Gimai Seikatsu Jilid 9 Bab 8 Bahasa Indonesia

 Bab 8 — 15 Juni (Selasa) Ayase Saki

 

“Ngomong-ngomong, apa kamu menonton drama kemarin?”

Aku memiringkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Ketua Kelas.

Aku sedang berganti pakaian di ruang ganti. Ketika aku sedang memakai baju olahragaku, kepalaku hampir tersangkut dengan posisi miring seperti itu, dan aku hampir saja menjadi objek pemandangan yang konyol.

“Fiuh... Hah? Film drama?”

“Kamu bicara tentang 'Aokoi'?”

Ryo-chin, atau Satou-san, aku akan menyebutnya Satou-san, dengan cepat menimpali dari tempatnya berdiri di sampingku.

Aokoi? Biru... Ikan koi biru? Semacam mutasi yang tiba-tiba?

“Tentu sajalah! Kalau dilihat dari wajah yang kamu buat itu, Ayase-san, kamu tidak mengetahuinya?”

“Oh, kamu belum menontonnya?”

“... Aku tidak benar-benar menonton drama—” 

Ah, sial. Aku akan menggagalkan percakapan.

“Maksudku, aku tidak menontonnya, tapi drama seperti apa itu?” Aku buru-buru menambahkan.

Kemungkinan itu bukan cerita tentang pengembangbiakan varietas ikan koi yang lebih baik... mungkin.

“Judul lengkapnya 'Jatuh Cinta pada Langit Biru'. Semua orang membicarakannya setiap kali ditayangkan pada hari Senin jam 9!” Ketua Kelas berkata dengan penuh semangat.

Satou-san menjelaskan bahwa itu adalah drama percintaan dengan pemeran utama seorang pria tampan dan seorang gadis cantik. Dan dia terus-merus berbicara tentang betapa menakjubkan dan cantiknya mereka.

Kamu harus selesaikan ganti bajumu dulu. Itu jadi menggantung kemana-mana. Aku tidak akan mengatakannya sih.

Ketua Kelas rupanya sangat menyukai bagian cerita dari drama ini, dengan antusias menjelaskan bagaimana drama ini merupakan narasi modern yang memadukan reinkarnasi dan lompatan waktu.

“Y-ya. Aku mengerti.”

“Coba saja tonton sekali, oke!”

“Jika aku punya waktu.”

Aku menjadi lebih baik dalam memberikan kalimat standar untuk menghindari topik pembicaraan. Secara pribadi, kupikir aku telah menjadi lebih ramah. Jika itu aku yang dulu, aku akan memotong percakapan dengan mengatakan, “Tidak tertarik.”

Aku masih tidak tertarik, tetapi alasanku membiarkannya tanpa berusaha mengakhiri percakapan terletak pada kenyataan bahwa mereka mengetahui hal-hal yang tidak aku ketahui.

Obrolan tentang selebriti, drama luar negeri, idola K-pop, YouTuber...

Ketua Kelas dan Satou-san melompat dari satu topik ke topik lain tanpa hubungan yang jelas, jadi sulit untuk mengikutinya. Meskipun begitu, aku rasa aku lebih tertarik dengan apa yang mereka bicarakan daripada isi pembicaraan itu sendiri.

Ditambah lagi, ada begitu banyak hal yang tidak aku ketahui, dan ini membuatku menyadari, betapa luasnya dunia ini.

Ketika aku selesai berganti pakaian dan mengikat rambutku untuk bermain voli, Ketua Kelas menanyakan sesuatu ketika ada jeda dalam percakapan.

“Hei, Ayase-san, kamu biasanya menonton apa saja?”

“Yang seperti apa...?”

“Sepertinya kamu tidak menonton TV, tapi bagaimana dengan video?”

“Um, baru-baru ini?”

Video apa yang aku tonton—

“Mungkin video olahraga yang menjelaskan dasar-dasar bola voli?”

“Rajin sekali!”

“Itu luar biasa. Seharusnya aku juga menontonnya. Mungkin aku akan menjadi sedikit lebih baik.”

“Tidak, tidak. Kalau hanya dengan menonton saja sudah bisa membuatmu hebat, kamu tidak perlu berlatih, kan? Kamu harus menonton mereka sebagai referensi. Lagi pula, kamu sudah berlatih keras, Ryo-chin! Itu sudah lebih dari cukup!”

“Ya, benar. Aku bahkan tidak tahu aturannya.”

Aku tidak merendah. Aku hanya tidak terlalu paham tentang olahraga. Jika ini adalah kompetisi tentang tren mode, mungkin aku akan memiliki lebih banyak kesempatan.

“Pokoknya, kalau ada yang bisa melakukannya, itu kamu, Ayase-san! Kami mengandalkanmu, jagoan!”

“Jangan konyol...”

Perkataanmu terlalu banyak memberi tekanan, Ketua Kelas.

Saat aku meninggalkan ruang ganti, aku berpapasan dengan seorang gadis yang masuk.

“Oh?”

“Oh, rupanya Saki. Sudah lama tidak bertemu!”

Ternyata itu Maaya.

Kami sedang mengobrol di depan pintu, jadi aku membiarkan Ketua Kelas melanjutkan dan kembali ke ruang ganti untuk mengobrol dengan Maaya sebentar. Namun, akhirnya hanya untuk memastikan satu sama lain baik-baik saja.

Aku berkata, “Sampai jumpa,” dan dengan cepat meninggalkan ruang ganti.

Maaya memberikan tantangan ke arahku saat aku hampir keluar dari pintu.

“Kelas kita tidak akan kalah!”

Aku tidak menoleh ke belakang, hanya melambaikan tangan dan menutup pintu di belakangku.

Dia bisa saja berkata bahwa dia tidak akan kalah semaunya, tapi melihat bagan turnamen, jika kami menghadapi Maaya, kami akan masuk ke babak final... Bisakah kami melaju sampai sejauh itu?

 

◇◇◇◇

 

Setelah upacara pembukaan di halaman sekolah selesai, para siswa berpencar ke tempat pertandingan masing-masing.

Bila dilihat dari atas, pemandangan itu pasti tampak seperti segerombolan semut yang berlarian ke sana ke mari.

Kami semua mengenakan seragam olahraga berwarna putih yang serasi. Ah, ada juga siswa yang mengenakan jaket olahraga. Mengingat cuaca yang panas, ada lebih banyak orang yang melepas jaket olahraga mereka sih.

Di antara kerumunan orang, ada yang tersedot ke dalam bangunan berbentuk kamaboko, yaitu para siswa yang berpartisipasi dalam olahraga dalam ruangan. Aku, Ketua Kelas, dan Satou-san termasuk di antara mereka.

Ketika kami melewati pintu, aku melihat pertandingan pertama sudah dimulai. Bola voli di salah satu sisi lapangan, dan pertandingan bola basket di sisi lainnya.

“Kita masih punya sedikit waktu, ayo kita nonton dari atas!” Ketua Kelas menyarankan begitu.

“Di atas?” Aku bertanya-tanya, dan Satou-san berkata, “Kedengarannya bagus.”

Ternyata dia bermaksud menonton dari tribun di lantai dua-tempat yang belum pernah kukunjungi selama tiga tahun di SMA Suisei. Saat mendongak ke atas, aku sudah bisa melihat kerumunan siswa yang menonton dari atas sana. Menarik.

Dalam perjalanan, kami melewati tim bola basket. Mataku bertemu dengan Asamura-kun, dan setelah bertukar anggukan cepat, aku melanjutkan perjalanan. Kami menaiki tangga di samping panggung menuju lantai dua. Kami bisa tinggal di sini dan menonton sampai giliran kami tiba.

Sesekali terdengar sorak-sorai yang keras, baik dari tribun penonton maupun dari lapangan di bawahnya. Jika diperhatikan lebih dekat, bukan hanya para gadis yang berteriak dengan nada tinggi, tetapi juga para pria yang berteriak dengan antusias. Meskipun, teriakan mereka lebih terdengar seperti suara deruan dibandingkan dengan teriakan para gadis yang melengking.

“Apa itu?”

“Hm? Tim basket. Oh, lihat anak laki-laki dengan kepala merah di sana. Warnanya lebih mencolok daripada Ayase-san.”

“Siapa cowok itu?”

Aku benar-benar tidak tahu, tapi bahkan Satou-san menatapku dengan tatapan “Seriusan?”.

“Ia adalah Otosaka dari kelas 2-4, adik kelas kita,” Ketua Kelas menjelaskan padaku.

“Apa? Memangnya dia terkenal atau semacamnya?”

“Yah, ia hampir sama terkenalnya denganmu, Ayase-san. Sebenarnya, ia mungkin lebih terkenal akhir-akhir ini. Bukan hanya karena penampilannya yang mencolok, tapi karena ia juga masuk AM.”

“AM?”

Apaan tuh?

“Asosiasi Musik. Seperti klub musik ringan di sekolah-sekolah lain."

Aku membuka-buka kamus mentalku untuk menemukan penjelasan kata “asosiasi.” Aku pikir itu berarti kelompok yang dibentuk secara sukarela oleh orang-orang yang memiliki tujuan yang sama. Ah oke, jadi itu seperti kelompok apresiasi musik.

“Mengapa disebut demikian?”

“Entahlah? Sepertinya sudah lama disebut seperti itu.”

“Hmm.”

Aku teringat saat menonton penampilan band Visual Kei di festival budaya tahun lalu bersama teman-teman sekelas. Itu adalah momen langka ketika aku menikmati hobi orang lain. Jika ia kelas 2 sekarang, berarti waktu itu ia masih kelas 1. Apa ia berada di atas panggung saat itu? Aku tidak mengingatnya sama sekali.

(Oh, ia jatuh.)

Sepertinya ia kehilangan keseimbangan saat memutar tubuhnya untuk menerima umpan. Teriakan bernada tinggi terdengar.

“Kenapa?”

“Karena dia tinggi, mungkin?”

“Ah, ya, tinggi badan adalah keuntungan dalam bola basket, bukan?”

“Tidak... kurasa teriakan itu bukan karena itu,” kata Ketua Kelas, dan aku memiringkan kepalaku.

Saat aku memperhatikan, ada suara "Kyaa” saat sebuah tembakan berhasil, dan "Kyaa" bahkan saat tembakannya meleset. Apa-apaan dengan itu?

“Yah, sepertinya orang-orang menganggap ia kelihatan keren, atau dia memanjakan mata. Bukankah begitu?”

“Um, aku tidak begitu yakin.”

Aku kira, bahwa kadang-kadang, sebagian siswa akan melakukan bidikan dari jarak jauh; dan saat-saat itu membuat aku berpikir, “Woah, itu mengesankan sekali.”

“Menurutku, permainan mereka 'mengesankan', yang juga keren dengan caranya sendiri, bukan?"

“Maksud aku, bukannya itu hanya bagian dari permainan bola basket?”

“Kalau begitu, visual kei band tidak ada bedanya, bukan?”

“... Benar.”

Itu memang masuk akal. Saat itu, aku hanya mengangguk-angguk saja tanpa berpikir panjang ketika band-band itu menyebutkan pengejaran “pandangan dunia”. Maksudku, jika kamu menyukai penampilan yang "mengesankan", bukannya kamu tinggal pergi dan mendengarkan para profesional? Dalam hal ini, mengharapkan penampilan yang “mengesankan” dari festival olahraga sekolah tingkat SMA, yang bahkan tidak dihadiri oleh anggota klub, mungkin keliru. Apa sebenarnya arti “keren” itu?

“Ah, kelas kita akan bertanding. Bagaimana kalau kita mendekat?” Kata Satou-san.

Pertandingan telah usai, dan sekarang giliran Asamura-kun dan timnya. Mereka bermain melawan tim kelas dua, yang berhasil merebut bola lompatan awal dan dengan cepat mencetak poin.

“Jangan dipikirin! Itu hanya satu poin! Ayo kita rebut kembali!” Ketua Kelas berteriak.

Wow, suaranya lantang sekali. Jadi ini kalau Ketua Kelas dengan kekuatan penuh, ya.

“Apa kita akan baik-baik saja...?” Kata Satou-san, terdengar khawatir.

Jawaban dari Ketua kelas datang dengan wajah yang sangat serius.

“Kupikir tim kelas kita bisa memberikan perlawanan yang bagus. Yoshida bagus dalam menembak, dan Kodama rupanya pernah bermain basket saat SMP.”

“Oh benarkah?”

“Ya, aku mendengarnya saat kami mengadakan pertemuan untuk Klub Tata Boga sementara.”

Apa iya?

Aku memperhatikan jalannya pertandingan. Seperti yang dikatakan Ketua Kelas, Yoshida-kun dan Kodama-kun jelas lebih unggul dari yang lain dalam hal keterampilan. Tim lawan juga memiliki pemain yang terampil, tapi kami memiliki dua... tidak, bukannya Asamura-kun juga cukup bagus?

“Asamura-kun melakukannya dengan sangat baik, bukan?”

“Be-Benarkah?”

“Dia menempatkan posisi dengan baik. Lihat, dia mendapat umpan lagi.”

Menonton pertandingan, ya, bola memang banyak mengarah ke Asamura-kun. Dia mengoper umpan-umpan itu dengan baik dengan rekan-rekan setimnya; jika dia mengumpan ke arah Kodama-kun, dia berlari jauh ke sisi pertahanan lawan, dan jika bola diberikan kepada Yoshida-kun, kebanyakan berubah menjadi tembakan ke dalam ring.

“Tadi itu nyaris saja, ya?”

Tembakan Yoshida-kun membentur papan belakang, namun sayangnya memantul keluar ring. Anak yang mengambil bola rebound tersebut memberikannya kembali kepada Asamura-kun. Bola itu dioper kembali ke Yoshida-kun dan kali ini berhasil masuk.

"Luar biasa, luar biasa! Sekarang tim kita membalikkan keadaan!”

Satou-san, yang sudah seperti binatang kecil, benar-benar melompat-lompat dengan lincah, seperti makhluk kecil yang sesungguhnya. Jadi, memang ada orang yang benar-benar melompat-lompat dalam kehidupan nyata.

“Hmm, aku ingin tahu kenapa.”

Kelas kami telah memimpin, tapi Ketua Kelas mengeluh.

“Asamura, padahal ia bisa saja melakukan tembakan itu...”

Eh. Menggunakan namanya tanpa gelar kehormatan?

“Ah, maaf. Maksudnya, Asamura-kun. Aku cenderung sedikit kasar dengan cara bicaraku ketika aku bersemangat.”

Hah? Kenapa dia malah meminta maaf padaku?

“Kamu tahu, Asamura-kun, dia bisa saja menembaknya sendiri tanpa memberikannya pada Yoshida, kan?”

“Bukannya dia ingin memastikan bola itu masuk? Lagipula itu adalah kesempatan untuk membalikkan keadaan,” kata Satou-san.

Ketua Kelas meletakkan tangan di pipinya dan berpikir sejenak.

“Mungkin memang begitu. Tapi dari apa yang kulihat, Asamura-kun belum pernah menembak bola sekali pun.”

Kalau dipikir-pikir lagi, dia memang tidak salah.

Nah, jika ia menyiapkan tembakan dengan mengumpan kepada rekan setimnya, bukannya itu cukup bagus?

Aku ingat musim panas lalu, ketika kami semua pergi ke kolam renang, dia dengan sukarela mengambil peran pendukung tersebut.

“Yah intinya, mereka hanya melawan tim anak kelas 2, jadi kupikir tim kami bisa menang. Itu tidak terlalu menakutkan.”

Aku ingin tahu apa maksudnya. Itu adalah pilihan kata yang aneh, tetapi ketika aku sedang memikirkannya, pertandingan pun berakhir.

Pada akhirnya, itu terasa seperti kemenangan yang pantas. Aku pikir Asamura-kun bergerak sambil mengawasi sekelilingnya dengan baik sepanjang waktu. Itu adalah aspek yang luar biasa dari dirinya, aku menemukan diriku berpikir lagi.

Dia mungkin tidak menonjol, tapi...

Sementara aku asyik menikmati pemandangan dari atas, waktu pertandingan kami pun tiba.

Aku turun ke lantai satu dan bergabung dengan yang lainnya yang sudah berkumpul di samping lapangan voli.

Kapten tim kami, tentu saja, adalah Ketua Kelas. Peluit ditiup, menandai dimulainya pertandingan tim pertamaku di festival olahraga.

Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi kupikir aku sudah melakukan yang terbaik di awal. Karena semua orang dalam tim bola voli belum berpengalaman, tidak ada servis atau serangan yang cepat dan kuat dari lawan, sehingga mudah bagi kami untuk mengatasinya. Itu berarti aku bisa menerima dan, meskipun lemah, bahkan melancarkan seranganku sendiri. Yah, sejujurnya, aku juga melakukan beberapa pukulan kosong.

“Mari kita tingkatkan tempo kita!” Ketua Kelas menyemangati kami.

Aku mengangguk, menerima bola. Sekarang giliranku untuk melakukan servis.

Saat aku memantulkan bola dengan pelan, berjalan ke garis lapangan, aku mendongak tanpa berpikir panjang. Kumpulan siswa berdesakan di atas tribun lantai dua. Huh, sejak kapan ada begitu banyak orang—

Saat aku menyadari bahwa aku sedang ditonton, aku merasa jantungku menegang. Ini buruk, pikirku. Maksudku, aku juga baru saja berada di atas sana untuk menonton. Tidak ada yang benar-benar berubah, aku hanya tidak menyadarinya sampai sekarang.

Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Saraf-sarafku mulai menegang, mengikat anggota tubuhku menjadi simpul-simpul. Kesadaran bahwa aku ditonton terasa seperti jarum-jarum yang menusuk kulit aku.

Teknik servisku adalah apa yang disebut ‘servis mengambang,’ di mana aku akan menghadap ke lapangan lawan dan memukul bola tanpa melompat. Ini membutuhkan sedikit latihan dibandingkan dengan servis bawah tangan, tapi tidak sesulit servis lompat.

Aku akan melempar bola dengan tangan kiri dan memukulnya dengan tangan kanan saat bola jatuh. Aku telah mempraktikkannya berkali-kali dan jarang sekali gagal memasukkan bola ke lapangan lawan. Namun, kali ini, aku gagal.

Aku memberikan satu poin kepada tim lain dan kehilangan servis.

Sesuatu di dalam diriku tersentak. Pemikiran karena sudah melakukan kesalahan berubah menjadi ketakutan. Langkah yang seharusnya bisa aku lakukan, sekarang tidak bisa aku lakukan. Tangan yang seharusnya mengulurkan tangan, kali ini tidak bisa dilakukan dengan normal. Pikiran bahwa aku harus melakukan permainan yang bagus, ironisnya, menimbulkan kecemasan, “Bagaimana jika aku tidak bisa?”

Aku sangat menyadari bagaimana anggota tubuaku menolak untuk bekerja sama. Dan, bisa ditebak, lawan mulai mengincarku dengan bola. Bola itu dilempar dengan lemparan lembut, terbang ke arah wajahku. Aku buru-buru mundur selangkah, tetapi karena berada di depan, aku khawatir dengan apa yang ada di belakangku, dan kakiku terpeleset, menyebabkan aku terjatuh. Aku terjatuh ke belakang, mendarat di atas pantatku dengan bunyi gedebuk. Rasanya sakit. Bola nyaris tidak mengenai wajahku saat melintas. Jelas mana mungkin aku bisa menerimanya.

“Ayase-san!”

Aku tersentak untuk memperhatikan. Bahkan di tengah-tengah semua sorak-sorai, aku bisa mengenali suara itu di mana saja. Itu adalah suara Asamura-kun.

Membayangkan dia menonton, atau lebih tepatnya, diawasi olehnya, membuatku merasa canggung dan gerakanku lamban. Aku mencoba berdiri, mataku berair karena rasa sakit, tapi lututku terasa seperti jelly. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang, dan mata kami bertemu sejenak. Ini buruk. Aku membuatnya terlihat sangat khawatir. Aku memalingkan muka. Aku tidak ingin dia melihat mataku, yang penuh dengan ketakutan dan ketidakpastian.

“Sini,” sebuah suara berkata, dan ada uluran tangan yang datang.

Aku berpegangan dan menggunakan momentum itu untuk menarik diri berdiri. Ketua Kelas berdiri di sana tampak meminta maaf.

“Kenapa kamu tidak melakukannya dengan santai? Semua orang akan mendukungmu.”

Melihat sekeliling, tidak ada rasa bersalah di wajah kelima rekan setimku di lapangan atau para pemain cadangan di pinggir lapangan.

“Jangan khawatir. Aku akan melindungimu juga!” Satou-san berkata sambil berlari dengan kedua tangan terkepal.

“Ah, baiklah.”

Itu benar. Ini adalah olahraga tim. Itu sebabnya aku tidak ingin menjadi beban, tapi dengan berpikir seperti itu, aku malah menjadi kebalikannya.

“Baiklah. Terima kasih.”

Aku berdiri tegak dan menampar keras pipiku dengan kedua tangan. Suara kering itu bergema lebih keras dari yang kuharapkan, dan kupikir aku mungkin sedikit berlebihan, tapi aku harus menenangkan diri.

Satou-san tampak terkejut dan mundur selangkah. Aku tidak pernah mengira kalau rekan setimku jadi takut padaku.

Aku menoleh ke belakang sekali lagi untuk memastikan Asamura-kun masih di sana. Ya.

Tidak apa-apa. Dia bukan tipe orang yang suka menertawakan kegagalan seseorang. Aku teringat mata hangatnya dan kekhawatiran dalam suaranya ketika dia memanggilku tadi.

Servis dari tim lawan datang. Bola itu dipukul dengan tangan bawah, yang lemah, tetapi tampaknya bisa dikontrol, dan mereka mengincarku lagi. Sepertinya bola itu akan jatuh sedikit di depanku.

Apa yang pernah dikatakan Ketua Kelas tadi terlintas di pikiranku.

“Kamu bisa menembaknya sendiri.”

“Itu tidak terlalu menakutkan.”

Ketakutan dan kedinginan akibat badai petir dan pemadaman listrik sudah lebih dari cukup.

Semua orang akan membantuku. Jadi, aku tidak perlu takut gagal. Langkah yang tidak bisa aku ambil sebelumnya—aku harus mengambilnya sekarang!

Dengan mencondongkan tubuh ke depan, aku berhasil mengulurkan tangan ke bawah bola tepat waktu. Bola nyaris tidak terangkat dan dengan hati-hati diatur oleh Satou-san. Ketua Kelas menindaklanjuti dengan menghindari blok tim lawan dengan terampil dan menepaknya ke dalam lapangan mereka. Bola mendarat dengan mulus di antara dua pemain mereka.

“Kita berhasil!”

Semua orang bersorak seolah-olah kami sudah menang.

Servis dikembalikan kepada kami, dan sebagai pemain depan, aku mundur untuk melakukan servis lagi.

Di sinilah aku terpeleset terakhir kali. Kali ini, aku tidak akan kalah.

Tidak perlu memukulnya dengan keras. Jika kita bermain dengan baik dan lambat, tim lain tidak akan sebagus kita.

Aku menarik dan menghembuskan napas, masuk dan keluar, merilekskan seluruh tubuhku.

Ketegangan keluar dari diriku sebelum aku menyadarinya. Jangan pikirkan penonton. Mereka tidak benar-benar bersorak untukku.

Aku teringat kembali pada kekhawatiran di mata Asamura-kun. Dia tidak mengharapkan aku melakukan sesuatu yang luar biasa. Kalau dia mengharapkannya, dia pasti akan menatapku dengan kecewa tadi. Dia “mendukung”-ku sehingga aku bisa memberikan yang terbaik.

Aku menatap langit-langit gedung olahraga dan menghela napas.

Aku melakukan servis, bola meluncur dengan lengkung yang indah dan mendarat tepat di tepi garis akhir lawan.

Setelah servis yang berhasil, aku menoleh ke belakang dan menangkap mata Asamura-kun.

Aku mengucapkan, “Terima kasih” tanpa bersuara kepadanya.

Asamura-kun mungkin akan berkata bahwa dia tidak melakukan apa-apa, tetapi ketika aku merasa dia memperhatikanku, aku bisa merasa tenang. Sama seperti saat pemadaman listrik.

Dia ada di sana untukku. Aku tahu dia mendukungku.

Dibandingkan dengan kecemasan yang tak tertahankan yang aku rasakan pada bulan April, ketika aku harus menerobos masuk ke kamarnya dan dipeluknya untuk menemukan kedamaian, aku bisa lebih tenang sekarang.

Aku tidak perlu menerobos masuk ke kamarnya lagi; dia ingin berangkat ke sekolah bersamaku di pagi hari, dan dia lebih banyak berbicara denganku di kelas. Aku tahu dia mencoba untuk menutup jarak di antara kami.

Aku pikir dia adalah orang yang bisa dipercaya, tetapi... sekarang aku lebih merasakannya.

Tim kami menjaga momentum dan memenangkan pertandingan.

Kami memang merasa lelah, tetapi ketika kami mendengar bahwa pertandingan Asamura-kun akan segera dimulai, kami pindah ke sisi lapangan basket. Kami tidak bisa menyisihkan waktu untuk naik ke atas tribun, jadi kami langsung bersorak.

Ya, ini adalah “dukungan.”

Aku tidak mengharapkannya untuk terlihat keren. Aku hanya takut dia menahan diri, tidak menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya.

Hasil tetaplah hasil. Bahkan jika ia tidak mencetak poin, aku tidak akan merasa kecewa.

Tim lawannya adalah kelasnya Maru-kun, sahabat Asamura-kun. Maru adalah kapten dan penangkap utama tim bisbol SMA Suisei (aku tidak tahu apa itu perkara besar atau tidak). Dari apa yang dikatakan semua orang, dia adalah lawan yang tangguh.

“Baiklah, semuanya, ayo bersoraklah sepuasnya!” Ketua Kelas berteriak kepada teman-teman sekelas kami yang berkumpul di sekitar lapangan. Dia sangat energik meskipun baru saja bermain bola voli.

Tapi, bagaimana caranya bersorak?

Maksudku, aku hanya pernah ikut serta dalam tenis untuk festival olahraga kami, yang merupakan kompetisi tunggal, jadi aku tidak tahu harus berteriak apa karena belum pernah disoraki sebelumnya. Sebenarnya, aku ingat pernah berlatih bersorak di kelas saat SMP, tetapi saat itu, aku sudah cukup sinis dan secara terang-terangan mengabaikannya, jadi aku tidak mengingatnya sama sekali.

Kami tidak pernah mempraktikkannya di kelas atau apa pun, bukan?

Saat aku menggumamkan sesuatu seperti itu, Satou-san, yang ada di sampingku, berkata, “Hanya dengan menyebut nama orang favoritmu saja sudah cukup.”

Oh, favorit?

“Kalau kamu meneriakkan nama orang yang ingin kamu dukung, mereka akan merasa, 'Ah, ada yang memperhatikan dan mendukungku'!”

Apa memang begitu?

Tetapi jika aku melakukan itu, bukannya semua orang akan tahu siapa prang favoritku? Ditambah lagi, aku ingin mendukungnya, tetapi aku juga tidak ingin memberikan tekanan padanya.

“Bukannya menyemangati mereka di dalam hatimu saja sudah cukup?”

“Ayase-san... kamu sangat keras kepala.”

Kenapa aku ditatap dengan tatapan penuh celaan seperti itu?

“Rasanya tidak memalukan sama sekali untuk mendukung seseorang yang memberikan yang terbaik, oke?”

“Tidak, bukan karena itu memalukan...”

“Ahhh!”

Hah?

Aku buru-buru melihat kembali ke lapangan.

Dalam sekejap, sebuah operan dilakukan, dan seorang anak laki-laki berbadan besar berlari kencang ke arah ring timnya.

Suara bola yang berirama menggiring bola di lantai bergema di gedung olahraga. Asamura-kun dan rekan-rekan setimnya dengan panik mengejarnya, namun dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang besar, ia melesat ke bawah ring dan mencetak poin dengan indah.

Saat dia mencetak gol, dia berbalik, mata di balik kacamata bundarnya melengkung menjadi senyuman. Maru-kun.

“Ya ampun. Pemain besar itu cukup bagus, bukan?” Ketua Kelas berkata dengan suara serak.

Babak pertama berakhir dengan tim Asamura-kun tertinggal lima poin.

 

◇◇◇◇

 

Ketegangan terasa kental di udara.

Raut wajah tim basket putra yang sedang beristirahat di pinggir lapangan tampak sedikit muram.

“Gawat... Kita mungkin akan kalah kalau begini terus."

Analisis mengerikan dari Ketua Kelas tentang situasi ini membuat suasana hati menjadi suram, termasuk Satou-san dan tim pemandu sorak.

“Tapi masih ada babak kedua!" Aku berkata tanpa berpikir panjang.

Ketua Kelas mengangkat kepalanya dan menatapku seolah-olah dia melihat sesuatu yang aneh.

“Ah... Ya, benar. Tidak, tidak, kita tidak boleh menyerah. Seperti yang dikatakan Sakki.”

S-Sakki? Siapa itu? Yah, terserah, itu tidak penting sekarang.

“Semuanya, dengarkan! Kita masih belum kalah!” Ketua Kelas berkata sambil perlahan-lahan menatap wajah setiap teman sekelas kami.

Y-ya. Itu hampir sama dengan apa yang aku katakan.

“Ayo kita dukung mereka sampai akhir!”

“Ya!” Regu pemandu sorak laki-laki membalas dengan suara menggelegar, dan para gadis mengangguk-angguk. Satou-san mengepalkan tinjunya dan berkata, “Kita akan melakukan yang terbaik!”

Wasit meniup peluit untuk melanjutkan permainan, dan babak kedua pun dimulai.

“Hmm. Mereka sedikit mengubah strategi mereka,” kata Ketua Kelas sambil menatap tajam ke arah lapangan.

Aku tidak tahu bagaimana dia sampai pada kesimpulan itu, tapi yang pasti, dibandingkan dengan babak pertama, kelas kami telah mendapatkan kembali momentumnya.

Sedikit demi sedikit, keunggulan lima poin itu menyusut hingga hampir hilang.

Asamura-kun masih bermain sebagai pemain pendukung, namun ia terlihat berada di posisi yang lebih dekat dengan ring dibandingkan babak pertama.

Sorak-sorai, “Mantul!” dan “Teruskan!” bergema di sekitaran lapangan basket.

Beberapa siswa memanggil nama-nama tertentu. Banyak dari sorakan itu tampaknya ditujukan kepada Yoshida-kun yang terampil dan Kodama-kun yang bertubuh kecil.

Kami akhirnya menutup jarak menjadi hanya satu poin, dan sebuah operan diberikan kepada Asamura-kun. Dengan gerakan yang luwes, Asamura-kun bersiap untuk mengoper bola kepada Yoshida-kun—tidak, dia berubah pikiran dan berbalik, dengan tegas melakukan lemparan.

Gelombang sorak-sorai mulai menggelegar, namun sayangnya, bola tidak masuk ke dalam ring, dan bola rebound berhasil direbut oleh tim lawan yang langsung mencetak gol.

Sorak-sorai berubah menjadi teriakan.

“Ya, itu sudah bagus, Asamura.”

Hah? Aku sedang belajar ke depan, tetapi tidak bisa menahan diri untuk tidak berbalik. Mata Ketua Kelas menyipit di balik kacamata hitamnya dan sebuah senyuman tertanam di wajahnya.

“Tadi itu tembakan pertamanya, bukan?”

“Y-ya, memang, tapi...”

Aku tahu itu. Maksudku, aku sudah memperhatikannya sepanjang waktu. Tentu saja, Yoshida-kun sedang diawasi oleh tim lawan, tapi aku tidak pernah berpikir dia akan pergi dan melakukan lemparan seperti itu.

“Kamu pasti bisa.”

“Teruslah lakukan tembakan seperti itu !”

Suara-suara itu berasal dari rekan setim Asamura-kun, yang ditujukan kepadanya.

Kedengarannya seperti hal yang bagus untuk mengatakan bahwa dia menjadi lebih agresif, tapi aku pikir itu mungkin hanya karena dia memonopoli bola atau bermain solo.

Namun, seperti yang dikatakan oleh Ketua Kelas, keadaannya telah berubah sekarang.

“Apa hanya aku saja... atau tim kita memang berhasil memukul kembali tim lawan?”

“Asamura, ah, maaf, maksudku Asamura-kun—” 

Lagi-lagi dia meminta maaf kepadaku.

“Sekarang mereka tahu dia bisa menembak, mereka tidak bisa mengabaikannya lagi. Sampai sekarang, tidak ada masalah untuk membiarkannya.”

Aku tidak begitu mengerti, tetapi tampaknya memang demikian. Tim lawan jelas lebih kebingungan daripada sebelumnya setiap kali Asamura-kun menguasai bola. Jelas karena dia mungkin akan mengoper dan melakukan tembakan.

Permainan berjalan maju mundur, dan Asamura-kun digantikan. Saat dia berjalan melintasi pinggir lapangan, suara teman-teman sekelasnya berkata, “Tadi itu hampir saja” terdengar ke arahnya.

“Ayo, Asamura~! Kamu pasti bisa~!” Ketua Kelas dengan keras memanggilnya, menyemangatinya.

Asamura-kun menoleh ke arah suara itu. Dia mungkin bisa melihatku berdiri di sampingnya.

Ketika Asamura-kun kembali ke lapangan setelah istirahat, selisih poin telah menyempit menjadi satu, dan waktu tersisa sekitar satu menit.

Dengan segera, bola dioper ke Asamura-kun. Ia langsung mengopernya ke rekannya dan berlari ke arah gawang. Umpan tersebut tersambung, dan Kodama-kun memotong masuk dengan menggiring bola. Kemudian operan ke Asamura-kun di depan ring! Mungkin sebuah tembakan!? Tapi sepertinya itu hanya tipuan, dan ia mengoper ke Yoshida-kun. Jaraknya agak jauh, namun, tanpa ragu-ragu, Yoshida-kun melempar bola ke arah gawang. Mungkin karena tidak ada banyak waktu yang tersisa. Mungkin sekitar 30 detik.

Aku pikir bola yang melengkung di udara pasti akan masuk ke dalam ring. Namun sayangnya, tembakan bola tersebut meleset, memantul keluar lagi. Sejujurnya, aku pikir semuanya sudah berakhir pada saat itu.

Semua orang berebut ke arah bola. Asamura-kun adalah orang yang berhasil menangkap bola saat memantul. Ia melihat sekelilingnya, matanya menatap ke sana kemari, mencari celah untuk mengoper. Saat ia masih penuh kebimbangan, wasit melihat ke arah jam dan meniupkan peluitnya.

Tenggorokanku tercekat. Waktu hampir habis. Aku melihat mata Asamura-kun yang tajam mengarah ke ring.

Aku terkesiap.

Dia mengambil satu langkah ke depan.

Mengambil langkah itu menakutkan. Aku tahu itu karena aku baru saja mengalami perasaan itu beberapa saat yang lalu. Tetapi kakinya menghadap ke arah ring.

“Jika kamu meneriakkan nama orang yang ingin kamu dukung, mereka akan merasa seperti, 'Ah, ada yang menonton dan mendukungku'!”

Sebaliknya, jika kamu tidak mengatakannya, mereka tidak akan pernah tahu, dan hal tersebut takkan tersampaikan kepada mereka....

Bahkan ketika aku takut, seseorang akan selalu ada untukku. Dalam kegelapan, seseorang memelukku dan mengajariku hal itu.

Jadi, aku juga—

“A—”

Lakukan yang terbaik! Teruskan!

“Asamura-kuuun!” Aku berteriak sekuat tenaga dari kedalaman tenggorokanku.

Asamura Yuuta membiarkan bola itu terbang dari tangannya bahkan saat kehilangan keseimbangan.

Benda bundar itu membentuk lengkungan yang tinggi saat berputar di udara. Lintasannya seolah-olah melukiskan pelangi yang membentang di langit biru di luar jendela. Benda itu memantul dari papan belakang. Waktu terasa melambat, seolah-olah semuanya bergerak lambat. Bola itu masuk ke dalam ring.

Telingaku telah menutup semua suara di dunia, dan dalam keheningan, yang bisa aku lihat hanyalah bola. Bola itu terlihat seolah-olah terjepit dari dalam ring, dan terjatuh.

Suara peluit terdengar memekik di telingaku, dan aliran waktu kembali normal dengan itu.

Bola memantul, dan menggelinding di lantai. Kami semua bersorak-sorai. Asamura-kun terduduk di lantai.

“WOOOOOAAAAAAHHHHH!”

“KITA MENANG!”

Semua orang di sekitar kami juga membuat keributan tentang akhir pertandingan yang begitu dramatis.

Satou-san bahkan sampai menangis, tapi tunggu dulu, ini bahkan bukan pertandingan final atau semacamnya, bukan?

Bagaimanapun—kupikir mereka telah melakukan yang terbaik.

“Hmm~. Itu sorakan yang bagus, Ayase-san,” kata Ketua Kelas.

“Hah? Oh.”

Yang kulakukan hanyalah memanggil nama Asamura-kun ....

“Yah, itu normal. Dia adalah teman sekelas.”

“Hoho. Memang sih~...”

Eh. Apa dia menyadari betapa kerennya Asamura-kun?

“Dia memang pemandangan yang layak untuk disoraki.”

Aku mempertimbangkan kata-kata itu sejenak dan kemudian mengangguk sedikit.

“Ya.”

Entah kenapa, senyum kecut muncul di wajah Ketua Kelas, tapi aku sengaja berpura-pura tidak melihatnya.

Saat itu hampir tengah hari, dan kami akan memasuki waktu istirahat makan siang. Ketua Kelas dengan lantang menyarankan semua orang untuk makan siang.

Aku baru teringat, Klub Tata Boga sementara, yang dipimpin olehnya, sedang membuat nasi kepal.

Jika aku tahu, setidaknya aku akan membuat sup miso. Yah, kau tahu, demi teman-teman sekelasku.

Ketika festival olahraga dilanjutkan pada sore hari, baik tim basket Asamura-kun maupun tim voli kami tidak berhasil mencapai final, tetapi kelas kami secara keseluruhan mendapatkan hasil yang baik.

Aku cukup lelah, tetapi sejujurnya, aku menyadari bahwa olahraga tim tidak terlalu buruk.

Maka, festival olahraga tahun ketigaku di SMA Suisei pun berakhir.

 

◇◇◇◇

 

Malam itu, aku dan Asamura-kun merasa lelah, jadi kami memutuskan untuk makan malam lebih awal.

Ketika Kamu kelelahan, semakin larut malam, semakin merepotkan untuk menyiapkan makanan dan membersihkan diri setelahnya. Dan jika kamu merasa seperti itu, kemungkinan besar kamu akan mandi dan langsung tidur tanpa melakukan banyak hal lain.

Kami memutuskan untuk memilih menu yang sederhana. Secara khusus, kami hanya memanggang ikan makarel yang telah dibeli Ibu. Saladnya sudah dibuat sebelumnya. Kami memarut lobak untuk menemani lauk ikan.

Kami juga membuat sup miso. Satu-satunya bahan yang digunakan adalah tahu goreng.

Setelah makan malam, kami berdua minum segelas teh hijau dingin dan akhirnya beristirahat.

“Hari ini sangat melelahkan, bukan?” Kataku, sambil menghela napas panjang.

Asamura-kun mengangguk.

Ketika Asamura-kun dan aku mengenang kembali festival olahraga, entah bagaimana, pembicaraan malah mengungkit betapa luar biasanya para atlet. Kami berbicara tentang sulitnya berlatih setiap hari, dan entah bagaimana, itu membuatnya mengatakan betapa luar biasanya aku memasak setiap hari seolah-olah itu adalah hal yang paling alami di dunia.

Aku pikir itu adalah pujian yang berlebihan.

Selain itu, aku merasa tidak cukup sadar untuk mencoba membuat masakanku sendiri menjadi lezat. Pada dasarnya, aku hanya peduli apakah masakan itu lezat atau tidak. Dan juga, aku tidak bercita-cita untuk menjadi koki. Jadi, bisa dibilang aku hanya peduli dengan seleraku sendiri.

“Sejak aku datang ke rumah ini, masakanku tidak mendapatkan apa-apa selain pujian, jadi sebenarnya agak membingungkan...”

Dia berterima kasih dengan sangat tulus sampai akhirnya aku merasa malu dan membuang muka.

Asamura-kun benar-benar pandai memberikan pujian.

“Oh, ngomong-ngomong...”

Tiba-tiba aku teringat festival olahraga hari ini dan menemukan sebuah poin untuk memuji Asamura Yuuta.

Aku memujinya atas permainannya dalam pertandingan basket, yang membuat kami berada di posisi empat besar.

Namun, Asamura-kun selalu merendah ketika berbicara tentang dirinya sendiri. Dia bersikeras bahwa itu adalah momen yang menentukan dan bahwa keberhasilan tembakan tersebut hanyalah sebuah kebetulan.

Aku tidak berbicara tentang hasilnya. Pilihannya untuk mengambil bidikan pada saat putus asa itulah yang membuatku kagum. Aku begitu tegang karena tekanan, sampai-sampai anggota tubuhku tidak bisa bergerak dengan baik, sampai Asamura-kun berbicara kepadaku.

“Tidak apa-apa! Kamu adalah MVP di mataku,” kataku dengan tegas, dan pipi Asamura-kun memerah karena malu.

“Ma-Mkasih.”

Ucapan terima kasihnya yang singkat membuatku merasa geli.

“Kamu tersipu malu!”

“Aku tidak terbiasa dengan pujian.”

Ah, inilah yang menurutku menarik dari dirinya, pikirku sambil melihat Asamura-kun tersipu malu dan menggaruk bagian belakang kepalanya.

Bahkan setelah berbaring di atas kasur, aku terus membayangkan wajahnya, dan itu selalu menghangatkan hatiku.

Malam itu, aku bermimpi.

Entah mengapa, aku kembali menjadi seorang anak kecil, menangis dalam kegelapan yang pekat sambil memeluk lututku dengan erat.

Seseorang berjongkok di sampingku, meraih tanganku, dan menarikku pergi.

Kegelapan tersebut langsung menghilang, dan alih-alih tanah, lantai gedung olahraga membentang hingga ke cakrawala.

Tidak ada langit-langit, dan aku bisa melihat langit biru di atas.

Aku menggenggam tangan orang yang menuntunku ke sana, dan kami berjalan berdampingan, tanpa henti.

Pemilik wajah sedikit malu yang tersenyum kembali kepadaku adalah seorang anak laki-laki yang bernama Asamura Yuuta.


 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama