Roshidere Jilid 8 Prolog Bahasa Indonesia

 

Prolog — Rahasia

 

Pada suatu malam di pertengahan bulan Oktober, Ayano tiba-tiba terbangun, dan merasa gelisah.

(Rasanya gerah...)

Begitu terbangun, dia langsung merasakan kalau seluruh tubuhnya diselimuti suhu panas yang lembap. Karena merasa terganggu, Ayano menyingkirkan selimut yang ada di atasnya. Baru-baru ini, dia akhirnya mulai merasakan dinginnya malam musim gugur dan berhenti menggunakan selimut tipis, tetapi malam ini masih terasa sangat lembap.

(Sekarang sudah musim gugur, ya...)

Ayano yang mencoba kembali tidur dengan membalikkan badannya, segera menyadari, bahwa dalam rentang waktu hanya sepuluh detik, dia tidak bisa kembali tertidur. Jadi dia memutuskan untuk bangun.

(Harus segera ke kamar mandi...)

Sembari berhati-hati supaya tidak menimbulkan suara apa pun dan tidak membangunkan orang lain di dalam rumah, Ayano meninggalkan kamarnya. Setelah berjalan melewati koridor yang remang-remang, dia selesai menggunakan toilet dan hendak kembali ke kamarnya ketika sebuah suara sayup-sayup terdengar di telinganya.

"!!!!"

Apa jangan-jangan saya membangunkan seseorang...? Kemungkinan itu terlintas di benak Ayano, seketika menghilangkan rasa kantuk yang masih ada di matanya. Jika sumber suara itu adalah seseorang seperti kakek dan neneknya atau staf rumah tangga lainnya, itu sama sekali tidak masalah. Tetapi jika, secara kebetulan, yang terbangun adalah seseorang dari keluarga Suou yang dilayani Ayano... dia tak punya pilihan selain bersujud meminta maaf.

Badan Ayano menggigil karena kemungkinan yang mengerikan, dan sambil berharap mati-matian kalau dirinya salah dengar, Ayano menuju ke arah di mana dia mendengar suara itu. Dia pun menaiki tangga, berjalan menyusuri koridor, berbelok di tikungan... dan di sana, di bidang penglihatannya, Ayano merasakan dorongan untuk menengadah ke langit ketika sesosok tubuh terlihat.

Seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang dikepang, mengenakan daster. Tidak diragukan lagi, itu adalah ibu dari Suou Yuki, Suou Yumi, yang dilayani Ayano.

(Saya harus segera meminta maaf...)

Dengan pemikiran demikian, dia memulai gerakan awal untuk bersujud... tetapi dia berhenti tiba-tiba. Jika Yumi, sama seperti Ayano, baru saja pergi ke kamar mandi dan berniat untuk kembali tidur setelahnya, mengejutkannya sekarang mungkin akan lebih mengganggu daripada apapun.

Oleh karena itu, Ayano memutuskan untuk menahan diri dari memanggilnya sekarang dan berencana untuk meminta pengampunan keesokan paginya. Ayano berpikir, bahwa hal itu akan jauh lebih perhatian. Ya, itulah yang harus dia lakukan.

Kemudian, saat dia memutuskan untuk bersujud keesokan paginya, Ayano tiba-tiba merasakan perasaan yang mengganjal dan tidak nyaman.

“??”

Langkah kaki Yumi bergema saat dia berjalan menyusuri koridor di depan. Langkahnya tampak goyah, bahkan tidak sesuai dengan fakta bahwa dia baru saja bangun tidur. Di tambah lagi, terlihat jelas bahwa Yumi tidak menuju ke kamar kecil.

(Nyonya akan pergi kemana...)

Ayano mengikuti Yumi dengan perasaan khawatir. Saat melihat ruangan yang dimasuki Yumi, Ayano dibuat sangat kebingungan.

(Ruang piano? Apa yang dia lakukan pada jam segini...)

Pastinya, Yumi-sama tidak akan bermain piano selarut ini. Jika tidak, mungkin dia melupakan sesuatu di dalam ruangan itu... atau itulah yang dia pikirkan, Ayano lalu mengintip melalui pintu yang sedikit terbuka dan mengerjap.

(Yumi-sama...?)

Cahaya rembulan menerobos masuk ke dalam ruangan, dan Yumi duduk di depan grand piano. Namun, hanya itu saja. Tanpa membuka tutup tuts piano, tatapannya hanya tertuju pada tuts-tuts piano dan dudukannya, seolah-olah dia sedang menatap sesuatu yang tidak ada di sana.

“!!”

Keadaan Yumi yang janggal membuat Ayano bergidik. Menyadari penyebab dari perilaku aneh ini, Ayano merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungnya. Karena tidak tahan menyaksikan pemandangan tersebut, dia hendak memanggil Yumi dan membangunkannya, ketika...

“Tunggu.”

Ayano berbalik dengan terkejut ketika mendengar suara yang datang dari sampingnya. Kemudian, saat dia menatap sosok besar yang menjulang di atasnya, matanya membelalak.

“Tuan—”

Usahanya untuk berbicara dibungkam oleh tangan yang terangkat. Ayano segera menutup mulutnya rapat-rapat. Perlahan-lahan, Gensei mendekati Yumi, yang masih menatap piano, dan berbicara kepada putrinya dengan suara lembut.

“Yumi.”

Meskipun sedang dipanggil ayahnya, Yumi tidak menunjukkan reaksi tertentu. Walau demikian, tanpa berkata apa-apa lagi, Gensei diam-diam terus mengawasinya.

Tiba-tiba, mata Yumi perlahan-lahan terpejam, dan tubuhnya bersandar dengan goyah. Sebelum Ayano bisa bergegas mendekat karena terkejut, seolah-olah sudah mengantisipasinya, Gensei menopang tubuh Yumi. Dengan kekuatan yang tampaknya tidak sesuai untuk seseorang yang akan berusia tujuh puluh tahun, ia mengangkat Yumi yang benar-benar lemas.

“Tuan, biar saya—”

“Tidak apa-apa.”

Setelah menolak bantuan yang ditawarkan Ayano dengan tenang, Gensei menggendong Yumi ke kamarnya. Dengan cemas mengikuti di belakangnya, Ayano melihat punggung Gensei yang berjalan dengan langkah tegap, mencapai kamar Yumi dan membaringkannya di tempat tidur.

Dan saat Gensei diam-diam meninggalkan kamar dan menutup pintu, Ayano tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

“Um, Tuan... apa yang terjadi pada Yumi-sama...”

Memilih untuk tidak menggunakan istilah tidur sambil berjalan, Ayano bertanya dengan suara pelan, dan Gensei menghela nafas pelan sebelum menjawab.

“Bahkan setelah kematian Naotaka, dia sesekali mengalaminya... Aku pikir dia sudah sembuh setelah bertemu dengan Kyotarou. Tapi sepertinya itu mulai kambuh lagi beberapa hari yang lalu.”

“Beberapa hari yang lalu...?”

Memikirkan kembali apa yang terjadi sekitar waktu itu, Ayano membelalakkan matanya.

“Kamu harus pergi tidur juga. Jangan pernah membicarakan masalah ini kepada siapapun. Itu juga berlaku untuk Yuki, dan Yumi sendiri.”

Usai memberi perintah semacam itu, Gensei menuju ke kamar tidurnya yang berada tepat di sebelah tanpa memberi salam, meninggalkan Ayano yang berdiri di sana dengan keheranan.

(Saya...)

Jika tidur sambil berjalan yang dilakukan Yumi memang karena tekanan psikologis, hanya ada satu kejadian yang bisa Ayano pikirkan sebagai penyebabnya.

(Apakah saya sudah melakukan sesuatu yang tidak perlu...?)

Di Festival Budaya tempo hari, Ayano membawa Yumi untuk mendengarkan permainan piano Masachika. Dia melakukannya dengan pemikiran bahwa menunjukkan tekad Masachika untuk maju mungkin bisa mengurangi beban penyesalan di hati Yumi yang bermasalah. Namun...

(Masachika-sama... Sepertinya saya telah melakukan kesalahan...)

Penyesalan dan ketidakberdayaan menyelimuti hati Ayano. Pada akhirnya, dengan pengetahuan yang dangkal, dia tidak bisa menyelamatkan hati Yumi. Tentu saja tidak. Bahkan Yuki pun tidak bisa menyelamatkan hati Yumi. Yuki juga... dan tentu saja Kyoutaro juga, meskipun mereka bisa menyembuhkan hati Yumi, mereka tidak bisa menyelamatkannya. Jika ada yang bisa menyelamatkan hati Yumi, orang tersebut hanyalah...

“.......”

Ayano berdoa seraya menatap bulan yang menggantung di langit malam.

Dirinya tahu. Luka di hati Masachika lebih dalam daripada luka yang ditanggung Yumi.

Jadi, dia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Karena tak berdaya dan tak berbakat, yang bisa dirinya lakukan hanyalah berharap.

Bahwa tuan muda yang dihormatinya akan menyelamatkan Yumi... dan Yuki.

“Saya mohon...”

Setelah melakukan permohonan yang tak terucapkan di dalam hatinya, Ayano membalikkan badannya dan kembali ke kamarnya.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama