Roshidere Jilid 6 Chapter 5 Bahasa Indonesia

Bab 5 — Aku Merasa Semangat Kok, Tapi Dalam Artian Yang Berbeda

 

“Kamu yakin? Kerjaanmu sebagai panitia festival sendiri gimana?”

“Ah, untuk sementara ini sih aman-aman saja. Lagipula, para panitia senior justru lebih cakap.”

“Haha, yah, karena ketua OSIS saat ini dan mantan ketua OSIS bekerja sama, sih.”

Hari kedua Festival Budaya Shureisai. Masachika mengajak Takeshi dan Hikaru berkeliling halaman sekolah di sela-sela pekerjaan kepanitiaannya.

“Selain itu, tugas utama ketua dan wakil ketua OSIS saat ini adalah berurusan dengan Raikoukai. Kepanitiaan masih bisa berjalan lancar tanpa ada kehadiran mereka berdua, jadi seharusnya takkan ada masalah meskipun aku tidak ada.”

“Ah~ Raikoukai ya~... Mereka akan datang hari ini, ‘kan?”

“Kira-kira kamu tahu siapa saja yang akan datang?”

“Tidak, informasi semacam itu sih berada di tangan Ketua dan Sarashina-senpai... Aku juga tidak tahu rinciannya. Sejujurnya, aku sendiri tidak terlalu tertarik.”

“Apa iya? Sepertinya ada banyak orang yang ingin mengambil kesempatan ini untuk bisa mendekati mereka, loh.”

Masachika mengangkat bahunya saat Takeshi melanjutkan, sambil melihat pajangan di sekelilingnya, “Mereka berusaha sebaik mungkin untuk menarik perhatian orang dengan dekorasi di pintu masuk”.

“Aku sih cuma warga negara biasa yang orang tuanya adalah seorang diplomat.”

“Tidak, menurutku itu saja sudah cukup mengagumkan bahwa orang tuamu adalah seorang diplomat... di tambah lagi, ayahmu menjabat posisi penting, bukan?”

“Jabatan semacam itu tidak terlalu spesial di akademi ini. Atau lebih tepatnya, ada teori bahwa jika tidak mempunyai latar belakang yang bagus, kamu takkan bisa lulus wawancara ujian masuk sejak awal.”

“Ahh, yah… ada desas-desus yang mengatakan bahwa calon siswa cukup banyak disaring oleh latar belakang keluarga dan pekerjaan orang tua mereka.”

“Dan juga, jangan lupa ini, nih.”

Masachika dan Hikaru tersenyum kecut kepada Takeshi yang membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya ketika mengatakan itu. (TN: You know lah, duit :v)

“Yah, begitulah. Lagian, ngapain juga kita membicarakannya? Pokoknya, aku ada waktu bebas untuk sementara waktu.”

“Begitu ya. Ah, ada kios takosenbei*. Aku akan membelinya dulu… kalian berdua bagaimana?” (TN: Makanan yang sekilas mirip seperti rempeyek dari Indonesia, bedanya isiannya itu bukan udang atau ikan kecil, tapi gurita)

“Aku sih tidak usah.”

“Aku juga sama ... kamu jangan khawatir tentang itu dan belilah saja sana.”

“Oke. Kalau gitu, tunggu sebentar, ya.”

Setelah mengatakan itu, Hikaru pun pergi menuju kios tako senbei. Ketika melihat punggungnya yang menjauh, Takeshi tiba-tiba menyeringai dan berbicara kepada Masachika.

“Oh iya, kemarin gimana?”

“Kemarin?... maksudmu pertandingan kuis?”

“Ya bukanlah! Habis setelah itu... kamu berkencan dengan Alya-san, iya ‘kan?”

“Ahh. Yah, ketimbang dibilang kencan... apa kamu melihatnya? Kalau memang melihatnya, kuharap kamu menyapaku.”

“Yah, itu sih...”

Mendengar kata-kata Masachika, Takeshi tersenyum samar-samar dan melirik ke arah Hikaru.

(Begitu rupanya, kamu sudah mencoba memanggilku, tapi kamu dihentikan oleh Hikaru, ya)

Setelah membaca makna tersirat itu dengan akurat, Masachika tersenyum masam.

“Padahal kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang itu segala.”

“Tidak, tapi sepertinya suasana di antara kalian kelihatan sangat bagus... Jadi sebenarnya, gimana? Kalian berdua adalah partner dalam kampanye pemilihan, jadi apa hubungan kalian takkan condong ke arah seperti itu?”

Itu adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Meski Masachika merasakan kesukaan Alisa padanya, tapi dirinya tidak berniat untuk mengembangkan hubungannya dengan Alisa. Ada juga penilaian rasional bahwa membawa masalah percintaan ke dalam kampanye pemilu merupakan hal yang berisiko. Selain itu, tampaknya Alisa sendiri belum menyadari bahwa rasa sukanya itu dalam artian romantis. Secara keseluruhan, walaupun jarak di antara mereka semakin dekat, tetapi tidak ada kemajuan apa-apa.

“... Yah, kami berdua memang lumayan dekat, tapi cuma sebatas itu saja. Bukannya berarti kami pacaran atau semacamnya.”

“Jadi begitu ya…”

“Apa? Kamu merasa panik karena aku mengambil langkah duluan?”

“Hah! Ya enggaklah! Aku hanya—”

“Anuu~ permisi~”

Di sana, mereka bisa mendengar ada suara yang memanggil dari samping, dan Takeshi berbalik dengan wajah seperti “Hm? Aku?”. Masachika juga ikut menengok dan melihat seorang gadis seumuran yang terlihat seperti tamu dari luar. Dia adalah gadis yang cantik dan manis dengan gaya rambut pendek yang berwarna cerah. Gadis itu menatap wajah Takeshi sejenak, dan kemudian bertanya dengan nada ragu-ragu.

“Kami adalah murid dari sekolah Doujo, dan kami sedang mencari seseorang yang bisa sedikit memandu kami… Jika kamu tidak keberatan, maukah kamu pergi bersama kami?”

“Eh, ah, kami?”

“Ya”

Gadis tersebut tersenyum denga menawan. Nama sekolah yang disebutkan tadi adalah nama SMA perempuan yang cukup terkenal di daerah sekitar sini. Jika dilihat baik-baik, ada dua gadis manis yang sepertinya adalah temannya yang berdiri agak jauh. Akan tetapi……

(Ah begitu rupanya)

Masachika menebak ketika melihat separuh dari kelompok mereka melirik ke arah Hikaru. Sepertinya, incaran mereka adalah Hikaru. Jika dia secara blak-blakan ingin ditemani oleh Hikaru, dia akan mendapatkan permusuhan dari Masachika dan Takeshi, jadi dia sengaja datang mendekat saat orang incaran mereka sedang pergi menjauh... atau itulah yang Masachika pahami.

“Eh, eh~ Serius? Tidak, kamu yakin~?”

Takeshi menggaruk kepalanya sambil menyeringai lebar tanpa terlihat menyadari niat mereka. Ia kemudian melihat ketiga gadis itu secara bergantian sambil terlihat cengengesan, dan melihat ke arah Masachika, seakan-akan mengatakan 'Hiya~ aku jadi bingung nih~'. Takeshi lalu berbalik menghadap gadis itu dan menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya.

“Maaf! Aku merasa sangat senang dan terhormat karena sudah diajak, tapi kami punya pacar! Aku tidak ingin terbunuh oleh kecemburuan, jadi aku tidak bisa pergi bersamamu. Aku benar-benar minta maaf!”

“Eh? Ah, Be-Begitu… yah, jika memang begitu masalahnya…”

Mungkin dia benar-benar terkejut. Gadis itu mengedipkan matanya dengan wajah lurus, sedikit memiringkan kepalanya, dan kembali ke teman-temannya. Melihat mereka bertiga mendiskusikan sesuatu lalu pergi, Masachika memanggil Takeshi yang masih menyatukan kedua tangannya.

“Sejak kapan kamu punya pacar?”

“Apa boleh buat, ‘kan~? Aku tidak bisa memikirkan cara lain untuk menolak tanpa menyakiti gadis-gadis itu.”

“Yah, menurutku itu keputusan yang bagus, tapi… kamu yakin menolak ajakan mereka?”

Mendengar pertanyaan Masachika, Takeshi berbalik sambil meringis dan mengertakkan gigi sekuat tenaga.

“Mana mungkin aku bisa dengan ikhlas menolaknya~! Ahhh~ sayang banget!Padahal ini bisa saja menjadi masa-masa kepopuleranku yang pertama dan terakhir!”

“Tidak, itu sih...”

Dalam banyak hal, itu adalah kesalahan. Masachika tidak dapat mengatakannya dan menutup mulutnya. Takeshi yang memegangi kepalanya dan menggeliat-geliatkan tubuhnya, akhirnya menghela napas lelah, “Haa,” dan kembali ke dirinya seperti semula.

“Tapi, aku yakin kalau Hikaru tidak ingin pergi berkelliling dengan gadis yang tidak dikenalnya, selain itu… kamu juga tidak terlalu menyukainya, kan?”

“Yah...”

“Benar, ‘kan? Jadi, aku tidak terlalu menyesalinya. Aku bahkan takkan bisa melakukannya dengan jika kami jadi berkeliling bersama.”

Ketika Takeshi mengatakan itu dengan sedikit penyesalan, Masachika berpikir dengan tulus, ‘Ia memang cowok yang sangat baik...’.

(Yah, aku sudah lama tahu itu... tapi aku berharap ia bisa mendapat kebahagiaannya)

Kenapa ia tidak bisa punya pacar padahal ia adalah cowok baik-baik yang peduli dengan teman-temannya. Sambil merasakan absurditas dunia, Hikaru kembali dengan tako senbei di tangannya.

“Maaf sudah membuat kalian menunggu... lah, apa yang terjadi pada Takeshi?”

“... sedang meratapi nasib buruk yang menimpanya.”

“? apa maksudnya itu?”

Ketika Hikaru memiringkan kepalanya, suara gemerincing terdengar di dekatnya, diikuti oleh suara tergesa-gesa yang mengatakan “Ah”.

Saat mereka bertiga melihat ke arah sumber suara tadi, ada seorang siswi yang memegang keranjang plastik terlihat panik saat mainan bola mantul yang jatuh dari keranjang. Rupanya, beberapa mainan bola mantul yang dia bawa terjatuh saat menabrak sesuatu. Bola yang jatuh menghantam tanah dan kaki orang yang kebetulan lewat, memantul, serta berhamburan ke berbagai arah.

“Adadah.”

Masachika melihat pemandangan itu dan merasa bimbang selama beberapa saat, apakah dirinya harus pergi membantu.

(Jaraknya juga agak jauh, jadi meskipun aku membantunya sekarang... pertama-tama, dia mungkin tidak terlalu keberatan jika menjatuhkan beberapa bola. Ada kemungkinan besar aku harus melakukan banyak pekerjaan ekstra, ditambah lagi kecocokanku dengan bola...)

Selama jeda beberapa sejenak itu,

“Tunggu sebentar, ya.”

“Oke.”

Hikaru mulai bergerak.

Setelah mendorong tako senbei ke arah Masachika, ia tidak ragu-ragu untuk menghampiri gadis yang sedang kesusahan tadi. Hikaru kemudian dengan cepat mengambil bola dalam jarak yang terlihat, dan bahkan tidak ragu-ragu untuk mengumpulkan bola yang jatuh di bawah kios terdekat dengan berbaring di atas tanah. Hikaru rela mengotori tangan dan lututnya dengan kotoran dan debu.

Pada saat Masachika dan Takeshi berhasil menyusulnya, ia sudah hampir selesai mengumpulkan bola-bola yang jatuh.

“Te-Terima kasih banyak. Benar-benar terima kasih banyak.”

“Ini tidak seberapa kok, lain kali hati-hati, ya.”

Hikaru melambaikan tangannya dengan wajah bermasalah pada siswi yang menundukkan kepalanya dengan frustrasi dan melihatnya pergi. Melihat adegan tersebut, Masachika memberi tahu Takeshi dengan tatapan penuh pengertian.

“Apa sekarang kamu paham, Takeshi? Itulah yang dimaksud dengan cowok yang populer, oke?”

“Kuh, aku tidak bisa menang...”

“Tidak, bukannya aku berniat ingin jadi populer...”

“Aku tahu kok. Aku hanya ingin mengatakan kalau itu sangat menakjubkan bisa bergerak tanpa ragu di dalam situasi seperti itu.”

Masachika memuji Hikaru, yang memiliki ekspresi bermasalah di wajahnya lagi.

Hikaru selalu seperti itu. Ketika ada banyak orang ragu-ragu sejenak, berpikir bahwa hal itu mungkin akan merasa tidak nyaman atau memalukan, Hikaru adalah orang pertama yang menjangkau mereka yang kesusahan. Bahkan jika itu adalah gadis atau seseorang yang tidak disukainya. Terlepas dari siapa saja, Hikaru adalah orang yang baik hati dan memiliki moto 'Ketika dalam masalah, kita harus saling membantu'.

(Ya ampun… mereka berdua benar-benar cowok yang sangat baik)

Mereka berdua adalah sahabat terbaik dan ia merasa bangga dengan mereka. Masachika bisa mengatakan itu dari lubuk hatinya. Itulah sebabnya ... ada beberapa hal yang tidak bisa ia maafkan. Ada beberapa hal yang mana mungkin ia bisa abaikan begitu saja.

“... Ups, kurasa sudah waktunya aku pergi”

“Oh, begitu ya. Sampai jumpa di gladi resik nanti, ya.”

“Semoga berhasil dengan pekerjaanmu sebagai anggota panitia.”

“Yoi.”

Setelah mereka bertiga berkeliling bersama selama sekitar 40 menit, Masachika meninggalkan mereka dan menuju gedung ruang klub. Namun, dirinya justru tidak memasuki gedung ruang klub, melainkan berputar mengelilinginya untuk pergi ke belakang. Tidak ada pameran atau kios di sana, jadi hanya orang-orang yang tersesat saja yang akan datang. Di belakangnya, tepat di bawah pohon besar. Ada seseorang yang menunggunya di titik buta dari jendela gedung ruang klub.

Di sana, ada seorang gadis yang memakai topi sampai menutupi matanya dan cenderung melihat ke bawah. Masachika lalu mendekatinya dan memanggilnya dengan suara datar.

“Yo, Shiratori.”

Sapaan yang singkat. Tidak ada kata “maaf sudah membuatmu menunggu” atau “maaf sudah memanggilmu kemari”, yang merupakan sapaan yang ramah. Sebagai tanggapan, gadis itu juga menanggapi dengan tatapan yang bahkan tidak menunjukkan sedikit pun keramahan.

“... Ada urusan apa kamu memanggilku ke sini?”

Nama gadis yang bertanya dengan lantang itu adalah Shiratori Nao. Dia adalah mantan siswa Akademi Seirei yang pindah ke sekolah lain sebelum semester kedua, dan sampai sebulan yang lalu, dia adalah vokalis band [Luminous], di mana Takeshi dan Hikaru awalnya menjadi bagian darinya. Dan dia juga yang bertanggung jawab atas runtuhnya band tersebut setelah menyebabkan pertengkaran yang memalukan ketika dia pergi.

“Bahkan menggunakan sesuatu seperti ini untuk memancingku... apa yang sedang kamu rencanakan?”

Dengan sikapnya yang tetap tidak ramah, Nao mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya. Amplop itu dititipkan oleh Masachika kepada mantan wali kelas Nao.

Nyatanya, Masachika yang sempat memiliki keraguan mengenai bubarnya band tersebut, sudah mencari-cari Nao yang pasti tahu kebenarannya. Namun, Nao sudah mengganti smartphone-nya saat dia pindah ke sekolah baru dan menghapus akun media sosialnya, sehingga dia tidak dapat dihubungi sama sekali.. Bahkan dengan jaringan informasi Masachika, dia benar-benar menghilang dan kabarnya tidak pernah terdengar lagi.

Jadi, Masachika membuat rencana dan menghubungi mantan wali kelas Nao, satu-satunya orang yang mungkin bisa menghubungi Nao. Masachika kemudian membujuk sang guru dengan mengatakan dengan penuh semangat bahwa ia sangat ingin menyampaikan surat kepada Nao, yang tiba-tiba pindah sekolah, dan gurunya, tergerak oleh antusiasme Masachika, memberikan amplop tersebut kepada Nao. Namun, isi yang ada di dalamnya bukanlah surat cinta maupun surat perpisahan... isinya adalah tiket undangan ke Festival Shuureisai dan satu pesan.

“Apa-apaan maksudmu ini? 'Jika kamu tidak datang, aku akan mengungkapkan kebenaranmu kepada anggota band Luminous.'…”

Masachika dengan dingin mengangkat bahunya ke arah Nao yang membacakan pesan itu dan menatap tajam ke arahnya.

“Apapun maksudnya, kamu sendiri yang paling tahu artinya, ‘kan? Itu sebabnya kamu menerima undangan dan datang jauh-jauh ke sini.”

“...”

Nao langsung terdiam ketika mendengar kata-kata Masachika. Mereka berdua saling bertatapan untuk sementara waktu seolah-olah mencari maksud satu sama lain.

Masachika mendengar dari Takeshi bahwa alasan bubarnya band tersebut dipicu oleh pernyataan Nao kepada pemain bass mereka, Makino Ryuuichi, yang dia pacari saat itu, bahwa dirinya hanya asal berpacaran dengannya saja, dan sebenarnya dia menyukai Hikaru. Akibatnya, Ryuichi sangat patah hati, dan Minase Riho, si pemain keyboard, sangat terkejut dengan perilaku teman masa kecilnya, Nao, sehingga mereka berdua keluar dari band…. atau begitulah cerita yang didengarnya. Tentu saja, Masachika hanya mendengarnya melalui orang lain, jadi dirinya tidak tahu seberapa akurat detailnya. Tapi meski begitu, karena Masachika melihat anggota Luminous dari luar... ada kebohongan yang hanya dirinya saja yang memahaminya.

“Kamu sebenarnya sama sekali tidak menyukai Hikaru, iya ‘kan?”

“Hah!”

Nao menanggapi pernyataan Masachika dengan mengerutkan alisnya dan menutup erat bibirnya. Melihat ekspresinya itu, Masachika memperdalam keyakinannya.

Nao mengungkapkan kalau dia menyukai Hikaru setelah Riho mengungkapkan, ‘Nao-chan mengatakan kalau ada anggota Luminous yang dia sukai.’ Inilah yang didengar Masachika langsung dari Riho setelah band itu bubar, tapi dikatakan bahwa Nao bergabung dengan band sebagai anggota kelima dan terakhir Luminous, dia lalu mengatakan kepada Riho mengenai hal itu sebagai motivasinya untuk bergabung dengan band.

Riho sepertinya tidak menyadarinya, tapi Masachika segera menyadarinya setelah mendengar ceritanya. Itu adalah pernyataan pengalihan terhadap Riho. Jika dia hanya ingin bergabung dengan sebuah band, motifnya seharusnya adalah ‘Karena aku ingin satu band dengan Riho’. Alih-alih melakukan itu, dia justru sengaja menyatakan cintanya kepada orang lain, yang hanya bisa dianggap sebagai langkah untuk mencegah Riho agar tidak bisa berpacaran dengan seseorang. Dan melihat apa yang terjadi setelah itu, “seseorang” yang dimaksud itu mungkin adalah Ryuichi.

Kalau dipikir-pikir secara normal, kejadian itu hanya terlihat seperti dua gadis yang merupakan teman masa kecil, jatuh cinta kepada pria yang sama. Jika hanya itu saja, ceritanya akan berakhir cuma sampai di situ, tapi….

(Tapi setelah mendengar cerita Makino...sebaliknya, aku penasaran apa memang begitu masalahnya)

Menurut penuturan Ryuichi, Nao tidak menunjukkan banyak kasih sayang untuk Ryuichi sejak mereka mulai berpacaran. Malu-malu kucing? Tidak, rasanya aneh jika dia enggan melakukannya setelah memberi peringatan kepada Riho. Lalu, dalam hal ini... Jika orang yang tidak ingin diambil darinya bukanlah Ryuuichi, maka...

“Orang yang kamu sukai—”

“Hentikan!!!?”

Nao menyela perkataan Masachika dengan suara lantang. Namun, Masachika tidak berhenti.

“Tidak, aku tidak akan berhenti.”

Masachika dengan blak-blakan menolak penolakan jelas Nao. Kemudian, Masachika melangkah lebih dekat k arahnya dan mengucapkan kata-kata yang menentukan.

“Orang yang kamu sukai... orang yang kamu cintai bukanlah Hikaru atau Makino, tapi Minase, iya ‘kan?”

“──!!”

Sorot mata Nao menunjukkan kemarahannya saat mendengar pernyataan Masachika. Tidak gentar dengan tanggapannya itu, Masachika mulai mengemukakan alasannya sendiri.

“Alasanmu berpacaran dengan Makino ialah karena Minase menyukainya. Ketika kamu mengetahui tentang perasaan cinta Minase, kamu bergabung dengan band Luminous dan berpacaran dengan Makino, semua itu karena kamu tidak ingin Minase diambil darimu. Benar begitu, bukan?”

Menanggapi pertanyaan penuh percaya diri Masachika, Nao membuka mulutnya—— sepertinya dia tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat, dia terus membuka dan menutup mulutnya beberapa kali sebelum menunduk ke bawah. Setelah itu, untuk beberapa saat, bahu Nao bergetar seolah-olah sedang mencoba menahan sesuatu, tak lama kemudian dia menjawab dengan suara melengking.

“…itu benar.”

Dan dengan itu sebagai pemicu, Nao mengungkapkan semua perasaannya yang sebenarnya mirip seperti sebuah bendungan yang sudah rusak.

“Ya, itu memang benar! Aku selalu menyukai Riho! Kami selalu bersama sejak kecil, dan aku selalu melindunginya! Bagiku, Riho adalah nomor satu, dan bagi Riho, aku adalah nomor satu! Akan tetapi, akan tetapi——!”

Sambil menggertakkan giginya dan menggetarkan suaranya, Nao menatap tajam ke arah tanah. Menendang tanah dengan ujung sepatunya, Nao berteriak dengan sekencang-kencangnya.

“Namun, Riho malah jatuh cinta pada Ryuichi! Padahal dia sendiri yang bilang kalau laki-laki itu menakutkan! Dia, Dia—”

“…Jadi itu sebabnya kamu berpacaran dengan Makino, yang tidak terlalu kamu sukai?”

“Memang! Jika Riho dibawa pergi, jika Riho dinajiskan oleh seorang pria, hal itu tidak seberapa!”

Itu adalah hubungan cinta yang menyimpang tapi murni dengan teman masa kecilnya yang berjenis kelamin sama. Setelah mengaum dengan ganas, ekspresi Nao berubah menjadi senyuman getir. Hal yang terlintas di wajahnya itu adalah kesedihan atau penyesalan?

“Tapi... saat aku berpacaran dengannya, Ryuichi adalah cowok yang sangat baik... meskipun aku seperti ini, ia sangat perhatian, dan menyukaiku yang seperti ini... kupikir aku bisa memahami mengapa Riho bisa menyukainya...”

Butiran air mata tumpah dari mata kanan Nao saat dia mengaku. Sambil mengusapnya dengan tangannya, Nao terus melanjutkan dengan isak tangis.

“Riho tetaplah Riho, dia masih baik seperti biasanya… Dia berkata sambil tersenyum, ‘Aku akan mendukung kalian berdua’. Padahal dia sendiri yang duluan menyukainya… Baik Ryuuichi dan Riho, mereka berdua sama-sama sangat baik padaku, tapi yang kulakukan hanyalah membohongi mereka, dan aku telah menyakiti mereka berdua…! Ini semua adalah salahku, tapi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi…”

Masachika merenung ketika Nao menutupi matanya dengan kedua tangan sambil berbicara sesenggukan.

Masachika hanya bisa membayangkan penderitaan bagaimana rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang baik hati dan menjadi satu-satunya orang yang mengumbar kebohongan. Pada awalnya, itu hanya kebohongan yang dia katakan karena keinginan untuk tidak kehilangan orang yang dia sukai. Namun, saat dia berbohong untuk melindungi kebohongan lain, Nao menyadari bahwa hanya dirinya saja satu-satunya di antara empat teman baik yang berbohong. Seberapa besar rasa pedih dan penyesalan yang pasti dia rasakan dibalik senyuman yang dia berikan kepada rekan-rekannya. Dia pasti merasa kecewa dengan dirinya sendiri dan pasti membenci diriknya sendiri.

Dan ketika semuanya akan terungkap, Nao mengatakan kebohongan terakhirnya untuk menyembunyikan rahasia terbesarnya, yaitu perasaan cintanya kepada Riho. Kebohongan bahwa dia menyukai Hikaru.

(Itu sih yah, aku tidak bisa menyalahkannya...)

Bagi Nao, perasaan cintanya pada Riho pastilah sesuatu yang ingin dia lindungi dan sembunyikan dengan segala cara. Bahkan jika itu berarti menawarkan dirinya kepada pria yang bahkan tidak dia sukai. Dan jika memang begitu... Masachika tidak ingin menyalahkan Nao.

Sering dikatakan bahwa karakter asli seseorang akan muncul ketika mereka terpojok, tapi Masachika menganggap kalau itu persepsi yang salah. Ketika seseorang benar-benar terpojok, hal pertama yang muncul bukanlah sifat alamiahnya, melainkan nalurinya. Naluri pertahanan dasar makhluk hidup untuk melindungi diri mereka sendiri. Tidak banyak orang yang dapat mengatasi hal ini dengan akal sehat dan mengutamakan orang lain. Itulah sebabnya hati Masachika tidak bisa menyalahkan Nao yang buru-buru berbohong setelah terpojok. Tapi .....

“Bagaimana dengan perasaan empat orang lainnya?”

“….”

Meski demikian, Ia tetap tidak boleh berpaling darinya.

“Itu mungkin baik untukmu yang melarikan diri. Tapi, asal kamu tahu saja, keempat orang itu masih terguncang dengan apa yang terjadi waktu itu.”

“.....”

Informasi ini mungkin hal terakhir yang paling tidak ingin didengar Nao. Namun, setelah mengetahui hal tersebut, Masachika tetap menghadapkannya pada kenyataan.

“Makino dan Minase tidak lagi muncul di klub musik ringan, dan sejak kejadian itu, mereka sama sekali tidak berbicara dengan Hikaru. Hikaru juga mencoba untuk tidak memikirkan mereka berdua lagi. Sejujurnya aku sudah tidak tahan lagi melihatnya, mereka bertiga yang begitu dekat sekarang memperlakukan satu sama lain seperti orang asing.”

“Eh, itu...”

“Tampaknya bahkan sekarang, Takeshi masih sesekali menemui Makino dan Minase. Tapi mereka justru menghindarinya. Hanya dirinya saja satu-satunya orang yang berpura-pura bersikap sama seperti biasanya, tetapi ia sangat kelelahan. Karena ia orang yang lebih memikirkan teman-temannya daripada orang lain.” 

“...”

Nao menunduk dalam-dalam saat mendengar perkataan Masachika. Setelah terdiam beberapa saat, dia bertanya dengan suara pelan.

“Kalau Riho bagaimana?”

Menanggapi pertanyaan singkat itu, Masachika terus terang mengatakan yang sebenarnya sambil berpikir, “Ujung-ujungnya, Minase adalah prioritas utamamu, ya?”

“Seperti yang kamu tahu, Minase sejak awal tidak memiliki banyak pertemanan. Sekarang dia tidak lagi berpartisipasi di klub musik ringan, dia benar-benar terisolasi. Dia menghadiri kelas dengan wajah murung setiap hari dan pulang tanpa berbicara dengan siapa pun.”

“Uuu…”

Masachika diam-diam bertanya pada Nao, yang menggigit bibirnya sambil menundukkan wajahnya.

“Jangan bilang kalau kamu benar-benar berpikir bahwa Minase dan Makino akan berpacaran  jika kamu pergi menghilang?”

“!!!”

“Mana mungkin begitu, ‘kan? Makino bukanlah tipe orang yang gampang bergonta-ganti pasangan, sedangkan Minase—”

“Aku sudah tahu itu tanpa kamu memberitahuku!”

Pada saat itu, Nao mengangkat kepalanya dan memelototi Masachika.

“Apa-apaan dengan cara bicaramu tadi, seolah-olah kamu sudah mengenalku saja! Itu semua tidak ada hubungannya denganmu, ‘kan!? Memangnya kamu pikir kamu itu siapa, hah!!”

Masachika merasa seperti disiram air dingin oleh kata-kata tersebut. Ia kemudian merenungkan kembali kata-kata dan perbuatannya sendiri dan tiba-tiba tersadar.

(Lah, kenapa aku mengatakannya dengan cara sarkastik begitu, ya?)

Masachika tidak ingin menyalahkannya dalam hati, tetapi dirinya justru mendapati kalau ia malah mengatakan hal-hal yang membuat Nao marah padanya. Ia bermaksud untuk memberikan fakta-fakta yang ada, tapi itu terlihat seperti setengah menyalahkannya. Masachika tercengang setelah menyadari hal itu sekarang.

(Tidak, bukan begitu. Aku tidak bermaksud mengatakan itu...)

Menurunkan pandangannya, Masachika mengatur ulang pikirannya dan mencari kata-kata yang benar-benar perlu ia ucapkan.

“… Aku memang hanyalah orang luar. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan band Luminous, dan aku tidak punya hak untuk ikut campur.”

“.....”

“Tapi...  aku tidak ingin berpikiran kalau kalian berlima yang sekarang akan begini terus.”

“! Kuh….”

Masachika berbicara dengan hati-hati kepada Nao, yang menggertakkan gigi dan memalingkan wajahnya.

“Kamu yakin tidak apa-apa? Saling berpisah sambil masih meninggalkan kesalahpahaman satu sama lain.”

“...”

“Aku berani mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya... Perpisahan terburuk adalah perpisahan yang membuatmu melupakan semua kenangan indah dan bahagia yang kamu miliki sebelumnya.”

Sama seperti Masachika hingga beberapa saat yang lalu, ia terus menyegel kenangan Maa-chan di lubuk hatinya sebagai kenangan yang tidak menyenangkan. Sekarang, setelah kesalahpahaman telah diselesaikan, tidak ada lagi yang tersisa selain penyesalan.

(Yah, ini juga….Bukannya ini sudah kewajibanku untuk mengatakannya?)

Saat kepalanya mendingin, begitu pula hatinya, dan Masachika pun berbalik. Kemudian, sambil mengetahui bahwa itu adalah bantuan yang tidak perlu, Masachika memberinya nasihat terakhir di balik punggungnya.

“Seperti yang kubilang tadi, aku hanyalah orang luar. Aku sama sekali tidak mengenalmu, bagaimana hubunganmu, atau semua detailnya. Jadi aku takkan memberitahumu mengenai apa yang harus kamu lakukan…. Tapi jika kalian terus seperti ini, Luminous akan berakhir dengan ingatan terburuk bagi kalian berlima, kan? Entah itu untuk Makino atau Minase.”

Setelah mengatakan semua itu, Masachika meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke belakang. Ia langsung masuk ke dalam gedung klub dan menuju ke atas untuk menghindari orang-orang. Masachika kemudian melompati rantai yang terbentang di depan tangga dan menaiki tangga yang terhubung ke atap... . Ia lalu jatuh terlentang di landasan paling atas.

“Haaa...”

Helaan napas yang dalam dan berat keluar dari kedalaman dadanya yang dingin.

“…Kenapa aku mengatakan hal yang menuduh seperti itu?”

Masachika berbicara pada dirinya sendiri dalam bentuk pertanyaan, tetapi jawabannya sudah ada di dalam pikirannya sendiri. Itu karena Masachika merasa marah terhadap Nao karena sudah menyakiti Takeshi dan Hikaru.

Memang benar Masachika berpikir bahwa kelima anggota Luminous tidak boleh berpisah dalam keadaan canggung seperti itu. Karena alasan itu, ia berpikir kalau ia harus membujuk Nao untuk membiarkan mereka berlima saling berbicara satu sama lain lagi. Masachika sama sekali tidak menyesali keputusannya.

Satu-satunya penyesalan yang Masachika miliki ialah…. Ia memojokkan Nao lebih dari yang diperlukan dan menyakitinya. Mengesampingkan Takeshi dan Hikaru sebagai pihak yang terluka, Masachika yang merupakan orang luar melampiaskan amarahnya kepada Nao.

“... Padahal aku berniat melakukannya dengan tenang.”

Pada kenyataannya, Ia benar-benar tidak tenang. Kemarahan karena menyakiti kedua sahabatnya yang berharga telah membara dalam diri Masachika, dan hal itu terwujud dalam kata-kata dan tindakannya yang agresif terhadap Nao.

(Mengirim pesan yang mengancam, mengungkapkan rahasia di hadapan orang yang tidak menyukainya... apa itu benar-benar diperlukan? Apa itu karena aku ingin memberinya rasa sakit yang diderita Takeshi dan Hikaru?)

Masachika menggertakkan giginya saat tatapan dan kata-kata Nao kembali muncul di benaknya. Penyesalan yang mendalam dan kebencian terhadap dirinya sendiri. Hanya itu satu-satunya yang ada di dalam diri Masachika.

“Memangnya aku ini siapa, ya... itu memang benar sekali, sungguh. Apa sih yang sudah aku lakukan sebagai orang luar yang tidak ada hubungannya dengannya?”

Seseorang harus melakukannya. Dirinya tidak bermaksud melakukan sesuatu yang heroik. Jika Masachika tidak melakukan apa-apa, kejadian itu pada akhir akan memudar dan terkubur seiring berjalannya waktu. Ego Masachika-lah yang menggalinya dan mengungkap isi yang tersembunyi. Masachika berpikir akan lebih baik baginya untuk melakukannya, dan ia tetap melakukannya meskipun tidak ada yang memintanya. Hanya itu saja. Tapi... sekarang, Masachika mulai berpikir itu hanyalah tindakan ikut campur yang tidak diperlukan.

Bahkan jika Masachika tidak melakukan apa-apa, mereka berlima mungkin pada akhirnya akan berdamai dengan cara tertentu. Sama halnya seperti Masachika dan Maria yang ditakdirkan untuk bersatu kembali dan menyelesaikan kesalahpahaman di masa lalu. Jika mereka berlima memiliki ikatan yang kuat, maka tentunya──

(Lagian, itu benar! Bagiku, mereka hanya sekedar kenalan, tapi bagi Takeshi dan Hikaru, Shiratori adalah seorang teman juga!)

Di sana, Masachika menjadi semakin depresi ketika menyadari kalau ia telah menyakiti “teman dari seorang teman”.

(Ah... percuma. Aku mulai ingin mati karena membenci diri sendiri... Aku harus meminta maaf kepada Shiratori nanti.)

Pikirannya benar-benar menjerumus ke arah negatif, dan Masachika berguling-guling ke samping sambil memegangi kepalanya. Ketika dirinya merasa tertekan tanpa henti──

“Kuze-kun?”

… Suara yang seharusnya tidak terdengar di tempat seperti itu terdengar dari bawah, dan Masachika buru-buru mengangkat tubuh bagian atasnya. Kemudian, hatinya melonjak ketika pandangan matanya bertemu dengan Maria, yang melihatnya dari lantai bawah.

“E-Eh? Ada apa, Masha-san?”

“Aku kebetulan melihat Kuze-kun dengan wajah yang agak menakutkan… aku penasaran, jadi aku mengikutimu.”

Setelah mengatakan itu dengan nada suara yang khawatir, Maria menaiki tangga dan duduk di sebelah Masachika. Dia kemudian menatap Masachika dengan tatapan prihatin.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

Masachika kembali terdiam menanggapi pertanyaan ini, yang hanya diisi dengan perhatian tulus. Meskipun begitu, Maria tidak terburu-buru dan dengan lembut melingkarkan tangannya di kepalan tangan Masachika, yang terkepal di pangkuannya.

Sedikit tersentuh oleh sentuhan hangat dan lembut itu, Masachika menjawab dengan ekspresi muram di wajahnya.

“Aku sudah menyakiti seseorang.”

“Begitu. Kenapa kamu menyakitinya?”

“Karena temanku terluka... tidak, salah.”

Sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, Masachika mengoreksi kembali perkataannya.

“Aku mersa marah karena teman-temanku tersakiti, dan saku melampiaskan kemarahanku kepada orang yang bersangkutan. Padahal dia memiliki alasannya tersendiri, tetapi…. Meskipun aku memahami alasan tersebut, aku justru mengungkit lukanya dalam kemarahanku.”

Setelah mengatakannya sebanyak itu dalam satu tarikan nafas, Masachika tertawa dengan sikap mencela diri sendiri.

“Setelah itu yah, aku merasa kalau aku gagal... Aku sedikit menyesalinya sekarang. Kupikir aku akan kembali ke tugas kepanitiaanku setelah aku sudah menenangkan diri, jadi jangan khawatir tentang itu.”

Maria menatap ekspresi Masachika dengan ekspresi serius. Dan kemudian... dia perlahan berlutut dan memeluk kepala Masachika dari samping.

Yoshi, yoshi.

Dia membelai kepalanya dengan lebih lembut, dan hal itu membuat Masachika kebingungan.

“... kenapa? Eh, kenapa kamu memelukku?"

“Karena Kuze-kun sepertinya terluka. Itulah sebabnya aku menghiburmu seperti ini.”

“Tidak, apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan? Kali ini sepenuhnya akulah yang salah, atau lebih tepatnya, aku hanya merenungkan bagaimana aku menyakiti orang dengan melampiaskan emosiku...”

“Jadinya kamu tidak punya hak untuk dihibur?”

“!!!”

Masachika kehilangan kata-kata setelah dibungkam oleh suara lembutnya. Menyadari kalau tebakannya tepat sasaran saat melihat reaksi Masachika, Maria melanjutkan dengan suara pelan “Begitu ya” sambil tersenyum kecil.

“Jadi begitu yang Kuze-kun pikirkan, ya~. Tapi tahu enggak? Aku tidak peduli dengan hak-hak semacam itu.”

“... Oh”

Masachika merasa kewalahan oleh pernyataan Maria yang menyatakan bahwa dia akan menempuh jalannya sendiri, seolah-olah ingin mengatakan, “Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak peduli dengan apa yang Kuze-kun pikirkan! Aku hanya ingin memanjakan Kuze-kun karena aku ingin melakukannya!

“Jadi, begitu ya.”

Setelah diberitahu dengan sangat jelas, Masachika tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

(Jika Masha-san ingin melakukannya, kurasa aku tidak bisa berbuat apa-apa~)

Pandangan mata Masachika menjauh saat perasaan pasrah muncul. Sambil membelai kepalanya dengan lembut, Maria terus berbicara kepada Masachika.

“Kuze-kun, kamu tidak pernah bergantung pada orang lain sejak dulu, kan? Sepertinya kamu berpikir kalau kamu tidak berhak untuk bergantung pada seseorang.”

“...”

Perkataan Maria yang begitu peka membuat Masachika terdiam. Memang benar. Dirinya sudah memaksa adiknya untuk menderita kesulitan dan menjalani kehidupan yang malas serta merugikan diri sendiri, Masachika tidak bisa membiarkan dirinya dimanjakan oleh orang lain. Ia selalu berpikir demikian.

“Asal kamu tahu, ketika aku melihatmu seperti itu, dadaku terasa sesak. Hatiku merasa pahit dan sedih, dan aku jadi sangat ingin memanjakan Kuze-kun.”

"...Haa, begitukah?”

Masachika membalas singkat dengan setengah tersenyum pada kata-kata yang membuat punggungnya geli. Namun, Maria sepertinya bisa menyadari rasa malu Masachika dan tertawa kecil.

“Jika kamu tidak bisa memaafkan dirimu sendiri, biar aku yang akan memaafkanmu. Jika kamu menyakiti dirimu sendiri, aku akan menyembuhkan luka tersebut.”

Seolah-olah ingin membuktikan kata-katanya, Maria dengan lembut mengelus-ngelus kepala Masachika sambil terus melanjutkan.

“Jangan bertanya kenapa, oke? Dari dulu…. sejak hari dimana kita bertemu di taman itu, Kuze-kun sudah menjadi orang yang penting bagiku. Oleh karena itu…. jangan memaksakan dirimu untuk menjadi sok kuat, oke? Jangan mencoba menanggungnya sendirian, paham? Karena aku tahu apa yang sudah kamu lalui.”

Kalimat terakhirnya itu. Kata-kata tersebut sangat menyentuh hati Masachika.

(Ahh, orang ini, benar-benar...)

Mungkin dia benar-benar memahami. Setelah memahami semua kelemahan dan kesalahan Masachika, dia mungkin mencoba membungkusnya dengan lembut.

“… Jadi begitu.”

“Ya.”

“Jadi begitu ya...”

“……Ya.”

Sebuah percakapan yang tidak terdengar seperti percakapan. Tapi, Masachika meyakini kalau Maria memahami maksudnya. Masachika meyakini hal tersebut tanpa alasan yang jelas, ia kemudian memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya di pelukan Maria. Maria lalu menanggapi dengan senyuman atas kemanjaan Masachika dengan sebaik-baiknya.

Sudah berapa lama waktu berlalu sejak mereka seperti itu? Masachika yang sudah merasa sedikit lebih tenang, membuka matanya dan berkata,

“Entah kenapa, dari dulu aku selalu saja dimanjakan oleh Masha-san.”

“Hmm? Masa?”

“Iya... Sepertinya selama ini aku terus dimanjakan oleh kebaikan Masha-san.”

Sejak hari dirinya bertemu kembali dengan Maria di taman itu, Masachika mulai mengingat kenangan tentang Maa-chan dari waktu ke waktu.

Di dalam ingatannya, Maa-chan selalu ceria, baik hati, dan hangat... itulah sebabnya, Saa-kun merasa terselamatkan oleh Ma-chan yang seperti itu. Sekarang dirinya benar-benar berpikir demikian.

“Begitu ya... tapi, hal itu berlaku sama untuk kita berdua, tau? Karena aku juga menerima banyak kebaikan dari Saa-kun.”

“Haha, benarkah?”

“Iya dong? Saking banyaknya sampai tidak bisa dihitung, loh?”

Walaupun Maria bilang begitu, tapi Masachika yakin jika dirinya masih belum bisa membalas bahkan setengah dari kebaikan yang diterimanya.

(Pada akhirnya, aku masih tidak bisa menepati janji itu...)

Ketika ia kembali mengingat janji yang pernah ia ucapkan kepada Maa-chan, yang mana dirinya baru mengingatnya lagi sekitar sebulan yang lalu, Masachika merasa sedikit sedih.

(Kira-kira, apa sekarang masih belum terlambat untuk menepatinya....? Tidak, kurasa sudah cukup terlambat, bukan? Dibandingkan dengan waktu itu, kemampuanku mungkin sudah tidak terlalu terampil lagi)

Suasana hatinya kembali depresi lagi, dan seolah-olah dia bisa merasakannya, Maria mengencangkan kekuatan pelukannya... dan bahkan Masachika merasa malu setengah mati.

“Umm, mari kesampingkan masalah itu dulu. Kurasa sudah waktunya untuk segera pergi...”

“Hmm~? Kenapa~? Kamu boleh lebih bermanja-manja lagi, loh~?”

“Tidak, postur saat ini sih agak gimana~ gitu ...”

Ia merasa sangat penasaran dengan beban lembut di pundaknya sangat, atau lebih tepatnya, telinga kanannya dibuat gembira karena bisa merasakan detak jantung Mara.

“Ah…”

Ketika Masachika melontarkan kata-katanya dengan ambigu dan tidak bisa langsung merujuk hal yang dimaksud, Maria menjauhkan tubuhnya dengan senyuman yang setengah bermasalah dan setengah malu.

“Mouuu, dasar Kuze-kun...”

“Aku sungguh minta maaf.”

“Hmm~, karena kamu anak laki-laki, iya kan~? Jadi, apa boleh buat, deh~”

Ketika dia menganggukkan kepala tanda setuju, Maria membuka lebar-lebar tangannya dengan senyum penuh kasih sayang layaknya seorang ibu yang suci.

“Boleh-boleh saja kok, kalau itu Kuze-kun, ayo kemari?”

“Ti-Tidak, itu—”

“Ah, begitu ya. Kamu tidak mau dimanjakan atas inisiatifmu sendiri, iya ‘kan? Kalau begitu biar aku saja yang ke sana, ya~?”

“Tu-Tunggu sebentar— !”

Dirinya ditangkap oleh pelukan Maria, yang mencondongkan tubuhnya ke depan dan merangkuli kepalanya dengan erat. Dan kemudian—— Masachika belajar tentang kekuatan penghancur keibuan.

 

◇◇◇◇

 

“... Entah bagaimana, tadi itu sungguh menakjubkan.”

Masachika, yang telah ditenggelamkan secara paksa oleh simbol keibuan Maria, sedang berjalan menuju ruang musik dengan langkah yang agak goyah. Mulai sekarang, akan ada latihan terakhir dari band untuk pertunjukan langsung... tapi kepalanya masih terasa sedikit linglung.

Entah bagaimana, rasanya sungguh menakjubkan karena semua rasa penyesalan dan kebencian terhadap dirinya sendiri benar-benar terbang menjauh. Saking menakjubkannya sampai-sampai ia merasa kelelahan.

(Sebaliknya, aku merasa keheranan mengapa Masha-san begitu bersemangat...)

Sementara Masachika kelelahan karena kehabisan tenaga, Maria yang berpisah dengannya di depan tangga, entah kenapa terlihat dipenuhi dengan energi. Jangan bilang, apa itu merupakan semacam pereda stres, karena keinginan untuk memanjakan seseorang berhasil diwujudkan?

(Ini gawat... jangan bilang, apa ini terjadi setiap kali aku merasa depresi di depan Marsha? Jika memang demikian, serius... Aku punya firasat suatu hari nanti semuanya akan menjadi sangat buruk)

Perasaan bahaya yang misterius menghantam Masachika, membuat bulu kuduknya merinding. Lalu, pada saat itu, pandangan matanya bertemu dengan mata Yuki yang datang dari sisi lain koridor.

“Yuki...”

“Masachika-kun...?”

Masachika buru-buru menegakkan punggungnya dan mencoba berpura-pura untuk terlihat santai. Namun, Yuki mengerutkan alisnya dengan tatapan ragu pada Masachika dan mendekatinya dengan senyuman palsu.

“Ternyata kamu ada di sini ya, Masachika-kun.”

“Ehh?”

“Ada permintaan untuk menyewa peralatan tambahan. Apa kamu bisa membantuku?”

“Oh ya, oke.”

Kewalahan oleh senyum yang tak tertembus itu, Masachika akhirnya mengikuti Yuki ke dalam gudang. Sesampainya di depan gudang tanpa ada percakapan tertentu, Yuki membuka pintu gudang dan masuk ke dalam untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain di sana. Tak berselang lama, Yuki bergegas menghampiri Masachika, dan meraih lengan Masachika dari depan. Kemudian, sambil menatap wajah kakaknya dari jarak dekat, Yuki bertanya dengan ekspresi yang sok merasakan bahaya.

“Onii-chan, kamu baik-baik saja!? Apa kamu membutuhkan Chuki-chuki beam supaya bisa bersemangat lagi!”?

“Enggak butuh.”

“Pancaran chuki-chuki beam!!”

“Dibilangin, aku sama sekali enggak butuh, tau!!”

Jadi begitulah, setelah dimanjakan oleh seorang Onee-san yang lembut dan adik perempuan yang baik hati namun tengil… Berkat perhatian mereka berdua, Masachika berhasil sedikit memulihkan suasana hatinya.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama