Keiken-zumi Jilid 7 Prolog Bahasa Indonesia

 Prolog

 

Tiga tahun yang lalu.

Pada akhir tahun ajaran kelas 2 ... tepat ketika hari ulang tahunku di akhir Maret, di tepi sungai Arakawa yang sedang dipenuhi dengan guguran bunga sakura, Luna dengan malu-malu mengatakan itu padaku,

──Aku ingin berhubungan s*ks ... denganmu, Ryuuto.

Baik warna suaranya maupun pipinya yang merah ceri yang dibayang-bayangi oleh bulu matanya yang lentik.

──Baru pertama kalinya aku merasa seperti ini sejak lahir ...

Semua detik dari kedipan mata Luna ketika dia mengucapkan kata-kata itu, bahkan waktu yang tepat, terbakar jelas dalam ingatanku seolah-olah itu adegan favorit dari film yang aku lihat berulang kali.

Namun, bahkan sampai sekarang, aku masih meraih kenangan masa lalu.

Pada hari-hari penuh semangat dan kegilaan masa muda.

 

♣♣♣♣

 

Dalam perjalanan pulang dari tepi sungai, kepalaku terasa ringan.

──Aku ingin berhubungan s*ks ... denganmu, Ryuuto.

Satu-satunya kata-kata yang Luna katakan padaku beberapa saat yang lalu terus terngiang-ngiang di kepalaku.

Jantungku menjadi berdetak lebih cepat sekarang. Seperti terjebak dalam kecepatan konstan, kegembiraan tenang terus berlanjut seperti demam ringan.

Aku merasa malu ketika berpikir bahwa kegembiraanku mungkin bisa dirasakan melalui tangan kiriku yang tergandengan dengan Tsukimi.

“.......”

Wajah Luna juga tampak merah padam dan diam terus sepanjang waktu.

Kami berjalan cukup jauh di dekat Stasiun A dan sedang melewati distrik hiburan di depan stasiun.

Ketika aku melihat-lihat pemandangan yang lewat, jantungku berdegup sangat kencang.

 

Hotel The Earth

Istirahat 9.000 yen ~

Menginap 16.500 yen ~

 

Tulisan seperti itu berkilauan di papan iklan yang menyilaukan.

Tanpa sengaja aku melirik ke arah Luna.

“........”

Tatapan mata kami bertemu. Aku tahu dia juga melihat papan iklan itu dari ekspresi malunya ketika dia menghindari mataku.

“Lu-Lumayan mahal juga ya ...”

Kupikir sebaiknya aku tidak mengungkitnya, jadi aku mengatakannya dengan cara yang tidak terdengar blak-blakan.

“Cu-Cuma beristirahat sampai seharga 9.000 yen ...”

“Be-Benar….mungkin karena letaknya dekat dengan stasiun ...”

Ini benar-benar konyol. Biaya menginap di penginapan di Enoshima jauh lebih murah ketimbang hal ini.

Aku tidak punya uang sebanyak itu saat ini.

“Apa nenekmu ada di rumahmu hari ini, Luna?”

Ali merasa malu untuk mempertanyakan hal ini dengan alasan yang jelas, tetapi aku tetap bertanya padanya.

Luna mengangguk dengan wajah yang menunjukkan penyesalan.

“I-Iya ... Ayahku juga di rumah.”

“Be-Begitu ya...”

Ayah Luna seorang pekerja kantoran di bagian penjualan, jadi hari liburnya tidak teratur dan terkadang ia ada di rumah pada hari kerja..

Tapi ... jika dipikir-pikir, itu mungkin hal yang baik.

Aku jadi teringat ketika aku bertanya kepada Sekiya-san setelah perjalanan studi kami tentang malam mereka dengan Yamana-san.

──Sudah diduga, apa rasanya sulit melakukan itu untuk pertama kalinya?

──Entahlah... Ini pertama kali aku melakukannya dengan seorang gadis perawan. Tapi, jika dia merasa sakit, aku tidak ingin terlalu memaksanya, ‘kan? Apalagi dia masih di bawah umur juga.

──Kamu sampai memperhatikan hal itu juga.

──Tentu saja, kamu tahu ‘kan ada aturan tentang 'Peraturan Tindakan Cabul' atau sejenisnya.

Setelah itu, aku mencari tahu tentang [Peraturan Tindakan Cabul].

 

Tidak seorang pun diperbolehkan melakukan hubungan seksual yang tidak senonoh atau tindakan serupa dengan hubungan s*ksual dengan anak di bawah umur.

 

Ti-Tidak senonoh?

Tidak seorang pun?

Kalau aku? Aku sendiri masih remaja di bawah umur, tapi apa itu berarti aku dilarang melakukan hubungan s*ks yang penuh kasih sayang dengan Luna yang juga masih remaja?

Karena aku tidak memahaminya sama sekali, jadi aku mencari informasi di situs web dan merangkum apa yang aku temukan.

 

Bahkan di antara remaja di bawah usia 18 tahun, ada pelanggaran peraturan tentang perbuatan cabul.

Hal ini tidak berlaku jika mereka bertunangan atau berada dalam 'hubungan serius yang setara dengan pertunangan'.

 

Itulah maksudnya.

Tapi aku masih merasa kebingungan dengan kalimat “hubungan serius yang setara dengan pertunangan”.

Pada akhirnya, aku berencana untuk menikahi Luna. Menurutku Luna juga berpikiran sama.

Tapi siapa yang bisa membuktikannya? Walaupun aturan hukumnya sudah mengatakan demikian. Aku tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi jika polisi menggerebek kamar saat kami melakukan hubungan badan di hotel cinta dan berteriak, “Kalian melanggar undang-undang Perbuatan Cabul!” Kupikir kami membutuhkan orang dewasa yang dapat bersaksi tentang 'hubungan yang serius'.

Jadi, sebelum kami melakukan hal seperti itu, ada baiknya aku bertanya kepada wali Luna tentang niat kami untuk menikah.

“…Apa yang akan kita lakukan setelah ini?”

Sesampainya kami di depan stasiun, Luna bertanya dengan ragu-ragu.

 

Aku ingin bercinta denganmu.

 

Itulah tertulis di seluruh wajahku.

Dan aku tahu kalau Luna juga merasakan hal yang sama denganku.

Itulah sebabnya.

“...Aku akan mengantarmu pulang ke rumah.”

Seperti yang sudah kuduga, aku tidak bisa mengatakan “Aku ingin meminta izin ayahmu dulu untuk bisa menidurimu”, jadi setidaknya aku membuat alasan untuk mengantarnya pulang ke rumah.

“Eh...eh, ya.”

Luna tampak sangat murung. Kurasa dia mungkin mengira kencannya sudah berakhir.

Mana mungkin begitu.

Tolong tunggulah sebentar lagi, Luna.

Aku berjalan melewati kawasan perumahan yang biasanya damai dengan semangat juang yang tenang.

“……”

Saat kami sampai di rumahnya, Luna diam-diam menyentuh gerbang rumahnya dan kembali menatapku.

“Ah, tunggu sebentar, Luna...”

“Ya……?”

Luna memiringkan kepalanya dan menatapku.

“……”

 

──Ayah, aku serius memikirkan masa depanku bersama dengan Luna-san.

 

Saat aku menyampaikan kata-kata yang harus kuucapkan dalam pikiranku, bayangan Papa Luna di dalam kepalaku membuka mulutnya.


──Haah. Jadi apa maksudmu? Kamu itu masih siswa SMA kan? Kamu bisa bilang apa saja hanya dengan mulutmu. Bagaimana kamu akan membuat putriku bahagia? Coba katakan visimu dengan jelas.

 

“…….”

Aku kehilangan kata-kata di dalam kepalaku.

Beberapa hari lagi aku akan menjadi murid kelas tiga SMA, dan aku harus belajar keras untuk meningkatkan nilai sekitar 20 poin dan mencoba masuk ke dalam jajaran yang diterima di Universitas Houou. Sekalipun kerja kerasku membuahkan hasil dan diterima di universitas yang bagus, aku masih tetaplah seorang mahasiswa.

Aku merasa bahwa apapun yang aku katakan kepada Ayahnya, yang telah menghidupi putrinya sendiri dengan usahanya sendiri, tidak memiliki daya tarik apa pun untuk meyakininya. Selain itu, aku belum pernah bertemu ayah Luna lagi sejak awal tahun ketika aku memohon kepadanya untuk menunda rencana tinggal bersama pasangan barunya. Aku ingat saat itu berhasil mengalahkan ayahnya dalam debat, dan sekarang aku merasa akan menjadi korban selanjutnya. Aku gemetar ketika memikirkan hal itu.

“…. Ada apa, Ryuuto?”

Aku tersentak dari lamunanku ketika Luna memanggilku.

“Tidak, ini, uhmm….”

Saat aku berkeringat dingin dan memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya, aku menyadari kalau ponselku bergetar di dalam saku.

“Hmm...?”

Karena teman-temanku juga sama-sama orang introvert, jadi aku hampir tidak pernah menerima panggilan tak terduga seperti ini. Karena telepon terus berdering, aku tidak bisa mengabaikannya dan mengambilnya dari saku untuk melihat tampilan layar.

“…. Ayah?”

Tentu saja itu panggilan dari ayahku, bukan dari ayah Luna. Ini juga aneh karena keluargaku semuanya jarang menelepon begini, jadi ini peristiwa langka.

“Ayah Ryuuto? Angkatlah, mungkin ada urusan penting.”

Luna mengkhawatirkan diriku dan aku menekan tombol panggilan.

“Hei, apa kamu sudah dengar? Ini darurat.”

Suara ayahku terdengar cemas. Ia yang biasanya pendiam dan tenang, kali ini berbicara dengan tergesa-gesa.

“Ibumu menderita kanker dan akan menjalani operasi.”

“Eh ...?”

Pandangan di depan mataku tiba-tiba menjadi putih.

Ayahku terus menjelaskan berbagai hal, seperti tanggal masuk rumah sakit dan sebagainya, tetapi semua informasi itu hampir tidak masuk ke dalam pikiranku. Aku terdiam dan menutup telepon.

“Ryuuto...”

Luna melihatku dengan perhatian. Karena dia berada di dekatku, dia mungkin mendengar isi percakapan yang ada di telepon tadi.

“Maafkan aku, Luna ...”

Aku berkata dengan mulut kering, dan Luna mengangguk lurus ke arahku, seolah-olah itu metupakan hal yang wajar.

“Ya. Pulanglah secepat mungkin dan tinggal di samping ibumu hari ini.”

“... Ya, terima kasih ...”

Aku berbalik dan meninggalkan rumah keluarga Shirakawa.

Saat aku menuju ke stasiun dengan kepala tertunduk, aku teringat kenangan masa kecilku bersama ibuku, dan tanpa disadari, tiba-tiba pandangan mataku menjadi kabur.

Rasa penyesalan karena tidak bisa menjadi satu dengan Luna mereda sedikit pada saat itu.

 

Namun, ketika aku tiba di rumah, rupanya kondisi ibuku masih sama seperti biasanya.

Dia berdiri di dapur menghadap ruang tamu dan sedang menyiapkan makan malam, penampilannya tidak berbeda dari biasanya.

“Oh, kamu sudah pulang. Cepat sekali ya? Bukannya kamu sedang pergi kencan?”

Ibuku tampak terkejut ketika melihatku muncul di ruang tamu.

“... Ayah tadi menelepon dan mengatakan bahwa ibu memiliki kanker ...”

Ketika aku berkata seperti iitu, ibuku mengerutkan kening.

“Ya ampun, apa Ayahmu benar-benar meneleponmu untuk itu? Yah, ia pasti tidak tahu kalau kamu sedang berkencan.”

Lalu, setelah mengelap tangannya yang basah karena memasak, dia menghampiriku yang berdiri di dekat dapur.

“Itu bukan kanker, tahu. Mereka bilang itu 'displasia serviks', itu adalah kondisi di mana terdapat kelainan pada leher rahim, yang merupakan tahap awal dari kanker serviks. Jadi, mereka ingin melakukan operasi untuk mengangkat bagian itu sebelum berubah menjadi kanker. Ibu diberitahu tentang hal ini saat menjalani pemeriksaan tahunan.”

“Jadi ... itu bukan masalah serius?”

“Untuk saat ini, sih. Yah, tampaknya ada kasus di mana perkembangannya lebih cepat dari yang diperkirakan, dan tidak bisa diangkat sepenuhnya saat operasi karena sudah menjadi kanker.”

Ibu mencoba untuk berbicara dengan ceria saat wajahku kembali cemas karena hal itu.

“Yah, dokter bilang bahwa pada tingkat dan usiajy, kemungkinan besar akan baik-baik saja, jadi jangan memasang wajah seperti itu.”

Meskipun aku tidak tahu ekspresi macam apa yang aku tunjukkan saat ini, aku yakin kalau aku tidak terlihat ceria. Hatiku menegang dengan perasaan campur aduk saat memikirkan bahwa wajah ini yang selalu dikatakan mirip dengan ibu. mungkin akan menjadi kenangan yang terlupakan.

“........”

Ibuku tersenyum ceria seolah-olah ingin menghilangkan kekhawatiranku yang mendalam.

“Kamu benar-benar baik hati sekali, sama seperti ayahmu.”

“.......”

“Ayahmu panik dan bertanya-tanya apa itu karena salahnya sendiri.”

Ibuku tertawa sedikit malu-malu.

“......?”

Sejenak, aku tidak mengerti apa yang dia maksud, tapi aku ingat mendengar bahwa kanker serviks disebabkan oleh infeksi virus melalui hubungan seksual, jadi ibu mungkin sedang membicarakan hal itu.

Meskipun aku tidak terlalu tertarik dengan kisah pertemuan pertama orang tuaku, tapi aku teringat kalau ayah dan ibu merupakan teman kuliah dan ayah adalah pacar pertama ibuku.

“Kalau sekarang sih sudah ada vaksinnya, jadi bisa dicegah, tapi jika aku masih muda, aku pasti ingin menerimanya. Jika aku tahu sesuatu seperti ini akan terjadi ...”

“Hmmm...”

“Kamu hanya berkata 'hmm' doang...”

Meskipun aku memberikan jawaban yang tidak terlalu antusias, ibuku menegurku karena tidak mendengarkan dengan baik.

“Kamu mengatakannya seolah-olah itu urusan orang lain saja. Vaksin HPV juga dapat diberikan pada anak laki-laki, tahu?”

“....Hah?”

“Jangan bilang 'hah' gitu. Astaga, kamu ini benar-benar kurang peduli, ya.”

Aku meninggalkan ruang tamu dengan perasaan agak tidak nyaman setelah ditegur begitu oleh ibuku.

“... Vaksin HPV ...?”

Aku memasuki kamarku dan mencari tahu lebih lanjut melalui smartphone-ku.

Di sana tertulis bahwa Human Papilloma Virus (HPV) yang menyebabkan kanker serviks dapat menyebar melalui hubungan seksual. Untuk mencegah hal ini, tidak hanya perempuan, tetapi juga laki-laki harus divaksinasi.

 

Pertanyaan: Apakah menggunakan kondom bisa mencegah infeksi?

Jawaban: Menggunakan kondom memang bisa membantu mencegah infeksi, tetapi HPV juga dapat menyebar melalui sentuhan tangan.

 

“..... Ini sudah mentok ...”

Jadi, jika seseorang sudah pernah melakukan hubungan seksual, risikonya tetap ada.

—— Ayahmu panik dan bertanya-tanya apa itu karena salahnya sendiri   

Memang, dalam kasus ibuku, sumber penularannya adalah dari ayahku.

Meskipun Luna memiliki pengalaman dengan mantan pacarnya sebelumnya, jika dia terkena kanker serviks di masa depan, aku tidak tahu apakah itu karena salahku atau bukan.

Namun, jika aku dan Luna akan melakukan hubungan seksual di masa depan, tidak ada jaminan bahwa aku tidak akan menjadi sumber penularan.

——Kalau sekarang sih sudah ada vaksinnya, sehingga bisa dicegah.

Jika ada kemungkinan bahwa melakukan hubungan seksual dapat membahayakan orang yang aku cintai, maka aku harus mempertimbangkan untuk mengurangi risiko tersebut hingga mendekati nol.

Mungkin aku harus memikirkannya baik-baik.

“….Haa…..”

Setelah berbaring di tempat tidur dan menghela nafas dalam-dalam, aku merasa ada beberapa hal yang harus aku lakukan sebelum bisa menjadi satu dengan Luna.

Apa aku terlalu khawatir?

Namun semakin aku mencintai Luna, semakin sulit bagiku untuk melakukan hubungan seksual dengan mudah seperti dalam komik erotis.

“Merepotkan banget...”

Sifatku yang seperti ini sangat merepotkan. Aku bahkan sempat berpikir kalau aku ingin menjadi orang lain.

Betapa menyenangkan rasanya jika aku bisa merangkul Luna tanpa banyak berpikir dan hanya mengikuti naluriku serta mengekspresikan cintaku dengan semua tubuhku.

Namun, itu hanya menjadi khayalan semata.

Setidaknya, pada saat ini.

“Haa~…”

Ketika aku menghela nafas dalam-dalam untuk kedua kalinya, ponselku bergetar dan aku melihat kalau aku mendapat pesan dari Luna.

 

Bagaimana kabar ibumu?

 

“Ah ...”

Dia benar-benar peduli padaku.

Mungkin sejak aku berpisah dengannya.

——Kamu benar-benar baik hati sekali. Sama seperti ayahmu.

Aku tidak tahu seberapa baik aku, tapi aku pikir Luna adalah seorang gadis yang benar-benar baik hati.

Karena kasus kanker ibuku tidak seserius yang aku kira, jadi aku bangun dan menelepon Luna untuk menjelaskan situasinya.

 

“Jadi begitu ya... Tapi bagaimanapun juga, setelah operasi itu selesai, kita bisa merasa lega, bukan?”

Setelah mendengar cerita dariku, Luna berkata dengan suara yang lebih cerah.

“Ya. Aku minta maaf karena sudah membuatmu ikutan khawatir juga, Luna.”

“Tidak, jangan minta maaf segala. Aku pikir keluarga Ryuuto yang paling terkejut.”

“Terima kasih...”

Luna benar-benar gadis yang baik hati.

“…Umm, begini, Ryuuto...”

Dan gadis sebaik dirinya, tiba-tiba mulai membuka mulutnya, suaranya terdengar ragu-ragu melalui telepon.

“Hari ini, meskipun aku tadi mengatakan hal seperti itu, tapi...”

Apa yang dia maksud tentang hal itu?

──Aku ingin berhubungan s*ks…. denganmu, Ryuuto.

Mungkin itulah yang dia maksud.

“…Kita tidak perlu melakukannya sekarang juga, ‘kan?”

“Eh...?”

“Aku pernah mendengarnya dari Nikoru... Ketika Sekiya-san pertama kali melakukan hubungan seperti itu dengan pacarnya, ia tidak dapat berkonsentrasi pada pelajarannya selama berbulan-bulan dan nilai-nilainya menurun drastis. Itulah sebabnya ia tidak ingin menjalin hubungan yang mendalam dengan Nikoru sampai ia menyelesaikan ujian masuknya.”

Kalau dipikir-pikir lagi, aku merasa Sekiya-san juga mengatakan hal yang serupa padaku.

──Ketika aku pertama kali melakukannya, aku berubah seperti monyet di musim kawin selama sekitar enam bulan.

──Aku bisa memprediksinya. Setelah kami melakukan seks sekali, kami akan terus berhubungan seperti monyet setiap hari di rumah atau hotel jika ada kesempatan, selama sekitar tiga bulan. Dan ketika akhirnya aku tersadar kembali menjadi manusia, aku sudah selesai dengan ujianku. Dalam banyak artian.

“Aku tidak ingin Ryuuto mengalami hal seperti itu... Aku merenungkan apa aku sudah mengatakan hal aneh….aku tidak ingin mengganggu belajarmu di sekolah bimbel dan kamu sudah berusaha yang terbaik untuk persiapan ujian masuk.”

“Ak-Aku akan baik-baik saja... mungkin.”

Setidaknya, kupikir aku orang yang lebih rasional daripada Sekiya-san.

“Tapi, ini pertama kalinya bagi Ryuuto, bukan? Kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi sampai kamu mencobanya, ‘kan? Tapi jika kamu benar-benar mencobanya dan hal semacam itu terjadi, semuanya sudah terlambat...”

“........”

Itu sama sekali tidak benar, semuanya akan baik-baik saja. Jadi mari kita berhubungan seks sekarang juga!

Alasan kenapa aku tidak bisa mengatakan itu dengan percaya diri karena ada masalah seperti undang-undang tentang tindakan pencabulan dan vaksin HPV yang harus kupikirkan.

Dan aku merasa kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, ketika aku harus serius belajar untuk ujian.

“Aku baik-baik saja. Perasaanku kepadamu tidak akan pernah berubah….. Termasuk perasaan 'ingin melakukannya' juga.”

Dalam suara kecil yang agak malu-malu di bagian akhir, Luna mengatakan hal itu. Dia sangat imut sehingga aku ingin memeluknya jika bukan karena kita berbicara melalui telepon.

“Aku akan menunggumu. Sampai kamu lulus diterima di universitas Houou, Ryuuto.”

“.... Baiklah, aku mengerti. Terima kasih, Luna.”

Hanya itu satu-satunya kata yang bisa aku katakan sebagai tanggapan atas dukungan yang dia berikan selama ini.

“Aku akan berusaha untuk ujian nanti.”

Lalu, setelah aku menutup telepon,

“Uuoooooooooooo~~~~~~~!”

Aku membuka buku pelajaran sekolah bimbelku dan menggoretkan pulpen pada buku catatanku, seakan-akan ingin menghempaskan semua hasrat seksualku yang berlebihan.

 

♣♣♣♣

 

Dan sekarang.

Di musim semi ketika aku baru saja menjadi mahasiswa tahun ketiga.

“…Jadi begitulah ceritanya.”

Aku menyelesaikan ceritaku dengan menghadap Kujibayashi-kun, yang duduk di seberang meja dariku di kafe observasi di Menara Tokyo.

“Kemudian, ketika aku diterima di universitas, kali ini giliran Luna yang memiliki adik kembar dan menjadi seorang pekerja sibuk. Meskipun kami sesekali bertemu, tetapi dia selalu dipanggil oleh keluarga atau tempat kerjanya dan kami tidak pernah memiliki kesempatan untuk merasakan suasana seperti dulu lagi ... dan sekarang, kami sampai pada titik ini.”

“Hmm.”

Kujibayashi-kun, yang mendengarkan ceritaku sambil menyilangkan tangannya, menggeram pelan.

“…Dengan kata lain, ini adalah 'Musim Semi yang Berlangsung Terlalu Lama' ya?”

“Eh?”

“Karya Mishima Yukio. Ini adalah istilah populer pada saat itu yang menggambarkan masa-masa damai yang terjadi pada pasangan yang berpacaran terlalu lama.”

“Ja-Jadi begitu ya ...”

Entah bagaimana, aku merasa seperti itulah situasi yang kami alami saat ini, dan aku menjadi cemas. Mungkin seharusnya aku akan membacanya nanti.

“… Namun, sekarang aku mengerti mengapa kamu sangat bersemangat hari ini.”

“Eh?”

“Kamu akan mengalami pengalaman pertamamu pada perjalanan Okinawa musim panas ini ... benar, kan?”

“Uh, ya.”

Ketika Kujibayashi-kun mengatakan begitu, Aku mengangguk ragu-ragu.

“Me-Memangnya itu bisa terlihat di wajahku?”

“Sebaiknya lihatlah di cermin dulu. Kamu memiliki raut wajah yang jelek dan penuh nafsu.”

“Apa!? Bukannya perkataanmu terlalu kejam!”

“Tidak peduli berapa kali aku mengatakannya, kamu mungkin tidak peduli dengan itu. Terutama ketika kamu memikirkan tentang Okinawa.”

“Y-Yah...”

Jujur saja, aku memang ingin berhubungan s*ks dengan Luna.

Perasaan itu masih belum berubah sejak hari aku mulai berpacaran dengan Luna. Akhirnya, waktunya telah tiba. Aneh rasanya jika aku tidak bersemangat.

 

Musim panas ini, di Okinawa, Luna dan aku akan ... melakukan hubungan s*ks untuk pertama kalinya!

 

“... Aku sangat iri ... aku benci ini…..”

Kujibayashi-kun terus menggerutu sambil melihatku seperti itu.

“Tidak, kamu tahu, aku juga masih menjadi 'yokai perjaka', tau ... “

Aku berkata dengan maksud menindak lanjuti dan menenangkannya, tetapi aku terkejut dengan fakta itu sendiri.

Ya ... Aku masih perjaka ... sampai sekarang ...

“... Aku juga merasa aneh tentang hal itu. Meskipun kami sudah berpacaran sejak SMA ... dan sekarang aku sudah menjadi mahasiswa tahun ketiga ...”

Aku mengatakan hal itu dengan nada mengejek diri sendiri, dan Kujibayashi-kun melihat saya dengan serius.

“... Mungkin itu aneh bagi para normie di dunia ini

“........”

“Tapi itu hanya dalam hal fenomena di dunia material.”

Kujibayashi-kun, yang akhirnya menatap mataku, berkata kepadaku dengan ekspresi yang terlalu serius untuk topik yang sedang dibicarakan.

“Mungkin kalian berdua sedang mencari 'sesuatu yang samar-samar' satu sama lain saat ini.”

Setelah mendengar itu, aku teringat kembali episode tentang namaku dan Luna yang pernah diceritakan Kujibayashi-kun.

──’Bulan’ dan ‘Naga’, ya. Itu adalah kombinasi yang sangat unik.

──Keduanya mewakili ‘sesuatu yang samar-samar’. Bulan bersinar samar-samar sehingga kontur tidak terlihat. Sedangkan naga adalah makhluk fiktif sehingga tidak jelas seperti apa bentuk aslinya. Oleh karena itu, jika kedua karakter kanji tersebut digabungkan akan ditulis sebagai ‘[朧]Oboro’.

“……”

Apa aku dan Luna sedang ‘mencari sesuatu yang samar-samar’ satu sama lain?

“Uhmm ... 'sesuatu yang samar-samar' itu maksudnya apa?”

“Ketika kedua orang saling memikirkan dan sangat peduli satu sama lain sehingga mereka tidak dapat dengan mudah mengambil tindakan dan terjebak dalam dilema..... Jika kamu hanya memperhatikan fenomena yang terlihat, mungkin kamu masih menjadi 'yokai perjaka' seperti aku dan belum ada apa-apa yang terjadi antara kalian berdua. Namun, 'sesuatu yang samar-samar' itu pasti ada di antara kalian berdua.”

“??”

Aku merasa seperti sedang dikelilingi oleh asap dan wajahku tampak kebingungan saat melihat Kujibayashi-kun.

Melihat tanggapanku yang seperti itu, Kujibayashi-kun menyunggingkan salah satu ujung bibirnya dan menundukkan kepalanya.

“Tentang 'sesuatu itu' ... sebagai yokai tulen seperti diriku, hal tersebut agak sulit dipahami.”

Karena Kujibayashi-kun terlihat malu-malu, aku memutuskan untuk tidak menatapnya langsung dan mengalihkan pandanganku ke sekeliling.

Ketika kerumunan orang di sekitar kami tiba-tiba berkurang, langit biru dan panorama Tokyo yang tercermin di dinding kaca terlihat dengan jelas di depan kami.

Itu adalah momen yang sangat indah sehingga membuatku merasa takjub.

 

“Tapi, bukankah orang-orang menyebutnya sebagai 'cinta'?”

 

Saat aku mendengar perkataan Kujibayashi-kun, hatiku masih bergetar dengan sisa-sisa pemandangan yang menakjubkan.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama