Keiken-zumi Jilid 5 Bab 1 Bagian 2 Bahasa Indonesia

Part 2

 

Pada hari Minggu setelah minggu itu berakhir, aku dan Luna sedang belajar di restoran cepat saji di dalam Stasiun A. Semua ini untuk persiapan demi menghadapi ujian akhir semester yang akan dimulai besok.

“……”

Sambil sesekali melirik ke arah ;una yang sibuk memperhatikan bukunya, aku menunduk dan fokus pada buku catatanku.

Sama seperti ketika Sekiya-san meledekku dengan kata “dasar tukang membual pacar”, aku tidak begitu serius menerima respons Luna yang berkata ‘benar-benar mustahil’. Aku berpikir bahwa dia membayangkan hubungan intim antara kami dengan serius, yang mengakibatkan rasa malunya yang meledak-ledak.

Namun…

“... apa ada pertanyaan yang tidak kamu pahami?”

Ketika aku bertanya padanya yang berada di hadapanku, Luna melihat ke arahku sejenak.

“Eh!?”

Tapi, dia segera mengalihkan pandangannya. Pipinya terlihat merah merona.

“T-Tidak ada sih, t-tapi...”

“Jadi, tidak ada?”

“Ta-Tapi jika kamu mengatakan itu, ada banyak hal yang tidak kupahami...”

“Jika ada hal yang kupahami aku akan mengajarimu satu per satu. Coba, sebelah mana yang tidak kamu pahami?”

“E-Ehh, di-dibilang enggak apa-apa, kok ... Ak-Aku merasa tidak enakan karena kamu juga sedang belajar, Ryuuto!”

Wajah Luna langsung memerah dan memalingkan mukanya, dan tatapan matanya juga melirik ke sana-kemari dengan gelisah.

“Tapi, karena kita mumpung sedang belajar bersama. Coba, pertanyaan yang mana?”

Aku berdiri dari kursi dan duduk di sebelah Luna yang berada di bangku seberang. Dalam prosesnya, sikuku  secara ringan bersentuhan dengan siku Luna melalui seragam.

“Hyann!?”

Kemudian, Luna menarik lengannya dengan cepat seraya menjauh dariku seakan-akan dirinya terkena sengatan listrik, dan menghadap ke arahku dengan wajah yang memerah. Ekspresinya wajahnya terlihat lemah seperti anak rusa, dan matanya tampak sedikit berbinar-binar.

“Bikin kaget saja... karena kamu tiba-tiba datang begitu.”

“Ma-Maaf...”

Tanpa sadar meminta maaf, aku menjauh sedikit dan duduk kembali di sampingnya.

Sejak hari itu... sejak Luna melarikan diri dengan berkata “Tidak, itu mustahil”, segala sesuatunya menjadi seperti ini. Saat aku mencoba untuk bergandengan tangan dengannya, dia akan berteriak “Hyann” dengan malu-malu dan langsung menjauhkan tangannya, bahkan saat aku mendekatinya hanya sedikit, wajahnya menjadi merah padam dan gelisah. Dia bahkan tidak bisa melakukan kontak mata denganku.

Ketika aku berpikir bahwa dia mulai menyadari keberadaanku sebagai seorang “pria” lebih dari sebelumnya, rasanya memang tidak begitu buruk, tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan terus terang saja aku dibuat kebingungan.

Dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa mengajaknya belajar berduaan di kamarku seperti biasanya, jadi kami datang ke toko ini setelah sekian lama.

Seolah-olah untuk menyamarkan kecanggungan, Luna mengulurkan tangannya ke atas meja. Dia mengambil pai apel yang tadi ditinggalkannya dengan kata-kata “Aku sudah kenyang dengan hamburger” dan mulai memakannya.

“... Pai apel ini juga enak sih, tapi...”

Setelah mencicipinya sebentar, dia bergumam.

“Kue yang disajikan Ibu Ryuuto rasanya selalu lezat.”

“Oh, kue 'Champfleur' itu ya.”

Setiap kali Luna datang berkunjung untuk belajar, ibuku sering membelikan kue dari toko kue di sekitar lingkungan rumahku.

“Mungkin ketika ada tamu yang datang, para tetangga yang ada di sekitar tempat tinggalku, merea semuanya menghidangkan kue dari toko itu. Toko tersebut dimiliki oleh seorang koki kue yang berlatih di Prancis, dan pernah dipromosikan di acara televisi nasional.”

“Menakjubkan sekali. Itu toko kue yang sering aku lewati ketika pergi ke rumahmu, bukan? Tempatnya juga kelihatan sangat modis.”

"Ya, benar. Kali ini jika Luna datang ke rumahku lagi, aku berencana untuk membelanjakan uang sedikit lebih banyak...”

“.....”

Gawat. Ucapanku tadi kedengaranya seperti mengajaknya, “Apa kamu mau datang ke rumahku untuk belajar ujian?” dengan sangat memaksa.

Seperti yang sudah kuduga, wajah Luna langsung merah merona dan menundukkan kepalanya. Padahal, percakapan kita tadi sudah berjalan dengan baik, tapi sekarang semuanya berantakan.

Sambil menghela nafas dalam hati, aku menundukkan pandangan ke buku pelajaran.

Tapi keadaan seperti ini ... mau sampai kapan hal ini terus berlanjut?

── Perkataan “Tidak itu mustahil” miliknya berarti “Aku merasa sangat malu”. Jika begitu, kamu hanya bisa menunggu sampai dia tidak merasa malu lagi, atau kamu harus membuatnya tidak merasa malu lagi.

Saran dari Sekiya-san kembali terlintas di dalam pikiranku.

Aku ingin membuat Luna tidak merasa malu lagi...

Aku juga ingin melakukannya. Aku memang ingin melakukannya, tapi... Bagaimana caranya?

Berbeda dengan soal tata bahasa bahasa Inggris yang tertera di depanku, itu pertanyaan yang lebih sulit bagimu karena tidak ada jawaban model yang bisa kucoba.

Aku merasa sesak dan tiba-tiba mengangkat wajahku.

Restoran makanan cepat saji pada Minggu sore akhir Februari hampir penuh dengan banyaknya pengunjung. Setiap meja ditempati oleh beberapa orang, dan kursi di meja penerimaan juga hampir penuh dengan siswa yang sedang belajar untuk ujian atau orang yang membuka laptop. Jika aku mendengarkan dengan saksama di dalam restoran yang cukup ramai ini, aku bisa mendengar musik latar asing yang mengalun dengan volume rendah.

Saat aku menundukkan pandangan sedikit, mataku tertuju pada paha putih yang terlihat dari bawah rok Luna yang duduk di sebelahku.

“.......”

Kalau dipikir-pikir lagi, kami mulai berpacaran saat sudah mendekati ujian akhir semester. Ketika kami pertama kali datang ke tempat ini dan belajar bersama, aku tidak bisa fokus pada buku pelajaran, dan merasa canggung. Karena aku bersama “Shirakawa-san,” yang aku kagumi, duduk bersandar bersama sebagai pasangan kekasih... Hanya menyadari situasi itu saja sudah membuat jantungku berdegup kencang, aku merasa gugup dengan bau wanginya, dan ingin terus melihat wajahnya yang begitu cantik... Pada waktu itu, aku benar-benar merasakan kegembiraan yang tak terkendali.

Setelah aku berpikir sejenak, aku merasa kalau keadaan Luna saat ini terlihat mirip dengan diriku yang dulu. Dia merasa terganggu oleh pendekatan pihak lain, merasa tersipu malu, dan terlihat canggung...

Walaupun dia ingin mendekatiku, tapi sepertinya dia merasa gugup.

“......”

Jika begitu, tindakan yang harus aku ambil sekarang adalah bertindak seperti Luna yang dulu pernah memperlakukan diriku.

Luna selalu ceria dan penuh semangat. Dia terus berkomunikasi dengan sikap positif tanpa mempedulikan seberapa gugup dan canggungnya diriku.

──Ada kesempatan!

Dia berkata begitu dan memberiku ciuman pertama di atas perahu di danau taman.

Dia menghilangkan keteganganku yang mungkin membuatku kaku karena aku begitu khawatir tentang kontak fisik.

“.......”

Tidak, jelas-jelas mustahil melakukan ciuman di tempat seperti ini. Aku tidak memiliki nyali yang begitu besar untuk melakukannya.

Tapi, aku yakin memang begitu.

Aku tidak boleh bingung. Aku harus terus mengambil inisiatif untuk berkomunikasi... Tetapi masih tetap menjadi diriku sendiri.

Karena pada saat itu pun, aku sebenarnya ingin lebih dekat dengan Luna. Tapi karena kurangnya ketahanan terhadap gadis dan rasa percaya diri, aku tidak bisa berperilaku secara alami sebagai pacarnya.

Aku tidak begitu mengerti kenapa Luna menjadi seperti ini, tetapi jika alasannya karena dia merasa “malu”, itu berarti dia tidak membenciku.

Jika demikian, tindakan tepat yang harus kulakukan ialah...

“Sudah kuduga, aku akan mengajarimu.”

Ketika aku duduk kembali dan mendekatkan diri, Luna sekali lagi dibuat kaget sejenak.

“E-Ehh, di-dibilangin enggak usah, kok...!”

“Aku hanya ingin melakukannya. Apa pertanyaan yang ini?”

Sambil menunjuk pertanyaan yang dia lihat, Luna mengangguk dengan pipi memerah.

“I-Iya, soal yang melengkapi kalimat...”

 

he )( failed the test, she )( )( happier.

Jika ia tidak gagal ujian, dia akan lebih bahagia.

 

“Karena ada kata 'moshi', kamu mengerti kalau itu masuk dalam tanda kurung pertama, ‘kan?”

“Hmm~~ 'if'?”

“Iya, iya. Jadi, ingatlah apa yang kamu pelajari dalam bentuk kondisional...”

Saat aku sedang menjelaskan, Luna tiba-tiba mengerutkan keningnya, dan menunduk dalam-dalam

“... Luna?”

Ketika aku memanggilnya, dia melirik ke arahku.

“Ahh ... aku mendengarkannya kok, jadi tolong dilanjutkan.”

“Ye-Yeah ...Jadi, dalam kalimat ini 'ia' sebenarnya 'gagal dalam ujian', kan?”

“...Iya...”

“Jadi, ini adalah kalimat asumsi yang bertentangan dengan fakta masa lalu, sehingga menggunakan bentuk kondisional masa lalu sempurna...”

Karena tingkah Luna masih terlihat aneh, jadi aku berhenti menjelaskan.

Luna kemudian mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Ryuuto.”

“Hmm?”

“Apa Sekiya-san sudah diterima di suatu perguruan tinggi? Apa kamu tahu sesuatu tentang itu?”

“Eh.”

Aku tidak mengira dia akan bertanya hal seperti itu, jadi aku sedikit terkejut.

“Tidak... Aku belum pernah mendengarnya.”

Aku merasa kalau Luna terlihat sedikit mengerutkan keningnya, jadi aku segera melanjutkan perkataanku.

“Ta-Tapi, karena ia begitu rajin belajar setiap hari, aku yakin ia pasti akan diterima di suatu tempat.”

Setelah mendengar itu, wajah Luna menjadi cerah.

“Benar sekali, iya ‘kan!”

“Y-Ya.”

“…Ketika aku melihat pertanyaan ini, aku jadi teringat dengan Nikoru dan merasa cemas.”

Bisik Luna dengan wajah yang agak murung. Melihatnya ekspresinya yang begitu, hatiku menjadi hangat.

“Kamu sangat memedulikan temanmu, ya, Luna.”

Begitu mendengar kata-kataku, Luna menatap ke arahku sejenak, tapi dia segera memalingkan wajahnya.

Aku menatapnya dengan penuh perhatian... mencoba untuk membuka mulutku.

Karena ini adalah keputusan yang kukambil tadi. Meskipun Luna merasa malu, aku akan terus berkomunikasi dengan tekad positif.

 “... sifatmu… yang begitu ... aku sangat menyukainya.”

Aku berhasil mengatakannya, meskipun dengan cara yang terbata-bata.

Aku merasa lega dan kembali menatap Luna, dia memandangiku dengan wajah yang memerah.

“......!”

Namun, ketika tatapan mata kami bertemu, dia mengalihkan pandangannya dan menundukkan kepala dengan gelisah.

Sepertinya ini tidak berhasil, huh…. Saat aku berpikiran begitu, pipi Luna masih terlihat merah merona dan dia melirik ke arahku.

Ekspresinya terlihat lebih rileks daripada sebelumnya, dan terpancar rona kebahagiaan di wajahnya.

“Umm, Ryuuto?”

Dengan rasa malu sekaligus senang, Luna membuka mulutnya.

“Hmm, apa?”

“Setelah ujian selesai, bagaimana kalai kita pergi berbelanja?”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Luna akhirnya berbicara kepadaku sambil melakukan kontak mata. Aku sangat senang tentang itu sampai-sampai ingin mengangguk dengan penuh semangat ..... Kemudian, aku mengingat-ngingat tanggal kalender di dalam kepalaku.

“Yeah... maksudmu sebelum perjalanan sekolah?”

Setelah ujian akhir semester selesai pada hari Jumat, tidak ada kegiatan belajar mengajar di sekolah hingga Kamis minggu depan karena libur pasca ujian. Pada hari Jumat, hanya ada upacara penutupan sekolah dan pengembalian hasil ujian, dan kemudian liburan musim semi yang cerah resmi dimulai.

Kami para murid-murid kelas dua, akan pergi wisata studi mulai Senin minggu depan. Aku sudah bersiap-siap karena jadwal ini sudah ada sejak generasi sebelumnya, tetapi rasanya sangat disayangkan karena liburan musim semi yang berharga ini terbuang begitu saja.

“Betul. Setelah ujian selesai, kita bisa langsung melakukannya. Bagaimana kalau dengan hari Minggu?"

“Iya, aku tidak masalah, kok.”

Jika memang begitu masalahnya, maka…. Pada saat aku hendak menganggukkan kepala setuju, Luna tiba-tiba berbicara dengan terburu-buru.

“Terus begini, Akari juga akan ikut bersama kita, gimana? Boleh enggak?”

“Eh? Bo-Boleh saja sih... tapi, mengapa?”

Aku dibuat bingung dan tercekat ketika mendengar nama yang tak terduga.

“Pada awalnya, aku diajak oleh Akari untuk berbelanja. Akari sebenarnya ingin menjadi stylist dan berencana masuk jurusan fashion, tapi karena dia berukuran P, dia jadi kesulitan berbelanja. Akhir-akhir ini, dia agak bingung dengan pilihan untuk masa depannya.”

“Ukuran P?”

“Maksudnya itu ukuran yang kecil. Ukuran S adalah ukuran untuk tubuh yang ramping, tapi panjangnya biasanya disesuaikan dengan tinggi normal, kan? Untuk gadis yang pendek, ukuran S pun masih terlalu besar.”

“Be-Begitu ya...”

“Itu sebabnya, dia ingin aku mencobanya karena aku mempunyai tinggi yang rata-rata. Dia ingin merasakan asyiknya mengoordinasikan pakaian dan menegaskan kembali mimpinya.”

“Aku mengerti itu, tapi kenapa kamu tidak pergi berduaan saja dengan Tanikita-san? Aku mungkin bisa membantu membawa barang belanjaan, tapi meskipun aku ikutan datang...”

Palingan aku hanya mengganggu obrolan mereka..... atau lebih tepatnya, jika aku bersama Tanikita-san dan Luna, rasanya sedikit canggung... pikirku, lalu Luna melihat-lihat sekeliling. Meskipun aku tidak tahu apa yang dia periksa, dia akhirnya terlihat tenang dan dengan lembut berbisik.

“Jadi, sebenarnya, aku ingin Ryuuto mengajak Ijichi-kun juga.”

“Icchi?”

Aku lagi-lagi dibuat terkejut dengan kehadiran nama yang tak terduga.

“Apa itu berarti kita akan melakukan kencan ganda?... Apa Tanikita-san sendiri yang memintamu?”

“Ya mana mungkin lah! Itu adalah kejutan untuk Akari. Walaupun dia sangat tertarik pada Ijichi-kun, karena kejadian sebelumnya, dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya padanya, kan? Jika jarak di antara mereka bisa diperkecil di sini, mungkin hubungan mereka bisa berkembang dengan baik saat perjalanan wisata sekolah.”

“Hmm...”

Aku menggeram. Dengan perasaan Tanikita-san yang seperti itu, aku merasa penasaran, apa semuanya akan baik-baik saja dengan Icchi saat ini yang hanya memikirkan KEN?

Mau tak mau aku jadi merasa cemas, tapi seperti yang aku katakan padanya tadi, aku menghargai perhatian Luna terhadap temannya, jadi jika aku bisa membantu, aku akan melakukannya semampuku.

“... Baiklah. Aku akan mencoba mengajaknya.”

Setelah aku mengangguk, ekspresi Luna semakin cerah.

“Horee!”

Dia mengangkat kedua tangannya dengan ringan, melompat ke belakang seolah menjauh dariku.

“Terima kasih, Ryuto... Eh, wawawa!”

Ada suara benda jatuh di lantai, dan Luna buru-buru mengambilnya dengan panik.

Benda yang jatuh itu ternyata adalah tasku. Karena kursi ini untuk dua orang, aku meminta izin untuk meletakkan barang-barangku di sisi bangku, dan sepertinya tadi disenggol Luna dan terjatuh.

“Maaf... Apa ini lubang yang baru terbentuk?”

Luna melihat tas yang kuambil dan memperlihatkan bagian bawahnya ke arahku.

Tasku adalah tas ransel berbahan kain, mungkin bisa dibilang kanvas, yang terbuat dari bahan yang cukup kuat. Namun, sudut bagian bawah yang sering terkena sudut buku teks gampang sekali tergores, dan akhirnya benar-benar sobek.

“Oh, bukan. Lubang itu sudah ada sejak awal tahu.”

Jawabku sambil menggaruk-garuk kepalaku.

“Karena cuma ini satu-satunya tas yang lumayan layak. Selama liburan musim dingin, aku selalu membawa beberapa buku bimbel setiap hari, dan karena terlalu berat, tas ini mulai rusak. Aku berpikir kalau aku harus membeli yang lebih bagus lagi...”

Bagi mereka yang tidak terlalu peduli dengan mode atau fesyen, “membeli pakaian” adalah acara yang membosankan dan merepotkan. Oleh karena itu, aku terus menunda-nundanya dan jadi beginilah hasilnya. Aku merasa malu karena tas berlubangku dilihat oleh pacarku, dan aku merasa tidak nyaman. Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik karena merasa canggung.

“Hmm...”

Luna bergumam dengan ekspresi serius di wajahnya.

“Maaf, aku kelihatan norak, ya.”

Mendengar perkataanku yang menyindir diri sendiri, Luna menggelengkan kepalanya dengan ringan.

“Tidak, sama sekali tidak, kok. Hal itu justru menunjukkan bahwa kamu berusaha keras dengan membawa banyak peralatan belajar, kan?”

“Umm, yeah…”

Entah karena aku terlalu malas membeli yang baru atau terlalu nyaman dengan tas ini, tapi yang pasti aku bolak-balik membawa buku pelajaran yang berat antara rumah dan sekolah bimbel.

“... Aku juga harus belajar sedikit dari Ryuuto.”

Luna tersenyum saat mengatakan itu, dan ekspresinya menjadi jauh lebih santai daripada sebelumnya. Aku tidak tahu apakah upayaku berhasil atau tidak, tetapi aku memutuskan untuk maju sedikit demi sedikit.

 

 

Sebelumnya  |     |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama