan pacarku...”

Dia berbisik seperti itu dan menenggelamkan wajahnya di kepala Chi-chan.

“Saat aku merasa bahwa hubungan dengan Ryuuto telah menjadi bagian dari kehidupanku sehari-hari… aku merasa begitu bahagia...”

“Luna...”

Bagaimana perasaan Luna saat memperingati hari jadi dengan mantan pacarnya?

Satu bulan lagi. Satu minggu lagi... Apa dia bisa melanjutkan hubungan ini sampai saat itu?

Apa dia menghitung hari dengan perasaan seperti itu?

Jika demikian, aku mungkin memberikan ketenangan pikiran yang tidak bisa diberikan oleh mantan-matan pacarnya kepada Luna.

Ketika aku memikirkan itu, aku merasa hatiku semakin tegar.

“Kalau gitu, mari kita merayakannya sekarang. Hari peringatan enam bulan kita jadian.”

Ketika aku mengatakan itu, Luna mengangkat wajahnya.

"Yeah! Benar juga!” jawabnya sambil menyeka air matanya dan tersenyum.

Kami menuangkan lebih banyak cola ke dalam gelas yang sudah hampir habis, kemudian kami mengangkat gelas kami sekali lagi.

“Selamat Natal! Dan... untuk hari peringatan enam bulan kita, ayo bersulang~!”

Suara riang Luna bergema di dalam istana kecilnya.

Natal pertama yang aku rayakan bersama Luna berlalu dengan sedikit kegetiran, namun tetap tenang dan damai.

 

 

Sebelumnya  ||    ||  Selanjutnya

 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama